Anda di halaman 1dari 15

SAFITRI GUNAWAN

616080716050
1. Retardasi mental (Tuna grahita) masih merupakan salah satu
masalah dunia yang memiliki implikasi yang sangat besar terutama
bagi negara berkembang, populasi anak tunagrahita menempati
angka paling besar dibanding dengan jumlah anak dengan
keterbatasan lainnya.
2. Menurut catatan WHO pada tahun 2010 di Amerika 3% dari
penduduknya mengalami keterbelakangan mental, di Belanda 2,6%,
di Inggris 1-8% dan di Asia ±3%. Kasus retardasi mental di
Indonesia terjadi sekitar 1-3% dari jumlah penduduknya dengan
kriteria 80% retardasi ringan, 12% retardasi sedang, dan 8%
retardasi mental tipe berat.
3. Berdasarkan data WHO (World Health Organization) tentang
proporsi orang dengan disabilitas dilihat dari jumlah total populasi
penduduk di dapat bahwa negara Indonesia menempati posisi ke 23
dengan 3% dari total jumlah penduduk. Angka ini diperkuat dengan
data statistik yang menunjukkan terdapat 1.750.000-5.250.000
anak dengan tunagrahita di Indonesia.
4. berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) yang
dilakukan oleh Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2013
didapatkan bahwa prevalensi kecacatan pada anak umur 24-
59 bulan dengan tunagrahita 0,14%.
5. Menurut laporan kongres tahunan (Annual Report to
Congress) menyebutkan prevalensi retardasi mental adalah
1,92 % anak usia sekolah dengan perbandingan laki-laki 60 %
dan perempuan 40%, dilihat dari kelompok usia sekolah.
6. Menurut departemen sosial RI bidang kesejahteraan sosial
dampak yang dirasakan bagi anak penyandang retardasi
mental adalah adanya hambatan fisik bagi anak dalam
melakukan kegiatan sehari-hari, adanya gangguan
keterampilan kerja produktif, dan adanya perasaan malu,
kurang percaya diri, adanya hambatan dalam melakukan
fungsi sosial dan tidak mampu berkomunikasi secara wajar
(Merdekawati & Dasuki, 2017).
7. Adanya hambatan dalam perkembangan sosialisasi
mengakibatkan kecenderungan menyendiri serta memiliki
sifat tertutup (Rizka 2009).
1. Kemandirian dalam hal aktivitas sehari-hari sangat diperlukan
oleh anak dengan retardasi mental.
2. Boneka tangan merupakan salah satu alat permaianan yang
sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak.
3. Menurut Raemiza (2010). Media boneka termasuk dalam jenis
media visual tiga dimensi yang dapat membantu anak dalam
memahami cerita karena lebih menarik perhatian mereka
selain itu media ini dapat membantu siswa mengenal segala
aspek yang berkaitan dengan benda dan memberikan
pengalaman yang lengkap tentang benda tersebut.
4. Peneliti memberikan intervensi berupa aktivitas bermain
peran dengan boneka tangan yang dilakukan selama 3 kali
dalam seminggu dalam waktu 2 minggu dengan durasi 30-45
menit.
5. Aktivitas bermain peran dengan boneka tangan dapat
mempengaruhi stimulasi pada anak yaitu dengan melibatkan
anak secara langsung untuk ikut memainkan, memerankan dan
berlatih dengan boneka tangan.
PENGARUH AKTIVITAS BERMAIN PERAN
DENGAN HAND PUPPET TERHADAP
KEMANDIRIAN DALAM PEMENUHAN
ACTIVITY DAILY LIVING (ADL) PADA
ANAK RETARDASI MENTAL RINGAN
1. Retardasi mental (Tuna grahita) masih merupakan salah satu
masalah dunia yang memiliki implikasi yang sangat besar terutama
bagi negara berkembang, populasi anak tunagrahita menempati
angka paling besar dibanding dengan jumlah anak dengan
keterbatasan lainnya.
2. Menurut catatan WHO pada tahun 2010 di Amerika 3% dari
penduduknya mengalami keterbelakangan mental, di Belanda 2,6%,
di Inggris 1-8% dan di Asia ±3%. Kasus retardasi mental di
Indonesia terjadi sekitar 1-3% dari jumlah penduduknya dengan
kriteria 80% retardasi ringan, 12% retardasi sedang, dan 8%
retardasi mental tipe berat.
3. Berdasarkan data WHO (World Health Organization) tentang
proporsi orang dengan disabilitas dilihat dari jumlah total populasi
penduduk di dapat bahwa negara Indonesia menempati posisi ke 23
dengan 3% dari total jumlah penduduk. Angka ini diperkuat dengan
data statistik yang menunjukkan terdapat 1.750.000-5.250.000
anak dengan tunagrahita di Indonesia.
4. berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) yang
dilakukan oleh Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2013
didapatkan bahwa prevalensi kecacatan pada anak umur 24-
59 bulan dengan tunagrahita 0,14%.
5. Menurut laporan kongres tahunan (Annual Report to
Congress) menyebutkan prevalensi retardasi mental adalah
1,92 % anak usia sekolah dengan perbandingan laki-laki 60 %
dan perempuan 40%, dilihat dari kelompok usia sekolah.
6. Menurut departemen sosial RI bidang kesejahteraan sosial
dampak yang dirasakan bagi anak penyandang retardasi
mental adalah adanya hambatan fisik bagi anak dalam
melakukan kegiatan sehari-hari, adanya gangguan
keterampilan kerja produktif, dan adanya perasaan malu,
kurang percaya diri, adanya hambatan dalam melakukan
fungsi sosial dan tidak mampu berkomunikasi secara wajar
(Merdekawati & Dasuki, 2017).
7. Adanya hambatan dalam perkembangan sosialisasi
mengakibatkan kecenderungan menyendiri serta memiliki
sifat tertutup (Rizka 2009).
1. Perkembangan keterampilan emosional dan sosial pada anak
RM ringan dan sedang dapat dioptimalkan dengan
menggunakan metode terapi bermain. Terapi bermain yang
digunakan adalah yang melibatkan interaksi dengan orang lain.
2. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan
memberikan terapi bermain pada anak RM, berupa bentuk
permainan cooperative play dengan puzzle. Cooperative play
adalah permainan yang melibatkan interaksi sosial dalam
kelompok dimana dapat ditemui identitas kelompok dan
kegiatan yang terorganisir antara pemimpin dan anggota
kelompok.
3. Menurut Susasanti (2009), puzzle merupakan salah satu
permainan yang dapat meningkatkan kreativitas dan
merangsang kecerdasan anak, karena puzzle merupakan suatu
masalah atau misteri yang harus dipecahkan.
4. Terapi bermain : cooperative play dengan puzzle yang
dilakukan secara berkesinambungan setiap 2 hari selama 3
minggu dapat meningkatkan kemampuan sosialisasi anak.
TERAPI BERMAIN : COOPERATIVE PLAY
DENGAN PUZZLE MENINGKATKAN
KEMAMPUAN SOSIALISASI ANAK
RETARDASI MENTAL
Menurut penelitian World Health Organization (WHO) tahun 2009,
jumlah anak RM seluruh dunia adalah 3% dari total populasi. Tahun
2006 - 2007 terdapat 80.000 lebih penderita RM di Indonesia. Jumlah
ini mengalami kenaikan yang pesat pada tahun 2009, dimana terdapat
100.000 penderita. Pada tahun 2009 ini terjadi peningkatan sekitar 25%
(Depkes RI 2009). Prevalensi retardasi mental sekitar 1 % dalam satu
populasi. Insiden tertinggi pada masa anak sekolah dengan puncak umur
10 sampai 14 tahun. RM mengenai 1,5 kali lebih banyak pada laki-laki
dibandingkan dengan perempuan (Marasmis 2004).

Dari hasil data pendahuluan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Al – Hidayah,


desa Mejayan, Kabupaten Madiun didapatkan jumlah siswa RM 21 anak
untuk kelas 1 sampai kelas 4 Sekolah Dasar (SD), dengan siswa RM
ringan 13 anak dan RM sedang 8 anak. Tiap tahunnya rata – rata ada
lima sampai sepuluh anak yang mendaftar. Dari 21 anak ini didapatkan
hasil 63,6 % mengalami gangguan sosialisasi, yang ditandai dengan
anak sering menyendiri, malu jika bertemu orang yang baru, ketika
ditanya tidak melihat mata orang yang bertanya, dan menghindar jika
didekati orang yang baru di kenal.
WHO memperkirakan jumlah anak berkebutuhan khusus di
Indonesia sekitar 7-10 % dari total jumlah anak. Susenas 2012
mendapatkan penduduk Indonesia yang menyandang disabilitas
sebesar 2,45% yang meningkat dari tahun 2009 yang hanya 0,92%.
Jumlah terbanyak terdapat di lima provinsi (Jawa Barat, Jawa Timur,
Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara) yang jumlah
penduduknya mengalami kesulitan sedikit dan parah, baik kesulitan
melihat, mendengar, berjalan, kesulitan
mengingat/konsentrasi/komunikasi karena kondisi fisik/mental dan
mengurus diri (Kemenkes RI, 2014).

Penelitian yang dilakukan Ulfatulsholihat (2010) mendapatkan


kesimpulan bahwa anak tunagrahita mempunyai keinginan didalam
dirinya untuk dapat hidup mandiri dan tidak tergantung pada orang
lain.
Menurut catatan WHO pada tahun 2010 di Amerika 3% dari penduduknya
mengalami keterbelakangan mental, di Belanda 2,6%, di Inggris 1-8% dan
di Asia ±3%. Kasus retardasi mental di Indonesia terjadi sekitar 1-3% dari
jumlah penduduknya dengan kriteria 80% retardasi ringan, 12% retardasi
sedang, dan 8% retardasi mental tipe berat.
Berdasarkan data Dinas Sosial di Jawa Tengah pada tahun 2008-2010
jumlah penyandang retardasi mental sekitar 8.066 jiwa. Menurut Riset
Kesehatan Dasar prevalensi anak retardasi mental menunjukkan kenaikan
1% dari semula 0,12% pada tahun 2010 menjadi 0,13% pada tahun 2013.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan di SLB Negeri
Semarang pada tahun ajaran 2016/2017 terdapat 463 siswa/i berkebutuhan
khusus dengan 30 anak tuna netra, 107 anak tuna rungu, 304 anak tuna
grahita, dan 22 anak dengan tuna daksa.

Menurut departemen sosial RI bidang kesejahteraan sosial dampak yang


dirasakan bagi anak penyandang retardasi mental adalah adanya hambatan
fisik bagi anak dalam melakukan kegiatan sehari-hari, adanya gangguan
keterampilan kerja produktif, dan adanya perasaan malu, kurang percaya
diri, adanya hambatan dalam melakukan fungsi sosial dan tidak mampu
berkomunikasi secara wajar (Merdekawati & Dasuki, 2017).
Sedangkan populasi anak tunagrahita menempati angka paling besar
dibanding dengan jumlah anak dengan keterbatasan lainnya dan
prevalensi tunagrahita di indonesia saat ini diperkirakan 1-3% dari
penduduk indonesia, sekitar 6,6 juta jiwa. Kemudian pada tahun 2009
di indonesia , prevalensi penduduk yang menderita retardasi mental
sekitar 1-3% yaitu 85% retardasi mental ringan, 10% retardasi mental
sedang, 4% retardasi mental berat dan 1-2% retardasi mental sangat
berat.

Menurut Riskesdas tahun 2010 dalam Depkes RI (2014), persentase


anak tunagrahita sebesar 0.14% di Indonesia dan Jawa Tengah
menempati urutan kedua setelah DKI Jakarta.
Jumlah anak dengan tunagrahita di dunia diestimasikan antara 1-8%.
Berdasarkan data WHO (World Health Organization) tentang proporsi orang
dengan disabilitas dilihat dari jumlah total populasi penduduk di dapat bahwa
negara Indonesia menempati posisi ke 23 dengan 3% dari total jumlah
penduduk.3 Angka ini diperkuat dengan data statistik yang menunjukkan
terdapat 1.750.000-5.250.000 anak dengan tunagrahita di Indonesia.4
Sedangkan berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) yang
dilakukan oleh Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2013 didapatkan bahwa
prevalensi kecacatan pada anak umur 24-59 bulan dengan tunagrahita 0,14%.