Anda di halaman 1dari 28

OTITIS MEDIA AKUT

Herly permadi agoeng


Definisi dan Klasifikasi

 Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.
 Klasifikasi :
 Gejala
1. otitis media supuratif
2. otitis media non supuratif ( otitis media serosa, otitis media efusi, otitis media musinosa, otitis
media sekretoria).
 Waktu
1. akut
2. kronis
 Jenis otitis media spesifik : otitis media tuberkulosa, otitis media sifilitika, otitis media adhesive.
Skema pembagian otitis media
 Otitis media akut (OMA) adalah
peradangan telinga tengah
kurang dari 3 minggu dengan
gejala dan tanda-tanda yang
bersifat lokal atau sistemik dapat
terjadi secara lengkap atau
sebagian, baik berupa otalgia,
demam, gelisah, mual, muntah,
diare, serta otore apabila telah
terjadi perforasi membran
timpani.
 1. Bakteri
Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang
paling sering. Seperti : Streptococcus pneumoniae
(40%), Haemophilus influenzae (25-30%) dan
Moraxella catarhalis (10-15%). Kira-kira 5% seperti
Streptococcus pyogenes (group A beta-hemolytic),
ETIOLOGI Staphylococcus aureus, dan organisme gram
negatif.
 2. Virus
respiratory syncytial virus (RSV), influenza virus,
atau adenovirus (sebanyak 30-40%). Kira-kira 10-
15% dijumpai parainfluenza virus, rhinovirus atau
enterovirus.
Distribusi mikroorganisme yang diisolasi dari cairan telinga
tengah pasien OMA di Pittsburgh Otitis Media Research
Center,
Faktor resiko

 Umur
 Jenis kelamin
 Ras
 Faktor genetik
 Status sosioekonomi serta lingkungan, asupan air susu ibu (ASI) atau susu formula,
lingkungan merokok
 Abnormalitas kraniofasialis kongenital
 Status imunologi
 Infeksi bakteri atau virus di saluran pernapasan atas
 Disfungsi tuba Eustachius
Gejala Klinis

 Rasa nyeri di dalam telinga


 Sekret mengalir ke liang telinga
 Gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang mendengar.
 Suhu tubuh yang tinggi 39,5°C
 Riwayat batuk pilek sebelumnya
 Gelisah dan sukar tidur, diare, kejang-kejang.
Skor OMA menurut Dagan (2003)

Skor Suhu Gelisah Tarik Hiperemi Bulging


telinga membrane membrane
timpani timpani
0 <38 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

1 38-38,5 Ringan Ringan Ringan Ringan

2 38,6-39 Sedang Sedang Sedang Sedang

3 >39 Berat Berat Berat Berat dan


otore
Tuba Eustachius

 Tuba Eustachius adalah saluran yang menghubungkan rongga telinga


tengah dengan nasofaring.
 Tiga fungsi penting
1. Ventilasi
2. Proteksi
3. Drainase
Patogenesis
Sembuh/normal

Fungsi tuba tetap


terganggu

Gangguan tuba Tekanan


negatif di Efusi OME
Infeksi (-)
telinga
tengah

Etiologi: Tuba tetap terganggu


Perubahan tekanan udara tiba-tiba Infeksi (+)
Alergi
Infeksi
Sumbatan
OMA

Sembuh OME OMSK


STADIUM OMA

 1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius


Ditandai oleh retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah,
dengan adanya absorpsi udara. posisi malleus menjadi lebih horizontal, refleks cahaya juga
berkurang. membran timpani kadang-kadang tetap normal atau hanya berwarna keruh
pucat.
2. Stadium Hiperemis atau Stadium Pre-
supurasi
Terjadi pelebaran pembuluh darah di membran
timpani yang ditandai oleh membran timpani
mengalami hiperemis, edema mukosa dan
adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat.
3. Stadium Supurasi
Terbentuknya sekret eksudat purulen di telinga tengah dan di sel-sel mastoid. Selain itu edema
pada mukosa telinga tengah menjadi makin hebat dan sel epitel superfisial hancur.
menyebabkan membran timpani menonjol atau bulging. Pasien gelisah, tampak sakit,
suhu meningkat dan rasa nyeri yang semakin hebat. Tekanan yang semakin meningkat
akan menyebabkan nekrosis yang berwarna kuning dan lebih lembek.
 4. Stadium perforasi
Ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah yang
jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar.
Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut).
 5. Stadium Resolusi
Ditandai oleh perforasi membran timpani menutup kembali dan sekret
purulen akan berkurang dan akhirnya kering. Pendengaran kembali
normal. Stadium ini berlangsung walaupun tanpa pengobatan, jika
membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman
rendah.
Apabila stadium resolusi gagal maka akan berlanjut menjadi otitis media
supuratif kronik. Kegagalan stadium ini berupa perforasi membran timpani
menetap, dengan sekret yang keluar secara terus-menerus atau hilang
timbul.
DIAGNOSIS

Menurut Kerschner (2007), kriteria diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut, yaitu:
 1. Penyakitnya muncul secara mendadak dan bersifat akut.
 2. Ditemukan adanya tanda efusi. Efusi merupakan pengumpulan cairan di telinga tengah.
Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut, seperti menggembungnya
membran timpani atau bulging, terbatas atau tidak ada gerakan pada membran timpani,
terdapat bayangan cairan di belakang membran timpani, dan terdapat cairan yang keluar dari
telinga.
 3. Terdapat tanda atau gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya
salah satu di antara tanda berikut, seperti kemerahan atau erythema pada membran timpani,
nyeri telinga atau otalgia yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.
 Otitis eksterna
 Otitis media efusi
DIAGNOSIS BANDING  Eksaserbasi akut otitis media kronik
 Infeksi saluran napas atas
PENATALAKSANAAN

 Stadium oklusi tuba : obat tetes hidung HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologik untuk anak kurang
dari 12 tahun atau HCl efedrin 1 % dalam larutan fisiologis untuk anak yang berumur atas 12 tahun pada
orang dewasa. Mengobati sumber infeksi lokal dengan antibiotika bila penyebabnya kuman.
 Stadium hiperemis : amoksisilin 50 mg/kgBB/hari 3X1 selama 7 hari, HCl efedrin 0,5 %/1% dalam
larutan fisiologik, parasetamol 3x500mg
 Stadium supurasi, selain diberikan antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila
membran timpani masih utuh.
 Stadium perforasi : ear toilet H2O2 3% selama 3 sampai dengan 5 hari serta antibiotik yang adekuat
sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup kembali dalam 7 sampai
dengan 10 hari.
MIRINGOTOMI

 Miringotomi ialah insisi pada pars tensa membran timpani, supaya terjadi drainase sekret dari
telinga tengah ke liang telinga luar.
 Syarat : harus dilakukan secara dapat dilihat langsung (a-vue) , anak harus tenang sehingga
membran timpani dapat dilihat dengan baik.
 Lokasi miringotomi ialah di kuadran posterior-inferior.
 Indikasi miringotomi pada anak dengan OMA adalah nyeri berat, demam, komplikasi OMA
seperti paresis nervus fasialis, mastoiditis, labirinitis, dan infeksi sistem saraf pusat.
 Miringotomi merupakan terapi third-line pada pasien yang mengalami kegagalan terhadap dua
kali terapi antibiotik pada satu episode OMA.
2. Timpanosintesis
 merupakan pungsi pada membran timpani, dengan analgesia lokal supaya
mendapatkan sekret untuk tujuan pemeriksaan.
 Indikasi timpanosintesis adalah terapi antibiotik tidak memuaskan, terdapat
komplikasi supuratif, pada bayi baru lahir atau pasien yang sistem imun tubuh
rendah.
3. Adenoidektomi
 efektif dalam menurunkan risiko terjadi otitis media dengan efusi dan OMA rekuren,
pada anak yang pernah menjalankan miringotomi dan insersi tuba timpanosintesis,
tetapi hasil masih tidak memuaskan.
KOMPLIKASI

 Menurut Shambough (2003) komplikasi OMA terbagi kepada


 komplikasi intratemporal (perforasi membran timpani, mastoiditis
akut, paresis nervus fasialis, labirinitis, petrositis),
 ekstratemporal (abses subperiosteal), dan intracranial (abses otak,
tromboflebitis).
PENCEGAHAN

 Pencegahan terjadinya ISPA pada bayi dan anak


 Menjaga kebersihan cuci tangan dan mainan.
 Pemberian ASI minimal 6 bulan
 Hindari dari pajanan asap rokok,
 Biasakan untuk tidak sering mengorek-ngorek liang telinga
PROGNOSIS

 Ad vitam : Ad bonam
 Ad sanationam : dubia ad bonam
 Ad functionam : dubia ad bonam
Terima kasih