Anda di halaman 1dari 40

PROGRAM YANKESTRADKOM

DAN BPJS DI INDONESIA


(HANYA TERKAIT AKUPRESUR)

Dr. PUTU MELAYA, MPH


MATERI KULIAH

1. TUJUAN
2. LANDASAN HUKUM
3. PERAN PROGRAM YANKESTRADKOM
4. UPAYA TINDAK LANJUT
5. HASIL TEMUAN KPK
1. TUJUAN
TUJUAN

AGAR PRAKTISI/PENYELENGGARA PELAYANAN


KESEHATAN TRADISIONAL AKUPRESUR DI DALAM
MEMBERIKAN PELAYANAN MENDAPATKAN
REWARD/JASA
SETELAH MELAKUKAN PELAYANAN
2. LANDASAN HUKUM
LANDASAN HUKUM
1. PERMENKES NO.19 TAHUN 2014
TANGGAL 24 APRIL 2014
TENTANG PENGGUNAAN KAPITASI JAMINAN KESEHATAN
NASIONAL UNTUK JASA PELAYANAN KESEHATAN DAN
DUKUNGAN BIAYA OPERASIONAL PADA FASILITAS KESEHATAN
TINGKAT PERTAMA MILIK PEMERINTAH DAERAH
2.PERMENKES NO.28 TAHUN 2014
TANGGAL 3 JUNI 2014
TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN
KESEHATAN NASIONAL
3.PERATURAN PRESIDEN RI NO,12 TAHUN 2013
TENTANG JAMINAN KESEHATAN
LANDASAN HUKUM

1. PERMENKES NO.19
TANGGAL 24 APRIL 2014
TENTANG PENGGUNAAN KAPITASI JAMINAN KESEHATAN
NASIONAL UNTUK JASA PELAYANAN KESEHATAN DAN
DUKUNGAN BIAYA OPERASIONAL PADA FASILITAS
KESEHATAN TINGKAT PERTAMA MILIK PEMERINTAH
DAERAH
BAB I. KETENTUAN UMUM

Pasal 1 :
JAMINAN KESEHATAN NASIONAL YANG SELANJUTNYA
DISINGKAT JKN ADALAH
JAMINAN BERUPA PERLINDUNGAN KESEHATAN AGAR
PESERTA MEMPEROLEH MANFAAT PEMELIHARAAN DAN
PERLINDUNGAN DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN DASAR
KESEHATAN YANG DIBERIKAN KEPADA SETIAP ORANG
YANG TELAH MEMBAYAR IURAN ATAU IURAN DIBAYAR
OLEH PEMERINTAH
BAB I. KETENTUAN UMUM

Pasal 1 :
FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA YANG
SELANJUTNYA DISEBUT FKTP ADALAH
FASILITAS KESEHATAN YANG MELAKUKAN PELAYANAN
KESEHATAN PERORANGAN YANG BERSIFAT NON
SPESIALISTIK UNTUK KEPERLUAN OBSERVASI, DIAGNOSIS,
PERAWATAN, PENGOBATAN, DAN/ATAU PELAYANAN
KESEHATAN LAINNYA
BAB I. KETENTUAN UMUM

Pasal 1 :
DANA KAPITASI ADALAH
BESARAN PEMBAYARAN PER-BULAN YANG DIBAYAR
DIMUKA KEPADA FKTP BERDASARKAN JUMLAH PESERTA
YANG TERDAFTAR TANPA MEMPERHITUNGKAN JENIS DAN
JUMLAH PELAYANAN KESEHATAN YANG DIBERIKAN
BAB I. KETENTUAN UMUM

Pasal 1 :
SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH YANG SELANJUTNYA
DISINGKAT SKPD ADALAH
PERANGKAT DAERAH PADA PEMERINTAHAN SELAKU
PENGGUNA ANGGARAN/PENGGUNA BARANG
BAB I. KETENTUAN UMUM

Pasal 2 :
PENGATURAN PENGGUNAAN DANA KAPITASI JKN UNTUK
JASA PELAYANAN KESEHATAN DAN DUKUNGAN BIAYA
OPERASIONAL DITUJUKAN BAGI FKTP MILIK PEMERINTAH
DAERAH YANG BELUM MENERAPKAN POLA
PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM
DAERAH
BAB II. PEMANFAATAN DANA KAPITASI

Pasal 3 :
(2) ALOKASI UNTUK PEMBAYARAN JASA PELAYANAN
KESEHATAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD PADA AYAT (1)
HURUF A UNTUK TIAP FKTP DITETAPKAN SEKURANG-
KURANGNYA 60% DARI PENERIMAAN DANA KAPITASI
(3) SELISIHNYA 40% UNTUK BIAYA OPERASIONAL
PELAYANAN KESEHATAN
BAB III. JENIS PELAYANAN KESEHATAN
Pasal 4 :
(1) ALOKASI DANA KAPITASI UNTUK PEMBAYARAN JASA
PELAYANAN KESEHATAN, DIMANFAATKAN UNTUK
PEMBAYARAN JASA PELAYANAN KESEHATAN BAGI TENAGA
KESEHATAN DAN TENAGA NON KESEHATAN YG
MELAKUKAN PELAYANAN PADA FKTP
(2) PEMBAGIAN JASA YANKES KPD NAKES DAN TENAGA
NON NAKES DITETAPKAN DG VARIABEL :
1. JENIS KETENAGAAN DAN/ATAU JABATAN; DAN
2. KEHADIRAN
BAB III. JENIS PELAYANAN KESEHATAN
Pasal 4 :
(3) VARIABEL JENIS KETENAGAAN DAN/JABATAN DINILAI
SEBAGAI BERIKUT :
1. tenaga medis diberi nilai 150
2. tenaga apoteker dan perawat 100
3. nakes setara S1/D4 diberi nilai 60
4. tenaga non nakes minimal setara D3, nakes setara D3
dg masa kerja lebih 10 th nilai 40
5. nakes dibawah D3 diberi nilai 25
6. nakes non kes dibawah D3 15
LANDASAN HUKUM

2. PERMENKES NO.28 TAHUN 2014


TANGGAL 3 JUNI 2014
TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN
KESEHATAN NASIONAL
YANKESTRAD YG DICOVER JKN

BAB IV PELAYANAN KESEHATAN


PADA BUTIR C 1.
B. PELAYANAN KESEHATAN DI FKRTL/RUJUKAN
TINGKAT LANJUTAN MENCAKUP :
1). ADMINISTRASI PELAYANAN;
DSTNYA…….
12). AKUPUNKTUR
YANKESTRAD YG TDK DICOVER JKN
BAB IV PELAYANAN KESEHATAN
PADA BUTIR C 2.
2. MANFAAT YG TDK DIJAMIN DLM PROGRAM JKN
MELIPUTI :
a. pelayanan kesehatan yg dilakukan tanpa melalui
prosedur sebagaimana diaturdlm peraturan yang
berlaku…..dstnya
j. pengobatan komplementer, alternatif dan
tradisional, termasuk akupunktur non medis, shin she,
chiropractic, yang blm dinyatakan efektif berdasarkan
penilaian tenologi kesehatan (health technology
assessment)
LANDASAN HUKUM

3. PERATURAN PEMERINTAH
NO.12 TAHUN 2013
TANGGAL 18 JANUARI 2013 TENTANG
JAMINAN KESEHATAN
PASAL 22
(1). YANKES YG DIJAMIN :
a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama, meliputi pelayanan
kesehatannon spesialistik yg mencakup :
1. administrasi pelayanan
2. pelayanan promotif dan preventif
3. pemeriksaan, pengobatan & konsultasi medis
4. tindakan medis non spesialistik
5. pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
6. transfusi darah sesuai dg kebutuhan medis
7. emeriksaan penunjang diagnostik laboratorium
tingkat pertama dan
8. rawat inap tingkat pertama sesuai dg indikasi
CATATAN : tdk ada akupunktur
PASAL 25

YAKES YG TDK DIJAMIN MELIPUTI :


a. s/d h (sesuai di Permenkes)
j. pengobatan komplementer, alternatif dan tradisional,
termasuk akupunktur, shinshe, chiropractic yang belum
dinyatakan efektif berdasarkan penilaian teknolgi
kesehatan (health technology assessment)
k. s/d m
PASAL 26
(1). pengembangan penggunaan teknologi dalam manfaat
jaminan kesehatan harus disesuaikan dengan
kebutuhan medis sesuai hasil penilaian teknologi
kesehatan (health technology assessment)
(2). Penggunaan hasil penilaian tegnologi dalam manfaat
jaminan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditetapkan oleh Menteri
(3). Ketentuan mengenai tata cara penggunaan hasil
penilaian teknologi (HTA) sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) diatur dengan peraturan BPJS kesehatan
3. PERAN PROGRAM
YANKESTRADKOM
PRINSIP PERAN PROGRAM
YANKESTRADKOM DI ERA JKN

1. MEMBUKTIKAN ADANYA EVIDENCE BASE


2. BANYAK PENELITIAN YG DILAKUKAN SP3T UNTUK
MODALITAS BERDASARKAN RAMUAN DAN
KETERAMPILAN
3. MASYARAKAT MEMPEROLEH PENGOBATAN YANG
AMAN, EFEKTIF DAN BERDASARKAN BUKTI
4. HASIL PENELITIAN YANG SUDAH EVIDENCE BASE
DIDORONG MASUK JKN
4. UPAYA TINDAK LANJUT
1. POLA TARIF (PERDA)

1. Puskesmas bisa mengusulkan pola tarif ke


Dinkes Kabupaten/Kota dengan justifikasi
besaran jasa pelayanan dan operasional
2. Selanjutnya Dinkes Kabupaten/Kota akan
meneruskan usulan ke Pemerintah Daerah
3. Pemerintah Daerah selanjutnya memproses
pembahasan dengan DPRD bersama-sama
dengan Dinkes Kabupaten/Kota serta
Puskesmas
2. PUSKESMAS BLUD

1. SESUAI DENGAN PERMENDAGRI NO61 TAHUN 2007


TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN
KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM DAERAH
2. SEBAGAI DASAR DALAM PENERAPAN PENGELOLAAN
KEUANGAN BAGI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH
(BLUD)
2. PUSKESMAS BLUD

1. BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD) ADALAH SATUAN


KERJA PERANGKAT DAERAH ATAU UNIT KERJA PADA SATUAN
KERJA PERANGKAT DAERAH DI LINGKUNGAN PEMERINTAH
DAERAH YG DIBENTUK UNTUK MEMBERIKAN PELAYANAN
KEPADA MASYARAKAT BERUPA PENYEDIAAN BARANG
DAN/ATAU JASA YG DIJALANKAN TANPA MENGUTAMAKAN
MENCARI KEUNTUNGAN, DAN DALAM MELAKUKAN
KEGIATANNYA DIDASARKAN PADA PRINSIP EFISIENSI DAN
PRODUKTIVITAS
2. PUSKESMAS BLUD

2. POLA PENGELOLAAN KEUANGAN BLUD (PPK-BLUD) ADALAH


POLA PENGELOLAAN KEUANGAN YANG MEMBERIKAN
FLEKSIBILITAS KELELUASAAN UNTUK MENERAPKAN PRAKTEK-
PRAKTEK BISNIS YANG SEHAT UNTUK MENINGKATKAN
PELAYANAN KEPADA MASYARAKAT DALAM RANGKA
MEMAJUKAN KESEJAHTERAAN UMUM DAN MENCERDASKAN
KEHIDUPAN BANGSA, SEBAGAI PENGECUALIAN DARI
KETENTUAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH PADA
UMUMNYA.
2. PUSKESMAS BLUD
3. MANFAAT MENJADI PPK-BLUD :
a. Satuan kerja perangkat daerah yang dibentuk untuk
memberikan pelayanan kepada masyarakat berpotensi untuk
mendapatkan imbalan secara signifikan terkait dengan
pelayanan yang diberikan, maupun dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
b. Satuan kerja yang memperoleh pendapatan dari layanan
kepada publik secara signifikan dapat diberikan keleluasaan
dalam mengelola sumber daya untuk meningkatkan
pelayanan yang diberikan.
3. DENGAN MENGUNAKAN TARIF
PELAYANAN FISIOTERAPHY

Di beberapa Provinsi sudah melaksanakan,


dimana pelayanan akupresur yang
dilakukan pelayanan, tapi pembiayaannya
dibebankan sesuai dengan biaya atau pola
tarif yang ada di pelayanan Fisioteraphy
5. HASIL TEMUAN KPK
ADA 4 TEMUAN KPK
DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN
DANA KAPITASI DI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT
PERTAMA (FKTP)
MULAI DARI REGULASI
SAMPAI PENGAWASAN
PERTAMA

Terkait regulasi yang mengatur pembagian jasa medis


dan biaya operasional yakni Perpres No. 32 Tahun 2014
dan Permenkes No. 19 Tahun 2014. Regulasi itu
berpotensi menimbulkan moral hazard dan
ketidakwajaran karena kedua atuan ini menyebut dana
kapitasi yang bisa digunakan untuk jasa pelayanan
kesehatan sekurang-kurangnya 60 persen dari total
penerimaan.

Regulasi itu belum mengatur mekanisme pengelolaan


sisa lebih dana kapitasi
KEDUA

Aspek pembiayaan. KPK menemukan potensi fraud


(penyimpangan) atas dibolehkannya perpindahan
peserta penerima bantuan iuran (PBI) dari Puskesmas
ke FKTP swasta seperti klinik. Fakta di lapangan
menunjukkan oknum petugas Puskesmas mendirikan
FKTP swasta. Kemudian, pasien yang datang ke
Puskesmas tempat oknum itu bekerja tidak dilayani
secara baik dengan berbagai alasan. Pasien yang
bersangkutan malah diarahkan ke FKTP swasta milik
oknum petugas Puskesmas itu atau yang berafiliasi
dengannya.
KETIGA

Tata laksana dan sumber daya. KPK menemukan


sejumlah persoalan diantaranya lemahnya pemahaman
dan kompetensi petugas kesehatan di Puskesmas dalam
menjalankan regulasi. Proses eligibilitas kepesertaan di
FKTP belum berjalan baik, begitu pula dengan
pelaksanaan rujukan berjenjang.
“Potensi petugas FKTP menjadi pelaku penyimpangan
(fraud) semakin besar. Petugas Puskesmas rentan jadi
korban pemerasan berbagai pihak serta sebaran tenaga
kesehatan tidak merata,”
KEEMPAT

KPK menyoroti soal pengawasan. KPK


mencatat tidak adanya anggaran
pengawasan dana kapitasi di daerah. Itu
diperburuk dengan absennya pengawasan
dan pengendalian dana kapitasi oleh BPJS
Kesehatan.
SARAN-SARAN KPK
1. KPK mendorong pemangku kepentingan segera
melakukan monitoring dan evaluasi. Khususnya
terhadap dana kapitasi di Puskesmas.
2. Untuk regulasi, KPK mendorong perbaikan dalam
pengelolaan dan kapitasi, terutama pada FKTP milik
pemerintah daerah (pemda). Sekaligus
meningkatkan pengendalian baik di tingkat FKTP
maupun pemda
3. KPK untuk mengawasi kinerja institusi pengawas
BPJS seperti Dewas dan DJSN. “Jangan sampai kedua
lembaga itu hanya ‘papan nama’ dan para
anggotanya hanya makan gaji buta
SARAN-SARAN KPK

3. Kompetensi dan pemahaman petugas kesehatan di daerah


mengelola dana kapitasi juga perlu ditingkatkan guna
meminimalisasi penyimpangan, sehingga penggunaan dana
kapitasi bisa efektif dan efisien
4. mendukung agar ada regulasi yang mengatur mekanisme
pengelolaan sisa lebih dana kapitasi. “Jangan sampai dana
tersebut jadi ajang untuk dikorupsi dengan berbagai alasan
seperti perbaikan fisik Puskesmas
5. Mengingat dana yang dikelola sangat besar, KPK juga
berkepentingan mengingatkan agar pihak terkait berhati-hati
dalam pelaksanaannya sehingga tidak terjebak dalam tindak
pidana korupsi.