Anda di halaman 1dari 28

 Ovarium

 Tuba uterus (Falopii)


 Uterus
 Vagina
 Ovarium terletak di kanan kiri uterus,
dibawah & dibelakang tuba falopii.
2 ligamen mengikat ovarium 
 yakni bag mesovarium yg lebar yg
memisahkan ovarium dr sisi dinding pelvis
lateral kira-kira setinggi krista iliaka
anterosup.
 Lig proprium yg mengikat ovarium ke
uterus.
* Ukuran & bentuk setiap ovarium menyerupai
buah almond berukuran besar.
* Fungsi ovarium  ovulasi & memproduksi
hormon.
 Sepasang tuba falopii melekat pd fundus
uteri.
 Tuba ini memanjang ke arah lateral,
mencapai ujung bebas ligamen lebar &
berlekuk-lekuk mengelilingi ovarium.
 Panjang tuba ±10 cm & diameter 0,6 cm.
Struktur tuba falopii :
 Infundibulum
 Ampula
 Istmus
 Interstitial
 Uterus  organ berdinding tebal, muskular, pipih, cekung
yg tampak mirip buah pir terbalik.
 Pada wanita dewasa yg blm pernah hamil, berat uterus
ialah 60 grm.
 Uterus (N)  bentuk simetris, nyeri bila ditekan, licin &
teraba padat.
Uterus terdiri dari 3 bag :
 Fundus
 Korpus
 Istmus

Fungsi uterus :
 Peremajaan endometrium
 Kehamilan
 Persalinan
Terdiri dari 3 lapisan :
 Endometrium
 Miometrium
 Sebag lap luar peritoneum parietalis
 Mrp bag paling bawah uterus.
 Panjang uterus sekitar 2,5-3 cm, 1 cm menonjol
ke dlm vagina pd wanita tdk hamil.
 Serviks disusun  jar ikat fibrosa, sejml serabut
otot kecil & jar elastis.
 Ostium interna muara sempit antara kavum
uteri & kanal endoserviks.
 Ostium eksterna suatu muara sirkular pd
wanita yg blm pernah melahirkan.
 Saat wanita tdk sedang ovulasi/hamil  ujung
serviks teraba padat, spt ujung hidung, dgn
lubang kecil di tengah (ostium eksterna)
 Karakteristik serviks  mampu meregang pd
saat partus pervaginam.
 Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari
tepi cervix uteri di bagian kranial dorsal sampai ke vulva di
bagian kaudal ventral.
 Daerah di sekitar cervix disebut fornix, dibagi dalam 4
kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral
kanan dan kiri.
 Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang
elastis. Dilapisi epitel skuamosa berlapis, berubah mengikuti
siklus haid.
 Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada
haid, untuk jalan lahir dan untuk kopulasi (persetubuhan).
 Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari
sinus urogenitalis. Batas dalam secara klinis yaitu fornices
anterior, posterior dan lateralis di sekitar cervix uteri.
 Titik Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah sensorik di
sekitar 1/3 anterior dinding vagina, sangat sensitive terhadap
stimulasi orgasmus vaginal.
 Payudara
 Seluruh susunan kelenjar payudara berada di bawah
kulit di daerah pektoral.
 Terdiri dari massa payudara yang sebagian besar
mengandung jaringan lemak, berlobus-lobus (20-40
lobus), tiap lobus terdiri dari 10-100 alveoli, yang di
bawah pengaruh hormon prolaktin memproduksi air
susu.
 Dari lobus-lobus, air susu dialirkan melalui duktus
yang bermuara di daerah papila / puting.
 Fungsi utama payudara adalah laktasi, dipengaruhi
hormon prolaktin dan oksitosin pascapersalinan.
 Kulit daerah payudara sensitif terhadap rangsang,
termasuk sebagai sexually responsive organ.
 Kulit
 Di berbagai area tertentu tubuh, kulit
memiliki sensitifitas yang lebih tinggi dan
responsif secara seksual, misalnya kulit di
daerah bokong dan lipat paha dalam.
 Protein di kulit mengandung pheromone
(sejenis metabolit steroid dari keratinosit
epidermal kulit) yang berfungsi sebagai
‘parfum’ daya tarik seksual (androstenol
dan androstenon dibuat di kulit, kelenjar
keringat aksila dan kelenjar liur).
Badan pineal
 Suatu kelenjar kecil, panjang sekitar 6-8 mm, merupakan suatu
penonjolan dari bagian posterior ventrikel III di garis tengah.
 Terletak di tengah antara 2 hemisfer otak, di depan serebelum
pada daerah posterodorsal diensefalon. Memiliki hubungan
dengan hipotalamus melalui suatu batang penghubung yang
pendek berisi serabut-serabut saraf.
 Menurut kepercayaan kuno, dipercaya sebagai "tempat roh".
Hormon melatonin : mengatur sirkuit foto-neuro-endokrin
reproduksi.
 Tampaknya melatonin menghambat produksi GnRH dari
hipotalamus, sehingga menghambat juga sekresi gonadotropin
dari hipofisis dan memicu aktifasi pertumbuhan dan sekresi
hormon dari gonad. Diduga mekanisme ini yang menentukan
pemicu / onset mulainya fase pubertas.
Hipotalamus
 Kumpulan nukleus pada daerah di dasar otak,
di atas hipofisis, di bawah talamus.
 Tiap inti merupakan satu berkas badan saraf
yang berlanjut ke hipofisis sebgai hipofisis
posterior (neurohipofisis).
 Menghasilkan hormon-hormon pelepas : GnRH
(Gonadotropin Releasing Hormone), TRH
(Thyrotropin Releasing Hormone), CRH
(Corticotropin Releasing Hormone) , GHRH
(Growth Hormone Releasing Hormone), PRF
(Prolactin Releasing Factor).
 Menghasilkan juga hormon-hormon
penghambat : PIF (Prolactin Inhibiting Factor).
Pituitari / hipofisis
 Terletak di dalam sella turcica tulang
sphenoid.
 Menghasilkan hormon-hormon
gonadotropin yang bekerja pada
kelenjar reproduksi, yaitu perangsang
pertumbuhan dan pematangan folikel
(FSH - Follicle Stimulating Hormone) dan
hormon lutein (LH - luteinizing hormone).
 Selain hormon-hormon gonadotropin,
hipofisis menghasilkan juga hormon-
hormon metabolisme, pertumbuhan,
dan lain-lain.
 GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone)
Diproduksi di hipotalamus, kemudian dilepaskan,
berfungsi menstimulasi hipofisis anterior untuk
memproduksi dan melepaskan hormon-hormon
gonadotropin (FSH / LH ).
 FSH (Follicle Stimulating Hormone)
Diproduksi di sel-sel basal hipofisis anterior, sebagai
respons terhadap GnRH. Berfungsi memicu
pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel
granulosa di ovarium wanita (pada pria : memicu
pematangan sperma di testis).
Pelepasannya periodik / pulsatif, waktu paruh
eliminasinya pendek (sekitar 3 jam), sering tidak
ditemukan dalam darah. Sekresinya dihambat oleh
enzim inhibin dari sel-sel granulosa ovarium, melalui
mekanisme feedback negatif.
 LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell
Stimulating Hormone)
Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior.
Bersama FSH, LH berfungsi memicu
perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel
granulosa) dan juga mencetuskan terjadinya
ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge).
Selama fase luteal siklus, LH meningkatkan dan
mempertahankan fungsi korpus luteum
pascaovulasi dalam menghasilkan
progesteron.
Pelepasannya juga periodik / pulsatif,
kadarnya dalam darah bervariasi setiap fase
siklus, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar
1 jam). Kerja sangat cepat dan singkat.
(Pada pria : LH memicu sintesis testosteron di
sel-sel Leydig testis).
 Estrogen
Estrogen (alami) diproduksi terutama oleh sel-sel teka
interna folikel di ovarium secara primer, dan dalam jumlah
lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui
konversi hormon androgen. Pada pria, diproduksi juga
sebagian di testis.
Selama kehamilan, diproduksi juga oleh plasenta.
Berfungsi stimulasi pertumbuhan dan perkembangan
(proliferasi) pada berbagai organ reproduksi wanita.
Pada uterus : menyebabkan proliferasi endometrium.
Pada serviks : menyebabkan pelunakan serviks dan
pengentalan lendir serviks.
Pada vagina : menyebabkan proliferasi epitel vagina.
Pada payudara : menstimulasi pertumbuhan payudara.
Juga mengatur distribusi lemak tubuh.
Pada tulang, estrogen juga menstimulasi osteoblas
sehingga memicu pertumbuhan / regenerasi tulang. Pada
wanita pascamenopause, untuk pencegahan tulang
keropos / osteoporosis, dapat diberikan terapi hormon
estrogen (sintetik) pengganti.
 Progesteron
Progesteron (alami) diproduksi terutama
di korpus luteum di ovarium, sebagian
diproduksi di kelenjar adrenal, dan pada
kehamilan juga diproduksi di plasenta.
Progesteron menyebabkan terjadinya
proses perubahan sekretorik (fase
sekresi) pada endometrium uterus, yang
mempersiapkan endometrium uterus
berada pada keadaan yang optimal
jika terjadi implantasi
 HCG (Human Chorionic Gonadotrophin)
 Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu
oleh jaringan trofoblas (plasenta). Kadarnya makin
meningkat sampai dengan kehamilan 10-12 minggu
(sampai sekitar 100.000 mU/ml), kemudian turun
pada trimester kedua (sekitar 1000 mU/ml), kemudian
naik kembali sampai akhir trimester ketiga (sekitar
10.000 mU/ml).
 Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan
fungsi korpus luteum dan produksi hormon-hormon
steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal.
Mungkin juga memiliki fungsi imunologik.
 Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan
sebagai tanda kemungkinan adanya kehamilan (tes
Galli Mainini, tes Pack, dsb).
 LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolactin
 Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas
memicu / meningkatkan produksi dan sekresi air susu
oleh kelenjar payudara.
 Di ovarium, prolaktin ikut mempengaruhi
pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi
korpus luteum.
 Pada kehamilan, prolaktin juga diproduksi oleh
plasenta (HPL / Human Placental Lactogen).
 Fungsi laktogenik / laktotropik prolaktin tampak
terutama pada masa laktasi / pascapersalinan.
 Prolaktin juga memiliki efek inhibisi terhadap GnRH
hipotalamus, sehingga jika kadarnya berlebihan
(hiperprolaktinemia) dapat terjadi gangguan
pematangan follikel, gangguan ovulasi dan
gangguan haid berupa amenorhea
 FISIOLOGI HAID

 Haid tentunya suatu yang diharapkan oleh


perempuan sehat, yang menandakan fungsi
reproduksinya normal. Sehingga kalau terjadi sesuatu
dengan siklus haid, seringkali membuat bingung.
Apa yang sebenarnya terjadi ?
Tentunya pengen tau kan fisiologi haid itu apa ?
maksudnya haid yang normal itu seperti apa?
 Haid adalah Darah yang keluar dari uterus
perempuan sehat
 Lamanya 3-6 hari
 Ganti pembalut 2-5 pembalut perhari
 Satu siklus normal 21-35 hari
 Terjadi akibat penurunan kadar progesteron, siklus
haid yang berovulasi
Haid Dipengaruhi berbagai hormone :
 GnRH (Gonadotropin Releasing Hormon)
yang dikeluarkan oleh hipothalamus dan
memicu hipofisis anterior mengeluarkan
hormon FSH
 FSH (Folikel Stimulating Hormon) memicu
pematangan folikel diovarium, sehingga
terjadi sintesis estrogen dalam jumlah
besar
 Estrogen akan
mengakibatkan proliferasi sel
endometrium (penebalan dari
endometrium)
 Estrogen yang tinggi memberi tanda
kepada hipofisis untuk mengeluarkan
hormon LH (Luteinizing hormon), LH akan
mengakibatkan ovulasi dan memicu korpus
luteum untuk mensintesis progesterone.
 Progesteron sendiri menyebabkan
perubahan sekretorik pada
endometrium sehingga terjadi Fase sekresi
/ fase luteal.
 Fase sekresi selalu tetap 14 hari, meskipun
siklus haid bervariasi, yang berbeda adalah
fase proliferasinya, sehingga harus berhati2
untuk menentukan masa subur.
Gangguan haid dan siklusnya, bisa berupa
 Ritme (irama haid)
 Banyaknya darah haid yang keluar
 Lamanya darah haid yang keluar
 Perdarahan tidak teratur , dimana
interval datangnya haid tidak tentu
 Perdarahan bercak (spotting) prahaid,
pertengahan siklus dan pasca haid
Ritme haid abnormal
 Polimenore : haid terlalu sering, < 21 hari
 Oligomenore, haid terlalu jarang, > 35
hari
 Tidak terjadi haid : Amenore
 Metroragia : Perdarahan tidak teratur
diluar siklus haid
Kelainan Haid berdasarkan Banyaknya
darah haid abnormal
 Hipermenore : darah haid banyak, ganti
pembalut > 6x perhari
 Hipomenore : darah haid terlalu sedikit,
ganti pembalut < 2x perhari
 Perdarahan bercak (spotting)
Kelainan Haid berdasarkan Lamanya
darah haid yang keluar
 Menoragia : Darah haid keluar > 6 hari
 Brakimenore : Darah haid yang keluar <
2 hari
 Lanjut ke pertemuan konsepsi-kehamilan