Anda di halaman 1dari 36

CUTANEOUS HORN

Oleh:
Intan Ayu Salsabila Putri
201820401011013

Dokter Pembimbing:
dr. Sri Adila Nurainiwati, Sp.KK, FINDSV
dr. Dwi Nurwulan Pravitasari, Sp.KK

SMF ILMU KULIT KELAMIN


RSUD GAMBIRAN KEDIRI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2019
Pendahuluan

Cutaneous horn adalah tonjolan keratotik berbentuk


kerucut, tidak berpigmen, dan padat. Dapat memiliki
berbagi macam ukuran dari beberapa milimeter hingga ke
beberapa sentimeter. Cutaneous horn muncul ketika
didapatkan abnormalitas pada stratum spinosum pada
epidermis yang menyebabkan pengumpulan dari keratin
Epidemiologi

Cutaneous horn dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja, khususnya
lesi ini sering ditemukan pada area yang terpapar sinar matahari, pada
bagian permukaan dorsal tangan dan kulit kepala.
Orang tua dan orang kulit putih yang paling banyak terkena. Tapi pada
beberapa kasus didapatkan cutaneous horn pada anak-anak berusia 4
tahun. Cutaneous horn bukan merupakan diagnosis patologik, tetapi
merupakan deskripsi morfologi, dari stratum basal yang bersifat benign,
premalignan, malignan
Patofisiologi
Radiasi dari UVB yang kronik  alterasi genetik dari
keratinosit pada stratum basal pada epidermis 
menginduksi pembentukan cyclobutane pyrimidine dimers
 memodifikasi struktur DNA (fotomutagenesis) 
menginaktifasi mutasi dari gen supresor tumor p53 
mutan keratinosit p53 menunjukkan pertumbuhan sel yang
tidak diinginkan dan menghasilkan morfologi atipik.
Klasifikasi
Klasifikasi Olsen dibagi menjadi Klasifikasi Roewert-Huber yang
3 stadium secara klinis. membedakan menjadi 3 tipe.

Stadium 1 termasuk lesi yang Tipe pertama, keratinosit atipikal


terbatas 1/3 bawah epidermis dan
sedang, sedikit dapat diraba, hanya ditemukan pada stratum basal
dan lebih dapat dilihat daripada dan suprabasal.
diraba.
Tipe ke II, ditemukan pada 2/3
Stadium 2 memperlihatkan lesi epidermis, berdekatan dengan
yang tebal dan dapat diraba epidermis yang normal.
dengan mudah. Tipe ke III, berada pada 2/3 bawah
Stadium 3 adalah lesi yang dari tebalnya epidermis, dan dapat
melingkupi folikel rambut, infudibula,
buruk, sangat tebal dan/atau dan akrosiringium.
sangat terlihat.
Diagnosis
Gejala Klinik
Anamnesis
Pasien

Histopatologi
Manifestasi Klinis
Cutaneous horn masa keratinisasi yang menonjol dan secara
progresif perlahan tumbuh pada permukaan kulit, biasanya
kerucut dan berbentuk seperti tanduk, lancip,
bergelombang, dan berkelok.
Cutaneous horn periokular dilaporkan dapat tumbuh pada
bulu mata, alis mata, dan sakus lakrimalis. Dapat berupa lesi
tunggal ataupun multipel.
Anamnesis
Benjolan semakin
Faktor genetik membesar atau
tidak

Mengganggu
Keluhan lain
secara fungsional
Gejala Klinis

Anamnesis
• Benjolan berbentuk kerucut dan berbentuk seperti
tanduk, lancip, bergelombang, dan berkelok
• Tidak nyeri, gatal maupun panas
• Tidak disertai gejala prodormal
Kelainan Kulit
• Makula hiperpigmentasi dengan papul bertangkai
• Pada perabaan teraba tekstur verukus/kasar
Histopatologi
Menunjukkan hiperkeratosis (penebalan dari stratum korneum) dan
parakeratosis (retensi dari sel nukleus stratum korneum), biasanya
berhubungan dengan keratinosit atipik.
Cutaneous horn dapat benign seperti veruka vulgaris, angiokeratoma,
moluskum kontagiosum, keratosis seboroik, nevus sebasea dan
trikilemoma.
Kondisi premalignan seperti keratosis aktinik.
Kondisi malignan seperti karsinoma sel squamous, atau karsinoma sel
basal dilaporkan kurang lebih 20% kasus.
Diagnosis Banding
• Permukaan seperti beludru dan verukosa karena
Keratosis teraba halus dan berminyak
• Ditemukan pada dada dan permukaan tubuh lain
Seboroik yang terpapar sinar matahari

• Ditemukan pigmentasi keputihan dan


ditemukan folikel, skuama, dan warna merah.
Lentigo Maligna
• Pigmentasi yang intens dan garis rhomboidal
Fasial abu-abu adalah tanda diagnosis untuk lentigo
maligna
Tatalaksana
a. Cryosurgery
Cryosurgery atau bedah beku ini menggunakan cairan nitrogen. Yang
mana prosedur pembekuan membuat kristal es pada ekstra dan
intraseluler  destruksi  membuat dehidrasi sel dan ruptur dari
membran sel dan organel.
b. Pembedahan
Eksisi merupakan cara yang paling sering digunakan untuk lesi
hiperkeratotik tunggal.
Kuretase memiliki keuntungan karena secara mekanik menghilangkan
keratinosit atipik. Bisa dilakukan sebagai teknik tunggal atau kombinasi
dengan eksisi, elektrodesikasi, atau bedah beku.
C. Bedah Laser
Bedah terapi yang biasanya dilakukan adalah ablasi dengan
karbondioksida dan Er:YAG  mengaburkan epidermis pada kedalaman
yang berbeda-beda, memungkinkan untuk reepitelisasi dengan
keratinosit adneksa atau lesi yang berdekatan.
Karbondioksida memiliki kedalaman penetrasi yang lebih tinggi
dibandingkan lase Er:YAG dan dapat digunakan pada lesi hiperkeratotik
yang lebih tebal.
Prognosis
Aktinik keratinosit bisa saja penetrasi ke membran basal
dan menjadi invasif, angka progresi lesi tunggal menjadi
karsinoma sel skuamos kurang dari 1%, beragam dari 0
hingga 0,53% pada individual dengan riwayat kanker kulit
nonmelanoma dan tanpa imunosupresi.
Peningkatan resiko pada karsinoma dengan durasi muncul,
lesi total lebih dari 5, dan karakteristik individual seperti
penderita imunosupresi
Resolusi spontan tanpa terapi dapat terjadi. Regresi pada
lesi tunggal terjadi pada 20 – 30% dari studi kohort yang
dilakukan. Paparan sinar matahari dan penggunaan
sunscreen dapat meningkatkan angka regresi spontan.
Angka resolusi pada wajah dan kulit kepala rendah yaitu 0 –
7,2%. Lesi yang regresi dapat muncul kembali, dengan angka
rekurensi 15 – 53%.
BAB 2
TINJAUAN KASUS
◦Identitas Pasien
Nama : Tn. P
Umur :60 tahun
Jenis Kelamin :Laki-laki
Agama :Islam
Suku :Jawa
Pekerjaan :Wiraswasta
Alamat :Kediri
Tanggal Pemeriksaan :25/11/2019
Anamnesis
Keluhan Utama
Mata kiri terasa mengganjal karena ada tonjolan
Riwayat Penyakit Sekarang
Tn. P pada tanggal 25/11/2019 datang ke poli kulit dan kelamin, datang
dengan keluhan mata kiri terasa mengganjal karena ada tonjolan.
Tonjolan ini diakui sudah sejak pasien masih anak-anak. Tetapi dahulu
tidak berupa tonjolan, hanya ada perbedaan warna dengan kulit aslinya
seperti tailalat. Semakin lama, pasien merasa semakin menonjol dan
terasa mengganjal saat pasien mencuci muka. Benjolan berada di
kelopak mata bawah mata kiri, dan tidak menyebar ke bagian tubuh
lainnya. Tidak ada nyeri, tidak ada panas di area lesi, tidak gatal, dan
tidak ada gejala prodormal pada pasien seperti demam, mual, muntah
Riwayat Penyakit Dahulu
- Penyakit kulit DKI (+) satu bulan yang lalu
Riwayat Penyakit Keluarga
Keluhan sama pada keluarga (-)
Riwayat alergi (-)
Riwayat Alergi
Alergi makanan dan obat (-)
Riwayat Sosial
(-)
Pemeriksaan fisik
Status Generalis Kepala/Leher : a/i/c/d -/-/-/-, lihat
status lokalis
Keadaan umum : baik
Thorax : Dalam batas normal
Kesadaran : Compos Mentis
Abdomen : Dalam batas normal
GCS : 456
Genetalia : Dalam batas normal
BB : 63 kg
Ekstremitas : Dalam batas normal
Tensi : 120/70 mmHg
Nadi : 89x/menit
Status Lokalis
Suhu : 36,6 C
- Et regio palpebra inferior okuli sinsitra
RR : 20x/menit tampak papul bertangkai dengan dasar
makula hiperpigmentasi batas tegas.
Pemeriksaan Penunjang
DL, GDA, RFT, LFT, BGA, Kultur bakteri dan jamur, Histo PA
(Tidak dilakukan)
Diagnosis
Cutaneous Horn
Diagnosis banding :
◦ Keratosis Seboroik
Planning
1. Terapi
Medikamentosa : Topikal
- Fucilex krim 3x/hari post tindakan
Non Medikamentosa : Pembedahan
- Elektrokauterisasi
2. Monitoring
- Keluhan pasien
Luas lesi semakin luas atau tidak, muncul lesi baru atau
tidak
3. Edukasi
-Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit yang diderita adalah
Cutaneous Horn.
-Menjelaskan kepada pasien bahwa kemungkinan besar penyebab
penyakit px adalah cutaneous horn yang kemungkinan dikarenakan
radiasi sinar UVB.
-Menjelaskan kepada pasien bahwa terapi dan tindakan yang akan
dilakukan
BAB 3
PEMBAHASAN
Tn. P datang ke poli mengeluhkan mata kiri terasa mengganjal karena
ada tonjolan. Tonjolan ini diakui sudah sejak pasien masih anak-anak.
Tetapi dahulu tidak berupa tonjolan, hanya ada perbedaan warna
dengan kulit aslinya seperti tailalat. Semakin lama, pasien merasa
semakin menonjol dan terasa mengganjal saat pasien mencuci muka.
Benjolan berada di kelopak mata bawah mata kiri, dan tidak menyebar
ke bagian tubuh lainnya. Tidak ada nyeri, tidak ada panas di area lesi,
tidak gatal, dan tidak ada gejala prodormal pada pasien seperti demam,
mual, muntah.
Pemeriksaan fisik
Status Generalis Kepala/Leher : a/i/c/d -/-/-/-, lihat
status lokalis
Keadaan umum : baik
Thorax : Dalam batas normal
Kesadaran : Compos Mentis
Abdomen : Dalam batas normal
GCS : 456
Genetalia : Dalam batas normal
BB : 63 kg
Ekstremitas : Dalam batas normal
Tensi : 120/70 mmHg
Nadi : 89x/menit
Status Lokalis
Suhu : 36,6 C
- Et regio palpebra inferior okuli sinsitra
RR : 20x/menit tampak papul bertangkai dengan dasar
makula hiperpigmentasi batas tegas.
Diagnosis pada pasien ini adalah “Cutaneus Horn” yang
ditegakkan berdasarkan klinis berupa anamnesis 1) tonjolan
yang semakin lama semakin tumbuh, 2) tidak gatal, tidak
nyeri, tidak panas, 3) tidak mengganggu secara fungsi 4)
tidak ada gejala prodormal
Pemeriksaan fisik 1) papul bertangkai dengan dasar makula
hiperpigmentasi, 2) predileksi pada bagian tubuh yang
sering terpapar sinar UV, 3) tidak ada nyeri maupun gejala
prodormal
Radiasi dari UVB yang kronik  alterasi genetik dari
keratinosit pada stratum basal pada epidermis 
menginduksi pembentukan cyclobutane pyrimidine dimers
 memodifikasi struktur DNA (fotomutagenesis) 
menginaktifasi mutasi dari gen supresor tumor p53 
mutan keratinosit p53 menunjukkan pertumbuhan sel yang
tidak diinginkan dan menghasilkan morfologi atipik.
Menunjukkan hiperkeratosis (penebalan dari stratum korneum) dan
parakeratosis (retensi dari sel nukleus stratum korneum), biasanya
berhubungan dengan keratinosit atipik.
Cutaneous horn dapat benign seperti veruka vulgaris, angiokeratoma,
moluskum kontagiosum, keratosis seboroik, nevus sebasea dan
trikilemoma.
Kondisi premalignan seperti keratosis aktinik.
Kondisi malignan seperti karsinoma sel squamous, atau karsinoma sel
basal dilaporkan kurang lebih 20% kasus.
Pembedahan biasanya digunakan untuk dilakukan pemeriksaan
histologi pula. Elektrokauterisasi merupakan cara yang paling sering
digunakan untuk lesi hiperkeratotik tunggal. Elektrokauterisasi memiliki
keuntungan karena secara mekanik menghilangkan keratinosit atipik.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terapi bedah menunjukkan
angka yang rendah terjadinya rekurensi dibandingkan dengan terapi
lainnya.
BAB 4
KESIMPULAN
◦ Cutaneous horn adalah tonjolan keratotik berbentuk
kerucut, tidak berpigmen, dan padat. Cutaneous horn
muncul ketika didapatkan abnormalitas pada stratum
spinosum pada epidermis yang menyebabkan
pengumpulan dari keratin.
◦ Cutaneous horn dapat menjadi karsinoma sel squamous
atau bisa menjadi teresolusi secara spontan.
◦ Cutaneous horn terjadi karena adanya radiasi dari UVB
yang kronik dapat menyebabkan alterasi genetik dari
keratinosit pada stratum basal pada epidermis. Pada
tingkat molekular, sinar UV menginduksi pembentukan
cyclobutane pyrimidine dimers yang mana dapat
memodifikasi struktur DNA (fotomutagenesis).
Menginaktifasi mutasi dari gen supresor tumor p53. p53
mempunyai peranan penting pada siklus progresi sel dan
memperbaiki kerusana DNA.
◦ Lesi cutaneous horn dapat berada dimana saja di tubuh,
tetapi lebih banyak ditemukan pada kulit yang terekspos
sinar matahari (sinar UV).
TERIMA KASIH