Anda di halaman 1dari 25

SHOLAT &

PUASA
SHOLAT
• Pengertian

–Menurut bahasa shalat artinya adalah berdoa.

–Sedangkan menurut istilah shalat adalah suatu


perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan
takbir dan diakhiri dengan salam sesuai dengan
persyaratkan yang ada
Untuk melakukan shalat ada syarat-syarat yang
harus dipenuhi dulu, yaitu :
1. Beragama Islam
2. Memiliki akal yang waras alias tidak gila
3. Berusia cukup dewasa
4. Telah sampai dakwah islam kepadanya
5. Bersih dan suci dari najis, haid, nifas, dan
lain sebagainya
6. Sadar atau tidak sedang tidur
Syarat sah pelaksanaan sholat adalah
sebagai berikut ini :
1. Masuk waktu sholat
2. Menghadap ke kiblat
3. Suci dari najis baik hadas kecil
maupun besar
4. Menutup aurat
Waktu Sholat:
Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke
barat) dan bayangan seseorang sama dengan
tingginya selama waktu Ashar belum tiba, waktu
Ashar masuk selama matahari belum menguning,
waktu shalat Maghrib selama awan merah belum
menghilang, waktu shalat Isya hingga tengah malam,
dan waktu shalat Shubuh semenjak terbitnya fajar
hingga matahari belum terbit." Riwayat Muslim.
• Rukun Shalat
• Dalam sholat ada rukun-rukun yang harus kita jalankan,
yakni :
1. Niat
2. Posisis berdiri bagi yang mampu
3. Takbiratul ihram
4. Membaca surat al-fatihah
5. Ruku / rukuk yang tumakninah
6. I'tidal yang tuma'ninah
7. Sujud yang tumaninah
8. Duduk di antara dua sujud yang tuma'ninah
9. Sujud kedua yang tuma'ninah
10. Tasyahud
11. Membaca salawat Nabi Muhammad SAW
12. Salam ke kanan lalu ke kiri
Sholat Sunnah
1. Sunnah rawatib adalah: shalat yang dilakukan sebelum atau
setelah shalat fardhu, ia terbagi menjadi dua macam:
a. sunnah rawatib mu'akkadah, yaitu dua belas rakaat:
– empat rakaat sebelum dhuhur.
– Dua rakaat setelah dhuhur.
– Dua rakaat setelah maghrib.
– Dua rakaat setelah shalat isya'.
– Dua rakaat sebelum subuh.
• Dari ummu habibah isteri nabi beliau berkata: aku
mendengar rasulullah bersabda:
• tidaklah seorang hamba muslim shalat sunnah bukan fardhu
untuk Allah setiap hari duabelas rakaat, kecuali Allah
membangunkan baginya rumah di surga, atau kecuali
dibangunkan baginya rumah di surga. (HR. Muslim)(1).
b. shalat rawatib yang tidak mu'akkad,
dilakukan namun tidak terus-
menerus:
»dua rakaat sebelu asar, maghrib,
isya', dan disunnahkan selalu shalat
empat rakaat sebelum asar, dan ia
merupakan sebab mendapat rahmat
Allah
KEUTAMAAN SHOLAT
1. Amal yang pertama kali di hisab:
ُ ِ َّ‫ن الن‬
‫اس ِفي‬ َ ‫ص ََلةُ َوُأ َ َّولُ َما ي ْق‬
َُ ‫ضى بَ ْي‬ َ ‫أ َ َّولُ َما ي َحا‬
َّ ‫سبُ ِب ُِه ا ْلعَ ْبدُ ال‬
ُِ ‫الد َم‬
‫اء‬ ِ
“Amalan pertama yang dengannya seorang
hamba dihisab adalah shalat dan sesuatu
pertama yang diputuskan di antara para
manusia adalah mengenai darah.” (HR. An-
Nasai no. 3926 dan selainnya)
2. Shalat 5 waktu merupakan ibadah yang Allah
Ta’ala syariatkan kepada Nabi-Nya
shallallahu alaihi wasallam secara langsung
tanpa perantara malaikat
3. Sebagai penghapus dosa : Shalat lima waktu
dan shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya
adalah penghapus untuk dosa antara
keduanya selama tidak melakukan dosa
besar.” (HR. Muslim no. 342)
4. Mendapat pahala besar: “Shalat berjamaah
lebih utama dua puluh tujuh derajat
daripada shalat sendirian.” (HR. Al-Bukhari
no. 131 dan Muslim no. 650)
PUASA
Pengertian Puasa
Puasa adalah menahan diri dari semua hal
yang bisa membatalkannya, sejak terbitnya
fajar hingga terbenamnya matahari, dengan
niat khusus.
  Hukum Meninggalkan Puasa Ramadhan
 Hukum orang yang meninggalkan puasa Ramadhan,
seperti hukum orang yang meninggalkan shalat. Jika
dia meninggalkan karena mengingkari hukumnya yang
wajib, maka dia dihukumi kafir. Demikian pula dengan
rukun Islam yang lain (zakat, haji, dsb).
 Jika meninggalkan puasa karena malas dan
menganggap remeh, sebagian ulama tidak
menghukuminya kafir, namun dianggap tidak lengkap
Islamnya, karena Rasulullah SAW mengibaratkan Islam
seperti bangunan yang dibangun di atas 5 (lima)
penyangga. Jika lengkap kelima penyangga tersebut,
bangunan akan kokoh. Jika kurang lengkap, bangunan
akan mudah roboh.
 Hukum Puasa
Puasa mempunyai 4 (empat) macam hukum:
1. Wajib, yaitu:
a. Puasa Ramadhan
b. Puasa Qadla
c. Puasa Kaffarah / penebus [seperti kaffarah dzhihar
(menyamakan punggung istrinya dengan punggung
ibunya), atau kaffarah sebab berhubungan suami istri
pada siang hari bulan Ramadhan].
d. Puasa saat haji dan umrah, sebagai ganti dari
menyembelih hewan ternak dalam pembayaran
fidyah.
e. Puasa nadzar.
2. Sunnah, terbagi menjadi 3 (tiga) macam:
a. Terulang tiap tahun, seperti puasa hari Arafah,
puasa Tasu’a (tanggal 9), ‘Asyura (tanggal 10),
dan tanggal 11 bulan Muharram, puasa 6 hari di
bulan Syawwal, puasa pada bulan-bulan suci
(yaitu bulan Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram,
dan Rajab), puasa 10 hari pertama dari bulan
Dzul Hijjah, dan sebagainya.
b. Tidak terulang tiap tahun, seperti puasa al
ayyam al biidh (“hari-hari putih”, yaitu tanggal
13, 14, dan 15 pada tiap bulan hijriyyah).
c. Terulang tiap minggu, seperti puasa hari Senin
dan Kamis.
3. Makruh, seperti puasa hari Jum’at saja, atau
Sabtu saja, atau Ahad saja. Tidak makruh, jika
digabung dengan yang lain, misalkan Jum’at
dengan Sabtu, atau Sabtu dengan Minggu, atau 3
hari berturut-turut (Jum’at, Sabtu, dan Minggu).
Makruh juga puasa tiap hari sepanjang tahun
(puasa dahr) bagi orang yang khawatir puasa
tersebut dapat membahayakan dirinya.
4. Haram,.
a. Puasa saat hari Raya Idul Fitri (1 Syawwal)
b. Puasa saat hari Raya Idul Adha (10 Dzul Hijjah)
c. Puasa saat hari-hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan
13 bulan Dzul Hijjah.
 Syarat Sah Puasa
Artinya, jika sudah terpenuhi syarat-syarat 4 (empat) di bawah
ini sah puasanya, yaitu:
1. Islam
Dengan demikian dia harus terus dalam keadaan Islam
sepanjang siang, jika sampai murtad / keluar dari agama Islam –
na’udzubillah- meskipun hanya sekejap, maka puasanya batal.
2. Berakal
Disyaratkan sepanjang hari itu dia harus terus dalam keadaan
berakal. Jika seumpama sekejap saja dia gila, maka puasanya
batal. Adapun hilangnya akal karena pingsan atau mabuk, akan
dibahas secara terperinci pada pembahasan tentang hal-hal yang
dapat membatalkan puasa.
3. Tidak haid atau nifas.
Dengan demikian, bagi orang wanita yang ingin berpuasa,
dia harus suci dari haid dan nifas sepanjang siang. Jika
keluar darah haid pada akhir siang (meskipun waktu
berbuka tinggal sekejap saja), maka puasanya batal.
Begitu juga jika dia suci / terputus haidnya di siang hari,
kemudian dia berniat puasa, maka puasanya tersebut
tidak sah, namun disunnahkan baginya untuk menahan
diri dari hal yang bisa membatalkan puasa (dengan tanpa
niat untuk berpuasa).
4. Mengetahui bahwa di hari itu dia boleh berpuasa.
Artinya, bukan di hari yang dilarang untuk berpuasa,
sebagaimana telah dibahas.
 Syarat Wajib Puasa
Artinya, jika sudah terpenuhi 5 (lima) syarat ini, seseorang wajib
berpuasa, yaitu:
1. Islam
Dengan demikian, orang kafir tidak dituntut di dunia untuk
berpuasa. Adapun orang murtad, dia wajib meng-qadla
puasa yang ditinggalkan saat dia murtad, jika dia sudah
kembali lagi masuk Islam.
2. Mukallaf
Yaitu baligh dan berakal. Adapun anak kecil, wajib bagi
walinya (orang tua, kakek, dsb) untuk menyuruhnya berpuasa
saat dia berumur 7 tahun. Jika sudah berumur 10 tahun tidak
mau berpuasa, sang wali wajib memukulnya jika hal tersebut
memungkinkan.
3. Mampu
Baik secara indrawi maupun syar’i. Mampu secara indrawi
maksudnya bukan orang yang sangat tua, atau sakit parah yang sulit
sembuh. Mampu secara syar’i, artinya bukan orang yang sedang
haid atau nifas.
4. Sehat
Karena itu orang yang sakit tidak wajib berpuasa.
Ukuran sakit yang menjadikannya boleh tidak berpuasa: sekira jika
tetap berpuasa, dikhawatirkan sakitnya tambah parah, atau
sembuhnya menjadi lama.
5. Muqim
Dengan demikian, puasa tidak wajib bagi orang yang sedang
bepergian jauh (minimal 82 KM) dan perjalanannya merupakan
perjalanan yang mubah/boleh, bukan untuk maksiat. Disyaratkan
pula, dia berangkat sebelum terbitnya fajar.
Hukum yang afdhal bagi musafir adalah tetap berpuasa, jika tidak
membahayakan dirinya. Jika membahayakan, maka diutamakan
untuk tidak berpuasa.
 Rukun-Rukun Berpuasa
Ada 2 (dua), yaitu:
1. Niat, baik puasa sunnah maupun puasa wajib.
2. Meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan
puasa.
Namun tidak batal jika hal-hal itu dilakukan
karena lupa, atau dipaksa, atau karena tidak
tahu, yang ketidaktahuannya karena udzur.
 Sunnah-Sunnah Berpuasa dan Bulan Ramadhan
1. Mempercepat (ta’jil) buka puasa jika sudah yakin masuk waktu
berbuka (yakni terbenamnya matahari). Jika ragu, maka dia harus
berhati-hati dengan menunda sebentar buka puasa sampai merasa
yakin dengan masuknya waktu berbuka.
2. Sahur, walaupun dengan seteguk air. Masuk waktu sahur mulai
pertengahan malam.
3. Mengakhirkan sahur di akhir malam. Disunnahkan untuk berhenti
makan sebelum terbitnya fajar seukuran membaca 50 ayat
(seperempat jam)
4. Berbuka dengan kurma muda (ruthab), jika tidak ada maka dengan
kurma, jika tidak ada maka dengan air zamzam, jika tidak ada maka
dengan air biasa, jika tidak ada maka dengan makanan manis yang
masak tanpa menggunakan api (seperti madu atau kismis), jika
tidak ada maka makanan manis yang masak dengan api.
5. Memberi makan untuk orang yang berbuka.
6. Jika berhadats besar, disunnahkan mandi janabah / mandi besar
sebelum terbit fajar.
7. Senantiasa melaksanakan shalat Tarawih selama bulan Ramadhan.
8. Senantiasa melaksanakan shalat Witir.
9. Memperbanyak bacaan Alquran.
10. Memperbanyak melakukan kesunnahan-kesunnahan, seperti
shalat Rawatib, shalat Dhuha dan sebagainya.
11. Memperbanyak amal-amal shalih, seperti shadaqah,
shilaturrahmi, menghadiri majlis taklim/pengajian, i’tikaf, umrah,
menjaga hati dan anggota tubuh dari perbuatan maksiat,
memperbanyak doa, dan sebagainya.
12. Lebih meningkatkan semangat ibadah pada 10 hari terakhir,
mengejar lailatul qadar pada malam-malam tersebut, terutama
pada tanggal-tanggal ganjilnya.
13. Lebih memperbanyak dalam menafkahi keluarganya.
14. Meninggalkan banyak bergurau, terutama yang mengandung
ejekan. Jika diejek oleh seseorang, harus segera ingat bahwa
dirinya sedang berpuasa.
 Hal-Hal yang Dimakruhkan dalam Berpuasa:
1. Mengunyah sesuatu tanpa ada yang sampai ke tenggorokan (jika
ada yang sampai ke tenggorokan, puasanya batal).
2. Menyicipi makanan tanpa ada perlunya, (dengan syarat tidak ada
makanan yang sampai ke tenggorokan, jika ada, puasanya batal).
Adapun jika ada hajat, seperti untuk merasakan makanan,
hukumnya tidak makruh.
3. Hijamah (cantuk), yaitu mengeluarkan darah kotor, karena bisa
menyebabkan tubuh menjadi lemah.
4. Mandi dengan cara berendam, walaupun mandinya merupakan
mandi wajib.
5. Siwak / gosok gigi setelah Dzuhur, karena bisa menghilangkan bau
mulut. Menurut Imam Nawawi, hukumnya tidak makruh.
6. Terlalu kenyang saat berbuka atau sahur, dan banyak tidur, serta
melakukan perbuatan yang tidak semestinya. Karena hal tersebut
bisa menghilangkan hikmah puasa.
7. Melakukan keinginan-keinginan yang mubah (boleh), yang
biasanya dilakukan oleh indra penciuman (hidung), indra
penglihatan (mata), indra pendengaran (telinga), dan sebagainya.
 Hal-Hal yang Dapat Membatalkan Puasa, terbagi
menjadi 2 (dua) macam:
I. Membatalkan pahala puasa, yaitu:
1. Ghibah, yaitu menyebutkan sesuatu tentang
seseorang ketika orang tersebut tidak ada, sekiranya
dia mendengar, dia akan merasa tidak suka,
walaupun isi pembicaraan itu benar adanya.
2. Namimah, yaitu menyebarkan berita dengan tujuan
terjadinya fitnah.
3. Bohong.
4. Melihat sesuatu yang diharamkan, atau melihat
sesuatu yang halal namun dengan syahwat.
5. Sumpah palsu.
6. Berkata keji, atau melakukan perbuatan keji.
II. Membatalkan puasa, baik membatalkan
pahalanya maupun puasa itu sendiri
(karenanya wajib qadla):
1. Murtad, yakni keluar dari Islam, baik dengan
niat dalam hati, perkataan, perbuatan,
walaupun perbuatan murtad tersebut
sekejap saja.
2. Haid, nifas, atau melahirkan, walaupun
sekejap saja di siang hari.
3. Berhubungan badan, dengan sengaja, tahu
bahwa hukumnya haram, dan tidak dipaksa.