Anda di halaman 1dari 22

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

LALU LINTAS
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
• SPESIALISASI BIDANG KESEHATAN UNTUK
MEMPELAJARI DAN PRAKTEK KERJA DI SEMUA
JENIS PEKERJAAN YANG BERTUJUAN UNTUK
MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS DALAM
KEADAAN SEHAT DAN SELAMAT YANG
TERJAGA SECARA BERKESINAMBUNGAN
• DALAM TOPIK INI BERKAITAN DENGAN LALU
LINTAS
LALU LINTAS
• Data menunjukkan kecelakaan kerja yang
berkaitan dengan lalu lintas lebih dari 60%
dari semua kejadian kecelakaan kerja
• Di Indonesia ketentuan tentang kecelakaan
kerja disamping kejadian kecelakaan di dalam
pabrik (tempat kerja) juga kejadian kecelakaan
lalu lintas (berangkat ke tempat kerja dan
pulang kerja mengikuti rute jalan yang biasa
dilaluinya)
Ruang lingkup lalu lintas
• Lalu lintas darat : meliputi pejalan kaki,
penunggang kuda & kereta kuda, kendaraan
tidak bermotor (sepeda) dan kendaraan
bermotor (sepeda motor, mobil, bus, truck,
kereta api)
• Lalu lintas laut: perahu, kapal penumpang dan
kapal barang & tanker.
• Lalu lintas udara: pesawat terbang
Distribution traffic death rate by country

No country Road traffic death rate per


100.000 pop.
1 Denmark 3.5
2 Germany 4.3
3 Australia 5.4
4 China 18.8
5 Indonesia 19.86
6 Malaysia 24
7 Brazil 23.4

Source : WHO -2013

Note:
low and middle income country had higher
Road traffic fatality rates per 100.000 pop. Compared
to higher income country
Konsep kejadian kecelakaan
• Teori Domino (Heinrich)
• Teori dari International Loss Control Institute
• Penyebab langsung :
1. Unsafe act
2. Unsafe condition
INTERNATIONAL LOSS CONTROL INSTITUTE
CAUSATION MODEL

Lack of Basic Immediate


Control Causes Cause
Incident Loss

Inadequate
Program Personal Sub-
Factors Standards Contact People
Program Acts With Property
Standards Energy, Product
Substance Environ-
Compliance Job Sub- Or ment
To Factors Standards People Service
Standards conditions
Korban kecelakaan lalu lintas
• Data W.H.O kecelakaan di jalan th 2010 telah
menyebabkan 1,24 juta orang meninggal (dunia)
sementara di Indonesia menelan korban diperkirakan
antara 31,234 sampai 47,673 meninggal. Jumlah
korban tertinggi saat menjelang lebaran (acara mudik).
• Para korban adalah :
pengendara sepeda motor (36%),
penumpang bus (35%),
pejalan kaki (21%)
pengemudi (1%)
Substandard condition
1. Rain : hujan menyebabkan jalan licin, pandangan tidak
jelas
2. Night driving; mengemudi malam hari menimbulkan
disorientasi
3. Design defects : kesalahan desain tehnis mobil seperti
rem, kemudi, dan sebagainya
4. Ice : di negara dengan 4 musim ada saat dimana es
mengganggu
5. Snow : salju yang tebal juga sering menimbulkan
kecelakaan
6. Fog ; adanya kabut, asap mengganggu pandangan/
visibility
Substandard condition
7. Patholes ; jalan berlubang yang membahayakan
pengendara motor
8. Tire blowout ; ban meletus yang membahayakan
laju kendaraan
9. Dadly curve ; kelokan jalan yang tajam,
menanjak , bisa membahayakan
10. Animal crossing:; binatang yang melintas jalan
11. Street racing; kebut kebutan di jalan raya
membahayakan pemakai jalan umum
Substandard Acts
1. Distracting driving : Perhatian tidak fokus (misal membaca
HP)
2. Speeding : ngebut. Makin cepat mengemudi makin
lambat reaksi
3. Drunk driving : biasanya setelah acara pesta sampai pagi
4. Reckless driving : mengemudi secara sembrono, zig zag
tanpa memberi signal.
5. Running red lights : menjelang lampu merah tanda
berhenti malah di percepat
6. Running stop signs ; melanggar rambu larangan masuk
7. Teenage drivers : belum cukup umur secara kejiwaan
belum stabil
Substandard Acts
8. Wrong way driving: salah jalan
9. Unsafe lane change : pindah jalur mendadak tanpa
signal.
10. Improper turns ; belok tanpa memberi signal
11. Tail gaiting : jarak terlalu dekat dengan mobil didepan
12. Driving under the influence of drugs : ada pengaruh
obat dalam mengemudi
13. Road rage ; pengemudi emosional yang dengan
mudah marah di jalan
14. Drowsy driving ; kondisi mengantuk
Substandard act vs
Substandard condition
• Lebih banyak substandard act
• Lebih bervariasi substandard act
• Lebih berperan substandard act
• Lebih tidak terduga substandard act
• Lebih menentukan substandard act
 substandard condition situasional
 substandard condition bisa diprediksi
 substandard condition lebih alamiah
Manajemen lalu lintas
• Leading sector: Dinas perhubungan (Propinsi,
Kabupaten/ kota), Kepolisian (Satlantas).
• Perencanaan : tata kota, alur jalan masuk-keluar,
jumlah kendaraan, panjang jalan, kepadatan lalu
lintas, jam sibuk, jumlah rambu dan tempatnya,
black spot, perbaikan jalan,
• Pengawasan: Satlantas, Kamera TV
• Tindakan: tilang, perbaikan jalan dan rambu,
penahanan kendaraan,
Evaluasi
• Jumlah kendaraan
• Jumlah SIM
• Jumlah panjang jalan
• Jumlah kecelakaan
• Jumlah korban
• Jumlah kerugian
• Jumlah penyuluhan
Jumlah kendaraan & jalan raya
• Di Indonesia sudahmencapai 104.211 juta unit
dengan sepeda motor terbanyak (86.253 juta).
• Perbandingan mobil / orang = 1 / 70
• Panjang jalan raya di Indonesia sekitar 512 Km
yang tentunya tidak sebanding dengan
panjang luas daratannya 1,9 juta Km persegi
Traffic Accident Rate
 Perbandingan antar daerah perlu standard
 Contoh:
Inggris : tingkat kecelakaan: 16,0 per 100 juta
Km perjalanan kendaraan di jalan tol (th 2001)
Indonesia: tingkat kecelakaan : 28,43 per 100
juta Km perjalanan kendaraan di jln tol (2001)
Kedua data dapat dibandingkan karena memakai
satuan yang sama dan kondisi yang relatif
sama (misal di jln tol tidak boleh ada sepeda
motor)
Accident investigation method
• Penyidikan kejadian kecelakaan dilakukan agar kejadian
tersebut tidak terulang kembali.
• Analysis kecelakaan bisa dalam bentuk :
1. Causal analysis ; menggambarkan rangkaian kejadian
sehingga terjadinya kecelakaan (theori Heinrich)
2. Expert analysis ; berdasar pengetahuan dan
pengalaman expert kecelakaan... Bisa beda antara
satu dengan yang lain.
3. Organizational analysis; berdasar teori organisasi yang
sistimik, dimana bila perilaku dalam organisasi baik
maka bisa diharapkan kecelakaan tidak terjadi.
Peralatan (tool) untuk investigation
• Petugas penyidik dan yang berwenang mengumpulkan semua fakta
yang ada dengan berbagai peralatan sebagai ganti barang bukti
karena nantinya kondisi yang ada segera akan dibersihkan dari
lokasi.
1. Camera matching ; menggunakan CAD software yang
menghasilkan gambar 3 dimensi model dalam menggambarkan
kejadian kecelakaan
2. Photogrammetry ; menentukan 3 dimensi geometry obyek
kecelakaan aslinya (2 dimensi). Software photomodeller bisa
menghitung kemungkinan lokasi setiap titik dalam 3 dimensi
system coordinate .
3. Photographic Rectification digunakan bila lokasi kejadian masih
ada yang belum dikaji. Cara 2 dimensi rectification dapat
mengubah single fotograph menjadi top down view. Software PC-
RECT dapat melakukan rectifikasi suatu digital photograph
Pencegahan
• Substandard act masih dominan sebagai trigger
kejadian kecelakaan sehingga perlu pendekatan
perubahan perilaku
• Safety riding training sebagai salah satu upaya
pencegahan lebih disosialisasikan
• Investigasi kecelakaan dilakukan dan hasil di
informasikan ke khalayak sebagai bahan pelajaran
masyarakat (lesson learned)
• Kondisi jalan yang perlu diperbaiki dan ditambah
mengingat jumlah kendaraan yang makin banyak
Rekomendasi
• Penyempurnaan manajemen lalu lintas melalui:
1. Pengawasan jalan raya terutama bagi pengguna
jalan yang bertindak substandard act.
2. Proses mendapat SIM juga memasukkan
pendidikan perilaku aman di jalan
3. Intensifikasi safety riding course di semua
komunitas
4. Asuransi kecelakaan melakukan kampanye
pencegahan lebih aktif