Anda di halaman 1dari 22

Pemenuhan Kebutuhan

Jangka Panjang Pada Korban


Bencana

Oleh: Toto
19 November 2019
Pendahuluan
 Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki
kondisi geologis, geografis, hidrologis, demografis,
sosiografis yang menjadikannya potensial, rawan, dan
sering mengalami bencana,
baik bencana alam, bencana non alam, maupun
bencana sosial.
 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun

2007 tentang Penanggulangan Bencana pasal 26 ayat


(2) menyatakan bahwa setiap
orang yang menjadi korban bencana berhak
mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan
dasar.
 Skema penanganan bencana alam
dalam jangka panjang harus disusun
secara jelas dengan melibatkan
pemerintah pusat dan pemerintah
daerah.
 Dengan demikian, jika ada peristiwa

bencana baru, maka penanganan


bencana yang terjadi sebelumnya
tidak dilupakan. Jadi, jangan sampai
penanganan bencana yang terjadi
sebelumnya menjadi terabaikan
Dasar Hukum
 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun
1945; Pasal 5 ayat (2).
 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang

Penanggulangan Bencana.
 Peraturan Kepala BNPB NOMOR 7 Tahun 2008

Tentang Pedoman Tata Cara Pemberian Bantuan


Pemenuhan Kebutuhan Dasar
 Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008

tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan


Bencana perlu menetapkan Peraturan Kepala Badan
Nasional Penanggulangan Bencana tentang Tata
Cara Pemberian Bantuan Pemenuhan Kebutuhan
Dasar;
Pengertian
 Tata cara pemberian bantuan merupakan
mekanisme atau prosedur yang
menghubungkan antara pemberi bantuan dan
penerima bantuan pada suatu situasi
kebencanaan.
Tujuan Pemberian Bantuan
Pemenuhan Kebutuhan
jangka panjang adalah:
1. Meningkatnya mobilisasi sumber daya bantuan
dari pemberi bantuan kepada penerima bantuan.
2. Tersalurkannya pemberian bantuan pemenuhan
kebutuhan jangka panjang kepada korban
bencana secara cepat, tepat, dan dapat
dipertanggungjawabkan.
3. Terselenggaranya proses pemberian bantuan
sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang
ditentukan.
Prinsip

 Cepat dan Tepat.


 Prioritas.
 Koordinasi dan Keterpaduan
 Berdaya Guna dan Berhasil Guna
 Transparansi dan Akuntabilitas.
 Kemitraan.
 Pemberdayaan.
Standar Minimal Bantuan
Tempat Penampungan/Hunian
Sementara
 Berukuran 3 (tiga) meter persegi per orang.
 Memiliki persyaratan keamanan dan

kesehatan.
 Memiliki aksesibititas terhadap fasilitas

umum.
 Menjamin privasi antar jenis kelamin dan

berbagai kelompok usia.


Bantuan Air Bersih dan
Sanitasi
 Diberikan dalam bentuk air yang kualitasnya
memadai untuk kebersihan pribadi maupun
rumah tangga tanpa menyebabkan risiko
yang berarti terhadap kesehatan
Bantuan Sanitasi

 Diberikan dalam bentuk


pelayanan kebersihan dan
kesehatan lingkungan yang
berkaitan dengan saluran air
(drainase), pengelolaan limbah
cair dan limbah padat,
pengendalian vektor, serta
pembuangan tinja.
Pasca Bencana Terbagi
Kedalam Dua Tahap, Yaitu

1. Tahap rehabilitasi dan pemulihan


2. Tahap pemberdayaan dan pengembangan
Rehabilitasi/Pemulihan
korban bencana terbagi
kedalam dua, yaitu,

 Pemulihan Jangka Pendek


 Pemulihan Jangka Panjang.
Pemulihan Jangka Pendek
 Pemulihan jangka pendek ditujukan untuk
pemenuhan kebutuhan dasar seperti
kebutuhan makanan, tempat tinggal
sementara, sanitasi, kesehatan dan
pengobatan, kebutuhan Mandi Cuci Kakus
(MCK) dan kebutuhan religius serta adat.
 Pada pemulihan jangka pendek ini biasanya

korban bencana belum dapat memenuhi


kebutuhan di atas.
Tujuan Pemberian Bantuan Pemenuhan
Kebutuhan Dasar ini adalah:

 Meningkatnya mobilisasi sumber daya bantuan


dari pemberi bantuan kepada penerima bantuan.
 Tersalurkannya pemberian bantuan pemenuhan
kebutuhan dasar kepada korban bencana secara
cepat, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
 Terselenggaranya proses pemberian bantuan
sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang
ditentukan.
Pemulihan Jangka Panjang
 Pemulihan jangka panjang ditujukan untuk
membangun kembali (rekonstruksi) yang 
berkaitan dengan pembangunan yang
berkelanjutan
Pada Umumnya Rekonstruksi
Jangka Panjang Yang Dilakukan :

a. Pemulihan kegiatan perekonomian


b. Pembangunan infrastruktur yang rusak baik jalan, jembatan,
sekolah, pasar, perkantoran,
c. Tempat ibadah, sarana kesehatan
d. Rehabilitasi kejiwaan
e. Rehabilitasi kecacatan
f. Perbaikan aliran listrik dan komunikasi yang permanen
g. Pemulihan produksi pangan, sektor produksi pertanian
lainnya, peternakan dan perikanan
h. Perbaikan kondisi lingkungan hidup
i. Pemulihan pendididikan baik sarana prasarana maupun
sumberdaya manusia
j. Pemulihan unsur rohani, budaya, adat istiadat.
Rehabilitasi :

 Perbaikan lingkungan daerah bencana;


 Perbaikan prasarana dan sarana umum;
 Penyaluran bantuan perbaikan rumah

masyarakat;
 Kegiatan rekreasional;
 Membantu pelayanan kesehatan;
 Pemulihan keamanan dan ketertiban;
 Pemulihan fungsi pelayanan publik.
Tahap Pemberdayaan Dan
Pengembangan
 Tahap ini digunakan selain untuk  perbaikan
fisik,  juga pemulihan sosial dan  ekonomi
guna mengembalikan kehidupan masyarakat
pada kondisi yang lebih baik dari
sebelumnya.
 Tahapan ini merupakan penuntasan dari apa

yang sudah direncanakan dan dimulai dalam


tahap rehabilitasi dan merupakan bagian
tidak terpisahkan dari proses pembangunan
yang biasa dilaksanakan
Arah Pembangunan Jangka
Panjang
 Mewujudkan bangsa yang berdayasaing.
 Pengendalian daya rusak air
 Mengutamakan pendekatan nonkonstruksi
melalui konservasi sumber daya air dan
keterpaduan pengelolaan daerah aliran sungai.
 Peningkatan partisipasi masyarakat dan
kemitraan di antara pemangku kepentingan
terus diupayakan tidak hanya pada saat
bencana, tetapi juga pada tahap pencegahan
serta pemulihan pascabencana.
 Mewujudkan pemerataan pembangunan dan
berkeadilan.
 Pembangunan kesejahteraan sosial juga

dilakukan dengan memberi perhatian yang


lebih besar pada kelompok masyarakat yang
kurang beruntung, termasuk masyarakat
miskin dan masyarakat yang tinggal di
wilayah terpencil, tertinggal, dan wilayah
bencana.
 Mewujudkan Indonesia asri dan lestari.
 Mitigasi bencana alam sesuai dengan kondisi

geologi Indonesia.
 Mewujudkan Indonesia menjadi negara

kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan


berbasiskan kepentingan nasional.
 Mengurangi dampak bencana pesisir dan

pencemaran laut dilakukan melalui:


(a) pengembangan sistem mitigasi bencana,
(b) pengembangan sistem peringatan dini,
(c) pengembangan perencanaan nasional
tanggap darurat tumpahan minyak di laut.
Sekian
Terima Kasih