Anda di halaman 1dari 35

“COMBUSTIO”

OLEH :
ANDIKA NURSARI PUTRI
N 111 17 097

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2020
ANATOMI DAN FISIOLOGI KULIT
Pada mulanya luka
bakar merupakan topik
yang dikelola oleh bedah
plastik, Namun seiring
dengan perkembangan
LUKA BAKAR ilmu, khususnya bidang
Luka Bakar di definisikan traumatologi dan
sebagai kerusakan atau
kehilangan jaringan
penanganan terpadu,
pada tubuh akibat luka bakar disadari
konduksi panas merupakan suatu bentuk
langsung atau radiasi
elektromagnektik. kasus trauma yang
memerlukan
penanganan multi
disipliner dan atau inter
disipliner.
ETIOLOGI LUKA BAKAR

Paparan Scalds (air


Aliran listrik
api panas)

Uap panas Gas panas Radiasi

Zat kimia
(asam atau
basa)
PATOFISIOLOGI LUKA BAKAR
FASE-FASE PADA LUKA BAKAR

Awal/Akut/Syok
Gangguan Sirkulasi berdampak
Cedera Inhalasi Gangguan Mekanisme Napas
pada organ

Subakut/Syok Teratasi
Proses inflamasi disertai eksudasi
Infeksi dan sepsis Penguapan cairan tubuh
dan kebocoran protein

Lanjut
Proses penutupan luka hingga maturasi Masalah pasca cedera
DIAGNOSIS LUKA BAKAR

• Luas luka bakar


1

• Derajat (kedalaman) luka bakar


2

• Lokalisasi
3

• Penyebab
4
DERAJAT LUKA BAKAR

DERAJAT I

DERAJAT II A

DERAJAT II B

DERAJAT III
KLASIFIKASI LUKA BAKAR
BERDASARKAN KEDALAMAN LUKA5
PEMBAGIAN ZONA KERUSAKAN
JARINGAN

Zona Koagulasi,
Zona nekrosis

Zona statis

Zona Hiperemis
LUAS PERMUKAAN LUKA BAKAR

Estimasi luas luka bakar


menggunakan luas
permukaan palmar pasien.

Rumus 9 atau Rule of Nine


untuk orang dewasa.

Metode Lund and Browder


KLASIFIKASI BERAT-RINGAN
LUKA BAKAR

American Burn Assosiation


Trauma
yang
Umur menyertai
Luas luka Kedalaman
Penderita atau
bakar luka bakar
luka bakar bersamaan
dengan
luka bakar
BERAT-RINGAN
LUKA BAKAR
Ringan Sedang Berat (major) dan Kritis

•Luka bakar derajat I •Derajat II dengan luas 15- •Derajat II dengan luas 15-
dengan luas < 15% pada 40% 40%
dewasa •Luka bakar dengan luas •Luka bakar dengan luas
•Luka bakar derajat II 15-25% pada dewasa, 15-25% pada dewasa,
dengan luas < 10% pada dengan luka bakar dengan luka bakar
anak dan usia lanjut derajat III < 10% derajat III < 10%
•Luka bakar derajat III •Luka bakar derajat II •Luka bakar derajat II
dengan luas < 2% pada dengan luas 10-20% dengan luas 10-20%
segala usia (tidak pada anak usia < 10 pada anak usia < 10
mengenai muka, tangan, tahun atau dewasa > 40 tahun atau dewasa > 40
kaki, dan perineum) tahun, dengan luka tahun, dengan luka
bakar derajat III < 10% bakar derajat III < 10%
•Luka bakar dengan •Luka bakar dengan
derajat III < 10% pada derajat III < 10% pada
anak maupun dewasa anak maupun dewasa
yang tidak mengenai yang tidak mengenai
muka, tangan, kaki, dan muka, tangan, kaki, dan
perineum perineum
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah
1
• Urinalisis
2
• Pemeriksaan keseimbangan elektrolit
3
• Analisis gas darah
4
• Radiologi – jika ada indikasi ARDS
5
• Pemeriksaan lain yang dibutuhkan untuk
6 menegakkan diagnosis SIRS dan MODS
INDIKASI RAWAT INAP

•Luka bakar derajat III : luas luka > 2% pada dewasa dan setiap derajat III pada
Luka bakar derajat III > 5% anak-anak

Luka bakar derajat II > 10%.


•Luka bakar derajat II : luas luka > 15% pada dewasa dan >10% pada anak/geriatri

•melibatkan area kritis (wajah, tangan, kaki, genitalia, perineum, kulit di atas sendi
Luka bakar derajat II atau III utama)  risiko signifikan untuk masalah kosmetik dan kecacatan fungsi

Luka bakar sirkumferensial •di thoraks atau ekstremitas

Luka bakar signifikan •akibat bahan kimia, listrik, petir, adanya trauma mayor lainnya, atau adanya
kondisi medik signifikan yang telah ada sebelumnya

Luka bakar disertai dengan •DM, Hipertensi, dll) atau trauma atau cedera inhalasi
penyakit lain
TATA LAKSANA KASUS LUKA BAKAR

Awal Lanjut
• Hentikan proses • Cleaning
kombusio dan Clothing • Chemoprophylaxis
• mencegah kerusakan • Covering
lebih parah (Cooling) • Comforting
• pindahkan penderita
ke ruang terbuka
BERDASARKAN BERAT-RINGAN

Mengatasi rasa Hentikan kontak Perawatan luka


RINGAN

BERAT FASE AKUT

FASE PASCA AKUT


nyeri langsung dengan Keadaan umum,
Penatalaksanaan penyebab luka tanda vital
luka bakar
Diet dan Cairan
keadaan umum
penderita, tanda
vital, dan
kesadaran (ABC)
Perawatan luka
TERAPI 24 JAM PERTAMA

Primer Sekunder
• Airway dan breathing : • Pemasangan NGT dan
Intubasi, Krikotiroidotomi, kateter
oksigen 100%, suction,
Pemberian terapi inhalasi, • Terapi luka
Bilasan bronkoalveolar, • Pemeriksaan darah
Eskarotomi pada dinding
torak yang bertujuan
lengkap dan analisis
untuk memperbaiki gas darah
kompliansi paru • Pemberian antibiotik
• Circulation : Resusitasi dan analgetik
cairan
RESUSITASI CAIRAN

Baxter
Evans-Brooke Luas luka bakar (%)
(Parkland)
x BB (kg) menjadi mL
4cc x kgBB x %luka NaCl per 24 jam
bakar Luas luka bakar (%)
x BB (kg) menjadi mL
plasma per 24 jam

Sebagai pengganti
Cairan yang cairan yang hilang
diberikan biasanya akibat penguapan,
RL karena terjadi diberikan 2000cc
defisit ion Na. glukosa 5% per
24jam.
• Pada hari pertama, Setengah dari jumlah cairan
diberikan dalam 8 jam pertama dan sisanya
diberikan selama 16 jam berikutnya. Pada hari
kedua diberikan setengah jumlah cairan hari
pertama. Pada hari ketiga diberikan setengah
jumlah cairan hari kedua.
OBSERVASI

• Jumlah produksi urin 25 – 50 ml/jam (0,5 – 1 ml/KgBB/jam)


dipantau melalui kateter untuk memonitor produksi urin.
• Bila produksi urin < 0,5 ml/Kg/jam, maka jumlah cairan yang diberikan
ditingkatkan 50% dari jumlah diberikan sebelumnya.
• Bila produksi urin > 1 ml/Kg/jam, maka jumlah cairan yang diberikan
dikurangi 25% dari jumlah yang diberikan pada jam sebelumnya.
• Central Venous Pressure dipertahankan antara (+2 cmH2O).
Pasang CVP pada luka bakar >/=40% dan pada penderita yang
mengalami kesulitan untuk mengukur tekanan darah.
• Pemeriksaan darah perifer lengkap.
• Pemeriksaan AGD bila nafas lebih dari 32x/menit
• Pemeriksaan laboratorium lainnya yang diperlukan seperti
• Bila produksi urin < 1 ml/Kg/jam dan CVP meningkat >5 cmH2O,
berikan furosemid dan dopamine dosis renal (2 µg/kg/menit).
• Bila pada pemeriksaan urinalisis dijumpai pigmen, berikan manitol
per infuse 0,5 mg/kg.
24 JAM HARI KEDUA

• Cairan yang diberikan volumenya ½ dari hari pertama


• Pemberian koloid/plasma ekspander sudah boleh
dilakukan
• Diet sudah mulai 8 jam pasca trauma bila tidak terjadi
ileus, melalui NGT
• Perawatan luka dilakukan sesuai kebutuhan, biasanya
setiap hari
• Hari ke 7 penderita boleh dimandikan
• Posisi penderita diletakkan dalam posisi yang baik agar
tidak terjadi kontraktur maupun problem rekonstruksi
yang lain.
KOMPLIKASI

Fase Fase
Subakut Lanjut

SYOK parut
Infeksi
Hipovolemik hipertropik

Gangguan
Sepsis
keseimbangan

GGA, GRA
KOMPLIKASI LAIN

Oedema Laring
Pneumonia Keracunan CO Hiperglikemik
Nosokomial

Sistemic Inflammatory
Response Syndrome
MOF (Multi Organ
(SIRS), Multi-system Kontraktur
Faiulure)
Organ Dysfunction
Syndrome (MODS)

Trombosis vena dalam perdarahan saluran Disseminated


(Deep Vein cerna dan stres intravascular
Thrombosis/DVT) gastritis coagulation (DIC)
PROGNOSIS
Permasalahan Pasca
Bergantung Pada Luka Bakar
• Derajat Luka Bakar dan Luas Sembuh
Permukaan badan luka bakar • Bila luka bakarnya hanya berupa
• komplikasi dan Penyulit yang timbul tanpa eritema ataupun vesikel yang
tanpa disertai kerusakan jaringan
pada luka bakar antara lain oliguria, cacat/ bawah kulit, biasanya pada luka
anuria hingga gagal ginjal akut, bekas luka bakar derajat1
edema paru, SIRS, ARDS, infeksi dan
sepsis, anemia, serta parut hipertrofik
dan kontraktur
• Daerah yang terkena luka bakar Sembuh • Bila luka bakar tersebut disetai
seperti perineum, ketiak, leher, dan dengan kerusakan seluruh tebal kulit dan
kerusakan pada jaringan bawah
tangan lama sembuh karena sulit cacat/ kulit. Biasanya terjadi pada luka
perawatan dan mudah kontraktur.
• Usia dan kesehatan pendertia
bekas luka bakar derajat 2-3

• Kecepatan pengobatan
medikamentosa, penanganan dini
hingga penyembuhan • Biasanya terjadi pada luka bakar
derajat 3 dengan luas luka lebih
Meninggal dari 50% dan telah mengalami
kegagalan sistem pernafasan
dan sirkulasi.
TRAUMA LISTRIK

Luka bakar listrik berpotensi untuk menjadi


penyebab terjadinya gagal multiorgan dengan
angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi.
Kerusakan pada jantung dan otot dapat
menyebabkan myoglobulinuria. Myoglobin
menyebabkan obsruksi dan vasokontriksi serta
mebyebabkan gagal ginjal. Resusitasi cairan
menggunakan metode parkland dan titrasi
diharapkan dapat merehidrasi, mengembalikan
fungsi ginjal serta mencegah komplikasi pada ginjal
akibat myoglobin pada urin.
NEKROSIS TUBULAR AKUT
(ACUTE TUBULAR NECROSIS/ATN)
salah satu penyebab utama gagal ginjal akut /
cedera ginjal akut (acute kidney injury/AKI) akibat
cedera struktural yang dapat menyebabkan bermacam
komplikasi hingga terapi pengganti ginjal (renal
replacement therapy). disebabkan oleh iskemia (oleh
karena hipotensi berkepanjangan) atau nefrotoksisitas
(oleh karena sesuatu yang toksik terhadap sel tubular).
Berbeda dengan gagal ginjal akut prerenal, gagal ginjal
akut renal oleh karena nekrosis tubular akut tidak akan
membaik seketika dengan pemberian cairan.
Perbedaan lain dengan gagal ginjal akut prerenal
adalah pada nekrosis tubular akut terjadi kerusakan sel
tubular ginjal.
Patofisiologi nekrosis tubular akut
mencakup fase inisiasi (initiation),
pemeliharaan (maintanence), dan
pemulihan (recovery).
Etiologi nekrosis tubular akut dapat
dibagi menjadi iskemik dan nefrotoksik.
PEMBERIAN CAIRAN MENURUT
FORMULA PARKLAND
• Pada 24 jam pertama: separuh jumlah cairan diberikan dalam 8
jampertama, sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada bayi,
anak dan orang tua, kebutuhan cairan adalah 4 ml. Bila dijumpai
cedera inhalasi maka kebutuhan cairan 4 ml ditambah 1% dari
kebutuhan.
• Penggunaan zat vasoaktif (dopamin dan dobutamin) dengan dosis 3
mg/kgBB dengan titrasi atau dilarutkan dalam 500ml Glukosa 5% jumlah
tetesan dibagi rata dalam 24 jam.
• Pemantauan untuk menilai sirkulasi sentral melalui tekanan vena sentral
(minimal 6-12cm H20) sirkulasi perifer (sirkulasi renal). Jumlah produksi urin
melalui kateter, saat resusitasi (0,5- 1ml /kg BB/jam maka jumlah cairan
ditingkatkan 50% dari jam sebelumnya.
• Pemeriksaan fungsi renal (ureum, kreatinin) dan urinalisis (berat jenis dan
sedimen).
• Pemantauan sirkulasi splangnikus dengan menilai kualitas dan kuantitas
cairan lambung melaui pipa nasogastrik. Jika , 200ml tidak ada
gangguan pasase lambung, 200-400ml ada gangguan ringan, >400 ml
gangguan berat. (1,4,7,10)