Anda di halaman 1dari 51

VARIASI ANATOMI

SINONASAL TERHADAP
KEJADIAN RINOSINUSITIS
KRONIS BERDASARKAN
GAMBARAN CT SCAN

REFERAT I
Latar Belakang
Anatomi hidung Rinosinusitis
Rinosinusitis
dan sinus kronis

Radang Rinosinusitis >


Penyebab
mukosa 12 minggu 
tersering
hidung dan kongesti/ sekret
sinus pada hidung,
paranasal nyeri tekan
wajah, (-) fungsi
penghidu

(Munir, 2006; Fokkens W.J, 2012)

2
Latar Belakang

Variasi anatomi hidung dan sinus


paranasal
Transport
Patensi KOM
mukosiliar
Kualitas dan kuantitas
Etiologi sekresi
mukus

(Perkasa et al., 2015)

3
Latar Belakang
Amerika Serikat
12.5% populasi (31 juta)

Yogyakarta
2.5 – 4.6 % pasien di RS
dr Sardjito

Medan
296 dari 783 pasien
(Frinadya N et al., 2019)

4
Variasi anatomi Jyothi A.C et Kumar Makasa Frinadya
al P r N
Deviasi septum 30% 67.2% 67,2% 45%
Konka bulosa 26% 43% 12,6% 22.5%
Sel Haller 8% 20.7% 6,7%
Sel Onodi 5% 14.5%
Pneumatisasi vomer 5%
Konka media paradoks 4%
Sel agger nasi 4% 56% 5.9%
(Jyothi A.C et al., 2013;
Bula etmoid 4% 26,9% Kumar P, 2016; Perkasa
et al., 2015; Frinadya N et
Sel frontal 4.2% al., 2019)

Prosesus unsinatus 21% 45% 5


Latar Belakang
Rontgen ataupun CT Scan sinus
paranasal  potongan koronal
Aspirasi sinus
maksila
Pemeriksaan
Anamnesis Mikrobiologi

Pemeriksaan
Radiologi
Pemeriksaan
Fisik

Rinoskopi anterior,
posterior, dan
nasoendoskopi (Budiman, 2017; Sonone, 2019; Kumar P, 2016)

6
Perumusan Masalah

Diperlukan pemahaman tentang gambaran CT


Scan variasi anatomi sinonasal  referat “Variasi
Anatomi Sinonasal terhadap Kejadian Rinosinusitis
Kronis berdasarkan Gambaran CT Scan”

7
Tujuan Penulisan

Variasi anatomi sinonasal berdasarkan gambaran


CT Scan dan dampak nya terhadap patologi
rinosinusitis kronis

8
Anatomi Hidung
Dinding
Kavum Nasi
Vaskularisasi
Septum nasi
a.etmoid anterior
(medial), konka Inervasi
dan posterior
(lateral), dasar
(superior), a.
rongga hidung n.etmoidalis anterior
maksilaris interna
(inferior), lamina (anterior), n.maksila
(inferior), a.fasialis
kribiformis (bagian rongga lain)
(anterior)
(superior)
(Bailey, 2014;
Ballenger JJ, 1991)

9
Anatomi Hidung

(Cauwenberg, 2004; Boies et al.,1997)

10
Anatomi Hidung

(Boies et al.,1997)

11
Anatomi Sinus Paranasal
3 Bulan 4 Bulan Partus
8 tahun 10 tahun

Invaginasi Sinus maksila Perkembangan Pneumatisasi


mukosa rongga dan sinus sinus frontal sinus sfenoid dari
hidung  sinus etmoid telah dan etmoid bagian
paranasal ada anterior posterosuperior
kecuali sinus rongga hidung
sfenoid dan
frontal
(Soetjipto, 2016; Bailey, 2014; Ballenger JJ, 1991; Naskey D et al.,2009)

12
Anatomi Sinus Paranasal
Sinus Frontal
• Bentuk menyerupai pyramid
• Batas: os frontal (anterior, posterosuperior) sel etmoid (inferior), fossa nasal dan
orbita (superior)

Sinus Maksilaris
• Berbentuk piramida
• Batas: dinding lateral rongga hidung (lateral), os maksila (anterior,
infratemporal), dasar orbita (superior), prosesus alveolaris dan palatum (inferior)
(Soetjipto, 2016; Bailey, 2014; Ballenger JJ, 1991)

13
Anatomi Sinus Paranasal
Sinus Etmoid
• Terdiri atas sel menyerupai sarang tawon
• Sinus etmoid  anterior dan posterior

Sinus Sfenoid
• Batas: fosa serebri media dan kelenjar hipofisa (superior), atap nasofaring
(inferior), sinus kavernosus dan a. Karotis interna (lateral), fosa serebri
posterior di daerah pons (posterior)
(Soetjipto, 2016; Bailey, 2014; Ballenger JJ, 1991)

14
Anatomi Sinus Paranasal

(Soepardi et.,2007; Boies et al.,1997)

15
Anatomi Sinus Paranasal

(Shah, 2008)

16
Anatomi KOM
Ostium
sinus
maksilaris
Prosesus Hiatus
unsinatus semilunaris
Bulla
etmoid
Konka Resesus
media frontal
Sel-sel
Infundibulum
etmoid agger
nasi
(Soetjipto, 2016; Bailey, 2014; Onwuchekwa, 2017)

17
Anatomi KOM
Bagian os etmoid

Superior melekat pada lateral


lamina kribrosa

Bagian posteror ke lateral  melekat


di lamina papirasea

(Soetjipto, 2016; Muslim, 1999 ; Bolger, 2001)

18
Anatomi KOM
Memanjang dari anterosuperior ke
posteroinferior

Melekat pada lamina papirasea,


basis kranii atau konka media

Variasi: deviasi atau pnuematisasi

(Onwuchekwa, 2017; Rajneesh, 2017; Bandyopadhyay, 2015; Zinreich,


2001)
19
Anatomi KOM
Batas inferomedial: infudibulum dan
hiatus semilunaris

Batas lateral: lamina papirasea

Bula etmoid luas  mengganggu


infudibulum dan meatus media

(Onwuchekwa, 2017; Bandyopadhyay, 2015; Zinreich, 2001)

20
Anatomi KOM
Batas medial : prosesus unsinatus dan hiatus semilunaris

Batas lateral : lamina papirasea

Batas anterior : pertemuan prosesus unsinatus dan lamina


papirasea

Batas posterior: permukaan anterior bulla etmoid

Batas superior : bervariasi

(Stammberger dan Kennedy, 1995; Bolger, 2001; Zinriech dan Gotwald, 2001)

21
Anatomi KOM
Lanjutan infundibulum etmoid ke arah
posteroinferior

Terletak di atas prosesus unsinatus dan di


bawah bula etmoid

Memisahkan prosesus unsinatus dari bula


etmoid

Penghubung infundibulum etmoid dengan meatus


medius

(Stammberger dan Kennedy, 1995; Bolger, 2001; Zinreich, 2001)

22
Anatomi KOM
Terletak di dinding medial sinus
maksilaris di tepi bawah dasar orbita

Ke superomedial  infundibulum

Mengalirkan sekret ke dalam


infundibulum

(Stammberger dan Kennedy, 1995; Bolger, 2001; Zinriech dan Gotwald, 2001)

23
Anatomi KOM
Batas anterior: agger nasi

Batas posterior: a. Etmoidalis anterior/perlekatan


bula etmoid dan dasar otak

Batas lateral: lamina papirasea

Batas medial: konka media

(Stammberger dan Kennedy, 1995; Bolger, 2001; Zinreich dan Gotewald 2001)

24
Anatomi KOM
Batas anterior : prosesus frontal os maksila

Batas superior : resesus frontalis

Batas anteroleteral : os nasalis

Batas inferomedial : prosesus unsinatus

Batas inferolateral : os lakrimalis

(Onwuchekwa, 2017; Rajneesh, 2017; Bandyopadhyay, 2015)

25
Anatomi KOM
Endoskopi: Deviasi prosesus
unsinatus ke medial

(Deosthale, 2014)
26
Anatomi KOM

Variasi perlekatan prosesus unsinatus, (A) ke lateral pada lamina papirasea (B) ke
sentral pada basis kranii dan (C) ke medial pada konka media
(Stemmberger dan Kennedy, 1995)

27
Anatomi KOM
CT scan koronal kompleks
osteomeatal dan kavum nasi. (1)
sinus maksilaris, (2) ostium
maksilaris, (3) infundibulum, (4)
bula etmoidal, (5) konka media,
(6) prosesus unsinatus, (7)
konka inferior, (8) hiatus
semilunaris, (9) septum nasi

(Onwuchekwa, 2017)

28
Anatomi KOM

CT Scan koronal yang


menununjukkan pembesaran
bula etmoid bilateral (EB) [U:
uncinate process, MT: middle
turbinate]

(Jyothi A.C et al.,2013)

29
Anatomi KOM

CT Scan potongan axial dan koronal  sel agger nasi [AE-anterior ethmoid, PE-posterior
ethmoid, SPS-Sfenoid sinus, MT middle turbinate, IT-Inferior turbinate,MS maxillary sinus]
(Jyothi A.C et al.,2013)

30
Fisiologi KOM
Struktur dan gerakan Ventilasi dan drainase
silia sinus

Kontak Tumpuka Gangguan


Inflamasi
mukosa dan n sekret
gangguan
gerak silia
(Soetjipto, 2016; Bailey, 2014; Ballenger JJ, 1991)

31
Peran KOM Secara Klinis
Bersihan
KOM
Anti-mikroba
Patensi KOM
mukus
Kesehatan
sinus

(Soetjipto, 2016; Bailey, 2014; Ballenger JJ, 1991)

32
Peran KOM Secara Klinis
Perubahan Perubahan Perubahan
Infeksi
KOM awal sinus lanjut sinus
Edema  Tekanan Infeksi
perlekatan negatif rongga sekunder 
antar organ sinus  sekret purulen
KOM  transudasi   sinusitis
gangguan sinusitis non- akut
gerak silia dan bakterial bakterialis
sumbatan
ostium
(Soetjipto, 2016; Bailey, 2014; Ballenger JJ, 1991)

33
Variasi Anatomi Rinosinusitis
(Deviasi Septum)

Klasifikasi Septum Deviasi menurut Mladina


Tipe 1 Deviasi anterior ringan
Tipe 2 Deviasi vertikal anterior
Tipe 3 Deviasi vertikal posterior
Tipe 4 Deviasi bentuk “S”, satu sisi pada daerah katup sedangkan sisi
lainnya pada daerah konka media
Tipe 5 Taji horizontal
Tipe 6 Tipe 5 dengan saluran yang dalam di sisi kontralateral
Tipe Kombinasi lebih dari satu tipe (Prasad,2013)

7 34
Variasi Anatomi Rinosinusitis
(Deviasi Septum)

Klasifikasi septum deviasi CT Scan koronal  septum


menurut Mladina deviasi ke kanan (Prasad,2013; Jyothi A.C et al.,2013)
35
Variasi Anatomi Rinosinusitis
(Konka Bulosa)

Definisi
• Pneumatisasi lamela vertikal dan bulbus inferior konka media

Patofisiologi
• Ruang tidak terisi  konka bulosa
• Septum deviasi dan konka bulosa terjadi bersamaan dan
ditemukan secara tidak sengaja
(Uygur,2003)

36
Variasi Anatomi Rinosinusitis
(Konka Bulosa)
Menekan prosesus
unsinatus dan
Dampak menghambat
langsung meatus media dan
infundibulum Sumbatan
Konka bulosa KOM
Dampak tidak Tumbuh mengisi
langsung ruang antara
septum dan dinding
lateral hidung
( Dua, 2005; Zinreich, 2001)

37
Variasi Anatomi Rinosinusitis
(Konka Bulosa)

llar
Tipe Lame
Pneumatisasi di lamella vertikal konka media

s
Tipe Bulbu
Pneumatisasi di segmen inferior

ste nsif
Tipe Ek
Pneumatisasi di semua konka media

(Hatipoglu,2005; San,2013)

38
Variasi Anatomi Rinosinusitis
(Konka Bulosa)

Konka bulosa unilateral dengan Konka bulosa bilateral


septum deviasi
(Stallman, 2004)

39
Variasi Anatomi Rinosinusitis
(Konka Media Paradoks)

Konka media paradoks: lekuk Septum deviasi dengan konka


konka media ke arah lateral, ujung paradoks di kavum nasi kiri
ke septum
(Zinreich, 2001;Jyothi AC et al.,2013; Deosthale, 2014)

40
Variasi Anatomi Rinosinusitis
(Sel Haller)

• Pneumatisasi sel etmoid ke atap medial

Definisi sinus maksila dan inferior lamina


papirasea, di bawah bula etmoid dan
lateral prosesus unsinatus

Sumber • Sel etmoid anterior atau posterior

(Zinreich, 2001)

41
Variasi Anatomi Rinosinusitis
(Sel Haller)

CT Scan potongan koronal CT Scan potongan axial  sel


 sel Haller Haller
(Jyothi A.C et al.,2013)

42
Dampak Gangguan KOM
Obstruksi KOM

Lingkungan Rinosinusitis
kronis

Genetik
(Min, 2015; Fokkens, 2012; Hamilos,2013; Nacleiro, 2001;
Bandyopadhyay, 2015; Kristyono, 2016)

43
Dampak Gangguan KOM

( Min, 2015)

44
Dampak Gangguan KOM

(Kristyono, 2016)

45
Diagnosis
(Anamnesis)

Buntu hidung, kongesti atau sesak

Sekret hidung / post nasal drip

Nyeri wajah / tekanan, nyeri kepala dan

Penurunan / hilangnya penciuman


(Kristyono, 2016)

46
Diagnosis
(Pemeriksaan Fisik)

Rinoskopi Anterior
• Tanda-tanda inflamasi di meatus media

Nasoendoskopi
• Sekret purulen di meatus media atau superior, polip kecil,
hipertrofi prosesus unsinatus, konka media bulosa/polipoid/
hipertrofi, konka inferior hipertrofi, post nasal drip dan septum
deviasi
(Kristyono, 2016)

47
Diagnosis
(Pemeriksaan Penunjang)

CT Scan Foto Polos Sinus Paranasal

(+) Dapat menunjukkan (+) Dapat menunjukkan


penebalan mukosa, perubahan penebalan mukosa sinus dan
tulang, air fluid level dan variasi air fluid level
anatomi (-) Anatomi sinus paranasal
(+) Menjadi pemeriksaan standar tidak terlihat
(-) Kurang sensitif

(Fokkens, 2012;Zojaji, 2015)


48
Tatalaksana
Medikamentosa
• Terapi penyebab seperti infeksi, alergi dsb

Bedah
• Bedah sinus endoskopi fungsional  pilihan utama
• Indikasi: tidak membaik dengan medikamentosa, (+)
variasi anatomi, (+) komplikasi intrakranial dan orbita
(Fokkens, 2012; Kristyono, 2016)

49
Komplikasi

Kelainan
Kelainan Orbita Mukokel (Kista)
Intrakranial

Sumbatan saluran
Infeksi sinus paranasal Infeksi meluas  keluar sinus 
 meluas meningitis, abses mukokel di sinus
langsung/melalui subdural, abses otak, maksila, etmoid atau
vena  selulitis/abses trombosis sinus sfenoid  mendesak
orbita kavernosus organ sekitar
.(Fokkens, 2012; Bailey 2014)

50
Kesimpulan
Variasi anatomi (terutama septum deviasi dan
konka bulosa)  faktor predisposisi rinosinusitis
kronis

CT Scan dan nasoendoskopi  meningkatkan


visualisasi anatomi sinus paranasal dan tingkat
akurasi yang lebih tinggi

51