Anda di halaman 1dari 23

Lbm6

Resa fela afiana


1. Mengapa penderita mengalami muntah hebat bingung, gelisah dan keringat dingin,
nyeri ulu hati dan sesak nafas ?

Muntah sebagai respon tubuh terhadap zat


asing
Keringat  ach merangsang pengaktifan saraf
simpatis di post ganglion Mengaktivasi
kelenjar keringat sehingga mengeluarkan
keringat
2. Mengapa dokter memberikan oksigenasi,
memasang infus dan memasang kateter urin ?
1. Oksigenasi krn ada depresi pernapasan
2.Infus : krn muntah hebat --. Kekurangan cairan
3. Kateter: untuk cek urin dan monitor
keberhasilan resusitasi
3. Mengapa didapatkan Kesadaran somnolen, lemah, tampak sakit sedang, tekanan darah : 95/63 mmHg, Denyut nadi : 55x/menit, reguler, frekuensi napas
: 29 x/menit, Temperatur : 39,5oC, kelopak mata cekung (+), Pupil miosis (+)?
4. Apa saja contoh obat opiod selain morfin?
5. Sebutkan gejala lain dari keracunan morfin

Gejala dan tanda klinis serta penyebab keracunan


6. Antidotum apakah yg digunakan untuk menghilangkan efek anti racun ?
7. Bagaimana penilaian ABCDE yg dilakukan oleh
dokter pada scenario di atas dan? Digabung
dibawah
8. Bagaimana zat morfin diekskresi di dalam
tubuh ?
Metabolik polar dari konjugat glukoronil
kemudian diekskresi melalui urin. Selain itu hasil
konjugat dari opioid akan diekskresikan sebagian
kecil melalui empedu melalui sirkulasi entero
hepatik.
9. Bagaimana patofisiologi dari keracunan morfin ?
TAHAPAN KERACUNAN MORFIN

Tahap 1, tahap eksitasi, Berlangsung singkat, bahkan kalau dosisnya tinggi, tanpa ada tahap 1, terdiri
dari :
• Kelihatan tenang dan senang, tetapi tak dapat istirahat.
• Halusinasi.
• Kerja jantung meningkat, wajah kemerahan dan kejang-kejang.
• Dapat menjadi maniak.

Tahap 2, tahap stupor, dapat berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam (gejala ini selalu ada),
terdiri dari :
• Kepala sakit, pusing berat dan kelelahan.
• Merasa ngantuk dan selalu ingin tidur.
• Wajah sianosis, pupil amat mengecil.
• Pulse dan respirasi normal.

Tahap 3, tahap koma, tidak dapat dibangunkan kembali, terdiri dari :


• Tidak ada reaksi nyeri, refleks menghilang, otot-otot relaksasi.
• Proses sekresi.
• Pupil pinpoint, refleks cahaya negative. Pupil melebar kalau ada asfiksisa, dan ini merupakan tanda
akhir.
• Pulse menurun, kadang-kadang ada kejang, akhirnya meninggal.
10. Pemeriksaan penunjang apakah yg dilakukan pada kasus keracunan obat ?
1. Tes laboraorium  laboratorium toksikologi
Pemeriksaan Toksikologi :
1. Urin, cairan empedu dan jaringan tempat suntikan.
2. Darah dan isi lambung, diperiksa bila diperkirakan keracunannya peroral.
3. Nasal swab, kalau diperkirakan melalui cara menghirup.

Metode yang digunakan :


• Dengan Thin Layer Chromatography atau dengan Gas Chromatography (Gas Liquid
Chromatography) Pada metode TLC, terutama pada keracunan peroral: barang bukti dihidroliser
terlebih dahulu sebab dengan pemakaian secara oral, morfin akan dikonjugasikan terlebih dahulu
oleh glukuronida dalam sel mukosa usus dan dalam hati. Kalau tanpa hidrolisa terlebih dahulu,
maka morfin yang terukur hanya berasal dari morfin bebas, yang mana untuk mencari beberapa
morfin yang telah digunakan, hasil pemeriksaan ini kurang pasti.
• Nalorfine Test. Penafsiran hasil test : Kadar morfin dalam urin, bila sama dengan 5 mg%, berarti
korban minum morfin dalam jumlah sangat banyak. Bila kadar morfin dalam urin 5-20 mg%, atau
kadar morfin dalam darah 0,1-0,5 mg%, berarti pemakaiannya lebih besar dosis lethalis.
Permasalahan timbul bila korban memakai morfin bersama dengan heroin atau bersama kodein.
Sebab hasil metabolic kodein, juga ada yang berbentuk morfin, sehingga morfin hasil metabolic
narkotika tadi berasal dari morfinnya sendiri dan dari kodein. Sebagai patokan dapat ditentukan,
kalau hasil metabolit morfinnya tinggi, sedang mensuplai morfin hanya sedikit, dapat dipastikan
korban telah mensuplai juga kodein cukup banyak.
2. Autopsi jika pasien sudah meninggal –> kakdang tidak ada tanda khas , jadi bingung ahli forensiknya ,
kecuali ada kecurigaan meminum obat / racun untuk penyelidikan .
11. Bagaimana Farmakokinetik dari antidotum ?
12. Sebutkan perbedaan putus obat dan overdosis opioid
• Gejala kelebihan dosis :
Pupil mata sangat kecil (pinpoint), pernafasan satu-satu dan
coma (tiga gejala klasik). Bila sangat hebat, dapat terjadi
dilatasi (pelebaran pupil). Sering disertai juga nausea (mual).
Kadang-kadang timbul edema paru (paru-paru basah).
• Gejala–gejala lepas obat :
Agitasi, nyeri otot dan tulang, insomnia, nyeri kepala. Bila
pemakaian sangat banyak (dosis sangat tinggi) dapat terjadi
konvulsi (kejang) dan koma, keluar airmata (lakrimasi), keluar
air dari hidung (rhinorhea), berkeringat banyak, pupil dilatasi,
tekanan darah meninggi, nadi bertambah cepat, hiperpirexia
(suhu tubuh sangat meninggi), gelisah dan cemas, tremor,
kadang-kadang psikosis toksik.
13. Bagaimana farmakodinamik dan farmakokinetik dari opioid ? Sama yang dijelasin sgd kemaren
• Farmakokinetik : nasib obat di dalam tubuh (ADME )
• A: terjadi di usus , bioavaibilitas( presentasi obat yg dimetabolisme ) 20-40%
• Distribusi : dgn protein 30- 40%, byk terdistribusi ke organ perfusi tinggi ( otak, paru, hepar, ginjal )
• M: di hati 90%, tdk 100 % krn ada first pass metabolism
• E : lewat ginjal  urin, morfin akan dikonjugasi M3G polar larut dalam air , M6G bisa nembus BBB, tdk bisa memberi efek apa2 klu diberi sekali,
kalu diberi jumlah banyak. M3G banyak  eksitatorik  KEJANG, M6G memberi efek lbh panjang dari morfin, larut dalam lemak

• Farmakodinamik : nasib tubuh thd obat
• Antagonis : naloxone
• Agonis / mendukung reseptor  opiod ada reseptor ada MU, kappa , dan delta. Opioid di mu analgesic sedasi, menghambat sistem respirasi, dan
modulasi neurotransmitter
• Aksi dalam sel
• Akan berpasangan dgn G protein , dan ion channel gating  menutup aliran kalsium pada saraf presinaps , dan penurunan pengeluaran
neurotransmitter
• Hiperpolarisasi dan mencegah neuron pre sinaps dgn menu

• Timbul gejala di scenario , asetilkolin klu di perifer di pre ganglion simpatis dan parasimpatis ,
• Sinaps Post ganglion : parasimpatis
• Neuromuscular /nmj : asetilkolin meningkat --. Saraf perifer dan sarap pusat melalui kontraksi otak . pd org normal akan berhenti melalui kolin
esterase, krn terlalu byk  tdk dapat dipecah  timbul gejala diatas

• Kerja :
• Ada SSP : korteks, hipokampus, thalamus, hippothalamus, nigristrata, me. Oblongata dan med spinalis  analgesic , euphoria , sedasi, pupil miosis
krn ada stimulasi nukleus edingowestpal nervus 3
• -Depresi : analgesi, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar
• -Stimulasi : parasimpatis , miosis, mual muntah, r. spinal meningkat , konvulsi, sekresi ADH meningkat
• Visceral : plexus myentericus , dan submukusa konstipasi
• Ada 3 mekanisme :
• Morfin menurunkan ambang rangsang nyeri sistem pencernaan
• Dapat mempengaruhi emosi
• Dapat menyebabkan mudah tidur

• Yg menyebaban aditif :
• Reseptor kurang sensitive
• Opioid
14. Bagaimana metabolit morfin ??
15. Bagaimana penatalaksanaan awal &lanjut dari kasus scenario ?
Harus tangahi kegaatan terlebih dahulu , penyeyebabnya di cari setelah kegawatan tertangani .
1. Anamnesis
Mengingat kecepatan diagnosis sangat bervariasi dan
disisi lain bahaya keracunan dapat mengancam nyawa
maka upaya penatalaksanaan kasus keracunan ditujukan
kepada hal seperti berikut:
1). Penatalaksanaan kegawatan.
2). Penilaian klinis.
3). Dekontaminasi racun.
4). Pemberian
antidotum.
5). Terapi suportif.
6). Observasi dan konsultasi.
7). Rehabilitasi.
16. Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi
pada kasus scenario ?

Beri Nilai