Anda di halaman 1dari 15

PANGAN FUNSIONAL

Pangan fungsional
• Pangan fungsional adalah pangan
yang karena kandungan komponen
aktifnya dapat memberikan manfaat
bagi kesehatan, diluar manfaat yang
diberikan oleh zat-zat gizi yang
terkandung di dalammya
Syarat-Syarat Pangan Fungsional
Menurut para ilmuwan Jepang, beberapa persyaratan
yang harus dimiliki oleh suatu produk agar dapat
dikatakan sebagai pangan fungsional adalah:
1. Harus merupakan produk pangan (bukan berbentuk kapsul,
tablet, atau bubuk) yang berasal dari bahan (ingredient)
alami.
2. Dapat dan layak dikonsumsi sebagai bagian dari diet atau
menu sehari – hari.
3. Mempunyai fungsi tertentu pada saat dicerna, serta dapat
memberikan peran dalam proses tubuh tertentu, seperti:
memperkuat mekanisme pertahanan tubuh, mencegah
penyakit tertentu, membantu mengembalikan kondisi tubuh
setelah sakit tertentu, menjaga kondisi fisik dan mental,
serta memperlambat proses penuaan.
Kedelai
Dari segi gizi kedelai utuh mengandung
protein 35 - 38 % bahkan dalam varietas unggul
kandungan protein dapat mencapai 40 - 44 %
(Koswara, 1995). Komposisi zat gizi kedelai
kering dan basah berbeda, untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Tabel 1.
Bila dilihat dari komposisi kacang kacangan secara umum,
maka sekitar 25% dari kalori (energi) yang terdapat dalam
kacang-kacangan adalah protein. Kacang-kacangan biasanya
kekurangan metionin, yaitu salah satu asam amino esensial yang
diperlukan untuk membuat suatu protein lengkap (Winarno,
1993).
Nilai protein kedelai jika difermentasi dan dimasak akan
memiliki mutu yang lebih baik dari jenis kacang-kacangan lain.
Disamping itu, protein kedelai merupakan satu-satunya
leguminosa yang mengandung semua asam amino esensial (yang
jumlahnya 8 buah atau 10 buah bila dimasukkan sistein dan
tirosin) yang sangat diperlukan oleh tubuh.
Peran Kedelai Sebagai Pangan
Fungsional
Kacang kedelai merupakan sumber protein
yang dapat dicerna sangat baik. Meskipun
kandungan vitamin (vitamin A, E, K dan
beberapa jenis vitamin B) dan mineral (K, Fe,
Zn dan P) didalamnya tinggi, kedelai rendah
dalam kandungan asam lemak jenuh, dengan 60
% kandungan asam lemak tidak jenuhnya
terdiri atas asam linoleat dan linolenat, yang
keduanya diketahui membantu kesehatan
jantung.
Kedelai dan Kesehatan
Jantung
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
suplementasi diet dengan protein kedelai akan
menurunkan kolesterol darah. Terapi diet (terapi
melalui pengaturan makanan) untuk menurunkan
kolesterol lebih efektif jika menggunakan protein
kedelai dibandingkan hanya menggunakan makanan
rendah lemak saja karena mengandung isoflavon
yang terdiri atas genistein, daidzein dan glicitein.
Kedelai dan Osteoporosis

– Kedelai rendah kandungan asam amino bersulfur, Asam amino


bersulfur dapat menghambat resorpsi kalsium oleh ginjal,
yang menyebabkan lebih banyak kehilangan kalsium dalam
urine.
– Protein hewani diketahui mempunyai kandungan phosfor dan
phosfat yang tinggi, dan tingginya kandungan phosfor dan
phosfat tersebut menyebabkan kehilangan kalsium dari tubuh.
Oleh karena itu, penggantian protein hewani dengan protein
kedelai dapat mengurangi kehilangan tersebut.
Kedelai dan Manopause
• Isoflavon yang terdapat dalam kedelai, terbukti
dapat meniru peranan dari hormon wanita yaitu
estrogen. Estrogen berikatan dengan reseptor
estrogen sebagai bagian dari aktivitas hormonal,
menyebabkan serangkaian reaksi yang
menguntungkan tubuh. Jika tubuh mengkonsumsi
isoflavon, misalnya dengan mengkonsumsi produk-
produk kedelai, maka akan tejadi pengaruh
pengikatan isoflavon dengan reseptor estrogen yang
menghasilkan efek menguntungkan, sehingga
mengurangi simptom menopause.
Kedelai dan Kanker
• Produk-produk dari kedelai yang digunakan dalam
diet sehari-hari memperlihatkan efek perlindungan
terhadap senyawa pembentukan kanker yang sangat
kuat yaitu M-methyl-N-nitro-N-nitrosoguanidine
(MNNG) yang menginduksi kanker lambung pada
hewan percobaan. Produk-produk kedelai seperti
tahu, isolat protein kedelai, susu kedelai dan miso
juga mampu untuk memblokir pembentukan nitrit
yang diketahui bersifat karsinogen.
Kedelai dan Penyakit Ginjal
Diet dengan kedelai menunjukkan efek positif pada pasien
dengan ketidak seimbangan ginjal yang disebabkan sindrom
nephrotic. Nephrotic syndrome adalah penyakit ginjal akibat
hilangnya protein ke dalam urine dan menyebabkan oedema,
hipertensi dan lemak darah yang tinggi. Protein kedelai juga
memiliki asam amino esensial yang mudah diserap oleh orang
yang memiliki gagal ginjal yang biasanya mempunyai masalah
dengan pencernaannya. Protein kedelai juga dapat membantu
penyerapan kembali kalsium oleh ginjal.
Kedelai dan Diabetes Melitus
Kedelai mempunyai glicaemix index yang rendah dan
membantu menormalkan tingkat glukosa darah. Protein
kedelai tinggi kandungan glisin dan arginin yang dapat
menurunkan insulin dalam darah. Hal ini, pada gilirannya akan
menurunkan sintesis kolesterol dalam hati, mengurangi kadar
kolesterol darah yang tinggi, yang sering ditemui pada
penderita diabetes. Mengganti protein hewani dengan protein
kedelai dapat menjadi cara pencegahan dan pengobatan yang
efektif untuk penyakit ini.
Kesimpulan
Kedelai merupakan salah satu contoh pangan fungsional yang
memenuhi syarat pangan untuk disebut sebagai pangan fungsional.
Kedelai tidak hanya mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan
oleh tubuh tetapi mengandung senyawa lain yang dianggap memiliki
manfaat bagi kesehatan yaitu dalam mencegah penyakit jantung dengan
menurunkan kolesterol, mencegah osteoporosis, mengurangi sindrom
pada masa menopause, dan bermanfaat dalam diet penyakit ginjal dan
diabetes mellitus. Hal tersebut disebabkan salah satunya karena
kandungan isoflavon yang terdapat dalam kedelai.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH