Anda di halaman 1dari 53

DISFUNGSI SEKSUAL

gangguan gairah seksual


gangguan keinginan seksual
gangguan orgasme dan
ganggguan nyeri seksual

Dr. Taufik Ashal, SpKJ


Respon Fisiologis Thd Stimulasi Seksual
1. Fase Desire (Hasrat)
 Motivasi, dorongan & Kepribadian pasien
 Cirinya : fantasi seksual & keinginan melakukan
hub. Seks.
2. Fase Excitement (Perangsangan)
 Subyektif  sexual pleasure, dicetuskan oleh
stimulasi psikologis & fisiologis, disertai
perubahan fisiologis.
 Terjadi : ereksi penis, lubrikasi vagina, nipple
erection.
3. Fase Orgasme
 Puncak kepuasan seks release sexual tension &
kontraksi ritmik otot-otot perineal & organ
reproduksi.
 Pria : ejakulasi, 4-5 gerakan spasme prostat,
vesikula seminalis & uretra.
 Wanita: 3-15 kontraksi 1/3 luar vagina, kontraksi
uterus dr fundus ke cervix.
 Kontraksi involunter spinkter anal eks & int.
 TD ↑ 20-40mmHg, HR ↑ 160x/mnt.
 Lamanya 3-25 dtk, dgn kesadaran berkabut
ringan.
4. Fase Resolusi
 Tubuh relaks, well-being & relaksasi
otot, relaksasi (-) resolusi 2-6 jam;
iritabel.
 Pria: refrakter menit-jam, stimulasi (-).
Wanita: refrakter (-)
Disfungsi Seksual(DSM IV-TR )
1. Sexual desire disorder
2. Sexual arousal disorder
3. Sexual orgasm disorder
4. Sexual pain disorder
5. Sexual dysfunction caused by general
medical condition
6. Substance induced sexual dysfunction
7. Sexual dysfunction not otherwise specified.
Gangguan Gairah Seksual
Dibagi menjadi dua kelas:
1. Gangguan Gairah Seksual Hipoaktif, ditandai
dengan kurang atau tidak adanya fantasi dan gairah
seksual untuk melakukan aktivitas seksual

2. Gangguan Keengganan Seksual. Ditandai dengan


pengalihan atau keengganan kontak genital dengan
pasangan, hingga keengganan masturbasi
epidemiologi
Lebih sering pada wanita
Pikiran spontan tentang sex sangat minimal
Pengalaman tentang sex tak mempengaruhi
Etiologi
Psikodinamik: faktor penyebab bervariasi, tanpa
disadari adanya ketakutan terhadap sex.
Freud: gairah sexual yang rendah sebagai hasil dari
inhibisi fase phalic perkembangan psikilogis manusia
tidak terselesaikannya konflik odipal.
Pria: Adanya ketakutan terhadap kastrasi akibat
kepercayaan bawah sadar bahwa vagina bergigi (Vagina
dentata)
Wanita: akibat stress kronik, ansietas , depressi
Gairah Seksual Hipoaktif (DSM IV-TR)
A. Defisiensi (atau kehilangan) fantasi & hasrat thd
aktivitas seksual yg menetap & berulang. Penilaian
terhadap adanya kondisi ini dgn memperhatikan faktor2
yg berpengaruh thd fungsi seks pasien spt usia &
konteks kehidupan orang tsb.
B. Gangguan ini mengakibatkan hendaya atau kesulitan
hubungan interpersonal.
C. Disfungsi seksual ini tdk disebabkan oleh gangguan Axis
l lain (selain disfungsi seksual lainnya) & tdk disebabkan
oleh efek fisiologi langsung suatu zat atau kondisi medis
umum.
oTanpa sex dalam periode yang lama akan menekan impuls
seksual
oMuncul ekspessi kebencian dari pasangan
oMemperburuk relasi
Gangguan Keinginan Seksual

Gangguan Keinginan seksual pada wanita


 Gangguan ereksi pada laki-laki
 Gangguan keinginan seksual pada wanita:
 ditandai dengan kegagalan yang menetap atau berulang
secara parsial atau komplit untuk memperoleh atau
mempertahankan lubrikasi- respons terhadap rangsangan
seksual sampai berakhirnya aktivitas seksual.

 Gangguan ereksi pada laki-laki:


 ditandai dengan kegagalan yang menetap atau berulang
secara parsial atau komplit untuk memperoleh atau
mempertahankan ereksi sampai selesainya seluruh aktivitas
seksual.
 Diagnosis ini diperhitungkan dalam
 fokus,
 intensitas dari aktivitas seksual pasien
 durasi

jika stimulus tidak adekuat


diagnosis sebaiknya tidak dibuat
 Pada beberapa wanita gangguan keinginan seksual
berhubungan dengan dispareuni atau kurangnya hasrat.
Keinginan seksual wanita:
 perubahan konsentrasi testosteron, estrogen, prolaktin,
tiroksin.
 terapi dengan antihistamin atau antikolinergik  me ↓
lubrikasi vagina
Gangguan Keinginan Seksual (DSM IV-TR)
A. Keengganan yg ekstrim baik menetap maupun berulang &
atau menghindari semua (atau hampir semua) kontak seksual
genital dengan pasangan seksual.
B. Gangguan menyebabkan penderitaan yg jelas atau kesulitan
interpersonal.
C. Disfungsi seksual tdk lebih baik diterangkan oleh gangguan
Aksis l lainnya (kecuali disfungsi seksual lain)
Kriteria diagnosis gangguan ereksi pada
laki-laki menurut DSM IV-TR
A. Ketidakmampuan yang menetap atau berulang untuk
mencapai atau mempertahankan ereksi yang adekuat
sampai selesainya aktivitas seksual.
B. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas dan
kesulitan interpersonal.
C. Disfungsi ereksi tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan
aksis I yang lain (selain disfungsi seksual) dan tidak secara
khusus merupakan efek langsung dari zat (misalnya
penyalahgunaan zat, medikasi) atau kondisi medis umum.
Kriteria diagnosis kegagalan respons
genital menurut ICD 10
A. Kriteria umum disfungsi seksual harus dipenuhi.
Sebagai tambahan, untuk laki-laki:
B. Ereksi yang cukup untuk terjadinya hubungan seksual
gagal terjadi pada saat hubungan seksual dilakukan.
Disfungsi mengambil satu dari bentuk-bentuk di
bawah ini:
1. ereksi penuh yang terjadi selama tahap awal dari bercinta tetapi
menghilang atau menurun pada saat hubungan seksual dilakukan
(sebelum ejakulasi jika hal tersebut terjadi)
2. ereksi terjadi, tapi hanya pada waktu dimana hubungan seksual tidak
diinginkan;
3. ereksi parsial, tidak cukup untuk melakukan hubungan seksual terjadi,
tetapi tidak terjadi ereksi penuh;
4. tidak terjadi pembesaran penis secara sempurna.
Kriteria diagnosis kegagalan respons genital
menurut ICD 10 (lanjutan)
(2) ereksi terjadi, tapi hanya pada
waktu dimana hubungan seksual
tidak diinginkan;
(3) ereksi parsial, tidak cukup untuk
melakukan hubungan seksual
terjadi, tetapi tidak terjadi ereksi penuh;
(4) tidak terjadi pembesaran penis secara
sempurna.
Kriteria diagnosis kegagalan respons genital
menurut ICD 10 (lanjutan)
Sebagai tambahan, untuk wanita:
B. Terdapat kegagalan respons genital, yang dialami sebagai
kegagalan lubrikasi vagina, bersamaan dengan pembengkakan
yang adekuat dari vagina.
Disfungsi mengambil satu dari bentuk-bentuk di bawah ini:
(1) secara umum: lubrikasi gagal pada
semua keadaan yang relevan;
Kriteria diagnosis kegagalan respons genital
menurut ICD 10 (lanjutan)
(2) lubrikasi dapat terjadi di awal, tetapi
gagal untuk menetap untuk waktu
yang cukup lama untuk memungkinkan
masuknya penis;
(3) situasional: lubrikasi hanya pada
beberapa situasi (misalnya dengan satu
pasangan tetapi tidak dengan yang lain,
atau selama masturbasi, atau pada saat
hubungan vagina tidak dipertimbangkan.
Perbedaan Kriteria diagnostik gangguan rangsangan
seksual DSM IV-TR dan ICD 10
ICD X menyebutkan kriteria waktu yaitu 6 bulan.
ICD X menyebutkan lebih dari 1 disfungsi dapat terjadi
bersama-sama.
Gangguan Orgasme wanita
Sinonim  Inhibisi orgasme atau anorgasmia
Definisi :hambatan yang berulang dan menetap terhadap
orgasme wanita, bermanifestasi pada tidak ada/ terlambatnya
orgasme setelah fase perangsangan yang normal dimana dokter
menilai sebagai suatu yang adekuat dalam fokus, intensitas dan
durasi.
Kriteria diagnosis Gangguan Orgasme wanita
menurut DSM IV TR
A. Keterlambatan atau tidak adanya orgasme yang menetap
atau berulang setelah fase perangsangan yang normal.
Wanita mengalami variabilitas yang luas pada tipe atau
intensitas dari stimulasi yang mencetuskan orgasme.
Diagnosis gangguan orgasme pada wanita sebaiknya didasarkan
pada pertimbangan klinisi dimana kapasitas orgasme wanita
lebih rendah dibandingkan dengan yang sesuai untuk usia,
pengalaman seksual, dan stimulasi seksual yang adekuat yang
diterimanya.
B. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas dan
kesulitan interpersonal.

C. Disfungsi orgasme tidak lebih diterangkan oleh


gangguan aksis I yang lain ( selain disfungsi seksual )
dan tidak secara khusus merupakan efek langsung
dari zat ( misalnya penyalahgunaan zat, medikasi )
atau kondisi medis umum.
Gangguan Orgasme pada laki-laki
Sinonim  inhibisi orgasme, retarded ejaculation.
inhibisi orgasme harus dibedakan dari ejakulasi
retrograde  dimana ejakulasi terjadi tetapi cairan
semen memancar kembali ke dalam kandung kemih.
Ejakulasi retrograde dapat muncul setelah operasi
genitourinaria dan juga berhubungan dengan obat
yang mempunyai efek antikolonergik, seperti
fenotiazine, khususnya thioridazine.
Kriteria diagnosis gangguan orgasme laki-laki
menurut DSM IV TR
A. Keterlambatan atau tidak adanya orgasme yang menetap
atau berulang setelah fase perangsangan yang normal
selama aktivitas seksual dimana klinisi, mempertimbangkan
usia seseorang, dengan pertimbangan adekuat pada fokus,
intensitas dan durasi.
B. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas dan
kesulitan interpersonal.
C. Disfungsi orgasme tidak lebih baik diterangkan oleh
gangguan aksis I yang lain ( selain disfungsi seksual )
dan tidak secara khusus merupakan efek langsung dari
zat ( misalnya penyalahgunaan zat, medikasi ) atau
kondisi medis umum.
Kriteria diagnosis
Disfungsi orgasme menurut ICD X
A. Kriteria umum disfungsi seksual harus dipenuhi.

B. Terdapat disfungsi orgasme ( baik tidak ada orgasme


maupun orgasme yang telat ) yang mengambil satu dari
bentuk-bentuk dibawah ini :
1. Orgasme tidak pernah dialami pada situasi apapun.
2. Disfungsi orgasme terjadi setelah periode respons yang
relatif normal :
a) Umum : disfungsi orgasme terjadi pada semua situasi dan
dengan pasangan siapapun.
b) Situasional :
 Untuk wanita :
orgasme terjadi pada situasi-situasi tertentu ( misalnya
pada saat masturbasi atau dengan pasangan-pasangan
tertentu ).
 Untuk laki-laki satu dari yang berikut dapat
diaplikasikan :
i. Orgasme terjadi hanya selama tidur, tidak pernah
terjadi selama keadaan bagus.
ii. Orgasme tidak pernah terjadi dengan adanya
pasangan.
iii. Orgasme terjadi dengan adanya pasangan tetapi
tidak selama hubungan seksual.
Ejakulasi prematur
Pada ejakulasi prematur, seorang laki-laki secara berulang
mencapai orgasme dan ejakulasi sebelum dia menginginkan
untuk melakukannya.
Tidak terdapat kriteria waktu yang pasti untuk mendifinisikan
disfungsi ini.
Kriteria diagnosis ejakulasi prematur
menurut DSM IV_ TR
A. Ejakulasi yang menetap atau
berulang dengan stimulasi minimal
sebelumnya, pada, atau segera
setelah setelah penetrasi dan
sebelum seseorang mengharapkan
terjadi.
Klinisi harus mempertimbangkan
faktor-faktor yang mempengaruhi
durasi fase perangsangan, seperti usia,
pengalaman dari pasangan seksual atau
situasi dan frekuensi aktivitas seksual
baru-baru ini.
B. Gangguan menyebabkan penderitaan
yang jelas dan kesulitan interpersonal.
C. Ejakulasi prematur tidak terjadi secara
khusus karena efek langsung dari zat (
misalnya withdrawal opiat ).
Kriteria Diagnosis Ejakulasi prematur
menurut ICD X
A. Kriteria umum disfungsi seksual harus dipenuhi.
B. Terdapat ketidakmampuan untuk menunda ejakulasi
yang cukup untuk menikmati bercinta, yang dibuktikan
pada semua dibawah ini :
1) Terjadinya ejakulasi sebelum atau segera setelah mulai
hubungan seksual ( jika diperlukan batasan waktu : sebelum
atau selama 15 detik dari mulai hubungan seksual ).
2) Ejakulasi terjadi tanpa ereksi yang cukup untuk
memungkinkan terjadinya hubungan seksual.
C. Masalah bukan merupakan akibat dari abstinensi yang
berkepanjangan dari aktivitas seksual.
Gangguan Nyeri Sexual
1. Dispareunia
 Nyeri genital yang menetap atau rekuren yang terjadi sebelum,
selama atau setelah hubungan seksual, baik pada laki-laki ataupun
perempuan
 Lebih sering pada wanita
 Bisa muncul bersamaan dengan vaginismus
 Adanya riwayat pemerkosaan atau pelecehan sex saat anak
 Nyeri merupakan hasil dari ketegangan dan ansietas oleh aktivitas
sex akibat kontraksi involunter otot vagina, menyebabkan coitus
tidak menyenangkan, dan enggan dilakukan.
 Jarang pada pria, uumnya akibat keluhan organik spt herpes,
prostatitis, penyakit peyroni (penei melengkung akibat plak sklerotik
di penis)
Kriteria Diagnosis menurut DSM IV
Dispareunia
Nyeri genital yang menetap atau rekuren yang
berhubungan dengan hubungan sexual pada laki-laki
ataupun pada perempuan
Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas, serta
kesulitan interpersonal
Gangguan tidak semata mata disebabkan oleh
vaginismus atau tidak adanya lubrikasi , tidak lebih baik
diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya, dan bukan efek
fisiologis langsung dari pengggunaan zat
2. Vaginismus
 Kontraksi/ kekakuan otot pada 1/3 bagian luar vagina yang
terjadi secara involunter yang menghalangi penetrasi penis
saat hubungan seksual
 Dapat terjadi saan pemeriksaan ginekologi menghalangi
spekulum
 Sering pada wanita dengan pendidikan tinggi, sosioekonomi
tinggi
 Berhubungan dengan masa lalu: Trauma seksual,
pemerkosaan, dianiaya pasangan
Kriteria Diagnosis menurut DSM
IV
Vaginismus
1. Spasme yang menetap atau rekuren pada otot di 1/3
bagian luar vagina yang berhubungan dengan
hubungan sexual pada perempuan
2. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas, serta
kesulitan interpersonal
3. Gangguan tidak semata mata disebabkan oleh
vaginismus atau tidak adanya lubrikasi , tidak lebih baik
diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya, dan bukan
efek fisiologis langsung dari pengggunaan zat
F52 Disfungsi seksual bkn disebabkan oleh Ggn
atau peny. organik (ICD X/PPDGJ III)
F52.0 Kurang atau hilangnya aktivitas seksual
F52.1 Tidak menyukai & tdk menikmati seks
.10 Tidak menyukai seks
.11 Tidak menikmati seks
F52.2 Kegagalan dari respon genital
F52.3 Disfungsi orgasme
F52.4 Ejakulasi dini
F52 Disfungsi seksual bkn disebabkan oleh Ggn
atau peny. organik (ICD X/PPDGJ III)
F52.5 Vaginismus nonorganik
F52.6 Dispareunia nonorganik
F52.7 Dorongan seksual yg berlebihan.
F52.8 Disfungsi seksual lainnya, bukan disebabkan oleh
gangguan atau penyakit organik.
F52.9 Disfungsi seksual YTT, bukan disebabkan oleh gangguan
atau penyakit organik.
Kriteria Diagnostik Disfungsi seksual bkn
disebabkan oleh Ggn a/ penyakit organik (ICD X)

G1. Subyek tdk mampu utk berpartisipasi


dlm suatu hubungan seksual
sebagaimana yg diinginkan.
G2. Disfungsi sering terjadi, ttp mungkin
tdk ada pada beberapa keadaan.
G3. Disfungsi telah ada sedikitnya selama
6 bln.
Kriteria Diagnostik Disfungsi seksual bkn
disebabkan oleh Ggn a/ penyakit organik (ICD X)

G4. Disfungsi bkn merupakan bagian dr ggn mental & perilaku lain
dlm ICD X, kondisi fisik (spt kelainan endokrin) atau
obat2an.

Comments
Penilaian setiap btk disfungsi berdasarkan skala
rating yang menilai beratnya seperti halnya
frekuensi masalah. Lebih dari satu tipe disfungsi
dapat tjd bersama.
F52.0 Kurang atau hilangnya nafsu seksual
(PPDGJ III)
Hilangnya nafsu seksual merupakan masalah utama & tdk
merupakan ggn sekunder dr kesulitan seksual lainnya, spt
kegagalan ereksi atau dispareunia. Berkurangnya nafsu seksual
tdk menyingkirkan kenikmatan atau gairah seksual, ttp
menyebabkan berkurangnya aktivitas awal seksual.

Termasuk: frigiditas
Gangguan nafsu seksual hipoaktif
F52.1 Tidak menyukai & tidak menikmati seks
F52.10 Tidak menyukai seks
Bila berhubungan seksual disertai perasaan negatif yg hebat, yg
menimbulkan takut & cemas, shg aktivitas seksual dihindarkan.

F52.11 Tidak menikmati seks


hubungan seksual berjalan normal, begitu pula orgasme dicapai
akan ttp hal tsb tdk mendatangkan kenikmatan. Biasanya lebih
banyak terjadi pd wanita daripada pria.
Termasuk: anhedonia (seksual)
Tatalaksana
Dual sex terapi
Latihan tehnik sex spesifik
 Vaginismus dan dispareunia latihan dilatasi vagina dengan jari/ alat
dilator
 Ejakulasi dini latihan tehnik squize pada penis
 Ganggua orgasme pada wanita latihan masturbasi dengan vibrator
Hipnoterapi
Terapi perilaku
Grup terapi
Farmako terapi
Disfungsi ereksi sildenafil (viagra), pentolamin, alprostadil
Antidepressan, anti ansietas
Terapi hormonal