Anda di halaman 1dari 17

Pemanfaatan Limbah Tulang Ikan Patin

dalam Pembuatan Kerupuk Tinggi


Kalsium

DI SUSUN OLEH :
RINA KURNIANINGTYAS
1813211K042
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Prevalensi Osteoporosis di Indonesia yaitu
sebesar 32,3% pada wanita dan pada pria sebesar
28,8% (Perosi, 2007). Tingginya angka prevalensi
Osteoporosis di Indonesia disebabkan karena
kebiasaan konsumsi sumber kalsium dikalangan
masyarakat Indonesia yang masih rendah.
Depkes RI (2005) menyatakan bahwa asupan
rata-rata kalsium orang Indonesia hanya sebesar 260-
300 mg perhari.Hal ini jauh dari standar angka
kecukupan gizi kalsium yakni 1000-1200 mg perhari
(AKG, 2013).
BAB I
PENDAHULUAN
Lanjutan Latar Belakang
 Kerupuk merupakan makanan yang digemari oleh semua
kalangan usia karena mempunyai rasa yang gurih dan
renyah. Kerupuk dapat dikonsumsi sebagai makanan
selingan maupun sebagai variasi dalam lauk pauk yang
mudah diperoleh disegala tempat.
 Hasil penelitian Tababaka (2004) menyatakan bahwa,
kerupuk dengan subsitusi tepung tulang ikan patin 30%
lebih banyak disukai panelis dan menghasilkan kadar
kalsium sebanyak 5,36% dengan penambahan tepung
tapioka sebanyak 70 gram.
 Berdasarkan latar belakang tersebut, perlu dilakukan
penelitian mengenai “Pemanfaatan Limbah Tulang
Ikan Patin dalam Pembuatan Kerupuk Tinggi
Kalsium”.
BAB I
PENDAHULUAN

B. Rumusan masalah
Bagaimana pemanfaatan limbah tulang ikan patin dalam
pembuatan kerupuk tinggi kalsium?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
 Menganalisis pemanfaatan limbah tulang ikan patin dalam
pembuatan kerupuk tinggi kalsium.
2. Tujuan Khusus
 Mengukur kandungan kalsium kerupuk dengan
penggunaan tepung tulang ikan patin.
 Menganalisis daya terima kerupuk dengan penggunaan
tepung tulang ikan patin.
 Menganalisis pengaruh penggunaan tepung tulang ikan
patin terhadap kadar kalsium kerupuk.
BAB I
PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Masyarakat
 Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai
pemanfaatan limbah tulang ikan patin yang dapat
menambah nilai ekonomi dengan menjadikan tulang ikan
patin menjadi tepung yang memiliki kandungan kalsium
sebagai bahan pengsubsitusi pada pembuatan kerupuk.
2. Bagi Peneliti
 Menambah wawasan dan pengetahuan tentang
pemanfaatan tepung tulang ikan patin sebagai kerupuk
tinggi kalsium.
3. Bagi Peneliti Lanjutan
 Dapat digunakan sebagai referensi apabila mengadakan
penelitian sejenis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dalam tinjauan pustaka penulis menjelaskan


mengenai beberapa materi tentang :
A. Ikan Patin (Pangasius hypopthalmus)
B. Tepung Ikan
C. Kerupuk
D. Kalsium
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
 Desain penelitian ini adalah experiment
dibidang teknologi pangan yaitu dengan melakukan
substitusi bahan dalam pembuatan kerupuk tulang
ikan patin, kemudian dilihat mutu organoleptik,
kadar Ca dan daya terima dari produk tersebut.
 Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak
Lengkap (RAL) dengan satu kontrol, tiga perlakuan
dan 2 kali ulangan.
BAB III
METODE PENELITIAN

 Perbandingan masing-masing perlakuan dapat


dilihat pada tabel berikut :
Kontrol
Bahan B C D
( A)
Tepung Tapioka 100 75 50 25
Tepung tulang ikan patin 0 25 50 75
Bawang putih 2 2 2 2
garam 5 5 5 5
Gula pasir 2 2 2 2
Baking soda 1 1 1 1
BAB III
METODE PENELITIAN

B. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari –
April 2020. Penelitian ini dilakukan dibeberapa
tempat, diantaranya yaitu:
 Pembuatan produk : Rumah peneliti
 Uji Kadar Ca :Laboratorium Makanan
dan Minuman
 Uji Organoleptik : Rumah peneliti
BAB III
METODE PENELITIAN

C. Bahan dan Alat


1. Bahan
Bahan yang digunakan untuk pembuatan
kerupuk tulang ikan untuk 4 perlakuan adalah :
 Tepung tapioca 250 gram
 Tepung tulang ikan patin 150 gram
 Bawang putih 8 gram
 Garam 20 gram
 Gula pasir 8 gram
 Baking soda 4 gram
BAB III
METODE PENELITIAN

C. Bahan dan Alat


2. Alat
Kerupuk ikan dapat diproduksi dengan alat yang
sederhana atau dengan peralatan dengan teknologi
modern. Untuk industri rumah tangga yang memproduksi
kerupuk ikan baik untuk dikonsumsi sendiri ataupun
dijual dengan skala yang masih kecil dapat menggunakan
alat-alat yang sederhana. Adapun alat-alat sederhana yang
digunakan untuk pembuatan kerupuk ikan yaitu: Baskom,
Dandang, Alat penghancur bumbu (cobek), Pisau, Tampah
(Nyiru), Kompor, Loyang, Sendok.
BAB III
METODE PENELITIAN

D. Tahap – Tahap Penelitian

2
1

3
BAB III
METODE PENELITIAN

E. PENGAMATAN
1. Pengamatan Subjektif
Pada penelitian ini pengamatannya dilakukan secara
subjektif dengan menggunakan uji organoleptik
terhadap warna, tekstur, aroma, dan rasa dari produk
kerupuk tulang ikan patin.
BAB III
METODE PENELITIAN
E. PENGAMATAN
1. Pengamatan Subjektif
Pada penelitian ini pengamatannya dilakukan secara subjektif dengan
menggunakan uji organoleptik dan Panelis tidak terlatih terhadap warna,
tekstur, aroma, dan rasa dari produk kerupuk tulang ikan patin.
Pada pengujian organoleptik ini Panelis tidak terlatih yang akan digunakan
menggunakan skala hedonik dengan lima (5) untuk menilai krupuk hasil eksperimen
kriteria kesukaan dan diberi skor sebagai adalah masyarakat yang tinggal di kelurahan
berikut : ujung batu baik mahasiswa/pelajar atau
1) Sangat suka skor 5 masyarakat umum dengan kategori sebagai
2) Suka skor 4 berikut :
3) Netral (Cukup suka) skor 3 a. Pelajar/mahasiswa 14-20 tahun = 25
4) Kurang suka skor 2 orang
5) Tidak suka skor 1 b. Karyawan/wiraswasta berusia 20-29
tahun = 25 orang
c. Ibu-ibu yang berusia 30-59 tahun = 25
orang
d. Bapak-bapak yang berusia 30-59 tahun =
25 orang
BAB III
METODE PENELITIAN

E. PENGAMATAN
2. Penilaian Obyektif
 Penilaian secara obyektif dilakukan dengan uji
laboratorium. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui
kandungan kalsium yang terkandung dalam kerupuk tulang
ikan patin.
BAB III
METODE PENELITIAN

F. ANALISIS DATA
 Data yang diperoleh dalam uji organoleptik dianalisis
berdasarkan tingkat kesukaan untuk aroma, tekstur, warna
dan rasa. Hasil uji mutu hedonic ini disajikan dalam bentuk
table untuk dihitung nilai rata-rata, kemudian dianalisis
menggunakan uji sidk ragam (ANOVA) pada taraf nyata
5%, untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan dari
masing-masaing perlakuan. Jika ada perbedaan
dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test
(DNMRT) pada taraf nyata 5%
 Data daya terima dan kadar Ca disajikan ke dalam bentuk
tabel distribusi frekuensi,kemudian dianalisis secara
deskriptif.