Anda di halaman 1dari 48

Mini Project

Gambaran
Pengetahuan Ibu
tentang Diare pada
Balita di Puskesmas
Muaro Bodi Nagari
IV Nagari Kec.
Muaro Bodi

Oleh :
dr. Wulan Purnama Sari
dr. Mihal Vivqi Pratama
dr. Rezki Mulyadi
- Diare merupakan penyebab kematian utama di dunia, terhitung
5-10 juta kematian/tahun
- Menurut WHO, kejadian diare sekitar 4 milyar kasus dan 2,2
juta diantaranya meninggal dunia, sebagian besar terjadi pada
anak usia kurang dari 5 tahun (balita)
- Di Indonesia, angka kejadian diare akut diperkirakan masih
sekitar 60 juta per tahun dan 1-5% berkembang menjadi diare
kronik
- Data diare Puskesmas Muaro Bodi, kejadian diare pada balita di
wilayah kecamatan IV Nagari selama dua tahun terakhir
mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu Januari-
Oktober tahun 2018 tercatat 50 balita mengalami diare,
sedangkan Januari-Agustus tahun 2019 tercatat 72 orang balita
mengalami diare.
Pengetahuan : hasil tahu seseorang terhadap
objek melalui indera yang dimilikinya
Ibu : orang yang paling dekat dengan anak dan
mempunyai peran penting dalam menjaga dan
memelihara kesehatan anak.
Penelitian Lina Malikhah (2012) : pengetahuan
yang dimilki seseorang khususnya ibu sangat
mempengaruhi sikap ibu dalam mengatasi diare
pada balita
Rumusan Masalah
• Bagaimana gambaran pengetahuan Ibu
tentang diare pada anak usia balita di
Puskesmas Muaro Bodi Kecamatan IV nagari
Kabupaten Sijunjung?
• Bagaimana gambaran pengetahuan Ibu
tentang penanganan pertama diare yang
dapat dilakukan di rumah ?
Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
– Untuk mengetahui gambaran pengetahuan Ibu tentang
diare pada anak usia balita di Puskesmas Muaro Bodi
Kecamatan IV nagari Kabupaten Sijunjung.
2. Tujuan Khusus
– Untuk mengetahui tingkat pengetahuan Ibu tentang diare
pada anak usia balita di Puskesmas Muaro Bodi Kecamatan
IV nagari Kabupaten Sijunjung.
– Untuk menjelaskan mengenai apa itu diare, tanda gejala
diare, penyebab, dampak/komplikasi yang muncul akibat
diare, serta upaya melakukan pertolongan pertama pada
anak balita yang menderita diare.
Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
– Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman bagi
penulis dalam meneliti secara langsung di lapangan.
– Untuk memenuhi salah satu tugas peneliti dalam menjalani program
internsip dokter umum Indonesia
2. Bagi Masyarakat
– Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan
masyarakat (Ibu) mengenai diare dan pertolongan pertama yang dapat
dilakukan.
3. Bagi Tenaga Kesehatan/Institusi
– Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam
membuat kebijakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada masyarakat, khususnya dalam mengatasi masalah
diare. Serta sebagai masukan dalam merencanakan program untuk
upaya pencegahan penyakit diare di masyarakat.
Definisi Diare

Pengeluaran tinja dengan peningkatan


frekuensi, umumnya lebih dari 3 kali sehari atau
dengan estimasi volume tinja 200g/hari atau
10g/kg/hari pada bayi dan anak

Longo L, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J. Chapter 40: Diarrhea and
Constipation. Dalam: Harrison’s Principles of Internal Medicine 18th Ed. Philadelphia: McGraw-Hill
Epidemiologi
 SKRT: Studi Mortalitas
dan Riset Kesehatan
Dasar
 Diare masih
merupakan penyebab
kematian utama di
Indonesia karena
manajement yang
tidak tepat baik di
rumah maupun di
fasilitas kesehatan

Kementerian Kesehatan RI. Situasi Diare di Indonesia. Dalam: Buletin Jenedela Data dan Informasi Kesehatan Triwulan II, 2011.
Batasan
Diare Akut
• < 2 weeks

Diare persisten
• 2-4 weeks

Diare kronik
• > 4 weeks
Longo L, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J. Chapter 40: Diarrhea and
Constipation. Dalam: Harrison’s Principles of Internal Medicine 18th Ed. Philadelphia: McGraw-Hill
Diare Akut

Buang air besar 3 kali sehari dengan


perubahan konsistensi tinja menjadi cair
dengan atau tanpa lendir dan darah yang
berlangsung kurang dari satu minggu

Juffrie M, Soenarto SS, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyari NS. Buku Ajar Gastroenterologi-
Hepatologi Jilid 1 Cetakan Kedua. 2010. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
Diare Persisten dan Diare Kronik

• Diare berlangsung ≥ 14 hari.


• Persistent  biasanya disebabkan oleh infeksi
• Chronic  biasanya penyebabnya bukan infeksi.

Juffrie M, Soenarto SS, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyari NS. Buku Ajar Gastroenterologi-
Hepatologi Jilid 1 Cetakan Kedua. 2010. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
Penyebaran dan Faktor Risiko

Finger
• Bayi yang tidak mendapat ASI
eksklusif
• Air yang kurang bersih
Field Flies • Higienis pribadi yang buruk
• Penyajian makanan yang
kurang higienis
• Penyapihan yang buruk

Fluid
Juffrie M, Soenarto SS, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyari NS. Buku Ajar Gastroenterologi-
Hepatologi Jilid 1 Cetakan Kedua. 2010. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
Etiologi
• Alergi
• Infeksi makanan • Malabsorpsi

• Keracunan • Kelaianan
makanan • Obat-obatan anatomi

Venita, Kadim M. Gastroenterologi Anak: Diare. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV. 2014.
Jakarta: Media Aesculapius.
Infection

Juffrie M, Soenarto SS, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyari


NS. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi Jilid 1 Cetakan
Kedua. 2010. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
Infection

Bhutta ZA. Chapter 340: Acute Gastroenteritis in Children. Dalam: Kliegman, Stanton, St Geme, Schor. Nelson Textbook of
Pediatrics 20th Edition. 2016. Philadelphia: Elsevier
Infection Pathogenesis
• Non-Inflammatory
• Enterotoxin of bactery
• Destruction of villus surface by
• Inflammatory
virus
• Direct invasion by bactery
• Adherence and/or translocation
• Direct sitotoxin production by
of bactery
bactery, so fluid, protein and
cells (erythrocyte and leukocyte)
enters lumen

Bhutta ZA. Chapter 340: Acute Gastroenteritis in Children. Dalam: Kliegman, Stanton, St Geme, Schor. Nelson Textbook of
Pediatrics 20th Edition. 2016. Philadelphia: Elsevier
Diagnosis
• Anamnesis
 Deskripsi diare (fekuensi, onset, warna,
konsistensi, disertai lendir/darah) Pemeriksaan Fisik
 Muntah
 Tanda dehidrasi (haus, rewel, lemas, BAB  Keadaan umum
terakhir)
 Tanda dehirasi
 Asupan cairan
 Tanda ketidakseimbangan asam basa
 Demam
dan elektrolit
 Kejang
 Kebiasaan makan dan minum
 Lingkungan
 Riwayat pengobatan sebelumnya

Venita, Kadim M. Gastroenterologi Anak: Diare. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV. 2014.
Jakarta: Media Aesculapius.
Tanda Dehidrasi
Bhutta ZA. Chapter 340: Acute Gastroenteritis in Children. Dalam: Kliegman, Stanton, St Geme, Schor. Nelson Textbook of
Pediatrics 20th Edition. 2016. Philadelphia: Elsevier
Pemeriksaan Penunjang

• Pemeriksaan tinja  makroskopik dan mikroskopik


• Penanda dehidarasi berat  elektrolit, analisa gas
darah, gula darah.
• Sepsis and UTI  darah lengkap, kultur tinda dan
urin, resistensi antibiotik

Venita, Kadim M. Gastroenterologi Anak: Diare. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV. 2014.
Jakarta: Media Aesculapius.
Tatalaksana

Juffrie M, Soenarto SS, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyari NS. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi Jilid 1 Cetakan Kedua.
2010. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
Tatalaksana
• Oralit
• 1 sachet add 1 L boiled water
(for 24 hour) • antibiotic
• Give them / defecate
• Do not be given excpet there are
 < 2 thn: 50 – 100 ml/ BAB indication ex cholera and
 ≥ 2 thn: 100 – 200 ml/ BAB dysentri.

Juffrie M, Soenarto SS, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyari NS. Buku Ajar Gastroenterologi-
Hepatologi Jilid 1 Cetakan Kedua. 2010. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
Tatalaksana
• ASI and other food
• According the age of children
with same menu. • Zinc
• Prevent to lose the body mass
• Function: growth and cell division,
and replace the missing nutrien. antioxidants, cellular immunity,
tasting, immunity, and appetite
•  10-14 days
• Dosage
 < 6 mo: 10 mg (1/2 tab)/ day
 ≥ 6 mo: 20 mg (1 tab)/ day

Juffrie M, Soenarto SS, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyari NS. Buku Ajar Gastroenterologi- Hepatologi Jilid 1 Cetakan
Kedua. 2010. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
Tatalaksana

• Education
• control  fever, bloody stool, recurrent, ↓ food
intake, very thirsty, frequent diarrhea, or did’nt
improved in 3 days.

Juffrie M, Soenarto SS, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyari NS. Buku Ajar Gastroenterologi- Hepatologi Jilid 1 Cetakan
Kedua. 2010. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
Treatment :
TRO without Dehydration
• Function: prevent
Dehydration
• Household fluids:
 water tiller
• Ammount  10 ml/ kgBB OR  salt- sugar solution
• < 1 yo  vegetable sauce
50 – 100 ml • < 2 y.o  (per 1 – 2 min)
• 1 – 5 yo
• If vomit  stop for 10 min and then start
100 – 200 ml slowly
• 5 – 12 yo
• Do it until the diarrhea stops
200 – 300 ml

Juffrie M, Soenarto SS, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyari NS. Buku Ajar Gastroenterologi- Hepatologi Jilid 1 Cetakan
Kedua. 2010. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
SLIDE 25
Treatment:
TRO mild to moderate Dehydration

• Hospitalized
• Give them oral therapy with oralit
 oralit for first 3 hours
 75 cc/ kgBB
If body mass is unknown
 < 1 yo  300 ml
 1 – 5 y.o  600 ml
 > 5 y.o  1200 ml
 Re-evaluate

Juffrie M, Soenarto SS, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyari NS. Buku Ajar Gastroenterologi- Hepatologi Jilid 1 Cetakan
Kedua. 2010. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
SLIDE 27
Treatment:
TRP severe  Give oralit simultaneously with liquid
per-IV (± 5 ml/ kgBB/ hour) within 3 – 4
Dehydration hours (infant) or 1 – 2 hour (older
children)
 IV Line (RL 100 ml/ kgBB):
 < 1 y.o: 30 cc/ kgBB (3 hours) → 70 cc/
kgBB (5 hours)
 ≥ 1 y.o: 30 cc/ kgBB (1/2 hour) → 70 cc/
kgBB (2 ½ hours)
 Evaluate per-hour
 If not improved  ↑ IV drip
 6 hours (infant) or 3 hours (children)
evaluate  advanced therapy

Juffrie M, Soenarto SS, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyari NS. Buku Ajar Gastroenterologi- Hepatologi Jilid 1 Cetakan
Kedua. 2010. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
BAB III

ANALISIS SITUASI
1. Letak Geografis
• Letak geografi terbentang antara 100 370 400-100 00 580 Bujur
Timur dan 0 340 290-0 440 170 Lintang Selatan. Kecamatan IV
Nagari terdiri dari 5 Nagari dengan 17 jorong.
• Sebelah Utara : Kecamatan Koto VII
• Sebelah Selatan : Kecamatan Payung Sekaki (
Kabupaten Solok )
• Sebelah Timur : Kecamatan Sijunjung
• Sebelah Barat : Kecamatan Kupitan
2. Data demografis
• Jumlah penduduk tahun 2018 tercatat 17319 jiwa
• Penduduk : suku minangkabau, jawab, batak, sunda, dll
Personil/Tenaga Kesehatan
No Pendidikan Jumlah
1 S2 Kesehatan Masyarakat (MPH) 1 orang
Sarana Gedung 2 Dokter Umum 2 orang
3 Dokter Gigi 1 orang
No Nama Sarana Jumlah
4 S1 Kesehatan Masyarakat (SKM) 2 orang
1. Puskesmas Pembantu 3 Buah 5 S1 Keperawatan (S.Kep) 1 orang
(Pustu) 7 D IV Kebidanan (SST) 6 orang
8 D III Kebidanan (Amd.Keb) 11 orang
2. Pos Kesehatan Nagari 6 Buah
(Poskesri) 9 D III Gigi 1 orang
10 D III Perawat 8 orang
3. Puskesmas Keliling 1 Buah 11 D III Analis 1 orang
12 D III Kesling 1 orang
4. Ambulance 1 Buah 13 D III Farmasi 1 orang
14 D III A. RO 1 orang
15 D I Kebidanan 1 orang
5. Posyandu 18 Pos
16 SMAK 1 orang
18 SAA 1 orang
6. Posbindu 16. Pos
19 SLTA/Prakarya Kes 4 orang
20 Paket C 1 orang
Jumlah 45 orang
Keadaan Perilaku Masyarakat Morbiditas

• PHBS tahun 2018  Nilai IKS NO NAMA PENYAKIT JUMLAH


Kecamatan 60%
1 Hypertensi 1975
– KB 50%
– Persalinan di faskes 98% 2 Remathoid Artitis 1599

– Imunisasi dasar lengkap 97% 3 ISPA 1461


– ASI eksklusif 76%
4 Gasrtitis 1404
– Balita DDTK 89%
5 Bronchitis 904
– Penderita TB mendapatkan
pengobatan sesuai standar 100% 6 Comon Cold 761
– Terapi hipertensi teratur 23%
7 Faringitis Acut 652
– Pengobatan gangguan jiwa dan
tidak ditelantarkan 100% 8 Kecelakaan Ruda Paksa 581
– Tidak merokok 32% 9 Penyakit Pulpa Gigi 323
– Keanggotaan JKN 32%
10 Diare 274
– Akses air bersih 95%
– Akses jamban sehat 895 Jumlah 9934
BAB IV

METODELOGI PENELITIAN
• Desain penelitian : Penelitian deskriptif untuk
mencari tahu pengetahuan ibu tentang diare
pada balita
• Lokasi dan waktu penelitian :
– Lokasi penelitian : Ruang pelayanan Puskesmas Muaro
Bodi
– Waktu penelitian : 21 – 28 September 2019
• Subjek penelitian
– Populasi : semua ibu yang memiliki balita yang datang
ke Puskesmas Muaro Bodi selama kurun waktu
tersebut
• Kriteria inklusi dan eksklusi :
– Kriteria inklusi : ibu dengan balita yang pernah
mengalami diare
– Kriteria eksklusi : ibu yang menolak untuk
diwawancarai
• Pengumpulan data : wawancara menggunakan
kuesioner dengan kriteria :
– Baik : persentase 76 – 100 persen / skor 16 s.d 20
– Cukup : persentase 56 – 75 persen / skor 11 s.d 15
– Kurang : persentasi < 56 persen / skor 0 s.d 10
Teknik Pengolahan Data
• Pengolahan data (editing)
• Pengkodean (coding)
• Pemasukan data (entry)
• Pembersihan data (cleaning)
BAB V

HASIL PENELITIAN
Tingkat Pengetahuan Responden
Secara Keseluruhan

Distribusi Frekuensi Responden Yang Memiliki Balita Berdasarkan Tingkat


Pengetahuan Ibu Di Wilayah Kerja Puskesmas Muaro Bodi Tahun 2019

No Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)


1. Baik 14 Orang 35 %
2. Sedang 26 Orang 65 %
3. Kurang 0 0
Total 40 Orang 100
Keterangan : sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang sedang.
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Terhadap Masing-Masing Poin Pertanyaan Kuesioner
No Pernyataan Benar Salah
Poi Frekuensi Persentase 1 Diare adalah pengeluaran tinja yang tidak normal, yang lebih encer dan frekuensi BAB
lebih dari 3 kali sehari
n Kesalahan
2 Diare dapat disebabkan oleh makanan yang tertutup penyajiannya
1 5 orang 12,5 % 3 Diare disebabkan karena kebersihan lingkungan yang tidak sehat, misalnya sumber air
langsung dan sungai
2 17 orang 42,5 % 4 Air sungai dapat digunakan untuk membersihkan alat rumah tangga
5 Penyakit diare banyak ditemukan pada balita yang tidak diberikan ASI eksklusif selama
3 3 orang 7,5 %
6 bulan pertama
4 18 orang 45 % 6 Penderita diare tidak dapat menyebarkan kuman melalui kotoran (BAB)
7 Tanda dan gejala anak mengalami diare adalah cengeng, gelisah dan nafsu makan
5 15 orang 37,5 % menurun
8 Anak yang mengalami diare menandakan anak bertambah pintar dan bertambah
6 10 orang 25 % besar
9 Gangguan gizi akan terjadi pada balita yang menderita diare apabila terjadi perubahan
7 7 orang 17,5 % pola makan
10 Apabila pada anak diare terdapat darah dalam tinja maka disebut disentri
8 3 orang 7,5 %
11 Balita yang menderita diare jika tidak ditangani dengan baik makan tidak akan
9 3 orang 7,5 % mengalami kekurangan cairan (dehidrasi)
12 ASI dapat mencegah diare karena mengandung antibodi yang memberikan
10 3 orang 7,5 % perlindungan terhadap penyakit diare
13 Mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan dapat mencegah diare
11 26 orang 65 %
14 Membersihkan jamban/toilet secara teratur tidak berperan dalam penurunan risiko
12 3 orang 7,5 % penyakit diare
15 Anak yang menderita harus diberikan minum yang lebih banyak dari biasanya dan
13 3 orang 7,5 % diberikan sedikit demi sedkit
16 Apabila anak diare maka makanan seperti makanan yang berserat tidak boleh
14 18 orang 45 % diberikan
17 Anak yang mengalami diare saat dirumah dapat diberikan oralit, air tajin, kuah sayur
15 1 orang 2,5 % dan air matang
18 Cara untuk membuat oralit adalah dengan mencampurkan 1 sendok gula dan ½
16 22 orang 55 % sendok garam
17 2 orang 5% 19 Anak yang menderita diare sebaiknya diberikan vitamin zink selama 10 hari
20 Kondisi anak yang harus segera dibawa ke dokter, jika anak mengalami demam terus
18 36 orang 90 % menerus, tidak mau makan dan minum
BAB VI

PEMBAHASAN
• Kejadian diare  terjadi peningkatan signifikan
dari tahun 2018 ke tahun 2019
• Hasil penelitian  ibu yang memiliki balita sudah
memiliki pengetahuan yang cukup mengenai
diare pada balita
• Sebagian responden masih kurang mengerti
mengenai penanganan awal diare  poin 11 (26
orang), poin 16 (22 orang), dan poin 18 (36
orang)
• Pengetahuan ibu mengenai faktor kebersihan
lingkungan berpengaruh terhadap diare masih
kurang  poin 4 (18 orang) dan poin 14 (18
orang)
• Cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
kesadaran mengenai diare  penyuluhan secara
berkala, motivasi untuk datang ke posyandu
• Meningkatkan pengetahuan ibu dan kader posyandu
tentan tatalaksana awal diare dengan memberikan
pelatihan-pelatihan
• Upaya Puskesmas dalam mendukung program 
penyediaan pojok URO / LROA (pojok pertolongan
pertama pasien diare dehidrasi ringan sedang)
• Pojok URO/LROA  meningkatkan kepercayaan
masyarakat dan petugas khususnya dalam penanganan
oral diare  observasi pasien selama paling sedikit 3
jam
BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN


• Kesimpulan
– Pengetahuan ibu mengenai diare sedang, namun ibu tidak
mengetahui tatalaksana awal pada diare, dan ibu tidak
memahami keterkaitan faktor lingkungan terhadap
kejadian diare
• Saran
– Meningkatkan upaya promosi kesehatan mengenai diare
kepada ibu dan kader
– Perlu adanya instrumen kesehatan lain seperti pamflet
untuk menunjang keefektifan penyampaian edukasi-
informasi
– Mendukung puskesmas untuk mengadakan SOP
URO/LROA dan mengaktifkan kembali pojok URO/LROA
Thank You
Reference
1. World Health Organization. 2009. Diarhorreal Disease.
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/, diakses tanggal 02 Oktober 2019
2. Soebagyo & Santoso. 2012. Buku Ajar Gastroenterologi Hepatologi jilid 1. Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia
3. Depkes RI. 2015. Publikasi Data dan Informasi. http://www.depkes.go.id/. Diakses tanggal 02 Oktober
2019
4. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. 2017. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Barat tahun 2017.
http://www.dinkes.sumbarprov.go.id/. Diakses tanggal 02 Oktober 2019
5. Laporan Bulanan Kasus Diare di Wilayah Puskesmas Muaro Bodi. 2019
6. Kemenkes, RI. 2011. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Situasi Diare di Indonesia, volume 2.
(triwulan II),(hlm, 1-8). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
7. Notoatmodjo, S. 2010. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
8. Malikhah, L. 2012. Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu dalam Pencegahan dan Penanggulangan
secara Dini Kejadian Diare pada Balita di Desa Hegarmanah Jatinangor.pdf (Skripsi), hlm 8-9. Bandung
9. Herwindasari, E. 2013. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Penatalaksanaan Awal Diare pada
Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Perumnas II, (Skripsi), hlm 3-4. Pontianak.
10. Depkes RI. 2011. Buku Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare: Lima Langkah Tuntaskan Diare. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
11. Hegar B. 2014. Bagaimana Menangani Diare pada Anak. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-
anak/bagaimana-menangani-diare-pada-anak/. Diakses pada 03 Oktober 2019.
12. Kemenkes RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Jakarta :Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. hlm 143.
13. Kay MH. 2012. American College of Gastroenterology. patients.gi.org/topics/diarrhea-in-
children/#basics. Diakses tanggal 3 Oktober 2019
14. Kemenkes RI. 2014. Perilaku Mencuci Tangan Pakai Sabun di Indonesia. Jakarta: Kementerian
Kesehatann Republik Indonesia Pusat Data dan Informasi. hlm 1-7
15. Yunus, M. 2015. Hiegine Sanitasi Pangan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat
Penyehatan Lingkungan, Ditjen PP & PL. hlm 1-42
16. Kemenkes RI. 1990. PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang
Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air.
17. Tumwine JK, Thompson J, Katua-Katua M, Mujwajuzi M, Johnstone N, Porras I. 2002. Diarrhoea and
effects of different water sources, sanitation and hygiene behaviour in East Africa. Trop Med Int Health.
7(9):750-6
18. Departemen Kesehatan RI. 2009. Seri Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga: Menggunakan
Jamban Sehat. Jakarta:Departemen Kesahatan Republik Indonesia Pusat Promosi Kesehatan. hlm 1-10
19. WSP-EAP. 2009. Informasi Pilihan Jamban Sehat:Water and Sanitation Program East Asia and The
Pacific. Jakarta: World bank Office. hlm 1-38
20. Adima, TY. 2011. Panduan Sosialisasi Tatalaksana Diare Balita. Jakarta