Anda di halaman 1dari 53

KELOMPOK 4

TINGKAT 2A
LARUTAN BAHAN ALAM
ORTHOSIPHON FOLIA 6%
TUJUAN
Memformulasikan, membuat,
dan mengevaluasi sediaan
bahan alam Orthosiphon
folia dengan kadar 6%.
1.
LATAR
BELAKANG
1

2 3
Larutan merupakan suatu
Bahan alam dapat berupa campuran homogen yang terdiri
komponen tunggal atau Bahan Alam di di
dari dua atau lebih zaT. Zat yang manfaatkan karena efek
murni hasil isolasi maupun jumlahnya kebih sedikit didalam
yang masih berupa farmakologis, efek terapi
larutan disebut zat terlarut, antioksi dan antibakteri
campuran ekstrak, sediaan sedangkat zat yang jumlahnya
kering dari bagian tertentu dan kemampuannya
lebih banyak disebut pelarut sebagai bahan pewarna
atau keseluruhan dari suatu (Hasan, I. 2004).
organisme baik tumbuhan.
4

5 6
Salah satu tanaman yang banyak
Efek farmakologi dari digunakan dan mudah didapat di
Orhosiphon folia di Indonesia adalah Orhosiphon folia
gunakan untuk diabetes atau biasa kita kenal dengan daun Dalam Sediaan bahan
juga digunakan untuk kumis kucing. Dalam Senyawa alam Orthosiphon folia
gangguan kandung kemih flavonoid yang ada dalam ditambahkan zat tambahan
dan asam urat dan Orhosiphon folia, salah satunya yaitu pemanis.
rematik. terdapat sinensetin sebagai marker
yang merupakan turunan flavonoid.
2.
PERHITUNGA
N
DOSIS
Dosis = 2 – 3 gram dalam 150 mL sekali
minum untuk sehari
01 (Pdf for herbal medicine edisi 2, hlm 434)

3 gram
02 Kadar % = 150 mLx 100% = 6 %

Dosis
03 1x
Sehari
= 150 mL
= 150 mL

04
Jadi, dosis yang diberikan adalah
sehari sekali sebanyak 150 mL.
3.
PERMASALAHAN
DAN
PENYELESAIAN
Permasalahan Permasalahan Permasalahan Permasalahan

Zat aktif yang digunakan dalam Orthosiphon folium Orthosiphon folium Sediaan dibuat single dose
Orthosiphon folia yaitu mengandung minyak merupakan bahan alam (sekali minum)
Sinensetin. Sinensetin memiliki atsiri yang memiliki fungsi
kelarutan larut dalam air. ( Akowah, 2004) sebagai antioksidan.
(Farmakope Herbal Indonesia,
hlm 61)

Penyelesaian Penyelesaian Penyelesaian


Penyelesaian
Orthosiphon folia merupakan Sehingga larutan infusa Sehingga sediaan tidak Sehingga tidak
bahan alam yang memiliki zat disaring setelah larutan ditambahkan antioksidan ditambahkan
aktif yaitu Sinensetin sehingga dingin agar minyak atsiri karena bahan aktif sudah pengawet karena
sediaan dibuat infusa dengan air tidak menguap atau memiliki fungsi sebagai sediaan dibuat
sebagai pembawa. menghilang. antioksidan. segar.
Permasalahan Permasalahan Permasalahan Permasalahan

Sinensetin tidak stabil jika Sebelum dibuat Orthosiphon folium simplisa Orthosiphon
terkena cahaya (pdf For sediaan larutan bahan memiliki rasa yang folium sudah memiliki
Herbal Medica, hlm 453) alam orthosiphon agak pahit (Farmakope warna yang khas yaitu
folium terlebih Herbal Indonesia, hlm warna coklat.
dahulu diayak. 61).

Penyelesaian Penyelesaian Penyelesaian Penyelesaian


Sehingga kadar yang Dalam pembuatan digunakan Untuk meningkatkan
Dalam formula
digunakan yaitu botol ayakan dengan mesh no 5-8. Berat akseptabilitas sediaan dalam
tidak ditambahkan
kecil berwarna coklat agar simplisia harus lolos semua pada formula ditambahkan
eksipien berupa
terlindung dari cahaya. mesh no. 5 dan lolos sebagian pemanis yaitu sukrosa dengan
pewarna.
pada mesh no.8, jadi Orthosiphon rentang kadar 2%-20% kadar
folium derajat halusnya yaitu 5-8. yang digunakan yaitu 2%.
.
Permasalahan Permasalahan
Salah satu evaluasi yang digunakan Pada proses pembuatan dapat
yaitu volume terpindahkan (Farmakope terjadi kekurangan volume.
Indonesia edisi V, hlm 1614).

Penyelesaian Penyelesaian

Pada formulasi scale up volume dilebihkan Pada formulasi scale up perhitungan


3% sehinga dapat memenuhi persyaratan dilebihkan 10% untuk estimasi
volume terpindahkan. kekurangan volume.
4.
TINJAUAN
PUSTAKA
PREFORMULASI Sinensetin memiliki pemerian daun berwarna hijau k
ecoklatan, tidak berbau, rasa agak pahit,rapuh, bentu
BAHAN AKTIF k bundar, tangkai daun persegi warna agak ungu. He
lai daun bergerigi. Daun Kumis kucing mengandung
sinensetin
flavonoid sinensetin tidak kurang dari 0,10%.
(Farmakope Herbal Indonesia, hlm 61)
Stabilitas Air
Sinensetin stabil pada pelarut polat se
1 Struktur
pererti air. (Jurnal sonochemical
effect only, hlm 201)
Stabilitas pH 5 2 C20H20O7
Sinensetin stabil pada pH 5 – 7 (Jurnal
Characterization Stability of Flavonoi (Farmakope Herbal Indonesia, hlm 61)
d, hlm 2)
Stabilitas Panas
4 3 Kelarutan dan Inkompa
Melting point 174 - 175oC
(pubchem.ncbi.nlm.gov)
bilitas
Sinensetin dalam larut dalam air.
Stabilitas Cahaya Tidak stabil pada oksidator kuat
Lindungi dari cahaya.
(Herba Medika,hlm 43) (Material Safety Data Sheet).
PREFORMULASI Sukrosa adalah gula yang diperoleh dari gula cane (sa

EKSIPIEN
ccharum officinalum. Sukrosa merupakan kristal tidak
berwarna,sebagai massa kristalatalis blok atau bubuk SUKROSA
(Sakarosa,Sakarum)
kristal putih; tidak berbau dan memiliki rasa yang ma
nis (HOPE Edisi 6, hlm 704).
Inkompabilitas Struktur
Sukrosa dapat terkontaminasi logam \
yang menyebabkan inkompatibilitas,
1
misalnya Asam Askorbat.
Penyimpanan 5 2
C12H22O11
Sukrosa harus disimpan dalam wadah ter
(HOPE Edisi 6, hlm 703 pdf).
tutup baik ditempat yang kering dan seju
k. (HOPE, Edisi 6, hlm 704, pdf).
Stabilitas 4 3 Kelarutan
Stabil pada suhu ruangan. menjadi karamel Kloroform : praktis tidak larut
sukrosa bila dipanaskan diatas 160°C. Lar Air : 1,05 – 0,2 (100°C)
utan encer dapat difermentasi oleh mikroba Etanol : 1:400
dapat menahan pada konsentrasi lebih tingg Etanol (95%) : 1 : 70
i (≥60%) (HOPE Edisi 6, hlm 704). (HOPE Edisi 6, hlm 704)
PREFORMULASI
EKSIPIEN
Rentang kadar dari sukrosa yaitu 2% - 20% .
Kadar yang digunakan 2%.
SUKROSA
(HOPE Edisi 6, hlm 703 pdf).

6 Titik Lebur
160–186ºC (dengan dekomposisi).
(HOPE Edisi 6, hlm 704 pdf).
DASAR TEORI
Bahan alam oleh alam yang telah dipelajari d
an dibuktikan baik secara empiris maupun se
cara tradisional melalui pengalaman penggun
aan turun temurun memiliki khasiat untuk kes
ehatan baik dalam bentuk sediaan kering atau
ekstrak (Nugroho,2017).

Cara menyerkai untuk bahan mengan


1 Infusa adalah sediaan cair yang dibuat
dung minyak atsiri diserkai pada saat dengan mengekstraksi simplisia nabati
dingin dan yang terakhir penambahan 5 2 dengan air pada suhu 90°C selama
zat zat lain. 15 menit.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam


Hal – hal lain yang harus diperhartikan 4 3 pembuatan sediaan infusa yaitu :
yaitu derajat halus, jumlah air yang Jumlah simplisia, kecuali dinyatakan lain,
digunakan Umumnya untuk membuat infus yang mengandung bahan tidak berk
sediaan infus diperlukan penambahan hasiat dibuat dengan menggunakan 10% s
air sebanyak 2 kali bobot simplisia. implisia.(Syamsuni, 2006)
5.
SPESIFIKASI
SEDIAAN
Bentuk Sediaan : Infusa bahan alam Orthosiphon
Folia 6%
01
02 Warna : Coklat
Viskositas Sediaan : 40 – 50 cP
08

03 Rasa : Manis

Volume Sediaan : 150 mL 07

04
pH sediaan : 5-7
06
Kadar Sediaan : Tidak kurang
05
dari 0,10%
pH target : 6,3
6.
PENDEKATAN
FORMULA
Kegunaan & Rentang
Nama Zat Jumlah (%)
Kadar

Orthosiphon
0,1% (w/v) Zat Aktif
folia
Sukrosa 2% (w/v) Pemanis (2% - 20%)
ad 100% (97,9%)
Aquadest Pelarut
(v/v)
7.
PERHITUNGAN
DAN
PENIMBANGAN
OPTIMASI
Penimbangan optim
asi

No Nama Bahan Jumlah yang Ditimbang

1 Orthosipon folium 0,15 gram

2 Sukrosa 3 gram
3 Aquadest ad 150 ±146,85 mL
mL
Perhitungan optimasi

Dibuat 1 botol @150 mL :


0,1 gram
1.Orthosipon folium = × 150 mL = 0,15 gram
100 mL
2 gram
2. Sukrosa = × 150 mL = 3 gram
100 mL
3. Aquadest ad 150 mL= ±150 – (0,15 +3 )
= ±146,85 mL
Perhitungan kelarutan optimasi

1.Orthosipon folium = Larut dalam air


= 30 x 0,15 = 5 mL ~ 50 mL
2. Sukrosa = Larut dalam 0,5 bagian air
= 3 x 0,5 = 1,5 mL ~ 5 mL
8.
PERHITUNGAN
DAN
PENIMBANGAN
SKALA
BESAR
Penimbangan Skala Be
sar

No Nama Bahan Jumlah yang Ditimbang

1 Orthosipon folium 0,5000 gram

2 Sukrosa 10 gram
3 Aquadest ad 150 ±489,5 mL
mL
Perhitungan skala besar

Volume sediaan setiap botol : 150 mL + (3% x 150 mL) = 154,5 mL


Jumlah sediaan yang akan dibuat : 3 botol x 154,5 mL = 463,5 mL
: 463,5 mL+(10%x463,5 mL) = 509,85 mL
≈ 500 ml
0,1 gram
1.Orthosipon folium = × 500 mL = 0,50 gram
100 mL
2 gram
2. Sukrosa = × 500 mL = 10 gram
100 mL
3. Aquadest ad 150 mL= ±500 – (0,5 +10 )
= ±489,50 mL
Perhitungan kelarutan skala besar

1.Orthosipon folium = Larut dalam air


= 30 x 0,5 = 15 mL ~ 300 mL
2. Sukrosa = Larut dalam 0,5 bagian air
= 10 x 0,5 = 5 mL ~ 15 mL
9.
PROSEDUR
PEMBUATAN
Pembuatan Aquadest Bebas CO2
Pembuatan sediaan (Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 147)
Larutan bahan alam
Orthosiphon folium 01

04 02
Add your text here.
Creative Venus is all about
creativity

PENIMBANGAN
03 Kalibrasi botol 150 mL,
beaker glass optimasi
OPTIMASI DAN SKALA 150 mL dan skala besar
BESAR 500 mL.
PEMBUATAN SEDIAAN
• Dimasukkan air • Orthosiphon
keran ke dalam panci folium yang
bawah, sehingga telah dirajang
setengah bagian dimasukkan ke
panci atas terendam. dalam panci
atas.

1 2

4 3
• Setelah 90ᵒC, ditunggu • Dimasukkan 300 mL
selama 15 menit, ditunggu aquadest ke dalam
hingga dingin untuk diserkai, panci atas, dipanaskan
lalu ampas Orthosiphon folium sampai 90ᵒC.
dibilas pada beaker glass.
PEMBUATAN SEDIAAN
• Diukur infusa • Dilarutkan
Orthosiphon folium sukrosa
sebanyak 300 mL sebanyak 10
dimasukkan kedalam gram dengan
beaker glass utama. . 15 mL aquadest

1 2

4 3
• Dimasukkan sediaan • Dimasukkan aquadest
ke dalam 3 botol lalu ad 500 mL
dilakukan evaluasi
PROSEDUR Terdapat beberapa hal yang tidak dilakukan oleh
praktikan diantaranya praktikan tidak membuat a
YANG TIDAK quadest bebas CO2 dibuat agar pada saat aquade
st bereaksi dengan udara tidak menyebabkan pen
DILAKUKAN ingkatan keasaman dari aquadest.

2 Seharusnya sebelum Orthosiphon folium


ditimbang, Orthosiphon folium dirajang d
an diayak terlebih dahulu menggunakan
mesh nomor 5-8, namun pada pelaksanaa
n tidak dilakukan pengayakan karena aya
kan tersebut tidak tersedia.
10.
EVALUASI
SEDIAAN
Jumlah
No Jenis evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil Syarat
sampel
1. Dengan metode visual: Warna : Coklat Warna : Coklat
 Warna dilihat dengan indra Bau : khas kumis kucing Bau : khas
Organoleptik test
penglihatan Rasa : manis Rasa : manis
(Farmakope
 Bau dicium dengan indera 1 botol
Indonesia Edisi V,
penciuman (Memenuhi syarat)
hlm 1521)
 Rasa dirasa dengan indra perasa
[Fisika]
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm
1521)
2. Dengan menggunakan pH meter (Tidak dilakukan) Rentang pH sediaan
pH sediaan (potensiometer) yang sesuai dan yang adalah 5 – 7..
(Farmakope mampu mengukur harga pH sampai
Indonesia Edisi V, 0,02 untuk pH dilakukan pada suhu 1 botol
hlm 1563) 25𝑜 C.
[Kimia] (Farmakope Indonesia Edisi V, hlm
1563)
3. Didasarkan pada perbandingan bobot (Tidak dilakukan) BJ yang digunakan
zat diudara pada suhu yang telah melebihi atau sama
ditetapkan terhadap bobot air dengan dengan BJ air yaitu 1
Bobot jenis
volume dan suhu yang sama. Hasil gram/mL
(Farmakope
yang diperoleh dengan bobot air,
Indonesia Edisi
dalam piknometer kecuali dinyatakan 1 botol
V,hlm 1553)
lain dalam monografi ditetapkan pada
[Fisika]
suhu 25𝑜 C.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm
1553)
4. Viskometer Ostwald U-Tube: isi tabung Viskositas sediaan yang Very High = 40 – 50 cP
dengan sejumlah cairan pada suhu 20oC ± didapat yaitu 0,7 dPas = 70
0,1ᵒC. Atur meniscus cairan dalam tabung cP
Viskositas kapiler hingga tanda/garis graduasi teratas 1 dPas = 10 cP
(Farmakope dengan bantuan pengisapan. Buka kedua Menggunakan spindel no.3
Indonesia tabung pengisi dan kapiler agar cairan ( tidak memenuhi syarat)
Edisi V,hlm mengalir bebas melawan tekanan atmosfer.
1562) Catat waktu dalam detik yang diperlukan 1 botol
[Fisika] cairan untuk mengalir dari batas atas pipa
hingga batas bawah pipa kapiler
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1562)

5. 1. Keluarkan isi dari wadah ke wadah yang Volume yang Volume yang didapat
Volume sesuai yang telah ditara didapatkan setelah setelah didiamkan selama 5
terpindahkan 2. Tentukan volume yang tertera pada gelas didiamkan selama 5 menit harus pada rentang
(Farmakope ukur yang telah didiamkan selama 5 menit 1 botol menit yaitu 149 mL. 95% - 100% dimana 95%
Indonesia Edisi unutk dosis tunggal. yaitu 142,5 mL hingga
V, hlm 1614) (Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1614) (Memenuhi syarat) 100% yaitu 150 mL.

6. Membandingkan larutan uji dengan larutan Kejernihan larutan sediaan Larutan dianggap jernih apabila
Kejernihan suspense yang dibuat segar, setinggi 40mm. sebanyak 10 mL tidak sama sama dengan air atau larutan
larutan bandingkan kedua larutan di bawah cahaya yang dengan kejernihan Aquadest yang digunakan dalam
(Farmakope terdifusi 5 menit setelah pembuatan suspensi sebanyak 10 mL. Larutan pengkajian dengan kondisi yang
Indonesia Edisi dengan tegak lurus kearah bawah tabung dengan 1 botol sediaan lebih keruh dipersyaratkan.
V, hlm 521) latar belakang berwarna hitam. dibandingkan dengan
[Fisika] (Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1521) Aquadest.
(Tidak memenuhi syarat)
7. Pengujian dilakukan dengan metode penyaringan 1 botol Tidak dilakukan Sediaan tidak ditumbuhi
Biologi jumlah membrane atau dengan metode angka lempeng mikroba
cemaran mikroba total yang sesuai pemilihan metode pengujian
(Farmakope Indonesia tergantung pada beberapa faktor, antara lain jenis
Edisi V, hlm 1343) produk yang diuji dengan memperkirakan
[Biologi] kesesuaian yang spesifik.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1343)
8. Pengujian dilakukan dalam tiap 5 ml wadah asli, 5 1 botol Tidak dilakukan. Tidak ada aktivitas
wadah bertutup steril. Inokulasi tiap dengan satu mikroba dalam sediaan.
Uji efektivitas pengawet inokula baku yang telah disiapkan. Tambahkan kadar
(Farmakope Indonesia mikroba uji pada sediaan. Inokulasi wadah pada suhu
Edisi V,hlm 1356) 22,5oC ± 2,5oC. Ambil sampel dari setiap wadah.
[Biologi] Tetapkan dengan metode angka lempeng total.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1356)

9. Larutan uji disimpan pada suhu ruang, dianalisis sesuai 1 botol Tidak dilakukan. Rentang yang dapat
Uji stabilitas dengan pericale yang telah ditentukan dengan respon diterima untuk stabilitas
(Farmakope Indonesia larutan uji sebagai pembanding. Rentang yang didapat larutan uji antara 98%-
Edisi V, hlm 1660) diterima apabila stabilitas larutan uji antara 98% dan 102%.
[Kimia] 102% dibandingkan dengan analisis awal larutan uji.
(Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 1660)

10. Identifikasi dan Dilakukan penetapan kadar dengan kromatografi cair 1 botol Tidak dilakukam. Kadar pada sediaan tidak
penetapan kadar kinerja tinggi. kurang dari 98% dan tidak
(Farmakope Indonesia (Farmakope Indonesia Edisi V, hlm 295) lebih dari 102%
Edisi V, halama 295)
[Kimia]
Setelah itu dilakukan evaluasi sediaan.
seharusnya dilakukan pengecekan pH menggun
aka pH meter, namun pada pelaksanaan tidak d
ilakukan karena ditakutkan warna dari sediaan
akan menempel pada pH meter. Sehingga pH d
ianggap telah mencapai pH target yaitu 6,3.
Uji kejernihan larutan dilakukan dengan
membandingkan sediaan larutan bahan alam
Orthosiphon folium dengan air dibawah
cahaya. Hasil yang didapat tidak memenuhi
1 Uji organoleptik menggunakan pengindera
an mengenai warna, bau, dan rasa. Hasilny
syarat karena kejernihan larutan bahan alam a yaitu sediaan larutan bahan alam Orthosi
Orthosiphon folium tidak sama
dengan kejernihan aquadest karena lebih 5 2 phon folium memiliki warna coklat, bau kh
as kumis kucing, dan rasa manis.
keruh dari air.

Uji volume terpindahkan dilakukan dengan


cara sediaan dalam wadah dituangkan ke
dalam gelas ukur lalu didiamkan selama 5 4 3 Uji viskositas sediaan menggunakan
viskometer stormer dan spindel yang digu
menit. Syarat yang ditetapkan adalah volume nakan adalah spindel nomor 3.
terpindahkan adalah 95% - 100% Hasil yang Hasilnya yang didapat adalah 70 cP,
didapatkan adalah rata-rata volume hal ini tidak memenuhi syarat karena pada
terpindahkan sebanyak 149 mL, hal ini sediaan tidak ditambahkan zat pengental.
memenuhi syarat.
12.
KEMASAN
ETIKET
BROSUR
ETIKET
KEMASAN
BROSUR
13.
KESIMPULAN
Formulasi yang tepat untuk sediaan yang dibuat adalah
sebagai berikut :

Kegunaan & Rentang


Nama Zat Jumlah (%)
Kadar
Orthosiphon
0,1% (w/v) Zat Aktif
Folia

Sukrosa 2% (w/v) Pemanis (2% - 20%)

Aquadest Ad 100% (v/v) Pelarut


Kesimpulan Evaluasi

Setelah dilakukan evaluasi sediaan dapat dikatakan bahwa sediaan larutan


bahan alam Orthosiphon folia memenuhi syarat hasil evaluasi yaitu
memiliki warna coklat, rasa yang manis, dan bau khas kumis kucing. Uji
volume terpindahkan memenuhi syarat, hal ini dapat dikatakan sesuai
syarat karena uji volume terpindahkan yang didapat masih berada pada
rentang 95%-100%. Uji viskositas memenuhi syarat, hal ini dapat
dikatakan sesuai syarat karena hasil yang diperoleh berada pada rentang 0
– 20 cP. Uji kejernihan larutan tidak memenuhi syarat, hal ini dapat
dikatakan tidak sesuai syarat karena ketika dibandingkan dengan air
kejernihannya tidak sama yaitu lebih keruh.
14.
DAFTAR
PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Depkes RI.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta: Depkes RI.
Eliyanoor, Benbasyar. 2012. Penuntun Praktikum Farmakologi. Jakarta: Bina Ilmu Mandiri.
Guenwald, Joerg. 2000. Pdr For Herba Medicine. Motvale: Medical Economics Company.
Hasan, I. 2004. Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Jakarta: Bumi Aksara.
Himani, dkk, 2013. mishai Kuching: a glimpse of maestro. Int J Phar Sci. 22 (2): 55-59.

Kementrian Kesehatan RI Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia edisi V, Jakarta: Dapartemen Kesehatan.
Nugroho, Agung. 2017. Buku Ajar Teknologi Bahan Alam. Banjarmasin : Lambung Mangkurat Univerity Press.

Rowe, Raymond dkk.2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients. Sixth Editior.


Srivastana, Janmejai. 2009. “Extraction, Characterization, Stability, and Biological Activity Of Flavonoids Isolated
From Chamomile Flowers”. In Mol Cell Pharmacol available in PMC 2010 Jan 21.
Suryo, Joko. Rahasia Herbal Penyembuhan Diabetes. Yogyakarta : Penerbit B First 2010.
15.
LAMPIRAN
Orthosiphon
Evaluasi Volume Evaluasi folia yang telah
Uji Penyerkaian
Kejernihan Simplisia
Terpindahkan dirajang dan
direbus
Viskositas
Thanks!
Ada
pertany
aan?.