Anda di halaman 1dari 48

KEMENTERIAN

PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI

PENGUATAN AKUNTABILITAS KINERJA


PEMERINTAH DAERAH MELALUI PENYUSUNAN
DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN

Drs. Agus Uji Hantara, Ak.ME


Kerangka
Pelaksanaan Reformasi Birokrasi
Prinsip Pelaksanaan:

From:
Outcomes Oriented , Terukur, Efisien,Efektif,
Realistik, Konsisten, To:
Bad Governance Sinergi,Inovatif,Kepatuhan,Dimonitor
Good Governance

Pemerintah belum Pemerintah yang bersih,


bersih, kurang akuntabel, dan
akuntabel dan berkinerja tinggi
berkinerja rendah
Pemerintah belum Pemerintah yang efektif
efektif dan efisien dan efisien

Pelayanan publik yang


baik dan berkualitas
Pelayanan publik masih
buruk

• Evaluasi RB
• Evaluasi AKIP
TAHAPAN PELAKSANAAN REFORMASI
BIROKRASI

DYNAMIC GOVERNANCE

PERFORMANCE
BASED BUREAUCRACY

RULE BASED
BUREAUCRACY

• efektif, efisien dan ekonomis


Grand Design
• difokuskan pada upaya untuk
Reformasi Birokrasi
mewujudkan outcomes (hasil)
Nasional
• menerapkan manajemen kinerja yang
2010 - 2025
didukung dengan penerapan sistem
berbasis elektronik
• Setiap individu pegawai memiliki
kontribusi yang jelas terhadap kinerja
organisasi
4 Capaian Keberhasilan Pelaksanaan Reformasi
Birokrasi
Sasaran dan Indikator Keberhasilan Capaian
Satuan Target 2019 Realisasi 2016
Reformasi Birokrasi (terhadap Target 2019)
Birokrasi yang bersih dan akuntabel
1. Opini WTP atas Laporan Keuangan
a. K/L % 95% 65% 68%
b. Provinsi % 85% 85% 100%
c. Kabupaten/Kota % 65% 57% 88%
2. Tingkat Kapabilitas APIP (level 3)
a. K/L % 85% 9,09% 11%
b. Provinsi % 85% 8,82% 10%
c. Kabupaten / Kota % 85% 2,36% 3%
3. Tingkat Kematangan Implementasi SPIP (level 3)
a. K/L % 85% 3,41% 4%
b. Provinsi % 85% 8,82% 10%
c. Kabupaten / Kota % 85% 3,15% 4%
4. Instansi Pemerintah yang akuntabel (Skor B atas SAKIP)
a. K/L % 85% 84,15% 99%
b. Provinsi % 75% 67,65% 90%
c. Kabupaten / Kota % 50% 14,74% 29%
5. Penggunaan e-Procurement terhadap belanja pengadaan
Penggunaan e-Procurement
terhadap belanja pengadaan % 80% 34% 42%
Capaian Keberhasilan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi
BIROKRASI YANG EFEKTIF DAN EFISIEN
1. Indeks Reformasi Birokrasi Rata-rata Nasional

a. K/L Skor 1-100 75 69,58 93 %


b. Provinsi Skor 1-100 60 56,69 94%
c. Kabupaten / Kota Skor 1-100 45 55,94 124%
2. Indeks Profesonalitas ASN
Indeks Profesonalitas ASN Skor 1-100 86 N/A NA
3. Indeks E-Government Nasional

a. K/L Skor 0-4 3.4 N/A NA


b. Provinsi Skor 0-4 3.4 N/A NA
c. Kabupaten / Kota Skor 0-4 3.4 N/A NA
BIROKRASI YANG MEMILIKI PELAYANAN PUBLIK YANG BERKUALITAS
1. Indeks Integritas Aparatur
a. K/L Skor 0-10 9 6,24 69,33%
b. Prov/Kab/Kota 4,73 52,56%
2. Persentase Kepatuhan Pelaksanaan UU Pelayanan Publik (Zona Hijau)
a. Kementerian / Lembaga
44% (Kementerian) 44% (Kementerian)
% 100%
66,67% (Lembaga) 66,67% (Lembaga)
b. Pemerintah Provinsi % 100% 39.39% 39.39%
c. Pemerintah Kabupaten / Kota % 80% 18.00% 22.500%

5
ARAHAN PRESIDEN TERKAIT MASALAH EFISIENSI
BIROKRASI
e-
Governmen
Money Follow t Dalam sistem pemerintahan EFISIENSI
Program
elektronik, rakyat bisa mengakses Menghemat jumlah
dokumen-dokumen pemerintah anggaran yang
Alokasi anggaran harus dibelanjakan dari
dan semua hal dapat dilihat kegiatan-kegiatan yang
digunakan untuk program secara transparan, termasuk soal tidak penting.
pembangunan yang anggaran publik.
bermanfaat bagi
masyarakat, misalnya Anggaran digunakan
hanya untuk membiayai
infrastruktur,
pengentasan kemiskinan, Fokus program/kegiatan
prioritas yang
pendidikan, dan Kinerja, mendukung pencapaian
kesehatan. bukan tujuan pembangunan.
(pemerintahan
SPJ
ASN jangan terlalu
berorientasi hasil)
banyak Anggaran yang
Seberapapun anggaran digunakan menghasilkan
yang diberikan kepada menghabiskan waktu
Stop K/L/Pemda pasti habis, dan tenaga hanya
manfaat besar untuk
masyarakat.
Pemborosa tetapi tujuan (hasil) tidak untuk mengurusi
n tercapai. SPJ.
Anggaran
7 Permasalahan Pengelolaan Anggaran di
Indonesia

Jumlah Anggaran Terbatas

vs

Instansi Pemerintah Terlalu Banyak & Gemuk

Jumlah Program / Kegiatan Semakin Banyak

Kebutuhan Anggaran Meningkat


8

Permasalahan Pengelolaan Anggaran di


Indonesia

Banyak program / kegiatan yang dibiayai


tidak sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai oleh instansi pemerintah

Pemborosan Anggaran
9
Bagaimana
Mengatasinya ?
Manajemen
Kinerja

Rancang
Tentukan
Tentukan hasil program &
ukuran
(outcomes) kegiatan untuk Tetapkan
keberhasilan
prioritas yang mencapai Anggaran
(outcomes)
ingin dicapai outcomes
dan targetnya
tersebut

“Performance management and efficiency have a very straightforward


relationship. The very purpose of performance management is improvement in
use of resources which leads to efficiency.”
(Homayounizadpanah & Baqerkord, 2012)
10

EFISIENSI BIROKRASI MELALUI PENERAPAN MANAJEMEN


KINERJA (SAKIP)

MEMASTIKAN SASARAN K/L


UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang DAN PEMERINTAH DAERAH
Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN MEMASTIKAN TERDAPAT SESUAI DENGAN SASARAN
Azas akuntabilitas dalam penyelenggaraan PERBAIKAN BERKELANJUTAN PEMBANGUNAN NASIONAL
negara UNTUK PENINGKATAN RENCANA
MEMASTIKAN UPAYA
KINERJA STRATEGIS
PENCAPAIAN TARGET-TARGET
UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara PERJANJIAN DIPERJANJIKAN KEPADA
UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara KINERJA PEJABAT YANG BERKOMPETEN
Asas pengelolaan keuangan negara adalah akuntabilitas
berorientasi hasil MEMASTIKAN
Penerapan anggaran berbasis prestasi kinerja SISTEM PENGUKURAN KEMAJUAN PENCAPAIAN
AKUNTABILITAS KINERJA TARGET DIUKUR
PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang MEMASTIKAN KINERJA DENGAN TEPAT
Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah PENCAPAIAN INSTANSI PEMERINTAH
Kewajiban melaporkan akuntabilitas keuangan dan KINERJA TELAH (SAKIP) MEMASTIKAN DATA KINERJA
akuntabilitas kinerja pemerintah DIRIVIU DAN DIKELOLA DENGAN BAIK UNTUK
DIEVALUASI PENGELOLAAN
MENGETAHUI PENCAPAIAN DARI
DATA KINERJA
TAHUN KE TAHUN
Perpres Nomor 29 Tahun 2014 tentang
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah REVIU DAN MEMASTIKAN PENCAPAIAN
SAKIP diperlukan untuk meningkatkan efektifitas EVALUASI KINERJA PELAPORAN KINERJA DILAPORKAN KEPADA
penggunaan anggaran berorientasi pada hasil KINERJA PEMBERI AMANAH SECARA JUJUR
Sistem
Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah
(SAKIP)

11
Mandat Berakuntabilitas Kinerja
Dasar Hukum
Berakuntabilitas Kinerja
 Akuntabilitas adalah salah satu tonggak penting era
reformasi. UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas
dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme menyatakan
Akuntabilitas sebagai salah satu asas umum
dalam penyelenggaraan negara.
 UU Nomor 17/2003 menegaskan bahwa salah satu
asas best practices dalam pengelolaan keuangan
negara adalah akuntabilitas berorientasi pada
hasil atau dengan kata lain manajemen
pemerintahan kita telah memasuki era
performance-based management.
 UU Nomor 1/2004 dan UU Nomor 15/2014
menyatakan bahwa salah asas pengelolaan
keuangan negara adalah akuntabilitas
berorientasi pada hasil. Laporan
pertanggungjawaban meliputi laporan keuangan
dan laporan kinerja. Ketentuan lebih lanjut
mengenai laporan keuangan dan kinerja instansi
pemerintah diatur dengan peraturan pemerintah.
 PP 8 /2006. Laporan Kinerja dihasilkan dari
suatu sistem akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah yang diselenggarakan oleh masing-
masing Entitas Pelaporan dan/atau Entitas
Akuntansi. Sistem akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah ditetapkan dalam Peraturan Presiden.
 Perpres Nomor 29/2014 penyelenggaraan
SAKIP untuk penyusunan laporan kinerja dan
dilaksanakan selaras dengan sistem akuntansi,
tatacara pengendalian dan evaluasi
perencanaan pembangunan
 UU Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil
Negara menegaskan bahwa kinerja instansi
pemerintah menjadi dasar dari pengukuran kinerja
individu. (pengukuran kinerja pegawai
mengacu pada pengukuran kinerja instansi
ASAS UMUM
PENYELENGGARAAN NEGARA
UU NO. 28 TAHUN 1999 TTG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KKN
UU NO. 25 TAHUN 2004 TTG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

Asas-asas umum penyelenggaraan negara:


• Kepastian Hukum
• Tertib Penyelenggaraan Negara
• Kepentingan Umum
• Keterbukaan
• Proporsionalitas
• Profesionalitas
• Akuntabilitas
ASAS UMUM
PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA
UU NO. 17 TAHUN 2003 TTG KEUANGAN NEGARA
UU NO. 1 TAHUN 2004 TTG PERBENDAHARAAN NEGARA
UU N0. 15 TAHUN 2003 TTG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KN

Asas-asas umum pengelolaan keuangan negara:


•Akuntabilitas berorientasi pada hasil;
•Profesionalitas
•Proporsionalitas
•Keterbukaan dalam pengelolaan keuangan
negara
•Pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa
yang bebas dan mandiri.
Apa itu Akuntabilitas Kinerja
Makna
Asas Akuntabilitas

setiap program dan kegiatan dari kegiatan


Penyelenggara Negara harus dapat
dipertanggungjawabkan kinerja atau hasil akhir
kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang
kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku

(TAP MPR XI/98 dan UU No. 28 Th. 1999)


Akuntabilitas Kinerja
Perwujudan kewajiban suatu instansi
pemerintah untuk mempertanggung-
jawabkan keberhasilan/kegagalan
pelaksanaan program dan kegiatan
yang telah diamanatkan para
pemangku kepentingan dalam
rangka mencapai misi organisasi
secara terukur dengan target kinerja
yang ditetapkan melalui laporan
kinerja yang disusun secara periodik
(Perpres 29/2014)
Bagaimana mewujudkan
Akuntabilitas Kinerja
Instrumen mewujudkan
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

Organisasi
SSISTEM
ISTEM Kinerja
Input A (berapa besar
(Berapa AKUNTABILITAS
KUNTABILITAS KI
KINERJA
NERJA
pencapaian
besar dana INSTANSI
INSTANSI PEMERINTAH
PEMERINTAH (( SAKIP)
SAKIP) kinerja
yang telah (Output &
dan akan ((Sistem
Sistem manajemen
manajemen Kinerja
Kinerja berorientasi
berorientasi Hasil
Hasil
Outcome yang
dihabiskan) dihasilkan)

Aparatur

20
Apa itu Sistem Akuntablitas Kinerja
Instansi Pemerintah (SAKIP)
SAKIP

Adalah rangkaian sistematik dari berbagai


aktivitas, alat, dan prosedur yang dirancang
untuk tujuan penetapan kinerja dan pengukuran
pengumpulan data,
pengklasifikasian,pengikhisaran, dan pelaporan
kinerja pada instansi pemerintah, dalam rangka
pertanggungjawaban dan peningkatan kinerja
instansi pemerintah. (Perpres 29 Tahun 2014)
SIKLUS SAKIP

Proses Perencanaan
Proses Penganggaran
kinerja Secara sederhana dapat
digambarkan bahwa
Sistem Akuntabilitas
1. Penetapan Tujuan/Sasaran
Kinerja Instansi
1. Penyediaan Anggaran Pemerintah adalah satu

Proses Pengukuran & Monev


2. Hubungan Program – Tujuan / rangkaian siklus
Sasaran Sesuai Target Kinerja
2. Standar Biaya Untuk manajemen yaitu:
3. Indikator Kinerja
Merencanakan kinerja;
Proses Reviu & Evaluasi

4. Target Kinerja Output


Merencanakan
Plan
Plan program/ kegiatan;
1. Penilaian Kinerja Menyusun anggaran;
2. Perbaikan Kinerja Action Melaksanakan
3. Perbaikan ActionSAKIP Do
Do 1. Pengukuran program/ kegiatan;
Perencanaan Kinerja Mengukur dan
4. Redistribusi 2. Pengelolaan data
monitoring capaian
Anggaran kinerja
melaporkan
Check
Check keberhasilan
pencapaian kinerja;
serta
1. Capaian Kinerja
Melakukan Reviu &
2. Akuntabilitas Kinerja
vs Akunbilitas
Evaluasi internal.
Keuangan

Proses Pelaporan Pertanggungjawaban


I
Komponen SAKIP

RPJM
RPJM

Rencana
Rencana
Strategis
Strategis

Rencana
Rencana Kinerja
Kinerja
Tahunan
Tahunan
Rencana
Rencana Kerja
Kerja&&
Anggaran
Anggaran (RKA)
(RKA)
Penetapan
Penetapan Kinerja
Kinerja
IK& IKU (Performance
(Performance
Contract/Agreement)
Contract/Agreement) DIPA & POK

Kinerja
Kinerja
Aktual Laporan
Laporan
Aktual Pertanggung
Pertanggung
LAKIP/
LAKIP jawaban
jawaban
LKJ Keuangan
Keuangan24
AKUNTABILITAS KINERJA DAN AKUNTABILITAS
KEUANGAN (PP 8/2006)

Kinerja LAPORAN
( Pencapaian RENCANA
PERJANJIAN LAPORAN KINERJA
target KINERJA KINERJA KINERJA PEMERINTAH
Kinerja) TAHUNAN

Sistem LAPORAN (Capaian


Sistem AKIP
AKIP PERTANGGUNG Target-target
RPJM RENCANA Sistem Perencanaan Kinerja &
STRATEGIS Sistem Perencanaan JAWABAN
Sistem Kewajaran
SistemPenganggaran
PenganggaranPELAKSANAAN
APBN Penyajian
Sistem Akuntansi
Sistem Akuntansi Laporan
Keuamgan)
Keuangan LAPORAN
(Standar RENCANA
LAP KEUANGAN
penyajian KERJA & DIPA
KEUANGAN PEMERINTAH
laporan ANGGARAN
Keuangan)
RPJP Sistem
Perencanaan
Pembangunan Keterkaitan 3 sistem
Nasional
RPJMN/D RKP/D

Sistem
RKA- k/l/ Penganggaran
DIPA & LAP
POK KEUANGA
SKPD N

RENSTRA k/l/skpd
RKT Dan
RENJA k/l/SKPD
PERJANJIAN KINERJA
Sistem
(PK) Berjenjang
Akuntabilitas
Kinerja (SAKIP)
Reviu/ LKJ PENGUKURAN &
EVALUASI PENGelolaan DATA
Berjenjang KINERJA 26
Bagaimana Kualitas Akuntabilitas
Kinerja yang baik
Ciri Instansi Pemerintah yang Akuntabilitas Kinerjanya Baik

 Ada Keselarasan (Aligment)  Berorientasi Hasil (Outcomes)


Clarity about objectives
(Outcomes)
RPJMD
KINERJA YANG
Renstra 1.Link between objectives and means
DIRENCANAKAN
(Outputs, processes and inputs)
RKPD 2.Information on results
Renja (Performance indicators)
RKA
Targets for results
KINERJA YANG
(Measurable & Logic)
Perjanjian Kinerja DIPERJANJIKAN
DIPA

KINERJA YANG
Monev Berkala (3bln)
DILAKSANAKAN

Lap Kinerja KINERJA YANG


DILAPORKAN

KINERJA YANG
Evaluasi Kinerja
DIEVALUASI
PERENCANAAN KINERJA YANG
BAIK
Arsitektur Kinerja Pembangunan Daerah
Kerangka Umum Penyusunan Logic Model
PROBLEMS /
31 NEEDS

Hasil pembangunan yang


IMPACT / diperoleh dari pencapaian
Apa yang ingin
DAMPAK outcome diubah
Manfaat yang diperoleh dalam
OUTCOME / jangka menengah untuk Apa yang ingin
HASIL beneficieries tertentu sebagai hasil dicapai
dari output
Apa yang dihasilkan
OUTPUT / Produk/barang/jasa akhir yang
(barang) atau dilayani
KELUARAN dihasilkan
(jasa)

Proses/kegiatan menggunakan
PROSES / Apa yang
input untuk menghasilkan output
KEGIATAN
yang diinginkan dikerjakan

Sumberdaya yang memberikan


Apa yang digunakan
INPUT kontribusi dalam menghasilkan
dalam bekerja (4M)
output
CONTOH PENYUSUNAN LOGIC MODEL
(Contoh: Membangun jaringan telekomunikasi di daerah)

Problems / Needs Rendahnya penggunaan TIK di daerah dlm mendorong


pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan


Impact masyarakat melalui peningkatan penggunaan teknologi informasi
dan telekomunikasi

• Meningkatnya produktifitas dan akses ke/dari pasar


• Menurunnya biaya transaksi bagi dunia usaha
Outcomes • Meningkatnya usaha baru/pemula di daerah yang dibangun
teknologi IT
• Meningkatnya penggunaan telpon dan internet

• Terbangunnya 4 hubs dan 54 pusat IT di daerah


Outputs • Terbangunnya 1,500 km kabel fiber optik
• Terbangunnya 25,000 sambungan telephone dan 20,000
sambungan internet

• Membangun 4 hubs dan 54 pusat T&I di daerah


• Membangun 1,500 km kabel fiber optik
Activities • Membangun 25,000 sambungan telephone dan 20,000
sambungan internet

Inputs Alokasi APBN Rp 5 triliun


LOGIC: HUBUNGAN SEBAB AKIBAT

• HUBUNGAN ANTARA:
-WHAT WE PUT IN (INPUTS), with
-WHAT WE DO (OUTPUTS), and
-WHAT RESULTS (OUTCOMES)
• RANTAI LOGIKA DARI HUBUNGAN :
IF-THEN (JIKA …., KEMUDIAN: …….).
Kerangka Arsitektur Kinerja Organisasi Pemerintah
(Daerah)

STRUKTUR STRUKTUR STRUKTUR


ORGANISASI ANGGARAN PERENCANAAN STRUKTUR KINERJA
RPJMD
RKPD PEMDA
PK
FUNGSI PRIORITAS TUJUAN/SASARAN INDIKATOR
PEMBANGUNAN KINERJA TUJUAN/
TARGET
PEMDA DAERAH
(IMPACT/OUTCOME)
SASARAN
PEMBANGUNAN
PROGRAM
SUB-FUNGSI
LINTAS SASARAN PROGRAM
INDIKATOR
(OUTCOME) KINERJA TARGET
PROGRAM

RENSTRA SKPD
RENJA
INDIKATOR
BAGIAN KEBIJAKAN SASARAN RKA
KINERJA
SKPD ANGGARAN/ STRATEGIS SKPD DPA SASARAN TARGET
SKPD (IMPACT/ OUTCOME) PK
ORGANISASI STRATEGIS

SASARAN INDIKATOR
BIDANG PROGRAM PROGRAM PROGRAM KINERJA TARGET
(OUTCOME) PROGRAM

SASARAN INDIKATOR
SEKSI KEGIATAN
KEGIATAN KEGIATAN KINERJA TARGET
(OUTPUT) KEGIATAN
Kerangka Kerja Logis Kinerja Organisasi (Daerah)
TUJUAN/SASARAN PEMDA
PEMBANGUNAN DAERAH
PEMDA (Outcome - impact) RPJMD
RKPD
PK
SASARAN PROGRAM
(Outcome )
SKPD

HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT
TUJUAN/SASARAN STRATEGIS SKPD RENSTRA
SKPD RENJA
(Outcome - impact) RKA
DPA
PK

SASARAN PROGRAM SASARAN PROGRAM


BIDANG
(Outcome) (Outcome)

SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN


SEKSI KEGIATAN KEGIATAN KEGIATAN KEGIATAN
(output) (output) (output) (output)

Proses Pencapaian Pros Pros Pros Pros Pros Pros Pros Pros
Output es es es es es es es es

i i i i i i i i i i i i i i i i
n n n n n n n n n n n n n n n n
Sumberdaya p p p p p p p p p p p p p p p p
u u u u u u u u u u u u u u u u
yang t t t t t t t t t t
t t t t t t
digunakan

Penjabaran (cascading) harus dilakukan secara jelas, terkait dengan tugas dan fungsi unit, secara logis memiliki keterkaitan sebab akibat
(causality), serta memiliki keterkaitan sinergitas (aligment)
BEBERAPA
HAL PENTING TENTANG INDIKATOR
KINERJA
FUNGSI
INDIKATOR KINERJA
1. Memperjelas apa, berapa & kapan suatu
program/kegiatan dilaksanakan.
2. Memperjelas siapa yang bertanggungjawab dan
yang melaksanakan indikator dimaksud.
3. Menciptakan konsensus yg dibangun bersama
oleh pihak terkait utk menghindari kesalahan
interprestasi selama pelaksanaan kegiatan dan
dalam menilai kinerjanya.
4. Membangun dasar utk pengukuran, analisis &
evaluasi kinerja organisasi/unit kerja.
Kriteria Indikator Kinerja yang baik
 Spesifik (Spesific)> IK dapat menggambarkan sesuai dengan
kespesifikan dari hasil program dan kegiatan yang akan diukur
( Kualitas pendidikan diukur dengan Angka Kelulusan, APK,APM)
 Dapat diukur (Measurable) > IK dapat diukur secara obyektif
baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Jika ada dua pihak
atau lebih mengukur hasilnya akan sama
 Dapat dicapai ( Attainable)> IK dalam lingkup kendali sesuai
tupoksi dan mampu menyediakan datanya secara tepat dan akurat
 Sesuai dengan kinerja atau hasil yang diukur (Relevan) > IK
harus menggambarkan sedekat mungkin kesesuaiannya dengan
hasil apa yang akan diukur. ( Input- IK Input, Output-IK Output,
Outcome- IK Outcome)
 Berjangka waktu tertentu (Time bound)> IK
mempertimbangkan periode waktu tertentu pencapaiannya
 Dapat dipantau dan dikumpulkan (Trackable) > Dapat
ditelusur secara jelas sumber datanya.
Tipe Indikator Kinerja
 Kualitatif: menggunakan skala (misal: baik,
cukup, kurang)
 Kuantitatif absolut: menggunakan angka
absolut (misal: 30 orang, 80 unit)
 Persentase: menggunakan angka persentase
(misal: 50%, 100%)
 Rasio: membandingkan angka absolut dengan
angka absolut lain yang terkait (misal: rasio
jumlah guru dibandingkan jumlah murid)
 Rata-rata: angka rata-rata dari suatu populasi
atau total kejadian (misal: rata-rata biaya
pelatihan per peserta dalam suatu diklat)
 Indeks: angka patokan dari beberapa variabel
kejadian berdasarkan suatu rumus tertentu
(misal: indeks harga saham, indeks
pembangunan manusia)
Jenis Indikator Kinerja
Masukan/Inputs:
adalah segala sesuatu yang dibutuhkan dalam rangka
menghasilkan keluaran/outputs.
IK Input: Alat Ukur yang mengindikasikan keberhasilan
penggunaan inputs
Keluaran/ Outputs:
adalah segala sesuatu berupa produk/jasa (fisik dan atau non fisik)
sebagai hasil langsung dari pelaksanaan suatu kegiatan dan
program berdasarkan masukan yang digunakan.
IK Keluaran/ Output: Alat ukur yang mengindikasikan
keberhasilan pencapaian keluaran (output) dari suatu kegiatan
Hasil/ Outcomes:
adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya
keluaran/outputs atau manfaat dari keluaran/outputs
kegiatan/program. Outcome dapat dikelompokkan dalam terdiri
dari (i) immediate outcome/jk pendek, (ii) intermediate outcome/jk
menengah, (iii) Ultimate outcome/jk panjang
41
IK Outcome: Alat ukur yang mengindikasikan keberhasilan
CONTOH
Problems /
Needs Rendahnya penggunaan TIK di daerah dlm mendorong
pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat INDIKATOR KINERJA TARGET

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan  Angka pertumbuhan PDRB sektor


...%
Impact kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan  Angka income perkapita masyarakat
penggunaan teknologi informasi dan telekomunikasi ..rp

 Angka produktivitas masyarakat


• Meningkatnya produktifitas dan akses ke/dari pasar  Jumlah /volume transaksi
• Menurunnya biaya transaksi bagi dunia usaha ..x
Outcomes • Meningkatnya usaha baru/pemula di daerah yang masyarakat ...Rp
dibangun teknologi IT  % penurunan biaya transaksi ...%
• Meningkatnya penggunaan telpon dan internet  Jumlah umkm baru ..orang
 Jumlah pengguna telpon dan
internat produktif

• Terbangunnya 4 hubs dan 54 pusat IT di daerah  Jumlah pusat TI yang terbangun


Outputs • Terbangunnya 1,500 km kabel fiber optik  Panjang kabel fiber optik yang Pst TI
...KM
• Terbangunnya 25,000 sambungan telephone dan terpasang
20,000 sambungan internet  Jumlah sambungan telepon ..SST
 Jumlah sambungan internet ...SSI

 Jumlah kegiatan pembangunan pusat TI


• Membangun 4 hubs dan 54 pusat T&I di daerah yang dilaksanakan
...keg
• Membangun 1,500 km kabel fiber optik  Jumlah kegiatan pemasangan kabel FO
Activities • Membangun 25,000 sambungan telephone dan ...keg
yang dilaksanakan
20,000 sambungan internet  Jumlah kegiatan pemasangan sambungan ...keg
telepon dan internet yang dilaksanakan

Alokasi APBN Rp 5 triliun ....%


Inputs % penyerapan anggaran
Contoh
Meningkatkan Industri Pariwisata
RPJMD PDRB sektor pariwisata
Target : 10%

Keamanan Daya saing Konektifitas Kualitas lingkungan


Renstra Daya saing UKM hidup
wisatawan pariwisata antar daerah
SKPD Angka
% UMKM yang sehat Kunjungan wisatawan Indeks aksesibilitas Indeks LH
kriminalitas Target 70% Target : 6 juta Target : 8 Target: 80
Target : 5%

Pencegahan Iklim usaha Pemasaran Layanan Kesehatan


kriminalitas kondusif pariwisata angkutan lingkungan hidup
Program % potensi Jumlah UMKM % peningkatan % penumpang % destinasi wisata
kriminalitas yang
baru wisatawan yang dilayani kategori bersih
dicegah Target : 90% Target : 90%
Target : 2000 Target : 5%
Target : 90%
1. Penyelenggaraan 1. Pemantauan 1. Pengelolaan
1. Patroli keamanan 1. Pelatihan usaha
promosi angkutan jalan sampah
2. Sosialisasi baru
2. Penyelenggaran 2. Uji KIR Kendaraan 2. Sosialisasi hidup
pencegahan
Kegiatan 2. Bantuan koperasi
Jumlah wilayah UMKM
travel dialog Jumlah kegiatan
pemantauan angkutan
sehat
Jumlah volume sampah
Jumlah wilayah cakupan Jumlah kegiatan promosi umum yang terangkut
yang dilatih
patroli Jumlah kegiatan forum Jumlah Kendaraaan Jumlah kelompok
Jumlah Koperasi yang
Jumlah penduduk yang dialoh biro jasa travel angkutan umum yang masyarakat yang
mendapat fasilitas kredit
tersosialisasi lulus KIR tersosialisasi
permodalan
SKPD Sat Pol PP Dinas
Dinas Koperasi Dinas Pariwisata Dinas Lingkungan
dan UKM Perhubungan Hidup
Anggaran Rp.4.000.000.000 Rp.2.000.000.000 Rp.3.000.000.000 Rp.1.500.000.00
0 Rp.900.000.000
Kelemahan Penerapan
Akuntabilitas Kinerja
KOMPONEN EVALUASI AKUNTABILITAS KINERJA

Sistem AKIP FORMAL KUALITAS PEMANFAATAN TOTAL


Perencanaan
Kinerja 6% 15% 9% 30%

Pengukuran
Kinerja 5% 12,5% 7,5% 25%
80%
Pelaporan
Kinerja 3% 7,5% 4,5% 15%

Evaluasi 2% 5% 3% 10%

Kinerja OUTPUT OUTCOMES LAINNYA TOTAL


CAPAIAN
KINERJA 5% 5% 10% 20%
HASIL EVALUASI SAKIP K/L & PEMDA TAHUN
46
2015-2016

Efisien Skala nilai Kementerian/ Pemerintah Kabupaten /


Lembaga Provinsi Kota

Kategori Range 2015 2016 2015 2016 2015 2016 Semakin


Nilai tinggi nilai
AA 90-100 akuntabilitas
0 0 0 0 0 0 kinerja
A 80-90 4 4 2 3 1 2 semakin
BB 70-80 21 28 7 6 7 10 tinggi tingkat
B 60-70 36 37 8 13 31 57
efisiensi
penggunaan
CC 50-60 16 10 13 10 174 199 anggaran
C 30-50 0 3 3 2 239 193
D 0-30 0 0 1 0 14 14
Inefisiensi
INEFISIENSI TERJADI KARENA :
1. Tidak jelas hasil yang akan dicapai 3. Tidak ada keterkaitan antara
(tujuan/sasaran tidak berorientasi Program/Kegiatan dengan Sasaran.
hasil). 4. Rincian kegiatan tidak sesuai dengan
2. Ukuran kinerja tidak jelas. maksud kegiatan.
Kelemahan kualitas Akuntabilitas Kinerja (Daerah)
Tidak jelas hasil/kinerja yang akan
TUJUAN/SASARAN
PEMBANGUNAN DAERAH
DAERAH dicapai
PEMDA (Outcome - impact)
1,2,3 Tujuan/sasaran tidak jelas,
antar dokumen perencanaan
berbeda-beda dan

HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT
SASARAN PROGRAM tidak menjawab isu strategis
(Outcome ) atau kebutuhan
Daerah/masyarakat 1
4
TUJUAN/SASARAN STRATEGIS SKPD SKPD Tujuan/sasaran
SKPD (Outcome - impact) Tidak orientasi hasil (outcomes),
1,2,3 tetapi hanya orientasi kegiatan
2
4 SASARAN PROGRAM SASARAN PROGRAM Ukuran kinerja tidak dapat
BIDANG terukur dan kurang relevan
(Outcome) (Outcome) 3
Tidak efektif dan efisien
4 SASARAN SASARAN SASARAN SASARAN
SEKSI KEGIATAN KEGIATAN KEGIATAN KEGIATAN
(output) (output) (output) (output) Tidak ada Keterkaitan antara
Program/Kegiatan
dengan Tujuan/ Sasaran
4
Proses 5 Pr Pr Pr Pr Pr Pr Pr Pr
os os os os os os os os Rincian kegiatan tidak sesuai
Pencapaian dengan maksud
Output
i
es
i
es
i i
es
i i
es
i i
es
i i i
es
i i
es
i i
es
i
kegiatan 5
n n n n n n n n n n n n n n n n
Sumberday p p p p p p p p p p p p p p p p
a yang u u u u u u u u u u u u u u u u
t t t t t t t t t t t t t t t t
digunakan

Penjabaran (cascading) harus dilakukan secara jelas, terkait dengan tugas dan fungsi unit, secara logis
memiliki keterkaitan sebab akibat (causality), serta memiliki keterkaitan sinergitas (aligment)