Anda di halaman 1dari 22

Manajemen

Perpajakan
(PPH Pasal 22 DAN 23)

STEPHANI F SHABILLAH
1811070027

25 NOVEMBER 2019
OUTLINE :

I. Dasar Hukum PPH Pasal 22 dan Pasal 23


II. Terori PPH Pasal 22 dan Pasal 23
III. Kasus tentang Pasal 22 dan Pasal 23
IV. Analisis
V. Kesimpulan
DEFINISI PPH 22
Merupakan pajak yang dipungut atas:

• Aktivitas pembayaran atas penyerahan


barang bagi institusi pemerintah.
• Aktivitas impor barang.
• Aktivitas penjualan atau pembelian barang
di industri tertentu.
• Aktivitas penjualan barang sangat mewah.

3
DASAR HUKUM
PEMUNGUTAN PPh PASAL 22

• UU No.6 Tahun 1983 sttd UU UU No. 16 Tahun 2009 (KUP)


UU • UU No.7 Tahun 1983 sttd UU No.36 Tahun 2008 (PPh)
-PP No. 8 Tahun 2007 (Peraturan Pelaks.UU KUP)
PP
-KMK No.254/KMK.03/2001 STTD PMK No.210/PMK.03/2008 (PPh Ps.22)
-PMK No. 181/PMK.03/2007 (Bentuk dan Isi SPT)
-PMK No. 184/PMK.03/2007 (Tgl jatuh tempo pembayaran,pelaporan)
PER -PMK No.186/PMK.03/2007 (Dikecualikan dari pengenaan sanksi)
MENKEU -PMK No.190/PMK.03/2007 (Pengembalian pajak yg seharusnya tdk terutang)
- PMK No.253/PMK.03/2007 (Pengembalian pajak yg seharusnya tdk terutang)
-KEPDIRJEN No.32/PJ/1995 jo.No.65/pj/1995 (PPh Ps.22 Utk Otomotif)
-KEPDIRJEN No.69/PJ/1995 (Pemungut.PPh Ps.22 Utk Prod.Kertas)
-KEPDIRJEN No.01/PJ/1996 (Pemungut.PPh Ps.22 Utk Prod. Baja)
PER -KEPDIRJEN No.401/PJ/2001 (Pemungut.PPh Ps.22 Utk Prod. Semen)
DIRJEN -KEPDIRJEN No.417/PJ/2001 (Tata Cara Pemungut.PPh Ps.22)
-PERDIRJEN No.23/PJ/2009 (PPh Ps.22 Bagi PedagangPengumpul)
-PERDIRJEN No.23/PJ/2009 (PPh Ps.22 Bagi PedagangPengumpul)
-PERDIRJEN No.38/PJ/2009 (Formulir SSP)
Dit.P2Humas
-PERDIRJEN No.52/PJ/2008 (Perlakuan PPh Utk Penyalur/Prod Rokok) 4
PEMUNGUT PPh PASAL 22
PEMUNGUT OBJEK

- DITJEN ANGGARAN
PEMBAYARAN ATAS
- BEND. PEMERINTAH PUSAT/
DAERAH PEMBELIAN BARANG

PEMBAYARAN ATAS PEMBELIAN


BUMN/BUMD
BARANG DARI BELANJA NEGARA/DAERAH
BI, PPA, BULOG, PT TELKOM,
PEMBAYARAN ATAS
PT PLN, PT GARUDA IND, PEMBELIAN BARANG DARI
PT INDOSAT, KRAKATAU STEEL, NON BELANJA NEGARA/DAERAH
PERTAMINA, BANK-BANK BUMN
- BANK DEVISA IMPOR
- DITJEN BEA DAN CUKAI
PERTAMINA DAN PRODUSEN LAINNYA (IMPORTIR)
BAHAN BAKAR MINYAK, GAS, DAN PENJUALAN HASIL
PELUMAS ATAS PENJUALAN BAHAN BAKAR PRODUKSI DAN PENJUALAN
MINYAK, GAS DAN PELUMAS DARI IMPOR
BADAN USAHA DI BIDANG:
- INDUSTRI SEMEN*) PENJUALAN
- INDUSTRI KERTAS HASIL PRODUKSI
- INDUSTRI BAJA DI DALAM NEGERI
- INDUSTRI OTOMOTIF

WAJIB PAJAK BADAN TERTENTU PENJUALAN BARANG YANG TERGOLONG


SANGAT MEWAH
DIKECUALIKAN DARI
PEMUNGUTAN PPh PASAL 22

PEMBAYARAN
ATAS PENYERAHAN/PEMBELIAN
IMPOR BARANG
DI DALAM NEGERI
IMPOR YANG DIKECUALIKAN DARI PEMUNGUTAN
PPh PASAL 22

IMPOR BARANG YG DIBEBASKAN DARI BEA MASUK :


1. BARANG PERWAKILAN NEGERI ASING BESERTA PARA PEJABATNYA YANG BERTUGAS DI INDONESIA BERDASARKAN ASAS
TIMBAL BALIK;
2. BARANG KEPERLUAN BADAN INTERNASIONAL YANG DIAKUI DAN TERDAFTAR
3. BARANG KIRIMAN HADIAH UNTUK KEPERLUAN IBADAH UMUM,AMAL,SOSIAL, ATAU KEBUDAYAAN;
4. BARANG UNTUK KEPERLUAN MUSEUM, KEBUN BINATANG, DAN TEMPAT LAIN SEMACAM ITU YG TERBUKA UNTUK UMUM;
DAN KEPERLUAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN ;
5. BARANG UNTUK KEPERLUAN KHUSUS KAUM TUNA NETRA DAN PENYAND CACAT LAINNYA;
6. BARANG PINDAHAN;
7. PETI ATAU KEMASAN LAIN YG BERISI JENAZAH ATAU ABU JENAZAH;
8. BARANG PRIBADI PENUMPANG, AWAK SARANA PENGANGKUT, PELINTAS BATAS, DAN BARANG KIRIMAN SAMPAI BATAS NILAI
PABEAN ATAU JUMLAH TERTENTU;
9. BARANG YANG DIIMPORT OLEH PEMERINTAH PUSAT ATAU DAERAH YG DITUJUKAN BAGI KEPENTINGAN UMUM;
10. PERSENJATAAN, AMUNISI, DAN PERLENGKAPAN MILITER, TERMSK SUK.CAD YG DIPERUNTUKAN BAGI KEPERLUAN HANKAM
NEGARA; ATAU BAHAN YG DIPERGUNAKAN UNTUK MENGHASILKAN BARANG BAGI KEPERLUAN HANKAM NEGARA;
11. VAKSIN POLIO DALAM RANGKA PELAKSANAAN PROGRAM PIN;
12. BUKU PELAJARAN UMUM, KITAB SUCI DAN BUKU PELAJARAN AGAMA;
13. ALAT KESELAMATAN PELAYARAN ATAU KESELAMATAN MANUSIA YG DIIMPOR DAN DIGUNAKAN NEGARA
14. SUKU CADANG SERTA PERALATAN UNTUK PERBAIKAN ATAU PEMELIHARAAN SERTA PRASARANA YG DIIMPOR DAN
DIGUNAKAN OLEH PERUSAHAAN NEGARA
7
IMPOR YANG DIKECUALIKAN DARI
PEMUNGUTAN PPh PSL 22
IMPOR BARANG-BARANG YG BERDASARKAN KETENTUAN PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN TIDAK TERUTANG PPh

IMPOR ADA WAKTU IMPORNYA NYATA-NYATA DIMAKSUDKAN SEMENTARA JIKA UNTUK DI


EKSPOR KEMBALI

PEMBAYARAN UNTUK PEMBELIAN GABAH DAN/ATAU BERAS OLEH BULOG


PEMBAYARAN ATAS PENYERAHAN/PEMBELIAN
BARANG YANG DIKECUALIKAN DARI
PEMUNGUTAN PPh PSL 22

PENYERAHAN BARANG-BARANG YG BERDASARKAN KETENTUAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TIDAK


TERUTANG PPh

PEMBAYARAN UNTUK PEMBELIAN BARANG YANG JUMLAHNYA PALING BANYAK Rp 1.000.000,00 (BUKAN
JUMLAH YANG DIPECAH-PECAH)

PEMBAYARAN UNTUK PEMBELIAN BAHAN BAKAR MINYAK, LISTRIK, GAS, AIR MINUM/PDAM DAN BENDA POS,

PEMBAYARAN UNTUK PEMBELIAN BARANG SEHUBUNGAN DGN PEKERJAAN YANG DILAKUKAN DALAM RANGKA
PELAKSANAAN PROYEK PEMERINTAH YG DIBIAYAI DENGAN HIBAH ATAU DANA PINJAMAN LUAR NEGERI

EMAS BATANGAN YG AKAN DIPROSES UTK MENGHASILKAN BRG HIASAN DARI EMAS UNTUK TUJUAN EKSPOR

PEMBAYARAN / PENCAIRAN DANA JARINGAN PENGAMANAN SOSIAL OLEH KPPN

IMPOR KEMBALI (RE-IMPOR YG MELIPUTI BARANG BARANG YG TELAH DIEKSPOR KEMUDIAN DIIMPOR KEMABLI
DLM KUALITAS YG SAMA ATAU BRG-BRG YG TELAH DIEKSPOR UTK KEPERLUAN PERBAIKAN, PENGERJAAN DAN
PENGUJIAN YG TELAH MEMENUHI SYARAT YG DITENTUKAN OLEH DIT.BEA CUKAI
Ilustrasi Kasus
(Transaksi Bendaharawan)
PT Kalingga menandatangani kontrak dengan Pemerintah Kota Bandung untuk melakukan
penyediaan ATK senilai Rp 110.000.000,00.
1. Berapakah besar beban PPh 22?
2. Jika kontrak tersebut meliputi pula penyediaan 1000 lembar perangko nominal
Rp 6.000,00 at cost, berapakah besar beban PPh 22?

Jawaban :
a. Beban PPh 22 = 1,5% x 110.000.000
= 1,5% x 110.000.000
= Rp 1.650.000,00
b. Beban PPh 22 = 1,5% x (110.000.000 – 60.000.000)
= 1,5% x 50.000.000
= Rp 750.000,00 10
Ilustrasi Kasus
(Transaksi Impor)
PT. Argabelah melakukan impor atas barang dengan nilai pembelian $ 36.000 (kurs KMK berlaku Rp
9.100/ $). Perusahaan membayar biaya asuransi dan pengangkutan masing – masing sebesar 7,5% dan
5% dari nilai pembelian. Bea Masuk sebesar 10% dari CIF dan Bea Masuk lainnya $ 2.500. Penyerahan
barang dikenai PPN dan PPnBM 20%. Jika perusahaan memiliki API (tarif PPh 22 2,5%), bagaimanakah
penjurnalan dilakukan ?
Jawaban:
Penghitungan
Cost 36,000
Insurance (7,5%) 2,700
Freight (2,5%) 1,800
CIF 40,500
Bea Masuk (10% CIF) 4,050
Bea Masuk lainnya 2,500
Nilai impor (DPP PPh 22, PPN, PPnBM) $47,050.00
PPnBM (20% DPP) $ 9,410.00
PPh 22 (2,5% DPP) $ 1,176.25
PPN (10% DPP) $ 4,705.00
11
Ilustrasi Kasus
(Transaksi Impor)
Jawaban :
Nilai persediaan dicatat : (47.050 + 9.410) x 9.100) 513,786,000
Nilai Pajak dibayar di muka PPh 22 : 1.176,25 x 9.100 10,703,875
Nilai PPN masukan : 4.705 x 9.100 42,815,500

Penjurnalan
Persediaan 513,786,000
Pajak dibayar di muka PPh 22 10,703,875
PPN masukan 42,815,500
Kas 567,305,375

12
Definisi PPH 23

Pajak yang dikenakan terhadap WP dalam negeri dan BUT


atas penghasilan dari:

• Penanaman modal.
• Penyewaan aset fisik dan finansial.
• Keterlibatan dalam pekerjaan atau kegiatan.
• Pemberian jasa tertentu.

13
DASAR HUKUM
PEMOTONGAN PPh PASAL 23/26
• UU No.6 Tahun 1983 sttd UU UU No. 16 Tahun 2009 (KUP)
UU • UU No.7 Tahun 1983 sttd UU No.36 Tahun 2008 (PPh)

PP PP No. 8 Tahun 2007 (Peraturan Pelaks.UU KUP)

-PMK No. 181 Th 2007 (Bentuk dan Isi SPT)


PER -PMK No. 184 Th 2007 (Tgl jatuh tempo pembayaran,pelaporan)
MENKEU -PMK No.186 Th 2007 (Dikecualikan dari pengenaan sanksi)
-PMK No.190 Th 2007 (Pengembalian pajak yg seharusnya tdk terutang)
-PMK No.244 Th 2008 (Jenis Jasa lain yang Diatur dalam Pasal 23)

PER  KEPDIRJEN No.108/PJ/1996 sttd PERDIRJEN No.42/PJ/2008 (Bentuk Formulir)


DIRJEN  PERDIRJEN No.38/PJ/2009 (Formulir SSP)

SE SE DIRJEN PAJAK NOMOR : SE-53/PJ/2009 (JUMLAH BRUTO PPh PASAL 23)


DIRJEN

14
Pemotong PPh Pasal 23

• Badan pemerintah
• Subjek Pajak badan dalam negeri
• Penyelenggara kegiatan
• Bentuk Usaha Tetap
• Perwakilan perusahaan luar negerilainnya
• Orang pribadi yang ditunjuk oleh Kepala KPP.
TARIF DAN DASAR PEMOTONGAN
PPh PASAL 23

HADIAH DAN SEWA


PENGHARGAAN,
DEVIDEN, BUNGA DAN
DAN ROYALTI JASA LAINNYA

TARIF TARIF
15 % 2%

DASAR PEMOTONGAN

J U M L A H B R U T O

JIKA PEMBERI JASA TDK MEMILIKI NPWP MAKA


Dit.P2Humas
TARIFNYA 100% LEBIH TINGGI 16
Lingkup Jasa Dikenai PPh 23 (1)
PMK No. 244/ PMK. 03/ 2008

 Jasa penilai (appraisal);Jasa aktuaris;


 Jasa akuntansi, pembukuan, dan atestasi laporan keuangan;
 Jasa perancang (design);
 Jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi (migas), kecuali yang
dilakukan oleh bentuk usaha tetap (BUT);
 Jasa penunjang di bidang penambangan migas;
 Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas;
 Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara;
 Jasa penebangan hutan;
 Jasa pengolahan limbah;
 Jasa penyedia tenaga kerja (outsourcing services)
 Jasa perantara dan/atau keagenan;
 Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang dilakukan oleh Bursa Efek, KSEI
dan KPEI;
 Jasa custodian/penyimpanan /penitipan, kecuali yang dilakukan oleh KSEI; 17
Lingkup Jasa Dikenai PPh 23 (1)
PMK No. 244/ PMK. 03/ 2008

 Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara;Jasa mixing film;


 Jasa sehubungan dengan software computer, termasuk perawatan, pemeliharaan dan perbaikan;
 Jasa instalasi/pemasangan dan Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, peralatan, listrik,
telepon, air, gas, AC, dan/atau TV kabel, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang
lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha
konstruksi;
 Jasa maklon;
 Jasa penyelidikan dan keamanan;
 Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer;
 Jasa pengepakan;
 Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media masa, media luar ruang atau media lain
untuk penyampaian informasi;
 Jasa pembasmian hama;
 Jasa kebersihan atau cleaning service;
 Jasa catering atau tata boga.
18
TIDAK DIKENAKAN
PEMOTONGAN PPh PASAL 23/26

A. PENGHASILAN YG DIBAYAR ATAU TERUTANG KPD BANK;


B. SEWA YG DIBAYARKAN ATAU TERUTANG SEHUBUNGAN DGN SEWA GUNA USAHA DENGAN HAK OPSI;
C. DEVIDEN ATAU BAGIAN LABA YG DITERIMA ATAU DIPEROLEH PERSEROAN TERBATAS SEBAGAI WP DALAM
NEGERI,KOPERASI, BUMN/D, DARI PENYERTAAN MODAL PADA BADAN USAHA YANG DIDIRIKAN DAN
BERTEMPAT KEDUDUKAN DI INDONESIA DGN SYARAT :
1) DIVIDEN BERASAL DARI CADANGAN LABA YG DITAHAN DAN
2) BAGI PERSEROAN TERBATAS, BUMN/BUMD YG MENERIMA DIVIDEN, KEPEMILIKAN SAHAM PADA
BADAN YG MEMBERIKAN DIVIDEN PALING RENDAH 25 PERSEN DARI JUMLAH MODAL YG DISETOR;
D. BAGIAN LABA YG DITERIMA ATAU DIPEROLEH ANGGOTA DARI PERSEROAN KOMANDITER YG MODALNYA
TIDAK TERBAGI ATAS SAHAM-SAHAM, PERSEKUTUAN, PERKUMPULAN, FIRMA DAN KONGSI, TERMASUK
PEMEGANG
UNIT PENYERTAAN KONTRAK INVESTASI KOLEKTIF;
F. SISA HASIL USAHA (SHU) KOPERASI YG DIBAYARKAN KEPADA ANGGOTANYA;
G. PENGHASILAN YG DIBAYAR ATAU TERUTANG KEPADA BADAN USAHA ATAS JASA KEUANGAN YG
BERFUNGSI SEBAGAI PENYALUR PINJAMAN DAN/ATAU PEMBIAYAAN YG DIATUR DENGAN PERATURAN
MENTERI KEUANGAN
Dit.P2Humas 19
Ilustrasi Kasus
PT. Sriwijaya merupakan penanam saham terbesar di PT. Palembang dengan kepemilikan sejumlah
100.000 lembar saham biasa dari total 500.000 lembar yang beredar dan 1.000.000 lembar
yang diotorisasi. Di tahun 2012, PT. Palembang membagikan dividen kas senilai total Rp
75.000.000 bagi seluruh pemegang saham biasa.
a. Berapakah besar beban PPh 23 atas penghasilan dividen PT. Sriwijaya?
b. Bagaimana perubahan atas jawaban anda di point (a) jika ternyata PT. Sriwijaya
hanya memiliki 300.000 saham beredar?
c. Bagaimana perubahan atas jawaban anda di point (a) jika PT. Sriwijaya
melakukan stock split dengan rasio 3:1 sebelum pengumuman pembagian dividen?
d. Bagaimana perubahan atas jawaban anda di point (a) jika ternyata PT. Sriwijaya
hanya mengkreditkan akun Laba Ditahan sebesar Rp 25.000.000,00 atas
pembagian dividen tersebut?

20
Ilustrasi
Jawaban :
a. Beban PPh 23 = 15% x (100.000/ 500.000) x 75.000.000
= 15% x 15.000.000
= Rp 2.250.000,00
b. Beban PPh 23 yang dikenakan akan berubah menjadi Rp 0,00. Hal ini
disebabkan karena kepemilikan PT. Sriwijaya dengan demikian mencapai 33%
sehingga pendapatan atas dividen dari PT. Palembang dikecualikan dari objek
pajak.
c. Beban PPh 23 yang dikenakan akan tetap senilai Rp 2.250.000,00 sebab tidak
terdapat perubahan proporsi kepemilikan dan jumlah dividen yang dibagikan.
d. Beban PPh 23 = 15% x (100.000/ 500.000) x 25.000.000
= 15% x 55.000.000
= Rp 750.000,00 21
THANKYOU 