Anda di halaman 1dari 35

Case Report

Abortus Inkomplit

Oleh
dr. Ahmat tasnim

Pembimbing
dr. Yola Khairanisyah, Sp.OG
Definisi
 Pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan yaitu berat badan kurang dari 500 gram

 atau usia kehamilan kurang dari :


 ACOG memberi batasan 20 minggu,
 FIGO memberi batasan 22 minggu,
 Hanretty memberikan batasan 24 minggu,
 WHO memberi batasan 28 minggu
Epidemiologi
 Negara berkembang  prevalensi abortus mencapai 160 per
100.000 kelahiran hidup
 Paling tinggi terdapat di Afrika yaitu 870 per 100000
kelahiran hidup
 Sekitar 75% abortus spontan  ditemukan usia gestasi <16
minggu dan 62% sebelum usia gestasi 12 minggu
 Insidensi abortus inkomplit belum diketahui secara pasti,
disebutkan sekitar 60% dari wanita hamil dirawat di RS
dengan perdarahan akibat mengalami abortus inkomplit
 Inisidensi abortus spontan  10% dari seluruh kehamilan
Faktor Risiko
 Bertambahnya usia ibu.
 Meningkat setelah usia 30 tahun
 13,3% pada usia 12-19 tahun
 11,1% pada usia 20-24 tahun
 11,9% pada usia 25-29 tahun
 15% pada usia 30-34 tahun
 24,6% pada usia 35-39%
 51% usia 40-44 tahun
 93,4% pada usia 45 tahun ke atas
 Baru-baru ini peningkatan usia ayah dianggap sebagai suatu faktor
risiko terjadinya abortus
 Penelitian diEropa  risko tertinggi wanita ≥35 tahun dan pria
≥40 tahun
 Riwayat reproduksi abortus
Pada pasien yang baru mengalami riwayat :
1 kali berisiko 19%
2 kali berisiko 24%
3 kali berisiko 30%
4 kali berrisiko 40%
Menurut Malpas dan Eastman kemungkinan terjadinya abortus lagi
pada seorang wanita yang mengalami abortus habitualis ialah 73%
dan 83,6%.
 Kebiasaan orang tua

 Merokok
 Konsumsi alkohol
 Kafein  5 cangkir (500mg kafein) kopi setiap hari menunjukkan
tingkat abortus yang sedikit lebih tinggi
 Radiasi
 Alat kontrasepsi
 Psikologis seperti ansietas dan depresi
Etiologi
 Faktor Genetik
50%-70%
Kelainan genetik menjadi penyebab 70% 6 minggu pertama,
50% sebelum 10 minggu, dan 5% setelah 12 minggu
Kelainan kromosom (50% Trimester 1)
Kelainan gen
o Mutasi gen reseptor progesteron
o Mutasi gen hemostatik
o Mutasi gen inflamasi
o Ekspresi gen plasenta
o Mutasi gen mitokondria
 Gangguan plasenta
 Kelainan uterus
 Infeksi  Treponema pallidum, Chlamydia trachomatis, Neisseria
gonorhoeae, Streptococcus agalactina, virus herpes
simpleks,toxoplasma
 Trauma
Klasifikasi
 Tujuan
1. Abortus medisinalis
2. Abortus kriminalis
3. Abortus spontan
 Jenis
1. Abortus Iminens
2. Abortus Insipiens
3. Abortus inkomplit
4. Abortus Komplit
5. Missed Abortion
6. Abortus rekuren
7. Abortus Septik
8. Blighted ovum
 Waktu (Menurut Shiers (2003)
1. Abortus dini (<12 minggu)
2. Abortus Lanjut (>12 minggu)
Patogenesis & Patofisiologi
 Lepasnya sebagian/seluruh bagian embrio akibat adanya
perdarahan minimal pada desidua yang menyebabkan nekrosis
jaringankontraksi uterus
 Benda asing  uterus kontraksi  mengeluarkan isinya
Diagnosa dan DD
 PPV (+)
 Pembukaan serviks
 Jaringan dalam CUT / vagina
Penatalaksanaan
 Abortus imminens
 Tirah baring/membatasi aktivitas  minimalkan rangsangan PG
 Terapi hormon estrogen dan progesteron  tdk dianjurkan 
metaanalisis terapi hormon = plasebo
 Terapi dydrogesteron  menyokong pertumbuhan uterus
 Penelitian Zibdeh et al. menunjukkan adanya pengurangan insidensi
abortus rekuren pada kelompok yang diterapi dydrogesteron dibanding
kelompok kontrol
 Hindari campur  invasi bakteri dan cairan semen dapat merangsang
kontraksi uterus dan oksitosin
 Vitamin C dan E antioksidan
 Tokolitik Beta Agonis
 Abortus insipiens
 Rawat
 Drip oksitosin atau Misoprostol 400 mikrogram (dapat diulang /4jam)
atau ergometrin (dapat diulang/15 menit)
 Analgetik
 Pertimbangan kuretase

 Abortus inkomplit
 Rawat
 Medikamentosa  misoprostol
 Kuretase

 Abortus komplit
 Perbaiki keadaan umum
 Infeksi harus dikendalikan dengan antibiotik yang tepat
 Hasil konsepsi dalam uterus harus dievakuasi, bila perlu dilakukan
laparotomi eksplorasi, sampai pengangkatan rahim
 Abortus rekuren
 Memperbaiki keadaan umum
 Pemberian makanan yang sempurna
 Anjuran istirahat cukup banyak
 Larangan koitus dan olah raga
 Terapi dengan hormon progesteron, vitamin, hormon tiroid, dan lainnya
mungkin hanya mempunyai pengaruh psikologis
• Missed abortion
 Bila gestasional <12 minggu, bisa langsung dilakukan dilatasi dan
kuretase jika seviks memungkinkan
 Bila gestasional >12 minggu / <20 minggu, dilakukan induksi (untuk
mengeluarkan janin) & diberi Invus (iv) cairan oksitosin (untuk
profilaksis retensi cairan)
 Bila usia gestasi lebih dari 4 minggu gangguan trombosis darah oleh
karena hipofibrinogenemia sehingga perlu diperiksa koagulasi sebelum
tindakan evakuasi dan kuretase
 Abortus infeksi atau septik

 Kuretase dilakukan setelah 6 jam diberikan antibiotika yang


adekuat
 Pada infeksi beratdiberikan ampisilin intravena 2 g setiap 6 jam,
gentamisin 5 mg/kgBB intravena selama 24 jam, dan
metronidazole 500 mg intravena setiap 8 jam
 infeksi ringancukup diberikan amoxicillin oral 3 kali sehari
selama 5 hari, metronidazole oral 400 mg 3 kali sehari selama 5
hari, dan gentamisin intravena 5 mg/kgBB

 Blighted ovum
 Dilatasi dan kuraetase secara selektif.
Prognosis
 angka kesembuhan setelah tiga kali abortus berturut-turut
berkisar antara 70 dan 85 %,
 Warburton dan Fraser (1964) menunjukkan kemungkinan
abortus rekuren adalah 25-30%
LAPORAN KASUS

 Seorang pasien wanita berusia 26 tahun datang ke KB UGD


RSUD Sijunjung pada tanggal 12 Desember 2018, pukul
04.00 WIB dengan identitas:
 Nama : Ny. P
 Usia : 26 tahun
 Alamat : Batu Ajuang Sijunjung
 Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
 Agama : Islam
 Status Menikah : Menikah
KU
 keluhan keluar darah dari kemaluan.

Riwayat Penyakit Sekarang


 Hal ini dialami pasien sejak 1 minggu ini dan memberat dalam 1 hari
terakhir. Pukul 01.30 WIB darah yang keluar berwarna merah kehitaman
disertai gumpalan darah, frekuensi 3 kali. Pasien melihat keluar
gumpalan darah seperti jaringan atau mata ikan. Keluhan ini disertai
dengan nyeri ari-ari sampai ke pinggang. Awalnya, pasien mengaku tidak
memeriksakan dirinya ke dokter atau bidan karena ia menganggap hal ini
wajar akan tetapi karena darah yang keluar semakin deras dan
menggumpal, pasien memutuskan untuk datang ke RS.
 Riwayat terjatuh selama kehamilan tidak ada.
 Riwayat demam (-), keputihan (-)
 Ini merupakan kehamilan ke 3, anak hidup 2 orang
 Riwayat dan Kebiasaan
Riwayat Penggunaan Obat rutin tidak ada
 Riwayat Penyakit Terdahulu
Tekanan darah tinggi, gula, jantung, asma, dan alergi
disangkal
Riwayat abortus sebelumnya tidak ada
 Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami hal yang sama
dengan pasien
 Riwayat Menstruasi :
HPHT :15-09-2018
TTP :22-06-2019
ANC :tidak pernah dilakukan
Menarche :15 tahun
Siklus :25-32 hari
Lama Haid :5-7 hari, teratur
Ganti pembalut :2-3 kali sehari
Nyeri haid :-
 PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Sakit sedang
Kesadaran : Komposmentis kooperatif
Tekanan Darah : 95/60 mmHg
Nadi :78 kali/menit
Nafas : 22 kali/menit
Suhu : 36 °C
STATUS GENERALISATA
 Kulit : tidak tampak kelainan
 KGB : tidak tampak dan tidak teraba pembesaran
 Kepala : Normocephal, rambut hitam tidak mudah rontok
 Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor.
 Leher : JVP 5 – 2 CmH2O, tidak terdapat pembesaran kelenjar
tiroid dan KGB.
 Paru
 Inspeksi : simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis.
 Palpasi : fremitus tidak dilakukan
 Perkusi : sonor
 Auskultasi : vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-
 Jantung
 Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
 Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari medial linea midclavicula sinistra
RIC V
 Perkusi : batas jantung dalam batas normal
 Auskultasi : irama teratur, bising tidak ada, bunyi tambahan tidak ada
 Abdomen : Status obstetrikus
 Punggung : Tidak ada kelainan
 Genitalia : Status obstetrikus
 Anus : Colok dubur tidak dilakukan
 Ekstremitas : Akral hangat, CRT 3 detik, edema - / - pada
kedua tungkai bawah, Reflek fisiologis + / +, Reflek
patologis - / -
Status Obstetrikus
Abdomen
 Inspeksi : Soepel, tidak teraba massa, nyeri tekan (-)
 Palpasi :
Leopold I :TFU tidak teraba
Leopold II :Tidak dapat dinilai
Leopold III :Tidak dapat dinilai
Leopold IV :Tidak dapat dinilai
 Perkusi : timpani
 Auskultasi :Bising usus (+) Normal
Genitalia
 Inspeksi :Massa (-), P/V (+)
 Inspekulo :Portio :licin, erosi (-), lividae (+), fluksus (+) dari kanalis servikalis, OUE
terbuka.
 Vagina :massa (-), laserasi (-), fluksus (+), tampak gumpalan darah di introitus
vagina, dibersihkan kesan tidak mengalir.
 VT bimanual :
 Vagina : Tumor (-)
 Portio : MP, tumor (-), ukuran sebesar jempol kaki dewasa
 CUT : AF, ukuran sebesar telur bebek
 AP : lemas kiri = kanan
 CD : tidak menonjol
Pemeriksaan Penunjang

 Hb : 11,8 gr/dl
 Hematokrit : 34%
 Leukosit : 5300 /mm3
 Trombosit : 204.000 /mm3
 GDS : 99 mg/dl
 BT/CT :1’30”/3”
 Diagnosis :
G3P2A0H2 gravid 11-12 minggu + Abortus Inkomplit

 Tatalaksana
 Kuretase (12/12/2018)
 IVFD RL 500 cc/8 jam + drip oksitosin 1 amp
 Injeksi Cefotaxim 2 x 1 gram IV
 Konsul : Anestesi
Laporan Kuretase
 Ibu dibaringkan di meja operasi dengan posisi litotomi dengan infus
terpasang dengan baik. Dilakukan pengosongan kandung kemih dan
vulva hygiene lalu dilakukan pemasangan doek steril kecuali lapangan
operasi.
 Dilakukan pemasangan sims spekula atas dan bawah
 Dilakukan pemasangan tenakulum pada arah jam 11
 Kemudian sinus spekulum atas dilepaskan
 Dilakukan sondase didapatkan uterus antefleksi panjang 7 cm
 Dilakukan kuretase dengan sendok kuret tajam dari anah jam 12 searah
jarum jam hingga terdengar suara kerokan kelapa dan keluar buih
 Didapatkan sisa jaringan sebesar 50 gram dan stoll cell 50 cc
 Tenakulum dilepas dan sims spekulo bawah dilepas
 Evaluasi perdarahan: t.a.a.
 Keadaan umum ibu post kuret: stabil
 Rencana post kuretase:
 Awasi vital sign dan tanda-tanda pendarahan
Follow-up
ANALISIS KASUS
Kasus Teori Analisis
Seorang pasien wanita berusia 26 Pendarahan pervaginam terdiri Pasien ini mengalami pendarahan
tahun dengan keluhan keluar darah dari mayoritas pendarahan pervaginam dengan berbagai
dari kemaluan antepartum, pendarahan diagnosis banding penyebabnya
postpartum, maupun pendarahan
akibat abnormalitas ginekologi
tertentu sehingga harus diketahui
status gestasi pasien

Darah yang keluar berwarna Abortus imminens, PPV Pasien pada kasus ini kemungkinan
merah kehitaman disertai bercak-bercak tanpa keluarnya mengalami jenis abortus
gumpalan darah, frekuensi 3 kali. jaringan dan nyeri perut ringan. inkomplit.
Pasien melihat keluar gumpalan Abortus insipiens, PPV 
darah seperti jaringan atau mata sedang-banyak tanpa+keluarnya
ikan. Keluhan ini disertai dengan jaringan dan nyeri perut berat.
nyeri ari-ari sampai ke pinggang Abortus inkomplit, PPV 
sedang sampai banyak+keluarnya
sebagian jaringan
Abortus komplit, PPV sedikit
atau bahkan tidak ada disertai
Pada pemeriksaan obstetrikus, Pada abortus inkomplit, tidak Hasil pemeriksaan obstetrikus
dijumpai abdomen seopel, nyeri ada pemeriksaan obstetrik yang pasien ini menunjukkan
tekan tidak dijumpai, TFU tidak spesifik.Yang dapat terlihat diagnosis pasien ini lebih ke arah
teraba, dan terdapat perdarahan hanya pendarahan pervaginam. abortus inkomplit dibanding
pervaginam abortus komplit karena masih
dijumpai adanya pendarahan
pervaginam
Pada pemeriksaan ginekologis, Pada pemeriksaan VT ditemukan Dari hasil pemeriksaan
dari inspekulo tampak gumpalan kanalis serviks terbuka, jaringan ginekologis, terlihat bahwa hasil
darah di introitus vagina dan dapat diraba dalam kavum uteri pemeriksaan mendukung untuk
OUE terbuka atau kadang sudah menonjol dari diagnosis abortus inkomplit
ostium uteri eksternum. Pada
pemeriksaan inspekulo,
ditemukan darah segar di sekitar
dinding vagina, porsio terbuka,
dan ditemukan jaringan di jalan
lahir
Penatalaksanaan pada kasus ini Abortus inkomplit dapat Sarana operasi yang tersedia di
adalah kuretase ditatalaksana dengan rawat RSUD Sijunjung adalah
ekspektatif, pembedahan, kuretase sehingga
maupun medikamentosa. penatalaksanaan yang
Menurut SPM POGI, bila dilakukan adalah kuretase
perdarahan ringan dan tajam yang dijadwalkan
kehamilan <16 minggu, dapat secepatnya atau emergensi
dilakukan pengeluaran hasil
konsepsi yang terjepit pada
serviks dengan jari atau
forseps cincin. Bila perdarahan
sedang-berat dan usia
kehamilan <16 minggu,
dilakukan evakuasi hasil
konsepsi dari uterus dengan
pilihan aspirasi vakum atau
kuretase tajam (sumber lain
menyebutkan batasan usia
kehamilan <12-14 minggu)
Terima Kasih