Anda di halaman 1dari 19

TB PADA ANAK

Pengertian
Tuberculosis merupakan penyakit yang
disebabkan oleh bakteri
Mycobacteriumtuberculosis. Meskipun bisa
menginfeksi beragam organ tubuh seperti selaput
otak, kulit,tulang, kelenjar getah bening, namun
lebih sering menginfeksi paru-paru.Jika tidak
segera ditangani TBC bisa menjadi kronis dan
berlangsung bertahun-tahun.
Etiologi
• Faktor Risiko TBC anak (admin., 2007)
Resiko infeksi TBC : Anak yang memiliki kontak dengan orang
dewasa dengan TBC aktif, daerah endemis, penggunaan obat-obat intravena,
kemiskinan serta lingkungan yang tidak sehat. Pajanan terhadap orang dewasa
yang infeksius. Resiko timbulnya transmisi kuman dari orang dewasa ke anak
akan lebih tinggi jika pasien dewasa tersebut mempunyai BTA sputum yang
positif, terdapat infiltrat luas pada lobus atas atau kavitas produksi sputum
banyak dan encer, batuk produktif dan kuat serta terdapat faktor lingkungan
yang kurang sehat, terutama sirkulasi udara yang tidak baik.
Pasien TBC anak jarang menularkan kuman pada anak lain atau orang
dewasa disekitarnya, karena TBC pada anak jarang infeksius, hal ini
disebabkan karena kuman TBC sangat jarang ditemukan pada sekret
endotracheal, dan jarang terdapat batuk. Walaupun terdapat batuk tetapi jarang
menghasilkan sputum. Bahkan jika ada sputum pun kuman TBC jarang, sebab
hanya terdapat dalam konsentrasi yang rendah pada sektret endobrokial anak.
• Resiko Penyakit TBC
Anak ≤ 5 tahun mempunyai resiko lebih besar
mengalami progresi infeksi menjadi sakit TBC, mungkin
karena imunitas selulernya belum berkembang sempurna
(imatur). Namun, resiko sakit TBC ini akan berkurang
secara bertahap seiring pertambahan usia. Pada bayi < 1
tahun yang terinfeksi TBC, 43% nya akan menjadi sakit
TBC, sedangkan pada anak usia 1-5 tahun, yang menjadi
sakit hanya 24%, pada usia remaja 15% dan pada dewasa
5-10%. Anak < 5 tahun memiliki resiko lebih tinggi
mengalami TBC diseminata dengan angka kesakitan dan
kematian yang tinggi . Konversi tes tuberkulin dalam 1- 2
tahun terakhir, malnutrisi, keadaan imunokompromis,
diabetes melitus, gagal ginjal kronik dan silikosis. Status
sosial ekonomi yang rendah, penghasilan yang
kurang, kepadatan hunian, pengangguran, dan pendidikan
yang rendah.
Patofisiologi
Pada TBC anak, kuman berkembang biak di kelenjar paru-
paru. Jadi, kuman ada di dalam kelenjar, tidak terbuka. Proses
penularan tuberculosis dapat melalui proses udara atau langsung,
seperti saat batuk. Terdapat dua kelompok besar penyakit ini
diantaranya adalah sebagai berikut: tuberculosis paru primer dan
tuberculosis post primer.
Tuberculosis primer sering terjadi pada anak, proses ini dapat
dimulai dari proses yang disebut droplet nuklei, yaitu statu proses
terinfeksinya partikel yang mengandung dua atau lebih kuman
tuberculosis yang hidup dan terhirup serta diendapkan pada permukaan
alveoli, yang akan terjadi eksudasi dan dilatasi pada kapiler,
pembengkakan sel endotel dan alveolar, keluar fibrin serta makrofag ke
dalam alveolar spase.
Tuberculosis post primer, dimana penyakit ini terjadi pada
pasien yang sebelumnya terinfeksi oleh kuman Mycobacterium
tuberculosis (Hidayat, 2008). Sebagian besar infeksi tuberculosis
menyebar melalui udara melalui terhirupnya nukleus droplet yang
berisikan mikroorganisme basil tuberkel dari seseorang yang terinfeksi.
Manifestasi klinis
Menurut Wirjodiardjo (2008) gejala TBC pada anak tidak serta-
merta muncul. Pada saat-saat awal, 4-8 minggu setelah infeksi,
biasanya anak hanya demam sedikit. Beberapa bulan kemudian,
gejalanya mulai muncul di paru-paru. Anak batuk-batuk sedikit.
Tahap berikutnya (3-9 bulan setelah infeksi), anak tidak napsu
makan, kurang gairah, dan berat badan turun tanpa sebab. Juga ada
pembesaran kelenjar di leher, sementara di paru-paru muncul
gambaran vlek. Pada saat itu, kemungkinannya ada dua, apakah
akan muncul gejala TBC yang benar-benar atau sama sekali tidak
muncul. Ini tergantung kekebalan anak. Kalau anak kebal (daya
tahan tubuhnya bagus), TBC-nya tidak muncul. Tapi bukan berarti
sembuh. Setelah bertahun-tahun, bisa saja muncul, bukan di paru-
paru lagi, melainkan di tulang, ginjal, otak, dan sebagainya. Ini yang
berbahaya dan butuh waktu lama untuk penyembuhannya.
Gejala-gejala lain (Wirodiarjo, 2008)
• Penurunan berat badan
• Deman lama dan berulang
• Batuk lebih dari 3 minggu
• Pembesaran kelenjar dikulit terutama bagian
leher
• Mata merah
Pemeriksaan penunjang
• Kultur sputum
• Ziehl Neelsen
• Test kulit
• Western Bolt
• Foto thorax
• Kultur jaringan
• Biopsi jarum pada jaringan paru
• Pemeriksaan fungsi paru
Penatalaksanaan
• Penatalaksananaan Medis
Dalam pengobatan TB paru dibagi 2 bagian :
Jangka pendek. Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka waktu 1 – 3 bulan.
• Streptomisin inj 750 mg.
• Pas 10 mg.
• Ethambutol 1000 mg.
• Isoniazid 400 mg.
Kemudian dilanjutkan dengan jangka panjang, tata cara pengobatannya adalah setiap 2 x
seminggu, selama 13 – 18 bulan, tetapi setelah perkembangan pengobatan ditemukan terapi.
Therapi TB paru dapat dilakukan dengan minum obat saja, obat yang diberikan dengan jenis :
• INH.
• Rifampicin.
• Ethambutol
Dengan fase selama 2 x seminggu, dengan lama pengobatan kesembuhan menjadi 6-9 bulan.
Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan dalam pemeriksan sputum
BTA ( + ) dengan kombinasi obat :
• Rifampicin.
• Isoniazid (INH).
• Ethambutol.
• Pyridoxin (B6).
• Penatalaksanaan Keperawatan
Menurut Hidayat (2008) perawatan anak dengan
tuberculosis dapat dilakukan dengan melakukan :
1. Pemantauan tanda-tanda infeksi sekunder
2. Pemberian oksigen yang adekuat
3. Latihan batuk efektif
4. Fisioterapi dada
5. Pemberian nutrisi yang adekuat
6. Kolaborasi pemberian obat antutuberkulosis
(seperti: isoniazid, streptomisin, etambutol,
rifamfisin, pirazinamid dan lain-lain)
WOC
Teori Askep Tb pada Anak
1. Pengkajian
a. Pola aktivitas dan istirahat
• Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul.
sesak (nafas pendek), demam, menggigil.
• Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable,
sesak (tahap, lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru),
demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.
b. Pola nutrisi
• Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan
berat badan.
• Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik,
kehilangan lemak sub kutan.
c. Respirasi
• Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit
dada.
• Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum
hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah,
pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi
basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas
atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas,
pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.),
perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural),
deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
d. Rasa nyaman/nyeri
• Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
• Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku
distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang
sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.
e. Integritas Ego
• Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan,
perasaan tak berdaya/tak ada harapan.
• Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas,
ketakutan, mudah tersinggung
f. Keamanan
• Subyektif: adanya kondisi penekanan imun, contoh
AIDS, kanker.
• Obyektif: demam rendah atau sakit panas akut.
g. Interaksi Sosial
• Subyektif: Perasaan isolasi/ penolakan karena penyakit
menular, perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/
perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.
Diagnosa Keperwatan
1. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan
dengan proses infeksi.
2. Defisit pengetahuan tentang proses infeksi
berhubungan dengan kurang sumber informasi.
3. Risiko gangguan dalam menjalankan peran
sebagai orang tua yang berhubungan dengan
isolasi pasien.
4. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan
dengan adanya sekret.
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia
Peran keluarga dalam proses perawatan
di rumah
1. Mengawasi pasien dalam kepatuhan dan ketepatan untuk
mengkonsumsi obat.
2. Mendukung pasien untuk melakukan kepatuhan pengobatan
hingga sembuh.
3. Melakukan upaya pencegahan penularan Tb dalam keluarga :
 Memisahkan makanan dengan penderita TB
 Memisahkan alat makan yang dipakai penderita TB
 Membuka jendela rumah untuk membunuh kuman TBC
 Menjemur kasur pasien TB untuk membunuh kuman TBC yang
mungkin tertinggal pada kasur
 Mengingatkan pasien untuk menutup mulut saat batuk agar kuman
tidak menyebar ke udara dan dapat menyebabkan penularan ke
orang lain
 Menyiapkan tempat khusus untuk pasien membuang dahak saat
batuk agar kuman TBC yang terkandung dalam dahak tidak tersebar
 Imunisasi balita di rumah