Anda di halaman 1dari 42

Sustainable Transport

1. TRANSPORTASI PERKOTAAN DAN


PERKEMBANGAN KOTA
Transportasi pada dasarnya mempunyai dua fungsi
utama, yaitu melayani kebutuhan akan transportasi
dan merangsang perkembangan. Untuk
pengembangan wilayah perkotaan yang baru, fungsi
merangsang perkembangan lebih dominan. Hanya
saja perkembangan tersebut perlu dikendalikan (
salah satunya dengan peraturan ) agar sesuai dengan
bentuk pola yang direncanakan.
• Transportasi perkotaan mempunyai tujuan yang luas,
yaitu membentuk suatu kota dimana kota akan hidup
jika sistem transportasi berjalan baik.
• Transportasi dan tata guna lahan berhubungan
sangat erat, sehingga biasanya dianggap membentuk
satu landuse transport system.
• Terciptanya suatu sistem transportasi atau
perhubungan yang menjamin pergerakan manusia
dan/atau barang secara lancar, aman, cepat, murah
dan nyaman merupakan tujuan pembangunan di
sektor perhubungan (transportasi).
• Semakin
berkembangnya suatu
kota maka akan timbul
kemacetan,
Kemacetan adalah
situasi atau keadaan
tersendatnya atau
bahkan terhentinya lalu
lintas yang disebabkan
oleh banyaknya jumlah
kendaraan melebihi
kapasitas jalan.
Solusi yang dapat digunakan untuk menanggulangi masalah kemacetan lalu
lintas:
1. Penyediaan sarana transportasi umum yang layak.
2. Penggunaan jalur satu arah. Penggunaan jalur satu arah pada jalan raya
ini sangatlah diperlukan untuk menanggulangi masalah kemacetan lalu
lintas.
3. Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi.
4. Larangan tegas bagi pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan
dan parkir liar yang sering kali menghambat laju kendaraan.
5. Memperbanyak armada kendaraan masal yang memadai.
6. Meningkatkan kapasitas jalan
7. Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan
tertentu yang akan dibatasi lalu lintasnya,.
2. SEBUAH KOTA UNTUK
MASYARAKAT
Sebuah Kota Untuk Masyarakat
Visi Kota

Terwujudnya kawasan perkotaan yang layak huni, berkeadilan sosial,


sejahtera, produktif, berkembang secara berkelanjutan sesuai dengan
potensinya serta saling memperkuat dalam mewujudkan pengembangan
wilayah yang serasi dan seimbang, dilaksanakan oleh para stakeholders
kota secara bersama-sama.

Untuk itu, kota juga harus didukung oleh sistem transportasi yang
efisien.
Livable Cities : Kota Untuk Manusia Bukan untuk
Kendaraan

Perencanaan dan perancangan kota yang livable haruslah mengedepankan


prioritas pada kualitas hidup warganya bukan mewadahi kendaraan.

Warga kota tidak seharusnya menghabiskan waktu mereka di jalan dan


terjebak kemacetan.

Warga kota seharusnya dapat berjalan dan bersepeda dengan bebas di jalan
– jalan tanpa merasa khawatir akan tertabrak oleh mobil atau motor.
Bukan berarti moda transportasi tidak penting bagi perkotaan namun
seharusnya transportasi menjadi salah satu elemen dalam kehidupan kota
bukan keseluruhan elemen.

Kota harus dirancang sedemikian rupa sehingga akses pencapaian warga


terhadap fasilitas yang vital dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki
atau bersepeda.

Moda transportasi diprioritaskan pada transportasi publik yang nyaman,


aman, dan terintegrasi antara satu dengan yang lain. Perancangan
transportasi publik yang berkelanjutan sangatlah penting.

Hampir seluruh kota besar di Eropa dan Amerika telah membangun ulang
kota – kota mereka menjadi kota yang ramah untuk penduduknya.
Kendaraan bermotor pribadi dibatasi, digantikan oleh kendaraan publik
yang nyaman dan aman.
Warga pun dapat berjalan atau bersepeda dengan bebas di jalan – jalan
kota.
Coppenhagen, Denmark

1. Membatasi ruang untuk parkir,


terutama parkiron - street yang
memakan ruang banyak di
Coppenhagen.
2. Mengurangi jumlah lajur
kendaraan di jalan - jalan utama dan
menggunakan lajur yang sudah ada
untuk jalur bus dan sepeda.
3. Penerapan aturan lalu lintas yang
ketat
4. Mengembangkan jaringan kereta
untuk kawasan suburban, serta bus
dan sepeda.
Bogota, Colombia

Dicanangkan kebijakan transportasi massal yang terintegrasi


berupaBRT (Bus Rapid Transport) yang dikenal dengannama
TransMilenio dengan kecepatan, efisiensi, dan harga yang
terjangkau sertasebanding dengan aksesibilitasnya yang mampu
menjangkau seluruh kota.

Adanya kebijakan bebas kendaraan bermotor yang diterapkan di


jalan – jalan utama. Setiap Minggu dan saat hari libur, jalan – jalan
utama ditutup dan hanya diperuntukkan bagi mereka yang ingin
berjalan – jalan, bersepeda, atau melakukan kegiatan
rekreasional lainnya. Kegiatan ini disebut Ciclovía
Kebijakan yang keras
terhadap parkir on -
street maupun parkir
yang mengambil ruang
jalur pedestrian,
terutama sidewalks,
menjadikan jalan utama
tengah kota Jimenez
Avenue sebagai jalur
pedestrian, dan
menerapkan sistem yang
melarang penggunaan
mobil di saat jam padat
serta meningkatkan
jumlah ruang hijau dan
area bermain disekitar
pemukiman di Bogota.
3. KONSEKUENSI PENGGUNAAN
KENDARAAN YANG TIDAK DI
KENDALIKAN
Konsekuensi Penggunaan Kendaraan Yang Tidak Dikendalikan

Kepadatan Penduduk Penggunaan Kendaraan yang Tidak


Terbatas

Kesenjangan Sosial Pembangunan ke Pinggiran Kota

Kemacetan Lalu Lintas Kecelakaan Lalu Lintas

Tingginya Tingkat Kebisingan ,


Polusi Suara & Udara

Pengeluaran Belanja Publik yang


Regresif
Sifat dasar Transportasi
berbasis kendaraan tidak
berkelanjutan dapat
digambarkan dengan melihat
kenyataan bahwa masalah
akan memburuk ketika
masyarakat tumbuh semakin
kaya, kecuali bila penggunaan
kendaraan di btatasi dengan
ketat. Contohnya di Singapura
misalnya ada beberapa kota
seperti di Tokyo dan Hong
Kong yang menyediakan
ruang parkir di Pusat
Kawasan Bisnis dengan
jumlah terbatas.
Terdapat kepentingan yang bertolak belakang antara kendaraan bermotor dan
manusia. Semakin kota dibangun untuk mengakomodir kendaraan bermotor,
semakin berkurang respek atas martabat manusia.
Hal ini dikarenakan perbedaaan kualitas hidup antargolongan berpengasilan tinggi
dan golongan berpengasilan rendah semakin mencolok.
Cara Menanggulangi
 Mengurangi jumlah kendaraan bermotor yang ada, hal ini
dapat dilakukan dengan penyedian sarana transportasi
yang bersifat masal yang nyaman, sehingga dapat
menjadi alternatif terbaik bagi masyarakat dan dapat
mengurangi jumlah kendaraan pribadi
 Perbaikan mutu gas buang dari kendaraan bermotor, baik
dari segi desain, perawatan maupun pemakaian bahan
bakar yang seminimal mungkin dapat
memberikan pencemaran terhadap lingkungan
 Mengurangi kemacetan lalu lintas di jalan sehingga
pemborosan energi dan pencemaran lingkungan dapat
dikurangi
4. MEMBATASI PENGGUNAAN
KENDARAAN PRIBADI
4. Membatasi Penggunaan Kendaraan pribadi

lebih
Solusi
banyak kendaraan
berkelanjut masyarakat
menggunak pribadi
an
an
daripada

angkutan
umum
Bea

Biaya Biaya
penggunaan registrasi
yang tinggi kendaraan
Pajak bahan
bakar

Memiliki tingkat kepemilikan


Kota-kota
kendaraan bermotor yang jauh lebih
industri
tinggi
Memiliki tingkat kepemilikan
Kota-kota
kendaraan bermotor yang jauh lebih
berkembang
rendah
Manfaat Pembatasan penggunaan kendaraan akan
menghasilkan

waktu perjalanan yang lebih singkat sumber daya publik yang tersedia
karena lalu lintas kendaraan tidak dapat digunakan untuk investasi yang
memperlambat jalannya bus; mempunyai prioritas;

lingkungan yang lebih manusiawi dan


udara lebih bersih; tidak berbahaya bagi pertumbuhan
anak-anak;

berkurangnya jalan-jalan arteri


berkurangnya tingkat kebisingan; kecepatan tinggi yang merusak
lingkungan.

adanya hubungan yang lebih ramah


dengan para pemilik kendaraan;
Penghematan publik dalam bentuk konstruksi dan pemeliharaan jalan, polisi lalu
lintas dan biaya rumah sakit atas orang yang cidera akibat kecelakaan lalu lintas atau
menderita polusi udara, dapat digunakan tidak hanya untuk menyediakan angkutan
umum yang baik melainkan dapat juga dipergunakan untuk pembangunan sekolah,
perpustakaan dan taman.

Gambar Penutupan Jalan Di Malam Hari Diterapkan Di


Daerah Kowloon, Hong Kong
Bogota di tahun-tahun terakhir telah
melaksanakan sejumlah skema untuk
mengurangi jumlah penggunaan
kendaraan. Dengan menggunakan
system nomor identisikasi, 40% dari
jumlah seluruh kendaraan harus
berada di luar jalan selama jam sibuk
setiap hari. Setiap kendaraan harus
mengikuti peraturan ini dua kali dalam
seminggu. Hal ini dapat mengurangi
wakt perjalanan sehari-hari sekitar 48
menit dan mengurangi tingkat
pencemaran. Konsumsi bahan bakar
pun menurun 10,3%.

Penutupan jalan arteri utama bagi lalu


lintas kendaraan bermotor selama 7
jam setiap hari minggu. Bogota juga
menambah jumlah kilometer jalan
yang tertutup untuk lalu lintas Gambar Ciclovia (Penutupan Jalan
kendaraan Arteri Utama Bagi Lalu Lintas) Bogota
Bila kemacetan semakin parah harus dilakukan manajemen lalu lintas yang lebih ekstrem
sebagai berikut:
a. Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan tertentu melalui
Electronic Road Pricing (ERP). Bentuk lain dengan penerapan kebijakan parkir yang
dapat dilakukan dengan penerapan tarif parkir yang tinggi di kawasan yang akan
dibatasi lalu lintasnya, ataupun pembatasan penyediaan ruang parkir dikawasan yang
akan dibatasi lalu lintasnya,
b. Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatan biaya pemilikan
kendaraan, pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, bea masuk yang tinggi.
c. Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau jalan tertentu, seperti
diterapkan di Jakarta yang dikenal sebagai kawasan 3 in 1 atau contoh lain
pembatasan sepeda motor masuk jalan tol, pembatasan mobil pribadi masuk
jalur busway.
3 rahasia di singapore anti macet :
1. Vehicle Quota System atau sistem kuota kendaraan
Kebijakan mengatur pertumbuhan kendaraan di Singapura sejak thn 1990.
Berdasarkan kebijakan ini, jumlah kendaraan baru yang berhak melakukan registrasi
izin didasarkan pada data pertumbuhan kendaraan dan jumlah kendaraan yg sudah
habis masa berlakunya.
2. Preferential Additional Registration Fee (PARF)
Kebijakan ini sudah dilakukan pd thn 1975 yg bertujuan mendorong para pemilik
kendaraan pribadi utk membuang atau menyudahi pemakaiannya sebelum masa
berlaku 10 tahun habis. Biaya utk PARF ini hampir sama dgn biaya utk memiliki
kendaraan baru lagi sehingga banyak penduduk Singapura yg memilih utk
menyudahi pemakaian dan kemudian membeli baru.
3. Electronic Road Pricing (ERP)
Kebijakan ini membuat penduduk Singapura mempertimbangkan keputusannya utk
memiliki kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat. Ditambah lagi,
sulitnya mencari lahan parkir sehingga harus parkir di dalam gedung yang tarifnya
tidak murah
Solusi implementasi :
 Meningkatkan beaya pajak, sehingga seorang jika ingin membeli
kendaraan pribadi akan memikirkan terlebih dahulu
 Mengurangi produk lissing kendaraan.
 Sisi administrasi : Dalam pembuatan PBKB diharapkan melampirkan KK.
Hal ini untuk mengantisipasi dalam satu kepala keluarga mempunyai
kendaraan lebih dari satu.
 Memperbanyak dan memperbaiki tingkat kenyamanan tranportasi masa
 Membuat system penerapan aplikatif : Seperti menyediakan banyak mobil
jemputan untuk karyawan kantor. Dan mempermudah dan mempercepat
jarak rute dari rumah pekerja ke kantor dengan mobil jemputan. Untuk
pelajar : membuat kebijakan untuk masing2 sekolah dilarang membawa
kendaraan dan diharapkan menggunakan bus sekolah ( harus diperbanyak
rute dan jumlahnya)
5. TRANSMILENIO
Transmilenio
• TransMilenio adalah sistem angkutan berbasis bus
yang paling banyak memberikan kontribusi atas
peningkatan kualitas hidup dan memberikan keyakinan
kepada masyarakat akan masa depan yang lebih baik
di Bogota, Kolombia.
• Penumpang dapat membeli tiket pada saat memasuki wilayah
stasiun. Dengan cara ini puluhan penumpang naik dan turun
dengan cepat.
• Investasi publik di Bogota sebesar 5 juta USD per kilometer,
biaya ini tidak hanya khusus untuk membangun jalan arteri
khusus bus tetapi juga untuk meningkatkan fasilitas pejalan
kaki, trotoar, plaza, pepohonan dan sebagainya.
• Biaya oprasional termasuk rendah, per penumpang dikenai
tarif sebesar 0,40 USD.
• Para penumpang hanya dapat naik dan turun hanya
di halte yang telah ditetapkan.
• Tinggi lantai bus disamakan dengan lantai halte jadi
keluar-masuk bus dapat di lakukan dengan aman dan
bus juga dapat sepenuhnya diakses oleh penyandang
cacat.
• TransMileno
menggunakan bus
gandeng dengan
kapasitas 165
orang penumpang
dan menggunakan
mesin diesel yang
bersih.
6. DARI VISI KE IMPLEMENTASI
Sebuah Visi kebijakan : bagaimana seharusnya tata ruang kota di 5/20/20
tahun mendatang?

Visi :
Terselengaranya transportasi perkotaan yang efisien dan berkualitas
dalam menunjang pergerakan orang atau barang dengan
keseimbangan antara angkutan umum dan pribadi dalam rangka
perwujudan pertumbuhan ekonomi, lingkungan dan sosial.

Tujuan :
1. memberikan pedoman dan arahan bagi wilayah perkotaan dalam
pelaksanaan pembangunan dan pengembangan sistem
transportasinya.
2. Sebagai bahan dan pedoman dalam mengevaluasi pelaksanaan
pembangunan dan pengembangan sistem transportasi di wilayah
perkotaaan.
Kita perlu memisahkan dengan jelas antara visi dan tujuan.
Langkah –langkah kebijakan harus selalu dicocokkan dengan
tujuan dan efektifitas biaya dalam mencapai tujuan tersebut
harus dievaluasi.

a. Standard udara sekitar yang diterapkan WHO tidak boleh dilampaui.

b. Akses ke barang, jasa dan lokasi yang penting harus tersedia bagi setiap orang
tanpa memperdulikan tingkat penghasilan atau memperdulikan.

c. Kaum misikin mengeluarkan lebih dari penghasilan dan waktu mereka untuk
melakukan mobilitas dasarnya daripada kaum kaya: jurang pemisah ini harus
dikurangi.
d. Aktifitas sosial harus mendapat hak yang sama atas alokasi ruang dengan
kendaraan bermotor. Kota harus dirancang untuk masyarakatnya dan bukan untuk
kendaraan bermotor.

e. sistem transportasi harus dirancang dan dioperasikan sedemikian rupa sehingga


kesehatan dan keselamatan semua orang terjamin dan kualitas hidup masyarakat
akan terjamin.

f. Masyarakat perlu sepenuhnya terlibat dalam proses pengambilan keputusan


tentang kelangsungan transportasi dan diberdayakan turut untuk berpartisipasi.

g. sistem transportasi harus memanfaatkan lahan dan sumber daya alami lainnya
secara efisien.

h. Kebijakan ekonomi dan perpajakan harus berfungsi untuk, dan bukan menentang
transportasi yang berkelanjutan.
Perekonomian Kuantitatif , Lingkungan dan
Target Sosial

Target Kuantitatif

Pemilihan Moda

Waktu
Tujuan dan Arah Sebuah Visi
Tujuan Jangka Pendek :

 Penurunan jumlah kecelakaan lalu lintas sampai


30%
 Masyarakat harus dibekali tentang hal transportasi
dan lingkungan
 Meningkatkan sarana angkutan umum
 Pengaturan khusus untuk sepeda dan becak
TUJUAN JANGKA MENENGAH

Tujuan jangka menengah juga harus memenuhi


standar WHO, selain dari jumlah hari dan
wilayah yang terbatas.
Efek rumah kaca yang dapat berupa
pembatasan pertumbuhan emisi gas menjadi
separuh dari apa yang ditetapkan tanpa adanya
strategi baru . Kesadaran dan partisipasi
masyarakat bertujuan untuk meningkatkan
lebih jauh tentang sistem transportasi.
Tujuan Jangka Panjang
Dalam tujuan jangka panjang sistem transportasi berkelanjutan
penilaian dikembangkan setelah penelitian tentang masalah yang
telah timbul sebelumnya.
Masalah kualitas udara sekitar dan tingkat kebisingan tidak melebihi
nilai batas dalam pedoman yang tercantum guna menghindari
gangguan kesehatan masyarakat , emisi gas rumah kaca yang
berkurang sampai tingkat tertentu untuk memenuhi kebijakan global
dan kenyamanan hidup. Serta jumlah kecelakaan yang terjadi dijalan
pun , tidak boleh lebih tinggi dari apa yang terjadi di negara – negara
Eropa atau AS.
6.3 Mengembangkan Langkah-langkah Kebijakan dan Tindakan

- Organisasi dan basis kelembagaan


berbagai bentuk organisasi telah sukses dan terkadang kuang sukses diterapkan di kota-
kota berjkembang.

- Working Groups (kelompok-kelompok kerja)


Working Groups merupakan langkah organisasi yang paling mendasar yang perlu
dilakukan. Pembentukan Working Groups di bidang perencanaan kebijakan
meruoakan satu langkah awal yang sangat penting. Misalnya Working Groups dapat
dibentuk untuk bidang angkutan umum, kendaraan tidak bermotor, bahan bakar yang
lebih bersih, manajemen mutu udara, instrumen ekonomi, manajemen permintaan
transportasi dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Keanggotaan inti dari Working Groups sebaiknya diambil dari kantr-kantor


pemerintah terkait. Misalnya, di bidang kendaraan tidak bermotor, badan-badan
yang diturutsertakan adalah dari divisi lalu lintas dan angkutan, pekerjaan
umum, kantor berita, perncanaan kota dll.
- Steering Committee, Roundtable dan Scientific Board
Secara umum pembentukan suatu komite sejenis Steering Committee
(Komite Pengarah) untuk mengkoordinir aktivitas berbagai kelompok kerja
akan bermanfaat bersamaan dengan dibentuknya sebuah Scientific Board
(Dewan Ilmiah) dimana kepada dewan ini semua pertanyaan yang bersifat
teknis dapat diajukan. Sejenis Roundtable dengan skala yang lebih luas
terdiri dari seluruh pemangku kepentingan local utama-mungkin dengan
30-60 orang anggota dan hanya bertemu secara tidak teratur-juga
diperlukan dalam setiap area kebijakan utama.