Anda di halaman 1dari 40

Diskusi Topik

Diare dan Konstipasi

Moderator : Prof. dr. Marcellus S,


PhD, Sp.PD, K-GEH
Program Pendidikan Dokter Spesialis-I
Presentan : dr. Akbarbudhi
Departemen Antono
Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia / RSUPN Cipto
Mangunkusumo
Jakarta - 2019
Diare

 Definisi (WHO)
adalah buang air besar dengan frekuensi lebih dari tiga kali dengan
konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair dalam 24 jam dengan atau tanpa
disertai dehidrasi
 Diare akut : Buang air besar dengan frekuensi yang meningkat dari
biasanya atau lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi tinja yang lebih
lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya serta berlangsung
dalam waktu kurang dari dua minggu
 Diare kronik : Diare yang berlangsung lebih dari 15 hari

Simadibrata K, Marcellus. Diare akut dan pendekatan diagnostik diare kronik. Dalam Sudoyo Aru W, Alwi I, Setiati S, Setiyohadi B, Simadibrata M, Sudoyo AW. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid I Edisi V. Jakarta: Interna Publishing. 2011;534-556.
Nelwan, Erni Juwita. Diare Akut. Dalam Setyohadi B, Arsana PM, Suryanto A, Soeroto AY, Abdullah M. Kegawatdaruratan Penyakit Dalam Buku I EIMED DASAR. Jakarta: Interna
Publishing. 2016;1:574-579.
Epidemiologi
 Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare, Departemen
Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat trend insidens
kasus yang meningkat
 Pada tahun 2000 IR penyakit Diare 301/ 1000 penduduk, tahun
2003 naik menjadi 374 /1000 penduduk, tahun 2006 naik
menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi
411/1000 penduduk.
 Menurut Riskesdas 2007 Usia penderita diare ini lebih sering
terjadi pada rentang usia 1-4 tahun (16.7%), diikuti usia >65
tahun (9%) dan rentang usia 15-65 tahun (8%)

Soenarto, S.S. Situasi Diare Di Indonesia. Data dan Informasi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. 2011;2:2-25.
Etiologi
 Etiologi Diare Akut (World Gastroenterology Organization
2012)

Farthing, M. 2012. Acute diarrhea in adults and children: a global prospective. World Gastroenterology Organisation.
Diambil dari : http://www.worldgastroenterology.org/UserFiles/file/guidelines/acute-diarrhea-english-2012.pdf. Diakses pada 16 maret 2018.
Pada penelitian diare akut pada 123 pasien di RS
Persahabatan periode 1 November 1993 ~ 30 April 1994,
Hendawanto, Setiawan B dkk.

IPD jilid 5
Etiologi diare kronis
Etiologi tersering Anamnesis Pemeriksaan fisik Penunjang
Infeksi Disertai gejala demam dan mual Sesuai dengan etiologi infeksi Pemeriksaan tinja: leukosit
muntah (+). Darah: leukositosis

Malabsorpsi Lemak Riwayat reseksi usus. Diare membaik Bila berat : malnutrisi Pemeriksaan tinja :
setelah puasa. Tinja mengambang berwarna muda, bau busuk,
pada air toilet ph > 6,8, tes sudan (+),
jumlah lemak > 14 gram/24
jam
Malabsorpsi Riwayat makan makanan yang Bila berat : malnutrisi Pemeriksaan tinja : amilum
Karbohidrat mengandung laktosa (susu), sorbitol (+), ph <5,5, tes reduksi (+)
(pemanis buatan), disertai gejala
kembung, kram abdomen, dan flatus
fruktosa (sirup jagung). Tinja
mengembang pada air toilet, dan
berbau asam
Sindrom Usus Diare pada pagi hari berhubungan Keadaan umum baik, dehidrasi Pemeriksaan tinja: darah
Iritabel dengan stress, berselang antara (-) samar (+), tes
konstipasi dan diare. Banyak keluhan phenolphthalein (+)
menyertai seperti perut begah, mual,
nyeri daerah anus setelah defekasi,
dan sendawa
Karena Obat-obatan Diare berhenti dengan dihentikannya Bisacodyl, anthraquinon,
obat phenolphthalein:
pemeriksaan kromatografi
lapis tipis
Keganasan Disertai gejala demam, darah Pemeriksaan tinja: eritrosit
menyertai tinja normal, disertai nyeri (+)
abdomen terus menerus
Darah : eusinofilia, tumor
marker
Kelainan Endokrin Tirotoksikosis : frekuensi BAB yang Tirotoksikosis: BB turun, suhu Darah : TSH, T3 uptake, FT4
sering, berat badan turun. naik, pembesaran kelenjar
tiroid, tremor
Gejala Klinis

 BAB > 3x/ hari dan konsistensi cair, dapat ditemukan


lender atau darah
 Mual dan atau muntah
 Demam
 Kembung
 Nyeri abdomen
 Lemas
 Dehidrasi dengan derajat bervariasi
Karakteristik gejala klinik berdasarkan
pathogen penyebab diare

WGO 2012
 Pada diare kronik jarang ditemukan kondisi dehidrasi
dan temuan klinis biasanya tidak signifikan tetapi ada
beberapa kondisi yang bisa mengarahkan klinisi
mendeteksi defisiensi vitamin atau mineral.

Gejala klinis Defisiensi

Penurunan berat badan Kalori/lemak/protein

Edema/penurunan masa otot Protein

Kulit kering bersisik Asam lemak esensial

Anemia Besi, folat, vitamin B12

Glossitis, dermatitis Asam nikotinat

Mudah memar, berdarah Vitamin K

Rabun senja Vitamin A

Kelemahan gerak tubuh K+, Na+, Mg++

Tetani, nyeri tulang Kalsium

Kerontokan rambut Zinc, protein

IPD edisi 5
Patofisiologi diare
 Diare osmotik : terjadi peningkatan osmotik dalam lumen usus.
 Diare sekretorik : terjadi peningkatan sekresi cairan dalam lumen
usus.
 Malabsorbsi asam empedu, malabsorbsi lemak : terjadi gangguan
pembentukan micelle empedu.
 Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di
enterosit: terjadi penghentian mekanisme transport ion aktif (pada
Na+, K+, ATPase ) di enterosit, gangguan absorbsi Na+ dan air.
 Motilitas dan waktu transit usus abnormal : terjadi motilitas yang
lebih cepat, tak teratur sehingga isi usus tidak sempat diabsorbsi,
seringkali berhubungan dengan factor psikologis.
 Gangguan permeabilitas usus: terjadi kelainan morfologi usus pada
membrane epitel spesifik sehingga permeabilitas mukosa usus halus
dan usus besar terhadap air dan garam/elektrolit terganggu.
 Eksudasi cairan, elektrolit dan mucus berlebihan : terjadi
peradangan dan kerusakan mukosa usus.

IPD edisi 5
Algoritme evaluasi pasien dengan diare
Anamnesis

Lama Karakteristik Nyeri Penyakit


Epidemiolo tinja abdomen lain
gi Air, lendir Kolitis akut Obat-
Bepergian, Darah Penyakit obatan
makanan, air usus
inflamasi

Pemeriksaan
fisik

Umum Abdomen Pemeriksaan rectal


Keseimbangan cairan Nyeri tekan Fecal occult blood
Panas Distensi test
Nutrisi

Pemeriksaan awal : Nontoksik Terapi simtomatik


Toksik Lama penyakit Cairan rehidrasi oral
Penyakit berjalan sebentar Obat antidiare
terus Tidak berdarah
Darah di tinja
Tidak nyeri Tidak respon Respon
Dehidrasi tekan

Replesi cairan/
elektrolit
Evaluasi Pemeriksaan darah Kimia darah Pemeriksaan tinja
laboratorium tepi lengkap Elektrolit Pem.telur dan
Hemokonsentrasi Ureum parasit
Diferensial leukosit Kreatinin Antigen Giardia
Serologi ameba Toksin clostridium
difficle

Sigmoidoskopi atau
kolonoskopi dengan Biopsi

Leukosit tinja
Positif atau negatif
Terapi antibiotic
emperik
Terapi spesifik Kultur tinja

IPD edisi 5
Camillery M 2017
penilaian klinis pada diare

WGO 2012.
Petunjuk pada riwayat pasien diare akut

Farthing, M. 2012. Acute diarrhea in adults and children: a global prospective. World Gastroenterology Organisation.
Diambil dari : http://www.worldgastroenterology.org/UserFiles/file/guidelines/acute-diarrhea-english-2012.pdf. Diakses pada 16 maret 2018.
Penatalaksanaan
A. Rehidrasi cairan
Macam-macam pemberian cairan:

1. BJ plasma dengan rumus:

BJ plasma – 1,025
Kebutuhan cairan = x Berat Badan x 4 ml
0,001

2. Metode pierce berdasarkan klinis :


Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan = 5% x BB (Kg)
Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan = 8% x BB (Kg)
Dehidrasi berat, kebutuhan cairan = 10% x BB (Kg)
Simadibrata K, Marcellus. Diare akut dan pendekatan diagnostik diare kronik. Dalam Sudoyo Aru W, Alwi I, Setiati S, Setiyohadi B, Simadibrata M, Sudoyo AW.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V. Jakarta: Interna Publishing. 2011;534-556.
Nelwan, Erni Juwita. Diare Akut. Dalam Setyohadi B, Arsana PM, Suryanto A, Soeroto AY, Abdullah M. Kegawatdaruratan Penyakit Dalam Buku I EIMED DASAR.
Jakarta: Interna Publishing. 2016;1:574-579.
3. Metode Daldiyono berdasarkan skor klinis
Skor
Kebutuhan cairan = x 10% x KgBB x 1 liter
15
Klinis Skor
Rasa haus/muntah 1
Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg 1
Tekanan darah sistolik < 60 mmHg 2
Frekuensi nadi > 120 kali/menit 1
Kesadaran apatis 1
Kesadaran samnolen, sopor, atau koma 2
Frekuensi nafas > 30 kali/menit 1
Facies cholerica 2
Vox cholerica 2
Turgor kulit menurun 1
Washer woman’s hand 1
Ekstremitas dingin 1
Sianosis 2
Umur 50-60 tahun -1
Umur > 60 tahun -2
 Pemberian cairan dehidrasi terbagi atas :

1. Dua jam pertama (tahap rehidrasi inisial): jumlah total kebutuhan cairan
menurut rumus BJ plasma atau skor Daldiyono diberikan langsung dalam
2 jam ini agar tercapai rehidrasi optimal secepat mungkin.

2. Satu jam berikut/jam ke-3 (tahap kedua) pemberian diberikan


berdasarkan kehilangan cairan selama 2 jam pemberian cairan rehidrasi
inisial sebelumnya. Bila tidak ada syok atau skor Daldiono kurang dari 3
dapat diganti cairan per oral.
3. Jam berikutnya pemberian cairan diberikan berdasarkan kehilangan
cairan melalui tinja dan Insensible water loss (IWL)-> (15xBB)

IPD edisi 5.
Penatalaksanaan
B. Diet
 Pasien diare tidak dianjurkan puasa, kecuali bila muntah-muntah hebat.
 Menghindari susu sapi karena adanya defisiensi lakatase transien yang
disebabkan oleh bakteri dan virus.
 Menghindari minuman beralkohol dan berkafein karena dapat
meningkatkan motilitas dan sekresi usus
 Dianjurkan untuk mengonsumsi probiotik karena dapat menurunkan
keparahan dan durasi diare akut infeksi.

Ipd edisi 5
WGO 2012
Penatalaksanaan
C. Obat Anti-diare
Obat-obat ini dapat mengurangi gejala-gejala :

1. Obat antimotilitas, derifat opioid : loperamid,


difenoksilat-atropin, dan tinktur opium
2. Obat yang mengeraskan tinja (adsorbent) :
attapulgite, kaolin-pectin,
3. Obat anti sekretorik : Hidrasec

IPD edisi 5
WGO 2012
Anti diare yang umum digunakan pada diare kronis
D. Antibiotik

WGO 2012
WGO 2012.
Konstipasi

A. Definisi
 Merupakan kesulitan buang air besar dengan konsistensi feses yang padat
dengan frekuensi buang air besar lebih atau sama dengan 3 hari sekali

WGO 2012
B. Epidemiologi

 Populasi berusia >65 tahun lebih sering


 Konstipasi sering terjadi pada wanita ketimbang laki-
laki
 Walaupun kejadian konstipasi ini umum terjadi tetapi
tidak banyak penderita konstipasi yang mencari
pertolongan medis

.
C. Etiologi

 Konstipasi dapat disebabkan:


 Perubahan diet
 Rendahnya aktifitas fisik
 Miopati kolon primer
 Neuropati
 Sekunder dari gangguan evakuasi feses

.
jenis obat yang dapat menyebabkan konstipasi antara lain:

wGO 2012.
D. Patofisiologi Konstipasi

WGO 2012.
KONDISI YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KONSTIPASI

WGO 2012.
E. Manifestasi Klinis
 Pada pasien yang mengalami konstipasi dapat ditemukan tanda-tanda ataupun
gejala klinis sebagai berikut:
- Ada rasa tidak nyaman dan kembung pada perut, kelelahan, sakit kepala, mual dan
muntah, pergerakan usus yang hilang, feses dengan ukuran kecil, perasaan penuh,
kesulitan, dan sakit saat mengeluarkan feses

- Konstipasi menunjukan gejala yang parah apabila ditandai dengan gejala


berlangsung lebih dari 3 minggu, terdapat darah dalam feses, penurunan berat
badan, demam, anoreksia, mual, dan muntah atau setiap kali terjadi perubahan
kebiasaan buang air besar yang biasa terjadi secara signifikan
BRISTOL STOOL CHART

Untuk membantu pasien mendeskripsikan keluhan


feses

wGO 2010.
Kategori konstipasi berdasarkan
pendekatan klinis
Diagnosis
 Para panel ahli internasional membentuk suatu kriteria
untuk mendiagnosis konstipasi yg disebut Kriteria Rome
IV

wGO 2015.
 Bila ditemukan kondisi atau gejala berikut,
perlu dilakukan evaluasi lanjut dengan
kolonoskopi

WGO 2010.
F. Penatalaksanaan
 Terapi yang dilakukan pada pasien dengan keluhan konstipasi bertujuan untuk
pencegahan konstipasi lebih lanjut, menghilangkan gejala dan mengembalikan
fungsi normal usus. Strategi pengobatan yang dilakukan meliputi terapi non
farmakologi dan terapi farmakologi.
A. Terapi Non Farmakologi :
1. Diet tinggi serat (buah, sayuran dan sereal) 25 gr serat
2. Minum banyak air (lebih dari 1,5-2 L/hari)
3. Minum susu dapat meningkatkan pergerakan dari usus
4. Lakukan olahraga dan aktivitas fisik secara teratur

.
Modalitas obat konstipasi

WGO 2010.
WGO 2010.
Tipe konstipasi yang ditemukan dalam klinis

WGO 2010.