Anda di halaman 1dari 62

SISTEM LAKRIMAL

PRIMA MAYA SARI


SISTEM LAKRIMAL
Apparatus Sekresi
Sistem
lakrimalis
2 Apparatus Ekskresi

Watering eye/ tearing

Kombinasi

Hipersekresi Epifora

Produksi air mata Berkurangnya


yang berlebihan outflow airmata
Anatomi Kelenjar lakrimalis Apparatus sekresi...

Terletak pada fossa


tulang frontalis
ukuran 20x5x5 mm. 3

Lobus orbita & lobus


palpebra.

Duktuli 12 buah

Krause dan Wolfring

( P U T Z R ; PA B S T R ,
2006 )
Apparatus sekresi...
Vaskularisasi kelenjar lakrimalis

Arteri lakrimalis Anastomosis arteri lakrimalis dg


middle meningeal artery
Cabang arteri infraorbita 4

( BEDROSSIAN EH, 2002 )


Persarafan kelenjar Apparatus sekresi...
lakrimalis
5
Sensorik

Parasimpatik

Simpatik

(Putz R; Pabst R,2006 )


Fisiologi Sekresi Airmata…

6
Lapisan airmata

Tebal sekitar 40 μm Evaporasi Tebal lapisan


airmata ↓

Lapisan lemak
Lapisan airmata lapisan akuos
lapisan musin
Sekresi airmata…

Produksi 1.5cc/25 jam atau Sekresi 1,2 μl/menit per hari,


0.8 – 1.2 µl/menit. total volume 10 ml perhari.

Produksi airmata

Laju sekresi airmata basal sama dengan laju


drainase air mata., evaporasi dan reabsorbsi.
Sekresi airmata…
Regulasi sekresi airmata
8

Afferen Sensoris
Sistem saraf

Efferen Simpatik
Kelenjar lakrimalis

Sekresi airmata
Parasimpatik
Hormon peptida
& steroid
Ekskresi airmata….

Teori pompa lakrimalis Jones


Pada tahun 1961, Jones  hypothesis of lacrimal sac
negative pressure with eyelid closure

Teori Pompa Lakrimalis Rosengren-Doane


Intubasi pada sakus melalui duktus nasolakrimalis untuk
mengukur tekanan didalam sakus lakrimalis → peningkatan
tekanan sakus pada saat kelopak mata menutup dan
penurunan tekanan sakus pada saat kelopak mata membuka.
Teori Rosengren-Doane10

( KERSTEN, RC, MD,


2006 )
Ekskresi airmata…

Mekanisme pompa lakrimalis

Jones 11
Pompa lakrimalis tergantung pada superficial & deep
heads orbikularis okuli preseptal, deep heads orbikularis okuli
preseptal serta fasia lakrimalis.

Fase Aktif
Pengosongan airmata
Proses pompa
lakrimalis
Fase Pasif
Pengisian airmata
Ekskresi airmata.. Fase Aktif

Kelopak mata terbuka


Relaksasi deep heads
12 orbikularis preseptal
Relaksasi superficial & deep
head s orbikularis pretarsal

Tekanan positif
Kanalikuli memanjang sakus lakrimalis
Pungtum terbuka

Gaya Mendorong airmata ke duktus


gravitasi nasolakrimalis→ meatus nasi inferior
Ekskresi airmata..
Fase Pasif
13
Kelopak mata tertutup
Kontraksi deep head
orbikularis preseptal
Kontraksi superficial & deep
head s orbikularis pretarsal

Tekanan negatif
Kanalikuli memendek sakus lakrimalis
Pungtum menutup

Airmata mengalir dari


kanalikuli ke sakus lakrimalis
Hipersekresi

Definisi Mekanisme dan penyebab

Supranuklear
Rangsangan kelenjar Reflek tearing
lakrimalis→ produksi Infranuklear
airmata meningkat Rangsangan kelenjar lakrimalis
Alergi

14
Epifora
15

Definisi Gangguan sistem drainase


lakrimalis→ Outflow berkurang

Fungsional
Penyebab
Obstruksi sistem lakrimalis

( Kominek P, 2007 )
Anamnesa
16

Pemeriksaan luar

Inspeksi & palpasi


kulit, kelopak mata,
pungtum lakrimalis,
sakus lakrimalis

( Kanski JJ, 2006, Kominek


P, 2007 )
DAKRIOADENITIS

Peradangan pada kelenjar lakrimalis

Sering terjadi pada


Anak-anak  komplikasi
penyakit sistemik, Dewasa  akibat trauma
misalnya morbili

Gejala
Akut  pembengkakan di
kelenjar lakrimal di Kronik  bilateral di
temporal atas orbita, kedua mata
DAKRIOADENI
TIS
Viral (penyebab utama)

•Mumps (penyebab tersering, terutama pada anak-anak), Epstein-Barr


virus, Herpes zoster, Mononucleosis, Cytomegalovirus, Echoviruses,
Coxsackievirus A
•Pada anak dapat terlihat sebagai komplikasi dari kelenjar air liur,
campah, influenza.

Bacterial

•Staphylococcus aureus and Streptococcus, Neisseria gonorrhoeae,


Treponema pallidum, Chlamydia trachomatis, Mycobacterium leprae,
Mycobacterium tuberculosis, Borrelia burgdorferi.
•Dapat terjadi juga akibat infeksi retrograd konjungtivitis. Trauma tembus
dapat menimbulkan reakso radang pada kelenjar lakrimal ini.

Fungal (jarang)

•Histoplasmosis, Blastomycosis, aktinomises, nokardiosissporotrikosis

Sarkoid dan idiopati


Proses infeksinya dapat
terjadi melalui penyebaran
kuman yang berawal di
konjungtiva yang menuju
ke ductus lakrimalis dan
menuju ke kelenjar
lakrimalis
1. DAKRIOADENITIS AKUT

• Nyeri di daerah glandula lakrimal


yaitu di bagian depan temporall atas
rongga orbita
• kelopak atas bengkak,
• konjungtiva kemotik, sekret (+)

Gejala
• Pada infeksi akan terlihat bila mata
bergerak akan memberikan sakit
dengan pembesaran kelenjar
preaurikel
Pemeriksaan luar

kel. Lakrimalis yang edema


pada eversi
2. DAKRIOADENITIS KRONIK

• Bilateral
• gejala klinisnya lebih baik daripada yang
akut.
• Gejala hamper sama dengan fase akut,
tetapi nyeri. (-)
• pembesaran kelenjar namun mobil

Gejala
• tanda-tanda ocular minimal
• Kadang ptosis
• Kadang disertai sindroma mata kering
Pemeriksaan luar

Tampak eritema dan edema pada


kedua mata
PENATALAKSANAAN

 kompres hanagat
 antibiotic sistemik
 bila terlihat abses maka
dilakukan insisi
DAKRIOSISTITIS

Peradangan pada
sakus lakrimal

Sering disebabkan
oleh sumbatan
duktus nasolakrimalis
KLASIFIKASI

AKUT KRONIK KONGENITAL


ETIOLOGI
Faktor predisposisi
• umur, jenis kelamin, ras, hereditas, status sosial
ekonomi, higenitas

statisnya air mata pada saccus lakrimal


• faktor anatomi, benda asing, hiperlakrimasi,
inflamasi, dan adanya obstruksi

Obstruksi
• Stenosis involusion, Dakriolit, penyakit pada sinus,
trauma, inflamasi, plak lakrimal, radiasi, dan
neoplasma

Infeksi
• staphylokokus, pneumokokus, streptokokus,
aspergillus, candida albicans, blastomyces, dan
pseudomonas pyocyanea
GEJALA KLINIS

• tanda dan gejala radang berupa nyeri,


edema pada daerah saccus lakrimalis
• Pembesaran ini berisi sekret
AKUT mukopurulen

• epifora merupakan satu-satunya


gejala yang timbul
• Bila kantung air mata ditekan dapat
KRONIK keluar sekret mukoid
STADIUM DAKRIOSISTITIS KRONIK

Stadium dakriosistitis kronik kataral


• Inflamasi ringan saccus lakrimal  mata berair dan
kadang mata merah ringan di kantus dalam
Stadium mukokel lakrimal berupa stagnasi
kronik
• distensi saccus lakrimal epifora konstan dan
pembengkakan pada kantus dalam

Stadium dakriosistitis kronik supuratif


• infeksi piogenik, cairan mukoid menjadi purulen,
pergantian mukokel menjadi piokel

Stadium saccus kronik fibrotik


• Infeksi berulang  saccus fibrotik karena mukosa
yang menebal, epifora persisten dan secret
DIAGNOSIS

Pemeriksaan Pemeriksaan
Anamnesis Fisis penunjang
Dye dissapearance test (DDT)
Fluorescein dye dissapearence test
Jones dye test I dan II
TES ANEL
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 CT scan  mencari tahu penyebab
obstruksi pada dakriosistitis terutama
akibat adanya suatu massa atau
keganasan
Dacryocystography (DCG) 
mendeteksi adanya kelainan anatomi
pada sistem drainase lakrimal
MRI Dakriosistography  metode
diagnostik yang lebih baik untuk
mengevaluasi jalur lakrimasi 
keuntungan : tidak menggunakan
radiasi ionisasi sehingga dapat
meminimalkan risiko terjadinya
Dacryocystography (DCG)
DIAGNOSIS BANDING

Selulitis Selulitis
preseptal orbital

Hordeolum
PENATALAKSANAAN

 Kompres hangat
 Massase daerah sakus
 Antibiotik sistemik dan
topikal
 Analgetik
 Dakriosistorinostomi
 Dakriosistektomi
Sindroma Mata Kering
Fungsi membasahi bola
mata kurang optimal

Film air
mata
kurang
Penguapan stabil
berlebihan
Gejala
Iritasi ringan

Rasa terbakar

Mata terasa kering  seperti berpasir

Fotofobia

Gejala memburuk pada sore hari , setelah terpapar


sinar dalam waktu lama atau pada lingkungan
kelembaban rendah dan tempar ber-AC
Pemeriksaan luar
Ringan Stadium lanjut Berat

Nyeri Penipisa
Dilatasi Permuka (+)  n tepi
Iritasi Peningk Keratop e.c atau
Kalsifika pembulu an
permuk atan ati filamen parasent
si h darah kornea
aan debris filamen melekat ral,
kornea konjung tidak
mata pada air dan plak pada sampai
tiva rata mata mukus epitel perforasi
bulbi
kornea
yang
kaya
serat
saraf
Penatalaksanaan

• Artificial tears 4x sehari


• Kompres hangat kelopak mata
Ringan • Pemakaian salep pelumas saat tidur

• Artifial tears 4x sehari sampai sering


• Pemakaian salep pelumas saat tidur
Sedang • Menutup saluran pembuangan air mata
dengan penutup yang dapat dilepas

• Terapi ringan atau sedang


• Tarsoraphy
Berat • Pengaturan kelembaban ruangan
• Imunosupresan  cth: siklosporin A
OFTALMOLOGI
KOMUNITAS
OFTALMOLOGI KOMUNITAS

 Kebutaan didefinisikan sebagai ketajaman


penglihatan kurang dari 3/60 sampai 0 adan
atau derajat lapang pandang kurang dari 5
derajat.
 USA  penglihatan dengan koreksi mencapai
visus 6/60 atau kurang pada mata yang
terbaik, atau luas lapangan pandang tidak
lebih dari 20 derajat pada mata yang terbaik.
Kriteria Gangguan Penglihatan dan Buta
(WHO)

Kategori Visus 2 mata dengan koreksi


Min > Maks <
1 6/60 6/18
2 3/60 6/60
3 1/60 3/60
4 Persepsi cahaya 1/60
5 Tidak ada persepsi cahaya

Kategori 1 dan 2  low vision


Kategori 3,4, dan 5  Buta
 Pasien dengan lapang pandang tidak lebih 10
derajat sekitar fiksasi sentral termasuk
kategori 3 dan pasien dengan lapang pandang
tidak lebih 5 derajat sekitar fiksasi sentral
sudah termasuk kategori 4 meski penglihatan
sentral tidak terganggu.
 180 juta penduduk dunia mengalami
kebutaan, 135 dari jumlah tersebut adalah
penderita low vision dan 45 juta mengalami
kebutaan.
 95%  di negara berkembang
 Angka kebutaan di Asia: Indonesia  1,5%
 Disepakati bahwa angkat kebutaan < 0,5%
merupakan masalah klinis, dan merupakan
tugas dokter untuk mengatasi.
 Angka kebutaan 0,5-1% merupakan masalah
kesehatan masyarakat, yang berarti kebutaan
ini bukan hanya tugas dokter dan klinisi saja,
tetapi memerlukan partisipasi dari semua
pihak, termasuk masyarakat itu sendiri.
 Angka kebutaan > 1% merupakan masalah
sosial  Indonesia (1,5%)
 Memerlukan penanganan dan perhatian
berbagai pihak, seperti: Masyarakat, instansi
pemerintah, lembaga non pemerintah dan
berbagai pihak lain.
 WHO (2002)  penyebab kebutaan utama di
benua Amerika : Katarak (58,5%), Glaukoma
(8%), dan retinopati diabetik (7%)
 Di negara maju seperti Amerika Serikat dan
Belanda, degenerasi makula terkait usia
merupakan penyebab utama kebutaan diikuti
glaukoma dan katarak.
Penyebab Kebutaan di Indonesia Tahun
1982 dan 1996

Penyebab Tahun 1982 Tahun 1996


Katarak 0,76% 1.02%
Glaukoma 0,10% 0,16%
Retina 0,03% 0,09%
Refraksi 0,06% 0,11%
Kelainan Kornea 0,13% 0,06%
Prevention of Blindness (IAPB)
VISION 2020

1. The Right to Sight  pemenuhan hak untuk


melihat secara optimal bagi setiap orang.
2. Target penyakit yang harus ditangani adalah
pencegahan katarak, gangguan refraksi,
trakoma, onchoceciasis, dan retinopati diabetik
3. Strateginya: cost-effective, kerjasama pihak
terkait, kewaspadaan, dan peran masyarakat
4. Program: pencegahan dan pengobatan
penyakit, pelatihan petugas, membangun
infrastruktur, menggunakan teknologi tepat
guna, mendayagunakan sumber daya.
Tujuan Upaya Kesehatan Mata

 Mengurangi angka kebutaan menjadi 1%


tahun 2004 dan 0,5% tahun 2020,
mengurangi prevalensi penyakit mata
penyebab kebutaan, menambah kesadaran
masyarakat, menambah pelayanan kesehatan
(YANKES) mata, dan menambah kerjasama
lintas sektoral.
Kebijakan
 diseminasi dan advokasi upaya kesehatan
mata, menambah kualitas SDM, menambah
peran swasta dan masyarakat,
pembimbingan dan pengembangan
infrastruktur, serta membentuk wadah
koordinasi kesehatan mata.
Sasaran
 balita, anak usia sekolah, usia produktif,
lansia, tenaga kesehatan, organisasi
profesional, LSM, pihak swasta lain, dan
pemerintah
Kegiatan jangka Pendek

 Penanggulangan Kebutaan Katarak


 menambah angka pembedahan katarak
(CSR)
 Penanggulangan Kelainan Refraksi
 Pelatihan perawat, guru, dan kader untuk
penanggulangan ganngguan refraksi.
Kegiatan Jangka Panjang

 Menambah kesadaran masyarakat,


mengontrol penyebab kebutaan, mengadakan
DIKLAT tenaga, menambah infrastruktur, dan
menambah teknologi tepat guna.
Stratifikasi Pelayanan Kesehatan Mata

1. Pelayanan mata primer (PEC)


 Memiliki area kerja Puskesmas
 Unit terdepan yang merupakan bagian
integral yang meliputi usaha-usaha peningkatan
pencegahan dan pengobatan terhadap individu
atau masyarakat.
 kegiatan utama berupa kegiatan poliklinik :
pemeriksaan tajam penglihatan, pengobatan
infeksi mata luar, mendiagnosa katarak,
glaukoma, pengobatan awal dan rujukan kasus
gawat darurat mata, dan lain-lain.
2. Pelayanan Mata Sekunder (SEC)
 Area kerja setingkat RS Kabupaten
 Kegiatan kuratif yang dapat dilakukan
seperti pada PEC ditambah layanan rawat
inap dan operasi mata standar terutama
penyakit mata yang menimbulkan kebutaan.
Pencatatan dan pelaporan kasus penyakit
mata, rujukan ke TEC dan rujukan balik ke
PEC.
3. Pelayanan Mata Tersier (TEC)
 Area kerja setingkat RS Provinsi
 Kegiatan kuratif seperti pada SEC ditambah
operasi canggih. Merupakan rujukan SEC dan
PEC, melaksanakan pencatatan dan
pelaporan, pendidikan kesehatan, serta
penelitian
TERIMA
KASIH