Anda di halaman 1dari 55

Clinical Science Session

INSOMNIA
Disusun oleh:
Chinta Nur Silmi 12100116266
Ratri Damayanti A 12100116153

Preseptor:
dr. Hj. Gemah Nuripah.,SpKJ., M.Kes.
Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur
berupa kesulitan berulang untuk tidur atau
mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan
untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan
fungsional saat bangun dan beraktivitas di siang hari.
Sekitar sepertiga orang dewasa mengalami
kesulitan memulai tidur dan/atau mempertahankan
tidur dalam setahun, dengan 17% di antaranya
mengakibatkan gangguan kualitas hidup.
Insomnia umumnya merupakan kondisi
sementara atau jangka pendek (Berlangsung 1-6
bulan). Dalam beberapa kasus, insomnia dapat
menjadi kronis (berlangsung >6 bulan).
Insomnia ini biasanya hilang ketika stressor
hilang atau individu telah beradaptasi dengan
stressor. Namun, insomnia sementara sering
berulang ketika tegangan baru atau serupa
muncul dalam kehidupan pasien.
FISIOLOGI TIDUR
Semua makhluk hidup
mempunyai irama kehidupan
yang sesuai dengan beredarnya Pusat kontrol irama sirkadian
waktu dalam siklus 24 jam. →ventral anterior
Irama yang seiring dengan rotasi hypothalamus.
bola dunia disebut sebagai
irama sirkadia

Bagian susunan saraf pusat yang


Tidur tidak dapat diartikan mengadakan kegiatan
sebagai manifestasi proses sinkronisasi terletak pada
deaktivasi sistem Saraf Pusat, substansia ventrikulo retikularis
karena saat tidur SSP bekerja batang otak yang disebut
melakukan sinkronisasi. sebagai pusat tidur (sleep
center).

Bagian susunan saraf pusat yang


menghilangkan
sinkronisasi/desinkronisasi
terdapat pada bagian rostral
batang otak disebut sebagai
pusat penggugah (arousal
center).
Tidur dibagi menjadi 2 tipe yaitu:
• 1. Tipe Rapid Eye Movement (REM)
• 2. Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM)

Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang


terdiri dari 4 stadium, lalu diikuti oleh fase REM.
Keadaan tidur normal antara fase NREM dan
REM terjadi secara bergantian antara 4-6 kali
siklus semalam.
Tiga Variable Fisiologis
 EEG (Electro Enselofatygraphy)
merekam gambaran aktivitas sel otak

 EOG (Electro Occulography)


merekam gerakan bola mata

 EMG (Electro Myography)


merekam tonus otot
• Pola siklus tidur dan bangun adalah bangun
sepanjang hari saat cahaya terang dan tidur
sepanjang malam saat gelap. Jadi faktor kunci
adalah adanya perubahan gelap dan terang
pada NSC (nucleus supra chiasmatic) di
Hipothalamus yang mempengaruhi
pengeluaran berbagai hormon pengatur
temperatur badan, kortisol, growth hormone,
dan lain-lain.
• pagi hari cahaya terang masuk, NSC segera
mengeluarkan hormon yang menstimulasi
peningkatan temperatur badan, kortisol dan
GH sehingga orang terbangun.

• malam hari, NSC merangsang pengeluaran


hormon melatonin sehingga orang mengantuk
dan tidur.
Aktivitas ARAS
1. Sistem serotonergik
• Hasil serotonergik sangat dipengaruhi oleh hasil
metabolisme asam amino trypthopan. Dengan
bertambahnya jumlah tryptopan, maka jumlah
serotonin yang terbentuk juga meningkat akan
menyebabkan keadaan mengantuk/tidur. Bila serotonin
dari tryptopan terhambat pembentukannya, maka
terjadi keadaan tidak bisa tidur/jaga.
• Menurut beberapa peneliti lokasi yang terbanyak
sistem serotogenik ini terletak pada nukleus raphe
dorsalis di batang otak, yang mana terdapat hubungan
aktifitas serotonis dinukleus raphe dorsalis dengan
tidur REM.
2. Sistem Adrenergik
• Neuron-neuron yang terbanyak mengandung
norepineprin terletak di badan sel nukleus
cereleus di batang otak. Kerusakan sel neuron
pada lokus cereleus sangat mempengaruhi
penurunan atau hilangnya REM tidur. Obat-
obatan yang mempengaruhi peningkatan
aktifitas neuron noradrenergic akan
menyebabkan penurunan yang jelas pada tidur
REM dan peningkatan keadaan jaga.
3. Sistem Kholinergik
• Sitaram et al (1976) membuktikan dengan
pemberian prostigimin intra vena dapat
mempengaruhi episode tidur REM. Stimulasi jalur
kholinergik ini, mengakibatkan aktifitas gambaran
EEG seperti dalam keadaan jaga.
• Gangguan aktifitas kholinergik sentral yang
berhubungan dengan perubahan tidur ini terlihat
pada orang depresi, sehingga terjadi pemendekan
latensi tidur REM. Pada obat antikolinergik
(scopolamine) yang menghambat pengeluaran
kholinergik dari lokus sereleus maka tampak
gangguan pada fase awal dan penurunan REM.
4. Sistem histaminergik
• Pengaruh histamin sangat sedikit mempengaruhi
tidur
5. Sistem hormon
• Pengaruh hormon terhadap siklus tidur
dipengaruhi oleh beberapa hormone seperti
ACTH, GH, TSH, dan LH. Hormon hormon ini
masing-masing disekresi secara teratur oleh
kelenjar pituitary anterior melalui hipotalamus
patway. Sistem ini secara teratur mempengaruhi
pengeluaran neurotransmitter norepinefrin,
dopamin, serotonin yang bertugas mengatur
mekanisme tidur dan bangun.
INSOMNIA
Definisi
• Insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal
kesulitan untuk memulai atau mempertahankan
tidur atau tidur non-restoratif yang berlangsung
setidaknya satu bulan dan menyebabkan
gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi
individu. (DSM-IV)
• Insomnia sebagai kesulitan memulai atau
mempertahankan tidur yang terjadi minimal 3
malam/minggu selama minimal satu bulan. (The
International Classification of Diseases )
• Insomnia adalah kesulitan tidur yang terjadi
hampir setiap malam, disertai rasa tidak nyaman
setelah episode tidur tersebut. (The International
Classification of Sleep Disorders)
“Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur
berupa kesulitan berulang untuk tidur atau
mempertahankan tidur walaupun ada
kesempatan untuk melakukannya. Insomnia
bukan suatu penyakit, tetapi merupakan suatu
gejala yang memiliki berbagai penyebab, seperti
kelainan emosional, kelainan fisik dan
pemakaian obat-obatan.”
Etiologi
• Stres.
• Kecemasan dan depresi.
• Obat-obatan.
• Kafein, nikotin dan alkohol.
• Kondisi Medis.
• Perubahan lingkungan atau jadwal kerja.
• 'Belajar' insomnia.
• Penyebab lainnya bisa berkaitan dengan kondisi-
kondisi spesifik, seperti usia lanjut (insomnia
lebih sering terjadi pada orang yang berusia di
atas 60 tahun).
Faktor Risiko
Hampir setiap orang memiliki kesulitan untuk tidur
pada malam hari tetapi resiko insomnia meningkat
jika terjadi pada:
• Wanita.
• Usia lebih dari 60 tahun.
• Memiliki gangguan kesehatan mental
• Stres.
• Perjalanan jauh (Jet lag) dan Perubahan jadwal
kerja.
Klasifikasi:
• Insomnia Primer
Merupakan gangguan sulit tidur yang penyebabnya
belum diketahui secara pasti dan biasanya berlangsung
lama atau kronis (long term insomnia).
• Insomnia Sekunder
Merupakan gangguan sulit tidur yang penyebabnya dapat
diketahui secara pasti. Penyebabnya dapat berupa faktor
gangguan sakit fisik, gangguan kejiwaan (psikis) dan efek
samping dari obat-obatan.
Insomnia sekunder dibedakan menjadi dua, yaitu:
– insomnia sementara (transient insomnia)
– insomnia jangka pendek (short term insomnia)
Sedangkan menurut Fisher, insomnia dibedakan
menjadi
• Sleep-onset (Initial) Insomnia, yang meliputi
kesulitan untuk jatuh atau masuk tidur.
• Sleep-maintenance (Middle) insomnia, yang
ditandai dengan sering terbangun di malam hari.
• Terminal insomnia, yang berbentuk bangun awal
pada pagi hari dan dan tidak dapat kembali tidur.
• Pan-insomnia, yaitu kesulitan tidur sepanjang
malam.
Dalam ICD 10, insomnia dibagi
menjadi 2 yaitu:
• Organik
• Non organik
– Dyssomnias (gangguan pada lama, kualitas dan waktu
tidur)
– Parasomnias (ada episode abnormal yang muncul selama
tidur seperti mimpu buruk, berjalan sambil tidur, dll)

Dalam ICD 10 tidak dibedakan antara insomnia primer


atau sekunder. Insomnia disini adalah insomnia kronik
yang sudah diderita paling sedikit 1 bulan dan sudah
menyebabkan gangguan fungsi dan sosial.
Menurut DSM-IV
gangguan tidur (insomnia) dibagi menjadi 4 tipe yaitu:
• Gangguan tidur yang berkorelasi dengan gangguan
mental lain
• Gangguan tidur yang disebabkan oleh kondisi medis
umum
• Gangguan tidur yang diinduksi oleh bahan-bahan atau
keadaan tertentu
• Gangguan tidur primer (gangguan tidur tidak
berhubungan sama sekali dengan kondisi mental,
penyakit, ataupun obat-obatan.) Gangguan ini
menetap dan diderita minimal 1 bulan.
Tanda dan gejala:
Gejala insomnia sering dibedakan sebagai berikut:
• Kesulitan memulai tidur (initial insomnia), biasanya
disebabkan oleh adanya gangguan emosi, ketegangan
atau gangguan fisik, (misal: keletihan yang berlebihan
atau adanya penyakit yang mengganggu fungsi organ
tubuh).
• Bangun terlalu awal (early awakening), yaitu dapat
memulai tidur dengan normal, namun tidur mudah
terputus dan atau bangun lebih awal dari waktu tidur
biasanya, serta kemudian tidak bisa kembali tidur lagi.
Gejala ini sering muncul seiring dengan bertambahnya
usia seseorang atau karena depresi dan sebagainya.
Gejala-gejala yang umumnya muncul pada seseorang yang
mengalami insomnia berpengaruh dengan ciri-ciri sebagai
berikut :
• Kesulitan jatuh tertidur atau tidak tercapainya tidur
nyenyakKeadaan ini bisa berlangsung sepanjang malam dan
dalam tempo berhari-hari, berminggu-minggu atau lebih.
• Merasa lelah saat bangun tidur dan tidak merasakan
kesegaran. Mereka yang mengalami insomnia seringkali
merasa tidak pernah tertidur sama sekali.
• Sakit kepala di pagi hari. Ini sering disebut efek mabuk,
padahal nyatanya orang tersebut tidak minum-minum di
malam itu.
• Kesulitan berkonsentrasi.
• Mudah marah.
• Mata memerah.
• Mengantuk di siang hari.
Gangguan tidur berhubungan dengan
gangguan kesehatan/psikiatri
• Sleep and Neurological Disorders
– Biasanya, tidur lebih terfragmentasi,
menyebabkan lebih banyak terbangun dan
akibatnya sedikit waktu tidur, dan REM mungkin
akan menurun. Gangguan tidur ini biasanya
memburuk seiring dengan progresifitas penyakit
• Alzheimer’s Disease
– Penyakit Alzheimer adalah gangguan
neurodegenerative ditandai dengan hilangnya
memori dan penurunan intelektual yang
progresifitasnya sesuai usia dan disebabkan oleh
degenerasi neuron di otak. Diperkirakan sekitar 4
juta orang di Amerika Serikat menderita penyakit
Alzheimer. Sekitar seperempat dari individu-
individu ini memiliki gangguan tidur.
• Parkinson’s Disease
– Gangguan tidur berhubungan dengan penyakit
Parkinson yang terdiri dari sulit tidur, nocturnal
akinesia, arsitektur tidur berubah, aktivitas
motorik abnormal, gerakan anggota badan
periodik, gangguan tidur REM, dan gangguan
pernapasan. Pada siang hari, banyak pasien
Parkinson memiliki kantuk yang berlebihan.
Gangguan tidur biasanya akan meningkat dengan
perkembangan penyakit
• Epilepsy
– Epilepsi mengacu pada sekelompok dari berbagai
gangguan yang ditandai oleh aktivitas listrik abnormal
di otak yang terwujud dalam individu sebagai kerugian
atau gangguan kesadaran dan gerakan abnormal dan
perilaku. Tidur, kurang tidur, dan aktivitas kejang erat
terjalin. Diperkirakan bahwa epilepsi sleeprelated
dapat mempengaruhi sebanyak 10 persen atau lebih
individu epilepsi. Enam puluh persen individu yang
menderita kompleks lokalisasi parsial terkait kejang
(21,6 persen dari populasi epilepsi umum)
menunjukkan kejang hanya saat tidur.
• Stroke
– Stroke menyebabkan tiba-tiba kehilangan
kesadaran, sensasi, dan gerakan volunter yang
disebabkan oleh gangguan aliran darah-dan
karena suplai oksigen- ke otak. Setelah stroke
arsitektur tidur individu sering diubah,
menyebabkan penurunan waktu tidur total, tidur
REM, dan SWS. Insomnia adalah komplikasi umum
dari stroke yang mungkin timbul dari obat-obatan,
tidak aktif, stres, depresi, dan kerusakan otak.
• Sleep And Medical Disorders
– Sejumlah gangguan medis yang berbeda dan
penyakit, dari flu biasa sampai kanker, sering
mengubah siklus tidur-bangun individu. Masalah-
masalah tidur sering hasil dari rasa sakit atau
infeksi yang berkaitan dengan kondisi primer.
Meskipun sama-sama diketahui menyebabkan
masalah dengan siklus sleepwake, sebagaimana
akan ditunjukkan di bawah ini, sangat sedikit yang
masih dikenal tentang etiologi.
Diagnosis:
Untuk mendiagnosis insomnia, dilakukan penilaian
melalui anamnesis terhadap:
• Pola tidur penderita.
• Pemakaian obat-obatan, alkohol, atau obat
terlarang.
• Tingkatan stres psikis.
• Riwayat medis.
• Aktivitas fisik
• Diagnosis berdasarkan kebutuhan tidur secara
individual.
• melengkapi kuisioner untuk menentukan
pola tidur dan tingkat kebutuhan tidur
selama 1 hari.
• Pemeriksaan fisik
• pemeriksaan darah (jarang dilakukan jika PE
sudah jelas)

Jika penyebab dari insomnia tidak ditemukan,


akan dilakukan pemantauan dan pencatatan
selama tidur yang mencangkup gelombang otak,
pernapasan, nadi, gerakan mata, dan gerakan
tubuh.
Penegakan diagnosis gangguan tidur
menurut PPDGJ III
• F51.0 Insomnia Non-organik
• Pedoman Diagnostik
• Hal tersebut di bawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti :
– Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau kualitas tidur
yang buruk;
– Gangguan terjadi minimal 3 kali dalam seminggu selama minimal satu bulan;
– Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur (sleeplessness) dan peduli yang berlebihan
terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari;
– Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan
yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam social dan pekerjaan.
• Adanya gejala gangguan jiwa lain seperti depresi, anxietas, atau obsesi tidak
menyebabkan diagnosis insomnia diabaikan. Semua ko-morbiditas harus
dicantumkan karena membutuhkan terapi tersendiri. Kriteria ―lama tidur‖
(kuantitas) tidak digunakan untuk menentukan adanya gangguan, oleh karena
luasnya variasi individual. Lama gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas
(seperti pada ―transient insomnia‖) tidak didiagnosis di sini, dapat dimasukkan
dalam Reaksi Stres Akut (F43.0) atau Gangguan Penyesuaian (F43.2).
• F51.1 Hipersomnia Non-organik
• Pedoman Diagnostik
• Gambaran klinis di bawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti:
• Rasa kantuk pada siang hari yang berlebihan atau adanya serangan tidur/‖sleep
attacks‖ (tidak disebabkan oleh jumlah tidur yang kurang), dan atau transisi
yang memanjang dari saat mulai bangun tidur sampai sadar sepenuhnya (sleep
drunkenness);
• Gangguan tidur terjadi setiap hari selama lebih dari 1 bulan atau berulang
dengan kurun waktu yang lebih pendek, menyebabkan penderitaan yang cukup
berat dan mempengaruhi fungsi dalam social dan pekerjaaan;
• Tidak ada gejala tambahan ―narcolepsy‖ (cataplexy, sleep paralysis,
hypnagogic hallucination) atau bukti klinis untuk ―sleep apnoe‖ (nocturnal
breath cessation, typical intermitten snoring sounds, dll);
• Tidak ada kondisi neurologis atau medis yang menunjukkan gejala rasa kantuk
pada siang hari.
• Bila hipersomnia hanya merupakan salah satu gejala dari gangguan jiwa lain,
misalnya gangguan afektif, maka diagnosis harus sesuai dengan
gangguan yang

mendasarinya. Diagnosis hipersomnia psikogenik harus ditambahkan bila
hipersomnia merupakan keluhan yang dominan dari penderita dengan
gangguan jiwa lainnya.
• F51.2 Gangguan Jadwal Tidur-Jaga Non-organik
• Pedoman diagnostik:
• Gangguan klinis di bawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti:
• Pola tidur-jaga dari individu tidak seirama (out of synchrony) dengan
pola tidur-jaga yang normal bagi masyarakat setempat;
• Insomnia pada waktu orang-orang tidur dan hipersomnia pada waktu
kebanyakan orang jaga, yang dialami hamper setiap hari untuk
sedikitnya 1 bulan atau berulang dengan kurun waktu yang lebih
pendek.
• Ketidakpuasan dalam kuantitas, kualitas, dan waktu tidur menyebabkan
penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam social
dan pekerjaan.
• Adanya gejala gangguan jiwa lain, seperti ansietas, depresi, hipomania,
tidak menutup kemungkinan diagnosis gangguan jadwal tidur-jaga non-
organik, yang penting adanya dominasai gambaran klinis gangguan ini
pada penderita. Apabila gejala gangguan jiwa lain cukup jelas dan
menetap harus dibuat diagnosis gangguan jiwa yang spesifik secara
terpisah.
• F51.3 Somnambulisme (Sleepwalking)
• Pedoman diagnostik:
• Gambaran klinis di bawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti:
• Gejala yang utama adalah 1 atau lebih episode bangun dari tempat tidur,
biasanya pada sepertiga awal tidur malam, dan terus berjalan-jalan;
(kesadaran berubah)
• Selama 1 episode, individu menunjukkan wajah bengong (blank, staring
face), relative tak memberi respon terhadap upaya orang lain untuk
mempengaruhi keadaan atau untuk berkomunikasi dengan penderita,
dan hanya dapat disadarkan/ dibangunkan dari tidurnya dengan susah
payah.
• Pada waktu sadar/ bangun (setelah satu episode/ besok paginya),
individu tidak ingat apa yang terjadi;

Dalam kurun waktu beberapa menit setelah bangun dari episode
tersebut, tidak ada gangguan aktivitas mental, walaupun dapat dimulai
dengan sedikit bingung dan disorientasi dalam waktu singkat.
• Tidak ada bukti adanya gangguan mental organic.
• Somnambulisme harus dibedakan dari serangan epilepsy psikomotor dan
fugue disosiatif (F44.1).
• F51.4 Teror Tidur (Night Terrors)
• Pedoman diagnostik:
• Gambaran klinis di bawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti:
• Gejala utama adalah 1 atau lebih episode bangun dari tidur, mulai
dengan berteriak karena panik, disertai ansietas yang hebat, seluruh
tubuh bergetar, dan hiperaktifitas otonomik seperti jantung berdebar-
debar, nafas cepat, pupil melebar, dan berkeringat;
• Episode ini dapat berulang, setiap episode lamanya berkisar 1—10
menit, dan biasanya terjadi pada sepertiga awal tidur malam;
• Secara relative tidak bereaksi terhadap berbagai upaya orang lain
untuk mempengaruhi keadaan terror tidurnya, dan kemudian dalam
beberapa menit setelah bangun biasanya terjadi disorientasi dan
gerakan-gerakan berulang;
• Ingatan terhadap kejadian, kalaupun ada, sangat minimal (biasanya
terbatas pada satu atau dua bayangan-bayangan yang terpilah-pilah);
• Tidak ada bukti adanya gangguan mental organik.
• Terror tidur harus dibedakan dengan mimpi buruk (F51.5), yang
biasanya terjadi setiap saat dalam tidur, mudah dibangunkan, dan
teringat dengan jelas kejadiannya. Terror tidur dan somnambulisme
sangat berhubungan erat, keduanya mempunyai karakteristik klinis
dan patofisiologis yang sama.
• F51.5 Mimpi Buruk (Nightmares)
• Pedoman diagnosis:
• Gambaran klinis di bawah ini adalah esensial untuk
diagnosis pasti:
– a. terbangun dari tidur malamatau tidur siang berkaitan
denan mimpi yang menakutkan yang dapat diingat kembali
dengan rinci dan jelas, biasanya perihal ancaman
kelangsungan hidup, keamanan atau harga diri; terbangunnya
dapat terjadi kapan saja selama periode tidur, tetapi yang
khas adalah pada paruh kedua masa tidur.
– b. setelah terbangun dari mimpi yang menakutkan, individu
segera sadar penuh mampu mengenali lingkungannya.
– c. pengalaman mimpi itu dan akibat dari tidur yang
terganggu, menyebabkan penderitaan cukup berat bagi
individu.
• Sangat penting untuk membedakan mimpi buruk dari
terror tidur, dengan memeperhatikan gambaran klinis
yang khas untuk masing-masing gangguan.
Pendekatan Non Farmakologi

• Pendekatan hubungan antara pasien dan


dokter, tujuannya:
– Untuk mencari penyebab dasarnya dan
pengobatan yang adekuat.
– Sangat efektif untuk pasien gangguan tidur kronik.
– Untuk mencegah komplikasi sekunder yang
diakibatkan oleh penggunaan obat
hipnotik,alkohol, gangguan mental.
– Untuk mengubah kebiasaan tidur yang jelek.
Tata Laksana
Non Farmakoterapi
– Terapi Tingkah Laku
• Terapi tingkah laku bertujuan untuk mengatur pola tidur
yang baru dan mengajarkan cara untuk menyamankan
suasana tidur. Terapi tingkah laku ini umumnya
direkomendasikan sebagai terapi tahap pertama untuk
penderita insomnia.
• Terapi tingkah laku meliputi :
– Edukasi tentang kebiasaan tidur yang baik.
– Teknik Relaksasi.
– Terapi kognitif.
– Restriksi Tidur.
– Kontrol stimulus
Gaya hidup dan pengobatan di
rumah
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia :
• Mengatur jadwal tidur yang konsisten termasuk pada hari libur
• Tidak berada di tempat tidur ketika tidak tidur.
• Tidak memaksakan diri untuk tidur jika tidak bisa.
• Hanya menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.
• Relaksasi sebelum tidur, seperti mandi air hangat, membaca, latihan
pernapasan atau beribadah
• Menghindari atau membatasi tidur siang karena akan menyulitkan tidur
pada malam hari.
• Menyiapkan suasana nyaman pada kamar untuk tidur, seperti
menghindari kebisingan
• Olahraga dan tetap aktif, seperti olahraga selama 20 hingga 30 menit
setiap hari sekitar lima hingga enam jam sebelum tidur.
• Menghindari kafein, alkohol, dan nikotin
• Menghindari makan besar sebelum tidur
• Cek kesehatan secara rutin
• Jika terdapat nyeri dapat digunakan analgesik
• Terapi pengontrolan stimulus
• Terapi ini bertujuan untuk memutus siklus
masalah yang sering dikaitkan dengan
kesulitan memulai atau jatuh tidur. Terapi ini
membantu mengurangi faktor primer dan
reaktif yang sering ditemukan pada insomnia.
• Sleep Restriction Therapy
• Membatasi waktu di tempat tidur dapat membantu
mengkonsolidasikan tidur . Terapi ini bermanfaat untuk
pasien yang berbaring di tempat tidur tanpa bisa
tertidur
• Terapi relaksasi dan biofeedback
• Terapi ini harus dilakukan dan dipelajari dengan baik.
Menghipnotis diri sendiri, relaksasi progresif, dan
latihan nafas dalam sehingga terjadi keadaan relaks
cukup efektif untuk memperbaiki tidur. Pasien
membutuhkan latihan yang cukup dan serius.
Farmakologi

Pengobatan insomnia secara farmakologi dibagi


menjadi dua golongan yaitu benzodiazepine dan
non-benzodiazepine. 1
• Benzodiazepine (Nitrazepam,Trizolam, dan
Estazolam)
• Non benzodiazepine (Chloral-hydrate,
Phenobarbital)
Sediaan Obat Anti-Insomnia dan Dosis Anjuran
(yang beredar di Indonesia menurut MIMS Vol. 30 - 2001)

No Nama Generik Nama Dagang Sediaan Dosis Anjuran

1. Nitrazepam MAGADON (Roche) Tab 5 mg Dewasa 2 tab


DUMOLID (Alpharma) Tab 5 mg Lansia 1 tab

2. Triazolam HALCION (Up John) Tab 0,125 mg Dewasa 2 tab


Lansia 1 tab
Tab 0,250 mg Dewasa 1 tab
Lansia 1/2 tab

1-2 mg/malam
3. Estazolam ESILGAN (Takeda) Tab 1 mg
Tab 2 mg

4. Chloral hydrate CHLORALHYDRAT Soft cap 500 mg 1-2 cap 15-30


500 (Darya Varia) menit sebelum
tidur
pemilihan obat, ditinjau dari sifat
gangguan tidur :
• Initial Insomnia (sulit masuk ke dalam proses tidur)
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep inducing anti-insomnia”
yaitu golongan benzodiazepine (Short Acting). Misalnya pada gangguan
anxietas

• Delayed Insomnia (proses tidur terlalu cepat berakhir dan sulit


masuk kembali ke proses tidur selanjutnya)
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Prolong latent phase Anti-
Insomnia”, yaitu golongan heterosiklik antidepresan (Trisiklik dan
Tetrasiklik). Misalnya pada gangguan depresi

• Broken Insomnia (siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan
terpecah-pecah menjadi beberapa bagian (multiple awakening).
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep Maintining Anti-
Insomnia”, yaitu golongan phenobarbital atau golongan
benzodiazepine (Long acting). Misalnya pada gangguan stres
psikososial.
Lama Pemberian:
• Pemberian tunggal dosis anjuran 15 sampai 30 menit
sebelum pergi tidur.
• Dosis awal dapat dinaikkan sampai mencapai dosis
efektif dan dipertahankan sampai 1-2 minggu,
kemudian secepatnya tapering off (untuk mencegah
timbulnya rebound dan toleransi obat)
• Pada usia lanjut, dosis harus lebih kecil dan
peningkatan dosis lebih perlahan-lahan, untuk
menghindari oversedation dan intoksikasi
• Ada laporan yang menggunakan antidepresan sedatif
dosis kecil 2-3 kali seminggu (tidak setiap hari) untuk
mengatasi insomnia pada usia lanjut
komplikasi
• Insomnia berat mempengaruhi delapan domain
quality of life, yakni :
– Kemampuan fisik
– Perlindungan terhadap penyakit fisik
– Persepsi nyeri
– Kesehatan umum
– Vitalitas
– Fungsi sosial
– Perllindungan terhadap instabilitas emosi
– Kesehatan mental (moore, 2007)
Prognosis
Prognosis umumnya baik dengan terapi yang
adekuat dan juga terapi pada gangguan lain
seperti depresi dan lain-lain. Lebih buruk jika
gangguan ini disertai skizophrenia
Daftar Pustaka
• Kaplan, H.I, Sadock BJ. 2010. Kaplan dan Sadock Sinopsis Psikiatri.
Ed: Wiguna, I Made. Tangerang: Bina Rupa Aksara Publisher
• Maslim, Rusdi. 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan
Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-
Unika Atmajaya.
• Sudoyo. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
• Insomnia.(http://www.mayoclinic.com/health/insomnia/DS00187/
DSECTION=alternative-medicine )
• Definisi, Gejala dan Faktor Penyebab Insomnia
(http://www.kajianpustaka.com/2016/10/definisi-gejala-dan-faktor-
penyebab-insomnia.html)