Anda di halaman 1dari 77

HUKUM PERTANAHAN

DAN
POLITIK AGRIA
Oleh
Dr. YAHMAN, S.H., M.H.
CURRICULUM VITAE
Nama : Dr. Yahman, SH., M.H
(Alumni Program Doktor Ilmu Hukum Unair Surabaya Tahun 2010)

Alamat : Pondok Sidokare Indah Blok PP 04-07 Sidoarjo.

Hp/Telp : 081 331 441 117, 081 233 414 111

Email : yahmanaldi@yahoo.co.id dan yahmanaldi12@gmail.com

Dosen : 1. Dosen Luar Biasa S1 Fakultas Hukum Universitas Airlangga


Surabaya

2. Dosen S1 Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara


Surabaya

3. Dosen S2 (Pascasarjana) Fakultas Hukum Universitas


Bhayangkara Surabaya

4. Dosen pada Pendidikan Advokad “PERADIN” dan “PERADI”


Surabaya

2
Buku :
1. Kejahatan Terhadap Harta Benda & Nyawa Tinjauan Terhadap Subjek Hukum Dalam
Hukum Pidana Materiil Jilid I (Diterbitkan oleh Rumah Pustaka Publisher, Surabaya,
Desember 2010, ISBN : 978-979-16903-2-4);
2. Karakteristik Wanprestasi & Tindak Pidana Penipuan Yang Lahir dari Hubungan
Kontraktual (Diterbitkan oleh Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, Pebruari 2011,
ISBN: 978-602-8963-02-2);
3. Bunga Rampai Hukum Aktual Dalam Perspektif Hukum Bisnis Kontraktual (Diterbitkan
oleh Mitra Mandiri Publisher, Surabaya, Juli 2011, ISBN: 978-602-99665-0-3);
4. Kejahatan Terhadap Harta Benda & Nyawa Tinjauan Terhadap Subjek Hukum Dalam
5. Hukum Pidana Materiil Jilid II (Diterbitkan oleh Mitra Mandiri Publisher, Surabaya, Juli
2011, ISBN: 978-602-99665-1-0);
6. Cepat & Mudah Memahami Hukum Pidana Jilid 2 (diterbitkan oleh Prestasi Pustaka
Publisher, Jakarta, Nopember 2011, ISBN: 978-602-8963-329).
7. Cara Mudan memahami Wanprestasi dan Penipuan dalam Hubungan Kontrak Komersial
(diterbitkan Kencana Prenada Media Group, Jakarta, Maret 2016, ISBN : 978-602-0895-70-3).
8. Peran Advokat Dalam Sistem Hukum Nasional (Diterbitkan oleh Kecana Prenadamedia Group
Jakarta, Januari 2019 ISBN : 976 -602-422-706-7)

Jurnal :
1. Cacat Kehendak Yang Lahir Dari Hubungan Kontraktual Beserta Akibat Hukumnya
(Judiciary Jurnal Hukum &Keadilan Vol. 1 No. 1, Desember 2010 No. ISSN: 1858-3865
Diterbitkan oleh Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Surabaya);
2. Batas Wanprestasi dan Penipuan Dalam Hubungan Kontrak Komersial (Jurnal
Magister Hukum Perspektif Vol. 2 Nomor 1, April 2011 ISSN: 2086-6526 Diterbitkan
oleh Program Pascasarjana Program Studi Ilmu Hukum Universitas Wisnuwardhana
Malang);
3. Penyelesaian Sengketa Konsumen Air Minum Dalam Kemasan (AMD) Mengacu Pada
Undang-undang Konsumen (Judiciary Jurnal Hukum &Keadilan Vol. 2 No. 1, Juni 201
No. ISSN: 1858-3865 Diterbitkan oleh Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara
Surabaya);
4. Problematika Penegakkah Hukum pada Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Prtambangan Mineral dan Batu Bara (Jurnal Arena Hukum ISSN : 20126-0235 Vol. 6
Nomor 1, April 2013 Diterbitkan oleh Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang).
3
Kuliah dilaksanakan dalam waktu 4 minggu atau 8 kali
pertemuan ( tatap muka ) yang terdiri atas:

7 kali pertemuan tatap muka dan 1 kali ujian/tugas.


Nilai akhir untuk setiap mahasiswa merupakan akumulasi nilai-nilai
sebagai berikut : tugas/ujian (50 % ) keaktifan ( 10 % ) dan
absensi ( 50% ).
Poin penting dalam perkuliahan ini adalah kehadiran, apabilan
mahasiswa memenuhi kehadiran 100% maka ada penilaian khusus
buat mahasiswa tersebut ditambah dengan keaktifan dikelas dan
nilai tugas/ujian.

4
Tanah mempunyai
kedudukan yang
amat penting bagi
manusia, masyarakat
serta negara…

5
Kompetensi
1. Mengetahui dan memahani tentang
konsep Hukum Tanah dan Politik
Agraria
2. Mengetahui dan memahami kewenangan
pemerintah, pemerintah daerah dalam
pertanahan
3. Masalah-masalah pertanahan di
Indonesia
6
PENGERTIAN

7
Hukum Tanah Nasional
Hukum tanah yang baru atau hukum tanah nasional mulai
berlaku sejak 24 September 1960, dimuat dalam Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 dengan
judul resmi “Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria”, atau
yang lebih dikenal dengan sebutan Undang-undang Pokok
Agraria (UUPA).

UUPA mengakhiri berlakunya peraturan-peraturan hukum


tanah kolonial, dan sekaligus mengakhiri dualisme atau
pluralisme hukum tanah di Indonesia, serta menciptakan
dasar-dasar bagi pembangunan hukum tanah nasional
yang tunggal berdasarkan hukum adat sebagai hukum
nasional Indonesia yang sesuai dengan budaya yang
dimiliki.
8
Lanjutan : Hukum Tanah Nasional
Hukum Tanah mengatur segi tertentu dari tanah itu
sendiri, yakni menyangkut Hak Penguasaan atas Atas
Tanah (HAT). Segi-segi lain, seperti bagaimana
menggunakan tanah atau bagaimana mewariskan
tanah tidak tunduk pada Hukum Tanah, melainkan
tunduk pada hukum lain, dalam hal ini:
(a) Cara penggunaan tanah tunduk pada Hukum Tata
Guna Tanah sebagai bagian dari Hukum Tata Ruang
dan/atau Hukum Tata Lingkungan;

(b) cara mewariskan tanah tunduk pada Hukum Waris.


9
Politik Hukum Tanah
 Politik hukumnya, hukum yang berlaku dalam HPAT
mencita-citakan hukum yang tertulis, agar lebih mudah
diketahui. Oleh karena, untuk menjamin kepastian
hukum maka Hukum Tanah Nasional (HTN) diharapkan
dalam bentuk tertulis.

 Namun, kenyataan sampai sekarang kita belum mampu


mengatur semua hukum mengenai HPAT di Indonesia
secara tertulis. Dengan perkataan lain, HPAT dalam
bentuk Hukum Adat, bahkan dalam Hukum Kebiasaan-
kebiasaan baru (yang bukan Hukum Adat).

10
Lanjutan : Hukum Tanah Nasional
Oleh karena itu, sampai saat ini hukum yang berlaku
mengenai HPAT dalam HTN, terdiri atas:
a. hukum tertulis, yang meliputi:
1) Pasal 33 UUD 1945;
2) UUPA;
3) Peraturan-peraturan pelaksanaan;
4) Peraturan-peraturan lama sebelum UUPA yang
berlaku berdasarkan peraturan peralihan dari UUD
1945.
b. hukum yang tidak tertulis, yang meliputi:
1) Hukum Adat yang sudah disaneer;
2) Hukum kebiasaan-kebiasaan baru yang bukan Hukum
Adat.
11
PENGERTIAN HUKUM AGRARIA

12
Hukum Agraria
Pengertian agraria dalam arti luas dapat dilihat pada UU
No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok
Agraria (yang lebih dikenal dengan Undang-undang Pokok
Agraria, disingkat UUPA).

Menurut UUPA, agraria meliputi bumi, air, dan ruang


angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya.

UUPA menentukan bahwa dalam pengertian bumi, selain


permukaan bumi, termasuk pula tubuh bumi, di bawahnya
serta yang berada di bawah air (Pasal 1 butir 4).
13
Lanjutan : Hukum Agraria
Pengertian air termasuk perairan pedalaman maupun laut
wilayah Indonesia (Pasal 1 butir 5).
Yang dimaksud dengan ruang angkasa meliputi ruang di
atas bumi dan air (Pasal 1 butir 6).
Selanjutnya, Pasal 4 ayat (1) UUPA juga mengartikan tanah
yang hanya sebagai permukaan bumi (the surface of the
earth).
Konsekuensinya, hak atas tanah pun secara hukum adalah
hak atas permukaan bumi, tidak sekaligus merupakan hak
atas benda-benda di atas tanah dan kekayaan alam di
tubuh bumi.
14
Tujuan UUPA
Penjelasan Umum Undang-undang Pokok Agraria (UUPA)
menyatakan bahwa tujuan UUPA adalah:

a. meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria


nasional, yang akan merupakan alat untuk membawakan
kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi Negara dan
rakyat, terutama rakyat tani, dalam rangka masyarakat yang
adil dan makmur.

b. meletakan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan


kesederhanaan dalam hukum pertanahan.

c. meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum


mengenai hakhak atas tanah bagi rakyat seluruhnya.
15
Lanjutan: TUJUAN UUPA
1. Menciptakan unifikasi Hukum Agraria dengan
cara:
 Menyatakan tidak berlaku lagi
(mencabut/menghapus) produk peraturan-
peraturan hukum tanah yang lama
 Menyatakan berlakunya Hukum Tanah Nasional
berdasarkan Hukum Tanah Adat yang tidak
tertulis, sebagai bahan penyusunan hukum
tanah nasional.

16
Lanjuutan: TUJUAN UUPA
2. Menciptakan unifikasi hak-hak penguasaan atas tanah (hak-hak
atas tanah dan hak jaminan atas tanah) melalui ketentuan
konversi:

 Tanah-tanah hak barat maupun tanah-tanah hak Indonesia


sebagai hubungan konkrit, dikonversi (diubah) menjadi hak-
hak atas tanah menurut UUPA secara serentak dan demi
hukum (rechtswege), terhitung mulai tanggal 24 September
1960.

 Hak-hak jaminan atas tanah, yaitu hipotik dan


credietverband (pasal 1162 KUH-Perdata pasal 15 Stbl. 1908-
542) diubah demi hukum terhitung mulai tanggal 24
September 1960, menjadi Hak Tanggungan (pasal 51 UUPA &
pasal IV Ketentuan Konversi UUPA jo. UU no. 4 Tahun 1996
tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-benda
Yang Berkaitan dengan Tanah).
17
FUNGSI UUPA
1. Menghapuskan dualisme hukum tanah yang lama dan menciptakan
unifikasi serta kodifikasi Hukum Agraria (Tanah) Nasional yang
didasarkan pada Hukum (Tanah) Adat
a. Penghapusan dualisme Hukum Tanah yang lama tersebut dilakukan
dengan cara sebagaimana yang tertuang di dalam diktum
“Memutuskan” dari UUPA, yakni mencabut:
- Seluruh pasal 51 Indische Staatsregeling yang didalamnya termasuk
juga ayat-ayat yang merupakan Agrarische Wet (stbl. 1870-55);
- Semua Domein Veklaring dari pemerintah Hindia Belanda baik
yang umum maupun yang khusus;
- Peraturan mengenai Agrarische Eigendom yang dituangkan ke
dalam Koninklijk Besluit tanggal 16 April 1872 No. 29 (Stbl. 1872-117
jo. Stbl. 1873-38);
- Buku Kedua KUH-Perdata sepanjang yang mengenai bumi, air serta
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya kecuali ketentuan-
ketentuan mengenai hipotik;
- Dalam hal ini secara implisit ikut terhapus juga ketentuan-ketentuan
tentang larangan pengasingan tanah (Grond Vervreemding Verbod
Stbl. 1875-179).

18
Lanjutan :FUNGSI UUPA
2. Mengadakan unifikasi hak-hak atas tanah
dan hak-hak jaminan atas tanah melalui
ketentuan-ketentuan konversi (Diktum ke-2
UUPA).
3. Meletakkan landasan hukum untuk
pembangunan Hukum Agraria (Tanah)
Nasional, misalnya pasal 17 UUPA
mengenai Landreform

19
Perbedaan dan kesamaan
Hukum Tanah dan Hukum Agraria
Hukum Hukum Tanah dan Hukum Agraria mempunyai sifat yang
sama yakni sama-sama mengatur tentang hak penguasaan (tenure)
yakni hak untuk berbuat sesuatu.

Perbedaan hanya berada pada lingkup objek yang diaturnya itu.


Hukum Agraria mengatur hak penguasaan atas bumi, air, dan ruang
angkasa yang terkandung di dalamnya, sedangkan Hukum Tanah
mengatur Hak Penguasaan Atas Tanah (HPAT).

Di dalam kenyataan pendidikan tinggi hukum di Indonesia,


meskipun digunakan nama Mata Kuliah Hukum Agraria, namun isi
dari perkuliahan adalah Hukum Tanah.

20
Lanjutan : Perbedaan dan kesamaan
Hukum Tanah dan Hukum Agraria
Hukum Agraria - yang utamanya bersumber pada
UUPA - sarat dengan ketentuan yang diarahkan
untuk mentransformasikan masyarakat ke dalam
suatu “kehidupan baru”, yakni masyarakat yang
lebih adil dan sejahtera melalui tanah.

Harapan tersebut masih belum terwujud


sepenuhnya mengingat banyak ketentuan
pelaksanaan dari UUPA belum ditetapkan.
21
Sejarah Pertanahan
di Indonesia

22
Sejarah Pertanahan di
Indonesia
Latar belakang sejarah pertanahan
di Indonersia Masa sebelum
UUPA dan sesudah UUPA

23
Masa Pemerintahan Gubenur Thomas
Stamford Raples (1811 – 1816 )
Pemilikan tanah-tanah di daerah
swapraja di Jawa disimpulkan bahwa
semua tanah milik raja, sedang rakyat
hanya sekedar memakai dan
menggarapnya. Karena kekuasaan telah
berpindah kepada Pemerintah Inggris.

24
Masa Sebelum Tahun 1870
Pajak hasil atas tanah pertanian harus diserahkan kepada penguasa
kolonial (kompeni). Petani harus menyerahkan sebagaian dari hasil
pertaniannya kepada kompeni tanpa dibayar sepeser pun.
Suatu bentuk ketentuan yang diputuskan oleh kompeni dengan
para raja tentang kewajiban meyerahkan seluruh hasil panen
dengan pembayaran yang harganya juga sudah ditetapkan secara
sepihak. Dengan ketentuan ini, rakyat tani benar-benar tidak bisa
berbuat apa-apa. Mereka tidak berkuasa atas apa yang mereka
hasilkan.
Kebijaksanaan ini dikenal dengan kerja rodi, yang dibebankan
kepada rakyat Indonesia yang tidak mempunyai tanah pertanian.
25
KUHPerdata yang berlaku di Belanda, dengan beberapa perubahan,
berdasarkan asas konkordansi diberlakukan di Indonesia.

KUHPerdata tersebut terdapat beberapa jenis hak atas tanah barat yang dikenal
yaitu :
1) Tanah eigendom, yaitu suatu hak atas tanah yang pemiliknya mempunyai
kekuatan mutlak atas tanah tersebut;
2) Tanah hak opstal, yaitu suatu hak yang memberikan wewenang kepada
pemegangnya untuk memiliki sesuatu yang di atas tanah eigendom, pihak lain
yang dapat berbentuk rumah atau bangunan, tanaman dan seterusnya di
samping hak opstal tersebut memberikan wewenang terhadap benda-benda
tersebut kepada pemegang haknya juga diberikan wewenang-wewenang yaitu :
a). Memindah-tangankan benda yang menjadi haknya kepada pihak lain;
b). Dapat dijadikan jaminan utang;
c). Dapat diwariskan.

26
“SETELAH KEMERDEKAAN”

27
Undang-undang Nomor : 8 Tahun 1954 tentang : Penyelesaian
soal Pemakaian Tanah Perkebunan oleh Rakyat. Penyelesaian
akan diusahakan bertingkat 2 (dua) sebagai berikut :

1. pemilik perkebunan dengan rakyat/penggarap;


2. dalam rangka penyelesaian penggarapan tanah
perkebunan tersebut akan mengambil kebijakan
sendiri dengan memperhatikan :
 Kepentingan rakyat dan kepentingan
penduduk, letak perkebunan yang
bersangkutan;
 Kedudukan perusahaan perkebunan di dalam
susunan perekonomian negara

28
Setelah UUPA
• Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang
menyebutkan :
“Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung
di dalamnya dikuasai oleh negara, dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat”.

29
Pertimbangan Politik
a. bahwa di dalam Negara Republik Indonesia yang susunan
kehidupan rakyatnya, termasuk per-ekonomiannya, terutama masih
bercorak agraris, bumi, air dan ruang angkasa, sebagai karunia
Tuhan Yang Maha Esa mempunyai fungsi yang amat penting untuk
membangun masyarakat yang adil dan makmur;
b. bahwa hukum agraria yang masih berlaku sekarang ini sebagian
tersusun berdasarkan tujuan dan sendi-sendi dari pemerintahan
jajahan dan sebagian dipengaruhi olehnya, hingga bertentangan
dengan kepentingan rakyat dan Negara di dalam menyelesaikan
revolusi nasional sekarang ini serta pembangunan semesta;
c. bahwa hukum agraria tersebut mempunyai sifat dualisme, dengan
berlakunya hukum adat di samping hukum agraria yang di dasarkan
atas hukum barat;

d. bahwa bagi rakyat asli hukum agraria penjajahan itu tidak menjamin
kepastian hukum;
30
Obyek pengaturan UUPA berdasar pasal 33 ayat 3 UUD 1945 tidak terbatas
pada tanah saja, tetapi bumi, air, ruang ankasa, maka dalam perkembagannya
masing-masing sudah mendapat pengaturan sendiri-sendiri antara lain:

1. Perairan UU No. 4 tahun 1960 tentang Wilayah Indonesia


2. UU No. 1 tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia
3. UU No. 11 tahun 1974 tentang Pengairan
4. Perikanan UU No. 9 tahun 1985
5. Pertambangan UU No. 44 tahun 1960 tentang Pertambangan
minyak dan Gas umi
6. Kehutanan UU No. 5 tahun 1967 jo 41 tahun 1999 tentang
ketentuan-ketentuan pokok kehutanan
7. Sumber daya alam UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
8. Penataan Ruang UU No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang
9. Peraturan Pemerintah dan Peraturan Badan Pertanahan.
31
Undang-undang Nomor : 8 Tahun 1954 tentang : Penyelesaian
soal Pemakaian Tanah Perkebunan oleh Rakyat. Penyelesaian
akan diusahakan bertingkat 2 (dua) sebagai berikut :

1. pemilik perkebunan dengan rakyat/penggarap;


2. dalam rangka penyelesaian penggarapan tanah
perkebunan tersebut akan mengambil kebijakan
sendiri dengan memperhatikan :
 Kepentingan rakyat dan kepentingan
penduduk, letak perkebunan yang
bersangkutan;
 Kedudukan perusahaan perkebunan di dalam
susunan perekonomian negara

32
tahun 1988 Badan Pertanahan Nasional dengan
Keputusan Presiden Nomor : 26 Tahun 1988,

• memberikan kejelasan dan penegasan


mengenai lingkup pengertian agraria yang
dipakai di lingkungan administrasi
pemerintahan.
• Adapun administrasi pertanahan meliputi baik
tanah-tanah di daratan maupun yang berada di
bawah air, baik air daratan maupun air laut.

33
Dalam Kepres Nomor : 44 Tahun 1993

• Pengertian agraria meliputi bumi, air dan


kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
Dalam batas-batas seperti yang ditentukan
dalam Pasal 48, bahkan meliputi juga ruang
angkasa.

34
Regulasi Kepres Tentang Pertanahan

• Kepres No. 29 Tahun 1990 tetang Reboisasi


Dana Reboisasi, diubah dengan Keperes No.
40 Tahun 1993, terakhir diubah dengan Kepres
No. 53 Tahun 1997
• Kepres No. 24 Tahun 1997 Tentang
Pendaftaran tanah;
• Peraturan Badan Pertanahan No. 11 Tahun
2016 tentang penyelesaian sengketa hak.

35
Asas2 Hukum Agraria
“HAK ATAS TANAH”

36
Asas Nasionalisme
Yaitu suatu asas yang menyatakan bahwa
hanya warga Negara Indonesia saja yang
mempunyai hak milik atas tanah atau yang
boleh mempunyai hubungan dengan bumi
dan ruang angkasa dengan tidak
membedakan antara laki-laki dengan wanita
serta sesama warga Negara baik asli
maupun keturunan.
37
Asas Kebangsaan

Asas kebangsaan atau (demokrasi)

Yaitu suatu asas yang menyatakan


bahwa stiap WNI baik asli maupun
keturunan berhak memilik hak atas
tanah (pasal 1 UUPA)

38
Asas Dikuasai oleh Negara
Asas dikuasai oleh Negara
Yaitu bahwa bumi, air dan ruang angkasa
termasuk kekayaan alam yang terkandung
di dalamnya itu pada tingkat tertinggi
dikuasai oleh Negara sebagai organisasi
kekuasaan seluruh rakyat (pasal 2 ayat 1
UUPA)

39
Asas Hukum Adat yang Disaneer

Asas hukum adat yang disaneer


Yaitu bahwa hukum adat yang dipakai
sebagai dasar hukum agrarian adalah
hukum adat yang sudah dibersihkan dari
segi-segi negatifnya untuk kepentingan
nasional (pasal 5 UUPA)
40
Asas Fungsi Sosial
Asas fungsi sosial

Yaitu suatu asas yang menyatakan bahwa


penggunaan tanah tidak boleh bertentangan
dengan hak-hak orang lain dan kepentingan
umum, kesusilaan serta keagamaan(pasal 6
UUPA)
41
Asas Landeform
Pasal 7, 10 dan 17 UUPA.
Untuk tidak merugikan kepentingan umum maka pemilikan dan penguasaan tanah
yang melampaui batas tidak diperkenankan.
Luas maks kepemilikan tanah 15 ha untuk sawah dan 20 ha tanah kering perpu No.
56 1960)
Peraturan Menteri Agraria No. 18 Tahun 2016 ttg Pengendalian dan Penguasaan
Tanah Pertanian Pasal 11 (3) Tanah obyek landeform/Reformasi Agraria dibagikan
kepada petani sesuai ketentuan per uu.
Pasal 3 (2) pembatasan penguasaan tanah perorangan dan badan hukum.
Pasal 3 (3) Tanah pertanian :
 Perorangan :
- Tidak padat, luas 20 ha;
- Cukup padat luas 12 ha;
- Sangat padat luas 6 ha.
 Badan hukum sesuai dengan surat keputrusan pemberian hak (Kaidah
pragmatis ini membuka peluang praktek korupsi dan kolusi).
Peraturan Badan Pertanahan No. 2 Tahun 2011 Pedoman Penerbitan Izin Lokasi
dan Penetapan Perubahan Penggunaan Tanah.
Asas Non Diskriminasi
Asas non diskriminasi (tanpa pembedaan)
Yaitu asas yang melandasi hukum Agraria (UUPA).

UUPA tidak membedakan antar sesama WNI baik


asli maupun keturunan asing jadi asas ini tidak
membedakan-bedakan keturunan-keturunan anak
artinya bahwa setiap WNI berhak memilik hak atas
tanah.
43
Asas Gotong Royong
Asas gotong royong

Bahwa segala usaha bersama dalam lapangan agrarian


didasarkan atas kepentingan bersama dalam rangka
kepentingan nasional, dalam bentuk koperasi atau dalam
bentuk-bentuk gotong royong lainnya, Negara dapat
bersama-sama dengan pihak lain menyelenggarakan
usaha bersama dalam lapangan agraria (pasal 12 UUPA)
44
Asas Unifikasi

Asas unifikasi
Hukum agraria disatukan dalam satu UU
yang diberlakukan bagi seluruh WNI, ini
berarti hanya satu hukum agraria yang
berlaku bagi seluruh WNI yaitu UUPA.

45
Asas Kepentingan Umum
Asas Kepentingan Umum (pasal 18 UUPA)
Untuk kepentingan umum, termasuk kepentingan bangsa dan
Negara serta kepentingan bersama dari rakyat, hak-hak atas
tanah dapat dicabut, dengan memberi ganti kerugian yang layak
dan menurut cara yang diatur dengan Undang-undang.

UU No. 12 Tahun 2012 Tentang ganti rugi tanah, Perpres No.


7/2012 Tentang Pemberian ganti rugi dan Perka BPN No. 5/2015
Tentang Ganti rugi yang layak.

Peraturan Meneteri Keuangan No. 101/PMK.01/.2014 sesuai


Standar Penilaian Indonesia (SPI).
46
Asas Horizontal
Asas pemisahan horizontal (horizontale scheidings beginsel)
Yaitu suatu asas yang memisahkan antara pemilikan hak atas tanah
dengan benda-benda atau bangunan-bangunan yang ada di atasnya.

Asas ini merupakan kebalikan dari asas vertical (verticale


scheidings beginsel ) atau asas perlekatan yaitu suatu asas yang
menyatakan segala apa yang melekat pada suatu benda atau yang
merupakan satu tubuh dengan kebendaan itu dianggap menjadi satu
dengan benda iu artinya dalam asas ini tidak ada pemisahan antara
pemilikan hak atas tanah dengan benda-benda atau bangunan-
bangunan yang ada di atasnya.
47
Hukum Agraria
“HAK ATAS TANAH”

48
Pengertian Hak

“Hak” adalah “claim” atau tuntutan, dan suatu kepentingan


yang dilindungi oleh hukum.
Kepentingan pd hakekatnya mengandung kekuasaan yg dijamin
dan dilindungi oleh hukum.
Dengan perlindungan hukum tersebut maka subjek hak dapat
menuntut haknya terhadap setiap gangguan pihak lain
termasuk negara.
Hak untuk memiliki tanah atau dlm bahasa UUPA disebut “hak
atas tanah”, pada hakekatnya mengandung kekuasaan atau
kewenangan bagi pemegangnya, secara bersamaan dibebani
kewajiban.

49
Hak Atas Tanah
• Tanah adalah permukaan bumi (the surface of
earth)  ps.4 ayat (1) UUPA
• Jadi, Hak Atas Tanah (HAT) adalah hak atas
permukaan bumi.
• Selanjutnya, ps.4 ayat (2) menyatakan bahwa
hak-hak atas tanah tsb memberi wewenang
untuk mempergunakan tanah yang
bersangkutan, demikian pula tubuh, bumi dan
air serta ruang yang ada di atasnya sekedar
diperlukan untuk kepentingan yang langsung
berhubungan dengan penggunaan tanah dgn
batas UUPA dan per-UU lainnya.
50
2. HAT secara Historis

Hak Atas
Tanah

Sebelum UUPA Setelah UUPA


1. Tanah-tanah Yaitu HAT yang
Hak Barat diatur di dalam
2. Tanah-tanah UUPA*
Hak
Indonesia

51
HAT sebelum UUPA
1. Tanah-tanah Hak Barat
a. Hak Eigendom (HE)
b. Hak Erfacht (HErf)
c. Hak Opstal (HO)
2. Tanah-tanah Hak Indonesia
a. Tanah-tanah dengan Hak Adat
b. Tanah-tanah dengan Hak ciptaan
Pemerintah HB

52
Hak Eigendom (HE)
Adalah hak untuk dengan leluasa:
• menikmati kegunaan suatu benda, dan
• untuk berbuat bebas terhadap benda yang bersangkutan
dengan kekuasaan yang sepenuhnya.
• asal tidak bertentangan dengan UU dan Per-UUan lainnya
yang ditetapkan oleh Penguasa yang berwenang dan tidak
mengganggu hak-hak pihak lain.
• semuanya itu terkecuali pencabutan hak untuk kepentingan
umum, dgn pemberian ganti kerugian yang layak menurut
ketentuan per-UUan yg berlaku. (ps.570 BW).
• UU No. 12 Tahun 2012 Tentang ganti rugi tanah, Perpres No.
7/2012 Tentang Pemberian ganti rugi dan Perka BPN No.
5/2015 Tentang Ganti rugi yang layak.

53
….Eigendom (HE)
HE dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:
1. HE menurut ps.570 BW, (luasnya ≤10 bau)
2. HE dengan hak-hak penguasa (luasnya >10 bau) yang
disebut dengan tanah partikelir* (particulaire landerijn),
Tuan tanah mempunyai:
a. Hak dan kewajiban untuk mengangkat kepala desa
b. Hak memperkerjakan pddk laki-laki (rodi) untuk sehari
dalam seminggu dgn hanya diberi makan
c. Hak untuk memungut cukai (sebagian dari dari hasil
panen)
d. Hak atas sewa kebun, sewa tanah dan pajak atas
pemeliharaan ikan

* Telah dihapus dengan UU No.1 tahun 1958 ttg Penghapusan Tanah-tanah Pertikelir
54
Hak Erfacht (HErf)
• Hak kebendaan (zakelijk Recht) untuk
mendapatkan kenikmatan sepenuhnya (volle
genot hebben) dari benda tetap orang lain
dengan syarat membayar pacht-sejumlah
uang tunai atau hasil bumi-setiap tahun
sebagai pengakuan terhadap milik orang
lain. Ps.720 BW

55
Hak Opstal (HO)
• Hak kebendaan untuk mempunyai gedung-
gedung, usaha atau tanaman di atas tanah
orang lain.  Ps.711 BW
• Bila berakhir, dan di atas tanah tersebut masih
ada tanah dan bangunan, maka opstaler
mendapat penggantian sesuai dengan nilainya
sedangkan erfpachter tidak.

56
Tanah-tanah hak Indonesia

Hak-hak atas Hak-hak atas tanah Hak-hak atas tanah


tanah Adat ciptaan Pemerintah ciptaan Pemerintah
Hindia Belanda Swapraja

1. Grant
Hak menguasai Sultan
dari desa atas Hak-hak individual 2. Grant
tanah atas tanah (terkuat Hak Control
dan turun menurun): Landerijen eur
(beschikkingsr Agrarisch
Perseorangan dan Bezitrecht 3. Grant
echt) Eigendom
komunal (LB) Deli
(AE) Maatsc
happij
4. Hak
konsesi
3. Hierarki Hak Atas Tanah di Indonesia
a) Hak Bangsa (Pasal 1);
b) Hak Menguasai dari Negara (Pasal 2 ayat (1));
c) Hak Ulayat (Pasal 2 ayat (4));
d) Hak-hak perorangan* (Pasal 16); terdiri dari :
a. Hak Milik,
b. Hak Guna Usaha,
c. Hak Guna Bangunan,
d. Hak Pakai,
e. Hak Sewa,
f. Hak Membuka Tanah,
g. Hak Memungut Hasil Hutan,
h. Hak lain yang ditetapkan UU dan yang bersifat sementara sesuai Pasal
53.
* Orang dan Badan Hukum
58
a) Hak Bangsa (ps.1 UUPA)
• Seluruh wilayah Indonesia adalah kesatuan tanah-air dari
seluruh rakyat Indonesia yang bersatu sebagai bangsa
Indonesia.  Ayat (1)
• Seluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam
yang terkandung didalamnya dalam wilayah Republik
Indonesia, sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah bumi,
air dan ruang angkasa bangsa Indonesia dan merupakan
kekayaan nasional  ayat (2)
• Hubungan antara bangsa Indonesia dan bumi, air serta ruang
angkasa termaksud dalam ayat (2) pasal ini adalah hubungan
yang bersifat abadi. ayat (3)

59
b) Hak Menguasai dari Negara
(Ps.2 ayat (1)
• Atas dasar ketentuan dalam pasal 33 ayat (3)
Undang-undang Dasar dan hal-hal sebagai
yang dimaksud dalam pasal 1, bumi, air dan
ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang
terkandung didalamnya itu pada tingkatan
tertinggi dikuasai oleh Negara, sebagai
organisasi kekuasaan seluruh rakyat.

60
c) Hak Ulayat (Ps.2 ayat (4)
• pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada
daerah-daerah Swatantra dan masyarakat-
masyarakat hukum adat,
• sekedar diperlukan dan tidak bertentangan
dengan kepentingan nasional, menurut
ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah.

61
4. Hak Atas Tanah berdasarkan Sifatnya

DITENTU-
TETAP SEMENTARA KAN
KEMUDIAN

63
Hak Atas Tanah bersifat “Tetap”
– Hak Milik (ps. 20-27)
– Hak Guna Usaha (ps.28-34)
– Hak Guna Bangunan (ps.35-40)
– Hak Pakai (ps.41-43)-maria S (sifatnya sementara)
– Hak Sewa Bangunan (ps.44-45)
– Hak Membuka Tanah dan Memungut Hasil (ps.46)
– Hak Guna Air, Pemeliharaan dan Penangkapan Ikan
(ps.47)
– Hak Guna Ruang Angkasa (ps.48)
– Hak untuk Keagamaan dan Sosial (ps.49)

64
Hak Atas Tanah bersifat “Sementara”
– Hak Gadai
– Hak Bagi Hasil Tanah Pertanian
– Hak Sewa Tanah Pertanian
– Hak Menumpang
– Hak Tanggungan
Hak Atas Tanah bersifat “Ditentukan
kemudian”
– Hak Pengelolaan

65
5. Hak Atas Tanah sebagai Lembaga
A. Hak Milik
B. Hak Guna Usaha
C. Hak Guna Bangunan
D. Hak Pakai
E. Hak pengelolaan

66
A. Hak Milik (ps.20-27 UUPA)
• Sifat: hak turun-temurun, terkuat *1.Bank-bank yg didirikan oleh
dan terpenuh yg dapat dipunyai negara
orang atas tanah.
• Subjek: Hanya WNI yang dapat 2.Perkumpulan-perkumpulan
mempunyai Hak Milik hanya organisasi pertanian
badan-badan hukum tertentu.*
• Objek: tanah negara, tanah ulayat 3.Badan-badan keagamaan yg
ataupun tanah yang berupa hak ditunjuk BPN (gereja HKBP, Gereja
milik adat. Roma Katolik, Gereja Pantekosta
dan Perserikatan
Muhammadiyah, NU)
• Terjadinya: krn hukum adat, 4.Badan-badan sosial yg ditunjuk
penetapan pemerintah dan BPN
karena UU

67
(lanjutan).....Hak Milik
• Peralihan Hak: oleh/dari • Pembebanan hak lain: HGB,
WNA, boleh melalui HP, HS, HT---- HGU tidak
(1) perwarisan tanpa wasiat boleh, karena harus di atas
dan tanah negara
(2) percampuran harta • Hapusnya:
perkawinan dgn syarat -musnah
dalam 1 tahun harus -pencabutan hak
dialihkan, jika tidak akan
hapus karena hukum -penyerahan sukarela
-ditelantarkan
-melanggar prinsip
nasionalitas

68
Hak Guna Usaha (ps.28-34)
• Sifat: hak untuk • Subjek: WNI dan badan hukum
mengusahakan tanah yg • Objek: tanah negara (dengan
dikuasai langsung oleh catatan)
negara • Cara terjadinya: dengan
permohonan=ketetapan
a. Hanya di atas tanah Pemerintah
negara • Peralihan: dapat dengan
b. Digunakan untuk perbuatan dan peristiwa
pertanian, perikanan hukum
dan peternakan. • Jangka waktu: 25 th, untuk
c. Jangka waktu ttt perusahaan 35 th dpt
diperpanjang 25 th.

69
Lanjutan…..HGU
• Pembebanan: hak tanggungan
• Hapusnya:
-jangka waktu berakhir
-berhenti sebelum jangka waktu
-dilepaskan sebelum jangka waktu
-dicabut untuk kepentingan umum
-ditelantarkan
-tanahnya musnah
-subjeknya tidak lagi memenuhi syarat HGU

70
HGB (ps.35-40)
• Sifat: hak untuk • Objek: tanah negara,
mendirikan dan tanah hak pengelolaan
bangunan-bangunan dan tanah hak milik.
atas tanah yang bukan • Jangka waktu: 30 tahun
miliknya sendiri dgn dan dapat diperpanjang
jk.wkt paling lama 30 20 tahun.
tahun. • Pembebanan: Hak
• Subjek: WNI dan badan Tanggungan
hukum Indonesia

71
lanjutan….HGB
• Cara terjadinya: (1) • Peralihannya:
penetapan pemerintah perbuatan dan
(2) perjanjian otentik peristiwa hukum
karena penetapan • Hapusnya:
pemerintah dan antara -tanahnya musnah
pemilik tanah dgn pihak
yg akan memperoleh -jk.wktu berakhir
HGB. -dilepaskan sukarela
-kepentingan umum
-diterlantarkan

72
Hak Pakai (ps. 41-43)
• Sifat: hak untuk • Subjek: WNI, WNA,
menggunakan atau badan hukum (didirikan
memungut hasil dari di Indonesia dan yang
tanah orang lain, yaitu mempunyai perwakilan
milik orang lain atau di Indonesia),
tanah negara, yg bukan perwakilan negara asing
perjanjian sewa- dan organisasi
menyewa dan pula internasional.
pengolahan tanah.

73
lanjutan…Hak Pakai
• Objek: Tanah negara, • Cara terjadinya:
tanah hak pengelolaan (1)pemberian hak di
dan Hak milik. atas tanah negara dan
• Jangka waktu: ada yang pemberian atas usul
ditentukan (maks.25 th pemegang hak
dan diperpanjang 20 th) pengelolaan (2)
dan tidak—tanahnya pendirian/pembebanan
dipergunakan untuk hak baru di atas HM.
keperluan tertentu • Hapusnya: idem

74
Hak Pengelolaan
• Sifat: pengertian HP, secara • Subjek: orang atau badan
eksplisit tidak ada di UUPA penguasa (departemen,
tapi ada di dalam jawatan atau Daerah
penjelasan. Hak ini swatantra) untuk
mengacu kpd hak dipergunakan bagi
menguasai negara untuk pelaksanaan tugasnya
memberikan hak masing-masing.
penglolaan Ps.1 PP No.40 • Objek: tanah negara
Tahun 1996 HP adalah ‘hak • Cara terjadinya: dengan
menguasai dari negara yg permohonan. Peraturan
kewenangan dan kaBPN No 9 th 99 ttg cara
pelaksanaannya sebagian pemberian dan pembatalan
dilimpahkan pada HAT negara dan Hak
pemegang haknya’. Pengelolaan.

75
SEKIAN
DAN TERIMA KASIH
DAFTAR PUSTAKA
1. Chomzah, Ali Achmad. Hukum Agraria (Pertanahan
Indonesia) Jilid 1, Prestasi Pustaka, Jakarta, 2004
2. Gunanegara, Rakyat dan Negara dalam pengadaan
tanah untuk pembangunan, PT.Tatanusa, Jakarta,
2008
3. Harsono, Boedi. Hukum Agraria di Indonesia, 1999
4. Sitorus, Oloan dan H.M. Zaki Sierrad. Hukum
Agraria di Indonesia Konsep Dasar dan
Imlplementasi, Mitra Kebijakan Tanah di Indonesia,
2006

77