Anda di halaman 1dari 37

KESELAMATAN &

KESEHATAN KERJA
MODUL 14
Edi Soerjanto Ir. MSi
MODUL 14
SISTEM MANAGEMENT K3
• Azas Management K3
• Sistem Management K3
• Kebijakan Management
• Langkah Penerapan
• Program Safety Management (PSM)
Azas-azas Manajemen K3
• Dalam dunia usaha pertimbangan ekonomi menjadi pertimbangan yang
selektif dalam mengelola perusahaan. Produktivitas menjadi sasaran
utama (target oriented), namun dipertimbangkan juga masalah K3 yang
mencakup biaya kecelakaan dan biaya pencegahan.
• Sub sistem perangkat lunak seperti profesionalitas tenaga kerja, kebijakan
dan persyaratan kerja harus dipertimbangkan. Tenaga kerja merupakan
salah satu faktor sistem produksi yang sering terlibat dalam kecelakaan
kerja.
• Sub sistem perangkat kerja seperti sumber produksi, proses produksi serta
mutu produksi harus berjalan sinergis.
• Secara umum kecelakaan kerja diartikan kejadian yang tidak dapat diduga,
tetapi dapat diramalkan. Akibat perbuatan dan kondisi yang tidak
memenuhi persyaratan dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.
Indikator Perbuatan Berbahaya
Perbuatan bahaya (unsafe act) harus mendapat
perhatian serius dari manajemen K3, beberapa
indikator yang dapat ditampilkan atas
perbuatan berbahaya antar lain :
• Kekurangan pengetahuan dalam kerja
(unknowledge), kekurangan ketrampilan (
unskilled) dan sikap dalam kerja (attitude).
• Faktor kecelakaan dan faktor kebosanan.
• Gangguan psikologis.
• Bekerja tidak sepadan secara ergonomis.
• Faktor sosio ekonomis.
Peranan Manajemen
• Dapat disimpulkan bahwa faktor manusia adalah penyebab
kecelakaan kerja, bahkan mereka akan menerima beban yang
berlebihan serta kondisi lingkungan kerja tidak mendukung. Karena
itu Sistem Manajemen K3 berperan aktif dalam rangka pengendalian
kerugian.
• Ke depan, manajemen harus berfikir serius menyongsong semakin
canggihnya peralatan dalam proses produksi, sehingga doktrin K3
harus bertumpu pada pengendalian dan perhatian pada tenaga kerja.
• Manajemen perusahaan harus bertolak pada perencanaan yang
cermat, setiap resiko harus dikendalikan secara teknis dan sistematis,
tidak semata-mata dijamin oleh besarnya asuransi.
Peranan Manajemen
• Masa sekarang dan seterusnya kalangan industri sudah mulai
memperlihatkan sikap dari semula K3 perlu ditingkatkan untuk
menghadapi tantangan kemajuan teknologi. Perlindungan tenaga kerja
harus ditingkatkan melalui perbaikan kondisi kerja, peningkatan
kesejahteraan, penegakan hukum K3.
• Peranan manajemen dalam membangkitkan partisipasi tenaga kerja tidak
dilandasi oleh aturan otoritas melainkan lebih berdaya guna bila
dibangkitkan melalui kepemimpinan profesional ketauladanan dengan
tujuan utama better safety and better production.
• Sebenarnya kendala psikologis yang ditanggulangi bersama melalui
kepemimpinan paternalistik berusaha mendisiplinkan tenaga kerja
menanamkan kepatuhan norma K3 dalam menanggulangi resiko.
Metode Pencegahan Kecelakaan dan
Pengendalian Resiko
Metode pencegahan kecelakaan dan pengendalian resiko bertumpu pada
empat tahapan :
• Pendekatan legalistic, mengacu pada peraturan perundangan norma kerja;
• Pendekatan administrative, difokuskan pada tata laksana kerja dan disiplin
kerja,
• Pendekatan teknis, mengacu pada teknologi proses produksi, standar kerja;
• Pendekatan persuasive, mengacu pada struktur organisasi, kultur kerja.

Pendekatan-pendekatan tersebut di atas dilakukan secara berimbang.


Metode Pencegahan
• SMK3 lebih condong pada pendekatan persuasif, karena struktur
organisasi yang menangani masalah K3 lebih diutamakan peranannya
terutama unsur manajemen. Pendekatan persuasif melihat bahwa K3
dijadikan salah satu unsur produksi dalam mainstream manajemen,
mengutamakan pembinaan dalam sistem, memberdayakan lapisan
bawah berperan serta memecahkan permasalahan.
• Dalam SMK3 peran Panitia Pembina K3 (P2K3) mempunyai fungsi
sebagai mitra kerja, suatu kerjasama yang bernafaskan simbiosis
dipastikan sebagai motor penggerak dalam menciptakan tempat
kerja yang aman dalam suasana yang nyaman.
Sistem Manajemen K3
• Secara umum, Standar Sistem Manajemen Keselamatan Kerja yang paling
umum kita temui adalah dengan rujukan dari Standar OHSAS 18001:2007,
ILO-OSH:2001 serta Permenaker No 5 Tahun 1996 tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja :
• Menurut OHSAS 18001:2007, Sistem Manajemen K3 didefinisikan sebagai
bagian dari sebuah sistem manajemen organisasi (Perusahaan) yang
digunakan untuk mengembangkan serta menerapkan kebijakan K3, bahkan
mengelola resiko K3 Perusahaan.
• Menurut Permenaker No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen K3,
merupakan bagian dari sistem secara keseluruhan yang mana meliputi
struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan,
prosedural, proses, serta sumber daya yang dibutuhkan dalam
pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian.
Kebijakan K3
Dalam klausul OHSAS 18001:2007
Occupational Health and Safety
Management Systems Kebijakan K3
didefinisikan sebagai :
’Segala arah dan target (tujuan)
dari suatu Organisasi yang
berkaitan dengan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja yang secara
resmi dinyatakan oleh pimpinan
Perusahaan’.
Persyaratan Kebijakan K3
Dalam klausul 4.2 standar OHSAS 18001 : 2007 terdapat beberapa
persyaratan K3, antara lain :
• Sesuai dengan lingkungan dan besar resiko K3 Perusahaan.
• Terdapat komitmen untuk mencegah Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) dan
Penyakit Akibat Kerja (KAK), juga berkomitmen dalam peningkatan
berkelanjutan terhadap SMK3 dan Kinerja K3 Perusahaan.
• Terdapat komitmen untuk memenuhi Peraturan Perundang-undangan dan
Peraturan2 K3 lain.
• Terdapat kerangka kerja untuk menyusun dan meninjau sasaran/target/
tujuan K3 Perusahaan.
Persyaratan Kebijakan

• Didokumentasikan, diterapkan dan dipelihara.


• Dikomunikasikan kepada seluruh personil yang terdapat di bawah
kendali Perusahaan dengan maksud supaya seluruh personel
mengetahui kewajiban K3 masing-masing.
• Tersedia untuk pihak ke tiga yang berhubungan dengan aktivitas
operasional Perusahaan.
• Ditinjau secara berkala untuk menjamin pemenuhan dan kesesuaian
terhadap operasional Perusahaan.
Contoh Komitmen Kebijakan K3
• Menjamin K3 Tenaga Kerja dan orang
lain (kontraktor, pemasok, pengunjung
dan tamu) di tempat kerja.
• Memenuhi semua peraturan
perundang-undangan pemerintah yang
berlaku dan persyaratan lainnya yang
berkaitan dengan penerapan K3 di
tempat kerja.
• Melakukan perbaikan berkelanjutan
terhadap SMK3 guna meningkatkan
Budaya K3 yang baik di tempat kerja.
Bentuk Realisasi Komitmen

• Membangun dan memelihara SMK3 berkelanjutan serta sumber daya


yang relevan.
• Membangun tempat kerja dan pekerjaan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan persyaratan lainnya terkait K3.
• Menyediakan sarana dan prasarana K3 yang memadai.
• Memberikan pendidikan ataupun pelatihan terkait K3 kepada tenaga
kerja untuk meningkatkan kinerja K3 Perusahaan.
Langkah Penerapan SMK3
• Dunia usaha saat ini disibukkan dengan persyaratan dalam perdagangan global,
yang tentu akan menambah beban bagi industri. Persyaratan tersebut adalah
kewajiban melaksanakan SMK3, sesuai dengan Undang-Undang No. 13 tahun
2003 pasal 87.
• Sehingga, sangat penting bagi suatu Perusahaan untuk menerapkan SMK3 seperti
diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per 05.MEN/1996.
• SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang
meliputi stuktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan,
prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan
penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3 dalam
rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna
terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
• Tahapan-tahapan dan langkah-langkah SMK3 diklasifikasikan dalam Tahap
Persiapan serta Tahap Pengembangan dan Penerapan.
Tahap Persiapan
Merupakan tahapan atau langkah awal
yang harus dilakukan suatu Perusahaan.
Langkah ini melibatkan lapisan
manajemen dan sejumlah personel,
mulai dari menyatakan komitmen
sampai dengan kebutuhan sumber daya
yang diperlukan, adapun tahap
persiapan ini, antara lain :
• Komitmen manajemen puncak.
• Menentukan ruang lingkup.
• Menetapkan cara penerapan.
• Membentuk kelompok penerapan.
• Menetapkan sumber daya yang
diperlukan.
Tahap Pengembangan dan Penerapan
• Tahapan ini berisi langkah-langkah
yang harus dilakukan oleh
Perusahaan dengan melibatkan
banyak personel, mulai dari
menyelenggarakan penyuluhan dan
melaksanakan sendiri kegiatan audit
internal serta tindakan perbaikannya
sampai melakukan sertifikasi.
• Tahapan ini terdiri dari 10 (sepuluh)
Langkah Penerapan seperti diuraikan
berikut :
Langkah 1 :
Menyatakan Komitmen
• Pernyataan komitmen dan penetapan kebijakan untuk menerapkan sebuah
SMK3 dalam Perusahaan harus dilakukan oleh manajemen puncak.
Persiapan SMK3 tidak akan berjalan tanpa adanya komitmen terhadap
system manajemen tersebut. Manajemen harus benar-benar menyadari
bahwa merekalah yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan
atau kegagalan penerapan SMK3.
• Komitmen manajemen puncak harus dinyatakan bukan hanya dalam kata-
kata tetapi juga harus dengan tindakan nyata agar dapat diketahui,
dipelajari, dihayati dan dilaksanakan oleh seluruh staf dan karyawan
Perusahaan. Seluruh karyawan dan staf harus mengetahui bahwa tanggung
jawab dalam penerapan SMK3 bukan urusan bagian K3 saja. Tetapi mulai
dari manajemen puncak sampai karyawan terendah.
Langkah 2 :
Menetapkan Cara Penerapan
• Dalam menerapkan SMK3, Perusahaan dapat menggunakan jasa konsultan
dengan pertimbangan berikut:
• Konsultan yang baik tentu memiliki pengalaman yang banyak dan bervariasi
sehingga dapat menjadi agen pengalihan pengetahuan secara efektif, sehingga
dapat memberikan rekomendasi yang tepat dalam proses penerapan SMK3.
• Konsultan yang independen kemungkinan konsultan tersebut secara bebas dapat
memberikan umpan balik kepada manajemen secara objektif tanpa terpengaruh
oleh persaingan antar kelompok didalam Perusahaan.
• Konsultan jelas memiliki waktu yang cukup. Berbeda dengan tenaga Perusahaan yang
meskipun mempunyai keahlian dalam SMK3 namun karena desakan tugas-tugas yang
lain di Perusahaan, akibatnya tidak punya cukup waktu.
• Perusahaan dapat juga menerapkan SMK3 tanpa menggunakan jasa
konsultan, jika Perusahaan yang bersangkutan memiliki personel yang
cukup mampu untuk mengorganisasikan dan mengarahkan orang.
Langkah 3 :
Membentuk Kelompok Kerja Penerapan
Jika Perusahaan akan membentuk kelompok kerja sebaiknya anggota
kelompok kerja tersebut terdiri atas seorang wakil dari setiap unit kerja.
Biasanya manajer unit kerja, hal ini penting karena merekalah yang
tentunya paling bertanggung jawab terhadap unit kerja yang
bersangkutan. Kelompok Kerja ini berfungsi sbb :
• Peran anggota kelompok.
• Tanggung jawab dan tugas anggota ke lompok kerja
• Kualifikasi anggota kelompok kerja.
• Jumlah anggota kelompok kerja.
• Kelompok kerja penunjang.
Peran Anggota Kelompok
Dalam proses penerapan ini maka peranan anggota kelompok kerja
adalah :
• Menjadi agen perubahan sekaligus fasilisator dalam unit kerjanya
dengan merubah cara dan kebiasaan lama yang tidak menunjang
penerapan sistem ini, yang dapat menjelaskan tentang standar,
termasuk manfaat dan konsekuensi SMK3.
• Menjaga konsistensi dari penerapan SMK3, baik melalui tinjauan
sehari-hari maupun berkala.
• Menjadi penghubung antara manajemen dan unit kerja.
Tanggung Jawab dan Tugas
Tanggung jawab dan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh anggota
kelompok kerja adalah:
• Mengikuti pelatihan lengkap dengan standar SMK3.
• Melakukan tinjauan terhadap sistem sesuai standar SMK3.
• Membuat bagan alir yang menjelaskan tentang keterlibatan unit
kerjanya dengan elemen yang ada dalam standar SMK3.
• Bertanggung jawab mengembangkan sistem sesuai dengan elemen
yang terkait dalam unit kerjanya.
• Bertanggung jawab mempromosikan standar SMK3 secara menerus
baik di unit kerjanya sendiri maupun di unit kerja lain secara
konsisten.
Kualifikasi Anggota Kelompok
Dalam menunjukkan anggota kelompok kerja sebenarnya tidak ada ketentuan
kualifikasi yang baku. Namun demikian untuk memudahkan dalam pemilihan
anggota kelompok kerja, manajemen mempertimbangkan personel yang :
• Memiliki taraf kecerdasan yang cukup sehingga mampu berfikir secara konseptual
dan berimajinasi.
• Mampu membuat bagan alir dan menulis laporan.
• Disiplin dan tepat waktu.
• Berpengalaman kerja cukup didalam unit kerjanya sehingga menguasai dari segi
operasional.
• Mampu berkomunikasi dengan efektif dalam presentasi dan pelatihan.
• Mempunyai waktu cukup dalam membantu melaksanakan proyek penerapan
standar SMK3 di luar tugas-tugas utamanya.
Jumlah Anggota Kelompok
• Jumlah anggota kelompok kerja dapat bervariasi tergantung dari lingkup
penerapan, biasanya sekitar 8 (delapan) orang. Jumlah anggota kelompok kerja
harus mencakup semua elemen yang disyaratkan SMK3.
• Setiap anggota kelompok kerja dapat merangkap dalam working group.
Kelompok kerja akan diketuai dan dikoordinir oleh seorang Ketua, biasanya
dirangkap oleh manajemen representatif yang ditunjuk oleh manajemen puncak.
• Di samping itu untuk mengawal dan mengarahkan kelompok kerja sebaiknya
dibentuk Panitia Pengarah (Steering Committee), yang terdiri dari anggota
manajemen.
• Tugas Panitia adalah memberikan arahan, menetapkan kebijakan, sasaran dan
lain-lain yang menyangkut kepentingan Perusahaan secara keseluruhan. Dalam
proses penerapan ini maka kelompok kerja bertanggung jawab dan melaporkan
kepada manajemen.
Kelompok Kerja Penunjang
• Jika diperlukan, Perusahaan yang
berskala besar ada yang
membentuk kelompok kerja
penunjang dengan tugas
membantu kelancaran kerja
kelompok kerja penerapan,
khususnya untuk pekerjaan yang
bersifat teknis administrative.
• Misalkan, mengumpulkan
catatan-catatan K3 dan fungsi
administrative yang lain seperti
pengetikan, penggandaan dsb.
Langkah 4 :
Menetapkan Sumber Daya
• Sumber daya disini mencakup orang/personel, perlengkapan, waktu dan dana.
Orang yang dimaksud adalah beberapa orang yang diangkat secara resmi diluar
tugas-tugas pokoknya dan terlibat penuh dalam proses penerapan.
• Perlengkapan adalah perlunya mempersiapkan kemungkinan ruangan tambahan
untuk menyimpan dokumen atau komputer tambahan untuk mengolah dan
menyimpan data. Tidak kalah pentingnya adalah waktu.
• Waktu yang diperlukan tidaklah sedikit terutama bagi orang yang terlibat dalam
penerapan, mulai mengikuti rapat, pelatihan, mempelajari bahan-bahan pustaka,
menulis dokumen mutu sampai menghadapi kegiatan audit assessment.
• Penerapan SMK3 bukan sekedar kegiatan yang dapat berlangsung dalam satu
atau dua bulan saja. Untuk itu selama kurang lebih satu tahun perusahaan harus
siap menghadapi gangguan arus kas karena waktu yang seharusnya
dikonsentrasikan untuk memproduksikan atau beroperasi banyak terserap ke
proses penerapan ini. Keadaan seperti ini sebetulnya dapat dihindari dengan
perencanaan dan pengelolaan yang baik.
Langkah 5 :
Kegiatan Penyuluhan
• Penerapan SMK3 adalah kegiatan dari dan untuk kebutuhan personel
Perusahaan. Oleh karena itu harus dibangun rasa adanya
keikutsertaan dari seluruh karyawan dalam Perusahaan melalui
program penyuluhan.
• Kegiatan ini harus diarahkan untuk mencapai tujuan, antara lain :
• Menyamakan persepsi dan motivasi terhadap pentingnya penerapan SMK3
bagi kinerja Perusahaan.
• Membangun komitmen menyeluruh mulai dari direksi, manajer, staf dan
seluruh jajaran dalam Perusahaan untuk bekerja sama dalam menerapkan
standar sistem ini.
Langkah 6 :
Peninjauan Sistem
Kelompok kerja penerapan yang telah dibentuk kemudian mulai bekerja
untuk meninjau sistem yang sedang berlangsung dan kemudian
dibandingkan dengan persyaratan yang ada dalam SMK3.
Peninjauan ini dapat dilakukan melalui dua cara yaitu dengan meninjau
dokumen prosedur dan meninjau pelaksanaan sbb :
• Apakah Perusahaan sudah mengikuti dan melaksanakan secara konsisten
prosedur atau instruksi kerja dari OHSAS 18001 atau Permenaker
05/Men/1996.
• Perusahaan belum memiliki dokumen, tetapi sudah menerapkan sebagian
atau seluruh persyaratan dalam standar SMK3.
• Perusahaan belum memiliki dokumen dan belum menerapkan persyaratan
standar SMK3 yang dipilih.
Langkah 7 :
Penyusunan Jadwal Kegiatan
Setelah melakukan peninjauan sistem maka kelompok kerja dapat menyusun
suatu jadwal kegiatan. Jadwal kegiatan disusun dengan mempertimbangkan
hal-hal berikut :
• Ruang lingkup pekerjaan. Dari hasil tinjauan sistem menunjukan beberapa
banyak yang harus disiapkan dan berapa lama setiap prosedur itu akan
diperiksa, disempurnakan, disetujui dan diaudit. Semakin panjang daftar
prosedur yang harus disiapkan, semakin lama waktu penerapan yang
diperlukan.
• Kemampuan wakil manajemen dan kelompok kerja penerapan.
Kemampuan disini dalam hal membagi dan menyediakan waktu. Hal ini
menyangkut kelangsungan usaha Perusahaan seperti pencapaian sasaran
penjualan, memenuhi jadwal dan target produksi.
• Keberadaan proyek. Khusus bagi Perusahaan yang kegiatannya berdasarkan
proyek (misalnya kontraktor dan pengembangan), maka perlu dipastikan
bahwa pada saat asesor datang, proyek sedang dikerjakan.
Langkah 8 :
Pengembangan Sistem Manajemen K3
• Beberapa kegiatan yang perlu
dilakukan dalam tahap
pengembangan SMK3 antara
lain mencakup dokumentasi,
pembagian kelompok,
penyusunan bagan alir,
penulisan manual SMK3,
Prosedur dan instruksi kerja.
Langkah 9 :
Penerapan Sistem
Setelah semua dokumen selesai dibuat, maka setiap anggota kelompok kerja
kembali ke masing-masing bagian untuk menerapkan sistem yang ditulis. Adapun
cara penerapannya adalah:
• Anggota kelompok kerja mengumpulkan seluruh stafnya dan menjelaskan
mengenai isi dokumen tersebut. Kesempatan ini dapat juga digunakan untuk
mendapatkan masukan-masukan dari lapangan yang bersifat teknis operasional.
• Anggota kelompok kerja bersama-sama staf unit kerjanya mulai mencoba
menerapkan hal-hal yang telah ditulis. Setiap kekurangan atau hambatan yang
dijumpai harus dicatat sebagai masukan untuk menyempurnakan system.
• Mengumpulkan semua catatan K3 dan rekaman tercatat yang merupakan bukti
pelaksanaan hal-hal yang telah ditulis. Rentang waktu untuk menerapkan sistem
ini sebaiknya tidak kurang dari tiga bulan sehingga cukup memadai untuk menilai
efektif tidaknya sistem yang telah dikembangkan tadi. Tiga bulan ini sudah
termasuk waktu yang digunakan untuk menyempurnakan sistem dan
memodifikasi dokumen.
Langkah 10 :
Proses Sertifikasi
• Terdapat 5 (lima) Penyelenggara Audit eksternal SMK3 yang
mendapat Surat Penunjukan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
RI untuk melakukan sertifikasi sesuai Permenaker 05/Men/1996,
yaitu :
PT Sucofindo (Persero), PT Surveyor Indonesia (Persero), PT. Jatim Aspek
Nusantara (JAN), PT. Alkon Trainindo Nusantara, dan Biro Klasifikasi
Indonesia (BKI)
• Untuk OHSAS 18001:1999 organisasi bebas menentukan lembaga
sertifikasi manapun yang diinginkan. Untuk itu organisasi disarankan
untuk memilih Lembaga yang bersertifikasi OHSAS 108001 yang
paling tepat.
Program Safety Management (PSM)
• PSM merupakan regulasi yang di keluarkan oleh
U.S. Occupational Safety and Health Administration
(OSHA), tujuannya adalah mencegah terjadinya
kecelakaan seperti kejadian sangat mengerikan di
India tahun 1984, yaitu kasus Bhopal.
• OSHA mengusulkan standar yang mengatur cara
penanganan bahan-bahan kimia berbahaya dan
membuat program secara komprehensif dan
terintegrasi dalam proses teknologi, prosedur dan
manajemen praktis.
• OSHA mengeluarkan suatu regulasi tentang
penanganan, penggunaan dan proses bahan-bahan
Kimia yang sangat berbahaya (Title 29 of CFR
Section 1910.119).
Program Safety Management
PSM dibuat untuk melindungi industri yang memiliki Standard Industrial Code (SIC),
dimana prosesnya melibatkan bahan mudah terbakar dan bahan beracun yang
reaktif, yang ditentukan OSHA PSM sebagai berikut:
• Melakukan analisa bahaya proses di tempat kerja untuk mengidentifikasi dan
mengontrol bahaya dan meminimalkan konsekuensi dari kecelakaan yang sangat
parah atau fatal.
• Menyesuaikan control engineering terhadap fasilitas dan peralatan produksi,
proses, dan bahan baku untuk mencegah kecelakaan yang fatal.
• Mengembangkan manajemen kontrol sistem untuk mengendalikan bahaya,
melindungi lingkungan dan memberikan keselamatan dan kesehatan terhadap
pekerja.
• Membuat kontrol administrasi untuk perubahan fasilitas, prosedur operasi,
keselamatan kerja, training dan sebagainya untuk meningkatkan kesadaran
pekerja terhadap keselamatan kerja.
• Melakukan audit berkala untuk mengukur efektifitas PSM standar.
Referensi :
• https://wordpress.com/2008/06/13/sistem-manajemen-keselamatan-dan-kesehatan-kerja/
• https://www.slideshare.net/shellyintanpermatasarie/makalah-bab-13-kesehatan-dan-keselamatan-kerja-k3-hubungan-tenaga-
kerja-atau-manajemen
• https://www.synergysolusi.com/layanan/ohsas-iso-smk3
• http://disnakertransduk.jatimprov.go.id/majalah-sdm-plus/64-edisi-133-januari-2012/621-smk3-dan-langkah-penerapannya-di-
perusahaan
• http://rocketmanajemen.com/manajemen-k3/
• http://esaunggul.ac.id/2014/04/06/sistem-manajemen-k3-smk3-tin211-3-
20132/?gclid=CjwKCAiA7ovTBRAQEiwAo8dPcRoKTy81RTIP2lStA0_y4ok6crTpINQt_xuutfTAeeNv6GYJaf_RoRoCjU8QAvD_BwE
• http://k3-smk.co.id/2014/09/asas-asas-manajemen-k3.html
Kisi-kisi Soal UAS K3
JENIS SOAL JUMLAH SOAL BOBOT

PILIH 5 (LIMA) DARI 6 (ENAM) SOAL


1. Filosofi 1 soal 20%
2. Budaya 1 soal 20%
3. Teori Kecelakaan Akibat Kerja 1 soal 20%
4. Pemadam Kebakaran 1 soal 20%
5. LOTO 1 soal 20%
5. SMK3 1 soal 20%

BENTUK SOAL :
• Closed Book
• Penjelasan, jika diperlukan lengkapi dengan gambar atau berikan
contoh
SEMOGA SUKSES