Anda di halaman 1dari 84

BAB Cair

Melissa Putri Napitupulu 11-123


Artaulina Napitupulu 12-229
Minati Yohana Siagian 12-238

Pembimbing:
dr. Ida Bagus Eka Utama, Sp.A

Kepaniteraan Klinik Ilmu Pediatri


Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Indonesia
BAB CAIR
lamanya etiologi

PERSISTEN/KR
AKUT
ONIS infeksi Non Infeksi
(< 2minggu)
(>2 minggu)

Bakteri Virus Parasit


Pendahuluan
• Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya
lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam

• Diare erat hubungannya dengan kejadian kurang gizi. Setiap episode diare
dapat menyebabkan kekurangan gizi oleh karena adanya anoreksia dan
berkurangnya kemampuan menyerap sari makanan sehingga berdampak pada
kesehatan anak
Definisi
• Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan
konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya
lebih sering (biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari.
Cara Penularan
• Penularan secara fekal – oral yaitu melalui
makanan atau minuman yang tercemar oleh
enteropatogen atau kontak langsung tangan
dengan penderita atau barang-barang yang
telah tercemar tinja penderita atau tidak
langsung melalui lalat. (melalui 5F = Finger,
Flies, Fluid, Field, Food)
Etiologi

Non-
Infeksi
infeksi
Infeksi
Bakteri Virus Parasit

• Escheria Coli • Rotavirus • Entamoeba


• Salmonella • Enteric adenovirus Hystolytica
• Shigella • Astrovirus • Giardia Lamblia
• Bacillus Cereus • Calcivirus • Strongyloides
• Campylobacter jejuni • Coronavirus stercotalis
• Vibrio Cholera • Trichuris Trichura
• Clostridium • Blastocystis Homonis
perfringens • Cryptosporidium
• Aeromonas Parvum
Non-infeksi

Malabsorpsi Alergi

Keracunan Imunodefisiensi
Diare

Non-
Inflamasi
inflamasi
Mekanisme Diare

Gangguan motilitas

Eksudatif

Sekretorik

Osmotik
Vibrio Cholera
• Bakteri batang gram-negatif, berbentuk koma dan menyebabkan diare yang
menimbulkan dehidrasi berat

• Penyebaran: makanan dan air yang terkontaminasi

• Gejala awal: distensi abdomen dan muntah, yang secara cepat menjadi diare
berat, diare seperti air cucian beras. Demam ringan dapat terjadi.
Clostridium perfringens
• Bakteri batang gram positif, anaerob, membentuk spora

• Sering menyebabkan keracunan makanan akibat dari enterotoksin dan biasanya


sembuh sendiri

• Gejala berlangsung setelah 8 – 24 jam, diare cair dan nyeri epigastrium.


Demam jarang terjadi. Gejala ini akan berakhir dalam waktu 24 jam.
Bacillus Cereus
• Bakteri batang gram positif, aerobik, membentuk spora
• Enterotoksin menyebabkan gejala muntah dan diare
• Gejala dapat ditemukan pada 1 – 6 jam setelah asupan makanan
terkontaminasi
• Gejala akut mual, muntah, dan nyeri abdomen, yang seringkali
berakhir setelah 10 jam
Stafilococcus aureus
• Keracunan makanan karena stafilokokkus disebabkan asupan makanan yang
mengandung toksin stafilokokkus

• Enterotoksin stafilokokus stabil terhadap panas

• Gejala terjadi dalam waktu 1 – 6 jam

• Masa berlangsungnya penyakit kurang dari 24 jam.


Shigella
• Penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air yang menyebabkan disentri
basiler dan menghasilkan respons inflamasi pada kolon melalui enterotoksin
dan invasi bakteri.
• Gejala awal: demam, nyeri abdomen, dan diare cair tanpa darah, kemudian
feses berdarah setelah 3 – 5 hari kemudian
• Shigellosis kronis dapat menyerupai kolitis ulseratif, dan status karier kronis
dapat terjadi.
Salmonella nontyphoid
• Penyebab utama keracunan makanan di Amerika Serikat

• Salmonella enteriditis dan Salmonella typhimuriu

• Gejala awal: demam, menggigil, dan diare, diikuti dengan mual, muntah, dan
kejang abdomen
Salmonella typhi
• Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi
• Bentuk klasik demam tiphoid selama 4 minggu
• Masa inkubasi 7-14 hari
• Minggu pertama terjadi demam tinggi, sakit kepala, nyeri abdomen, dan
perbedaan peningkatan temperatur dengan denyut nadi
• Minggu kedua terjadi splenomegali dan timbul rash
• Minggu ketiga timbul penurunan kesadaran dan peningkatan toksemia
• Minggu ke empat terjadi perbaikan klinis.
Campylobakter
• Campylobakter ditemukan pada manusia C. Jejuni dan C. Fetus, sering
ditemukan pada pasien immunocompromised
• Masa inkubasi selama 24 -72 jam
• Diare dan demam timbul pada 90% pasien, dan nyeri abdomen dan feses
berdarah hingga 50-70%
• Gejala lain: demam, mual, muntah dan malaise
• Masa berlangsungnya penyakit ini 7 hari
Aeromonas
• Gram negatif dan anaerobik fakultatif

• Gejala: diare cair, muntah, dan demam ringan

• Penyakit sembuh sendiri dalam 7 hari

• Diagnosa ditegakkan dari biakan kotoran.


DIARE AKIBAT INFEKSI PARASIT
Jenis Parasit Penyebab Diare
Entamoeba histolytica Crytosporidium parvum

Protozoa Balantidium coli Sarcocystis sp.

Giardia lamblia Isospora belli

Strongyloides stercoralis Trematoda


Cacing Ascaris lumbricoides Trichinella spiralis

Trichuris trichiura Capillaria philippinensis

Candida albicans Aspergillus sp.


Jamur Manita phalloides Zygomycosis sp.
PROTOZOA
Entamoeba histolytica
Entamoeba histolytica

• Menyebabkan Amebiasis
• Diare biasanya mengandung darah dan mukus disertai tenesmus
• Memiliki 2 bentuk dalam perkembangan hidupnya, yaitu :
• Bentuk TROPOZOIT  bentuk aktif / vegetatif / proliferatif  bersifat PATOGEN
• Bentuk KISTA  bentuk infektif / dorman  bersifat BUKAN PATOGEN
• Bentuk KISTA BERINTI ENTAMOEBA DALAM TINJA  bersifat diagnostik
INFEKSI AKUT

• RINGAN
• Manifestasi klinis tidak spesifik, sakit perut, diare

• BERAT
• Sakit perut hebat
• Pasien tampak dehidrasi dan lesu
• Demam : 37,7 – 38,8 ºC
• BAB lendir dan berdarah (disentri)
• Pemeriksaan laboratorium, dapat ditemukan Lekositosis
• Pemeriksaan kultur feses : dapat ditemukan trofozoit / kista dalam tinja. Tinja harus diperiksa dalam
1 jam pertama dan dalam suhu kamar
INFEKSI KRONIS
• Tinja disertai lendir, diselingi oleh fase konstipasi
• Sakit perut ringan
• Anoreksia
• Flatulensi
• Pada pemeriksaan kultur feses : parasit terkadang sulit ditemukan
Giardia lamblia
Giardia lamblia
• Menyebabkan Giardiasis
• Infeksi melalui air, makanan, atau fekal-oral
• Memiliki dua bentuk, yaitu :
• Trofozoit  tidak dapat hidup di luar tubuh manusia
• Kista  bentuk infeksius Giardia lamblia yang resisten dan dapat bertahan
hidup selama 1 bulan di air / tanah
• Giardia lambia menyebabkan atropi vili yang mengarah pada
malabsorpsi, sehingga menimbulkan diare
Infeksi Giardia lambia dapat bermanifestasi dalam 3 bentuk, yaitu :
1. Tanpa gejala
2. Diare akut swasirna (self limitting disease). Pada anak dengan gizi
cukup, akan sembuh dengan sendirinya setelah 3-6 minggu, namun
sebagian kasus menjadi diare kronis
3. Diare kronis dengan atau tanpa disertai malabsorbsi. Pada giardiasis
kronis disertai dengan malabsorbsi
MANIFESTASI KLINIS

Diare berlemak (steatorrhoea)


Warna tinja pucat / putih kekuningan seperti dempul
Flatulensi
Anorexia
Sakit di daerah epigastrium
DIAGNOSIS
• Diagnosis giardiasis dapat ditegakkan bila ditemukan :
• Bentuk trofozoit dalam tinja encer dan cairan duodenum (dengan aspirasi
menggunakan selang duodenum)
• Bentuk kista dalam tinja padat
• Pemeriksaan serologi IgM anti-Giardia
CACING
Strongyloides stercoralis
Strongyloides stercoralis
• Menyebabkan Stronglioides
• Hanya cacing dewasa betina yang dapat hidup sebagai parasit pada
tubuh manusia di vilus duodenum dan yeyenum dalam bentuk
filiform. Terjadi kelainan mukosa usus
• Jenis cacing ini membahayakan bagi bayi, karena dapat ditularkan
melalui ASI
MANIFESTASI KLINIS

• Infeksi ringan stonglioides pada umumnya tidak menimbulkan gejala


• Infeksi sedang dapat menyebabkan rasa sakit seperti tertusuk-tusuk didaerah
epigastrium dan tidak menjalar. Keluhan tambahan dapat disertai muntah,
mual, diare dan konstipasi saling bergantian
• Larva filariform dalam jumlah besar dapat menembus kulit, sehingga timbul
creeping eruption yang disertai rasa gatal yang hebat.
DIAGNOSIS
• Menemukan larva rabditiform dalam tinja segar atau aspirasi
duodenum
• Biakan tinja yang didiamkan selama 2x24 jam menghasilkan larva
filariform dan cacing dewasa Strongyloides stercolaris yang hidup
bebas
• Pemeriksaan antibodi spesifik dengan indirect immuno fluorescence
(ELISA)
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
• Menyebabkan askariasis
• Ascaris lumbricoides merupakan nematoda usus terbesar yang hidup
dalam tubuh manusia dengan habitat di lumen usus halus
• Prevalensi cukup tinggi pada daerah tropis dengan kelembaban tinggi,
sanitasi hygiene yang kurang baik
• Penularan melalui peroral, karena tertelan telur infektif
MANIFESTASI KLINIS
• Bila jumlah cacing sedikit (10-20 ekor), maka tidak akan menimbulkan
gejala
• Gejala akan timbul akibat :
• Migrasi larva (4-16 hari setelah menelan telur), timbul demam
• Cacing dewasa (6-8 minggu setelah menelan telur), timbul rasa tidak enak
pada perut, diare, anoreksia, oedema. Terkadang cacing dewasa dapat keluar
spontan melalui anus, mulut bersama muntahan
DIAGNOSIS
• Ditemukan telur dalam tinja dari hapusan langsung
• Anamnesa yaitu keluarnya cacing dewasa melalui mulut, hidung, anus
secara langsung
PENCEGAHAN INFEKSI

• Menghilangkan sumber infeksi dengan cara melakukan pengobatan


penderita.
• Ajarkan kepada anak-anak dan orang dewasa untuk defekasi di WC.
Bukan di jamban pinggir kali
• Mencuci tangan adalah penting untuk mencegah reinfeksi.
• Menjaga kebersihan baik secara pribadi maupun kebersihan lingkungan.
• Pendidikan kesehatan.
JAMUR
Candida albicans
• Menyebabkan kandidosis
• Candida albicans hidup sebagai flora normal pada mukosa usus halus,
mulut orang sehat, kulit dan di bawah kuku
• Merupakan infeksi opportunistik. Anak akan terinfeksi jamur bila
mendapat terapi imunosupresif, malnutrisi kronis
MANIFESTASI KLINIS
• Kandidiasis intestinal sering ditemukan baik pada orang dewasa
maupun pada bayi dengan gejala perut sering kembung dengan
disertai diare
DIAGNOSIS
• Diagnosis kandidosis ditegakkan bila ditemukan kandida dalam
jaringan atau dalam bahan klinis
• Tinja dapat dibuat dengan eosin, lugol atau KOH
• Jamur akan terlihat sebagai sel ragi atau hifa semu
ROTAVIRUS
Faktor Risiko
• Anak kecil yang tidak mempunyai kekebalan terhadap rotavirus (dari
infeksiatau vaksinasi sebelumnya) menghadapi risiko terbesar terkena
penyakit,
• Kebanyakan anak memperoleh kekebalan terhadap rotavirus sebelum
mencapai usia tiga tahun
• Kekebalan terhadap infeksi rotavirus bersifat parsial. Infeksi yang
terjadi kemudian pada umumnya lebih ringan dari infeksi pertama
• Rotavirus lebih umum ditemui di beberapa masyarakat terpencil.
Ciri-ciri Rotavirus
Serotip Rotavirus
Epidemiologi
• Merupakan kejadian pada penyakit gastroenteritis pada anak < 5th
• Sekitar 3-5 milyar per tahun episode kejadian diare pada anak-anak
dibawah 5 tahun di Asia, Afrika dan menyebabkan kematian.
• Infeksi rotavirus sering terjadi pada musim dingin
Virus Ukuran Epidemiologi Penyebab Opname

Rotavirus Grup A 60-80 Penyebab diare ya


terberat pada bayi
dan anak daerah
endemic di seluruh
dunia
Rotavirus Grup B 60-80 Wabah penyakit tidak
diare di Cina
Rotavirus Grup C 60-80 Kasus sporadic dan tidak
kadang menjadi
wabah pada anak
Adenovirus enterik 70-90 Agen virus ya
terpenting kedua
penyebab diare
pada anak didunia
Virus Norwalk 27-40 Penyebab terbesar tidak
muntah dan diare
pada anak lebih
besar dan dewasa
Calicivirus 27-40 Kasus sporadic dan tidak
kadang-kadang
Patogenesis
Fecal-
oral
BAB CAIR

Menginfeksi 2/3 Tekanan


proksimal ileum onkotik
pada ujung vili meningkat

Fungsi vili :
• Proses penyerapan
Vili Fungsi
natrium dan glukosa
penyerapan tidak
• Terdapat enzim laktase rusak
enterosit terjadi
INTOLERANSI LAKTOSA
Pendahuluan
• Susu merupakan sumber nutrisi yang mengandung karbohidrat,
protein, lemak, vitamin dan mineral.
• Laktosa : satu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam susu
• Golongan disakarida
• Dapat dicerna dalam bentuk sederhana dibantu oleh enzim laktase (
brush border)
• Intoleransi laktosa akibat defisiensi enzim laktase menyebabkan
manifestasi salah-satunya adalah diare.
Definisi

Metabolisme Laktosa
• Laktosa : satu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam susu
• Golongan Disakarida  Glukosa + Galaktosa
Epidemiologi
• Secara global, diperkirakan 65-75% penduduk dunia sebenarnya
mengalami defisiensi laktase primer dan sangat sering terjadi pada
orang Asia
Metabolisme Laktosa

Ke aliran
darah
Hidrolisis Glukosa dan Terjadilah
Laktosa
o/ laktase Galaktosa penyerapan
Intoleransi laktosa

Definisi

Etiologi

Epidemiologi
Definisi
• Intoleransi laktosa  sindrom klinis yang ditandai oleh satu atau lebih
manifestasi klinis seperti, sakit perut, diare, mual, kembung, produksi
gas meningkat setelah konsumsi makanan yang mengandung laktosa
Malabsorbsi laktosa

• Ketidakseimbangan antara jumlah laktosa yang


dikonsumsi dengan kapasitas laktase untuk menghidrolisis
disakarida

Defisiensi laktase primer (hipolaktasia tipe


dewasa
• Tidak adanya laktase secara relatif dan absolut pada anak
usia tertentu
Defisiensi laktase sekunder
• Akibat injuri usus halus, seperti :
gastroenteritis, diare persisten

Defisiensi laktosa kongenital


• Kelainan sangat jarang akibat mutasi
gen
Penegakan Diagnosis BAB Cair
Anamnesis
• Sudah berapa lama mengalami BAB cair?
• Berapa kali frekuensinya dalam 1 hari?
• Apakah terdapat darah atau lendir?
• Bagaimana konsistensinya, apakah cair saja atau disertai ampas? Bagaimana warna dan baunya?
• Riwayat makanan sebelum ini? Riwayat personal hygiene?

Pemeriksaan Fisik
• Lihat tanda – tanda dehidrasi, klasifikasikan
• Pemeriksaan abdomen(Bising usus meningkat? Nyeri ketuk? Bagaimana bunyi perkusinya? Adakah nyeri tekan?)

Pemeriksaan Penunjang
• Elektrolit
• Kultur feses
Klasifikasi Dehidrasi
• Menurut WHO
• Menurut Maurice King
• Menurut MMWR 2003
Tanda dan Gejala Dehidrasi menurut WHO
Derajat Dehidrasi Menurut MMWR
TATALAKSANA BAB CAIR
5 Pilar Penanganan Diare
Rehidrasi

Nutrisi

Zinc

Antibiotik

Edukasi
Pemberian Nutrisi
• Makanan utama seperti ASI eksklusif bagi bayi < 6 bln dan makanan
lain tetap diberikan untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi anak
penderita diare. Sesuaikan dengan jenis – jenis makanan rendah serat
dan tinggi mineral seperti pisang yang kaya kalium untuk mencegah
terjadinya ketidakseimbangan elektrolit akibat keluar bersama BAB.
Pemberian zinc
• Disesuaikan dengan dosis dan usia penderita. Untuk bayi < 6 bulan
diberikan zinc dengan dosis 10 mg/hari (1/2 tab), sedangkan untuk
anak – anak >6 bulan diberikan dosis 20mg/hari (1 tab)
• Berikan zinc dari awal terdiagnosa diare hingga 10-14 hari berikutnya
secara berturut-turut. Zinc dipercaya mampu memproteksi dan
meregenerasi vili-vili usus halus agar penyerapan nutrisi berjalan
maksimal.
Antibiotik Selektif
• Penggunaan antibiotik harus disesuaikan dengan hasil kultur feses,
apakah diare disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Untuk virus,
terapi yang dianjurkan adalah terapi cairan saja untuk
mencegah/memperbaiki dehidrasi. Untuk jamur, perlu
pertimbangkan adakah kofaktor penyakit lain.
• E. Coli
Ampicilin 50-100mg/kgBB
• Vibrio Cholera
Kotrimoksazole 36 mg/kgBB/hari
• Salmonella
Seftriaxon : < 12 tahun : 50 mg/kgBB
> 12 tahun : 1 gr/ hari

• Sefalosporin: 10mg/KgBB/x
• Kloramfenikol: 50mg/KgBB/hari
• Shigellosis
Siprofloksasin 20-30 mg/kg/hari
Azitromisin 10 mg/kgBB/hari
• Disentri amuba
Metronidazol 35 – 50 mg/kgBB/ hari
Terapi Antiparasit
• Giardia Lamblia, Entamoeba histolytica
Metronidazole: anak 15 mg/kgBB/hari 3x1
• Strongyloides stercoralis
Albendazole: 12 bulan- 2 thn 200mg. Dosis tunggal sekali minum
anak >2 thn 400mg/hari
Edukasi
• Bagi para orangtua, bila keadaan anak memburuk setelah terapi
cairan yang dapat dilakukan di rumah, atau kondisi tidak membaik,
segera bawa ke pusat kesehatan terdekat untuk mendapat
penanganan yang lebih lanjut.
Konseling dan Edukasi

Penjelasan tentang cara penularan


-Botol bayi sebelum
dipakai dipanaskan
terlebih dahulu
-Susu harus dihabiskan
< 30-60 menit
Edukasi cuci tangan

IMUNISASI ROTAVIRUS

IMUNISASI CAMPAK
Pencegahan
• Vaksin (Rotashield)
• Diberikan pada usia 6bl-1tahun
• Diberikan 3 dosis pada bulan ke 2, 4, 6
• Dosis pertama pada usia 6 mgg-6 bulan, selanjutnya diulang per 3 mgg

Anda mungkin juga menyukai