Anda di halaman 1dari 35

Schedulling

Ns. Dilgu Meri, M.Kep


Hasil Riset 2017

Hasil penelitian di RSPAD dan RS Fatmawati  ada hubungan positif


antara implementasi manajemen penjadwalan dinas perawat dengan
kepuasaan perawat (Ichsan R, 2017).

Hasil temuan ini sejalan dengan penelitian Nelson & Tarpey (2010)
 menyebutkan bahwa salah satu faktor untuk meningkatkan
kepuasaan tenaga kerja yang memungkinkan perawat
mengkoordinasikan kehidupan profesional dan pribadi perawat untuk
keseimbangan kehidupan kerja.

Beutell (2010) bahwa penjadualan yang dapat mengatur


keseimbangan kehidupan pribadi dan kerja dapat tereliasisasi melalui
kebijakan rumah sakit yang dibuat oleh manajer keperawatan.
Obyektif :

1. Teori scheduling
2. Peran dan fungsi manajer
perawat
3. Permasalahan scheduling
4. Studi kasus
Kenapa manajer memahami scheduling ?

Faktor yang mempengaruhi kepuasan perawat adalah


 karakteristik individu
(usia, pengalaman kerja, tingkat pendidikan, jenis kelamin)
 imbalan,

 lingkungan pekerjaaan,
 kondisi pekerjaan,
 penghargaan,

 dukungan manajer,
 kesempatan berkarir dan penjadwalan

(Hariyati, 2014; B. Hayes, Bonner, & Pryor, 2010; Lin, Viscardi, & McHugh, 2014).
Penjadwalan
Penjadwalan menjadi faktor penting dalam
meningkatkan kepuasan kerja
(Koning, 2014; Leineweber et al., 2016; Simunić & Gregov, 2012).

Perawat akan lebih merasa puas di tempat kerja jika


kebijakan ketenagaan dan penjadwalan serta prosedur
dikomunikasikan dengan jelas kepada semua pegawai
(Stimpfel, Brewer, & Kovner, 2015; Wright & Mahar, 2013).
Penjadwalan yang tepat

Kepuasan perawat tercapai

Manajer pemahaman yang baik


tentang manajemen penjadwalan.
Definisi
Penjadwalan perawat juga didefinisikan
sebagai latihan bulanan dalam pengaturan
organisasi yang kompleks dengan obyektifitas
ganda dan banyak tantangan yang bertujuan
meminimalkan biaya, memaksimalkan
kepuasan perawat dan pemerataan beban
kerja

(Legrain et al., 2015).


Faktor-faktor yang mempengaruhi terlaksananya
manajemen penjadwalan perawat

Faktor kebijakan atau regulasi,


Faktor organisasi (kepemimpinan dan
pekerjaan),
Faktor individu perawat (faktor pribadi dan
komitmen)
Faktor pasien (perawatan dan harapan pasien)

(Bae, Trinkoff, Jing, & Brewer, 2013; Mutingi & Mbohwa, 2015;
Mwiya, 2008; NHS, 2016).
Hal yang perlu diperhatikan
oleh seorang manajer

Kompetensi,
Jumlah tenaga,
Fleksibel,
Keadilan dan
Skill mix.
Skill mix
Hal yang perlu diperhatikan oleh seorang manajer dalam
melaksanakan manajemen penjadwalan perawat meliputi
kompetensi, jumlah tenaga, fleksibel, keadilan dan skill mix.
Pemerataan kompetensi merupakan bagian yang harus diperhatikan
oleh manajer dalam mengimplementasikan penjadwalan perawat.
Kompetensi adalah kemampuan untuk melakukan tugas
dengan hasil yang diinginkan melalui kemampuan yang dimiliki
(Satu, Leena, Mikko, Riitta, & Helena, 2013).
Kompetensi perawat dinilai dari aspek pengetahuan, sikap,
keterampilan dan berpikir kritis (Chang, Chang, Kuo, Yang, & Chou,
2011; Numminen, Leino-Kilpi, Isoaho, & Meretoja, 2015).
Peran Manajer Perawat
Perawat manajer perawat alokasi melalui anggaran personil,
mendistribusikannya secara tepat, dan membuat jadwal induk
untuk unit yang juga memenuhi kebutuhan pribadi dan
profesional masing-masing perawat.
Membuat jadwal yang fleksibel dengan berbagai pilihan
penjadwalan yang mengarah untuk bekerja stabilitas jadwal
untuk setiap karyawan salah satu mekanisme kemungkinan
untuk mempertahankan staf (Yoder-Wise, 2014).
Tujuan dari penjadwalan perawat menurut
Hibberd 1999 dalam Yuanita (2003) :

a.Menemukan kebutuhan asuhan keperawatan pada pasien.


b.menyesuaikan parameter-parameter tujuan dan alokasi
biaya.
c.Mempertahankan fleksibilitas dan keadilan.
d.Mempertimbangkan kebutuhan pribadi dari staf.

Kebutuhan pribadi yang dimaksud juga dipertegas oleh


Nelson & Tarpey (2010) bahwa perawat membutuhkan
keseimbangan hidup yang lebih baik sehingga dengan
keseimbangan hidup bisa berdampak kepada kinerja
perawat.
Jenis Penjadwalan Dinas

Mekanisme pembuatan jadwal setiap organisasi berbeda-beda.


Pada prinsipnya, jadwal dinas perawat dilaksanakan selama 24
jam/ 7 hari dengan sistem pembagian shift (Lieder et al., 2015).
Pembuatan jadwal biasanya dibuat dalam kurun waktu tertentu
misalnya, mingguan, dua mingguan, atau bulanan. Organisasi
telah menulis kebijakan dan prosedur yang harus diikuti oleh
para manajer perawat untuk memastikan kepatuhan dengan
hukum ketenagakerjaan dari terhadap penjadwalan (Yoder-Wise,
2014).
Kebijakan ini juga membantu manajer dalam membuat
keputusan penjadwalan yang akan dirasakan adil dan merata
oleh semua karyawan.
Siklus penjadwalan perawat yang dibuat terdiri dari rotasi 2
shift yaitu 12 jam di shift pagi dan 12 jam di shift malam dan
rotasi 3 shift yaitu 8 jam shif pagi, 8 jam shif sore dan 8 jam
shif malam.

Penjadwalan perawat juga memperhatikan hari reguler libur


untuk memungkinkan staf keperawatan beristirahat dan
masing-masing anggota staf berhak atas jumlah yang sama hari
libur (off) (C. Lin et al., 2015).
Penjadwalan Sentralisasi

Penjadwalan sentralisasi biasanya dilakukan oleh kepala bidang keperawatan. Pada


jenis ini, peran manajer terbatas pada melakukan penyesuaian kecil dan memberikan
masukan (Marquis & Huston, 2012). Manajer dituntut untuk memegang tanggung
jawab utama untuk melihat ketersediaan tenaga yang memadai untuk memenuhi
kekurangan tenaga.

Penjadwalan yang terpusat mendukung untuk akses pasien yang lebih baik,
komunikasi profesional, dukungan sosial dan meningkatkan kepuasan kerja (Parker et
al., 2012).
Kelemahan untuk penjadwalan sentralisasi adalah
terbatasnya pengetahuan koordinator terhadap
perubahan ketajaman kebutuhan pasien atau
kegiatan yang berhubungan dengan pasien lainnya
pada unit (Yoder-Wise, 2014), tidak dapat
mempertimbangkan keinginan dan kebutuhan
khusus pegawai (Hariyati, 2014).

Marquis menyebutkan bahwa penjadwalan


sentralisasi tidak memberikan banyak
fleksibelitas untuk pegawai.
Penjadwalan Desentralisasi

Penjadwalan desentralisasi adalah proses manajemen penjadwalan dinas yang


dilakukan oleh manajer unit sebagai penanggung jawab utama. Manajer unit
bertanggung jawab untuk membuat semua penjadwalan, absensi, mengurangi
staf selama periode jumlah atau akuitas pasien menurun, jadwal bulanan unit
dan menyiapkan libur besar (Marquis & Huston, 2012

Keuntungan desentralisasi adalah manajer unit memahami kebutuhan unit


dan staf secara cermat sehingga dapat mempercepat proses pengambilan
keputusan mengenai ketenagaan, akuntabilitas untuk mengirimkan jadwal
sejalan dengan dibuatnya rencana kepegawaian dan produktivitas unit sejalan
dengan anggaran personil sehingga insentif untuk mengelola jadwal lebih kuat
(Marquis & Huston, 2012; Yoder-Wise, 2014).
Penjadwalan desentralisasi memberikan kemudahan
staf untuk mampu mengendalikan lingkungan kerja,
peningkatan otonomi perawat dalam penjadwalan dan
fleksibelitas (Marquis & Huston, 2012; Wright & Mahar,
2013).
Aspek negatif dari penjadwalan desentralisasi ini
berkaitan dengan ketidakmampuan setiap individu
perawat manajer untuk mengetahui gambaran besar
yang berhubungan dengan kepegawaian di seluruh unit
perawatan multiple pasien dan permintaan khusus yang
lebih banyak seperti cuti.
Hal-hal yag perlu Diperhatikan dalam
Manajemen Penjadwalan Dinas Perawat
Manajer yang bertanggung jawab membuat jadwal dinas harus
memperhatikan beberapa hal, meliputi:
1) Kompetensi perawat;
2) Penjadwalan fleksibel
3) Mengupayakan keadilan dalam pembuatan jadwal dinas;
4) Skill mix perawat;
5) Pemanfaatan Ketenagaan tambahan Ketenagaan;
6) Ketenagaan siklik yaitu diketahui jadwal kerja selanjutnya karena
pola Ketenagaan berulang setiap empat minggu sekali
7) Pelaksanaan napping;
8) tidak boleh melaksanakan longshift
(Kim & Windsor, 2015; Maenhout & Vanhoucke, 2009; Marquis & Huston, 2012; NHS, 2016; Okonkwo, 2014; Trinkoff et al.,
2011; Wright & Mahar, 2013).
Penjadwalan yang fleksibel diberikan kepada perawat untuk memenuhi
haknya sehingga kepuasan perawat juga akan meningkat (Leineweber
et al., 2016).
Hasil penelitian Nelson & Tarpey (2010) menyebutkan bahwa jadwal
yang fleksibel akan memberikan keseimbangan kehidupan bagi perawat
salah satunya memungkinkan perawat untuk mengambil istirahat untuk
meningkatkan kualitas pelayanan. Penjadwalan yang fleksibel akan
mengurangi konflik kerja-keluarga pada saat jadwal dinas yang kaku
(Okonkwo, 2014).
Penjadwalan yang berkeadilan akan mendukung terlaksana
penjadwalan yang baik. Penelitian Diaz, Erkoc, Asfour, & Baker (2010)
menyebutkan bahwa manajer yang membuat jadwal yang adil dapat
memberikan kepuasan kepada perawat dalam bekerja. Nelson & Tarpey
(2010) menyebutkan bahwa organisasi harus adil dalam memberikan
kesempatan para perawat untuk menyeimbangkan kehidupan pribadi
dengan pekerjaan (work life balance).
Skill mix penting untuk diterapkan dalam penjadwalan dinas
perawat demi mencapai mutu pelayanan keperawatan yang
berkualitas. Manajer harus memperhatikan skill perawat
bertujuan agar keilmuan perawat bisa selalu berkembang
dengan adanya bantuan dari perawat yang lebih tinggi
kompetensinya.
Penelitian Duffield, Roche, Diers, Catling-Paull, & Blay, (2010)
menyebutkan bahwa skill mix memberikan waktu untuk
berlatih dengan perawat yang lain. Selain itu, skill mix dan
kompetensi dilakukan untuk memberikan pelayanan yang
berkualitas dengan berfokus kepada pasien sehingga pasien
akan merasa aman.
Penelitian Hayes (2012) menyebutkan bahwa skill mix dan
rasio sama-sama penting tetapi manajer yang hanya peduli
dengan rasio tidak memberikan perawatan yang ideal dan
pelayanan berkualitas.
Permasalahan
Pelaksanaan dinas perawat sering ditemukan perawat yang berdinas dua
kali shift pada hari sama. Perawat yang berdinas dua shift pada hari
yang sama (pagi ke sore atau sore ke malam) dinamakan longshift
(Stimpfel et al., 2012). Perawat terkadang melakukan shift dinas yang
memanjang (longshift) untuk dapat libur panjang.
Kondisi tenaga yang kurang di ruangan terkadang membuat manajer
memutuskan untuk meminta perawat bekerja longshift. Dampak
longshift terhadap perawat adalah kelelahan, menurunnya daya tahan
tubuh (fisik) dan error (Tiaki, 2015). Penelitian Witkoski & Dickson
(2010) juga mempertegas bahwa lamanya bekerja dapat menyebabkan
eror dalam pelaksanaan asuhan keperawatan, meningkatnya kejadian
tertusuk jarum, kelalahan dan kesulitan tidur. Manajer diharapkan tidak
melakukan longshift pada penjadwalan dinas karena akan berdampak
kepada pelayanan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Penjadwalan Dinas dalam Ketenagaan
a.Faktor Regulasi
Faktor regulasi mengacu kepada peraturan yang berlaku di suatu negara. Menurut NHS,
kebijakan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penjadwalan dinas (NHS, 2016).
Pada tahun 2011, 16 negara mengatur perawat wajib lembur atau total jam perawat bisa
bekerja (ANA, 2011). Hukum yang mengatur wajib lembur melarang fasilitas perawatan
kesehatan yang membutuhkan karyawan untuk mempekerjakan lebih dari jam kerja teratur
yang telah dijadwalkan, kecuali ada kejadian luar biasa /bencana yang membutuhkan banyak
tenaga. Sebaliknya, ketika hukum negara mengatur total jam kerja, perawat hanya dapat
bekerja pada jam-jam tertentu dalam spesifik periode waktu (misalnya, tidak lebih dari 12
jam dalam 24 periode jam) (Bae et al., 2013).

Hal ini juga berlaku di Indonesia yang mengatur jumlah jam bekerja untuk tenaga perawat.
Berdasarkan UU ASN, pegawai PNS harus bekerja secara efektif 37,5 jam per minggu
(Undang-Undang RI No.5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, 2014).

Sedangkan menurut UU ketenagakerjaan menyebutkan dalam pasal 77 ayat 1 bahwa tenaga


kerja bekerja dalam 1 minggu sebanyak 40 jam (Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan, 2003). Namun kebijakan setiap rumah sakit masih berbeda-beda
dalam menyikapi tentang kebijakan jam yang telah ditentukan oleh kedua kebijakan.
Selain itu, regulasi atau peraturan yang berlaku di
pemerintahan atau kebijakan yang dibuat sendiri oleh
rumah sakit juga membuat kendala dalam manajemen
penjadwalan (Mutingi & Mbohwa, 2015). Rumah sakit juga
perlu membuat kebijakan yang mendukung pelaksanaan
penjadwalan dinas yang tepat seperti kebijakan napping,
kebijakan request dinas, kebijakan tentang imbalan dan
kebijakan lainnya. Kebijakan ini dituangkan kedalam
bentuk panduan dan/atau standar prosedur operasional
(SPO) (NHS, 2016). Hal ini perlu dipahami oleh seorang
manajer sebelum melakukan perencanaan dan pembuatan
jadwal dinas.
b.Faktor organisasi
Faktor organisasi merujuk ke kondisi rumah sakit tempat bekerja meliputi
kondisi pekerjaan, kepemimpinan, budaya organisasi dan adanya imbalan atau
insentif sehingga dapat mempengaruhi penjadwalan dinas perawat. Beberapa
faktor dapat menyebabkan permintaan untuk jam kerja tambahan kepada
perawat sehingga akan merubah penjadwalan yang telah dibuat, seperti
karyawan di rumah sakit pendidikan, jenis tertentu dari unit keperawatan,
tingginya rasio pasien daripada perawat, fluktuasi luas dalam sensus pasien, dan
kronis understaffing.
Karena beban kerja yang berlebihan mungkin perawat di rumah sakit pendidikan
mungkin mengalami perubahan jadwal (Bae et al., 2013). Selain itu, unit
perawatan intensif (ICU) dan darurat departemen mungkin lebih mungkin
mengalami fluktuasi dalam kondisi sensus pasien daripada jenis lain dari unit
keperawatan, sehingga membutuhkan perawat yang banyak (Golden & Wiens
Tuers, 2005).
Kekurangan perawat menjadi faktor yang bermasalah dalam manajemen
penjadwalan dinas. Jumlah tenaga yang kurang akan berdampak kepada
pelayanan yang diberikan. Tenaga yang kurang juga akan berdampak
kepada kondisi perawat sehingga beban kerja perawat meningkat (Mutingi
& Mbohwa, 2015). Hal ini dilakukan agar tidak adanya absensi dari
perawat.

Desain pekerjaan yang menyebabkan beban kerja yang berlebihan, atau


peningkatan rasio pasien ke perawat, perawat mungkin diminta untuk
bekerja lebih lama. Permintaan manajer untuk mempekerjakan perawat
lebih lama akan merubah penjadwalan yang telah ada (Bae et al., 2013).

Permintaan akan layanan berkualitas mengharuskan perawat untuk bekerja


tanpa istirahat. Hal ini dipertegas oleh penelitian Witkoski & Dickson
(2010) yang menjelaskan bahwa perawat bekerja berjam-jam, dengan
sedikit istirahat atau makan, dan tidak memiliki cukup waktu untuk
beristirahat saat bekerja untuk memberikan pelayanan.
Faktor kepemimpinan dan manajemen berhubungan dengan pengambil keputusan
yang menentukan tujuan dari penjadwalan untuk memberikan pelayanan yang
berkualitas. Manajemen menetapkan kriteria aspirasi minimum untuk solusi
daftar / jadwal dinas yang mana pelaksanaan manajemen penjadwalan ini
dilakukan oleh seorang manajer (Mutingi & Mbohwa, 2015, NHS, 2016). Hal ini
juga dipertegas oleh penelitian lainnya bahwa manajer yang mempunyai
kepemimpinan yang baik menurunkan konflik antar perawat (Drake, 2014).

Manajer berperan penting dalam pengaturan pola penjadwalan dan Ketenagaan


agar tidak mengalami masalah. Pentingnya kualitas dari seorang manajer dalam
mengatur penjadwalan dilihat dari karakteristik kepemimpinan dirinya seperti
kekuatan (power) untuk mengarahkan perawat, berani mengambil risiko dan
kemampuan negosiasi dalam berdiskusi untuk memutuskan penjadwalan yang
berkeadilan (Mwiya, 2008).

Manajer yang baik akan berupaya untuk memulai dari proses perencanaan yang
tepat sampai dengan evaluasi berkelanjutan dalam kurun waktu beberapa bulan
diakhir pelaksanaan jadwal dinas (Bagheri, Gholinejad Devin, & Izanloo, 2016;
Marquis & Huston, 2012).
c. Faktor Perawat
Penelitian Bae et al. (2013) menyebutkan bahwa faktor pribadi perawat menjadi
persoalan dalam mempengaruhi penjadwalan. Faktor pribadi perawat yang bisa
mempengaruhi penjadwalan dinas meliputi status keluarga, status kesehatan dan
sifat-sifat pribadi (misalnya komitmen terhadap organisasi). Status kesehatan
perawat dapat mempengaruhi kemampuan perawat dalam pembagian shift kerja
khususnya untuk bekerja on-call (Bae et al., 2013). Selain itu, perawat muda dengan
status belum menikah bisa bekerja tanpa kendala waktu dibandingkan dengan
perawat yang sudah menikah dan mempunyai anak.
Perawat senior atau tua cenderung memiliki anak di rumah sehingga permintaan
jadwal dinas akan berbeda. Penelitian lainnya bahwa ego dari senior (Senioritas)
dalam penjadwalan dinas perawat juga masih ada sehingga senior mempunyai
perlakuan khusus untuk menentukkan jadwal yang fleksibel (Van Den Bergh, Beliën,
De Bruecker, Demeulemeester, & De Boeck, 2013).
Faktor-faktor pribadi lainnya yang berpotensi terkait dengan penjadwalan dinas
adalah komitmen terhadap organisasi (NHS, 2016). Komitmen dibuktikan dengan
adanya kekuatan sikap untuk membuktikan kesetian kepada organisasi (Bae et al.,
2013). Perawat yang lebih berkomitmen untuk posisi dan organisasi mungkin lebih
cenderung untuk fleksibel dalam penjadwalan dinas karena perawat dengan
komitmen tinggi memberikan loyalitas untuk pelayanan di rumah sakit.
d.Faktor pasien
Pasien merupakan fokus utama dari pelayanan keperawatan. Faktor
berpusat pada pasien berhubungan permintaan pasien seperti perawatan
pasien dan harapan pasien yang menentukan tingkat layanan yang
diperlukan (NHS, 2016). Sebuah kepuasan minimum tingkat pelayanan
harus dipenuhi sesuai dengan daftar jadwal dinas dalam permintaan
pelayanan yang dinamis. Permintaan dari pasien yang banyak membuat
kebutuhan tenaga meningkat. Penjadwalan yang seharusnya dibuat bisa
berubah karena dampak dari banyaknya pasien yang masuk di ruangan
atau unit tersebut (Mutingi & Mbohwa, 2015).

Preferensi pasien akan harapan mendapatkan kepuasan dari pelayanan


juga memberikan kontribusi dalam mempengaruhi penjadwalan dinas.
Pasien mengharapkan staf perawat yang disukai pasien untuk hadir saat
dibutuhkan (Yoder-Wise, 2014). Preferensi pasien atas kualitas yang
diharapkan pelayanan, perawatan waktu pelayanan, dan pilihan pribadi
lainnya seharusnya menjadi pertimbangan dalam pembuatan jadwal dinas
oleh manajer.
Manfaat Penjadwalan Dinas
Penjadwalan perawat dibuat oleh kepala ruangan sebagai manajer bawah. Kepala ruangan
harus memahami pembuatan jadwal dinas yang baik sehingga akan memberikan manfaat untuk
organisasi. Penjadwalan perawat akan memberikan manfaat untuk meningkatkan kepuasan
kerja, mempertahankan retensi perawat, menurunkan konflik dengan keluarga, memberikan
ikatan sosial yang erat (Farasat & Nikolaev, 2016; Koning, 2014; Leineweber et al., 2016;
Okonkwo, 2014; Simunić & Gregov, 2012).
Pengaturan jadwal mampu memberikan kepuasan kepada perawat. Hasil penelitian Diaz,
Erkoc, Asfour, & Baker (2010) didapatkan bahwa kepuasan perawat dapat didapatkan melalui
pengaturan jadwal yang fleksibel. Penelitian Nelson & Tarpey (2010) mempertegas bahwa
keseimbangan kehidupan juga meningkat dengan adanya jadwal yang fleksibel. Selain itu,
manajemen jadwal dinas dengan shif dan hari off yang tepat memungkinkan perawat untuk
mengambil istirahat untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
Penjadwalan perawat akan berdampak kepada pasien baik secara langsung maupun tidak
langsung. Penelitian Trinkoff et al. (2011) didapatkan hasil bahwa penjadwalan perawat
memiliki efek independen terhadap mortalitas pasien. Penjadwalan perawat juga
mempengaruhi kualitas perawatan dan moral perawat (Tsaia & Leeb, 2010). Pasien akan
merasa puas jika perawat yang memberikan pelayanan keperawatan memiliki kinerja yang
tepat sesuai kompetensi.
Dampak Penjadwalan Dinas
Dampak penjadwalan dinas memberikan dampak positif dan dampak negatif terhadap
pelayanan keperawatan. Dampak positif dari penjadwalan dinas telah dijelaskan
dapat memberikan manfaat kepada perawat dan pasien. Sedangkan dampak negatif
dari penjadwalan dinas perawat dapat meningkatkan kelelahan terhadap perawat
(Trinkoff et al., 2011). Kelelahan yang berkepanjangan terhadap perawat akan
menyebabkan meningkatnya absensi perawat (Legrain et al., 2015) dan gangguan
tidur (Simunić & Gregov, 2012). Selain itu, kinerja perawat juga akan menurun akibat
dari manajemen penjadwalan dinas perawat yang tidak sesuai dengan kondisi
pekerjaan dan perawat (Geiger-Brown & Trinkoff, 2010).

Dampak negatif dari manajemen penjadwalan dinas yang kurang tepat juga akan
berpengaruh kepada pasien. Pengelolaan penjadwalan yang tidak tepat akan
menyebabkan meningkatnya pembiayaan (cost) rumah sakit (Leineweber et al., 2016;
Wright & Mahar, 2013). Selain itu, manajemen yang tidak tepat akan juga berdampak
kepada pasien seperti terjadinya kesalahan perawatan pasien dan meningkatnya
kematian pasien (Geiger-Brown & Trinkoff, 2010; Trinkoff et al., 2011).
Armstrong-Stassen, M., Freeman, M., Cameron, S., & Rajacich, D. (2015). Nurse managers’ role in older nurses’
intention to stay. Journal of Health Organization and Management, 29(1), 55–74. http://doi.org/10.1108/JHOM-02-
2013-0028

Farasat, A., & Nikolaev, A. G. (2016). Signed social structure optimization for shift assignment in the nurse scheduling
problem. Socio-Economic Planning Sciences. http://doi.org/10.1016/j.seps.2016.06.003

Hariyati, R. T. S., Sutoto, & Irawaty, D. (2016). Kredensial dan Rekredensial Keperawatan. Jakarta: Rajawali Pers.

Koning, C. (2014). Does self-scheduling increase nurses’ job satisfaction? An integrative literature review. Nursing
Management, 21(6), 24–28. http://doi.org/10.7748/nm.21.6.24.e1230

Kuokkanen, L., Leino-Kilpi, H., Numminen, O., Isoaho, H., Flinkman, M., & Meretoja, R. (2016). Newly graduated
nurses’ empowerment regarding professional competence and other work-related factors. BMC Nursing, 15(1), 22.
http://doi.org/10.1186/s12912-016-0143-9

Leineweber, C., Chungkham, H. S., Lindqvist, R., Westerlund, H., Runesdotter, S., Smeds Alenius, L., & Tishelman, C.
(2016). Nurses’ practice environment and satisfaction with schedule flexibility is related to intention to leave due to
dissatisfaction: A multi-country, multilevel study. International Journal of Nursing Studies, 58, 47–58.
http://doi.org/10.1016/j.ijnurstu.2016.02.003

Lieder, A., Moeke, D., Koole, G., & Stolletz, R. (2015). Task scheduling in long-term care facilities: A client-centered
approach. Operations Research for Health Care, 6, 11–17. http://doi.org/10.1016/j.orhc.2015.06.001

Lin, C., Kang, J., Chiang, D., & Chen, C. (2015). Nurse Scheduling with Joint Normalized Shift and Day-Off Preference
Satisfaction Using a Genetic Algorithm with Immigrant Scheme. International Journal of Distributed Sensor Networks,
2015, 1–10. http://doi.org/10.1155/2015/595419

Numminen, O., Leino-Kilpi, H., Isoaho, H., & Meretoja, R. (2015). Newly Graduated Nurses’ Competence and
Individual and Organizational Factors: A Multivariate Analysis. Journal of Nursing Scholarship, 47(5), 446–457.
http://doi.org/10.1111/jnu.12153
Okonkwo, E. (2014). Flexible Work Hour and Tenure Impacts on Time-based Work Interference with Family. IFE
Psychologia: An International Journal, 22(1), 232–238.

Satu, K., Leena, S., Mikko, S., Riitta, S., & Helena, L. (2013). Competence areas of nursing students in Europe. Nurse
Education Today, 33(6), 625–632. http://doi.org/10.1016/j.nedt.2013.01.017

Simunić, A., & Gregov, L. (2012). Conflict between work and family roles and satisfaction among nurses in different
shift systems in Croatia: a questionnaire survey. Arhiv Za Higijenu Rada I Toksikologiju, 63(2), 189–97.
http://doi.org/10.2478/10004-1254-63-2012-2159

Stimpfel, A. W., Brewer, C. S., & Kovner, C. T. (2015). Scheduling and shift work characteristics associated with risk for
occupational injury in newly licensed registered nurses: An observational study. International Journal of Nursing
Studies, 52(11), 1686–1693. http://doi.org/10.1016/j.ijnurstu.2015.06.011

Trinkoff, A. M., Johantgen, M., Storr, C. L., Gurses, A. P., Liang, Y., & Han, K. (2011). Nurses’ work schedule
characteristics, nurse staffing, and patient mortality. Nursing Research, 60(1), 1–8.
http://doi.org/10.1097/NNR.0b013e3181fff15d

Tsaia, C. C., & Leeb, C. J. (2010). Optimization of Nurse Scheduling Problem with a Two-Stage Mathematical
Programming Model. Asia Pacific Management Review, 15(4), 503–516.

Whitehead, D. K., Weiss, S. A., & Tappen, R. M. (2007). Essentials of nursing leadership and management (5thed.).
United States: F. A. Davis Company. http://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Wright, P. D., & Mahar, S. (2013). Centralized nurse scheduling to simultaneously improve schedule cost and nurse
satisfaction. Omega (United Kingdom), 41(6), 1042–1052. http://doi.org/10.1016/j.omega.2012.08.004
Terima Kasih