Anda di halaman 1dari 13

05

27

28

30
Kehidupan
Sejarah Sosial
Raja Raja
Kerajaan Kerajaan
Kerajaan
Padjajaran Pajajaran
Pajajaran

Gambar Peta Kehidupan


Kerajaan Kehidupan
Budaya
Padjajaran Perekonomian
Kerajaan
Kerajaan
Pajajaran
Pajajaran
Dari segi geografisnya, Kerajaan Pajajaran ada
di Parahyangan Sunda dan Pakuan menjadi
ibukota Sunda sudah tercatat oleh Tom Peres
tahun 1513 M dalam The Suma Oriantal. Disini
tertulis jika ibukota Kerajaan Sunda memiliki
sebutan Dayo atau Dayeuh yang
membutuhkan waktu dua hari perjalanan dari
Kalapa yang sekarang menjadi Jakarta.
Sebelum didirikannya Kerajaan Pajajaran, ada
beberapa kerajaan yang sudah terlebih dahulu
didirikan yakni Kerajaan Tarumanegara,
Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan juga
Kerajaan Kawali. Kerajaan Pajajaran ini tidak
bisa dilepaskan dari beberapa Kerajaan
tersebut sebab Pajajaran merupakan Kerajaan
lanjutan dari beberapa Kerajaan tersebut.
Kehidupan Perekonomian
Kerajaan Pajajaran Masyarakat di jaman Kerajaan Pajajaran hidup
dengan bercocok tanam khususnya
menggarap ladang yang menghasilkan beras,
buah-buahan, sayuran serta lada dan juga
mengembangkan di bidang pelayaran serta
perdagangan. Kerajaan Pajajaran juga
mempunyai 6 pelabuhan penting yakni Sunda
Kelapa [Jakarta], Pontang, Tamgara,
Pelabuhan Banten, Cigede dan juga Cimanuk
[Pamanukan].

A
B D
C E
Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial masyarakat di Kerajaan
Kerajaan Pajajaran Pajajaran merupakan para seniman seperti
penari, pemain gamelan serta badut dan juga
golongan petani serta perdagangan.
Sementara untuk golongan masyarakat yang
tidak baik adalah tukang rampas, copet,
perampok dan maling.
Kehidupan Budaya
Kehidupan Budaya Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran Yang mempengaruhi kehidupan dari sektor
budaya Kerajaan Pajajaran adalah agama
Hindu serta beberapa peninggalan seperti
prasasti, jenis batik, Kitab Cerita Parahyangan
dan juga Kitab Sangyang Siskanda. Baca
Artikel terkait lainnya Candi Peninggalan
Agama Hindu, Sejarah Situs Ratu
Boko, Sejarah Kota Surabaya, Pahlawan
Nasional Wanita.
Raja Raja Kerajaan Padjajaran

Sri Baduga Surawisesa [1521- Ratu Dewata [1535-


Maharaja [1482- 1535], bertahta di 1543[, bertahta di
1521], bertahta di Pakuan Pakuan
Pakuan

Ratu Sakti [1543- Ratu Nilakendra Raga Mula /


1551], bertahta di [1551-1567], Prabu Surya
Pakuan pergi dari Kencana [1567-
Pakuan sebab 1579], bertahta di
serangan Pandegelang
Maulana
Hasanuddin
Puncak Kejayaan Di masa pemerintahan Sri Baduga
Maharaja, Kerajaan Pajajaran
kesatriaan atau asrama prajurit,
menambah kekuatan angkatan perang,
Kerajaan Pajajaran mencapai masa kejayaannya dan ini
menjadi alasan yang sering dikatakan
mengatur untuk pemungutan upeti dari
para raja dibawahnya dan juga
masyarakat Jawa Barat jika Sri Baduga menyusun undang-undang kerajaan.
atau Siliwangi merupakan seorang raja Pembangunan juga bisa dilihat dalam
yang tidak pernah purna dan selalu prasasti Kabantenan dan juga Batutulis
hidup abadi di hati serta pikiran para yang mengisahkan Juru Pantun dan
masyarakat Jawa Barat. Maharaja juga penulis Babad yang masih bisa
tersebut membangun sebuah karya dilihat hingga sekarang, sementara
besar yakni talaga dengan ukuran sebagian lagi sudah hilang. Kedua
besar bernama Maharena Wijaya serta prasasti dan juga Cerita Pantun serta
membuat jalan untuk menuju ke kisah Babad tersebut diketahui jika Sri
Ibukota Pakuan serta Wanagiri. Ia juga Baduga sudah memberi pertintah untuk
memperkuat pertahanan ibukota serta membuat wilayah perdikan, membuat
memberikan Desa Perdikan untuk Talaga Maharena Wijaya, memperkuat
semua pendeta beserta pengikutnya ibukota, membuat pagelaran, membuat
sehingga bisa menyemangati kegiatan kabinihajian, membuat kesatriaan,
beragama dan dijadikan penuntun membuat pamington, memperkuat
kehidupan para rakyat. angkatan perang dan juga mengatur
Sang Maharaja juga kemudian upeti untuk para raja yang berada di
membangun Kabinihajian atau bawahnya.
kaputren,
FaktorKehancuran Kerajaan Pajajaran akhirnya hancur di Sesudah terjadi persekutuan dari
tahun 1579 karena serangan Kerajaan Kesultanan Demak dan juga Cirebon,
Kerajaan Pajajaran Sunda lain yakni Kesultanan Banten. ajaran agama Islam mulai memasuki
Kerajaan Pajajaran berakhir dengan Parahyangan dan menimbulkan keresahan
dibawanya Palangka Sriman untuk Jaya Dewata dan kemudian ia
Sriwacana dari Pakuan Pajajaran membatasi pedagang muslim yang masuk
menuju Keraton Surosowan yang di Pelabuhan kerajaan Sunda supaya
berada di Banten oleh pasukan pengaruh Islam terhadap pribumi bisa
Maulana Yusuf. Batu sebesar 200 x diperkecil. Akan tetapi nyatanya pengaruh
160 x 20 cm tersebut dibawa menuju agama Islam jauh lebih kuat dan Pajajaran
Banten sebab tradisi politik membuat akhirnya memutuskan untuk berkoalisi
Pakuan Pajajaran tidak bisa dengan Portugis agar bisa mengimbangi
menobatkan Raja yang baru dan Kesultanan Demak dan juga Cirebon.
menjadi pertanda jika Maulana Yusuf Pajajaran lalu memberikan kesempatan
merupakan penerus dari Kerajaan untuk perdagangan bebas di pelabuhan
Sunda yang sah sebab buyut Kerajaan Pajajaran dengan imbalan berupa
perempuannya adalah Putri Sri Baduga bantuan militer jika Kesultanan Demak
Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana dan Cirebon menyerang Pajajaran.
ini bisa dilihat di depan bekas Keraton Kekuasaan dari Pajajaran akhirnya jatuh
Surosowan di daerah Banten dan ke Kesultanan Banten di tahun 1524 dan
masyarakat Banten menyebutnya pasukan Demak yang bergabung dengan
dengan Watu Gilang yang berarti Cirebon mendarat di Banten dan ajaran
mengkilap dan memiliki arti yang Islam yang dibawa para pendatang pun
sama dengan Sriman. menarik perhatian dari masyarakat sampai
ke pedalaman Wahenten Girang.
Thank You For Everything
Any Question