Anda di halaman 1dari 15

Trauma Brain Injury

Kelompok 12:
- Ayu Savitri
- Nurul Aprilia
- Tiffany Rahmaniasari
DEFINISI TRAUMA BRAIN INJURY

Trauma kepala merupakan trauma yang mengenai tengkorak yang


menyebabkan kerusakan otak mulai dari ringan sampai berat (Silvestri,
2014)

Kematian dilokasi kejadian pada korban yang mengalami trauma kepala karena
terjadi lesi intracranial. Penanganan yang tepat dilokasi kejadian ikut
menentukan angka mortalitas pada korban yang mengalami trauma kepala
(Varker dan Magnusson, 2016).
Klasifikasi Trauma Brain Injury

1. Epidural Hematoma (EDH)


2. Subdural Hematoma (SDH)
3. Subarachnoid Hemorrhage (SAH)
4. Intracerebral Hemorrhage (ICH)
5. Concussion (Konkusio/Gegar Otak)
6. Kontusio Serebri (Cerebral Contusion)
Lanjutan…

Gambar 2.1.Gambaran CT Scan padafrakturtengkorak : A. linear skull fracture;


B. depressed, comminuted skull fracture; C. fraktur basis kranii

7. Diffuse Axonal Injury


8. Skull Fracture (Fraktur Tengkorak)
9. Fraktur Basis Cranii (Patah Tulang Dasar Tengkorak)
10. Trauma Penetrasi
- Battle Sign
- Raccoon Eye
Klasifikasi trauma kepala berdasarkan nilai Glasgow
Coma Scale (GCS) :

1. Minor
• GCS 13-15
• Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang
dari 30 menit.
• Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur
• Cerebral, hematoma.
2. Sedang
• GCS 9-12
• Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia lebih dari 30
menit tetapi kurang dari 24 jam.
• Dapat mengalami fraktur tengkorak.
3. Berat
• GCS 3-8
• Kehilangan kesadaran atau amnesia lebih dari 24 jam.
• Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma
intrakranial.
Etiologi:

1. Kecelakaan kenderaan bermotor atau sepeda dan mobil.


2. Jatuh.
3. Kecelakaan saat olahraga.
4. Cedera akibat kekerasan.
5. Benda tajam/ benda tumpul
Patofisiologi

Cedera memegang peranan yang sangat besar dalam


menentukan berat ringannya konsekuensi patofisiologis dari suatu trauma
kepala. Cedera percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang
bergerak membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat pukulan
benda tumpul, atau karena kena lemparan benda tumpul. Cedera
perlambatan (deselerasi) adalah bila kepala membentur objek yang secara
relatif tidak bergerak, seperti badan mobil atau tanah.
Komplikasi

a. Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK)


b. Infeksi
c. Lesi tingkat sel
d. Epilepsi paska trauma kapitis
e. Aspirasi
Pemeriksaan Diagnostik

1. Pemeriksaan kesadaran
Pemeriksaan kesadaran paling baik dicapai dengan menggunakan Glasgow Coma
Scale (GCS).

2. Pemerikasaan pada pupil mata yang didapat pada trauma kepala:


Anisocoria, Kedua pupil mata tidak merespon cahaya, Midriasis, Miosis atau
pinpoint pupil

3. Pemeriksaan Neurologi
Pemeriksaan Neurologis dilaksanakan terhadap saraf kranial dan saraf perifer

4. Pemeriksaan Scalp dan Tengkorak


Scalp harus diperiksa untuk laserasi, pembengkakan, dan memar

5. Pemeriksaan Penunjang
Foto X-Ray Tengkorak, Computed Tomography Scan (CT-scan), Magnetic
Resonance Imaging (MRI)
 Penatalaksanaan Keperawatan Gawat Daruratan
 Pre Hospital

a. Airway, dengan kontrol servikal (Cervical Spine Control)15,16


Yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan napas. Ini meliputi
pemeriksaan adanya obstruksi jalan napas yang dapat disebabkan benda asing, fraktur tulang
wajah, fraktur mandibula atau maksila, fraktur laring atau trakea.Usaha untuk membebaskan
airway harus melindungi vertebrae cervical. Dalam hal ini dapat dimulai dengan melakukan
chin lift atau jaw thrust. Pada penderita yang dapat berbicara dapat dianggap bahwa jalan
napas bersih.
b. Breathing, menjaga pernapasan dengan ventilasi
Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding dada, dan
diafragma. Setiap komponen ini harus dievaluasi secara cepat. Dada penderita harus dibuka
untuk melihat ekspirasi pernafasan. Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya
udara ke dalam paru. Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam
rongga pleura.Inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada yang
mungkin mengganggu ventilasi.
c. Circulation, dengan kontrol perdarahan (hemorrhage control)11,17
Shock Neurogenik : terjadi karena penurunan atau kehilangan kesadaran secara
tiba-tiba akibat tidak adekuatnya aliran darah ke otak. Hal ini disebabkan karena terjadinya
vasodilatasi dan bradikardi secara mendadak sehingga menimbulkan hipotensi. Pada
keadaan ini akan terdapat peningkatan aliran vaskuler yang mengakibatkan berkurangnya
cairan dalam sirkulasi sehingga perfusi ke otak berkurang dan menyebabkan pasien
mengalami syok.
Shock Hemoragic (Hipovolemik): disebabkan kehilangan akut dari darah atau
cairan tubuh. Jumlah darah yang hilang akibat trauma sulit diukur dengan tepat bahkan pada
trauma tumpul sering diperkirakan terlalu rendah.

d. Disability, status neurologis15,18


Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis
secara cepat.Yang dinilai disini adalah tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil, tanda-
tanda lateralisasi, dan tingkat (level) cedera spinal.
Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi atau/ dan penurunan
perfusi ke otak, atau disebabkan trauma langsung pada otak
-In Hospital

a. Airway
Jalan nafas dibebaskan dari lidah yang turun ke belakang dengan posisi kepala
ekstensi, kalau perlu dipasang pipa orofaring atau pipa endotrakheal, bersihkan sisa
muntahan, darah, lendir atau gigi palsu. Isi lambung dikosongkan melalui pipa nasograstrik
untuk menghindarkan aspirasi muntahan.

b. Breathing
Akibat dari gangguan pernafasan dapat terjadi hipoksia dan hiperkapnia. Tindakan
dengan pemberian oksigen kemudian cari danatasi faktor penyebab dan kalau perlu
memakai ventilator.

c. Circulation
Hipotensi menimbulkan iskemik yang dapat mengakibatkan kerusakan sekunder.
Jarang hipotensi disebabkan oleh kelainan intrakranial, kebanyakan oleh faktor ekstrakranial
yakni berupa hipovolemi akibat perdarahan luar atau ruptur alat dalam, trauma dada disertai
tamponade jantung atau peumotoraks dan syok septik. Tindakannya adalah menghentikan
sumber perdarahan, perbaikan fungsi jantung dan mengganti darah yang hilang dengan
kristaloid, koloid atau darah.
d. Disability
-Tingkat kesadaran dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS)
- Penilaian tanda lateralisasi: pupil (ukuran, simetris dan reaksi terhadap cahaya, kekuatan tonus otot
(motorik)..

e. Exposure
Buka pakaian penderita untuk memeriksa cedera agat tidak melewatkan memeriksa seluruh bagian tubuh
terlebih yang tidak terlihat secara sepintas. Jika seluruh tubuh telah diperiksa, penderita harus ditutup
untuk mencegah hilangnya panas tubuh.

f. Foley Cateter
Pemasangan Foley Cateter adalah untuk evaluasi cairan yang masuk. Input cairan harus dievaluasi dari
hasil output cairan urin

g. Gastic Tube
Pemasangan kateter lambung dimaksudkan untuk mengurangi distensi lambung dan mencegah aspirasi
jika terjadi muntah sekaligus mempermudah dalam pemberian obat atau makanan. Kontraindikasi
pemasangan NGT adalah untuk penderita yang mengalami Fraktur Basis Cranii atau diduga parah, jadi
pemasangan kateter lambung melalui mulut atau OGT.

h. Hearth Monitro/ECG Monitor


Dapat dipasang untuk klien yang memiliki riwayat jantung ataupun pada kejadian klien tersengat arus
listrik.