Anda di halaman 1dari 36

Pembimbing:

dr. Fatmawati, Sp.KJ


 Skizofrenia merupakan gangguan mental mayor yang menyebabkan ganguan proses
persepsi, pikiran, dan tingkah laku. Menurut World Health Organization (WHO),
skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa mayor yang merupakan masalah
kesehatan dunia, skizofrenia berada di urutan 14 sebagai penyakit sedang dan berat,
dan peringkat ke 6 sebagai penyebab years lost due to disability (YLD).

 Marc De Hert melalui penelitiannya juga mendapatkan bahwa pasien skizofrenia


cenderung 2-3 kali lebih tinggi untuk terkena sindrom metabolik, dimana dari studi
Clinical Antipsychotic Trials of Intervention Effectiveness (CATIE), sekitar 30% pasien
skizoprenia terkena sindrom metabolik.
 Sindrom metabolik sendiri merupakan kumpulan dari gejala obesitas, hipertensi,

gangguan sensitivitas insulin, dan dyslipidemia. Konsensus The International Diabetic


Federation (2006) melaporkan bahwa diperkirakan sekitar 20-25% orang dewasa di
dunia menderita sindrom metabolik dan pasien dengan skizofrenia mempunyai risiko
yang lebih tinggi. Selain pola makan dan aktivitas fisik yang minim, pengobatan,
terutama antipsikotik atipikal, juga memiliki andil pada sindrom metabolik.

 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai sindrom metabolik dan faktor yang

berkaitan pada pasien dengan skizofrenia episode pertama di Malaysia.


 Penelitian ini merupakan studi kohort secara retrospektif yang dilakukan selama

10 tahun untuk menilai sindrom metabolik dan faktor yang berkaitan pada pasien
dengan skizofrenia episode pertama di Malaysia.

 Populasi studi adalah seluruh pasien skizofrenia yang baru pertama kali

didiagnosis skizofrenia di Rumah Sakit Umum Kuala Lumpur dan terdata di NMHR
dari tanggal 1 Januari 2004 sampai 31 Desember 2005. Semua pasien diatur jadwal
berobat agar dapat bertemu dengan peneliti dan melalui wawancara face-to-face.
 Didiagnosis Skizofrenia berdasarkan DSM IV-TR.

 Episode Pertama Skizofrenia dan terdata dalam NMHR pada tahun 2004-2005.

 Berumur 18-60 tahun

 Bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian melalui persetujuan dari pasien

atau keluarga/pengasuh.
 Pasien yang meninggal dunia
 Pasien yang diagnosisnya berubah sejak tahun 2004/2005
 Kehilangan kontak
NCEP ATP III digunakan dengan penyesuaian dengan lingkar perut pada orang Asia
berdasarkan WHO. Sindrom metabolik ditegakkan apabila terdapar 3 dari kriteria
sebagai berikut:

 Obesitas sentral (Laki-laki ≥90mm, perempuan ≥80mm)

 Trigliserida ≥1.7mmol/L

 Konsentrasi HDL 1.3mmol/L

 Peningkatan tekanan darah (SBP ≥ 130mmHg; DBP ≥ 85mmHg)

 Intolerans Glukosa (GDP ≥ 6.1mmol/L)


 Skizofrenia Outcome Study Questionnaire

Kuisioner yang dibuat sendiri untuk mendata tempat tinggal, pemeriksaan fisik, dan data
klinis pasien.

 International Physical Acitivity Questionnaire (IPAQ)

Uuntuk menilai kesehatan yang berhubungan dengan aktivitas pada masyarakat umum.
Cocok digunakan untuk monitor dan survey secara regional, nasional, dan internasional
dan untuk penelitian program dan evalusasi kesehatan publik. IPAQ sangat sering
digunakan dan telah teruji realibilitas dan validitasnya, juga telah ditranslasi ke dalam
Bahasa Malay
Data yang didapatkan dianalisis menggunakan SPSS versi 23. Analisis Deskriptif
digunakan untuk batas karakteristik dan gejala klinis. Simple logistic regression
digunakan untuk menganalisis sosialdemografi dan variable klinis pada sindrok
metabolik. Variabel signifikan dimasukkan kedalam Multiple logistic regression
untuk mengetahui pengaruh dari variable independen dengan sindrom metabolik
dan parameternya.
Dari 394 pasien yang terdata pada tahun 2004-2005, ada 37 pasien meninggal dunia,
dan 117 lainnya kehilangan kontak. Ini mungkin terjadi akibat pasien berpindah
tempat tinggal atau mengganti nomor teleponnya. 58 pasien tidak dapat dimasukkan
dalam penelitian akibat kesalahan data.
Ada 3 variabel yang berkaitan erat dengan sindrom metabolik, seperti aktivitas fisik,
Injeksi IM Fluanxol, dan comorbid penyalahgunaan obat, dimasukkan ke dalam
multiple regression analysis. Didapatkan hasil bahwa hanya penyalahgunaan obat
yang merupakan faktor signikan yang berkaitan dengan sindrom metabolik.
 Pasien skizofrenia mempunyai morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi

dibanding populasi umum. Beberapa buku mengatakan bahwa pasien skizofrenia


mempunyai angka harapan hidup 20% lebih sedikit dibandingkan orang lain.
Sindrom metabolik merupakan salah satu penyabab utama morbiditas dan
mortalitas pada pasien skizofrenia, karena dapat berkembang menjadi penyakit
jantung koroner dan infark miokard.

 Pada penelitian ini, subjek yang digunakan adalah seluruh pasien yang terdata

dalam NMHR di Rumah Sakit Umum Kuala Lumpur pada tahun 2004-2005.
 Prevalensi sindrom metabolik yang didapatkan pada penelitian ini lebih rendah

daripada penelitian di negara lain. Hal ini mungkin terjadi akibat perbedaan pada
cara penelitian. Penelitian kali ini menggunakan penelitian kohort retospektif pada
pasien yang baru pertama kali didiagnosa skizofrenia pada 10 tahun yang lalu.
Banyak subjek yang meninggal dunia atau kehilangan kontak pada penelitian ini.
Penyebab kematian atau faktor risiko mereka dengan sindrom metabolik tidak
diketahui. Sedangkan, pada penelitian lain menggunakan metode cross-sectional.
 Didapatkan hasil ada perburukan pada sindrom metabolik pada penelitian ini.

Rerata berat badan awalnya 58.6kg dan BMI adalah 22.38, dan meningkat menjadi
70.1kg untuk rerata berat badan, dan BMI 26.35. Pada penelitian sekarang yang
dilakukan setelah 10 tahun, 45.7% pasien laki-laki mempunyai obesitas sentral,
sedangkan 69% pada pasien perempuan. Ada perbedaan signifikan dimana
perempuan lebih banyak menderita obesitas sentral. Untuk GDP, mediannyua
adalah 4.4mmol/L dan meningkat menjadi 5.0mmol/L setelah 10 tahun.
 Pada penelitian ini, didapatkan hasil bahwa 36.2% pasien mempunyai sindrom

metabolik setelah 10 tahun didiagnosa skizofrenia. Jarangnya aktivitas fisik dan


penggunaan injeksi antipsikotik, penyalahgunaan obat-obatan merupakan faktor
yang berikatan erat dengan sindrom metabolik. Seperti pada penelitian
sebelumnya, faktor gaya hidup sangat berperan dalam terjadi sindrom metabolik.
 Obat antipsikotik juga sering berhubungan dengan sindrom metabolik. Beberapa

penelitian melaporkan bahwa penggunaan obat antipsikotik berikatan dengan


peningkatan risiko penyakit jantung, dan meningkatkan morbiditas dan mortalitas
pada pasien dengan skizofrenia. Anehnya, antipsikotik atipikal tidak menjadi
faktor signifikan dalam penelitian ini. Hal ini dapat terjadi akibat faktor ekonomi
dalam penggunaan antipsikotik atipikal di Malaysia.
 Penyalahgunaan obat merupakan salah satu masalah utama pada pasien
skizofrenia. Pasien skizofrenia yang menyalahgunakan obat mempunyai prognosis
yang buruk. Selain itu, pasien dengan masalah penyalahgunaan obat cenderung
untuk mengalami gejala psikotik lagi. Mereka juga kurang mendapatkan dukungan
dari keluarga dan teman, dan mempunyai risiko tinggi terkena penyakit yang
menular melalui darah, dan lebih sering berobat. Mereka lebih sering mengalami
kekambuhan dan dirawat di rumah sakit.
 Banyak faktor yang dapat menyebabkan sindrom metabolik, salah satunya adalah pola
makan, yang tidak diteliti pada studi ini.

 Subjek yang kehilangan kontak cukup banyak.

 Kuisioner IPAQ hanya meneliti aktivitas fisik pasien selama seminggu.

 Beberapa pengukuran paramer metabolik tidak dilakukan di saat pertama kali pasien
didiagnosa skizofrenia.

 Aktivitas fisik awal tidak diukur

 Sampel penelitian pada pasien yang menyalahgunakan obat juga tergolong sedikit
Sindrom metabolik mempunyai hubungan erat dengan skizofrenia. Penelitian ini
menunjukkan hasil 36.2% pasien skizofrenia mempunyai sindrom metabolik setelah
10 tahun. Angka ini lebih tinggi dibanding negara lain di Asia. Penyalahgunaan obat
merupakan faktor penting yang berhubungan dengan sindrom metabolik pada
pasien skizofrenia, selain aktivitas fisik dan injeksi IM fluphetixol depot. Mengurangi
risiko sindrom metabolik pada kelompok pasien ini sangat penting dilakukan.
1. Problem, Population, and Patient

Kelompok penelitian studi ini adalah seluruh pasien skizofrenia yang baru pertama kali
didiagnosis skizofrenia di Rumah Sakit Umum Kuala Lumpur dan terdata di NMHR dari
tanggal 1 Januari 2004 sampai 31 Desember 2005. Dari 394 pasien yang didiagnosis
skizoprenia episode pertama dan terdata di di National Mental Health Registry of
Schizophrenia (NMHR) di Rumah Sakit Umum Kuala Lumpur pada tahun 2004-2005, ada
174 pasien yang bersedia untuk menjadi sampel penelitian.
2. Intervention

Intervensi yang dilakukan pada penelitian ini adalah pemeriksaan dengan


menggunakan parameter metabolik, serta pemeriksaan dengan Schizophrenia
Outcome Study Questionnaire dan International Physical Activity Disorder. Hasilnya
kemudian diolah dan dimasukkan ke dalam tabel.
3. Comparison

Perbandingan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah antara hasil parameter
metabolik pada saat awal pasien terdiagnosa skizofrenia dan 10 tahun kemudian.
4. Outcome

Sindrom metabolik mempunyai hubungan erat dengan skizofrenia. Penelitian ini


menunjukkan hasil 36.2% pasien skizofrenia mempunyai sindrom metabolik setelah
10 tahun. Dimana hal ini menyatakan bahwa pasien yang telah terkena skizofrenia
cenderung untuk terkena sindrom metabolik juga setelah 10 tahun, hal ini
berhubungan dengan aktivitas fisik, penyalahgunaan obat, dan injeksi IM
Fluphethixol Depot.
1.Validitas

Penelitian ini VALID. Metode penelitian ini menggunakan studi kohort secara retrospektif. Penelitian
diuji menggunakan SPSS versi 23. Analisis Deskriptif digunakan untuk batas karakteristik dan
gejala klinis. Simple logistic regression digunakan untuk menganalisis sosialdemografi dan variable
klinis pada sindrok metabolik. Variabel signifikan dimasukkan kedalam Multiple logistic regression
untuk mengetahui pengaruh dari variable independen dengan sindrom metabolik dan
parameternya. Subjek penelitian merupakan pasien yang didiagnosis skizoprenia episode pertama
dan data diambil dari National Mental Health Registry of Schizophrenia (NMHR) di Rumah Sakit
Umum Kuala Lumpur pada tahun 2004-2005. Pasien diatur jadwalnya untuk menemui langsung
peneliti dan dilakukan eksperimen.
2. Importance

Penelitian ini sangat penting. Penelitian ini menunjukkan bahwa pasien skizofrenia
cenderung untuk terkena sindrom metabolik juga. Oleh karena itu, hasil hubungan
ini diharapkan kedepannya dapat menjadi acuan dijadikan penelitian berikutnya
untuk mengurangi faktor risiko berkembangnya skizofrenia menjadi sindrom
metabolik dan tidak boleh diabaikan begitu saja.
3. Availability

Penelitian ini dapat diterapkan di Indonesia, khususnya di Rumah Sakit Jiwa Provinsi
Jambi karena instrumen yang digunakan merupakan instrumen yang reliabilitas nya
sudah teruji dan dapat digunakan secara regional, nasional, maupun internasional.
Dikarenakan secara sosial dan demografi negara Malaysia hampir sama dengan negara
Indonesia, maka penelitian ini dapat diterapkan juga di Indonesia. Keterbatasan yang
mungkin terjadi adalah pergerakan pertumbuhan penduduk di Indonesia, dimana
urbanisasi dan transmigrasi masih sangat tinggi, jadi kemungkinan untuk kehilangan
kontak dan data dengan pasien masih sangat tinggi.