Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA AUTISME

BY: KELOMPOK 5
Definisi
 Istilah autisme berasal dari bahasa Yunani. kata
autos yang berarti diri sendiri dan isme yang berarti
paham. Ini berarti bahwa autisme memiliki makna
keadaan yang menyebabkan anak-anak hanya
memiliki perhatian terhadap dunianya sendiri.
Autisme adalah kategori ketidakmampuan yang
ditandai dengan adanya gangguan dalam komunikasi,
interaksi sosial, pola bermain, dan perilaku emosi.
Con’t
Autisme menurut para ahli dari National Society for Children and Adult with Autism adalah
gejala kelainan perilaku yang manifestasinya muncul sebelum usia 30 bulan dengan karakteristik
gambaran:
gangguan pola dan kecepatan perkembangan
gangguan respon terhadap berbagai stimuli sensori
gangguan bicara, bahasa, kognisi dan komunikasi nonverbal
gangguan dalam kemampuan mengenal orang, kejadian dan objek (Tsai et al, 2001).
Con’t
Perilaku autistik menurut (Handojo 2003), digolongkan menjadi 2
jenis yaitu:

 Perilaku yang eksesif (berlebihan) adalah perilaku yang


hiperaktif dan tantrum (mengamuk) berupa menjerit,
menyepak, menggigit, mencakar dan memukul, dan juga sering
menyakiti diri sendiri.
 Perilaku yang defisit (berkekurangan) ditandai dengan
gangguan bicara, perilaku sosial kurang sesuai (naik ke
pangkuan ibu bukan untuk kasih sayang tapi untuk meraih kue),
bermain tidak benar, dan emosi tanpa sebab (misalnya tertawa
tanpa sebab, menangis tanpa sebab).
Etiologi
Penyebab terjadinya autisme adalah adanya kelainan pada otak (Handojo, 2003). Menurut
(Veskariyanti 2008), autisme disebabkan karena kondisi otak yang secara struktural tidak
lengkap, atau sebagian sel otaknya tidak berkembang sempurna, ataupun sel-sel otak
mengalami kerusakan pada masa perkembangannya. Penyebab sampai terjadinya kelainan atau
kerusakan pada otak belum dapat dipastikan, namun ada beberapa faktor yang diduga sebagai
penyebab kelainan tersebut, antara lain faktor keturunan (genetika), infeksi virus dan jamur,
kekurangan nutrisi dan oksigenasi, obat-obatan serta akibat polusi udara, air, dan makanan;
banyak mengandung Monosodium Glutamate (MSG), pengawet atau pewarna.
Manifestasi Klinis
• Perkembangan bahasa anak autis lambat atau sama sekali tidak ada.
• Terkadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.

• Mengoceh tanpa arti secara berulang-ulang, dengan bahasa yang tidak


dimengerti orang lain.
• Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi
Di bidang Komunikasi
• Bila senang meniru, dapat menghafal kata-kata atau nyanyian yang didengar
tanpa mengerti artinya.
• Sebagian dari anak autis tidak berbicara (bukan kata-kata) atau sedikit berbicara
(kurang verbal) sampai usia dewasa

• Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang dia inginkan,
misalnya bila ingin meminta sesuatu.
Anak autis lebih suka menyendiri

Anak tidak melakukan kontak mata dengan orang lain atau


menghindari tatapan muka atau mata dengan orang lain.
Di bidang Interaksi Sosial

Tidak tertarik untuk bermain bersama dengan teman, baik


yang sebaya maupun yang lebih tua dari umurnya.

Bila diajak bermain, anak autis itu tidak mau dan menjauh.
Anak autis tidak peka terhadap sentuhan,
seperti tidak suka dipeluk.

Di bidang sensori Anak autis bila mendengar suara keras


langsung menutup telinga.

Anak autis senang mencium-cium, menjilat


mainan atau benda-benda yang ada
disekitarnya. Tidak peka terhadap rasa
sakit dan rasa takut.
Sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa
kemana – mana.

Tidak memiliki kreativitas dan tidak memiliki imajinasi

Anak autis tidak suka bermain dengan anak atau teman sebayanya

Di bidang pola permainan


Anak autis tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya.

Tidak bermain sesuai fungsinya, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya


diputar-putar

Senang terhadap benda-benda yang berputar seperti kipas angin, roda sepeda,
dan sejenisnya.
• Anak autis dapat berperilaku berlebihan atau terlalu aktif
(hiperaktif) dan berperilaku berkekurangan (hipoaktif)

• Berputar-putar mendekatkan mata ke pesawat televisi, lari atau


berjalan dengan bolak-balik, dan melakukan gerakan yang
diulang-ulang.
Di bidang Perilaku:
• Tidak suka terhadap perubahan.

• Duduk bengong dengan tatapan kosong.


• Memperlihatkan perilaku stimulasi diri atau merangsang diri
sendiri seperti bergoyang-goyang, mengepakkan tangan seperti
burung
Anak autis sering marah-marah tanpa alasan yang
jelas

Dapat mengamuk tak terkendali jika dilarang atau


tidak diberikan keinginannya

Di bidang Emosi:
Kadang agresif dan merusak.

Tidak memiliki empati dan tidak mengerti perasaan


orang lain yang ada disekitarnya atau didekatnya.

Kadang-kadang menyakiti dirinya sendiri.


Penatalaksanaan
Terapi
1. Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian
dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai
adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive
reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya .
2. Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara
dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula
individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat
kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka
tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi
dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat
menolong.
Con’t
3. Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam
perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka
kesulitan untuk memegang pensil dengan cara yang benar, kesulitan
untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan
lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk
melatih mempergunakan otot-otot halusnya dengan benar.
4. Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak
diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam
motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga
jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus.
Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong
untuk menguatkan otot-otot nya dan memperbaiki keseimbangan
tubuhnya.
Con’t
5. Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah
dalam bidang komunikasi dan interaksi. Banyak anak-anak ini
membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi
dua arah, membuat teman dan main bersama ditempat
bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan
memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-
teman sebaya dan mengajari cara-cara nya.
6. Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik
membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain
dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi
dan interaksi sosial. Seorang terapis bermain bisa membantu
anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
Con’t
7. Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya
seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit
mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif
terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering
mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar
belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan
merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut
untuk memperbaiki perilakunya,
8. Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental
Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak
dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya,
kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan
Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku
seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
Con’t
9. Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual
learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai
untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui
gambar-gambar, misalnya dengan metode PECS ( Picture
Exchange Communication System). Beberapa video games bisa
juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
10. Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang
tergabung dalam DAN (Defeat Autism Now). Semua hal
abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi
bersih dari gangguan. Ternyata lebih banyak anak mengalami
kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu
terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).
Kasus
An. N usia 3 tahun dibawa ibunya ke RSJ lawang dengan keluhan anak belum dapat bicara
dengan jelas hingga saat ini. Ketika sang anak dipanggil berkali-kali tidak merespon, ketika
menoleh An. N tidak ada kontak mata dengan ibunya. Hal ini dirasakan oleh sang ibu kurang
lebih 2 bulan, saat An.N dibawa kerumah saudaranya dan ibu pasien merasakan An. N tidak
sama dengan anak lainnya yang seusia pasien.