Anda di halaman 1dari 19

LABEL DAN PERIKLANAN

Anggota kelompok :
• Windi Aprilia ( 1811122016)
• Syavira Nurmavita (1811122019)
• Ananda Lailaturrahmi (1811122021)
• Ratih Yulia Dariska (1811122022)
Periklanan
• Iklan Pangan: setiap keterangan atau pernyataan mengenai
pangan dalam bentuk gambar, tulisan, atau bentuk lain
yang dilakukan dengan berbagai cara untuk pemasaran dan
atau perdagangan pangan.
• Periklanan harus sesuai dengan kenyataan.
• Periklanan tidak boleh menjurus pada makanan tersebut
berkhasiat sebagai obat.
• Makanan yang dibuat setengah atau tanpa bahan alami
tidak boleh ditulis terbuat dari bahan alami.
• Makanan yang terbuat dari pengolaha, tidak boleh
diiklankan seolah-olah terbuat dari bahan segar.
• Pengawasan dilakukan oleh pemerintah.
Isi Iklan Pangan Harus :

Memuat keterangan yang benar dan jelas ( nama, lambang, logo,


gambar)
Tidak menyesatkan
Tidak bertentangan dengan norma hukum dan kesusilaan
Tidak menjelek-jelekan produk lain
Tidak menyatakan pangan berfungsi sebagai obat
LABEL DALAM MAKANAN
• Label Pangan: setiap keterangan mengenai pangan yang
berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk
lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan kedalam,
ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan.
• Etiket label besar untuk menampung semua keteranga
makanan yang bersangkutan
• Etiket tidak boleh mudah lepas dan luntur
• Bagian utama label harus dicantumkan nama makanan/merek
dagang, isi netto, dan nomor pendaftaran.
• Label ditempatkan pada tempat yang mudah dilihat
• Ukuran angka dan huruf yang digunakan harus cukup besar dan
tidak boleh kecil dari kukuran 0,75 mm dengan warna yang
kontras dengan warna latar belakang.
Jenis-Jenis Label
• Menurut Marinus, terdapat tiga tipe label berdasarkan
fungsinya, yaitu:
1. Brand label, adalah penggunaan label yang semata-mata
digunakan sebagai brand.
2. Grade label, adalah label yang menunjukkan tingkat kualitas
tertentu dari suatu barang. Label ini dinyatakan dengan
suatu tulisan atau kata-kata.
3. Label deskriptif (descriptive label), adalah informasi objektif
tenteng penggunaan, konstruksi, pemeliharaan penampilan,
dan ciri-ciri lain dari produk.
Tujuan Pelabelan
1. Memberi informasi tentang isi produk yang diberi label
tanpa harus membuka kemasan.
2. Berfungsi sebagai sarana komunikasi produsen kepada
konsumen tentang hal-hal yang perlu diketahui oleh
konsumen tentang produk tersebut, terutama hal-hal yang
kasat mata atau tak diketahui secara fisik.
3. Memberi petunjuk yang tepat pada konsumen hingga
diperoleh fungsi yang optimum.
4. Sarana periklanan bagi konsumen.
5. Memberi rasa aman bagi konsumen.
Peraturan Pemerintah No. 69, 1999
tentang Label dan Iklan Pangan
Meliputi:
1. Dasar-dasar pelabelan
2. Keterangan yang dicantumkan pada label
3. Ketentuan tentang nama produk, daftar bahan, berat bersih, nama
dan alamat, tanggal kadaluarsa, nomor pendaftaran, kode
produksi, kandungan gizi
4. Pelabelan pangan olahan tertentu
FUNGSI PELABELAN
1. Fungsi Identifikasi
Memberikan informasi kepada konsumen
tentang:

• bahan yang dikemas, • siapa produsennya,


• cara menggunakan produk • Lokasi produksi,
• cara menanganproduk, • customer service,
• tanggalkadaluarsa, • cara penanganan kemasan
• komposisiproduk, bekas,
• ukuran, • identifikasi persyaratan
• volume, lingkungan
• bobot,
2. Fungsi Membantu Penjualan
Produk
Kemasan menjadi promosi bagi produk
Aspek pemasaran:

Menarik perhatian: warna, bentuk, merk,


foto/gambar, tata letak

Daya tarik praktis: mudah dibuka/ ditutup,


volume yang sesuai, dapat digunakan
kembali, dapat diisi ulang
3. Fungsi Pemenuhan Peraturan
Perundang-undangan

• Komposisi label harus sesuai dengan kandungan bahan pangan


tersebut;
• Tidak boleh menyesatkan konsumen;
• Label halal dapat dipertanggungjawabkan Tanggal kadaluarsa harus
benar;
• Nomor registrasi sertifikasi produksi
Keterangan Minimum pada Label

 Nama produk
 Daftar bahan yang digunakan
 Berat bersih
 Nama& alamat yang memproduksi atau memasukkan ke
Indonesia
 Keterangan halal, tanggal, bulan dan tahun produksi dan
kadaluarsa
 Nomor P-IRT
Pencantuman label halal
pada makanan
• Makanan ialah semua jenis makanan dan minuman yang beredar
atau dijual kepada masyarakat, termasuk bahan tambahan makan
dan bahan penolong.

• Makanan halal ialah semua jenis makan yang tidak mengandung


unsur bahan yang terlarang atau haram.

• Tulisan “Halal” dicantumkan untuk memberi jaminan bagi pemeluk


agama islam.

• Produsen yang mencantumkan label halal, bertanggung jawab atas


halalnya makanan.

• Pengawasan terhadap pelaksanaan ketentuan dilakukan oleh ti m


penilai pendaftaran makanan, departemen agama dan departemen
kesehatan.
• Pada wadah atau bungkus makanan yang diproduksi di dalam negeri
maupun yang berasal dari impor yang mengandung bahan yang
berasal dari babi harus dicantumkan tanda peringatan.

• Tanda peringatan tersebut yang dimaksud ayat harus berupa gambar


babi dan tulisan yang berbunyi: “MENGANDUNG BABI” dan harus
ditulis dengan huruf besar berwarna merah dengan ukuran sekurang
kurangnya Universe medium corps 12, di dalam suatu garis kotak
persegi yang juga berwarna merah.

• Tanda peringatan tersebut harus tercetak pada wadah atau bungkus,


atau direkatkan dengan perekat yang sesuai,sehingga tidak mudah
lepas.

• Makanan yang mengandung bahan yang berasal dari babi yang tidak
memenuhi persyaratan dilarang diedarkan di Indonesia.
Sanksi Pelanggaran :

a. Peringatan secara tertulis;


b. Larangan untuk mengedarkan untuk sementara waktu dan atau
perintah untuk menarik produk pangan dari peredaran;
c. Pemusnahan pangan jika terbukti membahayakan kesehatan dan
jiwa manusia;
d. Penghentian produksi untuk sementara waktu;
e. Pengenaan denda paling tinggi Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah), dan atau
f. Pencabutan izin produksi atau izin usaha.
Ketentuan Peredaran dan Penandaan
Susu Kental Manis
• Menteri Kesehatan Republik Indonesia menimbang bahwa
kesehatan bayi perlu dilindungi dari bahaya-bahaya yang
dapat merugikan pertumbuhannya dan pemberian susu kental
manis kepada bayi dapat merugikan pertumbuhan bayi pada
umumnya.

• Peredaran susu kental manis hanyan diperkenankan diedarkan


dengan maksud untuk digunakan sebagai makanan atau
minuman bagi anak-anak atau orang dewasa.

• Label pada etiket, brosur, bungkus atau iklan susu kental


manis, dilarang dicantumkan anjuran dan atau petunjuk
penggunaan untuk bayi.
• Pada etiket, brosur, bungkus atau wadah susu kental manis
diharuskan dicantumkan tanda peringatan yang berbunyi :
“Perhatikan! Tidak cocok untuk bayi”.

• Tanda peringatan tersebut harus ditulis dengan tulisan


berwarna merah, didalam suatu garis kotak persegi panjang
yang juga berwarna merah. Ukuran huruf tulisan tersebut
adalah “UNIVERS MEDIUM CORPS 8”.

• Direktur Jenderal berwenang memerintahkan kepada


produsen atau importir susu kental manis yang bersangkutan
untuk menarik dari peredaran susu kental manis yang tidak
memenuhi ketentuan.

• Direktur Jenderal berwenang menarik nomor Pendaftaran


pada Departemen Kesehatan susu kental manis yang
diedarkan yang tidak mengindahkan ketentuan .
Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam mengatur
tentang ketentuan dan peredaran susu kental manis
• Undang-undang Nomor 9 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok
Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 131)

• Undang-undang Nomor 11 Tahun 1962 tentang Hygiene Untuk


Usaha-usaha Bagi Umum (Lembaran Negara Tahun 1962
Nomor 48)

• Undang-undang Nomor 2 Tahun 1966 tentang Hygiene


(Lembaran Negara Tahun 1966 Nomor 22)

• Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 39/III/Kab?B.VII/73


tentang Produksi dan Peredaran Makanan dan Minuman

• Keputusan Presiden Nomor 44 dan 45 tahun 1974.


TERIMA KASIH