Anda di halaman 1dari 15

Disampaikan :Manambus Pasaribu, S.H.M.

H
Militer dan Politik
 Ada 3 aliran pemikiran yang menjelaskan mengapa militer
cenderung terlibat dalam politik:
1. Militer yang berbasis karakteristik organisasi militer
profesionalisme barat seperti komando sentralistik,
hirarki, disiplin dan kohesi. Disini fungsi militer
berkaitan dengan management of violence
2. Aliran pemikiran yang lebih ditekankan kepada aspek
kemasyarakatan sebagai suatu keseluruhan unit analisa
dari aturan2 kemiliteran. Disini keterlibatan atau
intervensi militer dalam politik dihasilkan dari kondisi
lingkungan masyarakat yang rendah atau minimal dalam
budaya politik yang menjadi perhatian pokok dari
kehidupan infrastruktur politik
3. Dinamisasi internal dari hirarki kemiliteran, atau
perkomplotan internal militer, kepentingan
koorporasi, ambisi pribadi dan perilaku khas militer
dalam menjelaskan prilaku politik militer.
Ketiga hal ini telah menempatkan hubungan militer
dengan politik dalam kerangka bagaimana dominasi
pengaruh budaya yang melingkupi negara
bersangkutan
Sejauhmana keterlibatan militer
dalam kehidupan politik?
 Menurut pandangan Amos Pelrmuter mengelompokkan militer
dalam 3 jenis:
1. Militer profesional yakni: militer yang memiliki keahlian yang
terspesialisasi dalam bidang militer dari sudut pandang
pengetahuan dan keahlian. Dalam pandangan ini kadar
interpensi terhadap politik sipil sangat rendah
2. Militer Pretorian yakni militer yang keahlian dan pengetahuan
kemiliterannya tidak terspesialisasikan, orientasi pengabdian
pada masyarakat dan negara bersama kelompok politik
dominan. Jenis militer ini memiliki kecenderungan melakukan
intervensi kepada politik bersifat permanen dan berkelanjutan
3. Militer revolusioner yakni militer yang memiliki keahlian dan
pengetahuan profesional yang ditujukan pada nilai2 sosial dan
politik” di indonesia disebut militer pejuang”
 Oleh Samuel Huntington membagi militer Pretorian ini
dalam 3 tipe:
1. Pretorian arbitrator, yakni pengaruh dan intervensi
muncul ketika konflik dalam politik pemerintahan sipil
timbul dan akan kembali ke posisi awal ketika
pengelolaaan konflik berhasil diselesaikan atau ditangani
2. Pretorian the rule of army yakni elit militer memiliki
ambisi untuk berkuasa karena menganggap mempunyai
instrumen pengendalian atas kekuasaan
3. Pretorian revolusioner yakni mengacu pada adanya
klaim bahwa militer juga mempunyai tanggung jawab
atas keberlangsungan negara pasca revolusi.
Pola hubungan sipil- militer
 Hubungan sipil dan militer yang ideal adalah militer
dibawah kendali atau dibawah otoritas sipil, militer
dikendalikan oleh sipil.
 Hubungan sipil militer baik manakala perhatian
militer berpusat pada persolan-persoalan militer, dan
pemimpin sipil dan militer tidak banyak terjadi
konflik.
 Hubungan sipil –militer melalui pendekatan kwalitas
demokrasi.
Dalam konteks demokrasi yang masih transisi ada
kencederungan militer untuk terlibat dalam
menciptakan tertib politik dan stabilitas keamanan
(indonesia) sementara demokrasi maju” demokrasi
industri” mereka menghindari persoalan demokrasi
yang tidak substansial seperti memperkarakan
hubungan sipil dan militer
 Hubungan sipil –militer melalui pendekatan akar
historis. Secara historis hubungan sipil militer di
indonesia sangat buruk, dimana ;
Pertama pada masa demokrasi liberal militer benar2
berada dibawah penguasaan sipil.
Kedua masa demokrasi terpimpin kehidupan politik
masyarakat sipil dikontrol oleh hegemoni presiden
dengan mengunakan kekuatan tentara
Ketiga, pada masa orde baru. Kontrol militer atas sipil
dibuat dalam politik dwi fungsi ABRI dimana tentara
aktif dapat meduduki jabatan2 strategis dalam sendi2
kehidupan sipil
Keempat, awal reformasi tentara melakukan
tindakan2 yang tidak populer berupa penculikan dan
pelanggaran HAM
Demokrasi dan Kesempatan Yang
sama
 Dalam konsep demokrasi satu hal yang penting adalah
menempatkan otoritas sipil terhadap militer dan hal
ini berkorelasi dengan prinsip kesamaan kesempatan
 Dengan pengertian semua individu dengan tetap
berpengang pada aturan main memiliki kesempatan
atau peluang yang sama untuk mendapatkan
kekuasaaan
 Dalam konteks demikian militer yang telah pensiun
mempunyai peran yang sama dengan warga sipil
lainnya dalam proses pembangunan politik.
MASYARAKAT MADANI
 Masyarakat Madani (civil society) adalah kelompok
masyarakat khusus yang berada diluar struktur
penyelengara negara dengan memiliki mekanisme
sendiri dalam prinsip kemandirian, kebebasan dan
emansipatoris untuk membatasi dan mengimbangi
dominasi negara
 Menurut AS Hikam civil society memiliki 3 ciri utama
yakni:
1. Adanya kemandirian yang cukup tinggi dari
individu2 dan kelompok dalam masyarakat
utamanya dalam berhadapan dengan negara
2. Adanya ruang publik bebas sebagai wahana bagi
keterlibatan politik secara aktif dari warga melalui
wacana dan praktis yang berkaitan dengan
kepentingan publik
3. Adanya kemampuan untuk membatasi kuasa negara
agar ia tidak intervensionis
Dinamika Peran Masyarakat
Madani di Indonesia
 Jatuhnya orde baru tak lepas dari aktor2 prodemokrasi
antara lain
1. Kelompok pembangkang elit dan intelektual
2. LSM
3. Aktivis mahasiswa
4. Generasi baru LSM Prodem
Pilar-Pilar masyarakat madani
Indonesia
1. Gerakan Mahasiswa yang relatif independen dan
idealis
2. Lembaga swadaya masyarakat yang tujuannya
memperjuangkan masyarakat tertindas
3. Pers