Anda di halaman 1dari 36

TRAUMA THORAX

dr. M. Yusuf Sp.B (K)BD


Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala
Definisi
 Luka atau cedera yang mengenai rongga
thorax yang dapat menyebabkan kerusakan
pada dinding thorax ataupun isi cavum thorax
yang disebabkan oleh benda tajam ataupun
tumpul dan dapat menyebabkan
kegawatdaruratan hingga kematian.

 Sebagian besar pasien trauma thorax meninggal


saat sampai di rumah sakit
Etiologi
Trauma tumpul (90%)

• Adanya benturan/tekanan dari luar


thorax yang menyebabkan trauma atau
peningkatan tekanan di dalam thorax.

Trauma tajam/penetrasi

• Penetrasi suatu objek ke dalam rongga


dada (pisau, peluru, serpihan kaca/besi,
dll) yang menyebabkan gangguan dari
pernpasan dan sirkulasi
Mekanisme trauma
 Akselerasi  kerusakan akibat langsung dari
trauma, tergantung luas permukaan tubuh

 Deselerasi  terjadi pada tubuh yang tadinya


bergerak tiba-tiba terhenti, biasanya mengenai
organ yang mobile (bronkus, sebagian aorta, dll)

 Torsio dan rotasi  akibat deselerasi pada


anggota tubuh yang memiliki jaringan pengikat
(isthmus aorta, sbagian bronkus, atrium,
diafragma)

 Blast injury  bom


Patofisiologi
Trauma pada paru Trauma pada jantung
dan dinding dada dan pembuluh darah
(flail chest, kontusi yang berhubungan
paru, pneumothorax)
Hematothorax
hipovolemi
ventilasi alveolar

shock
Shunting thorax sisi
kanan ke kiri
cardiac output

Hipoxia
Hipotensi

Asidosis respiratorik Asidosis metabolik

Kematian
Pembagian Shock
Kelas % darah yang Volume darah
hilang yang hilang (ml)
I 15 <750
II 30 750-1500
III 40 2000
IV >40 >2000
Jenis-jenis trauma thorax

• Tension • Open
pneumothorax pneumothorax
• Trauma • Hematothorax
tracheobronchial • Trauma
• Flail chest tracheobronchial
• Ruptur diafragma • Kontusio paru
• Trauma mediastinal • Ruptur diafragma
• Fraktur costae • Trauma mediastinal
Fraktur iga
 Biasanya disebabkan oleh trauma tumpul
 Paling sering  iga ke 4-9
 Nyeri pada pergerakan  gangguan ventilasi +
batuk tidak efektif  resiko atelektasis dan
pneumonia 
 Pemeriksaan fisik:
 Krepitasi (+)
 Emfisema subkutan
 Pergerakan dada tidak sesuai  flail chest

 Fraktur iga 8-12  curiga trauma hepar/lien


Flail chest
 Disebabkan oleh fraktur iga multiple
 3 iga atau lebih berurutan
 Garis fraktur >2 (segmented)

 Ada segmen fraktur yang “melayang” (flail) 


paradoxical breathing
 Sering disertai oleh
hematothorax.
Pneumothorax,
hemoperikardium,
hematom/kontusio paru

 Tatalaksana:
 Pain control
 Aggressive pulmonary toilet
 Mechanical respiratory
support
Pneumothorax
 Pengumpulan udara dalam ruang antara pleura
visceral dan pleura parietal yang menyebabkan
paru kolaps pada sisi yang terkena trauma.
Tipe Pneumothorax

•Simple pneumothorax
Severity
•Tension pneumothorax

•Open pneumothorax
kebocoran
•Close pneumothorax
Close/simple Open Tension
pneumothorax pneumothorax pneumothorax
Robekan pleura Robekan pleura Robekan seperti
tertutup terbuka mekanisme bola
(berhubungan dan katup (udara
dengan dapat masuk
lingkungan luar namun tidak
paru) dapat keluar) 
air entrapment
Tekanan rongga Tekanan rongga Tekanan rongga
pleura < tekanan pleura = tekanan pleura > tekanan
udara luar udara luar udara luar
Klinis pneumothorax
 Sesak

 Gerak dinding dada asimetris

 Suara napas pada sisi yang terkena (-)

 Perkusi hipersonor

 Pada tension pneumothorax  penekanan


pada jantung  sianosis, hipotensi, takikardia
Tatalaksana
 Emergensi: thoracosintesis  insersi tube pada ICS 2 di mid
clavicula line  bersifat sementara, mengubah tension
pneumothorax menjadi simple pneumothorax

 Definitif: WSD  insersi tube pada ICS 5 di anterior axilla line


kemudian dihubungkan ke water sealed device

 Anestesi umum dan ventilasi tekanan positif tidak boleh


diberikan pada pasien dengan pneumothorax 
threatening tension pneumothorax
Kontusio paru
 Akibat dari high velocity trauma (tumpul: jatuh
dari ketinggian, tabrakan kecepatan tinggi,
tajam: luka tembak)

 Darah dari ruptur pembuluh darah menumpuk


pada alvelolus, ruang interstitial, dan bronkus 
clot  obstruksi jalan napas  hipoksia berat 
kematian

 Diagnosis : Rontgen Thorax


Tatalaksana
 Posisikan pasien pada sisi yang sehat  ventilasi
yang lebih baik pada paru yang terkena

 Aggressive pulmonary toilet

 Respiratory support  pada kontusi paru yang


berat sering kali membutuhkan intubasi +
ventilator
Hematothorax
 Biasanya disebabkan oleh trauma penetrasi 
luka pada pembuluh darah sehingga terjadi
penumpukkan darah pada rongga pleura

 Tatalaksana: pasang WSD


 Massive hematothorax 
darah yang keluar >1500ml
pada WSD atau >200ml/jam
dalam 6 jam  Thoracotomy

 Klinis:
 Hampir sama dengan
pneumothorax, namun pada
perkusi didapatkan redup
pada sisi yaang terkena
Tamponade Jantung
 Biasanya akibat trauma penetrasi

 Trias Beck:
 Peningkatan JVP
 Penurunan TD
 Suara jantung menjauh (muffled sound)

 Diagnosis: echocardiography

 Tatalaksana: pericardiocentesis
Ruptur Aorta
 Trauma tumpul dengan mekanisme deselerasi

 Klinis:
 Takikardia  syok kardiogenik

 Diagnosis:
 EKG  sinus takikardia, aritmia, perubahan segmen ST
 Foto thorax  widening mediastinum, tracheal and NGT shift
 Transthoracic echocardiography  pada pasien tidak stabil
Tatalaksana
 Operatif  sesegera mungkin setelah
terdiagnosis  anterolateral kiri thoracotomy +
partial cardiopulmonary bypass/ “clamp-and-
sew” technique

 Terapi medikamentosa  kontrol tekanan darah


Trauma tracheobronchial
 Trauma pada tracheobronchial tree akibat
trauma tumpul, trauma tajam, trauma inhalasi,
trauma aspirasi

 Klinis:
 Sering disertai dengan emfisema subkutan masif
 Sesak
 Batuk darah
 Stridor
 Pneumomediastinum
 Hamman’s Sign
Diagnosis
 Bronkoskopi

 Rontgen thorax

 CT scan
Tatalaksana
 Tatalaksana (berdasarkan jenis trauma):
 Trauma tajam: debridemen dan repair dengan
synthethic absorbable suture.
 Trauma tumpul: debridemen dan reanostomosis
segmen tracheobronchial

 Tatalaksana (berdasarkan letak trauma):


 Upper tracheal injury  median sternotomy
 Distal tracheal dan right bronchial injuries  right
thoracotomy
 Left bronchial injuries  left thoracotomy
Ruptur diafragma
 Ruptur diafragma akibat trauma tumpul (motor
vehicle crashes) dan tajam (knife injuries)

 Mekanisme  pressure gradient between the


pleural and peritoneal cavities.
Klinis
 Early diagnosis
 Sulit terdiagnosis
 dyspnea
 Auskultasi  Bising usus pada regio thorax
 Perkusi  redup
 Trauma tajam pada abdomen disertai trauma thorax
 Delayed diagnosis
 Lebih dari 4 jam
 Herniasi organ intra-abdominal ke mediastinum 
herniasi, obstruksi, ikarserta, strangulasi, dan ruptur
dari organ intra-abdominal
 Paralisis diafragma
Diagnosis
 Rontgen thorax
 Gambaran usus pada thorax
 Gambaran NGT yang melingkar dari abdomen ke
thorax
 Hemothorax
 Diambil 2 kali (saat terintubasi dan setelah ekstubasi)

 64-slice MDCT
 MRI  visualisasi anatomi diafragma
Tatalaksana
 ABC

 NGT

 Chest Tube (hemothorax & pneumothorax)

 Rontgen thorax

 Surgical repair  transabdominal approach,


thoracotomy/thoracoscopy
Daftar Pustaka
 Brunicardi, F. Charles. Anderson, Dana H. at all. Schwartz’s Principles Of
Surgery. 10th Ed. 2015. Mac-graw Hill Education. United State. Pg 177-179

 Klingensmith, Mary E. Amos, Keith D. at all. The Washington Manual of


Surgery. 4th Ed. 2005. Lippincott William & Wilkins. Philadelphia. Pg 441-445

 Bastos, Renata. Baisden, Clinton E. at all. Management of Thoracic Trauma:


Penetrating Thoracic Trauma. Vol 20. 2008, Pg 19-25

 Welsfor M. Diaphragmatc injuries. Mescape [internet] 2015 [cited 2018


November 27]. Available from:
https://emedicine.medscape.com/article/822999-overview.

 Jones RK, Namias N, Coimbra R, Moore, Schreiber M, McIntyre R, et al.


Western trauma association critical decisions in trauma: penetrating chest
trauma. J Trauma Acute Care Surg. 2014;77(6):944-952.

 Lugo VW, Gastlum AS, Armas AH, Garnica FG, Gomez MG. Chest trauma:
an overview. Journal of Anesthesia & Critical Care: Open Access.
2015;3(1):1-11.
Alur tatalaksana secara umum