Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

PERITONITIS
GENERALISATA E.C
PERFORASI GASTER

FACHRUR ROZI M
DATA PASIEN

 IDENTITAS
 Nama : Tn. P
 Jenis kelamin : Laki - laki
 Umur : 81 tahun
 MRS : 17 Oktober 2019
 MR : 19144793
 Diagnosis : Peritonitis Generalisata ec Perforasi Gaster
DATA PASIEN
SUBYEKTIF – ANAMNESIS
 Autoanamnesis dengan pasien tanggal 17/10/2019
Keluhan utama : Nyeri seluruh dinding perut
Riwayat penyakit sekarang :
 Keluhan ini dialami sejak 1 hari SMRS, nyeri pada awalnya sering dirasakan di ulu hati sejak
lama. Saat ini nyeri dirasakan seluruh dinding perut, tembus kebelakang, nyeri berlangsung
terus menerus dan semakin memberat, keluhan disertai mual (+), muntah (-), nafsu makan
menurun (+), flatus (+), BAB (+) berwarna hitam, demam (-), perasaan lemas (+). BAK kesan
biasa.
Riwayat penyakit dahulu :
 Riwayat Dispepsia (+) dengan ulkus peptikum
 Riwayat HT (+)
 Riwayat DM (-)
 Riwayat penyakit jantung (+)
 Riwayat sering konsumsi obat antinyeri (+)
DATA PASIEN

OBJEKTIF Status Generalis :


PEMERIKSAAN FISIK Kepala :
Thoraks :
Keadaan umum : Sakit  Konjungtiva: anemis (+/+)
berat/ gizi cukup/compos  I : simetris ki= ka
 Sclera : ikterus (-/-)
mentis  P : MT(-), NT(-), VF ki = ka
 Bibir : sianosis (-)
Status vitalis :  P : sonor ki = ka, BPH ICS VI
Leher : dextra depan
 TD : 190/90 mmHg
 Massa Tumor : (-)  A : BP = vesikuler, BT = Rh -/-
 N : 98 x/m
 Nyeri Tekan : (-) ,wh-/-
 S : 36,7 C
 DVS : R-2 cmH2O
 P : 24 x/m
DATA PASIEN

Abdomen:
 I : Tampak cembung ikut gerak
napas, warna kulit sama
dengan sekitarnya,
 A : Peristaltik (+) kesan menurun
 P : NT (+) pada seluruh dinding
perut, defans muskuler (+)
 P : Timpani, nyeri ketuk (+)
diseluruh lapangan abdomen,
batas paru hepar (-)
 PEMERIKSAAN PENUNJANG
DATA PASIEN
Hasil Laboratorium
Tanggal 17 Oktober 2019

Para
Hasil
meter Tanggal 18 Oktober 2019
WBC 16.18 x 103 /µL
RBC 3.40 x106 / µL Para Hasil

HGB 9.9 g/dL meter

HCT 28.4 % Ureu 117 mg/dL

PLT 0.15 % m
Kreati 2.13 mg/dL
Param nin
Hasil
eter
GDS 131 mg/dL
Ureum 142 mg/dL
Kreati
2.59 mg/dL
nin
SGOT 15 U/L
SGPT 15 U/L
 PEMERIKSAAN PENUNJANG
DATA PASIEN
Pemeriksaan Radiologi Foto abdomen 3 Posisi
DATA PASIEN

 DIAGNOSIS AWAL
 PERITONITIS GENERALISATA EC. PERFORASI GASTER
 DIAGNOSIS BANDING
 APPENDICITIS PERFORASI
 PERFORASI USUS
DATA PASIEN

 PENATALAKSANAAN AWAL

IVFD Rl 28 tpm
Inj. Topazol 40 mg/24j/iv
Pasang kateter tetap
Pasang NGT
Stop Intake oral
Transfusi WB 2 Bag + siapkan WB 2
bag
Rencana Cito laprotomi
Puasa
 Follow up
DATA PASIEN

18 Oktober 2019 S : Nyeri pada luka post operasi (+), NUH R/


T : 230/120 (+), mual (-) muntah (-), lemas (+) demam Rawat ICU
N : 69x/i (-) IVFD Futrolit 28 tpm
P : 24x/i O : kepala an(+/+), ikt (-), sia (-) Moxifloxacin /24 jam/iv
S : 36 Thoraks: Drips Paracetamol 1gr/8jam/iv
BP=vesikuler,BT=Rh-/-,wh-/- Inj. Topazol 40 mg/12jam/iv
Jantung: BJ I/II murni reguler.
Abdomen :Luka post laparotomi, datar,
distended (-) peristaltic kesan menurun,
Ekstremitas :
Edema : -/-,akral hangat +/+
A:
Post Laparotomi Hari I
 Follow up
DATA PASIEN

19 Oktober 2019 S : Nyeri pada luka post operasi (+), NUH (+), R/
T : 180/120 mual (-) muntah (-), lemas (+) demam (-) Rawat ICU
N : 87x/i O : kepala an(+), ikt (-), sia (-) IVFD Futrolit 28 tpm
P : 30x/i Thoraks: Moxifloxacin /24 jam/iv
S : 36 BP=vesikuler,BT=Rh-/-,wh-/- Drips Paracetamol 1gr/8jam/iv
Jantung: BJ I/II murni reguler. Inj. Topazol 40 mg/12jam/iv
Abdomen :Luka post laparotomi, datar,
distended (-) peristaltic kesan menurun,
Ekstremitas :
Edema : -/-,akral hangat +/+
A:
Post Laparotomi Hari II
 Follow up
DATA PASIEN
20 Oktober 2019 S : Nyeri pada luka post operasi (+), NUH R/
T : 160/90 (+), mual (-) muntah (-), lemas (+) demam Rawat ICU
N : 85x/i (-) IVFD Futrolit 28 tpm
P : 11x/i O : kepala an(+), ikt (-), sia (-) Moxifloxacin /24 jam/iv
S : 37 Thoraks: Drips Paracetamol 1gr/8jam/iv
BP=vesikuler,BT=Rh-/-,wh-/- Inj. Topazol 40 mg/12jam/iv
Jantung: BJ I/II murni reguler.
Abdomen :Luka post laparotomi, datar,
distended (-) peristaltic kesan menurun,
Ekstremitas :
Edema : -/-,akral hangat +/+
A:
Post Laparotomi Hari III
 Follow up
DATA PASIEN

21 Oktober 2019 S : Nyeri pada luka post operasi (+), NUH R/


T : 140/80 (+), mual (-) muntah (-), lemas (+) demam Rawat HCU Bedah
N : 78x/i (-) Klem NGT
P : 18x/i O : kepala an(+), ikt (-), sia (-) IVFD Futrolit 28 tpm
S : 36 Thoraks: Moxifloxacin /24 jam/iv
BP=vesikuler,BT=Rh-/-,wh-/- Drips Paracetamol 1gr/8jam/iv
Jantung: BJ I/II murni reguler. Inj. Topazol 40 mg/12jam/iv
Abdomen :Luka post laparotomi, datar, Boleh minum sedikit sedikit
distended (-) peristaltic+
Ekstremitas :
Edema : -/-,akral hangat +/+
A:
Post Laparotomi Hari IV
 Follow up
DATA PASIEN

22 Oktober 2019 S : Nyeri pada luka post operasi (+), NUH R/


T : 140/80 (+), mual (-) muntah (-), lemas (+) demam Rawat HCU bedah
N : 82x/i (-) IVFD Futrolit 28 tpm
P : 22x/i O : kepala an(+/+), ikt (-), sia (-) Moxifloxacin /24 jam/iv
S : 36 Thoraks: Drips Paracetamol 1gr/8jam/iv
BP=vesikuler,BT=Rh-/-,wh-/- Inj. Topazol 40 mg/12jam/iv
Jantung: BJ I/II murni reguler. Aff NGT
Abdomen :Luka post laparotomi, datar, AFF Kateter
distended (-) peristaltic (+), Boleh makan bubur saring
Ekstremitas :
Edema : -/-,akral hangat +/+
A:
Post Laparotomi Hari V
TINJAUAN PUSTAKA
DEFENISI
 Perforasi gastrointestinal merupakan
suatu bentuk penetrasi yang komplek
dari dinding lambung, usus halus, usus
besar akibat dari bocornya isi dari usus
ke dalam rongga perut.

PERFORASI GASTROINTESTINAL = KEGAWATAN BEDAH


ANATOMI DAN FISIOLOGI

PERFORASI GASTROINTESTINAL = KEGAWATAN BEDAH


HISTOLOGI

PERFORASI GASTROINTESTINAL = KEGAWATAN BEDAH


ETIOLOGI
PATOGENESIS
KLASIFIKASI
Tukak lambung memiliki beberapa
tipe,yaitu :
 Tipe 1,yang paling sering
terjadi.Terletak pada kurvatura
minor atau proximal insisura,dekat
dengan junction mukosa onsitik
dan antral.
 Tipe 2, lokasi yang sama dengan
tipe 1 tapi berhubungan dengan
tukak duodenum
 Tipe 3,terletak pada 2 cm dari
pilorus (pyloric channel ulcer)
 Tipe 4,terletak pada proksimal
abdomen atau pada cardia
SIMPTOM SIGN
Nyeri perut hebat
yang makin
meningkat dengan
adanya pergerakan
diertai nausea,
vomitus, pada
keadaan lanjut
disertai demam dan
mengigil.
PEMERIKSAAN FISIK
 luka, abrasi, dan atau ekimosis, pergerakan perut saat bernafas,
distensi dan warna kulit abdomen. pernafasan kostal, cepat dan
Inspeksi dangkal. Pernafasan abdominal tidak tampak karena dengan
pernafasan abdominal akan terasa nyeri akibat perangsangan
peritoneum, distensi perut.

Auskultasi  suara bising usus berkurang sampai hilang -> suatu peritonitis difusa.

nyeri tekan, nyeri lepas seluruh abdomen dan defense muskuler positif
Palpasi

-> suatu peritonitis

 hipertimpani akibat dari perut yang kembung

Perkusi  redup hepar hilang, akibat perforasi gaster/usus yang berisi udara
sehingga udara akan mengisi rongga peritoneal, pada perkusi
hepar terjadi perubahan suara redup menjadi timpani

 Pada rectal touche akan terasa nyeri di semua arah, dengan tonus muskulus sfingter
ani menurun dan ampula recti berisi udara.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
 Pada pemeriksaan laboratorium
didapat: lekositosis
Radiologi
Pada foto polos abdomen didapatkan:
 Tampak gambaran udara bebas
USG abdomen, CT scan, dan MR
PENATALAKSANAAN

Tergantung penyakit yang mendasarinya

Intervensi bedah hampir selalu dibutuhkan dalam bentuk laparotomy


explorasi dan penutupan perforasi dengan pencucian pada rongga
peritoneum (evacuasi medis).

Terapi konservatif di indikasikan pada kasus pasien yang non toxic


dan secara klinis keadaan umumnya stabil dan biasanya diberikan
cairan intravena, antibiotik, aspirasi NGT, dan dipuasakan pasiennya.