Anda di halaman 1dari 34

HIV DAN PENYIMPANGAN

SEKSUAL
1. Anniswah Shalihah
2. Fajar Maulana
3. Gori Gogendra
KELOMPK 6
4. Qurratu Falmuriat
5. Sri Wahyuningsih
6. Tri Wahyuni
“ Analisis Dasar HIV/AIDS dengan Epidemiologi ”
• Jurnal WHO menyatakan bahwa HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah
retrovirus yang menyerang sel-sel pada sistem kekebalan tubuh manusia,
terutama sel darah putih di dalam tubuh, yakni sel limfosit T, sel CD4 dan
komponen utama pada sistem imunitas tubuh, sehingga tubuh kehilangan
imunitas dan kekebalan terhadap serangan yang masuk sehingga tubuh menjadi
lemah serta rentan terinfeksi. HIV menyebabkan defisiensi imunitas tubuh
manusia secara perlahan-lahan, dengan masa inkubasi yang cukup lama, yaitu 5-
15 tahun untuk muncul sepenuhnya. HIV merupakan agen pembawa penyakit
AIDS.
• AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah merupakan penyakit yang
timbul akibat defisiensi imunitas tubuh. Ditandai dengan timbulnya serangkaian
infeksi dan serangan berbagai penyakit terhadap tubuh, tanpa adanya pertahan
dan kekebalan tubuh sehingga daya tahan tubuh menurun drastis.

Definisi HIV AIDS menurut WHO


Cara Penularan HIV

HIV terdapat dalam cairan tubuh yaitu, darah, sperma, cairan vagina dan air
susu ibu. HIV hanya ditularkan kalau cairan tubuh seseorang HIV positif
masuk ke dalam aliran darah orang lain.
• Seks tanpa pengaman (seks tanpa kondom)
• Pemakaian bersama jarum dan peralatan lain untuk menyuntik obat.
• Tindik atau tattoo yang tidak steril.
• Ibu dan anak selama masa kehamilan, persalinan dan menyusui.
• Transfusi darah dan atau produk darah
Kajian

Kajian epidemiologi dan dampak program HIV merupakan komponen


penting untuk Program AIDS Nasional dalam perencanaan dan intervensi.
Analisis epidemiologi dilakukan dari banyak sumber data.
Kajian 2016 adalah kali pertama bagi Sub Direktorat HIV AIDS dan STD
untuk menilai secara sistematis situasi epidemi dan dampak program HIV
dengan melibatkan pakar nasional dan internasional dari beberapa
universitas, WHO dan UNAIDS.
Hasil utama menunjukkan epidemi HIV di Indonesia terkonsentrasi di antara
populasi kunci yaitu di antara wanita pekerja seks (WPS), laki-laki yang
berhubungan seks dengan laki-laki (LSL),waria dan pengguna napza suntik
(Penasun).

Pengetahuan mengenai tren (kecenderungan) dan pola infeksi HIV saat ini sangat
penting untuk perencanaan dan evaluasi program HIV Nasional. Karakterisasi
faktor-faktor risiko untuk infeksi HIV dapat memberikan pandangan ke dalam terkait
cara terbaik untuk menargetkan upaya pencegahan HIV dan memastikan cakupan
penuh layanan HIV dalam upaya memastikan dampak positif yang setinggi
mungkin.
Indikator Intervensi HIV

• Pengetahuan mengenai HIV/AIDS di Indonesia telah


meningkat pesat sejak 2002 ketika hanya 58% perempuan
pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Jumlah ini meningkat
menjadi 77% pada tahun 2012. Laki-laki lebih memiliki
kesadaran terhadap keberadaan HIV/AIDS dengan 75%
pernah mendengar tentang HIV/AIDS pada tahun 2002
yang meningkat menjadi 85% pada tahun 2012.
• Inisiasi hubungan seksual merupakan indikator penting untuk
memahami perilaku seksual. Dalam kasus Indonesia, hubungan
seks sebelum usia 18 tahun berbeda bermakna antara
perempuan dan laki-laki, dan di perkotaan versus pedesaan.
Secara umum, perempuan di daerah pedesaan mulai
berhubungan seksual lebih cepat dibandingkan dengan
perempuan di perkotaan dan jumlah perempuan di pedesaan
yang memulai hubungan seksual lebih awal berjumlah lebih
tinggi daripada laki-laki pada usia yang sama.
Pemakaian kondom merupakan intervensi yang telah diperlihatkan
mencegah infeksi HIV dengan baik. Tingkat pemakaian kondom
pada perempuan muda sebelum seks di luar nikah sangat rendah,
hanya seperempat yang melaporkan pernah menggunakannya di
tahun 2012. Hasil ini tidak mengejutkan karena meskipun
pengetahuan terkait kondom sebagai pencegahan telah berlipat
ganda sejak tahun 2003, hanya 40% perempuan yang tahu bahwa
kondom dapat melindungi dari infeksi HIV.
Pemakaian kondom di kalangan laki-laki pada hubungan seks
komersial terakhir juga sangat rendah dengan hanya 33%
menjawab bahwa mereka telah menggunakan kondom pada
hubungan seks komersial terakhir pada tahun 2012. Trend ini telah
menurun jika dibandingkan dengan data tahun 2007.
Interaksi antara pekerja seks perempuan atau laki-laki dan
pelanggan merupakan kontributor penting untuk epidemi HIV di
Indonesia karena jumlah pelanggan pekerja seks yang besar di
Indonesia menurut PSE 2016.
• Pilar pertama dalam cascade pencegahan adalah
pengetahuan terkait tes HIV dan, untuk itu, orang harus
tahu kemana mereka harus pergi untuk mendapatkan tes
HIV. Pengetahuan mengenai dimana tes HIV dapat diakses
sangat rendah baik pada perempuan maupun laki-laki
menurut data SDKI 2012
Program pencegahan

Edukasi mengenai bahaya penyakit HIV

Sosialisasi akses terhadap tes HIV

Kesinambungan pengobatan & perawatan


PENYIMPANGAN
SEKSUAL
Latar Belakang Penyimpangan Seksual
• Manusia itu diciptakan Tuhan sebagai makhkluk sempurna, sehingga mampu
mencintai dirinya (autoerotik), mencintai orang lain beda jenis (heteroseksual)
namun juga yang sejenis (homoseksual) bahkan dapat jatuh cinta makhluk lain
ataupun benda, sehingga kemungkinan terjadi perilaku menyimpang dalam perilaku
seksual amat banyak.
• Manusia tidak selamanya lurus dan normal, karena pasti ada saja yang memiliki
kecenderungan tidak normal / tidak wajar dalam menjalani hidup di dunia. Salah
satu ketidakwajaran manusia dapat dilihat dari perilaku seksual menyimpang yang
ada pada dirinya. Kelainan seks terjadi pada batin atau kejiwaan seseorang
walaupuan dari segi fisik penderita penyakit seks batin tersebut sama dengan orang-
orang normal yang lain.
Definisi Penyimpangan Seksual
• Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk
mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang
digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar.
Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti
pengalaman sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik.
• Istilah penyimpangan seksual (sexual deviation) sering disebut juga dengan
abnormalitas seksual (sexual abnormality), ketidak wajaran seksual (sexual
perversion), dan kejahatan seksual (sexual harassment). Dalam bahasa medis,
penyimpangan seksual disebut parafilia
Faktor Penyebab

Meningkatnya Penundaan
Tabu-
libido usia
larangan
seksualitas perkawinan

Kurangnya Pergaulan
informasi yang makin
tentang seks bebas
BENTUK-BENTUK PENYIMPANGAN SEKSUAL

HOMOSEKSUAL INCEST

SADOMASOKISME NECROPHILIA

EKSHIBISIONISME BESTIALLY

VOYEURISME SODOMI

FETISHISME FROTTEURISME

PEDOPHILIA GERONTOPILIA
1. Homoseksual
• Homoseksual pertama diciptakan pada abad ke 19 oleh seorang psikolog Jerman
Karoly
• Homoseksual merupakan kelainan mengacu pada interaksi seksual antara pribadi
yang berjenis kelamin sama secara situasional atau berkelanjutan. Istilah gay adalah
suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk kepada pria homoseks.
Sedangkan Lesbian adalah suatu istilah tertentu yang digunakan untuk merujuk
kepada wanita homoseks.
• Faktor hormonal termasuk yang mempengaruhi seseorang berperilaku seksual
sebagai lesbian maupun gay
Homoseksual dapat mengacu pada aspek :

Sexual Sexual Sexual


Orientation ketertarikan/ Behavior Identity
dorongan/hasrat untuk mengandung pengertian Sementara homoseksual
terlibat secara seksual dan perilaku seksual yang jika dilihat dari aspek ini
emosional (ketertarikan dilakukan antara dua mengarah pada identitas
yang bersifat romantis) orang yang berjenis seksual sebagai gay atau
terhadap orang yang kelamin sama. lesbian
berjenis kelamin sama.
2. SADOMASOKISME
• Sadomasokisme termasuk kelainan seksual. Dalam hal ini kepuasan seksual
diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih dahulu
menyakiti atau menyiksa pasangannya maupun membiarkan dirinya disakiti
pasangannya.
• Sadomasokisme seksual berbeda dengan gangguan kepribadian sadistik.
Orang dengan gangguan kepribadian sadistik kejam, agresif, merendahkan
orang lain.
Jenis-Jenis sadamasokisme
1. Masokisme Seksual
Masokisme seksual melibatkan dorongan kuat yang terus menerus dan
fantasi yang terkait dengan tindakan seksual yang melibatkan perasaan
dipermalukan, diikat, dicambuk, atau dibuat menderita dalam bentuk lainnya

2. Sadisme Seksual
Sadisme seksual ditandai dengan preferensi mendapatkan atau meningkatkan
kepuasan seksual dengan cara menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun
mental.

3. Sadomasokisme Seksual
Kata sadomasokis itu adalah gabungan dari sadis dan masokis. Kelainan ini
bisa juga disebut S-M, yaitu sebutan untuk penderita sadisme yang
melakukan hubungan seksual dengan masokisme.
3. EKSHIBISIONISME 4. VOYEURISME
• Penderita ekshibisionisme akan • Istilah voyeurisme (disebut juga scoptophilia)
berasal dari bahasa Prancis yakni vayeur yang
memperoleh kepuasan seksualnya artinya mengintip. Penderita kelainan ini akan
dengan memperlihatkan alat kelamin memperoleh kepuasan seksual dengan cara
mengintip atau melihat orang lain yang sedang
mereka kepada orang lain yang sesuai telanjang, mandi atau bahkan berhubungan
dengan kehendaknya. Bila korban seksual. Setelah melakukan kegiatan mengintipnya,
penderita tidak melakukan tindakan lebih lanjut
terkejut, jijik dan menjerit ketakutan, ia terhadap korban yang diintip. Dia hanya mengintip
akan semakin terangsang atau melihat, tidak lebih.
5. FETISHISME 6. PEDOPHILIA
• Fatishi berarti sesuatu yang dipuja. Jadi pada • Pedofilia didefinisikan sebagai
penderita fetishisme, aktivitas seksualnya
disalurkan melalui bermasturbasi dengan BH gangguan/penyimpangan seksual pada
(breast holder), celana dalam, kaos kaki, atau orang dewasa atau remaja yang telah
benda lain yang dapat meningkatkan hasrat atau
dorongan seksual. Sehingga, orang tersebut mulai dewasa (pribadi dengan usia 16
mengalami ejakulasi dan mendapatkan kepuasan. atau lebih tua) biasanya ditandai
Namun, ada juga penderita yang meminta
pasangannya untuk mengenakan benda-benda dengan minat seksual utama pada
favoritnya, kemudian melakukan hubungan seksual anak-anak prapuber (umumnya usia 13
yang sebenarnya dengan pasangannya tersebut.
tahun atau lebih muda).
7. ZOOPHILIA 8. INCEST
• Bestially adalah bentuk penyimpangan • Incest adalah bentuk penyimpangan
seksual pada manusia yang mempunyai seksual yang ditandai dengan hubungan
hasrat seksual dengan binatang seperti saling mencintai yang bersifat seksual yang
kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, dilakukan oleh pasangan yang memiliki
ikatan keluarga (kekerabatan) yang dekat,
bebek, anjing, kucing, maupun
biasanya antara ayah dengan anak
makhluk lainnya yang dikategorikan perempuannya, ibu dengan anak laki-
sebagai binatang, baik secara anal, lakinya, atau antar sesama saudara kandung
vaginal, maupun oral. atau saudara tiri.
9. NECROPHILIA 10. FROTTEURISME
• Necrophilia, yang juga disebut • Frotteuris adalah suatu bentuk kelainan
dengan thanatophilia dan seksual di mana seseorang laki-laki
necrolagnia, adalah kelainan seksual mendapatkan kepuasan seks dengan
dimana pelakunya memiliki cara menggesek-gesek / menggosok-
ketertarikan untuk berhubungan gosok alat kelaminnya ke tubuh
perempuan di tempat publik / umum
seksual dengan mayat (orang mati).
seperti di kereta, pesawat, bis, dll.
11. SODOMI 12. GERONTOPILIA
• Sodomi adalah prilaku menyimpang • Gerontopilia adalah suatu perilaku
seksual yang dilakukan oleh pria penyimpangan seksual dimana sang
yang suka berhubungan seks pelaku jatuh cinta dan mencari
melalui dubur pasangan seks baik kepuasan seksual kepada orang yang
pasangan sesama jenis (homo) sudah berusia lanjut (nenek-nenek atau
kakek-kakek). Gairah seksualnya bisa
maupun dengan pasangan bangkit lagi jika ia telah bertemu
perempuan. dengan idamannya (kakek/nenek).
Pendidikan
Seks

Usaha Sikap dan


Pencegahan Pengertian
Penyimpangan Orang Tua
Seksual

Pengobatan
Daftar Pustaka

- Estimasi Populasi Kunci HIV di Indonesia 2016, Kementerian Kesehatan Indonesia.


- Laporan Perkembangan HIV-AIDS, Triwulan Tiga 2016, Direktorat Jenderal Pencegahan
dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan, September 2016.
- Survey Terpadu Biologis dan Perilaku pada Populasi Kunci 2015, Kementerian
Kesehatan Indonesia.
- Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia, Badan Pusat Statistik Indonesia 2012.