Anda di halaman 1dari 33

MODUL 1

MATRIK DAN DETERMINAN


EFY YOSRITA
Pengertian Matrik
Matrik adalah susunan bilangan
real (kompleks) berbentuk empat
Istilah-istilah :
persegi panjang yang dibatasi oleh Lambang matrik digunakan huruf
tanda kurung, ditulis dengan : besar, A, B, C
Elemen matrik digunakan lambang
huruf kecil, a. b , c …
Bagian mendatar disebut baris
 a11 a12 a13 ... a1n  Bagian tegak disebut kolom
a a22 a23 ... a2n  Indeks-I menyatkan baris, indeks-j
 21 
A   a31 a32 a33 ... a3n  menyatakan kolom
  Jumlah baris=m, jumlah kolom=n
 ... ... ... aij ... 
Ukuran matrik disebut ordo
am1 am2 am3 ... amn  Matrik dengan jumlah baris=m,
 aij (m  n )
jumlah kolom=n diebut dengan
  ukuran (mxn) atau matrik berordo
(mxn)
CONTOH CONTOH
Perhatikan jaringan berikut :
 1 2 2  j 0.667 5 
 
 2  2 0 .333 4
A 
0.23 0.001 3 2 2 1 2 4
 
 3 j 2 0 .45 1  3 

Beberapa istilah yang perlu 3


diketahui ;
Elemen matrik A dapat berupa a   1, jika node i dan j terhubung
ij 
bilangan bulat, desimal, riil atau 0 , jika node i dan j tidak terbubung
bilangan kompleks Matrik jaringannya adalah sebagai
Jumlah baris A=4, jumlah kolom berikut
a=5, A berukuran (4x5) 0 1 1 0 
a32 : elemen baris ke-3 kolom-2  1 0 1 1
adalah 0.001 A 
Elemen-elemen diagonal matrik  1 1 0 1
 
A : 1, , 3, 1  0 1 1 0 
JENIS - JENIS MATRIK
Matrik Bujur Sangkar
CONTOH
A dikatakan matrik bujur sangkar jika 0 1 1 0
jumlah baris dan jumlah kolom A 1 0 1 1
sama. Matrik A dikatakan berordo n A 
1 1 0 1
 
 a11 a12 a13 ... a1n  0 1 1 0
a a22 a23 ... a2n 
 21  Matrik A berordo 4, elemen-
A  a31 a32 a33 ... a3n  elemen diagonal utama A adalah
  0, 0, 0, 0
 ... ... ... aij ... 
an1 an 2 an3 ... ann   1 5 2 1 0 .5 
 2 4 
 aij (n  n ) 
4 3 2

 
A 3 1 7 0 .4 5 
 
Elemen-elemen diagonal utama A  0 . 4 0 . 3 8 2 1 
adalah a11, a22, a33, a44 ….  5  2 9  0.1 8 
Matrik Segitiga Atas Matrik Segitiga Bawah

A dikatakan matrik segitiga atas, jika A dikatakan matrik segitiga atas, jika
A adalah matrik bujur sangkar A adalah matrik bujur sangkar
dimana semua elemen dibawah dimana semua elemen diatas
diagonal utama 0 diagonal utama 0
3 a b c d
 1 0 0 0 0
0 9 e f g  2
  4 0 0 0
A  0  
0  7 h. i  A 3 1 7 0. 0
   
0 0 0 2 j
 0 .4 0 .3 8 2 0
0 0 0 0 8   5  2 9  0 .1 8

Elemen-elemen diagonal utama : Elemen-elemen diagonal utama :


3, 9, -7, 2, 8 1, 4, 7, 2, 8
Elemen-elemen dibawah Elemen-elemen diatas diagonal
diagonal utama 0, maka A matrik utama 0, maka A matrik segitiga
segitiga atas bawah
Matrik Diagonal = D Matrik Identitas = I

A dikatakan matrik diagonal, jika A A dikatakan matrik identitas, jika A


adalah matrik bujur sangkar dimana adalah matrik bujur sangkar dimana
semua elemen selain diagonal semua elemen selain diagonal
utama 0, dan elemen diagonal utama utama 0, dan elemen diagonal utama
tak nol. Matrik demikian diberi 1. Matrik identitas diberi lambang I.
lambang D.
2 0 0
2 0  1 0 0
D2   ; D3  0 2 0  1 0
0

4   I2   ;I3  0 1 0 
0 0 3 0 1  
0 0 1
2 0 0 0
0 1 0 0 0
3 0 0 0
D4    1 0 0
0 0 4 0 I4   
  0 0 1 0
0 0 0 1  
0 0 0 1
Transpose Matrik= AT Matrik Simetris, A=AT

Transpose matrik A ditulis AT A dikatakan matrik simetris,


adalah sebuah matrik yang bilamana A adalah matrik bujur
diperoleh dari A dimana baris AT sangkar dimana, AT=A
adalah kolam A, dan kolom AT
adalah baris A. Bila A berukuran CONTOH
(mxn), AT berukuran (nxm) 2 1
A  ;
 1 3
CONTOH
 2 1  3
1 4 8
2 A 1 3 4 
5 6  
A ;   3 4  5
4 6 4
  5 0 .1 0 0 0
6 7 2
 0 .1 6 1 0 0
 1 2 4 6  
A0 0
AT   4 5 6 7 
1 10 2 Matrik
    tridiagonal
8 6 4 2 0 0 2 5 3
 0 0 0 3 7
OPERASI ARITMATIK MATRIK (1)
(1) Kesamaan, A=B (2) Perkalian dng skalar, kA

Matrik, A=[aij] dan B=[bij] dikatakan Perkalian matrik, A=[aij] dengan skalar
sama ditulis A=B jika hanya jika tak nol k ditulis kA, didefinisikan
(1) A dan B berukuran sama bahwa setiap elemen A dikalikan
(2) Setiap elemen yang seletak dengan konstanta tak nol k, yakni :
nilainya sama, aij = aij ;
kA=k[aij]= [kaij]
Contoh :
Contoh :
2 1 5 2 1  5
A  dan B    2 1 5
 3 4 6   3 6 4  A 
3 4 6 
2 1 5 3(2) 3(1) 3(5)
A dan B berukuran sama (2x3), 3A  3    
tetapi AB, karena terdapat elemen 3 4 6 3(3) 3( 4) 3(6)
seletak nilainya tidak sama 6 3 15
 
9 12 18
OPERASI ARITMATIK MATRIK (2)
(3) Penjumlahan, A+B Contoh :
Diberikan :
(1) Matrik, A=[aij] dan B=[bij]
dikatakan dapat dijumlahkan 2 1 5  4 1 2 
A  dan B   2 6  4
ditulis A+B bilamana A dan B 3 4 6   
berukuran sama. maka :
(2) Bilamana, A+B=C, maka
2 1 5  4 1 2 
elemen matrik C diberikan, 3A - 2B  3  - 2
3 4

6  2 6  4
cij = aij + bij 4 3 15  8  2  4
 
9 12

18   4  12 8 
(elemen yang seletak
dijumlahkan) 4  8 3  2 15  4

9  4 12  12 18  8 
12 1 11

5 0 26
OPERASI ARITMATIK MATRIK (3)
(4) Perkalian Matrik, AB=C Contoh : Diberikan :
 1  6
(1) Matrik, A=[aij](m=n) dan 2 1 5   2 4 
A  dan B 
B=[bij](pxq) dikatakan dapat 3 4 6   
dikalikan ditulis AB bilamana  3  1
jumlah kolom A dan jumlah maka
baris B sama [n=p].  1  6
2 1 5  
AB    2 4
A (mxn)B(pxq)  C(mxq) 3 4 6  
 3  1
(2) Bilamana, AB=C, maka matrik 15  13

C=[cij](mxq) dimana elemen cij
13  8 
diberikan oleh :
n  1  6
2 1 5 
c ij   aik bkj 
BA   2 4 


 3 4 6
k 1  3  1
 ai 1b1j  ai 2 b2 j  ...  ain bnj
Soal Latihan
 2  1
 1 b  4 1  3 2 
 3  1 2 
(1). A   ; B  a  2 b 2 dan C   
 4 2  3    1  2
2  3 a 1  
 2 1 
1 a  2 b 3 
 1 a  b 3   2
  b  a 3  2
(2). A  2 b 4 a ; B   
   b 1 1 a 1 
 4  2 a b   
  a  1 1 2 b 
 2 a  1
 1 Hitunglah
b  2
  (a). AB ; BC dan CA
C   a 1 b 
  (b). (AB)C = A(BC)
  2 2 b  (c). (BC)(A)=B(CA)
  b  1 a 
(d). (CA)B = C(AB)
DETERMINAN MATRIK
Fungsi determinan matrik bujur Kasus, n=3, Metode Sarrus
sangkar A dinyatakan dengan
det(A)=|A|, didefinisikan sebagai  a11 a12 a13 
jumlahan hasil kali elementer A  a 21 a 22 a 23 
 
elemen-elemen bertanda A a31 a32 a33 
dengan metode Sarrus, det(A) | A | :
Kasus n=1
a11 a12 a13 a11 a12
A=[a], det(A) =|a| = a | A | a 21 a 22 a 23 a 21 a 22
a31 a32 a33 a31 a32
Kasus n=2
(–) (–) (–) (+) (+) (+)
a b  a b
A , maka | A |   a11a 22a33  a12 a 23 a31  a13 a 21a32
c d c d
det(A)  ad - bc - a11a 23 a32  a12a 21a33  a13 a 22a31
4 3 2 3 4
 4  ( 6)  10 1 2 1  16  9  8  24  12  4  7
-2 1
3 2 4
METODE EKSPANSI LAPLACE
Andaikan, A=[aij] (nxn) adalah CONTOH :
matrik bujur sangkar berordo (nxn).
 - 2 1 2 M21 baris ke-2
(1). Minor elemen matrik A baris ke-i A   3 2 5 dan kolom ke-1
 
dan kolom ke-j (a-ij) ditulis Mij  4 - 3 6 dihilangkan
didefinisikan sebagai determinan
matrik berordo (n-1)x(n-1) yang 1 2
diperoleh dari A dengan cara M21   6  ( 6)  12
menghilangkan baris ke-I dan -3 6
kolom ke-j C 21  (-1)2 1M21
 (-1)(12)  -12
(2). Kofaktor elemen matrik A baris
ke-i kolom ke-j ditulis C-ij dan untuk :
didefinisikan sebagai : C13  ( 1)1 3 M13
Cij  ( 1)i  j M ij 3 2
 ( 1)  17
4 -3
CONTOH : Minor
- 2 3 1 4  - 2 3 1 4 
 3 1 -5 2   3 1 -5 2 
A  A 
 4 2 3 - 2  4 2 3 - 2
   
 5 - 4 2 1  5 -4 2 1

M23 determinan matrik berordo M32 determinan matrik berordo


(3x3) baris ke-2 dan kolom ke-3 (3x3) baris ke-3 dan kolom ke-2
dari matrik A dihilangkan dari matrik A dihilangkan
-2 3 4
-2 1 4
M23  4 2 - 2
M32  3 - 5 2
5 -4 1
5 2 1
 (-4)  (-30)  (-64)
 10  10  24 - (-100) - 3 - (-8)
- 40 - 12 - (-16)
 149
 134
DETERMINAN METODE EKSPANSI LAPLACE
n
 akjCkj; j  1,2,...,n
Andaikan, A=[aij] (nxn) adalah
(3). det(A) 
matrik bujur sangkar berordo (nxn),
dan Cij = (-1)i+j Mij adalah kofaktor k 1
elemen matrik A baris ke-i kolom  a1jC1j  a 2jC 2j  ...  anjCnj
ke-j. (Ekspansi kofaktor kolom ke - j)
(1). Untuk n  1,
det(A) | A | a11  a11 CONTOH
Untuk, n  2 determinan matrik A -2 14 Hitung det (A)
diberikan oleh, det(A)  3 - 5 2 dengan ekspansi
kofaktor
n 5 2 1
(2). det(A)   aik Cik ;i  1,2,...,n  a11C11  a12 C12  a13 C13
k 1  a11M11 - a12M12  a13M13
 ai1Ci1  ai2Ci2  ...  ainCin -5 2 3 2 3 -5
(Ekspansi kofaktor baris ke - i)  (-2) -1 4
2 1 5 1 5 2
 -2(-9) - 1(-7)  4(31)  149
CONTOH CONTOH
Hitunglah determinan matrik A Hitunglah determinan matrik A
2 1 6 7 2 1 6 7
3 2 4 5  3 2 4 5 
A  A 
4 4 2 3 4 4 2 3
   
 5 6 1 4  5 6 1 4
Ekspnasi kofaktor baris Ekspansi kofaktor kolom
det(A)  a11C11  a12C12 det(A)  a12C12  a 22C 22
 a13 C13  a14 C14  a32 C32  a 42C 42
 a11M11 - a12M12  a13M13 - a14M14  -a12M12  a 22M22 - a32M32  a 42M42
2 4 5 3 4 5 3 2 5 3 4 5 2 6 7 2 6 7
 2 4 2 3 - 14 2 3  6 4 4 3  -14 2 3  2 4 2 3  4 3 4 5
6 1 4 5 1 4 5 6 4 5 1 4 5 1 4 5 1 4
3 2 4 2 6 7
- 7 4 4 2  2()  ()  6()  7()  19  6 3 4 5  -1()  2() - 4()  6()  19
5 6 1 4 2 3
DETERMINAN : METODE CHIO
Andaikan, A=[aij](nxn), dan a110, maka :
a11 a12 a11 a13 a11 a1n
...
a 21 a 22 a 21 a 23 a 21 a 2n

a11 a12 a11 a13 ... a11 a1n


1 a31 a32 a31 a33 a31 a3n
det(A) 
(a11 )n - 2 a11 a1j
... ... ...
ai1 aij

a11 a12 a11 a12 ... a11 a1n


an1 an2 an1 an2 an1 ann

Rumus diatas dikenal pula dengan, rumus menghitung determinan


dengan mereduksi orde / ukuran matrik. Reduksi ordenya dapat pula
menggunakan elemen matrik yang lain, tidak harus a11.
CONTOH CONTOH
Hitunglah, det(A) dari : Hitunglah, det(A) dari :
2 1 6 7
- 2 1 4 3 2 4 5 
A   3 - 5 2 A 
  4 4 2 3
 5 2 1  
Jawab : Jawab :  5 6 1 4 
Karena, a11= –2, dan n=3, maka : Karena, a11= 2, dan n=4, maka :
(4 - 3) (8 - 18) (10 - 21)
1
-2 1 -2 4 det(A)  (8 - 4) (4 - 24) (6 - 28)
(2) 4 - 2
1 3 -5 3 2 (12 - 5) (2 - 30) (8 - 35)
det(A) 
(-2)3 - 2 - 2 1 - 2 4 1  10  11
5 2 5 1 1
 4  20  22
1 7 - 16 4
 7  28  27
 2 - 9 - 22
1 1 ( 20  40) ( 22  44)
1  x
  ( 154  144) 4 (1)3  2 ( 28  70) ( 27  77)
2
298 1 20 22 1000  924 76
  149     19
2 4 42 50 4 4
SIFAT-SIFAT DETERMINAN
(1). Jika A matrik bujur sangkar (2). Jika A dan B adalah matrik bujur
maka sangkar yang berordo sama maka
det(A) = det(AT)
det(AB) = det(A) det(B)
Contoh :
Contoh :
2 4 3
A   3 5 2 2 0 0  2 - 1 2 
 
 4 1 6 A   1 5 0 dan B  0 2 - 3
   
2 0 6 0 0 2 
 2 3 4
A T   4 5 1 det(A)  60 det(B)  8
 
3 2 6  2 0 0  2 - 1 2   4  2 4 
AB   1 5 0 0 2 - 3   2 9  13
Menurut sifat (1), maka :     
2 0 6 0 0 2   4  2 16 
det(A) = det(AT) = –42
det(AB)  det( A) det(B )  60  8  480
SIFAT-SIFAT DETERMINAN
(3). Jika A matrik bujur sangkar yang (4). Jika A matrik segitiga atas (bawah)
memuat baris atau kolom dimana yang berordo (nxn) dimana
elemennya 0 atau sebanding, maka elemen diagonal utama tak nol,
maka :
det(A) = 0
det(A) = a11a22a33 … ann
Contoh :
 2 4 3 Baris-2 matrik A Contoh :
A  0 0 0 elemennya 0, 2 1 6 7
  0
 4 1 6 maka det(A)=0 3 4 5
A 
0 0 5 3
 
 2 3 0 Kolom-3 matrik 0 0 0 4
A   4 5 0 A elemennya 0,
 
3 2 0 maka det(A)=0 A matrik segitiga atas, maka :

det(A) = (2)(3)(4)(5) = 120


SIFAT-SIFAT DETERMINAN
(5). Jika A dan B matrik bujur sangkar CONTOH :
yang berordo sama. Jika matrik B 2 4 3
diperoleh dari A dengan cara A   1 2 3 det(A)=21
mengalikan sembarang baris  
(kolom) dengan konstanta k tak  4 1 6
nol, maka :

det(B) = k det(A) 2 4 3
B   2 4 6  H2  2 H2 k1= 2
Operasi elementarnya adalah :  
12 3 18 H2  3 H2 k2=3
Hi  k Hi : Baris ke-i baru =
kx baris ke-i lama
det(B) = k1 k2 det (A)
Kj  k Kj : Kolom ke-j baru = = (2) (3) 21
kxkolom ke-j lama = 126
SIFAT-SIFAT DETERMINAN
(6). Jika A dan B matrik bujur sangkar CONTOH :
yang berordo sama. Jika matrik B
2 4 3
diperoleh dari A dengan cara
A   1 2 3
det(A)=21
menukarkan semua elemen  
sembarang baris (kolom) , maka :  4 1 6

det(B) = – det(A)
2 4 3
B   4 1 6  H2  H3
Operasi elementarnya adalah :
 
Hi  Hj : Baris ke-i baru =  1 2 3  det(B)= –det(A)
baris ke-j lama = –21
Ki  Kj : Kolom ke-i baru =
kolom ke-j lama  2 3 4
C   4 6 1 K2  K3
 
 1 3 2 det(C)= –det(B)
= –(–21)=21
SIFAT-SIFAT DETERMINAN
(7). Jika A dan B matrik bujur sangkar CONTOH :
yang berordo sama. Jika matrik B
 1 2 3 a11 = pivot
diperoleh dari A dengan cara
A  2 2 3 a21 dan a31
mengalikan sembarang baris   direduksi menjadi
(kolom) dengan konstanta k tak 3 2 7
0
nol dan hasilnya dijumlahkan
pada baris (kolom) yang lain,
maka : 1 2 3 
B  0 - 2 - 3 H2  H2 – 2 H1
det(B) = det(A)
 
Operasi elementarnya adalah : 0 - 4 - 2 H3  H3 – 3 H1
a22 = pivot
Hi  Hi+kHj :
a32 = direduksi – 0
Baris ke-i baru = Baris ke-i lama 1 2 3 
C  0 - 2 - 3 
+ k baris ke-j lama
Kj  Kj+k Kj :  
Kolom ke-j baru = kolom ke-j 0 0 4  H3  H3 – 2H2
lama + k kolom ke-i lama Jadi, det(A) = (1)(-2)(4) = -8
Matrik Awal
2 2 4 0 40
3 2 0 1
2 4 6 3
2 4 4 6
Iterasi 1 PIVOT = a11
2 2 4 0
0 -1 -6 1 H2=H2-(a21/a11)H1
0 2 2 3 H3=H3-(a31/a11)H1
0 2 0 6 H4=H4-(a41/a11)H1
Iterasi 2 PIVOT=a22
2 2 4 0
0 -1 -6 1
0 0 -10 5 H3=H3-(a32/a22)H2
0 0 -12 8 H4=H4-(a42/a22)H2
Iterasi 3 PIVOT=a33
2 2 4 0
0 -1 -6 1
0 0 -10 5
0 0 0 2 H4=H4-(a43/a33)H3
CONTOH :
Matrik Awal Iterasi3
2 4 8 8 8 2 4 8 8 8
4 4 6 8 2 0 -4 -10 -8 -14
4 4 7 7 5 0 0 1 -1 3
4 8 14 14 8 0 0 0 -4 -2 H4=H4-(a43/a33)H3
2 2 6 9 12 0 0 0 8 2 H5=H5-(a53/a33)H3
Iterasi 1
2 4 8 8 8 -64
0 -4 -10 -8 -14 H2=H2-(a21/a11)H1 Iterasi4
0 -4 -9 -9 -11 H3=H3-(a31/a11)H1 2 4 8 8 8
0 0 -2 -2 -8 H4=H4-(a41/a11)H1 0 -4 -10 -8 -14
0 -2 -2 1 4 H5=H5-(a51/a11)H1 0 0 1 -1 3
Iterasi 2 0 0 0 -4 -2
2 4 8 8 8 -64 0 0 0 0 -2
H5=H5-(a54/a44)H4
0 -4 -10 -8 -14
0 0 1 -1 3 H3=H3-(a32/a22)H2
0 0 -2 -2 -8 H4=H4-(a42/a22)H2
0 0 3 5 11 H5=H5-(a52/a22)H2
DEKOMPOSISI MATRIK DAN DETERMINAN
Matrik bujur sangkar A dikatakan TEKNIK MENGHITUNG
dapat didekomposisi, jika DEKOMPOSISI, A=LU
terdapat matrik segitiga bawah L
dan matrik segitiga atas U (1) Metode Crout, mendekomposisi
sedemikian rupa sehingga : matrik yang menghasilkan elemen
A = LU diagonal utama matrik segitiga atas
Akibatnya : U adalah satu.
det(A) = det(L) det (U) (2) Metode Doollite, mendekomposisi
CONTOH matrik yang menghasilkan elemen
diagonal utama matrik segitiga
2 0 0   1 2 3 bawah L adalah 1
L   1 3 0 ;U  0 1 2 (3) Metode Cholesky mendekomposisi
    matrik diagonal utama L dan U
2 2 4 0 0 1
sama. Metode ini hanya untuk
2 4 6  matrik simetris.
A  LU   1 5 9  (4) Metode Operasi Elementer,
 
2 6 14 mendekomposisi matrik menjadi
segitiga atas atau segitiga bawah
 det( A)  24
DEKOMPOSISI : METODE CROUT
Kasus n=3
Rumus umum untuk
mencari L dan U dengan l11 0 0   1 u12 u13   a11 a12 a13 
metode Crout adalah : l l 0  0 1 u23   a 21 a 22 a 23 
 21 22    
l31 l32 l33  0 0 1  a31 a32 a33 
j 1
lij  aij   lik ukj Rumus perhitungannya :
Iterasi 1: l11  a11; l 21  a21; l 31  a31
k 1
j  i,i  1,...,n a a
Iterasi 2 : u12  12 ; u13  13
i 1 a11 a11

aij   lik uik Iterasi 3 : l 22  a22  l 21u12 ;


l 32  a32  l 31u12
uij  k 1
a23  l 21u13
lii Iterasi 4 : u 23 
l 22
i  j, j  2,...,n Iterasi 5 : l 33  a 33  l 31u13  l 32u 23
CONTOH : Iterasi 3 : l 22  9 - (2)(-0.5)  10;
Hitunglah determinan matrik
l 32  -2 - 4(-0.5)  0
berikut dengan metode
dekomposisi - 13 - 2(1)
Iterasi 4 : u 23   -1.5
10
4  2 4  Iterasi 5 : l 33  16 - 4(1) - 0(-1.5)  12
A   2 9  13
 
 4  2 16  Jadi,
4 0 0 
Jawab :
L   2 10 0   det(L )  4(10)(12)  480
Iterasi 1:  
 4 0 12
l11  4; l 21  2; l 31  4
 1 - 0.5 1 
Iterasi 2 :
U  0 1 - 1.5  det(U )  1
-2  
u12   -0.5 0 0 1 
4
4 det(A)  det(L)det(U)  480
u13   1
4
KASUS n=4 : METODE CROUT
 l11 0 0 0   1 u12 u13 u14   a11 a12 a13 a14 
l l 0 0  0 1 u 23 u 24  a21 a22 a23 a24 
 21 22   
 l 31 l 32 l 33 0  0 0 1 u34  a31 a32 a33 a34 
    
l 41 l 42 l 43 l 44  0 0 0 1  a41 a42 a 43 a44 

Rumus iterasi perhitungannya adalah :


Iterasi 5 : l 33 a 33  l 31u13  l 32u 23
Iterasi 1: l11  a11; l 21  a21;
l 43 a 43  l 41u13  l 42u 23
l 31  a31; l 41  a41;
Iterasi 6 :
a a a
Iterasi 2 : u12  12 ; u13  13 ; u14  14 a34  l 31u14  l 32u 24
a11 a11 u
a11 34 
l 33
Iterasi 3 : l 22  a22  l 21u12 ;
Iterasi 7 :
l 32  a32  l 31u12
l 44  a44  l 41u14  l 42u 24  l 43 u34
l 42  a42  l 41u12
a l u
Iterasi 4 : u 23  23 21 13
l 22
a24  l 21u14
u 24 
l 22
CONTOH : Iterasi 4 : u23 
0 - 3(2)
6
Hitunglah determinan matrik (-1)
berikut dengan metode 1 - (3)(0)
dekomposisi u24   -1
(-1)
2 2 4 0 
3 2 0 1 Iterasi 5 : l 33  6 - 2(2) - 2(6)  -10
A 
l 43  4 - 2(2) - 2(6)  -12
2 4 6 3 
  Iterasi 6 :
2 4 4 6
Jawab : 3 - 2(0) - 2(-1)
u34   0.5
Iterasi 1: l11  2; l 21  3; 10
l 31  2; l 41  2; Iterasi 7 :
2 4 l 44  6 - 2(0) - 2(-1) - 12(0.5)  2
Iterasi 2 : u12   1; u13   2;
2 2 Jadi,
0
u14   0 2 0 0 0 1 1 2 0 
2 3 - 1 0 0  0 1 6 -1
Iterasi 3 : l 22  2  3(1)  1; L ; U   
2 2 10 0 0 0 1 0.5
l 32  4  2(1)  2    
 2 2 12 2  0 0 0 1 
l 42  4  2(1)  2
DEKOMPOSISI : METODE DOOLITTLE
Kasus n=3
Rumus umum untuk
mencari L dan U dengan  1 0 0 u11 u12 u13   a11 a12 a13 
 0  0 u22 u23   a 21 a 22 a 23 
metode Doolittle adalah : l21 1    
l31 l32 1  0 0 u33  a31 a32 a 33 
i 1
uij  aij   lik ukj Rumus perhitungannya :
k 1 Iterasi 1: u11  a11; u12  a12 ; u13  a13
i  j, j  1,...,n a a
Iterasi 2 : l21  21 ; l 31  31
j 1 a11 a11
aij   lik uik Iterasi 3 : u 22  a22  l 21u12 ;
u23  a23  l 21u13
lij  k 1
uii a32  l 31u12
Iterasi 4 : l32 
u 22
j  i,i  2,...,n
Iterasi 5 : u33  a 33  l 31u13  l 32u 23
KASUS n=4 : METODE DOOLITTLE
 1 0 0 0 u11 u12 u13 u14   a11 a12 a13 a14 
l 1 0 0  0 u 22 u 23 u 24  a21 a22 a23 a24 
 21   
 l 31 l 32 1 0  0 0 u33 u34  a31 a32 a33 a34 
    
l 41 l 42 l 43 1  0 0 0 u 44  a41 a42 a 43 a44 
Rumus iterasi perhitungannya adalah :
Iterasi 5 :
Iterasi 1: u11  a11; u12  a12 ;
u33  a 33  l 31u13  l 32u 23
u13  a13 ; u14  a14 ;
u34  a 34  l 31u14  l 32u 24
a a31 a41
Iterasi 2 : l21  21 ; l 31  ; l 41  Iterasi 6 :
a11 a11 a11
a l u l u
Iterasi 3 : u 22  a22  l 21u12 ; l 43  43 41 13 42 23
u33
u23  a23  l 21u13
Iterasi 7 :
u 24  a42  l 41u12
u 44  a44  l 41u14  l 42u 24  l 43 u34
a32  l 31u12
Iterasi 4 : l32 
u 22
a l u
l 42  42 41 12
u 22
Hitunglah det(A) dengan cara :
a  1 a b b  1 a. Ekspansi kofaktor baris (genap/ganjil)
a  2 a  1 b  2 b  1 b. Ekspansi kofaktor kolom (ganjil/genap)
A  c. Sifat-sifat determinan (reduksi menjadi
b  1 b  1 a  1 a  1
  matrik segitiga)
b  1 b  3 a  1 a  3 d. Metode CHIO
e. Dekomposisi matrik (CROUT dan
Doolite)
 a 1 a b 1 b b  2
  Hitunglah det (A) dengan
 a a 1 b2 b 1 b  1
cara :
A  b  2 b 1 a2 a 1 a  1 a) sifat-sifat determinan
 
 b 1 b2 a 1 a2 a  4 b) Metode CHIO
TUGAS II,III dan IV
 b
 b 1 a2 a 1 a  4  c) Dekomposisi matrik
(Crout dan Doolite)