Anda di halaman 1dari 23

Nadia Agdevi Firdaus (17013010190)

Nabilah Sarah Hafidzah (17013010296)


Pandu Mahendra (17013010158)
Ignatius G. (17013010156)
PASAL 9 UU NOMOR 3 TAHUN 2002,
Tentang Pertahanan Negara

BELA NEGARA

Sikap dan perilaku warga negara


yang dijiwai oleh kecintaannya
kepada NKRI yang berdasarkan
Pancasila & UUD ’45, dalam menjamin
kelangsungan hidup bangsa dan
negara”.
ESENSI PERJUANGAN BANGSA INDONESIA
Semangat perjuangan bangsa Indonesia telah terbukti dengan
tercapainya Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan


Iptek, khususnya di bidang informasi, komunikasi dan
trasportasi.

Dalam menghadapi globalisasi dan mengisi kemerdekaan


diperlukan perjuangan non-fisik yang sesuai dengan profesi
masing-masing, yang tetap dilandasi oleh Nilai-nilai
Perjuangan Bangsa Indonesia.
Kewaspadaan Nasional

Dulu: “KEWASPADAAN NASIONAL LEBIH


BERKONOTASI BAGAIMANA KITA MENGHADAPI
BAHAYA LATENT KOMUNIS “

Sekarang: “ BAGAIMANA KITA SEBAGAI BANGSA


INDONESIA YANG MERDEKA DAN BERDAULAT
MENYADARI AKAN ADANYA BERBAGAI
KEMUNGKINAN ANCAMAN TERHADAP
KELANGSUNGAN HIDUP BERBANGSA DAN
BERNEGARA DALAM SPEKTRUM YANG LUAS
(IPOLEKSOSBUDHANKAM) “
NILAI YANG TERKANDUNG
DALAM BELA NEGARA
Rasa kebangsaan
Paham kebangsaan
Semangat kebangsaan

NASIONALISME
Cinta Tanah Air
a. Menjaga tanah dan pekarangan serta seluruh
ruang wilayah Indonesia.
b. Jiwa dan raganya sebagai bangsa Indonesia
c. Memilikii jiwa patriotisme terhadap bangsa dan
negaranya
d. Menjaga nama baik bangsa dan negara
e. Memberikan kontribusi pada kemajuan bangsa
dan negara

WASPADA
SIAP BELA TANAH AIR DARI ANCAMAN, TANTANGAN,
HAMBTAN & GANGGUAN YANG MEMBAHAYAKAN HIDUP
BANGSA & NEGARA
a. Ikut aktif dalam organisasi kemasyarakatan, profesi
maupun politik.
b. Menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warga
negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
c. Ikut serta dalam pemlihan umum.
d. Berpikir, bersikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa
dan negaranya.
e. Berpartisipasi menjaga kedaulatan bangsa dan negara
YAKIN PADA PANCASILA
SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA

a. Memahami nilai-nilai dalam Pancasila.


b. Mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
sehari-hari.
c. Menjadikan Pancasila sebagai pemersatu bangsa
dan negara.
d. Senantiasa mengembangkan nilai-nilai Pancasila.
e. Yakin dan percaya bahwa Pancasila sebagai dasar
negara.
RELA KORBAN UNTUK BANGSA & NEGARA

a. Bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan


pikirannya untuk kemajuan bangsa dan negara.
b. Siap membela bangsa dan negara dari berbagai
macam ancaman.
c. Berpartisipasi aktif dalam pembangunan
masyarakat, bangsa dan negara.
d. Gemar membantu sesama warga negara yang
mengalami kesulitan.
e. Yakin dan percaya bahwa pengorbanan untuk
bangsa dan negaranya tidak sia-sia.
MEMILIKI KESIAPAN PSIKIS DAN FISIK

a. Memiliki kecerdasan emosional dan


spiritual serta intelejensia.
b. Senantiasa memelihara jiwa dan
raganya.
c. Senantiasa bersyukur dan berdoa atas
kenikmatan yang telah diberikan
Tuhan Yang Maha Esa.
d. Gemar berolahraga.
e. Senantiasa menjaga kesehatannya.
1. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib
ikut serta dalam usaha pembelaan
negara.
2. Syarat-syarat tentang pembelaan diatur
dengan undang-undang.
• Target pendidikan berkarakter bela negara adalah
membangkitkan semangat nasionalisme
dikalangan pemuda dan mahasiswa.
4 PILAR PERILAKU BERKARAKTER

OTAK HATI

PERSONAL CERDAS JUJUR

TANGGUH PEDULI
SOSIAL
Pembudayaan Bela Negara

Secara konstitusional Pasal 27 (3) dalam amandemen kedua


menxebutkan bahwa “Setiap warga negara berhak dan
wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara” dan
Pasal 32 (1) amandemen keempat menyebutkan “Negara
memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah
peradaban dunia dengan menjamin kebebasan
masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan
nilai-nilai budayanya”. Kedua Pasal di atas disinergikan
sebagai interpretasi kritis, sehingga muncul statemen
“Kebudayaan nasional Indonesia yang berintikan
kesadaran hak bela negara” yang disingkat dengan
Budaya Hak Bela Negara (BBNI).
Memasuki abad-21 kita akan mengalami kehidupan yang cukup perbedaannya dari
masa sebelumnya. Karena kita akan menghadapi sekurang-kurangnya tiga
tantangan utama (Sayidiman Suryohadiprojo dalam Simposium Futourologi) yakni
:

1. Keharusan Indonesia untuk mampu mengikuti dinamika dan kemajuan bangsa lain
di wilayah Asia Pasifik, pada hal bangsa-bangsa ini sedang dalam
perkembangan yang amat dinamis.
2. Kemampuan untuk mengambil manfaat sebaik-baiknya dari potensi kekayaan
alam yang terdapat di wilayah nasional bagi kepentingan rakyat Indonesia
umumnya.
3. Pertambahan penduduk yang terus berjalan dengan cukup deras, salah satu
akibat dari pertambahan penduduk itu adalah peningkatan angkatan kerja yang
besar.

Ketiga tantangan tersebut ada hubungannya satu sama lain dan saling
mempengaruhi. Ketidak mampuan Indonesia untuk mengikuti dinamika dan
kemajuan bangsa lain akan berpengaruh amat besar kepada kondisi dalam
negerinya dan hubungannya dengan bangsa lain yang lebih mampu dan
dinamis akan mengambil manfaatnya. Akibatnya bahwa kita harus hidup dalam
alam yang rusak bahkan akan mengalami sejarah penjajahan kembali, sekalipun
dalam bentuk lain.
Kesadaran berbangsa dan bernegara sesuai dengan
perkembangan bangsa mempengaruhi kehidupan berbangsa
dan bernegara yang tidak akan selalu positif. Bisa saja pada
suatu masa kesadaran tersebut tidak seutuh dengan masa
sebelumnya.

Bermacam-macam hal yang dapat berpengaruh terhadap


kesadaran berbangsa dan bernegara. Berbagai faktor dalam
negeri seperti dinamika kehidupan warga negara, telah ikut
memberi warna terhadap kesadaran berbangsa dan bernegara
tersebut. Demikian pula perkembangan dan dinamika
kehidupan bangsa-bangsa lain di berbagai belahan dunia,
tentu berpengaruh pula terhadap kesadaran itu. Salah satu
faktor yang amat berpengaruh adalah perkembangan dan
temuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Faktor
tersebut membuat dunia semakin “telanjang” dalam arti
semakin terbuka dan terlihat oleh semua bangsa-bangsa di
dunia. Hal ini selanjutnya menimbulkan suasana saling
mempengaruhi juga menyentuh kesadaran berbangsa dan
Sebagai bangsa yang relatif muda yang harus berjuang dengan berbagai masalah kebutuhan
primer ekonomi, sosial budaya dan politik yang mengancam eksistensi bangsa
Indonesia.
Ideologi kebangsaan dan cita-cita untuk merdeka dari cengkeraman imperialis yang pernah
menyatukan dan menggerakkan seluruh rakyat Indonesia sekarang memerlukan
redefinisi dan reartikulasi karena secara politis kita telah merdeka. Namun wawasan
kebangsaan (Nation hood) dan kemanusiaan tergeser oleh agenda kepentingan ideologi
kelompok.
Semangat persatuan dan kesatuan yang dijiwai oleh Pancasila adalah nilai Normatif yang
telah diperjuangkan melalui Nation and character building oleh pendiri bangsa. Proses
itu harus kita lanjutkan dan kembangkan serta tidak boleh terhenti sejak kita
memutuskan membangun negara kesatuan Republik Indonesia merdeka dengan
tonggak-tonggak sejarah Boedi Utomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), dan
Proklamasi Kemerdekaan RI (17 Agustus 1945).
Bahwa dengan perubahan tata nilai dalam masyarakat akibat dari proses perubahan yang
tidak pernah terhenti baik secara struktural sosial maupun kultural, maka nilai-nilai
kebangsaan yang telah menjadi kesepakatan nasional dalam kerangka negara kesatuan
Republik Indonesia. 17 Agustus 1945 kiranya masih sangat relevan dalam upaya
mempertahankan keutuhan bangsa dari ancaman disitegrasi yang mengancam persatuan
bangsa.
Bung Karno pernah mengajukan plaform pertama dan utama yaitu
:

1. Tekad untuk hidup bersama


2. Membentuk satu bangsa berdasarkan kesamaan ciri oleh sebab
bersamaan nasib
3. Secara geopolitik tanah air Indonesia adalah suatu negara
bangsa (nation state).

Untuk itu kiranya sangat perlu dan mendesak guna mencegah


kerawanan ini, maka sangat perlu diteruskan pola pembinaan
kesatuan bangsa melalui kesadaran bela negara. Alex Suseno,
mengungkapkan bahwa komitmen hidup membangsa
merupakan sinyalemen yang harus dijawab dengan adanya
terobosan budaya. Suatu terobosan dengan paradigma sosial
baru yang menggunakan bela negara dalam bahasa budaya.
Agar generasi Panca 45 dapat tampil dengan suatu prakarsa
yang unik tapi orisional, unik karena memberi jalan keluar,
orisional karena berakar pada budaya sendiri.
Masih ada persepsi bahwa bela negara adalah tugas TNI dan POLRI, sedangkan pengertian
bela negara merupakan tekad, sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh rasa
kecintaan kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD ’45 dalam menjamin
kelangsungan hidup bangsa dan negara. Dengan demikian perlu upaya sosialisasi
kepada masyarakat luas.
Bela negara merupakan kegiatan yang dilahirkan oleh setiap warga negara sebagai
penunaian hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan pertahanan negara.
Mengutip Muhammad Azhar, bahwa bela negara seperti membela tanah air (bersifat
geografis), mencintai tanah air (bersifat psikologis), stabilitas negara (bersifat security)
dan loyalitas terhadap bangsa dan negara (bersifat dedikatif).
Pembudayaan bela negara dangan memberikan pengertian, pemahaman mengenai bela
negara agar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Bela Negara diperdayakan
sebagai pemberian kekuatan dan daya kemampuan kepada masyarakat untuk dapat
melaksanakan bela negara. Masyarakat yang mempunyai kemampuan bela negara
adalah memiliki kemampuan kesadaran melaksanakan hak dan kewajiban dalam
berbagai kegiatan sebagai makhluk sosial dan sebagai warga negara. Pemberdayaan ini
tentu saja diimbangi dengan keteladanan sikap moral dan rasa kebanggaan nasional.
Agenda budaya bela negara sesungguhnya merupakan agenda seluruh bangsa. Penanaman
semangat bela negara merupakan suatu proses perubahan perilaku sesuai dengan
pranata sosial maka perlu dilakukan pembinaan yang berkesinambungan. Dalam proses
budaya bela negara hendaknya memperhatikan generasi muda sehingga proses
pembudayaan tumbuh dengan baik, karena kaum muda merupakan pelaku budaya pada
masa mendatang.
Telah kita sepakati bahwa budaya adalah hasil budidaya manusia yang
dikaruniai Tuhan dengan kemampuan cipta rasa dan karsa. Berbicara
tentang budaya (kebudayaan) tidak dapat lepas dari peradaban.
Peradaban atau “Civilization” yang diartikan sebagai pertumbuhan
manusia dalam penguasaan pengetahuan dan kecakapan yang
mendorongnya untuk mencapai perilaku yang lebih luhur.

Budaya nasionalisme merupakan produk peradaban umat manusia.


Kehidupan yang beradab adalah kehidupan yang hanya terdapat di
dalam kehidupan manusia yang tidak terjadi dengan sendirinya.
Peradaban harus didesain dengan kesadaran, kesengajaan,
kebersamaan dan komitmen yang didasarkan atas nilai-nilai luhur.

Bahwa Indonesia sebenarnya memiliki semua syarat dan sifat untuk tidak
bersatu. Namun demikian kesatuan dapat diwujudkan. Hal itu karena
sebuah keberhasilan perjuangan. Selama lebih dari setengah abad
sejak kemerdekaan, yang kita kenal hanya satu bangsa, satu idiologi.
Sejak itulah manusia Indonesia dapat hidup lebih tinggi sebagai sebuah
kesatuan bangsa, terlihat oleh peradaban yang dilandasi dengan nilai-
nilai sepiritual, moral dan idiologis.
Bagaimanakah mengenai konsep wawasan kebangsaan serta langkah apa yang
harus kita lakukan? Francis Fukuyama (pada Komaruddin Hidayat dalam
Seminar Reorientasi Wawasan Kebangsaan di era demokrasi, 2001)
menyebutkan bahwa kita perlu membangun dan memelihara apa yang
disebut dengan “social capital” yang positif untuk pengembangan bangsa
ini. Social Capital yang dimaksud adalah nilai-nilai tradisi dan cita-cita
social yang telah tumbuh yang kita sepakati sangat positif nilainya untuk
masa depan bangsa dan asset pengembangan peradaban sebuah bangsa.

Mengingat wawasan kebangsaan bermuatan nilai-nilai dan cara pandang


terhadap dunia sekelilingnya, sesungguhnya kita telah memiliki “social
capital” yang amat berharga yang terdapat pada budaya dan agama.

Guna mendukung pengembangan budaya dan agama tadi seyogyanya diberi


format atau bingkai institusi yang mendukungnya dalam kontek
kemoderenan. Sehingga khasanah ajaran etika dan agama dari berbagai
daerah yang begitu mulia memperoleh wadah dan pengembangan dalam
sebuah sistim politik yang demokratis dan accountable.

Dengan demikian, apa yang pernah dikemukakan oleh Alex Suseno bahwa
budaya bela negara muaranya nanti pada kualitas manusia Indonesia yang
patriotik religius dan religius patriotik.