Anda di halaman 1dari 13

DESIGN PPN YANG EFEKTIF BAGI PERUSAHAAN

PENGERTIAN PPN

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap
pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen
ke konsumen.

PPN termasuk jenis pajak tidak langsung.

Dalam perhitungan PPN yang harus disetor oleh PKP, dikenal istilah pajak
keluaran dan pajak masukan. Pajak keluaran adalah PPN yang dipungut
ketika PKP menjual produknya, sedangkan pajak masukan adalah PPN yang
dibayar ketika PKP membeli, memperoleh, atau membuat produknya.

Indonesia menganut sistem tarif tunggal untuk PPN, yaitu sebesar 10 persen.
KARAKTERISTIK PPN
• Pajak tidak langsung (indirect tax), maksudnya pemikul beban pajak
dan penanggung jawab atas pembayaran pajak ke kantor pelayanan
pajak adalah subjek yang berbeda.
• Multi tahap (multi stage), maksudnya pajak dikenakan di tiap mata
rantai jalur produksi dan jalur distribusi dari pabrikan.
• Pajak objektif, maksudnya pengenaan pajak didasarkan pada objek
pajak tanpa melihat kondisi subjek pajak.
• Bersifat netral. yaitu PPN tidak hanya dikenakan pada barang tetapi juga
jasa.
• Menghindari pengenaan pajak berganda (double tax). karena PPN hanya
dikenakan pada pertambahan nilainya saja.
• Dipungut menggunakan faktur.
• PPN dikenakan sebagai pajak atas konsumsi dalam negeri (domestic
consumptions).
• Dihitung dengan metode pengurangan tidak langsung (indirect
subtraction), yaitu dengan memperhitungkan besaran pajak masukan
dan pajak keluaran.
PENGECUALIAN PPN
Pada dasarnya semua barang dan jasa merupakan barang kena pajak dan
jasa kena pajak, sehingga dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN),
kecuali jenis barang dan jenis jasa sebagaimana ditetapkan dalam Pasal
4A Undang-Undang No. 8/1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang
dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah .

BARANG TIDAK KENA PPN


• Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil
langsung dari sumbernya,
• Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh
masyarakat
• Jasa pelayanan kesehatan medis
• Jasa pelayanan sosial,
• Jasa pembiayaan, termasuk pembiayaan berdasarkan prinsip syariah
Subjek PPN
Subjek Pajak PPN adalah Orang Pribadi atau Badan yang menurut peraturan perundang-
undangan ditentukan untuk melaksanakan kewajiban perpajakan di bidang PPN.

Subjek Pajak PPN terdiri dari


1. Pengusaha Kena Pajak (PKP)
2. Non PKP
Tempat terhutang PPN

Ketentuan Pasal 12 UU PPN 1984 tersebut kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Pasal 14
Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000, yang menetapkan bahwa :
1) Tempat pajak terutang untuk Penyerahan di dalam Daerah Pabean.
2) Tempat pajak terutang untuk impor BKP adalah ditempat BKP dimasukkan ke dalam Daerah
Pabean.
3) Tempat pajak terutang untuk pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar Daerah
Pabean
4) Tempat pajak terutang untuk kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak di dalam
lingkungan perusahaan atau pekerjaan
5) Tempat pajak terutang bagi PKP yang dikukuhkan di KPP Wajib Pajak Besar,
6) Tempat pajak terutang ditentukan lain oleh Direktur Jenderal Pajak atas permintaan tertulis
dari wajib pajak atau secara jabatan.
Tugas dan Tanggung Jawab Subjek Pajak PPN
PKP (Pengusaha Kena Pajak):
- Memungut Pajak
- Menghitung, membayar, melaporkan pajak
- Menerbitkan faktur pajak
- Melaporkan SPT Masa PPN
Non PKP :
- Membayar PPN
- Melaporkan SPT Masa PPN

Output yang Dihasilkan PPN :


- Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)
- Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)
- Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)
Strategi Design PPN yang Efektif untuk Perusahaan
• Pastikan PPN masukan bisa dikreditkan, jangan samapai ada FC cacat
• Memohon sentralisasi PPN untuk menghemat biaya administrasi dan resiko faktur
pajak masukan cacat
• Leasing menggunakan capital lease bebas dari PPN
• Memanfaatkan fasilitas ekspor, PPN ditanggung Pemerintah dan PPN tidak
dipungut dimana harga jualdapat ditekan dan tetap dapat merestitusi PPN masukan
• Menggunakan diskon daripada hadiah Cuma-Cuma karena nanti hadiah tersebut
dikenakan PPN sesuai dppnya
• Memanfaatkan PPN masukan barang modal yang nilainya besar untuk cash saving
Kronologis Penerbitan Surat Ketetapan Pajak
Surat ketetapan pajak adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada
suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja
perusahaan tersebut. Laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan
keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi :

• Surat Tagihan Pajak


• Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)
• Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)
• Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)
• Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)
Penyebab Penerbitan Surat Ketetapan Pajak
1 Pajak Keluaran
Pajak keluaran ialah pajak yang dikenakan ketika subjek pajak melakukan
penjualan terhadap barang kena pajak (BKP) dan atau jasa kena pajak
(JKP) yang tergolong dalam barang mewah. Sebagai salah satu jenis
pajak, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) seringkali disebut sebagai pajak
objektif. Pada PPN, hal yang pertama kali ditekankan adalah objek pajak
yang akan dikenakan. Kemudian, subjek pajak yang terkena. Misalnya,
barang-barang mewah, kendaraan mewah, dan sebagainya. Yang
pertama dikenakan adalah tarif pada tiap-tiap barang tersebut.
Kemudian, barulah wajib pajak pengonsumsi barang tersebut yang
dikenai beban pajaknya sehingga wajib pajak tersebut disebut sebagai
subjek pajak.
2 Pajak Masukan
Pajak masukan adalah pajak yang dikenakan ketika Pengusaha Kena Pajak
melakukan pembelian terhadap barang kena pajak atau jasa kena pajak.
Pengusaha Kena Pajak, sering disebut PKP adalah Pengusaha yang
melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa
Kena Pajak yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak
Pertambahan Nilai (UU PPN) 1984 dan perubahannya, tidak termasuk
Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan
Menteri Keuangan, kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
TAHAPAN TAHAPAN KOMPENSASI DAN RESTITUSI
1. PKP HANYA DAPAT MENGAJUKAN PERMOHONAN PENGEMBALIAN (RESTITUSI)
PADA AKHIR TAHUN BUKU
• Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan lebih
besar daripada Pajak Keluaran,selisihnya merupakan kelebihan Pajak yang
dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya.
• PKP dapat mengajukan permohonan pengembalian atas kelebihan Pajak (restitusi)
pada akhir tahun buku. Bagi PKP Orang Pribadi yang dikecualikan dari kewajiban
menyelenggarakan pembukuan, pengertian tahun buku adalah tahun kalender.

2.PKP YANG DAPAT MENGAJUKAN PERMOHONAN PENGEMBALIAN (RESTITUSI)


PADA SETIAP MASA PAJAK
• PKP yang melakukan ekspor BKP Berwujud;
• PKP yang melakukan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP kepada
Pemungut PPN
• PKP yang melakukan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP yang PPN-nya
tidak dipungut;
• PKP yang melakukan ekspor BKP Tidak Berwujud;
• PKP yang melakukan ekspor JKP; dan/atau
• PKP dalam tahap belum berproduksi
PENELITIAN DAN SURAT KEPUTUSAN PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN
PAJAK (SKPPKP)
1. Penelitian dilakukan terhadap permohonan pengembalian kelebihan Pajak yang
diajukan oleh:
- PKP kriteria tertentu
- PKP yang memenuhi persyaratan tertentu
- PKP berisiko rendah.
2 . Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan penelitian atas permohonan
pengembalian kelebihan Pajak yang diajukan oleh PKP, harus menerbitkan Surat
Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (SKPPKP) paling lama 1
bulan sejak saat diterimanya permohonan pengembalian kelebihan Pajak.
3 . Apabila jangka waktu 1 bulan tersebut telah lewat dan Direktur Jenderal Pajak
tidak menerbitkan SKPPKP, permohonan pengembalian kelebihan Pajak yang
diajukan dianggap dikabulkan dan SKPPKP harus diterbitkan paling lama 7 hari
setelah jangka waktu 1 bulan tersebut berakhir.
PEMERIKSAAN DAN SKP
1 .Pemeriksaan dilakukan terhadap permohonan pengembalian kelebihan Pajak
yang diajukan oleh PKP selain:
 PKP Kriteria tertentu (Pasal 17 C UU KUP),
 PKP yang memenuhi persyaratan tertentu (Pasal 17 D UU KUP),
 PKP Resiko rendah (Pasal 9 ayat 4C UU PPN).
2. Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan atas permohonan
pengembalian kelebihan Pajak harus menerbitkan SKP paling lama 12 bulan
sejak permohonan pengembalian kelebihan Pajak diterima. Jangka waktu 12
bulan ini tidak berlaku dalam hal terhadap PKP sedang dilakukanpemeriksaan
bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan.
3. Apabila setelah melampaui jangka waktu 12 bulan tersebut Direktur Jenderal
Pajak tidak memberi suatu keputusan, permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak dianggap dikabulkan dan SKPLB harus diterbitkan paling
lama 1 bulan setelah jangka waktu tersebut berakhir.;
SEKIAN DAN
TERIMA KASIH