Anda di halaman 1dari 133

PELATIHAN DASAR CPNS 1

BADAN PEMBERDAYAAN SUMBERDAYA MANUSIA


PROVINSI SUMATERA UTARA
NAMA : Ir. RITA MINDAYANI, MSi

PANGKAT/ GOL : PEMBINA UTAMA MUDA / IV C

JABATAN : WIDYAISWARA MADYA

INSTANSI : BADAN PEMBERDAYAAN SDM PROVSU


JL .NGALENGKO NO.1 MEDAN

HP : 081264175297

Pengalaman Kerja :
-Kasi Identifikasi dan Perumusan Program Kanwil Deptan SU
-Kasi Ketersediaan Konsumsi Pangan BKP Provsu
-Kabid Penganekaragaman Kons.Pangan BKP Provsu
-Widyaiswara Juli 2011 s/d sekarang.
BAGAIMANA
KITA BELAJAR

IKHWAN FAIZAN NST 15/07/2014


pertama
IKHWAN FAIZAN NST 15/07/2014
IKHWAN FAIZAN NST 15/07/2014
IKHWAN FAIZAN NST 15/07/2014
IKHWAN FAIZAN NST 15/07/2014
IKHWAN FAIZAN NST 15/07/2014
IKHWAN FAIZAN NST 15/07/2014
3S
SENYUM Marah

15/07/2014
IKHWAN FAIZAN NST
SEMANGAT Sedih

Putus
SUKSES Asa
Komitmen Kita :
Kerjasama : tertib dan aktif mengikuti seluruh
kegiatan
HP dinon-aktifkan/nada getar ( jika terpaksa, telepon
diterima di luar ruangan)

Kegiatan Pembelajaran :
Ceramah
Tanya jawab
Diskusi
Evaluasi
HASIL BELAJAR
Setelah mengikuti pembelajaran
ini, peserta diklat diharapkan
mampu menjelaskan peran dan
fungsi ASN serta kedudukan,
kewajiban dan hak PNS.
LATAR BELAKANG.....???

UU NO. 5 THN 2014 TTG ASN


TGL 15 JANUARI 2014
LATAR BELAKANG

PERINGKAT INDONESIA MENINGKAT DARI #55 (TAHUN 2008-2009)


MENJADI #38 (TAHUN 2013-2014)
EFEKTIFITAS PEMERINTAHAN
 The quality of public services,
 The quality of the civil service
 the degree of its independence from political pressures,
 the quality of policy formulation and implementation,
 the credibility of the government's commitment to such policies.
100
100 94
89
81 80 83
79
80 75
64 61
58 56
60 54
44 44 47
38 38
40 2002
25
21 22 2012
20 12
7 4
0

16

Percentile rank among all countries (ranges from 0 (lowest) to 100 (highest) rank)
PROFIL PEGAWAI ASN REPUBLIK INDONESIA
Jumlah Pegawai ASN: 4,36 juta
- Pusat : 891.509 Rasio Pegawai ASN: 1,76%
- Daerah: 3.471.296 (BKN, 2013)
Rata2 Pendidikan: S1 (40%) & SMA (28%)

RASIO PEGAWAI ASN KAB/KOTA PER 100 PENDUDUK


WILAYAH KALIMANTAN WILAYAH SULAWESI
Peg. ASN SLA 36% Peg. ASN Sarjana 45%
Peg. ASN Sarjana 30% Peg. ASN SLA 29%
Tingkat Kemiskinan 6.69 % Tingkat Kemiskinan 13.99%
Indeks Gini 0.36 Indeks Gini 0.40

WILAYAH SUMATERA
Peg. ASN Sarjana 39%
WILAYAH PAPUA-MALUKU
Peg. ASN SLA 29%
Peg. ASN SLTA 37%
Tingkat Kemiskinan 12,07 %
WILAYAH JAWA Peg. ASN Sarjana 34%
Indeks Gini 0.35
Tingkat Kemiskinan 24.89%
Peg. ASN Sarjana 40% WILAYAH BALI-NUSTRA 18
Indeks Gini 0.40
Peg. ASN Diploma 28% Peg. ASN Sarjana 36%
Tingkat Kemiskinan 11.36 % Peg. ASN SLA 25%
Indeks Gini 0.40 Tingkat Kemiskinan 19.79 %
Indeks Gini 0.38
RASIO BELANJA PEGAWAI PADA APBD KABUPATEN/KOTA 2013
Memperhitungkan Tunjangan Profesi Guru (TPG) & Tambahan Penghasilan Guru (TAMSIL)

20%
21% 12%
17%

32%
31% 32%
35% 1 Kab. Puncak 10.55% 482 Kab. Wonogiri 64.75%
2 Kab. Tambrauw 11.67% 483 Kab. Ngawi 64.79%
3 Kab. Mamberamo Raya 11.77% 484 Kab. Kuningan 64.91%
4 Kab. Tana Tidung 12.88% 485 Kab. Purworejo 65.07%
: 82 Kab/Kota 5 Kab. Malinau 14.20% 486 Kab. Sragen 66.92%
6 Kab. Teluk Bintuni 14.80% 487 Kab. Minahasa 67.97%
: 158 Kab/Kota 7 Kab. Natuna 16.56% 488 Kab. Karanganyar 68.10% 19
: 154 Kab/Kota 8 Kab. Kutai Barat 17.50% 489 Kab. Klaten 68.51%
9 Kab. Kaimana 17.52% 490 Kab. Simalungun 70.34%
: 97 Kab/Kota 10 Kab. Mamberamo Tengah 17.72% 491 Kota Ambon 71.51%

Sumber data: Dirjen Perimbangan Keuangan Kemenkeu 2014 (Surat No: S-71/PK/2014)
REFORMASI BIROKRASI
.... untuk menjawab tantangan di masa depan
TRANSFORMASI BIROKRASI &
PENGELOLAAN SDM APARATUR

BIROKRASI
2025 BERSIH,
KOMPETEN
DAN
2018 MELAYANI
DYNAMIC
GOVERNANCE
PERFORMANCE BASED PENGEMBANGAN
2013 BUREAUCRACY POTENSI HUMAN
MANAJEMEN CAPITAL
SDM
RULE BASED
BUREAUCRACY
ADMINISTRASI
KEPEGAWAIAN
FONDASI UU UNTUK REFORMASI BIROKRASI

UU No 25 RUU Sistem
Tahun 2009 Pengawasan
Pelayanan Intern
Publik Pemerintah

BIROKRASI
BERSIH,
BIROKRASI
KOMPETEN
EKSISTING
DAN
MELAYANI

RUU
UU No. 39 UU APARATUR SIPIL
Adminsitrasi
Tahun 2008 NEGARA
Pemerintahan
Kementerian Peraturan Pelaksana:
Negara 19 PP, 3 PERPRES, 2
PERMEN
LANDASAN FILOSOFIS ASN
Bahwa dalam rangka pelaksanaan cita-cita bangsa dan
mewujudkan tujuan negara sebagaimana tercantum dalam
pembukaan UUD Negara RI Tahun 1945, perlu dibangun
Aparatur Sipil Negara yang memiliki :
1. Integritas;
2. Profesional;
3. Netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari
praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme;
4. mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi
masyarakat ;
5. mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat
persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila
dan UUD Negara RI Tahun 1945;
PENGERTIAN
APARATUR SIPIL NEGARA (ASN):
profesi bagi pegawai negeri sipil (PNS)
dan pegawai pemerintah dengan
perjanjian kerja (PPPK) yang bekerja pada
instansi pemerintah.

PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA:


PNS dan PPPK yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian (PPK) dan
diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas negara
lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Pegawai Negeri Sipil :


warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai
ASN secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan
pemerintahan.

Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) :


warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat
berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka
melaksanakan tugas pemerintahan.
ASAS, PRINSIP, NILAI DASAR, SERTA KODE
ETIK DAN KODE PERILAKU
1. Manajemen ASN berdasarkan pada ASAS :
a. kepastian hukum;
b. profesionalitas;
c. proporsionalitas;
d. keterpaduan;
e. delegasi;
f. netralitas;
g. akuntabilitas;
h. efektif dan efisien;
i. keterbukaan;
j. nondiskriminatif;
k. persatuan dan kesatuan;
l. keadilan dan kesetaraan; dan
m. kesejahteraan.
2. ASN SEBAGAI PROFESI
BERLANDASKAN PADA PRINSIP :

a. nilai dasar;
b. kode etik dan kode perilaku;
c. komitmen, integritas moral, dan
tanggung jawab pada pelayanan
publik;
d. kompetensi yang diperlukan
sesuai dengan bidang tugas;
e. kualifikasi akademik;
f. jaminan perlindungan hukum
dalam melaksanakan tugas; dan
g. profesionalitas jabatan http://sinyo19.blogspot.com
3. NILAI DASAR ASN
a. memegang teguh ideologi Pancasila; i. memiliki kemampuan dalam
b. setia dan mempertahankan UUD Negara melaksanakan kebijakan dan
RI Tahun 1945 serta pemerintahan yang program pemerintah;
sah; j. memberikan layanan kepada
c. mengabdi kepada negara dan rakyat publik secara jujur, tanggap,
Indonesia; cepat, tepat, akurat, berdaya
d. menjalankan tugas secara profesional dan guna, berhasil guna, dan
tidak berpihak; santun;
e. membuat keputusan berdasarkan prinsip k. mengutamakan kepemimpinan
keahlian; berkualitas tinggi;
f. menciptakan lingkungan kerja yang l. menghargai komunikasi,
nondiskriminatif; konsultasi, dan kerja sama;
g. memelihara dan menjunjung tinggi m. mengutamakan pencapaian
standar etika yang luhur; hasil dan mendorong kinerja
h. mempertanggungjawabkan tindakan dan pegawai;
kinerjanya kepada publik; n. mendorong kesetaraan dalam
pekerjaan; dan
o. meningkatkan efektivitas sistem
pemerintahan yang demokratis
sebagai perangkat sistem karier.
4. Kode Etik dan Kode Perilaku ASN
1) Kode etik dan kode perilaku ASN bertujuan untuk menjaga
martabat dan kehormatan ASN.
2) Kode etik dan kode perilaku berisi pengaturan perilaku agar
Pegawai ASN :
a. melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab,
dan berintegritas tinggi;
b. melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
c. melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;
d. melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
e. melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau
Pejabat yang Berwenang sejauh tidak bertentangan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan etika
pemerintahan;
f. menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara;
g. menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara
bertanggung jawab, efektif, dan efisien;
h. menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam
melaksanakan tugasnya;
i. memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan
kepada pihak lain yang memerlukan informasi terkait
kepentingan kedinasan;
j. tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status,
kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat atau mencari
keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang
lain;
k. memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga
reputasi dan integritas ASN; dan melaksanakan ketentuan
peraturan perundang-undangan mengenai disiplin Pegawai
ASN.
JENIS, STATUS & KEDUDUKAN ASN
JENIS STATUS KEDUDUKAN

1. Berstatus pegawai tetap


• Berkedudukan sebagai
PNS dan Memiliki NIP secara
unsur aparatur negara
Pasal 1 butir 3 Nasional;
(Pasal 8)
& Pasal 7 2. Menduduki jabatan
pemerintahan. • Melaksanakan
kebijakan yang
ditetapkan oleh
pimpinan instansi
1. Diangkat dengan pemerintah (Pasal 9 )

PPPK perjanjian kerja sesuai • Harus bebas dari


kebutuhan instansi dan pengaruh/intervensi
Pasal 1 butir 4
ketentuan UU. semua golongan &
& Pasal 7
2. Melaksanakan tugas partai politik (Pasal 9)
pemerintahan.
PRINSIP DASAR UU ASN
Memberlakukan “SISTEM MERIT ”
melalui:
• Seleksi dan promosi secara adil dan Sistem Merit adalah
kompetitif kebijakan dan
Manajemen ASN
• Menerapkan prinsip fairness yang berdasarkan
• Penggajian, reward and punishment berbasis pada kualifikasi,
kompetensi, dan
kinerja kinerja secara adil
• Standar integritas dan perilaku untuk dan wajar dengan
kepentingan publik tanpa membedakan
latar belakang politik,
• Manajemen SDM secara efektif dan efisien ras, warna kulit,
agama, asal usul,
• Melindungi pegawai dari intervensi politik
jenis kelamin, status
dan dari tindakan semena-mena. pernikahan, umur,
ataupun kondisi
kecacatan.
Fungsi:
1. pelaksana kebijakan publik;
2. pelayan publik; dan
3. perekat dan pemersatu bangsa
Tugas : Peran Pegawai ASN:
a. melaksanakan kebijakan publik yang Sebagai perencana, pelaksana,
dibuat oleh Pejabat Pembina dan pengawas penyelenggaraan
Kepegawaian sesuai dengan tugas umum pemerintahan dan
ketentuan peraturan perundang- pembangunan nasional melalui
undangan; pelaksanaan kebijakan dan
b. memberikan pelayanan publik yang pelayanan publik yang profesional,
profesional dan berkualitas; dan bebas dari intervensi politik, serta
c. mempererat persatuan dan kesatuan bersih dari praktik korupsi, kolusi,
Negara Kesatuan Republik dan nepotisme
Indonesia.
(Pasal 10,11,12)
HAK DAN KEWAJIBAN
1. PNS berhak memperoleh:
a. gaji, tunjangan, dan fasilitas;
b. cuti;
c. Jaminan pensiun dan jaminan hari tua;
d. perlindungan; dan
e. pengembangan kompetensi.
(Pasal 21 UU ASN)
Pemerintah juga wajib memberikan perlindungan berupa:
1. jaminan kesehatan;
2. jaminan kecelakaan kerja;
3. jaminan kematian; dan
4. bantuan hukum.
(Pasal 92 UU ASN)
2. PPPK berhak memperoleh:
a. gaji dan tunjangan;
b. cuti;
c. perlindungan; dan
d. pengembangan kompetensi
(Pasal 22 UU ASN)
KEWAJIBAN PEGAWAI ASN
Pegawai ASN wajib:
1. setia dan taat pada Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, NKRI, dan pemerintah yang sah;
2. menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;
3. melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang
berwenang;
4. menaati ketentuan peraturan perundang-undangan;
5. melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian,
kejujuran, kesadaran, dan tanggung jawab;
6. menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku,
ucapan dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di
luar kedinasan;
7. menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan
rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan 39
8. bersedia ditempatkan di seluruh wilayah NKRI.
(Pasal 23 UU ASN)
MANAJEMEN ASN

Pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN


yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi,
bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik
korupsi, kolusi, dan nepotisme.

(Pasal 1 UU No.5 Tahun 2014)


MANAJEMEN ASN
Manajemen PNS meliputi: Manajemen PPPK meliputi:
a. penyusunan dan penetapan a. penetapan kebutuhan;
kebutuhan; b. pengadaan;
b. pengadaan; c. penilaian kinerja;
c. pangkat dan jabatan; d. penggajian dan tunjangan;
d. pengembangan karier; e. pengembangan kompetensi;
e. pola karier; f. pemberian penghargaan;
f. promosi; g. disiplin;
g. mutasi; h. pemutusan hubungan
h. Penilaian kinerja perjanjian kerja; dan
i. penggajian dan tunjangan; i. perlindungan.
j. penghargaan;
k. disiplin;
l. pemberhentian;
m. pensiun dan tabungan hari tua;
dan
n. perlindungan.
KELEMBAGAAN DALAM KEBIJAKAN DAN
MANAGEMEN ASN
Presiden merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam kebijakan,
pembinaan profesi, dan Manajemen ASN, mendelegasikan sebagian
kekuasaannya kepada:
 KemPAN merumuskan kebijakan
 LAN melaksanakan diklat dan kajian
 BKN mengelola pegawai ASN
 KASN menjamin perwujudan sistem merit

PRESIDEN

KEMENPAN-RB
KASN

LAN BKN NON-STRUKTURAL INDEPENDEN


KOMISI APARATUR SIPIL NEGARA
Mewujudkan:
Unsur pemerintah dan/atau non-  Sistem Merit
pemerintah, yang terdiri:  ASN yg profesional
 1 orang Ketua merangkap  Pemerintahan yg efektif, efisien,
anggota. terbuka, & bebas KKN;
 1 orang Wakil Ketua  ASN yg netral;
merangkap anggota  Profesi ASN yg dihormati;
 5 orang anggota  ASN dinamis &
berbudaya.

Tugas: menjaga netralitas;


 Mengawasi proses
melakukan pengawasan
pengisian JPT;
atas pembinaan profesi;
 Penerapan asas, nilai
dan melaporkan hasilnya
dasar, serta kode etik dan kode
kepada Presiden
perilaku (mengawasi dan
mengevaluasi serta meminta Fungsi: mengawasi norma dasar,
informasi, memeriksa dan kode etik dan kode perilaku ASN,
klarifikasi laporan pelanggaran) serta penerapan Sistem Merit
TINDAK LANJUT HASIL KEPUTUSAN KASN
HASIL PENGAWASAN SANKSI SEBAGAIMANA
KASN DIMAKSUD BERUPA:
a. peringatan;
b. teguran;
c. perbaikan, pencabutan,
TIDAK ADA ADA pembatalan, penerbitan
PELANGGARAN PELANGGARAN keputusan, dan/atau
pengembalian
pembayaran;
Keputusan KASN: d. hukuman disiplin untuk
pelanggaran kode etik dan kode PyB sesuai dengan
perilaku Pegawai ASN ketentuan peraturan
perundang-undangan; dan
e. sanksi untuk PPK, sesuai
TIDAK
DITINDAK dengan ketentuan
DITINDAK
LANJUTI PPK peraturan perundang-
LANJUTI PPK
dan PyB undangan.
dan PyB

KASN merekomendasikan kepada Presiden untuk


menjatuhkan SANKSI TERHADAP PPK DAN PyB
yang melanggar prinsip Sistem Merit dan
ketentuan peraturan perundang-undangan
MANAJEMEN ASN
Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK)
Presiden selaku pemegang kekuasaan tertinggi pembinaan ASN dapat
mendelegasikan kewenangan MENETAPKAN pengangkatan, pemindahan, dan
pemberhentian pejabat selain pejabat pimpinan tinggi utama dan madya, dan
pejabat fungsional keahlian utama kepada:
• Menteri di kementerian;
• Pimpinan lembaga di LPNK;
• sekretaris jenderal di sekretariat lembaga negara dan LNS;
• gubernur, di provinsi; dan
• bupati/walikota, di kabupaten/kota.

Pejabat yang Berwenang (PyB)


Presiden dapat mendelegasikan kewenangan PEMBINAAN Manajemen ASN
kepada Pejabat yang Berwenang di kementerian, sekretaris
jenderal/sekretariat lembaga negara, sekretariat lembaga nonstruktural,
sekretaris daerah provinsi dan kabupaten/kota.
PENYUSUNAN DAN PENETAPAN KEBUTUHAN
1. Setiap Instansi Pemerintah wajib menyusun
kebutuhan jumlah dan jenis jabatan PNS
berdasarkan analisis jabatan dan analisis beban
kerja.
2. Penyusunan kebutuhan jumlah dan jenis jabatan PNS
dilakukan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yang
diperinci per 1 (satu) tahun berdasarkan prioritas
kebutuhan.
3. Berdasarkan penyusunan kebutuhan, Menteri
menetapkan kebutuhan jumlah dan jenis jabatan
PNS secara nasional.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan
dan penetapan kebutuhan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 56 diatur dengan Peraturan Pemerintah. 49

(Pasal 56 dan 57 UU ASN)


Formasi Pegawai Negeri Sipil
PP 97 Tahun 2000 jo PP 54 Tahun 2003
Jumlah dan susunan pangkat PNS yang
diperlukan dalam suatu satuan organisasi negara
untuk mampu melaksanakan tugas pokok dalam
jangka waktu tertentu

50
FORMASI DISUSUN BERDASARKAN :

1. Analisis kebutuhan (dilakukan berdasarkan analisis


terhadap) :

a. Jenis pekerjaan.
b. Sifat pekerjaan.
c. Analisis beban kerja dan perkiraan kapasitas
seorang PNS dalam jangka waktu tertentu.
d. Prinsip pelaksanaan pekerjaan.
e. Peralatan yang tersedia.
2. Uraian Jabatan
Uraian jabatan adalah uraian tentang hasil analisis jabatan
yang berisi tentang nama jabatan, kode jabatan, unit
organisasi, ikhtisar jabatan, uraian tugas, bahan kerja,
perangkat kerja, hasil kerja, tanggung jawab, wewenang,
nama jabatan yang berada di bawahnya, koreksi jabatan,
kondisi lingkungan kerja, resiko bahaya, syarat jabatan, dan
informasi jabatan lainnya.
3. Peta Jabatan
Peta jabatan adalah susunan nama dan tingkat jabatan
struktural dan fungsional yang tergambar dalam suatu
struktur organisasi dari tingkat yang paling rendah sampai
dengan yang paling tinggi.
52
PENGADAAN PNS
1. Pengadaan PNS merupakan kegiatan untuk mengisi
kebutuhan Jabatan Administrasi dan/atau Jabatan
Fungsional dalam suatu Instansi Pemerintah.
2. Pengadaan PNS di Instansi Pemerintah dilakukan berdasarkan
penetapan kebutuhan yang ditetapkan oleh Menteri.
3. Pengadaan PNS dilakukan melalui tahapan perencanaan,
pengumuman lowongan, pelamaran, seleksi,
pengumuman hasil seleksi, masa percobaan, dan
pengangkatan menjadi PNS.
4. Peserta yang lolos seleksi diangkat menjadi calon PNS.
5. Pengangkatan calon PNS ditetapkan dengan keputusan
Pejabat Pembina Kepegawaian.
6. Calon PNS wajib menjalani masa percobaan.

(Pasal 58,63 UU ASN)


7. Masa percobaan dilaksanakan melalui proses pendidikan dan
pelatihan terintegrasi untuk membangun integritas moral, kejujuran,
semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter
kepribadian yang unggul dan bertanggung jawab, dan memperkuat
profesionalisme serta kompetensi bidang.
8. Masa percobaan bagi calon PNS dilaksanakan selama 1 (satu) tahun.
9. Instansi Pemerintah wajib memberikan pendidikan dan pelatihan
kepada calon PNS selama masa percobaan.
10. Calon PNS yang diangkat menjadi PNS harus memenuhi persyaratan:
a. lulus pendidikan dan pelatihan; dan
b. sehat jasmani dan rohani
11. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengadaan PNS diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

(Pasal 63,64,65,67 UU ASN)


54
Pengadaan Pegawai Negeri Sipil
Kegiatan untuk mengisi formasi yang lowong.
(PP No. 98 Tahun 2000 Jo PP No. 11 Tahun 2002)

PERENCANAAN

PENGUMUMAN

PELAMARAN

PENYARINGAN

PENGANGKATAN CPNS

PENGANGKATAN PNS
•Pember-
Penetapan kasan
Lowongan Usul
Formasi Pene
a. Jumlah tapan
b. Jenis Seleksi
NIP
c. jabatan syarat-
d. Kualifikasi syarat
pendidikan
Pelamar Pelamar
yang yang
lulus BKN
lulus
Penerimaan Seleksi dan menetap
di
CPNS diterima kan NIP
rangking

Test
Pencari Kompetensi
Kerja - Tertulis SK
(WNI) - Wawancara CPNS
- Psikotest oleh
PPK
Syarat untuk Pelamar :

1. Warga Negara Indonesia.


2. Usia minimal 18 tahun dan maksimal 35 tahun.
Dapat melebihi usia 35 tahun berdasarkan kebutuhan
khusus dan dilaksanakan secara selektif, khususnya
bagi mereka yg telah mengabdi kepada instansi yg
menunjang kegiatan nasional sekurang-kurangnya 5
tahun.
3. Tidak pernah dihukum penjara dan kurungan
berdasarkan keputusan pengadilan yg sudah
mempunyai kekuatan hukum yg tetap, karena
melakukan suatu tindak pidana kejahatan.
4. Tidak pernah diberhentikan dgn hormat tidak atas
permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai
PNS, atau diberhentikan tidak dengan hormat sbg pegawai
swasta.
5. Tidak berkedudukan sebagai Calon/Pegawai Negeri.
6. Mempunyai pendidikan, kecakapan, keahlian dan
keterampilan yang diperlukan.
7. Berkelakuan baik.
8. Sehat jasmani dan rohani.
9. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Republik
Indonesia atau negara lain yg ditentukan oleh Pemerintah,
dan
10. Syarat lain yg ditentukan dalam persyaratan jabatan.
SISTEM PENEMPATAN
Pegawai Baru

Keputusan Kepala BKN No. 11 Tahun 2002 tentang Ketentuan


Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 98 Tahun 2000 jo PP No. 11
Tahun 2002 ttg Pengadaan PNS

Formulir Penetapan NIP CPNS/PNS Pusat/Daerah, dimana di dalamnya


dicantumkan tentang jabatan dan Unit Kerja CPNS yang bersangkutan

Sehingga CPNS yang bersangkutan sudah memahami apa jabatan dan


pekerjaan serta di unit mana yang bersangkutan akan melaksanakan
tugasnya.
PENGANGKATAN MENJADI CALON PNS

• Pelamar yg dinyatakan lulus dan telah diberikan


NIP diangkat sebagai CPNS oleh PPK.
• Golongan Ruang yg ditetapkan untuk CPNS
adalah sesuai dgn pendidikan/ijasah yg dimiliki.
• Hak atas gaji bagi CPNS mulai berlaku pada
tanggal CPNS secara nyata melaksanakan
tugasnya.
GOLONGAN RUANG YANG DITETAPKAN UNTUK PENGANGKATAN
: SEBAGAI CPNS
a. Golongan ruang I/a untuk yang memiliki STTB Sekolah Dasar atau
setingkat;
b. Golongan ruang I/c untuk yang memiliki STTB SLTP atau setingkat;
c. Golongan ruang II/a untuk yang memiliki STTB SLTA atau setingkat;
d. Golongan ruang II/b untuk yang memiliki STTB Sekolah Guru
Pendidikan Luar Biasa atau Diploma III;
e. Golongan ruang II/c untuk yang memiliki ijazah Sarjana Muda,
Akademi, atau Diploma;
f. Golongan ruang III/a untuk yang memiliki ijazah Sarjana, atau
Diploma IV;
g. Golongan ruang III/b untuk yang memiliki ijazah Dokter, Apoteker,
dan ijazah lainnya yang setara, Magister (S2), atau ijazah Spesialis I;
dan
h. Golongan ruang III/c untuk yang memiliki ijazah Doktor (S3), atau 61
ijazah Spesialis II.
PENGANGKATAN CPNS MENJADI PNS

CPNS yg telah menjalankan masa percobaan minimal 1


tahun dan maksimal 2 tahun diangkat menjadi PNS oleh
PPK dlm jabatan dan pangkat tertentu apabila :

1. Setiap unsur DP-3 minimal bernilai baik.


2. Memenuhi syarat kesehatan jasmani dan rohani
untuk diangkat menjadi PNS.
3. Lulus Diklat Pra Jabatan.

Catatan : Tanggal mulai berlakunya keputusan


pengangkatan menjadi PNS tidak boleh berlaku surut
PENILAIAN KINERJA PNS
1. Penilaian kinerja PNS bertujuan untuk menjamin objektivitas pembinaan
PNS yang didasarkan sistem prestasi dan sistem karir.
2. Penilaian kinerja PNS dilakukan berdasarkan perencanaan kinerja pada
tingkat individu dan tingkat unit atau organisasi, dengan memperhatikan
target, capaian, hasil, dan manfaat yang dicapai, serta perilaku PNS.
3. Penilaian kinerja PNS dilakukan secara objektif, terukur, akuntabel,
partisipatif, dan transparan.
4. Penilaian kinerja PNS berada di bawah kewenangan Pejabat yang
Berwenang pada Instansi Pemerintah masing-masing.
5. Penilaian kinerja PNS didelegasikan secara berjenjang kepada atasan
langsung dari PNS.
6. Penilaian kinerja PNS dapat mempertimbangkan pendapat rekan kerja
setingkat dan bawahannya.
7. Hasil penilaian kinerja PNS disampaikan kepada tim penilai kinerja PNS.
8. Hasil penilaian kinerja PNS digunakan untuk menjamin objektivitas
dalam pengembangan PNS, dan dijadikan sebagai persyaratan dalam
pengangkatan jabatan dan kenaikan pangkat, pemberian tunjangan dan
sanksi, mutasi, dan promosi, serta untuk mengikuti diklat.
9. PNS yang penilaian kinerjanya tidak mencapai target kinerja dikenakan
(Pasal 75,76,77)
sanksi administrasi sampai dengan pemberhentian
PENILAIAN KINERJA PNS
(Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011)
 Penilaian prestasi kerja PNS adalah suatu proses penilaian secara
sistematis yang dilakukan oleh pejabat penilai terhadap sasaran
kerja pegawai dan perilaku kerja PNS.
 Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh setiap PNS pada
satuan organisasi sesuai dengan sasaran kerja pegawai dan perilaku
kerja.
 Penilaian prestasi kerja PNS terdiri atas unsur: SKP dan perilaku
kerja.
 Sasaran Kerja Pegawai (SKP) adalah rencana kerja dan target yang
akan dicapai oleh seorang PNS.
 Perilaku kerja adalah setiap tingkah laku, sikap atau tindakan yang
dilakukan oleh PNS atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 64
 Setiap PNS wajib menyusun SKP berdasarkan rencana kerja tahunan
instansi.
PENILAIAN KINERJA PNS
(Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011)
 PNS yang tidak menyusun SKP dijatuhi hukuman disiplin sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai disiplin
PNS.
 Penilaian SKP meliputi aspek kuantitas; kualitas; waktu; dan biaya.
 Penilaian SKP paling sedikit meliputi aspek kuantitas, kualitas, dan waktu, sesuai
dengan karakteristik, sifat, dan jenis kegiatan pada masing-masing unit kerja.
 Penilaian perilaku kerja meliputi aspek orientasi pelayanan; integritas;
komitmen; disiplin; kerja sama; dan kepemimpinan (penilaian kepemimpinan
hanya dilakukan bagi PNS yang menduduki jabatan struktural).
 Penilaian prestasi kerja terdiri dari :
 Nilai unsur SKP = 60% dan
 Nilai perilaku kerja = 40%
 Penilaian prestasi kerja PNS dilaksanakan oleh pejabat penilai sekali dalam 1
(satu) tahun, dan dilakukan setiap akhir Desember pada tahun yang
bersangkutan dan paling lama akhir Januari tahun berikutnya.
 Nilai prestasi kerja PNS dinyatakan dengan angka dan sebutan :
1. 91 – ke atas = sangat baik
2. 76 – 90 = baik
3. 61 – 75 = cukup 65
4. 51 – 60 =kurang
5. 50 ke bawah = buruk
Penilaian Kinerja Pegawai Negeri sipil

PP No. 10 Tahun 1979 tentang Daftar Pelaksanaan Pekerjaan PNS


Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP-3) memuat
hasil penilaian pelaksanaan pekerjaan PNS dalam
jangka waktu 1 tahun dan merupakan bahan
pertimbangan yang obyektif dalam pembinaan karier
PNS
DP-3 dibuat oleh Pejabat Unsur-unsur yang dinilai :
Penilai dan ditandatangani 1. Kesetiaan;
oleh 3 pihak, yaitu : 2. Prestasi Kerja;
Pegawai yang dinilai 3. Tanggung Jawab;
Pejabat Penilai 4. Ketaatan;
Atasan Pejabat Penilai 5. Kejujuran;
6. Kerjasama;
7. Prakarsa; dan
8. Kepemimpinan
PEMBERHENTIAN CALON PNS
 Diberhentikan dengan hormat karena :
1. Mengajukan permohonan berhenti.
2. Tidak memenuhi syarat kesehatan.
3. Tidak lulus diklat pra jabatan.
4. Menunjukan sikap dan budi pekerti yg tdk baik yg
dpt mengganggu lingkungan pekerjaan.
5. Satu bulan setelah diterimanya SK CPNS tidak
melapor dan melaksanakan tugas.
 Diberhentikan tidak dengan hormat karena :
1. Pada waktu melamar dengan sengaja memberikan
keterangan atau bukti yg tidak benar.
2. Dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusan
pengadilan yg sdh mempunyai kekuatan hukum yg tetap
karena dengan sengaja melakukan sesuatu tindak pidana
kejahatan atau melakukan sesuatu tindak pidana
kejahatan yg ada hubungannya dgn jabatan/tugasnya.
3. Menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik tanpa
mengajukan surat permohonan berhenti secara tertulis
kepada PPK.

 Diberhentikan dengan hormat atau tidak dengan


hormat karena :
 Dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau berat
PANGKAT DAN JABATAN
1. PNS diangkat dalam pangkat dan jabatan tertentu pada Instansi
Pemerintah.
2. Pengangkatan PNS dalam jabatan tertentu ditentukan berdasarkan
perbandingan objektif antara kompetensi, kualifikasi, dan persyaratan
yang dibutuhkan oleh jabatan dengan kompetensi, kualifikasi, dan
persyaratan yang dimiliki oleh pegawai.
3. Setiap jabatan tertentu dikelompokkan dalam klasifikasi jabatan PNS yang
menunjukkan kesamaan karakteristik, mekanisme, dan pola kerja.
4. PNS dapat berpindah antar dan antara Jabatan Pimpinan Tinggi, Jabatan
Administrasi, dan Jabatan Fungsional di Instansi Pusat dan Instansi Daerah
berdasarkan kualifikasi, kompetensi, dan penilaian kinerja.
5. PNS dapat diangkat dalam jabatan tertentu pada lingkungan instansi
TNI dan POLRI.
6. PNS yang diangkat dalam jabatan tertentu pada lingkungan instansi TNI
dan POLRI, pangkat atau jabatan disesuaikan dengan pangkat dan
jabatan di lingkungan instansi TNI dan POLRI.
70
(Pasal 68)
JABATAN ASN
JABATAN ADMINISTRASI JABATAN FUNGSIONAL JABATAN PIMPINAN TINGGI

• Jabatan Administrator • Jabatan fungsional keahlian, • JPT utama;


memimpin pelaksanaan terdiri atas: • JPT madya; dan
seluruh kegiatan pelayanan a. ahli utama; • JPT pratama.
publik serta administrasi b. ahli madya;
pemerintahan dan c. ahli muda; dan Berfungsi memimpin dan
pembangunan. d. ahli pertama. memotivasi setiap Pegawai ASN
melalui:
• Jabatan Pengawas
• Jabatan fungsional • kepeloporan
mengendalikan pelaksanaan
keterampilan, terdiri atas: • pengembangan kerja sama;
kegiatan yang dilakukan
a. penyelia; dan
oleh
b. mahir; • keteladanan.
Pejabat pelaksana
c. terampil; dan
• Jabatan Pelaksana d. pemula.
melaksanakan kegiatan
pelayanan dan administrasi
pemerintahan dan (Pasal 13, 14,15,18,19,20 UU ASN )
pembangunan 71
1. Jabatan ASN diisi dari Pegawai ASN.
2. Jabatan ASN tertentu dapat diisi dari prajurit TNI dan anggota Polri
KETENTUAN PERALIHAN
PENYETARAAN JABATAN
UNDANG-UNDANG UNDANG UNDANG
APARATUR SIPIL NEGARA POKOK KEPEGAWAIAN
 Jabatan eselon Ia
Jabatan Pimpinan Tinggi Utama  Kepala lembaga pemerintah
non kementerian

Jabatan Pimpinan Tinggi Madya Jabatan eselon Ia dan eselon Ib

Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Jabatan eselon II

Jabatan Administrator Jabatan eselon III

Jabatan Pengawas Jabatan eselon IV

Jabatan eselon V dan fungsional


Jabatan Pelaksana
umum
JENJANG PANGKAT JABATAN STRUKTURAL PNS

TERENDAH TERTINGGI
NO ESELON
PANGKAT GOL/ PANGKAT GOL/
RUANG RUANG
1. Ia Pembina Utama Madya IV/d Pembina Utama IV/e

2. Ib Pembina Utama Muda IV/c Pembina Utama IV/e

3. IIa Pembina Utama Muda IV/c Pembina Utama Madya IV/d

4. IIb Pembina Tingkat I IV/b Pembina Utama Muda IV/c

5. IIIa Pembina IV/a Pembina Tingkat I IV/b

6. IIIb Penata Tingkat I III/d Pembina IV/a

7. IVa Penata III/c Penata Tingkat I III/d

8. IVb Penata Muda Tingkat I III/b Penata III/c

9. Va Penata Muda III/a Penata Muda Tingkat I III/b


PENGGAJIAN DAN TUNJANGAN
1. Pemerintah wajib membayar gaji yang adil dan layak kepada PNS
serta menjamin kesejahteraan PNS.
2. Gaji dibayarkan sesuai dengan beban kerja, tanggungjawab, dan
resiko pekerjaan.
3. Gaji PNS yang bekerja pada pemerintah pusat dibebankan pada APBN.
4. Gaji PNS yang bekerja pada pemerintah daerah dibebankan pada
APBD.
5. Selain gaji, PNS juga menerima tunjangan dan fasilitas.
6. Tunjangan meliputi tunjangan kinerja dan tunjangan kemahalan.
7. Tunjangan kinerja dibayarkan sesuai pencapaian kinerja.
8. Tunjangan kemahalan dibayarkan sesuai dengan tingkat kemahalan
berdasarkan indeks harga yang berlaku di daerah masing-masing.
9. Tunjangan PNS yang bekerja pada pemerintah pusat dibebankan pada
APBN.
10. Tunjangan PNS yang bekerja pada pemerintahan daerah dibebankan 74
pada APBD.
(Pasal 79,80 UU Nomor 5 Tahun 2014)
SISTEM PENGGAJIAN PNS
(PP Nomor 11 Tahun 2003)
Sistem Skala Tunggal Sistem Skala Ganda
(Mono Scale System) (Multy Scale System)

Sistem penggajian yang Sistem penggajian yang


memberikan gaji yang sama menentukan besarnya gaji,
kepada pegawai yang bukan saja didasarkan pada
berpangkat sama dengan tidak pangkat tetapi juga didasarkan
atau kurang memperhatikan pada sifat pekerjaan yang
sifat pekerjaan yang dilakukan dilakukan, prestasi kerja yang
dan beratnya tanggung jawab dicapai, dan beratnya
yang dipikul dalam tanggung jawab yang dipikul
melaksanakan pekerjaan itu dalam melaksanakan
pekerjaan itu.
Gaji : Balas jasa atau penghargaan
atas hasil kerja seorang pegawai

Sistem Skala Tunggal :


Memberikan gaji sama kepada pegawai yang berpangkat
Sistem sama dengan tidak atau kurang memperhatikan sifat dan
beratnya tanggung jawab dari pekerjaan yang dilakukan
Penggajian
PNS,
perpaduan Sistem Skala Ganda :
antara Menentukan besarnya gaji, bukan saja didasarkan pada
pangkat tapi juga didasarkan pada sifat pekerjaan, prestasi
kerja dan beratnya tanggung jawab yang dipikul

Sistem Gabungan:
Gaji pokok ditentukan sama bagi PNS yang berpangkat
sama, tetapi diberikan tunjangan kepada yang memikul
tanggung jawab yang besar, berprestasi tinggi atau yang
melakukan pekerjaaan tertentu.
Bagi PNS yang menduduki
Tunjangan Jabatan jabatan struktural atau
fungsional

Tunjangan Tunjangan Keluarga Bagi PNS yang sudah


berkeluarga

1) 10 kg beras untuk 1 orang,


max. 4 orang (Saat ini diganti
Tunjangan Pangan dalam bentuk uang)
2) Uang Makan
Matriks Jenjang Pangkat dan Golongan Ruang
Penggajian PNS
NO PANGKAT GOLONGAN RUANG
1 Juru Muda I a
2 Juru Muda Tk. I I b
3 Juru I c
4 Juru Tk. I I d
5 Pengatur Muda II a
6 Pengatur Muda II b
Tk. I
7 Pengatur II c
8 Pengatur Tk. I II d
78
9 Penata Muda III a
Matriks Jenjang Pangkat dan Golongan Ruang
Penggajian PNS
NO PANGKAT GOLONGAN RUANG

10 Penata Muda Tk. I III b

11 Penata III c

12 Penata Tk. I III d

13 Pembina IV a

14 Pembina Tk. I IV b

15 Pembina Utama IV c
Muda
16 Pembina Utama IV d
Madya
79
17 Pembina Utama IV e
Kedudukan yg menunjukkan tingkat seseorang PNS
berdasarkan jabatannya dlm rangkaian susunan
Kepegawaian dan digunakan sbg dasar penggajian
(Penjelasan Ps 17 ayat (1) UU No. 8 Tahun 1974 jo. UU No. 43 Tahun
1999)

Penghargaan yg diberikan atas prestasi kerja dan


pengabdian PNS ybs terhadap Negara, selain itu juga
dimaksudkan sbg dorongan kepada PNS utk lebih
meningkatkan prestasi kerja dan pengabdiannya
(Penjelasan Umum PP No. 99 Tahun 2000
jo. PP No. 12 Tahun 2002)
KENAIKAN PANGKAT PNS
Kenaikan Pangkat dilaksanakan berdasarkan sistem
kenaikan pangkat reguler dan pilihan
1. Kenaikan Pangkat Reguler

Penghargaan yg diberikan kepada PNS yg telah


memenuhi syarat yg ditentukan tanpa terikat pada
jabatan
Catatan : diberikan sepanjang tidak melampaui
pangkat atasan langsungnya.
2. Kenaikan Pangkat Pilihan

Kepercayaan dan penghargaan yg diberikan kepada


PNS atas prestasi kerjanya yg tinggi.
3. Kenaikan Pangkat Anumerta
Kenaikan Pangkat setingkat lebih tinggi yang diberikan
kepada PNS yang dinyatakan tewas,yaitu PNS yang
meninggal dunia dalam dan karena menjalankan tugas
kewajibannya.
4. Kenaikan Pangkat Pengabdian

Kenaikan Pangkat setingkat lebih tinggi yang diberikan


kepada PNS yang akan diberhentikan dengan hormat
dengan hak pensiun karena mencapai BUP.

Catatan : PNS yang berpangkat lebih rendah tidak boleh


membawahi PNS yang berpangkat lebih tinggi,
kecuali membawahi PNS yang menduduki
jabatan fungsional tertentu.
PENGEMBANGAN KARIER
1. Pengembangan karier PNS dilakukan berdasarkan kualifikasi,
kompetensi, penilaian kinerja, dan kebutuhan Instansi
Pemerintah.
2. Pengembangan karier PNS dilakukan dengan mempertimbangkan
integritas dan moralitas.
3. Kompetensi meliputi:
a. kompetensi teknis yang diukur dari tingkat dan spesialisasi
diklat teknis fungsional, dan pengalaman bekerja secara
teknis;
b. kompetensi manajerial yang diukur dari tingkat diklat
struktural atau manajemen, dan pengalaman kepemimpinan;
c. kompetensi sosial kultural yang diukur dari pengalaman kerja
berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama,
suku, dan budaya sehingga memiliki wawasan kebangsaan.
4. Integritas diukur dari kejujuran, kepatuhan terhadap ketentuan
peraturan perundang-undangan, kemampuan bekerja sama, dan 93
pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara.
(Pasal 69)
5. Moralitas diukur dari penerapan dan pengamalan nilai etika
agama, budaya, dan sosial kemasyarakatan.
6. Setiap Pegawai ASN memiliki hak dan kesempatan untuk
mengembangkan kompetensi.
7. Pengembangan kompetensi antara lain melalui diklat,
seminar, kursus, dan penataran.
8. Pengembangan kompetensi harus dievaluasi oleh Pejabat
yang Berwenang dan digunakan sebagai salah satu dasar
dalam pengangkatan jabatan dan pengembangan karier.
9. Pengembangan kompetensi setiap Instansi Pemerintah wajib
menyusun rencana pengembangan kompetensi tahunan
yang tertuang dalam rencana kerja anggaran tahunan
instansi masing-masing.
10. Dalam pengembangan kompetensi, PNS diberikan
kesempatan untuk melakukan praktik kerja di instansi lain di
pusat dan daerah dalam waktu paling lama 1 (satu) tahun
dan pelaksanaannya dikoordinasikan oleh LAN dan BKN.
11. Pengembangan kompetensi dapat dilakukan melalui pertukaran
antara PNS dengan pegawai swasta dalam waktu paling lama 1
(satu) tahun dan pelaksanaannya dikoordinasikan oleh LAN dan BKN 94
(Pasal 70)
SISTEM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PNS

Pasal 31 UU No. 43 tahun 1999 tentang perubahan atas


UU No. 8 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian.

Untuk mencapai daya guna dan hasil guna yg sebesar-


besarnya diadakan pengaturan dan penyelenggaraan
pendidikan dan pelatihan jabatan PNS yg bertujuan
untuk meningkatkan pengabdian, mutu, keahlian,
kemampuan dan keterampilan PNS

95
PP No. 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS
Pada intinya Diklat Jabatan di bagi 2, yaitu :

Diklat Prajabatan
Pendidikan dan Pelatihan yg diberikan kepada CPNS
agar dapat terampil dalam melaksanakan tugas

Diklat dalam Jabatan


Pendidikan dan Pelatihan yg bertujuan utk
mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap
agar dapat melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dan
pembangunan secara produktif
JENIS DAN JENJANG DIKLAT PNS

DIKLAT PRAJABATAN DIKLAT DALAM JABATAN

Diklat Prajabatan Gol. I Diklatpim

Diklat Prajabatan Gol. II Diklat Fungsional

Diklat Prajabatan Gol. III Diklat Teknis

97
DISIPLIN PNS
Pasal 86 UU ASN :
 Untuk menjamin terpeliharanya tata tertib dalam kelancaran pelaksanaan
tugas, PNS wajib mematuhi disiplin PNS.
 Instansi Pemerintah wajib melaksanakan penegakan disiplin terhadap
PNS serta melaksanakan berbagai upaya peningkatan disiplin.
 PNS yang melakukan pelanggaran disiplin dijatuhi hukuman disiplin.

PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Peraturan Disiplin PNS :


 Peraturan disiplin adalah peraturan yang mengatur kewajiban,
larangan, dan sanksi apabila kewajiban tidak ditaati atau
larangan dilanggar oleh seorang PNS.
 Disiplin PNS adalah kesanggupan PNS untuk menaati kewajiban dan
menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-
undangan dan/atau peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau
dilanggar dijatuhi hukuman disiplin.
 Pelanggaran disiplin adalah setiap ucapan, tulisan, atau perbuatan PNS yang
tidak menaati kewajiban dan/atau melanggar larangan ketentuan disiplin
98
PNS, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja.
 Hukuman disiplin adalah hukuman yang dijatuhkan kepada PNS karena
melanggar peraturan disiplin PNS.
PERATURAN DISIPLIN PNS :
PP-RI Nomor 53 Tahun 2010 tentang
Disiplin PNS menjelaskan bahwa Setiap
PNS wajib :
• Pasal 3 butir 4 :”Menaati segala
ketentuan peraturan perundang
undangan”.
• Pasal 3 butir 5 :”Melaksanakan tugas
kedinasan yang dipercayakan kepada
PNS dengan penuh pengabdian,
kesadaran dan tanggung jawab”;
• Pasal 3 butir 11 :”Masuk kerja
dan menaati ketentuan jam
kerja”.
• CATATAN : KEWAJIBAN PNS ADA 17
BUTIR DAN LARANGAN ADA 15 BUTIR
PP NO 53 TAHUN 2010 TENTANG : DISIPLIN PNS
PNS Wajib :
1. Mengucapkan sumpah/janji PNS
2. Mengucapkan sumpah/janji jabatan
3. Setia dan taat sepenuhnya kpd Pancasila, UUD RI Tahun
1945, NKRI dan Pancasila
4. Mentaati segala ketentuan peraturan per-UU-an
5. Melaksanakan tugas kedinasan yg dipercayakan kpd PNS
dgn penuh pengabdian, kesadaran, dan tggng jawab
6. Menjunjung tinggi kehormatan negara, Pemerintah, dan
martabat PNS
7. Mengutamakan kepentingan negara daripada
kepentingan sendiri, seseorang, dan /atau golongan

100
8. Memegang rahasia jabatan yg menurut sifatnya atau menurut
perintah hrs dirahasiakan
9. Bekerja dgn jujur, tertib, cermat dan bersemangat utk
kepentingan negara
10. Melaporkan dgn segera kpd atasanya apabila mengetahui ada
hal yg dpt membahayakan atau merugikan Negara atau
Pemerintah terutama di bid. keamanan, keuangan, dan materiil.
11. Masuk kerja dan mentaati ketentuan jam kerja
12. Mencapai sasaran kerja pegawai yg ditetapkan
13. Menggunakan dan memelihara barang-2 milik negara dgn se-
baik2nya
14. Memberikan pelayanan dgn se-baik2nya kepada masyarakat
15. Membimbing bawahan dlm melaksanakan tugas
16. Memberikan kesempatan kpd bawahan utk mengembangan
karier dan
17. Mentaati peraturan kedinasan yg ditetapkan oleh Pbj yg
berwenang.
101
SETIAP PNS DILARANG

1. Menyalahgunakan wewenang.
2. Menjadi perantara utk mendapatkan keuntungan
pribadi dan/ atau orang lain dgn menggunakan
kewenangan orang lain.
3. Tanpa izin Pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja
utk negara lain dan/atau lembaga atau organisasi
internasional.
4. Bekerja pada perusahaan asing, konsultan asing,
atau lembaga swadaya masyarakat asing
5. Memiliki, menjual, membeli, menggadaikan,
menyewakan atau meminjamkan barang2, baik
bergerak atau tdk bergerak, dokumen atau surat 2
berharga milik negara secara tidak sah 102
6. Melakukan kegiatan bersama dgn atasan, teman
sejawat, bawahan, atau orang lain di dlm maupun di
luar lingkungan kerjanya dgn tujuan utk keuntungan
pribadi, golongan, atau pihak lain, yg secara langsung
atau tdk langsung merugikan Negara.
7. Memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu
kpd siapapun baik scr langsung atau tdk langsung dgn
dalih apapun utk diangkat dlm jabatan.
8. Menerima hadiah atau suatu pemberian berupa apa
saja dari siapapun juga yg berhubungan dgn jabatan
dan/atau pekerjaannya
9. Bertindak se-wenang2 thp bawahannya

103
10. Melakukan sesuatu tindakan atau tdk melakukan suatu tindakan
yg dpt mengahalangi atau mempersulit salah satu pihak yg
dilayani sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yg dilayani.
11. Mengahalangi berjalannya tugas kedinasan.
12. Memberikan dukungan kpd calon Presiden/Wakil Pres,DPR,
Dewan Perwakilan Daerah, atau DPRD dgn cara :
a. Ikut serta sbg pelaksana kampanye,
b. menjadi peserta kampanye dgn menggunakan atribut partai
atau atribut PNS
c. sbg peserta kampanye dgn mengerahkan PNS lain, dan
/atau
d. Sbg peserta kampanye dgn menggunakan fasilitas negara

104
13. Memberikan dukungan kpd calon Presiden/ Wakil
Presiden dgn cara :

a. Membuat keputusan dan /atau tindakan yg


menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan
calon selama masa kampanye dan/ atau
b. Mengadakan kegiatan yg mengarah kpd
keberpihakan thp pasangan calon yg menjadi peserta
pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa
kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan,
seruan, atau pemberian barang kepada PNS dlm
lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan
masyarakat
105
14. Memberikan dukungan kpd calon anggota DPR atau calon Kepala
Daerah/Wakil Kepala Daerah dgn cara memberikan surat dukungan
disertai fotocopy KTP atau Surat Keterangan tanda penduduk sesuai
peraturan per-UU-an, dan
15. Memberikan dukungan kpd calon Kepala Daerah/Wakil Kepala
Daerah, dgn cara
a. terlibat dlm kegiatan kampanye utk mendukung calon Kepala
Daerah/Wakil Kepala Daerah
b. menggunakan fasilitas yg terkait dgn jabatan dlm kegitan
kampanye
c. membuat keputusan dan/ atau tindakan yg menguntungkan
atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa
kampanye, dan/ atau
d. Mengadakan kegiatan yg mengarah kepada keberpihakan
terhadap pasangan calon yg menjadi peserta pemilu sebelum,
selama dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan,
ajakan, himbauan, seruan, atau pemberian barang kpd PNS dlm
lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat
106
Di samping itu PNS juga dilarang :
• Menjadi Anggota Partai Politik
• Menjadi Istri kedua, ketiga dan seterusnya bagi
PNS wanita.

107
PELANGGARAN DISIPLIN PNS ....?
• Pasal 21 ayat (1) :”Pejabat yang berwenang menghukum wajib
menjatuhkan hukuman didiplin kepada PNS yang melakukan pelanggaran
disiplin”.
• Pasal 21 ayat (2) :”Apabila Pejabat yang berwenang menghukum
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menjatuhkan hukuman
disiplin kepada PNS yang melakukan pelanggaran disiplin, pejabat
tersebut dijatuhi hukuman disiplin oleh atasannya”.
• Pasal 21 ayat (3) :”Hukuman disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
sama dengan jenis hukuman disiplin yang seharusnya dijatuhkan kepada
PNS yang melakukan pelanggaran disiplin”.
• Pasal 21 ayat (4) :”Atasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), juga
menjatuhkan hukuman disiplin terhadap PNS yang melakukan
pelanggaran disiplin”.
• Pasal 22 : “Apabila tidak terdapat pejabat yang berwenang menghukum,
maka kewenangan menjatuhkan hukuman disiplin menjadi kewenangan
pejabat yang lebih tinggi”.
TINGKAT DAN JENIS HUKUMAN DISIPLIN
(PP 53 THN 2010)
Tingkat hukuman disiplin (Pasal 7 Jenis hukuman disiplin sedang (Pasal 7 ayat
ayat 1) : 3) sbb :
• Hukuman disiplin ringan • Penundaan kenaikan gaji berkal selama 1
(satu) tahun;
• Hukuman disiplin sedang
• Penundaan kenaikan pangkat selama 1
• Hukuman disiplin berat. (satu) tahun;
Jenis hukuman disiplin ringan • Penurunan pangkat setingkat lebih
(Pasal 7 ayat 2): rendah selama 1 (satu) tahun;
• Teguran lisan; Jenis hukuman disiplin berat (Pasal 7 ayat
4) sbb :
• Teguran tertulis;
• Penurunan pangkat setingkat lebih
• Pernyataan tidak puas secara rendah selama 3 (tiga) tahun;
tertulis • Pemindahan dalam rangka penurunan
jabatan setingkat lebih rendah;
• Pembebasan dari jabatan;
• Pemberhentian dengan hormat tidak atas
permintaan sendiri sebagai PNS;
• Pemberhentian tidak dengan hormat
sebagai PNS.
PENJELASAN TENTANG PASAL 3 BUTIR 11 PP-RI NO. 53 TAHUN 2010, YAITU
“MASUK KERJA DAN MENAATI KETENTUAN JAM KERJA” YANG APA BILA
DILANGGAR SBB :

• Teguran lisan bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan
yang sah selama 5 hari kerja;
• Teguran tertulis bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa
alasan yang sah selama 6 hari sampai dengan 10 hari kerja;
• Pernyataan tidak puas secara tertulis bagi PNS yang tidak
masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 11 hari sampai
dengan 15 hari kerja;
• Penundaan kenaikan gaji berkala selama 1 tahun bagi PNS
yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 16
hari sampai dengan 20 hari kerja;
• Penundaan kenaikan pangkat selama 1 tahun bagi PNS
yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 21
hari sampai dengan 25 hari kerja;
• Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 tahun bagi PNS yang
tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 26 hari sampai dengan 30 hari
kerja;
• Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 tahun bagi PNS yang
tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 31 hari sampai dengan 35 hari
kerja;
• Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah bagi
PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 36 hari sampai
dengan 40 hari kerja;
• Pembebasan dari jabatan bagi PNS yang menduduki jabatan struktural atau
fungsional tertentu bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah
selama 41 hari sampai dengan 45 hari kerja;
• Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau
pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS bagi PNS yang tidak masuk
kerja tanpa alasan yang sah selama 46 hari kerja atau lebih.
TAMBAHAN :
• Penjelasan PP-RI Nomor 53 Tahun 2010 Pasal 3 angka 11 :
Yang dimaksud dengan kewajiban untuk “masuk kerja dan
menaati ketentuan jam kerja” adalah setiap PNS wajib
datang, melaksanakan tugas dan pulang sesuai ketentuan
jam kerja serta tidak berada di tempat umum bukan karena
dinas. Apabila berhalangan hadir wajib memberitahukan
kepada pejabat yang berwenang.
• Ketentuan masuk kerja dan/atau pulang cepat dihitung secara
kumulatif dan dikonversi 7 ½ (tujuh setengah) jam sama
dengan 1 (satu) hari tidak masuk kerja.
ORGANISASI ASN
KEDUDUKAN: Wadah Korps Profesi Pegawai ASN RI
untuk menyalurkan aspirasinya.
TUJUAN :
a. Menjaga kode etik profesi dan standar pelayanan
profesi ASN; dan
b. Mewujudkan jiwa korps ASN sebagai pemersatu
bangsa.

FUNGSI :
a. Pembinaan dan pengembangan profesi ASN;
b. Memberikan perlindungan hukum dan advokasi
terhadap dugaan pelanggaran sistem merit dan masalah
hukum dalam melaksanakan tugas;
c. Memberikan rekomendasi kepada majelis kode etik
instansi terhadap pelanggaran kode etik profesi dan
kode perilaku profesi;
d. Menyelenggarakan usaha-usaha untuk peningkatan
kesejahteraan anggota korps profesi ASN RI sesuai
dengan peraturan perudang-undangan
PANCA PRASETYA KORPRI
”Kami anggota KORPS Pegawai Republik Indonesia yang beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,” adalah Insan yang :

 Setia dan taat kepada Negara Kesatuan dan Pemerintah


Republik Indonesia, yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945;
 Menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara serta
memegang teguh rahasia jabatan dan rahasia negara;
 Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat diatas
kepentingan pribadi dan golongan;
 Bertekad memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta
kesetiakawanan KORPRI;
 Berjuang menegakkan kejujuran dan keadilan, serta
meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme
MUTASI
1. Setiap PNS dapat dimutasi tugas dan/atau lokasi dalam satu Instansi
Pusat, antar-Instansi Pusat, satu Instansi Daerah, antar-Instansi
Daerah, antar-Instansi Pusat dan Instansi Daerah, dan ke perwakilan
NKRI di luar negeri.
2. Mutasi PNS dalam satu Instansi Pusat atau Instansi Daerah dilakukan
oleh Pejabat Pembina Kepegawaian.
3. Mutasi PNS antar-kabupaten/kota dalam satu provinsi ditetapkan
oleh Gubernur setelah memperoleh pertimbangan Kepala BKN.
4. Mutasi PNS antar-kabupaten/kota, antar-provinsi, dan antar-
provinsi ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan dalam negeri setelah memperoleh pertimbangan
Kepala BKN.
5. Mutasi PNS provinsi/kabupaten/kota ke Instansi Pusat atau
sebaliknya, ditetapkan oleh Kepala BKN.
6. Mutasi PNS antar Instansi Pusat ditetapkan oleh Kepala BKN.
7. Mutasi PNS dilakukan dengan memperhatikan prinsip larangan
konflik kepentingan. 116
8. Pembiayaan sebagai dampak dilakukannya mutasi PNS dibebankan
pada APBN untuk Instansi Pusat dan APBD untuk Instansi Daerah
(Pasal 73)
PENGHARGAAN
PNS yang telah menunjukkan kesetiaan, pengabdian, kecakapan,
kejujuran, kedisiplinan, dan prestasi kerja dalam melaksanakan
tugasnya dapat diberikan penghargaan berupa :

a. tanda kehormatan;
b. kenaikan pangkat istimewa;
c. kesempatan prioritas untuk pengembangan kompetensi;
dan/atau
d. kesempatan menghadiri acara resmi dan/atau acara kenegaraan.

PNS yang dijatuhi sanksi administratif tingkat berat berupa


pemberhentian tidak dengan hormat dicabut haknya untuk
memakai tanda kehormatan negara tetapi juga harus dilihat dan
diperlakukan sebagai warga negara.
Pasal 82 UU Nomor 5 Tahun 2014
PENGHARGAAN PNS
Dapat diberikan kepada PNS apabila telah menunjukkan kesetiaan atau
berjasa terhadap negara atau telah menunjukkan prestasi kerja luar biasa
baiknya, berupa :
1. Tanda Jasa
2. Kenaikan Pangkat Istimewa
3. Penghargaan Lain

Kepres No. 25 Tahun 1994 tentang Tanda Kehormatan Satyalencana Karya


Satya
1. Satyalencana Karya Satya 10 Tahun, berwarna perunggu, diberikan
kepada PNS yg telah bekerja terus menerus sekurang-kurangnya 10
tahun .
2. Satyalencana Karya Satya 20 Tahun, berwarna perak, diberikan
kepada PNS yg telah bekerja terus menerus sekurang-kurangnya 20
tahun.
3. Satyalencana Karya Satya 30 Tahun, berwarna emas, diberikan
kepada PNS yg telah bekerja terus menerus sekurang-kurangnya 30
tahun.
PEMBERHENTIAN
1. PNS diberhentikan dengan hormat karena:
a. meninggal dunia;
b. atas permintaan sendiri;
c. mencapai batas usia pensiun;
d. perampingan organisasi atau kebijakan pemerintah yang
mengakibatkan pensiun dini; atau
e. tidak cakap jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat
menjalankan tugas dan kewajiban.
2. PNS dapat diberhentikan dengan hormat atau tidak
diberhentikan karena dihukum penjara berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap karena
melakukan tindak pidana dengan hukuman pidana penjara
paling singkat 2 (dua) tahun dan pidana yang dilakukan tidak
berencana.
3. PNS diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan
sendiri karena melakukan pelanggaran disiplin PNS tingkat 119
berat.
(Pasal 87)
4. PNS diberhentikan tidak dengan hormat karena:
a. melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan UUD
1945;
b. dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap
karena melakukan tindak pidana kejahatan jabatan atau
tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan
jabatan dan/atau pidana umum;
c. menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik; atau
d. dihukum penjara berdasarkan putusan pengadilan yang
telah memiliki kekuatan hukum tetap karena melakukan
tindak pidana dengan pidana penjara paling singkat 2
(dua) tahun dan pidana yang dilakukan dengan berencana.

120
(Pasal 87)
5. PNS diberhentikan sementara, apabila:
a. diangkat menjadi pejabat negara;
b. diangkat menjadi komisioner atau anggota lembaga
nonstruktural; atau
c. ditahan karena menjadi tersangka tindak pidana.
6. Pengaktifan kembali PNS yang diberhentikan sementara
dilakukan oleh PPK
7. Batas usia pensiun yaitu:
a. 58 (lima puluh delapan) tahun bagi Pejabat Administrasi;
b. 60 (enam puluh) tahun bagi Pejabat Pimpinan Tinggi;
c. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan bagi
Pejabat Fungsional.

121
(Pasal 88,90)
BATAS USIA PENSIUN
Batas usia pensiun PNS yaitu:
• 58 (lima puluh delapan) tahun
bagi Pejabat Administrasi;
• 60 (enam puluh) tahun bagi
Pejabat Pimpinan Tinggi; dan
• sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan
bagi Pejabat Fungsional.
SISTEM PEMBERHENTIAN PNS
PP No. 32 Tahun 1979 tentang Pemberhentian PNS
Pemberhentian PNS :
suatu tindakan yang dilakukan oleh seorang pejabat yang
berwenang dalam suatu instansi yang mengakibatkan seorang PNS
kehilangan statusnya sebagai PNS
Pemberhentian PNS dapat diklasifikasikan sbb :
 Atas Permintaan Sendiri
 Mencapai BUP
 Adanya penyederhanaan organisasi
 Melakukan pelanggaran atau tindak pidana atau penyelewengan
 Tidak cakap jasmani dan rohani
Karena meninggalkan Tugas
Karena meninggal dunia atau hilang
 Karena hal lain-lain
JAMINAN PENSIUN DAN JAMINAN HARI TUA
1. PNS yang berhenti bekerja berhak atas jaminan pensiun dan
jaminan hari tua PNS.
2. PNS diberikan jaminan pensiun apabila:
a. meninggal dunia;
b. atas permintaan sendiri dengan usia dan masa kerja tertentu;
c. mencapai batas usia pensiun;
d. perampingan organisasi atau kebijakan pemerintah yang
mengakibatkan pensiun dini; atau
e. tidak cakap jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat
menjalankan tugas dan kewajiban.
3. Jaminan pensiun PNS dan jaminan janda/duda PNS dan jaminan hari
tua PNS diberikan sebagai perlindungan kesinambungan
penghasilan hari tua, sebagai hak dan sebagai penghargaan atas
pengabdian PNS.
4. Jaminan pensiun dan jaminan hari tua PNS mencakup jaminan
pensiun dan jaminan hari tua yang diberikan dalam program
jaminan sosial nasional.
5. Sumber pembiayaan jaminan pensiun dan jaminan hari tua PNS
berasal dari pemerintah selaku pemberi kerja dan iuran PNS yang 124
bersangkutan.
(Pasal 91)
PERLINDUNGAN
1. Pemerintah wajib memberikan perlindungan berupa:
a. jaminan kesehatan;
b. jaminan kecelakaan kerja;
c. jaminan kematian; dan
d. bantuan hukum.
2. Perlindungan berupa jaminan kesehatan, jaminan
kecelakaan kerja, dan jaminan kematian mencakup
jaminan sosial yang diberikan dalam program jaminan
sosial nasional.
3. Bantuan hukum berupa pemberian bantuan hukum dalam
perkara yang dihadapi di pengadilan terkait pelaksanaan
tugasnya
125
(Pasal 92)
LATIHAN

• Identifikasi 3 (tiga) contoh pelanggaran disiplin


(ringan, sedang dan berat) dan jelaskan tingkat dan
jenis hukuman disiplin yang diberikan kepada PNS
sesuai PP No. 53 Tahun 2010 !

127
EVALUASI PEMBELAJARAN

21/05//2015
128
LATIHAN/DISKUSI KELOMPOK

Kelompok : 1
• Apa yang dimaksud dengan kenaikan pangkat
reguler dan kenaikan pangkat pilihan
berdasarkan PP Nomor 99 tahun 2000 jo PP
Nomor 12 Tahun 2002. Jelaskan/uraikan secara
jelas syarat/ketentuan untuk mendapat kenaikan
pangkat dimaksud.
Kelompok : 2
• Apa yang dimaksud dengan kenaikan
pangkat anumerta dan kenaikan pangkat
pengabdian berdasarkan PP Nomor 99
tahun 2000 jo PP Nomor 12 Tahun 2002.
Jelaskan secara jelas syarat/ketentuan
untuk mendapat kenaikan pangkat
dimaksud.
Kelompok : 3
• Jelaskan persyaratan/ketentuan untuk
mendapatkan cuti tahunan, cuti besar dan
cuti sakit berdasarkan Peraturan Pemerintah
No. 24 Tahun 1976.
Kelompok : 4
• Jelaskan persyaratan/ketentuan untuk
mendapatkan cuti bersalin, cuti karena
alasan penting dan cuti di luar tanggungan
negara berdasarkan Peraturan Pemerintah
No. 24 Tahun 1976.
Kelompok : 5
• Jelaskan sistem pemberhentian PNS
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 32
Tahun 1979.
Kelompok : 6
• Jelaskan persyaratan/ketentuan untuk
mendapatkan cuti tahunan, cuti besar dan
cuti sakit berdasarkan Peraturan Pemerintah
No. 24 Tahun 1976.
Kelompok : 7
• Jelaskan persyaratan/ketentuan untuk
mendapatkan cuti bersalin, cuti karena
alasan penting dan cuti di luar tanggungan
negara berdasarkan Peraturan Pemerintah
No. 24 Tahun 1976.
Kelompok : 8
1. Apa yang dimaksud dengan : a). Aparatur Sipil Negara
(ASN), b). Pegawai Aparatur Sipil Negara (Pegawai ASN), c).
Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan d). Pegawai Pemerintah
dengan Perjanjian Kerja (PPPK) ?
2. Apa yang dimaksud dengan Manajemen ASN?
3Penilaian prestasi kerja PNS terdiri atas unsur: Sasaran Kerja
Pegawai (SKP) dan perilaku kerja. Jelaskan apa yang dimaksud
dengan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dan Perilaku Kerja.
4. Sebutkan beberapa persyaratan pengangkatan CPNS
menjadi PNS.
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS
PELANGGARAN DISIPLIN PNS

No Contoh Pelanggaran Disiplin Tingkat dan Jenis Hukuman Disiplin


PASAL 8
HUKUMAN DISIPLIN RINGAN
Hukuman disiplin ringan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2)
dijatuhkan bagi pelanggaran terhadap kewajiban:
1. setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 angka 3, apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit
kerja;
2. menaati segala peraturan perundang-undangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 angka 4, apabila pelanggaran berdampak
negatif pada unit kerja;
3. melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS
dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 5, apabila pelanggaran
berdampak negatif pada unit kerja; 138
4. menjunjung tinggi kehormatan negara, Pemerintah, dan martabat PNS
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 6, apabila pelanggaran
berdampak negatif pada unit kerja;
5. mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri,
seseorang, dan/atau golongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
angka 7, apabila pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja;
6. memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah
harus dirahasiakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 8, apabila
pelanggaran berdampak negatif pada unit kerja;
7. bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan
negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 9, apabila pelanggaran
berdampak negatif pada unit kerja;
8. melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal
yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau pemerintah
terutama di bidang keamanan, keuangan, dan materiil sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 angka 10, apabila pelanggaran berdampak negatif
pada unit kerja;
139
9. masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 angka 11 berupa:
a. teguran lisan bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 5
(lima) hari kerja;
b. teguran tertulis bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama
6 (enam) sampai dengan 10 (sepuluh) hari kerja; dan
c. pernyataan tidak puas secara tertulis bagi PNS yang tidak masuk kerja tanpa
alasan yang sah selama 11 (sebelas) sampai dengan 15 (lima belas) hari kerja;
10. menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaik-
baiknya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 13, apabila pelanggaran
berdampak negatif pada unit kerja;
11. memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 angka 14, sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
12. membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 angka 15, apabila pelanggaran dilakukan dengan tidak sengaja;
13. memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 16, apabila pelanggaran dilakukan
dengan tidak sengaja; dan
14. menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 17, apabila pelanggaran
berdampak negatif pada unit kerja. 140
PASAL 9
HUKUMAN DISIPLIN SEDANG
Hukuman disiplin sedang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dijatuhkan bagi
pelanggaran terhadap kewajiban:
1. mengucapkan sumpah/janji PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 1, apabila
pelanggaran dilakukan tanpa alasan yang sah;
2. mengucapkan sumpah/janji jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 2, apabila
pelanggaran dilakukan tanpa alasan yang sah;
3. setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Pemerintah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 angka 3, apabila pelanggaran berdampak negatif bagi instansi yang
bersangkutan;
4. menaati segala peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
angka 4, apabila pelanggaran berdampak negatif bagi instansi yang bersangkutan;
5. melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh pengabdian,
kesadaran, dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka apabila
pelanggaran berdampak negatif bagi instansi yang bersangkutan;
6. menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah, dan martabat PNS sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 angka 6, apabila pelanggaran berdampak negatif bagi instansi yang
bersangkutan; sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 5, apabila pelanggaran
berdampak negatif pada unit kerja; 141
7. mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri, seseorang,
dan/atau golongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 7, apabila
pelanggaran berdampak negatif pada instansi yang bersangkutan;
8. memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus
dirahasiakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 8, apabila pelanggaran
berdampak negatif pada instansi yang bersangkutan;
9. bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan negara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 9, apabila pelanggaran berdampak
negatif bagi instansi yang bersangkutan;
10. melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang
dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di bidang
keamanan, keuangan, dan materiil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 10,
apabila pelanggaran berdampak negatif pada instansi yang bersangkutan;
11. masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 angka 11 berupa:
a. penundaan kenaikan gaji berkala selama 1 (satu) tahun bagi PNS yang tidak masuk
kerja tanpa alasan yang sah selama 16 (enam belas) sampai dengan 20 (dua puluh)
hari kerja;
142
b. penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun bagi PNS yang tidak masuk kerja
tanpa alasan yang sah selama 21 (dua puluh satu) sampai dengan 25 (dua puluh lima) hari
kerja; dan
c. penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun bagi PNS yang tidak
masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 26 (dua puluh enam) sampai dengan 30 (tiga
puluh) hari kerja;
12. mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
angka 12, apabila pencapaian sasaran kerja pada akhir tahun hanya mencapai 25% (dua
puluh lima persen) sampai dengan 50% (lima puluh persen);
13. menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaik-baiknya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 13, apabila pelanggaran berdampak negatif
pada instansi yang bersangkutan;
14. memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 angka 14, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
15. membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
angka 15, apabila pelanggaran dilakukan dengan sengaja;
16. memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 angka 16, apabila pelanggaran dilakukan dengan sengaja; dan
17. menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 17, apabila pelanggaran berdampak negatif
pada instansi yang bersangkutan. 143
PASAL 10
HUKUMAN DISIPLIN BERAT
Hukuman disiplin berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) dijatuhkan bagi
pelanggaran terhadap kewajiban:
1. setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Pemerintah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 angka 3, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah
dan/atau negara;
2. menaati segala ketentuan peraturan perundangundangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 angka 4, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;
3. melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh pengabdian,
kesadaran, dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 5, apabila
pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;
4. menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah, dan martabat PNS sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 angka 6, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah
dan/atau negara;
5. mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri, seseorang, dan/atau
golongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 7, apabila pelanggaran berdampak
negatif pada pemerintah dan/atau negara;
6. memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus dirahasiakan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 8, apabila pelanggaran berdampak negatif pada 144
pemerintah dan/atau negara;
7. bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan negara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 9, apabila pelanggaran berdampak
negatif pada pemerintah dan/atau negara;
8. 8. melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang
dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di
bidang keamanan, keuangan, dan materiil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
angka 10, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau
negara;
9. masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 angka 11 berupa:
a. penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun bagi PNS yang
tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 31 (tiga puluh satu) sampai
dengan 35 (tiga puluh lima) hari kerja;
b. pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah bagi PNS
yang menduduki jabatan struktural atau fungsional tertentu yang tidak masuk
kerja tanpa alasan yang sah selama 36 (tiga puluh enam) sampai dengan 40
(empat puluh) hari kerja;
c. pembebasan dari jabatan bagi PNS yang menduduki jabatan struktural atau
fungsional tertentu yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 41 145
(empat puluh satu) sampai dengan 45 (empat puluh lima) hari kerja; dan
d. pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau
pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS bagi PNS yang
tidak masuk kerja tanpa alasan yang sah selama 46 (empat puluh
enam) hari kerja atau lebih;
10. mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 angka 12, apabila pencapaian sasaran kerja
pegawai pada akhir tahun kurang dari 25% (dua puluh lima persen);
11. menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara
dengan sebaik-baiknya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka
13, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah
dan/atau negara;
12. memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 14, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
13. menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang
berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 17, apabila 146
pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara.
LATIHAN

• Jelaskan sanksi dan hukuman yang diterima Aparatur


Sipil Negara bila melangggar PP No. 53 Tahun 2010 !

147
LATIHAN

KASUS I:
1. Tidak Melaporkan Perkawinan Pertama

Saudara GANI NIP. 19……… pangkat Pengatur Muda (II/a) staf pada Direktorat
Hak Cipta dan Hak Merk Departemen Kehakiman, diangkat sebagai CPNS
pada tanggal 1 Maret 2010.

Setelah ± 1 tahun masa kerjanya, Saudara GANI telah melakukan hubungan


intim dengan Saudari EVA, sehingga Saudari EVA mengandung. Namun
Saudara GANI tidak segera bertanggungjawab untuk menikahi Saudari EVA,
dengan alasan tidak mencintai Saudari EVA. Hubungan intim dengan Saudari
EVA memang ia lakukan, namun menurutnya dilakukan mau sama mau (tidak
ada paksaan), jadi sama sekali tidak didasarkan karena cinta.
148
LATIHAN
Hari berganti bulan, semakin besar kandungan Saudari EVA dan pada
bulan Mei 2011 lahirlah bayi yang dikandung Saudari EVA. Melihat
kenyataan bahwa ternyata bayi yang dilahirkan Saudari EVA sangat
mirip dengan Saudara GANI maka pada tanggal 8 Juli 2011, Saudari
GANI bersedia melangsungkan perkawinan dengan Saudari EVA di KUA
Kecamatan Batu Ceper, Kabupaten Tangerang. Perkawinan Saudara
GANI dan Saudari EVA baru berjalan ± 6 bulan ternyata sudah diwarnai
dengan pertengkaran-pertengkaran, masing-masing menganggap
dirinya benar. Selain itu juga disebabkan karena penghasilan Saudara
GANI pas-pasan. Ketidak harmonisan dalam keluarga meruncing
dengan kebiasaan Saudara GANI yang sering minum-minuman keras
sampai mabuk dan sering tidak pulang ke rumah. Saudari EVA
menghadap atasan langsung Saudara GANI di kantor.
149
LATIHAN
Pada awalnya atasan langsung Saudara GANI tidak mengenal Saudari EVA, karena
Saudara GANI memang tidak pernah melaporkan bahwa dirinya sudah melangsungkan
perkawinan dengan Saudari EVA. Dengan seringnya Saudari EVA mendatangi Kantor
Suaminya, bukan membuat Saudari GANI menjadi baik, namun malah Saudara GANI
meninggalkan istrinya dan menjatuhkan talak kepada Saudari EVA.

Kasus Saudara GANI ini kemudian ditindaklanjuti dengan dilakukan berita acara
pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal Departemen Kehakiman pada tanggal 26 Juni
2012 dan ternyata ia mengakui perbuatannya, namun memberikan alasan karena
perkawinannya dengan Saudari EVA tidak didasari rasa cinta hanya untuk
menyelamatkan yang halal dari yang haram dan yang bersangkutan juga terbukti
belum pernah dihukum dan dijatuhi hukuman disiplin. Inspektur Jenderal Departemen
Kehakiman dengan Nota Dinasnya Nomor…….Tanggal 5 April 2013 telah melaporkan
diri kembali kepada instansi induknya setelah habis masa cutinya, diberhentikan
dengan hasil pemeriksaan kepada Seketaris Jenderal Departemen Kehakiman bahwa
Saudara GANI telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 2 huruf w, x, PP
No. 30 Tahun 1980 jis Pasal 2 PP No. 10 Tahun 1983 dan PP No. 45 Tahun 1990.
150
LATIHAN
Dengan memperhatikan faktor yang memberatkan dan faktor yang meringankan,
maka Inspektur Jenderal Departemen Kehakiman telah menyarankan kepada Pejabat
yang berwenang, agar terhadap Saudara GANI dijatuhi hukuman disiplin berupa
pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaaan sendiri sebagai Pegawai Negeri
Sipil.

Menteri Kehakiman sebagai pejabat yang berwenang menghukum pada tanggal 25


Agustus 1994 telah menjatuhkan hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan
hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil terhadap Saudara
GANI sesuai dengan ketentuan Pasal 6 ayat (4) huruf c PP No. 30 Tahun 1980.

151
LATIHAN
PERTANYAAN:
Bacalah kasus tersebut di atas dengan seksama.
1. Buatlah singkatan/kronologis kasus tersebut!
2. Tentukan pokok permasalahannya!
3. Tentukan jenis-jenis yang dipertimbangkan melalui analisis Saudara jenis hukuman
disiplin yang diberikan :
a. Hal-hal yang meringankan
b. Hal-hal yang memberatkan
4. Buatlah kesimpulan kasus:
a. Sebutkan perbuatan dan pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh yang
bersangkutan
b. Sebutkan hukuman disiplin yang dijatuhkan
5. Apakah hukuman disiplin yang dijatuhkan kepada Pegawai Negeri Sipil tersebut
telah memenuhi rasa keadilan? Jelaskan!
Jelaskan dampak yang mungkin timbul di lingkungan masyarakat sebagai akibat
pelanggaran disiplin! 152