Anda di halaman 1dari 37

FARMAKOTERAPI KEGAWATDARURATAN

TENTANG
PENYAKIT PADA SISTEM SARAF

KELOMPOK 4

Andreas Agung Wicjaksono


Eka SafitrI
Suvana Devi
OUTLINE

Jenis-Jenis
Penyakit Sistem
Saraf

Patofisiologi

Diagnosa

Penatalaksanaan
Jenis-Jenis Penyakit pada sistem
saraf

Defisit Infeksi
Motorik SSP

Sakit
Koma
Kepala
Emergensi
Pusing dan Coneborv
vertigo ascular

Kejang
Sakit Kepala

• Patofisiologi
Sebuah teori mengatakan ketegangan atau stres
yang menghasilkan kontraksi otot di sekitar
tulang tengkorak menyebabkan vasokontriksi
pembuluh darah sehingga aliran darah
berkurang yang menyebabkan terhambatnya
oksigen dan menumpuknya hasil metabolisme
yang akhirnya akan menyebabkan nyeri.
Lanjutan...

Sakit Kepala

Primer sekunder

- Sinus
- Arteritis sel raksasa
- Migraine
- Neuralgia Trigeminal
- Type-Tension
- Sakit kepala Pascatrauma
- Cluster
- Sakit kepala pasca-fungsi
lumbal
Lanjutan...

Sakit Kepala Primer


Lanjutan...

Sakit Kepala Sekunder


Lanjutan...
• Sakit kepala primer tidak diketahui penyebabnya.
• Sakit kepala sekunder disebabkan karena adanya trauma
1. Lumbal disebabkan karena adanya tindakan pada sum-sum
tulang belakang atau terkena benturan pada tulang belakang
yang menyebabkan sakit hingga kepala belakang.
2. Arteritis sel giant biasanya terjadi pada pasien berusia diatas 50
tahun. Penyebabnya karena terjadinya inflamasi dan
peradangan. Sakit kepala biasanya terjadi pada bagian temporal,
gejalanya adalah klaudikasi rahang, malaise, artritis, demam,
dan neurupatik.
3. Trigeminal neuralgia terjadi akibat sentuhan atau rangsangan
mekanis (misalnya menggosok gigi)
4. Sakit kepala pascatrauma terjadi dalam beberapa jam hingga
hari setelah trauma dalam pemeriksaan saraf normal atau CT-
Scan yang dapat berlangsung selama beberapa minggu.
Diagnosa

Pemeriksaan tanda Vital

Pemeriksaan tanda vital dapat menunjukkan adanya


peningkatan suhu tubuh atau tekanan darah, takikardia
atau takipnea.

Pemeriksaan laboratorium

- Pemeriksaan darah lengkap


- Kelainan Hematologi atau vaskulitis hidung
- Pemeriksaan laju endap darah sedikitnya 55 mm/jam dan biasanya
melebihi 100 ditemukan pada 90% pasien arteritis temporal
- Pemeriksaan fungsi lumbal dengan analisis cairan serebrospinal
- Pemeriksaan CT-scan
Penatalaksanaan

• Terapi yang dapat digunakan untuk pengobatan migrain adalah


- Asetaminofen tablet 325 mg hingga 6 tablet peroral
- Ibuprofen tablet 200 mg hingga 1-4 tablet
- Natrium naproksen tablet 276 mg hingga 2-3 tablet dapat diulang 1-
2 tablet dalam 2 jam
- Ketorolak 15-30 mg IV/IM
- Sumatripan 6 mg
- Proklorpezazin 5-10 mg dengan pemberian IV bolus secara
perlahan dapat diulang dengan 30-60 menit
- Metokproperamid 10 mg per oral IM/IV.
Lanjutan...
• Sakit Kepala tipe-tension
Sakit kepala tipe-tension biasanya berespons terhadap NSAID. Obat-
obatan lain yang digunakan untuk manangani sakit kepala migraine
biasanya efektif

• Sakit kepala Cluster


Obat-obatan yang digunakan untuk menangani sakit kepala migraine
biasanya efektif untuk sakit kepala cluster.
- serangan sakit kepala cluster akut sering berespon terhadap
inhalasi oksigen 100% dengan menggunakan sungkup muka non
rebreathing selama 10-15 menit untuk nyeri refrakter, lidokain 4%
atau deksametason (8 mg/hari selama 3-4 hari)
- Intranasal harus dicoba diberikan pada pasien yang menderita sakit
kepala cluster kronik tanpa remisi atau episodic serangan yang
berlangsung lebih dari beberapa minggu dapat ditangani dengan
pemberian prednisone (60-80 mg/hari) selama 7-10 hari dengan
penurunan dosis secara perlahan pada minggu berikutnya.
Lanjutan...
• Terapi Arteritis sel raksasa
Arteritis sel raksasa diberikan terapi penanganan dengan
- Prednisone 1 mg/kg harus dimulai, perbaikan sakit dapat diamati
dalam 48 jam.
- Pemberian metilprednisolon IV sebanyak 250 mg setiap 6 jam
dilanjutkan untuk pasien dengan penurunan penglihatan biopsi.

• Neuralgia trigeminal
- Karbamazepine yang sangat efektif untuk remisi gejala (sering
dalam 24 jam) tetapi tidak dapat diberikan sekaligus dalam jumlah
besar, dosis awal adalah 100 mg per oral 2x sehari dan setiap 2 hari
ditingkatkan sebanyak 100 mg (dosis maksimum 1,2-2 gram/ hari).
- Serangan akut dapat dihentikan dengan fenitoin intravena 250 mg
dan pasien dipulangkan dengan pemberian 300 mg per oral saat
akan tidur.
- Sebagai alternatif obat narkotik parenteral dapat diberikan bila perlu.
Lanjutan...

• Sakit kepala pascatrauma


- NSAID biasanya digunakan sebagai terapi lini pertama dengan
tambahan berupa sedative fisioterapi, psikoterapi
- sebagai cara terakhir narkotik, bila perlu, gejala biasanya membaik
dalam beberapa bulan.

• Sakit kepala pasca-pungsi lumbal


- Penatalaksanaan mencakup istirahat dan pemberian analgetilk
- Untuk kasus yang lebih berat kafein (500 mg dalam 1 L NaCl 0,9%
yang diberikan 1 jam) dapat efektih bila perlu dosis tersebut dapat
diulang saku kali.
Defisit Motorik
Defisit motorik terjadi karena terhambatnya sistem saraf
terhambat sehingga menyebabkan gerak menjadi terhambat.

Defisit motorik terbagi menjadi 3 yakni.


1. Guillain-barre syndrome
2. Myasthenia gravis
3. Multiple sclerosis
Gambar
Defisit Motorik

• Patofisiologi
- Detisit motorik dapat disebabkan oleh disfungsi susunan saraf pusat
(SSP) atau sistem saraf perifer.
- Unit motorik terdiri atas sel cornu anterior, akson motoriknya, dan serabut
otot, serabut saraf motorik dan serabut otot secara berturut-turut akan
membentuk komponen prasinaps dan pascasinaps dari taut
neuromuscular.
- Kontraksi otot melibatkan potensial aksi pada akson motorik, yang
menimbulkan influks kalsium yang melepaskan asetilkolin ke dalam celah
sinaps, hal tersebut menimbulkan potensial aksi pada motor end plate
dan diikuti depolarisasi pada membran pascasinaps serta kontraksi sel
otot.
Dignosis

• Tanda Vital
• Pemeriksaan Fisik
- Perhatikan tampilan umum pasien
- Leher
- Pemeriksaan dada pada pasien dengan gangguan pernapasan
akibal kelemahan motorik dapat mengungkapkan bunyi napas
yang bersih.
- Gerakan abdomen yang paradoks mengindikasikan kelemahan
diafragma.
- Pemeriksaan neurologilk
Penatalaksanaan
Guillain-barre diberikan intravena imunoglobulin yang sudah terbukti efektif

Myastenia gravis diberikan terapi Prednison, piridostigmin, dan penutup


mata untuk diplopia

Multiole sclerosisi ( penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat


terutama otak)
• Setiap infeksi yang dapat di identifikasi harrus diobati secara agresif,
kortikosteroid tidak diperlukan. Gejala umumnya akan sembuh ketika
demam atau infeksi diobati.
• Kerusakan klinis tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi (misal: infeksi)
adalah indikasi kortikosteroid dosis tinggi (PO atau IV).
• Neuritis optik menjamin IV metilprednisolon.
Perubahan Tingkat Kesadaaran
(Koma)

• Patofisiologi
Kesadaran menurun sebagai akibat dari berbagai macam
gangguan atau penyakit yang masing-masing pada akhirnya
mengacaukan fungsi reticular activating system secara langsung
maupun tidak langsung. Dari studi kasus-kasus koma yang
kemudian meninggal dapat dibuat kesimpulan, bahwa ada tipe
lesi/mekanisme yang masing-masing merusak fungsi reticular
activating system, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Perubahan Tingkat Kesadaaran
(Koma)

• Diagnosa
- Tanda-tanda vital
- Pemeriksaan fisik
Penatalaksanaan
• Pertahankan saturasí oksigen yang adekuat. Pertimbangkan intubasi untuk
perlindungan saluran napas dan pemeliharaan ventilasi yang adekuat.

• Semua pasien dengan perubahan status mental dengan penyebab yang


tidak diketahui perlu menerima thiamin 100 mg IV

• Pasien dengan hipoglikemia harus menerima 25g dekstrosa 50% IV (dosis


untuk anak-arak: 25% dekstrosa, 0,5g/kg).
• Flumazenil diindikasikan hanya untuk overdosis benzodiazepin akut.

• Hipotensi periu ditangani dengan cairan isotonik dan zat vasopresor, bila
perlu. Nilai target tekanan arterial rerata yang memadai adalah 90 sampai 100
mmHg.

• Peningkatan tekanan intrakranial harus dikenali dari awal dan ditangani


dengan meninggikan posisi kepala dari tempat tidur dalam suhu 30 derajat
(bila dapat dipraktikkan), hiperventilasi (target CO2 30-35), manitol sebanyak
0,5 g/kg laruan 20%) yang diinfus selama 5-15 menit, dan furosemid 1 mg/kg
IV.
lanjutan...
• Jika pasien koma mengalami kekurangan
cairan maka dapat diberikan larutan yang
dapat meningkatkan cairan darah contohnya
infus RL.
• Jika pasien kekurangan kadar gula didalam
tubuh maka diberikan terapi dexstrosa.
Infeksi SSP

• Penyakit ini merupakan gangguan neurologis yang terjadi secara


mendadak akibat penurunan suplai darah melalui arteri otak yang
disebabkan oleh terhambatnya aliran darah (smeltzer & bare, 2002).
Kurangnya aliran darah yang berlangsung melebihi beberapa menit
dapat menimbulkan infark jaringan otak. Gangguan pasokan aliran
darah juga dapat menyebabkan pendarahan intrakranium sehingga
menimbulkan stroke.
• 3 penyebab sumber infeksi pada otak
- Hidung
- Mulut
- Telinga

Meningitis : Ensefalitis :
Infeksi pada selaput otak Infeksi pada bagian otak
• Diagnosis
1. Anamnesis
2. Tingkat kesadaran pasien
3. Tanda-tanda vital

Penatalaksanaan
• Meningitis
Pemberian antibiotic IV harus di mulai sesegera mungkin ketika muncul
kecurigaan akan meningitis bakteri. Terapi empiris harus diberikan
berdasarkan pathogen yang dicurigai dengan mempertimbangkan usia dan
factor risiko pasien terhadap organisme tertentu. Konsultasi dengan
spesialis penyakit infeksi dapat bermanfaat dalam memperoleh informasi
mengenai pola resistensi obat di daerah setempat.
• Ensefalitis
Ensefalitis akibat herpes simpleks dan varisela merupakan satu-satunya
bantuk ensefalitis yang dapat diobati. Asiklovir diberikan dengan dosis 10
mg/kgBB IV setiap 8 jam.
Penatalaksanaan 3 Penyebab Infeksi
SSP
Penatalaksanaan

Terapi antimikroba empiris untuk meningitis


Populasi
Ampisilin + seftriakson
Neonatalus (0-7 hari) Ampisilin + gentamisin
Ampisilin + amikasin
Neunatalus (8-28) Ampisilin + sefotaksim

1 bulan hingga 50 tahun Vankomisin + seftriakson


Vankomisin + seftriakson

Orang dewasa (lebih dari 50 tahun) Ampisilin + seftriakson + vankomisisn

Infeksi pirau LCS Anak-anak vankomisisn + seftriakson


Vankomisin + seftriakson
Emergensi Coreborvascular

Stroke
Stroke iskemik
hemoragik

Disebabkan karena
Strok iskemik terjadi apabila pembuluh darah yang
pembuluh darah yang bocoratau pecah di dalam
memasok darah ke otak atau disekitar otak
tersumbat sehingga menghentikan
suplai darah ke jaringan
otak yang di tuju
Diagnosa

• Tanda-tanda vital
- Hipotensi dapat menjadi penyebab utama strok
- TD yang meningkat dengan cepat
- Irama jantung yang tidak teratur
• Pemeriksaan fisik
Penatalaksanaan
Seperti pada semua keadan darurat, evaluasi pasien dengan defisit
neurologis bermula dengan saluran napas, pernapasan dan sirkulasi.
• Oksigen > Pemberian oksigen tambahan dapat diperlukan untuk
mempertahankan saturasi oksigen > 95 %. Namun, tanpa adanya
hipoksia, pemberian oksigen tambahan terbukti tidak memengaruhi
prognosis
• Kontrol Tekanan Darah
• Strok hemoragik
- Nimodipin, suatu penyekat kanal kalsium, diindikasikan untuk
pencegahan vasospasme serebral untuk mencegah iskemia diwaktu
yang akan datang dosisnya adalah 160 mg yang diberikan secara enteral
setiap 4 jam
- Pemberian antikonvulsan profilaktik dianjurkan; perimbangkan pemberian
kortikosteroid
Vertigo

Sensasi berputar di dalam atau diluar kepala yang tiba-tiba,


seringkali dipicu karena menggerakkan kepala terlalu cepat

- Sistem vestibular memberikan masukan ke otak mengenai


gerakan kepala, bagian vestibular dari saraf kranial ke-8 terdiri
dari utrikel, sakarikel, dan tiga kanal setengah lingkaran yang
saling bertemu.
- Pemeliharaan keseimbangan bergantung pada input dari
sistem vestibular dan mata, serta propriosepsi; selain itu,
informasi harus diintegrasikan dengan benar di otak.
Informasi yang abormal, atau integrasi yang tidak tepat
menimbulkan keluhan 'pusing' atau 'vertigo.
Diagnosa

Pemeriksaan fisik

- Kepala, mata, THT


- Leher
- Jantung
- Pemeriksaan neurologi
- Pemeriksaan motorik
- Pemeriksaan serebelum
- Berdiri
- Gaya berjalan
- Reflek
Penatalaksanaan
Pilihan terapi
Anthihistamin Meklizin 25 mg peroral setiap 6 jam
Difenhidramin 25-50 mg peroral setiap 6 jam
Proklorperazin 5-10 mg peroral setiap 6-8 jam
25 mg per rektal setiap 12 jam
Fenotiazin Prometazin 25-50 mg peroral/IM setiap 4-6 jam
Antikolinergik Skopolamin 0,5 mg transdermal setiap 3 hari
0,4-0,8 mg peroral setiap 6-8 jam
Benzodiazepin Diazepin 5-10 mg peroral setiap 6-8 jam
Antagonis Ondansentron 4 mg peroral setiap 8 jam
serotonin
Kejang

• Patofisiologi
- Instabilitas membran sel sehingga lebih mudah mengatasi
pengaktifan
- Aktivasi ini membuat neuron-neuron lebih hipersensitif
dengan ambang untuk dikeluarkan meningkat dan
ditingkatkan terpicu akan dirilis dengan biaya lebih tinggi,
- Pelepasan dari jumlah akan meningkat sesuai dengan
jumlah yang dibutuhkan oleh asetilkolin atau defisiensi
GABA (Asam Gama-Amino-Butirat).
- Terjadinya ketidakseimbangan ion yang mengubah
keseimbangan asam basa atau elektrolit yang akan
menganggu kimiwai neuron schingga terjadi kelainan pada
depolarisasi neuron. Gangguan keseimbangan ini akan
menyebabkan peningkatan berlebihan neurotransmitter
eksitatorik atau deplesi neurotransmitter inhibitorik
Diagnosa

Anamnesis

- Jika aktivitas kejang telah berhenti sebelum pasien datang di IGD,


deskripsi dan seorang saksi mata yang dapat dipercaya mengenai
kejadian yang dialami pasien akan sangat berguna.
- Bila memungkinkan, dapatkan riwayat medis pasien, termasuk riwayat
kejang sebelumnya atau kondisi medis lain, obat-obatan, atau gejala
yang baru saja dialami (misal, infeksi).

Pemeriksaan Fisik

- Mencakup pengukuran suhu rektum dan tanda-tanda vital.


- Carilah buktiakan adanya trauma, baik sebagai penyebab maupun
akibat dari kejang pemeriksaan neurologis yang mendetail harus
dilakukan.
Penatalaksanaan
Obat Dosis IV
Midazolam 0,2 mg/kg kemudian 0,5-1 mg/kg/jam
Diazepam 0,2 mg/kg (hingga 20 mg pada orang dewasa)

Lorazepam 0,1 mg/kg (dosis maksimal yang biasa adalah 8 mg)

Fenitoin 20 mg/kg yang diberikan dengan cara 50 mg/menit


Dosis tambahan 5-10 mg/kg dapat diberikan
Fosfenitoin 20 mg/kg PE’ yang diberikan dengan cara 150 mg/menit
Dosis yang sama dapat diberikan
Fenobarbital Melalui IM
20 mg/kg dan tidak melebihi
Propofol 100 mg/menit
1-3 mg/kg kemudian 2-10 mg/kg/jam
Pentobarbital 3-5 mg/kg kemudian 1-5 mg/kg/jam