Anda di halaman 1dari 16

Farmakologi II

Pengobatan batuk
Kelompok 2
Annisa Fitriyah(184840107)
Devitasari(184840111)
Jumana(184840117)
Pinsi Jayu Babeliana(184840123)
Rahmi Agustia(184840125)
Rianti Ramandani(184840126)
Pengertian batuk
Batuk adalah suatu refleks fisiologi
protektif yang bermanfaat untuk
mengeluarkan dan membersihkan saluran
pernafasan dari dahak, debu, zat- zat
perangsang asing yang dihirup, partikel-
partikel asing dan unsur-unsur infeksi.
Batuk dapat dibedakan menjadi dua, yakni:

1. 1.batuk produktif (dengan dahak)


2. 2.batuk non-produktif (kering).

 Batuk produktif merupakan suatu mekanisme


perlindungan dengan fungsi mengeluarkan zat-zat asing
(kuman, debu,dsb) dan dahak dari batang tenggorok
(Tjay,2007).
 Batuk non-produktif bersifat “kering” tanpa adanya dahak,
misalnya pada batuk rejan (pertussis, kinkhoest), atau juga
karena pengeluarannya memang tidak mungkin, seperti
pada tumor (Tjay, 2007).
Penyebab utama penyakit batuk dalam
pernafasan, antara lain:

1. Mikroorganisme pathogen yang mampu bertahan terhadap


fagositos (Susanti,2009).
2. Partikel-partikel mineral yang menyebabkan kerusakan atau
kematian makrofag yang menelannya, sehingga menghambat
pembersihan dan merangsang reaksi jaringan (Susanti,2009).
3. Partikel-partikel organik yang merangsang respon imun
(Susanti, 2009).
4. Kelebihan beban sistem akibat paparan terus-menerus
terhadap debu respirasi berkadar tinggi yang memupuk di
sekitar saluran nafas terminal (Susanti,2009).
Gangguan pada saluran pernafasan , ditandai
dengan gejala-gejala yaitu:

1. Gejala lokal
 Batuk;
 Sesaknafas;
 Pengeluaran dahak;
 Nyeri dada;
 Batuk darah.
2. Gejala umum
Gejala-gejala yang disebut diatas bersifat setempat. Beberapa
penyakit juga memberi gejala umum, seperti suhu badan meninggi,
pusing dan mabuk kepala, tidak mau makan, rasa lesu/lemah, keringat
dingin dan sebagainya
11.2.PENGGOLONGAN ObAT BATUK
• Untuk obat berdahak
1.Ekspektoran
•obat yang dapat merangsang pengeluaran dahak
dari saluran napas (ekspektorasi).

•Mekanisme kerjanya berdasarkan stimulasi mukosa lambung dan selanjutnya


secara refleks merangsang sekresi kelenjar saluran napas lewat N. vagus
sehingga menurunkan viskositas dan mempermudah pengeluaran dahak.
•Obat yang termasuk golongan ini ialah gliseril guaiakolat. dan ammonium
klorida
Contoh:
1.Gliseril guaiakolat
Kegunaan: Mengencerkan lendir saluran nafas.
Mekanisme kerja: meningkatkan hidrasi di kelenjar
saluran pernapasan sehingga meningkatkan volume
sekresi dahak.

Efek samping: nyeri perut, hiperurisemia, diare,
mual dan muntah, pusing, sakit kepala, ruam kulit
Kontraindikasi: hipersensitivitas
Dosis: dws: tablet 100 mg, 2-4 tablet setiap 4-6 jam
sekali. Anak 6-12 th: tablet 100 mg, 1-2 tablet tiap 4-6
jam sekali
2.Amonium klorida
 Indikasi: mengencerkan dahak
 Mekanisme kerja: Efek ekspektoran diduga berdasarkan peningkatan
cairan disaluran napas dengan refleks melalui rangsangan selapit
lendir saluran cerna. Amonium klorida merupakan salah satu
komponen obat batuk hitam.
 Efek samping: Rasa mual, muntah, sakit kepala, , pusing, mengantuk,
nyeri lambung, hipokalemia.
 Kontraindikasi: Tidak dianjurkan digunakan pada penderita penyakit
hati, ginjal dan jantung kronik, karena dapat mengganggu
keseimbangan kimia darah yang mempengaruhi ekskresi obat.
 Dosis: Dewasa: dws: 3 sendok teh 1-3 kali sehari. Anak usia 6-12 th:
1 sendok teh, 1-3 kali sehari
2.Mukolitika
Obat yang mengencerkan sekret saluran napas dengan jalan
memecah benang-benang mukoprotein dan mukopolisakarida dari
sputum. Contoh mukolitika ialah bromheksin, ambroksol dan
asetilsistein.
1. Bromheksin
•Indikasi: memudahkan pengeluaran dahak.
•Mekanisme kerja: menghambat kerja sel yang menghasilkn dahak atau
mukus, sehingga menghasilkan dahak yang tidak kental dan mudah untuk
dikeluarkan.
•Efek samping: pusing, sakit kepala, mual, perut kembung, diare, gatal.
•Kontraindikasi: hipersensitivitas
•Farmakokinetik: bromhexin cepat diserap dari saluran pencernaan,
konsentrasi plasma puncak terjadi setelah sekitar 1 jam. Bromheksin
mengalami metabolisme lintas pertama yang ekstensif dihati dan
didistribusikan secara luas ke jaringan tubuh.
•Dosis: dws: 3 kali 4-8 mg sehari (Susanti, 2009) Anak usia 6-11 th: 4-8
mg diminum 3x sehari
2.Ambroksol
 Indikasi: mengencerkan dahak
 Mekanisme kerja: obat ini mengandung bahan aktif mucosolvan, lasolvan,
dan mucoangin. Zat-zat tersebut adalah obat muciaktif yang berperan
untuk mengembalikan mekanisme pembersihan saluran pernapasan
dengan merangsang surfaktan oleh pneumocytes tipe
 Efek samping: mual dan muntah, diare, sakit perut, sakit maag, perut
kembung, ruam merah pada kulit, bibir atau tenggorokan kering, lidah
terasa kelu
 Kontraindikasi: hipersensitivitas
 Farmakokinetik: ambroxol diberikan secara oral dan dapat diserap
dengan cepat. Di distribusikan ke dalam darah, jaringan dan paru-paru,
selain itu ambroxol melewati sawar plasenta, dimetabolisme di hati dan
di ekskresikan ke ASI
3.Asetilsistein
diberikan secara semprotan (nebulization) atau obat tetes hidung.
Indikasi: menurunkan viskositas sekret paru pada pasien radang
paru.
Mekanisme kerja: Aktivitas mukolitika zat ini langsung terhadap
mukoprotein dengan melepaskan ikatan disulfidanya, sehingga
menurunkan viskositas sputum.
Efek samping: spasme bronkus, terutama pada pasien asma, mual,
muntah, dada sesak, kantuk, demam, stomatisis, pilek, hemoptisis.
Kontraindikasi: asma kuat
Farmakokinetik: asetilsistein diabsorbsi dengan cepat melalui saluran
pencernaan, dimetabolisme di hati dan dinding saluran cerna dan
diekskresi melalui urin.
Obat batuk untuk batuk kering:
 Antitussiva
Bekerja sentral pada susunan saraf pusat menekan pusat batuk dan menaikkan
ambang rangsang batuk.Contoh antitussiva
1.DekstrometorfanHBr
 Indikasi: meredakan batuk kering yang muncul akibat infeksi tertentu.
 Mekanisme kerja: menekan dorongan untuk batuk yang berasal dari otak.
 Efek samping: Mual dan pusing. Pusing, sakit kepala, sakit perut, mengantuk.
 Kontraindikasi: asma, gangguan fungsi hati,sensitif terhadap dekstrometorfan
 Farmakokinetik: dekstrometorfan diabsorpsi dengan baik setelah pemberian
oral dalam 2,5 jam. Dimetabolisme di hepar
 Dosis: tablet, dewasa 60 mg, tiap 12 jam. Anak –anak 6-12 tahun: 30 mg, tiap
12 jam.
2.DipenhidraminHCl
 Indikasi: meredakan batuk yang disebabkan iritasi tenggorokan ringan
atau saluran pernapasan.
 Mekanisme kerja: Dipenhidramin mempunyai fungsi sebagai
antitussiva yang menyebabkan kantuk. Selain itu juga sebagai
antihistamin, sehingga sesuai untuk batuk yang disebabkan oleh alergi.
 Efek samping: mengantuk, pusing, nyeri kepala, dan gangguan
konsentrasi.
 Kontraindikasi: penderita asma, glaukoma sudut sempit
 Farmakokinetik: dipenhidrmain diabsorbsi dengan baik di saluran
pencernaan. Waktu untuk mencapai konsentrasi plasma puncak sekitar
1-4 jam.
 Dosis: Dewasa 1-2 kapsul (25 –50 mg), setiap 8 jam. Anak-anak 5
mg/kg bb sehari.
11.3.PEGGOLONGAN OBAT

NO. GOLONGAN ZAT AKTIF NAMA DAGANG


1. Mukolitika Asetilsistein Fluimucil
Fluimucil Pediatric
Pectocil
Bromhexin Exovon, mucotussan, b
romika,
Ambroxol Ambril
Bronchopront
2. Antitussiva Difenhidramin HCl Paradryl, ikadryl,
molexdryl
Dekstrometorfan Romilar
OB combi batk pilek,
Woods Pepermint
3. Ekspektoran Gliseril Guaiakolat Glyceryl guaiacolate,
hufagrip, vicks
formula 44 anak
Ammonium klorida OBH Molex,
Ramadryl
Atusin, Defadryl
expectorant, tropidryl
PENANGANAN DAN PEMILIHANOBAT

Tindakan penting adalah terutama berhenti merokok

Pengobatan farmakoterapi pada batuk pertama hendaknya ditujukan


pada mencari dan mengobati penyebabnya (terapi kausal), seperti
antibiotik terhadap infeksi kuman dari saluran pernafasan contoh
Pneumonia.