Anda di halaman 1dari 120

DND-2006

Apakah astrofisika itu ?


 Penerapan ilmu fisika pada alam semesta/benda-
benda langit
Informasi yang diterima Cahaya (gelombang
elektromagnet)
Pancaran gelombang elektromagnet dapat dibagi dalam
beberapa jenis, bergantung pada panjang gelombangnya
( )
1. Pancaran gelombang radio, dengan  antara
beberapa milimeter sampai 20 meter
2. Pancaran gelombang inframerah, dengan  ≈ 7500 Å
hingga sekitar 1 mm (1 Å = 1 Angstrom = 10-8 cm)

DND-2006
3. Pancaran gelombang optik atau pancaran kasatmata
dengan  sekitar 3 800Å sampai 7 500 Å
Panjang gelombang optik terbagi dlm beraneka warna:
 merah  : 6 300 – 7 500 Å
 merah oranye  : 6 000 – 6 300 Å
 oranye  : 5 900 – 6 000 Å
 kuning  : 5 700 – 5 900 Å
 kuning hijau  : 5 500 – 5 700 Å
 hijau  : 5 100 – 5 500 Å
 hijau biru  : 4 800 – 5 100 Å
 biru  : 4 500 – 4 800 Å
 biru ungu  : 4 200 – 4 500 Å
 ungu  : 3 800 – 4 200 Å

DND-2006
4. Pancaran gelombang ultraviolet, sinar X dan sinar 
mempunyai  < 3 500 Å

http://www.astro.uiuc.edu/~kaler/sow/spectra.html

DND-2006
teleskop optik
teleskop radio balon, satelit satelit balon, satelit

ozon (O3)

molekul ,atom, inti atom

molekul (H2O, CO2)

http://imagine.gsfc.nasa.gov/docs/introduction/emsurface.html
DND-2006
Dengan mengamati pancaran gelombang elektromagnet
kita dapat mempelajari beberapa hal yaitu,
 Arah pancaran. Dari pengamatan kita dapat menga-
mati letak dan gerak benda yang memancarkannya
 Kuantitas pancaran. Kita bisa mengukur kuat atau ke-
cerahan pancaran
 Kualitas pancaran. Dalam hal ini kita bisa mempe-
lajari warna, spektrum maupun polarisasinya

DND-2006
Informasi yang diterima dari benda-benda langit berupa
gelombang elektromagnet (cahaya)
 untuk mempelajarinya diperlukan pengetahuan
mengenai gelombang elektromagnet tersebut

DND-2006
Teori Pancaran Benda Hitam
Jika suatu benda disinari dengan radiasi elektromag-
netik, benda itu akan menyerap setidaknya sebagian
energi radiasi tersebut.
 temperatur benda akan naik
Jika benda tersebut menyerap semua energi yang
datang tanpa memancarkannya kembali, temperatur
benda akan terus naik
 Kenyataannya tidak pernah terjadi, mengapa?
 Karena sebagian energi yang diserap benda akan
dipancarkan kembali.

DND-2006
Apabila laju penyerapan energi lebih besar dari laju
pancarannya,
 temperatur akan terus naik
 akhirnya benda mencapai temperatur keseimbangan
dimana laju penyerapan sama dengan laju
pancarannya.
Keadaan ini disebut setimbang termal (setimbang
termodinamik).

DND-2006
Untuk memahami sifat pancaran suatu benda kita
hipotesakan suatu pemancar sempurna yang disebut
benda hitam (black body)
 Benda hitam adalah suatu benda yang menyerap
seluruh pancaran elektromagnetik (energi) yang
datang padanya
 Tidak ada pancaran yang dilalukan atau yang
dipantulkan
 Pada keadaan kesetimbangan termal, temperatur
benda hanya ditentukan oleh jumlah energi yang
diserapnya per detik
 Pada keadaan ini, sifat pancaran dapat ditentukan
dengan tepat

DND-2006
 Suatu benda hitam tidak memancarkan seluruh
gelombang elektromagnet secara merata. Benda
hitam bisa memancarkan cahaya biru lebih banyak
dibandingkan dengan cahaya merah, atau sebalik-
nya, bergantung pada temperaturnya.

Max Planck
(1858 – 1947)

DND-2006
2 h c2 1 . . . . . . . (2-15)
B (T) =
5 e hc/kT - 1
Apabila dinyatakan dalam frekuensi fungsi Planck
menjadi :
2h3 1 . . . . . . . . . (2-16)
B (T) =
c 2 e h/kT - 1

Buktikan !!!

DND-2006
Distribusi energi menurut panjang gelombang untuk pancaran
benda hitam dengan berbagai temperatur (Spektrum Benda
Hitam)
UV Visible Inframerah

8 000 K
Intensitas Spesifik [B(T)]

Intensitas spesifik benda


hitam sebagai fungsi
7 000 K panjang gelombang

6 000 K

5 000 K
4 000 K
0,00 0,25 0,50 0,75 1,00 1,25 1,50 1,75 2,00
 (m)
Makin tinggi temperatur benda hitam, makin tinggi pula intensitas
spesifiknya dan jumlah energi terbesar dipancarkan pada  pendek
DND-2006
Panjang gelombang maksimum bagi pancaran benda
hitam, yaitu  pada harga yang maksimum (maks) dapat
diperoleh dari syarat maksimum, yaitu,

d B(T) . . . . . . . . . . . . . . . (2-17)
=0
d
Garis
Singgung
Intensitas Spesifik [B(T)]

0,00 0,50 1,00 1,50 1,75 2,00


 (m)
DND-2006 λmak
0,2898
maks = . . . . . . . . . . . . (2-19)
T

Hukum Wien

Wihelm Wien
maks dinyatakan dalam cm dan T
(1864 – 1928) dalam derajat Kelvin

Apabila maks dinyatakan dalam frekuensi, hukum Wien


menjadi
hmaks = 2,821 kT . . . . . . . . . . . . . . (2-20)

DND-2006
Contoh penentuan maks

0,2898
maks =
8 000 K T
Intensitas

0,2898
=
8000
= 3,62 x 10-5 cm

= 0,36 μm

0 0.25 0.50 0.75 1.00 1.25 1.50 1.75 2.00


Panjang Gelombang
maks

DND-2006
Bintang sebagai Benda Hitam
Bintang dapat dianggap sebagai benda hitam. Hal ini
bisa dilihat dalam gambar berikut, yaitu distribusi energi
bintang kelas O5 (Tef = 54 000 K) sama dengan distri-
busi energi benda hitam dg temperatur T = 54 000 K.

Black Body
T = 54 000 K

Bintang Kelas O5
Tef = 54 000 K

DND-2006
Luminositas :
L = 4 R2 F = 4  R2 T4
Luas
permukaan bola
R
d Fluks F = L 2
Pancaran 4  R

L . (2-30)
Fluks E =
4  d2

DND-2006
Resume Luminositas L = 4  R 2  T4

Intensitas spesifik B(T) = I

R
1 cm
1 cm

Fluks F =  T4

Fluks pada jarak d : Energi d


yang melewati sebuah
permukaan bola yang
beradius d per detik per cm2
1 cm 1 cm
L
E=
4  d2

DND-2006
Contoh :
Berapakah kecerlangan sebuah bintang dibandingkan
dengan kecerlangan semula apabila jaraknya dijauhkan
3 kali dari jarak semula.
Jawab :
Misalkan dA jarak semula dan kecerlangannya adalah
EA. Jarak sekarang adalah dB = 3dA dan kecerlangannya
adalah EB. Jadi,
L
EA = 2
4  dA2 d
EB = EA A = EA
dA 2 1
= EA
L dB 3dA 9
EB =
4  dB2
Bintang lebih redup sebesar 1/9 kali dari kecerlangan
semula.
DND-2006
LATIHAN

DND-2006
1. Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa puncak
spektrum bintang A dan bintang B masing-masing
berada pada panjang gelombang 0,35 m dan 0,56
m. Tentukanlah bintang mana yang lebih panas,
dan seberapa besar perbedaan temperaturnya
2. Andaikan sebuah bintang A yang mirip dengan
Matahari (temperatur dan ukurannya sama) berada
pada jarak 250 000 AU dari kita. Berapa kali lebih
lemahkah penampakan bintang tersebut dibanding-
kan dengan Matahari?
3. Andaikan bintang B 1000 kali lebih terang daripada
bintang A (pada soal no.1 di atas) dan berada pada
jarak 25 kali lebih jauh dari bintang A. Bintang
manakah yang akan tampak lebih terang jika dilihat
dari Bumi? Berapa kali lebih terangkah bintang yang
lebih terang tersebut?
DND-2006
Fotometri Bintang

Keadaan fisis bintang dapat ditelaah baik dari spektrumnya maupun


dari kuat cahayanya.

 Pengukuran kuat cahaya bintang ini disebut juga fotometri


bintang.
Terang Bintang
 Terang suatu bintang dalam astronomi dinyatakan dalam satuan
magnitudo

 Hipparchus (abad ke-2 SM) membagi terang bintang dalam 6 (enam)


kelompok berdasarkan penampakan-nya dengan mata telanjang,

 Bintang paling terang tergolong magnitudo kesatu

 Bintang yang lebih lemah tergolong magnitudo kedua

 Dan seterusnya hingga bintang paling lemah yang masih bisa dilihat
dengan mata termasuk magnitudo ke-6

DND-2006
 Makin terang sebuah bintang, makin kecil magnitudonya

magnitudo 1 2 3 4 5 6

DND-2006
 John Herschel mendapatkan bahwa kepekaan mata
dalam menilai terang bintang bersifat logaritmik

 Bintang yang magnitudonya satu ternyata 100


kali lebih terang daripada bintang yang
magnitudo-nya enam

 Berdasarkan kenyataan ini, Pogson (Norman John Herschel


Robert Pogson) pada tahun 1856 mendefinisikan (1792-1871)
skala satuan magnitudo secara lebih tegas

DND-2006
 Harga tetapan ditentukan dengan mendefinisikan suatu titik nol.

 Awalnya sebagai standar magnitudo digunakan bintang Polaris


yang tampak di semua Observatorium yang berada di belahan
langit utara. Bintang Polaris ini diberi magnitudo 2 dan magnitudo
bintang lainnya dinyatakan relatif terhadap magnitudo bintang
polaris

 Tahun 1911, Pickering mendapatkan bahwa bintang Polaris,


cahayanya berubah-ubah (bintang variabel) dan Pickering
mengusulkan sebagai standar magnitudo digunakan kelompok
bintang yang ada di sekitar kutub utara (North Polar Sequence)

DND-2006
Magnitudo :  merupakan ukuran terang bintang yang kita lihat atau
terang semu (ada faktor jarak dan penyerapan yang
harus diperhitungkan)

 magnitudo semu magnitudo

Faktor jarak : m = -2,5 log E + tetapan


kuat cahaya
sebenarnya
L . . . . . . (4-4)
magnitudo E=
4  d2
semu

DND-2006
 Tinjau dua bintang :

m1 = magnitudo bintang ke-1


m2 = magnitudo bintang ke-2

E1 = fluks bintang ke-1

E2 = fluks bintang ke-2

Skala Pogson didefinisikan sebagai :

m1 – m2 = - 2,5 log (E1/E2) . . . . . . . . . .(4-1)

-(m1 - m2)
atau E1/E2 = 2,512 . . . . . . . . . . . .(4-2)

DND-2006
Untuk menyatakan luminositas atau kuat sebenarnya sebuah bintang, kita
definisikan besaran magnitudo mutlak :
 magnitudo bintang yang diandaikan diamati dari jarak 10
pc

 Skala Pogson untuk magnitudo mutlak ini adalah,

M = -2,5 log E’ + tetapan . . . . . . . (4-5)

L . . . . . (4-6)
magnitudo E’ =
4  102
mutlak
L . . . . . (4-7)
Jadi M = -2,5 log + tetapan
4  102

DND-2006
Dari rumus Pogson dapat kita tentukan perbedaan magnitudo mutlak dua
bintang yang luminositasnya masing-masing L1 dan L2, yaitu,

L
Dari rumus pers (4-7) : M = -2,5 log + tetapan
4 102

L1
Untuk bintang ke-1 : M1 = -2,5 log + tetapan
4 102
L2
Untuk bintang ke-2 : M2 = -2,5 log + tetapan
4 102

L1
M1 - M2 = -2,5 log . . . (4-10)
L2

DND-2006
Dari pers. (4-3) : m = -2,5 log E + tetapan

Dari pers. (4-7) : M = -2,5 log E’ + tetapan

m – M = -2,5 log E/E’ . . . . . . . (4-8)

L
Subtitusikan pers. (4-4) : E=
4  d2
L
dan pers. (4-6) : E’ =
4  102

ke pers (4-8) diperoleh,

m – M = -5 + 5 log d . . . . . . . . (4-9)

modulus jarak d dalam pc

DND-2006
Contoh :
Magnitudo mutlak sebuah bintang adalah M = 5 dan magnitudo semunya
adalah m = 10. Jika absorpsi oleh materi antar bintang diabaikan,
berapakah jarak bintang tersebut ?

Jawab :

m = 10 dan M = 5, dari rumus Pogson

m – M = -5 + 5 log d
diperoleh, 10 – 5 = -5 + 5 log d

5 log d = 10

log d = 2 d = 100 pc

DND-2006
Sistem Magnitudo
Sebelum perkembangan fotografi, magnitudo bintang ditentukan dengan
mata.

 Kepekaan mata untuk daerah panjang gelombang yang berbeda tidak


sama

 Mata terutama peka untuk cahaya kuning hijau di daerah  = 5 500 Å,


karena itu magnitudo yang diukur pada daerah ini disebut magnitudo
visual atau mvis

DND-2006
Dengan berkembangnya fotografi, magnitudo bintang selanjutnya ditentukan
secara fotografi.

 Pada awal fotografi, emulsi fotografi mempunyai kepekaan di daerah


biru-ungu pada panjang gelombang sekitar 4 500 Å.

 Magnitudo yang diukur pada daerah ini disebut magnitudo fotografi


atau mfot

Sebagai contoh kita ambil perbandingan hasil pengukuran magnitudo visual


dengan magnitudo fotografi untuk bintang Rigel dan Betelgeuse yang
berada di rasi Orion. Rigel berwarna biru sedangkan Betelgeuse berwarna
merah.

DND-2006
Perbandingan bintang Rigel dan Betelgeuse.

Rigel (berwarna biru) Betelgeuse (berwarna merah)

 Menurut Hukum Planck dan  Temperatur permukaan-


Wien, temperatur permukaan nya lebih rendah daripada
bintang Rigel lebih tinggi Rigel
daripada Betelgeuse
 Akan memancarkan lebih  Akan memancarkan lebih
banyak cahaya biru daripada banyak cahaya kuning
cahaya kuning daripada cahaya biru
 Diamati secara fotografi akan  Diamati secara visual akan
tampak lebih terang daripada tampak lebih terang
diamati secara visual (mvis daripada diamati secara
besar dan mfot kecil). fotografi (mvis kecil dan mfot
besar).

DND-2006
Jadi untuk suatu bintang, mvis berbeda dari mfot. Selisih kedua magnitudo
tersebut, dinamakan indeks warna (Color Index – CI).

CI = mfot  mvis . . . . . . . . . . .(4-11)

 Makin panas atau makin biru suatu bintang, semakin kecil indeks
warnanya.

DND-2006
Distribusi energi bintang Rigel
mfo mvi
t s

mfot = - 0,03
mfot - mvis = indeks warna
mvis = 0,14

CI = - 0,17
mag

mvis besar, mfot kecil  CI kecil

DND-2006
Distribusi energi bintang Betelgeus
mfo mvi
t s

mfot = 2,14
mfot - mvis = indeks warna
mvis = 0,70

CI = 1,44
mag

mvis kecil, mfot besar  CI besar


DND-2006
Karena ada perbedaan antara mvis dan mfot , maka perlu diadakan
pembakuan titik nol kedua magnitudo tersebut.

mvis = - 2,5 log Evis + Cvis . . . . . . . . . . . . . (4-12)

mfot= - 2,5 log Efot + Cfot . . . . . . . . . . . . . (4-13)

Evis = fluks dalam daerah visual

Efot= fluks dalam daerah fotografi


Cvis dan Cfot adalah tetapan

Tetapan Cvis dan Cfot dapat diambil sedemikian rupa sehingga untuk bintang
deret utama yang spektrumnya termasuk kelas A0 (akan dibicarakan
kemudian) harga mvis = mfot

DND-2006
Contoh bintang deret utama dengan kelas spektrum A0 adalah bintang
Vega.

 Berdasarkan definisi indeks warna bintang Vega adalah nol (CI = 0)

 Jadi bintang yang lebih biru atau lebih panas daripada Vega, misalnya
bintang Rigel indeks warnanya akan negatif.

 Bintang yang lebih merah atau lebih dingin daripada Vega, misalnya
bintang Betelgeuse indeks warnanya akan positif

Rigel : mfot = -0,03, mvis = 0,14 CI =  0,17

Betelgeuse : mfot = 2,14, mvis = 0,70 CI = 1,44

DND-2006
Dengan berkembangnya fotografi, selanjutnya dapat dibuat pelat foto yang
peka terhadap daerah panjang gelombang lainnya, seperti kuning, merah
bahkan inframerah.

Pada tahun 1951, H.L. Johnson dan W.W. Morgan mengajukan sistem
magnitudo yang disebut sistem UBV, yaitu

 U = magnitudo semu dlm daerah ultraungu (ef = 3500 Å)

 B = magnitudo semu dlm daerah biru (ef = 4350 Å)

 V = magnitudo semu dlm daerah visual (ef = 5550 Å)

DND-2006
1,0
U
B
0,8
V

0,6
Kepekaan

0,4

0,2

0,0
3000 4000 5000 6000
 (Å)

Daerah kepekaan pe-ngukuran magnitudo U, B dan V

DND-2006
Dalam sistem Johnson – Morgan (sistem UBV)
 Indeks warna adalah U-B dan B-V
 Untuk bintang panas B-V kecil.

 Harga tetapan dalam pers. (4-3)

m = -2,5 log E + tetapan

diambil sedemikian rupa sehingga untuk bintang deret utama kelas A0


(misalnya bintang Vega)

U=B=V CI = 0

DND-2006
Contoh :
Tiga bintang diamati magnitudonya dalam  visual (V) dan
biru (B) seperti yang diperlihatkan dalam tabel di bawah.
No. B V
1 8,52 8,82
2 7,45 7,25
3 7,45 6,35

a. Tentukan bintang nomor berapakah yang paling terang ?


Jelaskanlah alasannya
b. Bintang yang dipilih sebagai bintang yang paling terang
itu dalam kenyataannya apakah benar-benar merupakan
bintang yang paling terang ? Jelaskanlah jawaban anda.
c. Tentukanlah bintang mana yang paling panas dan mana
yang paling dingin. Jelaskanlah alasannya.
DND-2006
Jawab :

a. Bintang paling terang adalah bintang yang magnitudo visualnya paling


kecil. Dari tabel tampak bahwa bintang yang magnitudo visualnya
paling kecil adalah bintang no. 3, jadi bintang yang paling terang
adalah bintang no. 3

No. B V
1 8,52 8,82
2 7,45 7,25
3 7,45 6,35

DND-2006
Jawab :

b. Belum tentu karena terang suatu bintang bergantung pada jaraknya ke


pengamat seperti tampak pada rumus

L
V = -2,5 log E + tetapan, dan E=
4d2

dimana E adalah terang bintang, L luminositas bintang dan d adalah


jarak bintang ke pengamat. Oleh karena itu bintang yang sangat terang
bisa tampak sangat lemah cahayanya karena jaraknya yang jauh.

DND-2006
Jawab :

c. Makin panas atau makin biru sebuah bintang, indeks warnanya akan
semakin kecil

No. Btg B V B-V


1 8,52 8,82 -0,30
2 7,45 7,25 0,20
3 7,45 6,35 1,10

Dari tabel di atas tampak bintang yang mempunyai indeks warna


terkecil adalah bintang no. 1. Jadi bintang terpanas adalah bintang no.
1.

DND-2006
Berbagai Sistem Magnitudo

 Efektif Lebar Pita


Magnitudo Warna
(Å) (Å)
Sistem UGR U Ultraviolet 3 690
dari Becker G Hijau 4 680 500 – 700
R Merah 6380
Sistem UBV U Ultraviolet 3 500
dari Johnson B Biru 4 350 800 – 1000
dan Morgan
V Kuning 5 550
Sistem u Ultraviolet 3 500
Stromgren v Violet 4 100
(Sistem  200
ubvy) b Biru 4 670
y Hijau 5 470

DND-2006
Berbagai Sistem Magnitudo

 Efektif (Å) Lebar Pita


Magnitudo Warna
(Å)
U Ultraviolet 3 550
V Violet 4 200
Sistem
Stebbins B Biru 4 900
600 - 1500
dan G Hijau 5 700
Withford R Merah 7 200
I inframerah 10 300

DND-2006
 Sistem dengan lebar pita (band width) yang sempit seperti sistem
Stromgren dapat memberikan informasi yang lebih cermat, tetapi sistem
ini memerlukan waktu pengamatan yang lebih lama.

 dalam suatu selang waktu jumlah cahaya yang ditangkap detektor


lebih sempit

Dewasa ini pengamatan fotometri tidak lagi menggunakan pelat


film, tetapi dilakukan dengan menggunakan kamera CCD (digital),

! sehingga untuk menentukan bermacam-macam sistem magnitudo


hanya ditentukan oleh filter yang digunakan.

DND-2006
Magnitudo Bolometrik
 Berbagai magnitudo yang telah kita bicarakan belum bisa
menggambarkan sebaran energi pada spektrum bintang, karena
magnitudo ini hanya diukur pada λ tertentu saja.

 Untuk itu didefinisikan magnitudo bolometrik (mbol) yaitu magnitudo


bintang yang diukur dalam seluruh λ.

 Rumus Pogson untuk magnitudo semu bolometrik dituliskan sebagai,

mbol = -2,5 log Ebol + Cbol . . . . . . . . . (4-14)

L
Fluks bolometrik E = tetapan
4d2

DND-2006
Magnitudo mutlak bolometrik diberi simbol Mbol
 Magnitudo mutlak bolometrik mempunyai arti penting karena kita dapat
memperoleh informasi mengenai energi total yang dipancarkan suatu
bintang per detik (luminositas) yaitu dari rumus,

Mbol – Mbol = -2,5 log L/L . . . . . . . . (4-15)

Mbol : magnitudo mutlak bolometrik bintang

Mbol : magnitudo mutlak bolometrik Matahari = 4,75

L : Luminositas bintang
L : Luminositas Matahari = 3,83 x 1033 erg/det

DND-2006
 Magnitudo bolometrik sukar ditentukan karena beberapa panjang
gelombang tidak dapat menembus atmosfer Bumi.

 Bintang yang panas sebagian besar energinya dipancarkan pada


panjang gelombang ultraviolet, sedangkan bintang yang dingin, sebagian
besar energinya dipancarkan pada panjang gelombang inframerah.
Keduannya tidak dapat menembus atmosfer Bumi.

 Magnitudo bolometrik bintang-bintang panas dan dingin ini ditentukan


secara teori, atau penentuannya dilakukan di luar atmosfer Bumi.

DND-2006
 Cara lain adalah cara tidak langsung, yaitu dengan memberikan koreksi
pada magnitudo visualnya.

Magnitudo visual adalah, V = -2,5 log EV + CV

Magnitudo bolometrik adalah, mbol = -2,5 log Ebol + Cbol

Dari dua persamaan ini diperoleh,

V - mbol = -2,5 log EV / Ebol + C

Atau V – mbol = BC . . . . . . . . . . . . . . . . . (4-16)

BC disebut koreksi bolometrik (bolometric correction) yang harganya


bergantung pada temperatur atau warna bintang

DND-2006
 Koreksi bolometrik dapat juga dituliskan sebagai,

mv – mbol = BC . . . . . . . . . . . . . . (4-17)

mv adalah magnitudo visual

 Dalam magnitudo mutlak koreksi bolometrik dituliskan sebagai,

Mv – Mbol = BC . . . . . . . . . . . . . . (4-18)

DND-2006
 Untuk bintang yang sangat panas atau sangat dingin,

 sebagian besar energinya dipancarkan pada daerah ultraviolet atau


inframerah, hanya sebagian kecil saja dipancarkan pada daerah
visual.

 koreksi bolometriknya besar

 Untuk bintang yang temperaturnya sedang, seperti Matahari,

 sebagian besar energinya dipancarkan dalam daerah visual hingga


perbedaan antara mbol dan V kecil.

 koreksi bolometriknya mencapai harga terkecil.

Koreksi bolometrik bergantung pada warna bintang !

DND-2006
Hubungan antara BC dengan B-V
2,00
Koreksi bolometrik yang minimum (BC
= 0) terjadi pada harga B – V = 0,30

1,50

Untuk bintang lainnya, apabila B – V


diketahui, maka BC dapat ditentukan
1,00
Bintang Deret Utama

Contoh, bintang Vega harga B – V = 0,


0,50 Bintang Maharaksasa

Jadi harga koreksi bolome-triknya


adalah BC = 0,15
0,00

-0,40 0,00 0,40 0,80 1,20

DND-2006
B-V
Tabel 4.1. Temperatur efektif dan koreksi bolometrik untuk bintang-bintang Deret
Utama dan Bintang Maharaksasa.

Bintang Bintang Bintang Bintang


B - V Deret Utama Maharaksasa B-V Deret Utama Maharaksasa
Teff BC Teff BC Teff BC Teff BC
-0,25 24500 2,30 26000 2,20 0,30 7450 0 6800 -0,100
-0,23 21000 2,15 23500 2,05 0,40 6800 0 6370 -0,090
-0,20 17700 1,80 19100 1,72 0,50 6310 0,03 6020 -0,070
-0,15 14000 1,20 14500 1,12 0,60 5910 0,07 5800 -0,003
-0,10 11800 0,61 12700 0,53 0,70 5540 0,12 5460 0,003
-0,05 10500 0,33 11000 0,14 0,80 5330 0,19 5200 0,100
0,00 9480 0,15 9800 -0,01 0,90 5090 0,28 4980 0,190
0,10 8530 0,04 8500 -0,09 1,00 4840 0,40 4770 0,300
0,20 7910 0 7440 -0,10 1,20 4350 0,75 4400 0,590
DND-2006
LATIHAN

DND-2006
1. Andaikan sebuah bintang yang mirip dengan Matahari (temperatur dan
luminositasnya sama) berjarak 100 juta kali lebih jauh dari jarak Bumi-
Matahari. Berapa kali lebih terang atau lebih lemahkah bintang
tersebut daripada Matahari? Berapakah magnitudo semu bintang
tersebut? Apakah bintang ini bisa tampak dengan mata telanjang atau
tidak ? Jelaskan jawabnmu.

2. Bintang A mempunyai magnitudo semu 3,26, dan bintang B magnitudo


semunya 13,26. Bintang manakah yang lebih terang ? Bagaimanakah
perbandingan energi yang kita terima dari kedua bintang tersebut?

3. Jika kedua bintang dalam soal nomor 2 mempunyai magnitudo mutlak


yang sama, bintang manakah yang lebih dekat? berapakah
perbandingan jarak kedua-nya?

4. Andaikan magnitudo mutlak bintang dalam soal no. 2 adalah M = 8,26.


Tentukanlah jarak setiap bintang dalam parseks.

DND-2006
5. Tabel di bawah ini memperlihatkan magnitudo mutlak Matahari dan
dua bintang yang lebih terang (bintang A) dan yang lebih lemah
(bintang B) daripada Matahari.

Objek M
Matahari +5
Bintang A -10
Bintang B +15

a. Berapa kali lebih terangkah bintang A dibanding-kan dengan


bintang B.
b. Jika luminostas Matahari adalah 4 x 1026 watts, tentukanlah
luminositas bintang A dan B.

DND-2006
SPEKTROSKOPI

DND-2006
Hukum Kirchoff (1859)
1. Bila suatu benda cair atau gas
bertekanan tinggi dipijarkan, benda
tadi akan memancarkan energi dengan
spektrum pada semua panjang
gelombang

Gustav R. Kirchoff
(1824 – 1887)
Spektrum Kontinu

DND-2006
2. Gas bertekanan rendah bila dipijarkan akan
memancarkan energi hanya pada warna, atau
panjang gelombang tertentu saja. Spektrum yang
diperoleh berupa garis-garis terang yang disebut garis
pancaran atau garis emisi. Letak setiap garis atau
panjang gelombang garis tersebut merupakan ciri gas
yang memancarkannya.

Spektrum Garis
Gas panas

DND-2006
3. Bila seberkas cahaya putih dengan spektrum kontinu
dilewatkan melalui gas yang dingin dan renggang
(bertekanan rendah), gas tersebut tersebut akan
menyerap cahaya tersebut pada warna atau panjang
gelombang tertentu. Akibatnya akan diperoleh
spektrum kontinu yang berasal dari cahaya putih yang
dilewatkan diselang-seling garis gelap yang disebut
garis serapan atau garis absorpsi.

Gas dingin Spektrum Kontinu & garis absorpsi

DND-2006
garis absorpsi
Gas Slit Prisma
Sumber
Cahaya
6000 K 5000 K Sektrum kontinu

garis emisi

DND-2006
SUN SPECTRUM

DND-2006
ETA CARINA EMISSION NEBULA

DND-2006
Deret Balmer
Apabila seberkas gas hidrogen dipijarkan akan
memancarkan sekumpulan garis terang atau garis emisi
dengan jarak antar satu dan lainnya yang memperlihatkan
suatu keteraturan tertentu. Menurut Balmer (ahli fisika dari
Swiss), panjang gelombang garis emisi tersebut mengikuti
hukum

Johann J. Balmer
(1825 – 1898)
1 1 1
=R . . . . . . . . . . . (5-1)
 22 n2

 = panjang gelombang, n = bilangan bulat 3, 4, 5, . . . . dan R = suatu


tetapan

DND-2006
Untuk :
n=3 deret Balmer pertama : H pada  = 6563 Å
n=4 deret Balmer kedua : H pada  = 4861 Å

n=5 deret Balmer ketiga : H pada  = 4340 Å

n=6 deret Balmer keempat : H pada  = 4101 Å


.
.
.

n= limit deret Balmer pada = 3650 Å

H H H H

4 5 000 6 000
000 (Å)
DND-2006
Setelah ditemukan deret Balmer ditemukan deret hidrogen lainnya, dan
persamaan deret Balmer masih tetap berlaku dengan mengubah 22 menjadi
m2 dimana m adalah bilangan bulat mulai dari 1, 2, 3, . . . .

1 1 1
=R . . . . . . . . . . . . (5-2)
 m2 n2

Konstanta Rydberg
Apabila  dinyatakan dalam cm
maka R = 109 678
m=1 ditemukan deret Lyman dengan n = 2, 3, …

m=2 ditemukan deret Balmer dengan n = 3, 4, …

m=3 ditemukan deret Paschen dengan n = 4, 5, …


m=4 ditemukan deret Brackett dengan n = 5, 6, …

DND-2006
Kontinum untuk elektron bebas


4
3
H H H
2
Deret Balmer
13,6 eV
L L L

Deret Lyman
n=1
Tingkat energi dasar

DND-2006
Teori Atom Hidrogen Bohr
 Atom hidrogen terdiri dari inti yang
bermuatan positif (proton) yang dikelilingi
oleh sebuah elektron
Massa proton (M) >> massa elektron (me)
tingkat energi
 orbit dapat dianggap lingkaran
Misalkan : N.H.D. Bohr
r = jarak elektron-proton (1885 – 1962)
proton v = kecepatan elektron
r
elektron - +

v E = energi yang dipancarkan elektron

elektron berada dalam orbitnya


dalam pengaruh gaya sentral yg
disebabkan gaya elektrostatik

DND-2006
Energi elektron terdiri dari :
Energi kinetik (EK) dan energi potensial (EP)

Energi total elektron adalah,

E = EK + EP . . . . . . . . . . . . . . (5-3)

EK = 1 m v2 . . . . . . . . . . . . . . (5-4)
e
2
Menurut Coulomb, gaya elektrostatik antara proton dan elektron adalah,

kq2 muatan elektron


F= . . . . . . . . . . . . . . . . (5-5)
r2

DND-2006
Supaya elektron tetap stabil dalam orbitnya, gaya elek-trostatik ini harus
diimbangi oleh gaya sentrifugal

Me v 2
F= . . . . . . . . . . . . . . . . (5-6)
r
kq2
Dari pers (5-5) : F= dan pers. (5-6) diperoleh,
r2
mev2 kq2 kq2
= v= . . . . . . . (5-7)
r r2 mer

Subtitusikan pers. (5-7) ke pers. (5-4) : EK = 1 m v2


e
2
diperoleh,
kq2
EK = 1 m v2 = 1 . . . . . . . . . . . (5-8)
e
2 2 r

DND-2006
Energi potensial elektron dalam orbitnya adalah,
r
kq2 kq2
EP = dr =  . . . . . . . . . . . (5-9)
r2 r

berarti tarik menarik
Dari pers. (5-3), (5-8) dan (5-9) diperoleh,

kq2 kq2 kq2


E= 1 . . . . . . . . . (5-10)
=
2 r r 2r

Momentum sudut elektron pada orbitnya dinyatakan oleh,

H = me v r = q(kmer)1/2 . . . . . . . . . (5-11)

DND-2006
Menurut Bohr, elektron hanya dapat bergerak mengelilingi proton pada orbit
tertentu dan jarak orbit tersebut (r) memungkinkan momentum sudut
elektron di sekitar inti mempunyai harga yang diberikan oleh kelipatan

h konstanta Planck
2

konsep ini disebut momentum sudut yang terkuantisasi


 elektron terkuantisasi
Jadi menurut Bohr, momentum sudut elektron dapat dinyatakan oleh,

nh
H= . . . . . . . . . . . . . . . . . . (5-12)
2
n = 1, 2, 3, . . . . = tingkat energi

DND-2006
nh
Dari pers. (5-11) : H = q(kme r)1/2 dan (5-12) : H=
2
nh
diperoleh, = q(kme r)1/2 . . . . . . . . . . . . . . . (5-13)
2

Karena itu radius orbit Bohr dapat dinyatakan oleh,

n2 h2
r= . . . . . . . . . . . . . . . (5-14)
4 2 kq2 me

e = 1,602 × 10−19 coulomb (muatan elektron)


me = 9,1096 x 10-29 kg
h = 6,55 x 10-34 J s
Jika harga-harga ini dimasukan ke pers. (5-14) dan ambil n = 1 maka
diperoleh,

DND-2006
r = 5,3 x 10-8 mm = 0,53 Å

n2 h2
Apabila harga r dalam pers. (5-14) : r=
4 2 kq2 me
kq2
disubtitusikan ke, pers. ( 5-10) : E=
2r
akan diperoleh energi orbit Bohr yaitu,

2 2 k2q4 me 13,6
En = = eV . . . . . . . . . (5-15)
n2 h2 n2
Untuk atom yg berada pada tingkat dasar (ground state)
 n=1
E =  13,6 eV . . . . . . . . . . . . (5-16)

melepaskan elektron

DND-2006
Apabila elektron berpindah dari tingkat n ke tingkat m (m > n)

 elektron akan kehilangan energi.


 Energi ini akan dipancarkan sebagai foton atau
butiran cahaya dengan energi sebesar h (h adalah
konstanta Planck dan  adalah frekuensi foton)
13,6
Dari pers. 5-15 : En = eV
n2
akan diperoleh,
13,6 13,6 1 1
h = Em – En = = 13,6 . . (5-17)
m2 n2 m2 n2

DND-2006
Oleh karena  = c/, maka
1 1
pers. (5-17) : h = 13,6
m2 n2

hc 1 1
dapat dituliskan menjadi, = 13,6 . . (5-18)
 m2 n2

Apabila harga c dan h dimasukan ke pers. (5-18) maka akan diperoleh,

Sama dengan 1 1 1
yang ditemukan = 109 678 . . . . . . . (5-19)
oleh Balmer  m2 n2
secara empiris
Konstanta Rydberg (R),
 dinyatakan dalam cm

DND-2006
 Suatu atom yang elektronnya berada ditingkat yang
lebih tinggi dari tingkat dasar, dikatakan atom
tersebut berada dalam keadaan tereksitasi
 Pada umumnya suatu atom berada keadaan
tereksitasi di tingkat energi tertentu hanya dalam
waktu yang singkat, sekitar 10-8 detik.
 Selanjutnya elektron akan kembali lagi ke tingkat
yang lebih rendah dengan disertai pemancaran
foton, atau dapat juga meloncat ke tingkat yang
lebih tinggi dengan menyerap foton.

DND-2006
Tingkat energi Atom
Diagram tingkat energi atom

Elektron bebas

deeksitasi eksitasi

proton
4 3 2 1
Tingkat energi
h
h

tingkat energi eksitasi deeksitasi


elektron

DND-2006
SPEKTRUM BINTANG

DND-2006
Photons
Atmosfer bintang temp.
lebih dingin sehingga
menyerap foton

Bintang

Fotosfer merupakan
sumber spektrum kontinum

DND-2006
B Garis Emisi

A Garis Absorpsi
Bintang

Atmosfer
Garis Emisi

Kalau atmosfernya tipis,


garis emisi tidak teramati
Spektrum Kontinu, berasal dari
fotosfer bintang

DND-2006
Klasifikasi Spektrum Bintang

 Klasifikasi Miss Annie J. Cannon.


O, B, A, F, F, G, K, M

A. J. Cannon
(1863 – 1941)

Oh, Be, A, Fine, Girl, Kiss, Me

DND-2006
Perjalanan Klasifikasi Spektrum Bintang
Klasifikasi Tipe1, Tipe II, Tipe III, Tipe IV,
Secchi Tipe V
Klasifikasi Miss Kelas A, B, C, D, E, F, G, H, I, J,
A. Maury K, L, M, N, O, P dan Q
Klasifikasi Miss. Kelas O, B, A, F, G, K, M
Annie J. Cannon

DND-2006
Klasifikasi Spektrum Bintang

Kls. Spek : O
Warna : Biru
Temperatur : > 30 000 K
Ciri Utama : Garis absorpsi yang tampak sangat sedikit. Garis
helium terionisasi, garis nitrogen terionisasi dua
kali, garis silikon terionisasi tiga kali dan garis
atom lain yg terionisasi beberapa kali tampak, tapi
lemah. Garis hidrogen juga tampak, tapi lemah.
Contoh : Bintang 10 Lacerta
Hh Hz He H H He II H H

DND-2006 He I
Spektrum Bintang Kelas O
600

Hh
500 Hz
He
400
H
Intensitas

H
300
HeII
HeII
200 H

100 H

0
3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500
Panjang Gelombang (Å)

DND-2006
Kls. Spek : B

Warna : Biru
Temperatur : 11 000 – 30 000 K

Ciri Utama : Garis helium netral, garis silikon terionisasi satu


dan dua kali serta garis oksigen terionisasi
terlihat. Garis hidrogen lebih jelas daripada kelas
O
Contoh : Bintang Rigel dan Spica

Hq Hh Hz He H H H H

He I He I
He II
DND-2006
Spektrum Bintang Kelas B
400
Hz
Hh HeHeI (4026)
350
Hq
HHeI (4744)
300
H
250 HeI (4471)
Intensitas

200
H
150

100
H

50

0
3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500
Panjang Gelombang (Å)

DND-2006
Kls. Spek : A

Warna : Biru
Temperatur : 7 500 – 11 000 K
Ciri Utama : Garis hidrogen tampak sangat kuat. Garis
magnesium silikon, besi, titanium dan kalsium
terionisasi satu kali mulai tampak. Garis logam
netral tampak lemah.
Contoh : Bintang Sirius dan Vega

Hq Hh Hz He H H H H

DND-2006
Spektrum Bintang Kelas A
200

180 He H
Hh Hz H
160

140 H
Hq
120
Intensitas

100
H
80

60

40

20

0
3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500
Panjang Gelombang (Å)

DND-2006
Kls. Spek : F
Warna : Biru keputih-putihan
Temperatur : 6 000 – 7 500 K
Ciri Utama : Garis hidrogen tampak lebih lemah daripada
kelas A, tapi masih jelas. Garis-grais kalsium,
besi dan chromium terionisasi satu kali dan juga
garis besi dan chromium netral serta garis logam
lainnya mulai terlihat.
Contoh : Bintang Canopus dan Proycon
Hq Hh Hz He H H H H

K Lines G Band K line = Ca II (


H Lines
3934)
H line = Ca II (
3968)
G Band = Molekul CH ( 4323)
DND-2006
Spektrum Bintang Kelas F
140
K+H LinesG band

120

100
Intensitas

80

60

40
Hz
He H H H H
20

0
3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500
Panjang Gelombang (Å)

DND-2006
Kls. Spek : G
Warna : Putih kekuning-kuningan
Temperatur : 5 000 – 6000 K

Ciri Utama : Garis hidrogen lebih lemah daripada kelas F.


Garis calsium terionisasi terlihat. Garis-garis
logam terionisasi dan logam netral tampak. Pita
molekul CH (G-Band) tampak sangat kuat.
Contoh : Matahari dan Bintang Capella
H Lines
Hz H H H Mg I Mg I H

K Lines G Band
DND-2006
Spektrum Bintang Kelas G
140
K+H Lines
120 G band

100
Intensitas

80

60

40

H H H Mg I Mg I H
20
He
0
3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500
Panjang Gelombang (Å)

DND-2006
Kls. Spek : K
Warna : Jingga kemerah-merahan
Temperatur : 3 500 – 5000 K
Ciri Utama : Garis logam netral tampak mendominasi. Garis
hidrogen lemah sekali. Pita molekul TiO mulai
tampak
Contoh : Bintang Acturus dan Aldebaran

Ca I (4227) H H
H Lines Mg I
(tidak tampak)
Mg I (sudah tidak tampak)

K Lines G Band

DND-2006
Spektrum Bintang Kelas K
120

100

80
Intensitas

G band
60
H Lines
40 K Lines

Ti O
20 H H H Mg I Mg I H
Fe
Ca I I
0
3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500
Panjang Gelombang (Å)

DND-2006
Kls. Spek : M

Warna : Merah
Temperatur : 2 500 – 3 000 K

Ciri Utama : Pita molekul Tio ( titanium oksida) terlihat sangat


mendominasi, garis logam netral juga tampak
dengan jelas.
Contoh : Bintang Betelgeues dan Antares
K Lines
Ca I (4227Ti
) O Ti O Mg I Ti O Ti O H
Tidak tampak

G Band
H Lines

DND-2006
Spektrum Bintang Kelas M
300

250

200
Intensitas

150 Ti O
Ti O Ti O
Mg I
Ti O
100

Ca I
50

0
3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500
Panjang Gelombang (Å)

DND-2006
Urutan Kelas Spektrum Bintang
O 50 000 oK

B 20 000 oK

A 10 000 oK

F 7 500 oK

G 6 000 oK

K 4 000 oK

M 3 500 oK

DND-2006
Subkelas
Klasifikasi spektrum bintang O, B, A, F, G, K, M masih dibagi lagi dalam
subkelas, yaitu

B0, B1, B2, B3, . . . . . . . . ., B9

A0, A1, A2, A3, . . . . . . . . ., A9

F0, F1, F2, F3, . . . . . . . . . ., F9


.
.
.

dst

DND-2006
H
CaII

HeI
HeI TiO
Kuat garis
Spektrum

I CaI
FeI
MgII FeII
SiIII SiII

B0 A0 F0 G0 K0
M0 Kls
Spektrum
Perubahan kuat garis unsur tertentu untuk berbagai kelas
spektrum

 Astronom menggunakan nama logam untuk semua


unsur yang lebih berat dari helium
DND-2006
Kelas Luminositas
 Bintang dalam kelas spektrum tertentu ternyata
dapat mempunyai luminositas yang berbeda. Pada
tahun 1913 Adam dan Kohlscutter di Observatorium
Mount Wilson menunjukkan ketebalan beberapa
garis spektrum dapat digunakan untuk menentukan
luminositas bintang
 Berdasarkan kenyataan ini pada tahun 1943 Morgan
dan Keenan dari Observatorium Yerkes membagi
bintang dalam kelas luminositas yaitu

DND-2006
Kelas Luminositas Bintang (Kelas MK)

Kelas Ia Maharaksasa yang sangat terang


Kelas Ib Maharaksasa yang kurang terang
Kelas II Raksasa yang terang
Kelas III Raksasa
Kelas IV Subraksasa
Kelas V Deret utama
Kelas Luminositas Bintang dari Morgan-Keenan (MK) digambarkan dalam
diagram Hertzprung-Russell (diagram H-R)

DND-2006
Klasifikasi spektrum bintang sekarang ini merupakan penggabungan dari
kelas spektrum dan kelas luminositas.

Contoh :

G2 V : Bintang deret utama kelas spektrum G2


G2 Ia : Bintang maharaksasa yang sangat terang kelas
spektrum G2
B5 III : Bintang raksasa kelas spektrum B5
B5 IV : Bintang subraksasa kelas spektrum B5

DND-2006
Spektrum Bintang Subkelas V
He Hδ Hγ Hβ H

O5 V
B0 V
B5 V
A1 V
A5 V
F0 V
F5 V
G0 V
G4 V
K0 V
K5 V
M0 V
M5 V

DND-2006
Spektrum Bintang Deret Utama Kelas O-K
Hh Hz He H H H H

O5
O7-
B0
B3-4

B6
Intensitas Relatif

A1-3
A5-7

A8
A9-F5
F6-7
F8-9

G1-2
G6-8
G9-
K0

3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500

Panjang Gelombang (Å)


DND-2006
Spektrum Bintang Deret Utama Kelas K-M
Ti O H sudah tidak tampak

K4
K5

M2
Intensitas Relatif

M4

3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500

Panjang Gelombang (Å)

DND-2006
Diagram Hertzsprung-Russel (H-R)
Pada tahun 1911, seorang astronom Denmark
bernama Eijnar Hertzsprung membandingkan
hubungan antara magnitudo & indeks warna di dalam
gugus Pleiades dan Hyades.

Ejnar Herztprung
Henry Norris Russel (1873 – 1967)
(1877 – 1957)
Kemudian pada 1913, Henry Norris Russell, seorang
Ph.D dari Universi-tas Princeton, membuat plot
hubung-an antara magnitudo mutlak & spektrum
bintang

DND-2006
 Hasil yang mereka peroleh sekarang dikenal sebagai diagram
Hertzsprung-Russell atau diagram H-R.

 Diagram H-R ini menunjukkan hubungan luminositas (atau besaran


lain yang identik, seperti magnitudo mutlak) dan temperatur efektif
(atau besaran lain, seperti indeks warna (B - V) atau kelas spektrum .

DND-2006
Diagram H-R

L = 4  R2 Tef 4

http://www.phys-astro.sonoma.edu/BruceMedalists/Russell/index.html

DND-2006
Kelas Luminositas Dalam Diagram HR

DND-2006
Efek Doppler
Pada tahun 1842, Christian Doppler
menunjukkan bahwa jika suatu sumber
cahaya bergerak mendekati kita
frekuensinya menjadi lebih tinggi ( lebih
pendek), dan sebaliknya. Peristiwa ini
C. Doppler
disebut efek Doppler.
(1803 – 1853)

 Pada spektrum bintang, pergeseran ini dapat


dihitung berdasarkan garis absorpsinya. Caranya
adalah sebagai berikut,
 Misalkan suatu sumber cahaya memancarkan
cahayanya pada panjang gelombang o. Jika
sumber cahaya ini bergerak relatif terhadap
pengamat dengan komponen kecepatan radial vr.
maka pengamat akan melihat perubahan panjang
gelombang sebesar , yaitu :

Δλ 1 + vr /c
=  . . . . . . . . .(5-
λo 1 1  v /c 24)
r

c = kecepatan cahaya,  = pergeseran Doppler,


o = panjang gelombang diam (panjang gelombang
sumber jika sumber dan pengamat berada pada
kecepatan yang sama).
diamati o


  = diamati - o
Δλ 1 + vr /c
Jika vr << c, pers. (5-24) : =1
λo 1  vr /c
menjadi,  vr . . . . . . . . . . . . . (5-
=
 c 25)
Jika vr positif  sumber bergerak menjauhi pengamat
vr negatif  sumber bergerak mendekati pengamat
Dengan menggunakan spektrograf, spektrum bintang
dapat direkam bersama dengan spektrum pembanding.
 Dari garis spektrum pembanding, dapat diukur o.
Jika bintang bergerak terhadap pengamat,
pergeseran Doppler garis spektrumnya () dapat
diukur, sehingga kecepatan radial bintang dapat
ditentukan dari persamaan (5-25).