Anda di halaman 1dari 8

Industri Tekstil

Sanitasi adalah usaha pengawasan terhadap faktor-faktor


lingkungan fisik manusia yang mempengaruhi atau mungkin
dipengaruhi, sehingga merugikan perkembangan fisik,
kesehatan, dan kelangsungan hidup.

Tekstil adalah material fleksibel yang terbuat dari tenunan


benang. Tekstil dibentuk dengan cara penyulaman, penjahitan,
pengikatan, dan cara pressing. Istilah tekstil dalam
pemakaiannya sehari-hari sering disamakan dengan istilah kain.
Namun ada sedikit perbedaan antara dua istilah ini, tekstil
dapat digunakan untuk menyebut bahan apapun yang terbuat
dari tenunan benang, sedangkan kain merupakan hasil jadinya,
yang sudah bisa digunakan.
POTENSI BAHAYA FAKTOR LINGKUNGANKERJA
A. Faktor Lingkungan fisik:
1) Penerangan
2) iklim kerja
3) debu
4) uap
5) formaldehyde
B. Potensi Bahaya Kecelakaan Kerja Pada Industri Tekstil
1) Bahaya kebakaran
2) Jari tangan terpotong, tersengat arus Singkat
3) Jari terkena jarum, tersengat arus singkat, kebakaran
4) Jari tergencet mesin kancing, tersengat arus singkat
5) Tersengat arus singkat, kebakaran
6) Tergores dan bahaya jatuhan
C. Keserasian Peralatan dan Sarana Kerja Dengan Tenaga Kerja
( Faktor Ergonomi )

1 Pemotongan Kain - Ukuran Meja Kerja


- Kursi duduk
- Sikap dan sistem kerja
- Cara dan sistem keja

2 Mesin jahit, obras, bordir - Ukuran Meja Kerja


- Kursi duduk
- Sikap dan sistem kerja
- Cara dan sistem keja

3 Seterika - Ukuran Meja Kerja


- Kursi duduk
- Sikap/ cara kerja
- Kesesuaian sikap/sistem kerja

4 Packing - Kegiatan angkat junjung


- Sikap dan cara kerja
- Ruang gerak
D. Faktor Manusia

Permasalahan yang terjadi pada faktor manusia meliputi faktor manajerial,


dan faktor tenaga kerja. :

a. Manajemen:
Pemahaman yang kurang tentang hiperkes dan keselamaatan kerja
Tidak melaksanakan teknik-teknik hiperkes dan keselamatan kerja
Tidak menyediakan alat proteksi/pelindung diri

b. Tenaga kerja:
Tidak melaksanakan ketentuan-ketentuan K3
Tidak mengenakan alat proteksi yang telah disediakan
Tidak memiliki naluri cara kerja sehat
Tingkat pengetahuan terhadap perkembangan teknologi industri.
E. Penyakit Akibat Kerja dan Yang Berhubungan Dengan Pekerjaan

Berdasarkan SK Presiden No.22 tahun 1993, disebutkan berbagai macam


penyakit yang timbul karena hubungan kerja yaitu :
1) Pneumoconiosis yang disebabkan oleh debu mineral pembentuk jaringan
parut,yang silikonsnya merupakan factor utama penyebab cacat dan kematian
2) Penyakit paru dan saluran pernafasan (broncopulmoner) yang disebabkan
oleh debu logam keras.
3) Penyakit paru dan saluran pernafasan (broncopulmoner) yang disebabkan
oleh debu kapas vlas, henep, dan sisal (bissinosis).
4) Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitivisasi dan zat
perangsang yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan.
5) Aliveolitis alergika yang disebabkan oleh factor dari luar sebagai akibat dari
penghirupan debu organic.
6) Penyakit yang disebabkan oleh berilium atau persenyawaannya yang beracun.
7) Penyakit yang disebabkan kadmium atau persenyawaannya yang beracun.
8) Penyakit yang disebabkan faktor atau persenyawaanya yang beracun.
9) Penyakit yang disebabkan oleh krom atau persenyawaannya yang
beracun.
10) Penyakit yang disebabkan oleh: mangan, arsen, raksa, timbal, fluor,benzena,
derivat halogen,derivat nitro,dan amina dari benzena atau homolognya yang beracun.
11) Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol, atau keton.
12) Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol, atau keton.
13) Penyakit yang disebabkan oleh gas atau uap penyebab asfiksia atau keracunan
seperti karbon monoksida, hydrogen sianida, hydrogen sulfida, atau derivatnya yang
beracun, amoniak seng, braso dan nikel.
14) Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan-kelainan otot urat,
tulang persendian, pembuluh darah tepi atau syaraf tepi ).
15) Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan lebih.
16) Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektro magnetic dan radiasi mengion.
17) Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi, atau
biologik.
18) Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh ter,pic,bitumen, minyak
mineral, antrasena, atau persenyaweaan, produk atau residu dari zat tersebut.
19) Kanker paru atau mesotelioma yang disebabkan oleh abses
20) Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang didapat
dalam suatu pekerjaan yang memiliki resiko kontaminnasi khusus.
Saran
1. Perlu lebih ditingkatkan lagi kualitas kerja dalam mengupayakan kesehatan
dan keselamatan kerja yang sudah ada.
2. Penataan ruangan harus lebih diperhatikan menjadi lebih baik, supaya para
karyawan lebih leluasa dalam melakukan pekerjaannya. Bengkel kerja utama
industri jika memungkinkan dipindahkan ke tempat yang khusus disediakan
untuk kegiatan industri, setidaknya diusahakan pembagian tempat
pengolahan khusus yang bersekat dan masing-masing disendirikan sehingga
ruang gerak menjadi luas.
3. Untuk menghindari sakit akibat kerja pekerja perlu melakukan olahraga
yang teratur, dan setidaknya banyak bergerak dari pekerjaan yang biasa
dilakukan, contoh apabila biasanya duduk sesekali berdiri dan berjalan agar
gerakan dan posisi kerja para karyawan menjadi lebih bervariasi dan tidak
monotonis.
4. Untuk menghindari kecelakaan akibat kerja, para pekerja perlu memakai
alat pelindung seperti masker, tutup telinga, sarung tangan, kaca mata
pelindung dan alas kaki, minimal sandal pada saat bekerja, supaya kesehatan
dan keselamatan pekerja terjamin, yang dengan demikian akan meningkatkan
kapasitas kerja.
5. Sebaiknya untuk pembuangan atau penimbunan sementara limbah
disediakan lahan kosong tersendiri, atau setidaknya menempatkannya dalam
karung, bak, atau lubang khusus sehingga tidak terjadi pencemaran
lingkungan dan dari segi tata ruang pun menjadi lebih luas dan enak untuk
dipandang.
6. Perusahaan (dalam hal ini industri kecil) yang belum mendapat tempat di
organisasi Pukesmas maka hendaknya dimasukkan secara struktural kedalam
organisasi tersebut. Sehingga industri ini akan lebih terayomi dalam hal
pelayanan kesehatannya yang paripurna (promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif), yang dalam hal ini ditekankan pada ruang lingkup kedokteran
industrinya. Misalnya petugas kesehatan mengunjungi tempat-tempat
industri secara rutin guna menilai kesehatan kerja di
perusahaan-perusahaan rumah tangga.