Anda di halaman 1dari 16

Assalamualaikum,,,

GLAUKOMA

Kelompok 6 :
 Adinda ayu Kartika
 Ema erfiyanti
 Feno maelani
 Muhammad ariel novrizki
 Renni anggraini
 Ulfa rusyana
Definisi Glaukoma

Glaukoma ditandai dengan hilangnya lapangan pandang yang progresif yang disebabkan oleh
kerusakan saraf dari tekanan intraokuler yang meningkat (Harrison, 2008).
Fisiologi Aqueous Humor

Humor aqueous adalah cairan yang mengalir bebas. Humor aqueous secara terus menerus
dibentuk dan direabsorbsi. Keseimbangan antara pembentukan dan reabsorbsi diatur oleh
volume total dan tekanan cairan intraocular. Pembentukan humor aqueous dilakukan oleh
badan siliar. Humor aqueous dibentuk dalam massa rat-rata 2-3 mikro liter tiap menit.
Klasifikasi dan Etiologi

1. Glaukoma primer
2. Glaukoma sekunder
3. Glaukoma konginetal
4. Glaukoma absolute
Etiologi Glaukoma

Penyebab dari glaucoma adalah sebagai berikut (sidharta ilyas,2004)


1. Bertambahnya produksi cairan mata oleh badan ciliary.
2. Berkurangnya pengeluaran cairan mata didaerah sudut bilik mata atau dicelah pupil.
Patofisiologi Glaukoma

Rongga artireor mata berada di depan dan sedikit kesamping dari lensa, terdapat
atau bermuara aqueous humor, merupakan cairan bening yang menuju kelympha.
Aqueous humor diproduksi secara terus menerus dalam badan silliaris yang terdapat
dibagian posterior iris dan mengalir melewati pupil kedalam kamera okuli anterior.
Aqueous humor di salurkan melalui canal Schlemm disekitar mata dan berada pada
bagian sudut kamera okuli anterior dimana terjadi pertemuan iris perifer dan kornea
dalam keadaan normal terjadi keseimbangan antara produksi dan penyerapan
aqueous humor akan menyebabkan dan menjadikan tekanan intra okuli relatife
kostan. TIO normal berkisar 10-20mmHg dan rata-rata 16nnHg.

Tekanan intra okuli berfariasi dan naik sampai 5mmHg glaucoma terjadi dimana
adanya peningakatan TIO yang dapat menimbulkan kerusakan dari sarap-sarap optic.
Peningkatan tekanan disebabkan abstruksi atau sumbatan dari penyerapan aqueous
humor.
Manifestasi Klinis Glaukoma

 Glaukoma Sudut Terbuka primer


 Pada awalnya, peningkatan tekanan didalam mata tidak menimbulkan gejala. Lama kelamaan
timbul gejala :
 penyempitan lapang pandang tepi ;
 Sakit kepala ringan ;
 Gangguan penglihatan yag tidak jelas (misalnya : melihat lingkaran di sekeliling cahaya lampu
atau sulit beradaptasi pada kegelapan).

 Glaukoma akut bisa sering terjadi karena pupil secara alami akan melebar dibawah cahaya yang
redup. Episode akut dari glaukoma sudut tertutup dapat menyebabkan:
 Penurunan fungsi penglihatan ringan ;
 Terbentuknya lingkaran berwarna di sekeliling cahaya ;
 Nyeri pada mata dan kepala.
Lanjutan . . .

 Glaukoma Kongenitalis
Glaukoma kongenitalis sudah ada sejak lahir dan terjadi akibat gangguan perkembangan saluran humor
aqueus. Glaukoma seringkali diturunkan.

 Glaukoma Sekunder
Glaukoma sekunder terjadi jika mata mengalami kerusakan akibat :
1. Infeksi
2. Tumor
3. Katarak yang meluas
4. Penyakit mata yang mempengaruhi pengaliran humor aqueus dari bilik anterior.
Pemeriksaan Diagnostik

 Tonometri
 Gonioskopi
 Penilaian Diskus Optikus
 Biomikroskopi
 Pemeriksaan Lapang Pandang
 Oftalmoskopi
 OCT (Optikal Coherent Tomography).
 Perimetri.
 Penatalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan glaukoma adalah menurunkan TIO ke tingkat yang konsisten


dengan mempertahankan penglihatan.
 Implikasi Medis
 Implikasi Keperawatan
 Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah
 Pendekatan Gerontologik

 Komplikasi

 Glaukoma kronis
 Sinekia anterior
 Katarak
 Kerusakan saraf optikus
 kebutaan
 Pengkajian

 Aktivitas / Istirahat : Perubahan aktivitas biasanya / hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan.
 Makanan / Cairan : Mual, muntah (glaukoma akut)
 Neurosensori : Gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan
bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/merasa di ruang gelap (katarak).
Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer,
fotofobia(glaukoma akut). Perubahan kacamata/pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
 Tanda : Papil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berawan. Peningkatan air mata.
 Nyeri / Kenyamanan : Ketidaknyamanan ringan/mata berair (glaukoma skronis). Nyeri tiba-tiba/berat menetap
atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut).
 Penyuluhan / Pembelajaran
 Riwayat keluarga : glaukoma, DM, gangguan sistem vaskuler.
 Riwayat stres, alergi, gangguan vasomotor (contoh: peningkatan tekanan vena), ketidakseimbangan endokrin.
 Riwayat Okular :Tanda peningkatan TIO : nyeri tumpul, mual, muntah, pandangan kabur, Pernah mengalami
infeksi : uveitis, trauma, pembedahan.
 Terpajan pada radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin.
 Pemeriksaan Diagnostik
1. Kartu mata Snellen/mesin Telebinokular
2. Lapang penglihatan
3. Pengukuran tonografi
4. Tes Provokatif
5. Pemeriksaan oftalmoskopi
6. Darah lengkap, LED
7. EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid
8. Tes Toleransi Glukosa :menentukan adanya DM.
 Diagnosa Keperawatan dan Intervensi dalam Nanda Nic-Noc 2013
1. Nyeri b/d peningkatan tekanan intra okuler (TIO) yang ditandai dengan mual dan muntah.
 Tujuan :
Nyeri hilang atau berkurang
 Kriteria hasil :
pasien mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian pengontrolan nyeri
pasien mengatakan nyeri berkurang/hilang
ekspresi wajah rileks
 Rasional
Penyebab munculnya nyeri adalah peningkatan tekanan intraokular, yang dapat meningkat akibat dipicu oleh :
 Mengejan (valsalva maneuver)
 Batuk
 Mengangkat benda berat
 Penggunaan kafein (rokok, kopi, teh)
 Intervensi
 Kaji derajat nyeri setiap hari atau sesering mungkin, jika diperlukan.
Terangkan penyebab nyeri dan faktor/ tindakan yang dapat memicu nyeri.
 Anjurkan klien untuk menghindari perilaku yang dapat memprovokasi nyeri.
 Secara kolaboratif, berikan obat analgetik.
 Ajarkan tindakan distraksi dan relaksasi pada klien
Dx 2 :
 Gangguan persepsi sensori : penglihatan b.d gangguan penerimaan ; gangguan status organ ditandai
dengan kehilangan lapang pandang progresif.
 Tujuan : Penggunaan penglihatan yang optimal
 Kriteria Hasil:
 Pasien akan berpartisipasi dalam program pengobatan
 Pasien akan mempertahankan lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih lanjut.
 Rasional
Anjurkan penggunaan alternatif rangsang lingkungan yang dapat diterima : auditorik, taktil.
 Mengidentifikasi kemampuan visual klien.
 Meningkatkan kemampuan persepsi sensori.
 Meningkatkan kemampuan respons terhadap stimulus lingkungan.
 Intervensi
 Kaji ketajaman penglihatan klien.
 Dekati klien dari sisi yang sehat.
 optimalisasi penglihatan :
 Orientasikan klien terhadap ruang rawat.
 Letakkan alat yang sering digunakan di dekat klien atau pada sisi mata yang lebih sehat.
DX
 Ansietas b. d faktor fisilogis, perubahan status kesehatan, adanya nyeri, kemungkinan/kenyataan
kehilangan penglihatan ditandai dengan ketakutan, ragu-ragu, menyatakan masalah tentang perubahan
kejadian hidup.
 Tujuan : Cemas hilang atau berkurang
 Kriteria Hasil:
 Pasien tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi.
 Pasien menunjukkan ketrampilan pemecahan masalah
 Pasien menggunakan sumber secara efektif
Rasional :
 Mengidentifikasi kemampuan visual klien.
 Memberikan rangsang sensori, mengurangi rasa isolasi/terasing.
 Memberi keakuratan penglihatan dan perawatannya.
Intervensi :
 Kaji derajat kecemasan, faktor yang menyebabkan kecemasan, tingkat pengetahuan, dan ketakutan klien akan
penyakit.
 Orientasikan tentang penyakit yang dialami klien, prognosis, dan tahapan perawatan yang akan dijalani klien.
 Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya dengan penyakitnya.
 Berikan dukungan psikologis.
TERIMAKASIH,,,