Anda di halaman 1dari 21

INVESTASI PADA

INSTRUMEN EKUITAS

Nama kelompok
1. Fanny Ayu Pawesti (NIM.183202015)
2. Hanifah Rana Alaika (NIM.183202082)
3. Ian Yudistira (NIM.183202126)
4. Leonyssa Inggit PN (NIM.183202132)
karakteristik investasi pada instrumen ekuitas

Metode biaya dan nilai wajar

Metode ekuitas

Isu lain seputar metode ekuitas


karakteristik investasi pada
instrumen ekuitas

A. Definisi instrumen ekuitas dan investasi pada instrumen ekuitas .


Menurut PSAK 50 (Revisi 2014) Instrument Keuangan: Penyajian,
instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak residual atas
aset suatu entitas setelah dikurangi dengan seluruh liabilitasnya
B. Karakteristik Saham
Menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseron Terbatas,
saham memberikan hak kepada pemiliknya untuk:
1. Menghadiri dan mengeluarkan suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham
2. Menerima pembayaran deviden dan sisa kekayaan hasil likuidasi.
3. Menjalankan hak lainnya berdasarkan undang-undang ini.
C. Pengaruh Signifikan
Pengaruh signifikan adalah kekuasaan untuk berpartisipasi dalam keputusan
kebijakan keuangan dan operasional investee, tetapi tidak mengendalikan bersama
atas kebijakan tersebut
D. Metode Akuntansi atas Investasi pada Instrumen Ekuitas
1) Metode biaya dan nilai wajar
Pada metode biaya acuan pengakuan, pengukuran, dan penyajian adalah biaya
perolehan. Investasi diakui dan diukur sebesar biaya perolehannya, sehingga jika
tidak terdapat penambahan,maka nilai investasi tidak akan berubah dan disajikan
juga sebesar biaya perolehan
2) Metode ekuitas
Entitas (investee) di mana investor mempunyai pengaruh signifikan disebut antitas asosias
Pada metode akuitas,investasi pada awalnya diakui sebesar biaya perolehan,namun selanjutnya
diukur dan disajikan sesuai dengan nilai ekuitas entitas asosiasi secara
proporsional
Metode biaya dan nilai wajar
A. Pengakuan dan Pengukuran
Investasi pada awalnya diakui sebesar biaya perolehan.Setelah Pengakuan
awal investasi tetap diukur pada biaya perolehan. Ketika investee mengumumkan
deviden, investor mengakuinya sebagai pendapatan secara proporsional atas
kepemilikan sahamnya. Nilai investasi dengan metode biaya hanya berubah jika
ditambah, dijual, atau mengalami penurunan nilai. Sedangkan pada metode nilai
wajar, perlakuan akuntansinya hamper sama dengan metode biaya, kecuali setelah pengakuan
awal, investasi diukur pada nilai wajar
B. Penyajian dan Pengungkapan
Pada metode biaya, investasi disajikan tetap sebesar biaya perolehan yang juga
merupakan nilai tercatatnya. Sedangkan pada metode nilai wajar, nilai tercatat investasi
disesuaikan terhadap nilai wajar pada tanggal pelaporan sesuai ketentuan pada PSAK 55
(Revisi 2014)
Contoh Metode Biaya dan Nilai wajar
Pada tanggal 10 Januari 2015, Investor A memiliki investasi sebesar 20% atas saham beredar investee dengan
biaya perolehan Rp 300.000.000. Setelah dilakukan analisis atas kepemilikan tersebut, Investor A tidak memiliki
pengaruh signifikan atas investee. Selama tahun 2015, investee membagikan dividen pada tanggal 1 April
sebesar Rp 100.000.000 dan melaporkan laba bersih sebesar Rp 200.000.000. Pada akhir tahun 2015, nilai wajar
saham investee adalah Rp 110 per lembar. Jumlah saham beredar investee selama tahun 2015 adalah 15.000.00
0 lembar.
Ketika perolehan awal, Investor A mengakui investasi sebesar biaya perolehan dengan jurnal :
10 Januari 2015

Investasi Rp 300,000,000
Kas Rp 300,000,000
Jika investor A menggunakan metode nilai wajar, maka investasi tersebut harus diklasifikasikan lebih lanjut sebag
ai Nilai Wajar melalui Laba Rugi sesuai dalam PSAK 55 (Revisi 2014). Pada saat investee mengumumkan dividen
, Investor A mengakuinya sebagai pendapatan sebesar 20% x Rp 100.000.000 dengan jurnal:
1 April 2015

Piutang Dividen Rp 20,000,000


Pendapatan Dividen Rp 20,000,000
Ketika dividen diterima, maka diakui kas akan menghapus piutang dividen. Jika investor A menggunakan metode
biaya, maka nilai investasi tetap diukur pada biaya perolehannya, sehingga sampai akhir tahun 2015 nilai tercatat
investasi tidak berubah. Jika menggunakan metode nilai wajar investasi akan diukur sebagai nilai wajar pada
tanggal pelaporan. Jika investor A menyusun laporan keuangan pada akhir tahun 2015, maka diperlukan
penyesuaian atas nilai wajar dengan jurnal berikut:
31 Desember 2015

Investasi Rp 30.000.000
Keuntungan (Kerugian) Selisih Nilai Wajar Rp 30.000.000
Metode ekuitas
A. Pengakuan dan Pengukuran
Berdasarkan PSAK 15 (Revisi 2014), investasi dengan metode ekuitas pada awalnya
diakui sebesar biaya perolehan. setelah pengakuan awal, investasi diukur secara proporsional
terhadap nilai euitas entitas asosiasi.
B. Penghentian Pengakuan
Investor menghentikan penggunaan metode ekuitas sejak tanggal investasinya berhenti menjadi inves
tasi pada entitas asosiasi (hilangnya pengaruh signifikan), yaitu ketika:
1. Investasi menjadi investasi pada anak perusahaan, maka investor mencatat investasinya sesuai dengan PSA
K 22 (Revisi 2010) dan PSAK 65.
2. Menjual sebagian investasinya dan sisa kepentingan dalam entitas asosiasi merupakan aset keuangan, maka
investor mengukur sisa kepentingan tersebut pada nilai wajar sesuai PSAK 55 (Revisi 2014). Investor menga
kui dalam laba rugi selisih apa pun antara:
3. Nilai wajar sisa kepentingan apapun dan hasil apapun dari pelepasan sebagian kepentingan pada entitas aso
siasi atau ventura bersama.
4. Jumlah tercatat investasi pada tanggal penggunaan metode ekuitas dihentikan.
C. Penyajian dan Pengungkapan
Pada metode ekuitas,investasi disajikan pada nilai tercatatnya. Sedangkan
Bagian Laba atas entitas asosiasi di sajikan dalam Laporan Laba Rugi dalam pos
tersendiri
Contoh Metode Ekuitas

Pada tanggal 10 Januari 2015, investor A memiliki investasi sebesar 20% atas saham beredar investee dengan
biaya perolehan Rp 300.000.000. Setelah dilakukan analisis atas kepemilikan tersebut, investor A memiliki
pengaruh signifikan atas investee. Selama tahun 2015, investee membagikan dividen pada tanggal 1 April
sebasar Rp 100.000.000, melaporkan laba bersih sebesar Rp 200.000.000, dan mengakui surplus revaluasi atas
aset tetap senilai Rp 30.000.000.
Ketika perolehan awal, investor A mengakui investee sebesar biaya perolehan dengan jurnal:
10 Januari 2015

Investasi pada Entitas Asosiasi Rp 300,000,000


Kas Rp 300,000,000
Pada saat investee mengumumkan dividen, investor A tidak mengakuinya sebagai pendapatan melainkan
mengurangi nlai tercatat investasi sebesar 20% × Rp 100.000.000 dengan jurnal:
1 April 2015

Piutang Dividen Rp 300,000,000


Investasi pada Entitas Asosiasi Rp 300,000,000
Ketika dividen diterima, maka diakui kas akan menghapus piutang dividen. Pengakuan bagian laba bersih oleh
investee mengakibtkan nilai ekuitasnya meningkat sehingga investor juga meningkatkan nilai tercatat
investasinya sebesar Rp 40.000.000 ( 20% × Rp 200.000.000) dengan jurnal:
31 Desember 2015

Investasi pada Entitas Asosiasi Rp 40,000,000


Bagian Laba Entitas Asosiasi Rp 40,000,000
Sedangkan pengkuan surplus revaluasi atas aset tetap oleh investee juga mengakibtkan peningkatan nilai
ekuitas, sehingga investor mengakui peningkatan nilai tercatat investasi sebesar
Rp 6000.000 (20% × Rp 30.000.000) dengan jurnal:
31 Desember 2015
Investasi pada Entitas Asosiasi Rp 6,000,000
Pengahasilan komprehensif Lain Rp 6,000,000
Isu lain seputar metode ekuitas
A. Nilai Tercatat Investasi Negatif pada Metode Ekuitas
Berikut ini nilai tercatat investasi negatif pada metode ekuitas, jika:
1. Nilai tercatat investasi menjadi nol/negatif akibat bagian investor terhadap rugi entitas asosiasi
sama dengan atau melebihi kepentingannya pada entitas asosiasi maka investor menghentikan
pengakuan bagiannya atas rugi dan setelah kepentingan entitas dikurangkan menjadi nol,
tambahan kerugian dicadangkan.
2. Entitas asosiasi pada periode selanjutnya mengalami laba ,maka investor mulai mengakui
bagiannya atas laba tersebut hanya setelah bagiannya atas laba tersebut sama dengan bagian
atas rugi yang belum diakui (dicadangkan).
B. Transaksi Hulu dan Hilir
•Transaksi hulu terjadi jika investor bertindak sebagai pihak penjual dan entitas
asosiasi sebagai pembeli
•Transaksi hilir terjadi jika investor bertindak sebagai pembeli dan entitas asosiasi
sebagai penjual
•Keuntungan dan kerugian yang dihasilkan dari transaksi hulu dan hilir antara
investor dan entitas asosiasinya diakui dalam laporan keuangan investor tersebut
hanya sebesar bagian investor lain dalam entitas asosiasi.
CONTOH TRANSAKSI HULU DAN HILIR
PT Investee adalah entitas asosiasi dari investor dengan kepemilikan 40%. Pada tahun
2015, PT Investee menjual persediaan kepda investor (transaksi hilir) dengan keuntung
an Rp 20.000.000. Sampai dengan akhir than 2015, 20% atas persediaan tersebut belu
m terjual oleh PT Investor kepada pihak ketiga. Kepentingan Rp 20.000.000 sudah diper
hitungkan dalam laba bersih yang dilaporkan PT Investor.
Keuntungan belum terealisasi bagi investor adalah sebagai berikut:
Tota keuntungan 25.000.000
Belum terealisasi 20%
Keuntungan belum terealisasi 5.000.000
Bagian investor (40%) 2.000.000
Keuntungan belum terealisasi adalah 5.000.000,namu karena transaksi hulu dimana PT
Investor hanya dimiliki 40% oleh investor, maka bagian investor atas keuntungan terseb
ut yaitu 2.000.000 (40% x 5.000.000) harus dieliminasi dengan jurnal.

31 Desember 2015
Bagian laba atas entitas asosiasi 5.000.000
Investasi pada entitas asosiasi 5.000.000

Jika transaksi hilir yaitu penjualan dari investor ke entitas asosiasi, maka seluruh keuntu
ngan yang belum tereaslisasi sebesar 5.000.000 adalah bagian (hak) investor,sehingga
seluruh bagian investor tersebut dieliminasi dengan jurnal

31 Desember 2015
Bagian laba atas entitas asosiasi 5.000.000
Investasi pada entitas asosiasi 5.000.000
? TERIMA KASIH