Anda di halaman 1dari 13

MENGANALISIS PESAN

DALAM BUKU FIKSI


Buku fiksi
Definisi Buku Fiksi

Buku fiksi merupakan buku atau karya sastra hasil imajinasi pengarang. Setiap karya sastra, baik yang berupa
puisi, prosa, maupun drama tentu mempunyai tujuan untuk menyampaikan suatu pelajaran atau nilai berharga
kepada pendengar atau pembacanya.
Salah satu karya sastra berbentuk prosa adalah cerpen. Terdapat banyak sekali nilai yang dapat disampaikan
melalui cerpen; baik kemanusiaan, moral, budaya, sosial maupun nilai lainnya, misalnya menghormati orang lain,
memerhatikan orang-orang yang terpinggirkan, mencintai, flora dan fauna, dan lain-lain.

Unsur Intrinsik Buku Fiksi

Unsur intrinsik adalah unsur yang berada di dalam buku fiksi atau unsur yang membangun cerita fiksi dari
dalam. Unsur intrinsik meliputi:
1. Tema
2. Pesan/amanat
3. Tokoh
4. Alur
5. Latar
6. Sudut Pandang
Pesan/Amanat dalam Buku Fiksi

Istilah dalam sastra, pelajaran atau nilai yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pendengar atau
pembacanya itu disebut amanat. Amanat merupakan salah satu unsur pokok yang membangun karya sastra dari
dari dalam karya sastra itu sendiri (unsur instrinsik).
Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Karena itu,
pesan moral tentu isinya berupa nilai-nilai yang baik sehingga pembaca bisa menjadikannya sebagai teladan
atau contoh pembelajaran hidup. Biasanya, pesan atau amanat bisa ditelusuri melalui percakapan dan tindakan
berbagai tokoh dalam cerita tersebut.
Nilai-nilai yang terkandung dalam suatu cerpen dapat dicari dan diidentifikasikan dari kalimat-kalimat yang
dituliskan oleh penulis. Cara lain adalah dengan mencermati dialog antar tokoh yang ada dalam cerita, atau
menyelesaikan masalah, dan lain-lain.
Pengarang biasanya menyuarakan pesan-pesan moral dan pesan lainnya melalui dialog atau pemikiran
tokoh. Peran tokoh yang digunakan sebagai media biasanya adalah tokoh utama. Namun, karena cerpen jarang
menggunakan tokoh tambahan, maka tokoh yang ada dalam cerita itulah tokoh utamanya.
Deteksi nilai yang terkandung dalam cerpen juga bisa dilihat dari alurnya. Berdasarkan peristiwa-peristiwa
yang menyusun alur, pembaca dapat menemukan secara implisit nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh
pengarang.
Macam-macam amanat:

1. Tersurat, diartikan sebagai amanat atau pesan yang secara jelas atau eksplisit diuraikan dari kata-kata sebuah
tulisan.
2. Tersirat, merupakan kebalikan dari amanat tersurat. Amanat/ pesan yang secara sengaja tidak dijelaskan atau
dijabarkan secara tertulis di sebuah karya, tetapi pembaca dapat mengetahuinya melalui alur/jalan cerita yang
ada dalam tulisan tersebut. Sehingga amanat tersirat sifatnya implisit atau tersembunyi.

Ciri-ciri amanat:

1. Secara implisit (tersirat), amanat disampaikan dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam
tingkah laku atau peristiwa yang terjadi pada tokoh menjelang cerita berakhir.
2. Secara eksplisit (tersurat) yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasihat, anjuran, atau
larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita
Beberapa bentuk nilai-nilai sebagai pesan/amanat cerpen yang dapat digunakan sebagai pembelajaran
hidup, misalnya nilai moral, budaya, sosial, religi/agama, dan lain-lain.

A. Nilai religius/keagamaan adalah sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan ibadah,


kepercayaan,atau unsur keTuhanan.

B. Nilai moral adalah nilai yang berhubungan dengan perbuatan baik atau buruk, etika, dan budi pekerti.

C. Nilai sosial adalah nilai yang berhubungan dengan norma dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya,
suka menolong atau membantu.

D. Nilai budaya adalah sesuatu yang berhubungan dengan adat istiadat atau kebiasaan-kebiasaan yang
bernilai tinggi dalam kehidupan masyarakat.
Contoh kutipan cerpen dari satu buku fiksi

Pengecat Langit Malam _ Muhammad Asrori


Satu kaleng cat dan kuas berbagai ukuran untuk mengubah sesuatu yang belum dicoba menjadi sangatlah
pantas untuk dicoba. Setidaknya daripada duduk terpekur tanpa melakukan aktivitas apapun. Langsung saja
kutandatangani buku gudang dan mengangkat kaleng cat dan kuas-kuas tersebut ke atas kendaraan kecil mirip
mobil golf yang mereka sebut land-shuttle. Kupacu kendaraan keluar daerah Retriksi 24, daerah penyimpanan
peralatan langit. Saatnya menjalankan rencana A. Sebenarnya sudah puluhan kali kukirimkan surat mosi tidak
percaya kepada Gubernur Langit tertuju kepada Bulan yang menggantung di koordinat K-155. Mosi tidak
percaya yang kutandatangani atas nama pribadi dan alasan pribadi. Cukup sederhana:
Karena ada seseorang yang istimewa di hatiku merasa trauma atas kejadian yang melibatkan Bulan dimana ia
telah turut ikut campur menjadi setting yang salah dalam satu perjalanan kisah kasih seseorang tersebut. Sejak
peristiwa itu ia tidak mau menatap langit malam. Padahal aku sudah mencoba berbagai sudut pandang untuk
meyakinkannya bahwa kali ini bersamaku, bulan akan menjadi setting yang istimewa. Tapi ia tetap ngotot
tidak akan mau menatap langit malam, terlebih jika masih ada bulan itu! Jadilah hal itu alasan yang jelas
bagiku. Bagimu mungkin terdengar dibuat-buat dan mengada-ada. Tapi ini hidupku. Aku harus bertindak.
Selain surat mosi tidak percaya, juga kukirimkan surat pada bulan untuk mengundurkan diri dari posisinya
sekarang, dengan alasan lain yang telah kuganti dengan dalih regenerasi. Saatnya ada bulan baru di koordinat
K-155 yang punya gairah temaram lebih baik.
Namun sampai detik ini surat mosi tersebut masih belum ditanggapi dan terealisasi. Hingga terbetik suatu
rencana. Rencana ini muncul ketika ada satu pemberitaan di Harian Langit edisi #1 tahun cahaya ke-21
dimana SkyWork and Piece, perusahaan pemasang iklan, membuka lowongan kerja: Dibutuhkan pengecat
langit, shift malam, di Bintang 240680, Bulan K-155, Perlip Area 25 Horison 01 hingga garis batas 83. Jam
kerja dan gaji memuaskan. Gaji dibayar ketika kontrak selesai. Wah, setali tiga uang. Langsung saja kudatangi
kantor jasa pengerah tenaga kerja yang memasang iklan. Pengecat langit malam merupakan pekerjaan yang
jarang diingini siapapun. Jadi tak heran tidak ada satu pelamar pun yang menjadi saingan. Sebenarnya ada
satu pelamar yang kutemui ketika sama-sama berjalan di trotoar. Tapi nampaknya pelamar satu ini agak
mabuk. Dia berjalan dengan satu kaki di atas trotoar dan satu kaki lainnya di atas jalan aspal. Kusapa dia,
“Mau kemana, Mas?” “Eh, anu, anu, ehm, ma… mau ngelamar kerja di langit,” jawabnya kebingungan tapi
sudah kutangkap maknanya. Kulanjutkan pertanyaan, “Eh, Mas, kok jalannya satu di atas aspal dan satu di
atas trotoar. Apa nggak capek?” Di luar dugaan, pelamar yang benar-benar mabuk ini menjawab kegirangan,
“Ya ampun, untung, untung! Selamet, selamet. Saya kira saya tadi pincang. Pantes dari tadi melangkah
susahnya minta ampun. Trima kasih, Mas, sudah ngingetin.” Ah, dasar gila! Saingan satu saja nggak beres.
Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan minimnya minat pada pekerjaan ini. Pertama, alasan
keselamatan. Pekerjaan ini memiliki fasilitas penunjang hidup yang jauh dari memadai, apalagi jasa pengerah
tenaga kerja tidak menanggung resiko kecelakaan serta jaminan keselamatan. Kedua, banyak detail bintang
yang tidak boleh sampai terkena cat atau sampai jatuh ke bumi.
Bila hal ini terjadi maka kerugian akan dibebankan kepada pengecat langit malam. Tapi bagiku itu bukan
masalah, semua dapat diatur di atas sana nanti. Bukankah semua sudah direncanakan. Dari atas land-shuttle
kulihat langit malam di atasku memang sudah pudar dan berwarna muram. Beberapa bagiannya terkelupas.
........
Contoh nilai-nilai yang ditemukan dalam cerpen melalui pesan/amanatnya sebagai berikut:
KUTIPAN NILAI PESAN/AMANAT

“Walau apa katamu terhadapku, Nilai Religius Setiap manusia harus memegang
walau kau caci maki aku, kau prinsip sesuai dengan ajaran
kutuki aku, aku terima. Tapi, untuk agama.
membiarkan Masri dan Arni hidup
sebagai suami istri, padahal Tuhan
melarangnya, o...o...o..., itu telah
melanggar prinsip hidup setiap
orang yang percaya pada-Nya. Kau
memang telah berbuat sesuatu yang
benar sebagai ibu yang mau
memelihara kebahagiaan anaknya.
KUTIPAN NILAI PESAN/AMANAT
Tapi, ada lagi kebenaran yang lebih Nilai Seligius Setiap manusia harus memegang
mutlak yang tak bisa ditawar-tawar prinsip sesuai dengan ajaran
lagi, yakni kebenaran yang agama.
dikatakan Tuhan dalam kitab-Nya.
Prinsip hidup setiap orang yang
menjunjung kebenaran Tuhan.”
(Kemarau, A.A. Navis)
Pak, pohon pepaya di Nilai Moral Sebagai makhluk sosial dan hidup
pekaranganku telah dirobohkan bermasyarakat sebaiknya
dengan semena-mena. Tidakkah menghindari perbuatan membesar-
sepatutnya hal itu kulaporkan? Itu besarkan persoalan yang kecil
benar, tapi jangan melebih- sehingga berakibat fatal.
lebihkan. Ingat, yang harus
diutamakan ialah kerukunan
kampung. Soal kecil yang dibesar-
besarkan bisa mengakibatkan
kericuhan dalam kampung.
KUTIPAN NILAI PESAN/AMANAT
(Gerhana, Muhammad Ali) Nilai Moral Sebagai makhluk sosial dan hidup
bermasyarakat sebaiknya
menghindari perbuatan membesar-
besarkan persoalan yang kecil
sehingga berakibat fatal.
Jalan keluar yang lain, menurut Nilai Sosial Kriteria memilih gadis yang tepat
pikiran Badri, ialah kawin dengan untuk dijadikan sebagai teman
seorang gadis yang punya hidup (istri)
pekerjaan. Yang lebih baik ialah
yang jadi pegawai negeri sebab
pegawai negeri lebih banyak
memunyai keringanan tugas
dibanding dengan pegwai swasta.
Pegawai negeri yang terbaik untuk
dijadikan istri adalah Pendidik
sekolah karena terlatih dengan
hidup yang sangat sederhana.
KUTIPAN NILAI PESAN/AMANAT
Di sinilah terjadi perbuatan yang Nilai Budaya Seorang laki-laki harus memiliki
menyesatkan. Namun, Monang prinsip tentang perjodohan, karena
bertanggung jawab dan akan hal tersebut menyangkut
mengawininya. Dan kenyataannya keberlangsungan rumah
lain. Ibu Monang telah tangganya.
menjodohkannya dengan gadis
Batak pilihan ibunya. Monang
sendiri tak kuasa menolaknya. Ia
kawin dengan gadis pilihan
ibunya. Sementara itu, janin yang
dikandung Manen mengalami
kelainan, bayi itu akan lahir cacat.
(Raumanen, Marianne Katoppo)