Anda di halaman 1dari 42

Konsep Dasar Komplikasi

dan Penyulit Kehamilan


Trimester III
Hipertensi Esensial

• Kondisi permanen meningkatnya tekanan darah dimana biasanya


tidak ada penyebab yang nyata. Kadang-kadang keadaan ini
dihubungkan dengan penyakit ginjal, phaeochromocytoma atau
penyempitan aorta, dan keadaan ini lebih sering muncul pada saat
kehamilan.

Pathofisiologi

• Selama kehamilan normal terdapat perubahan-perubahan dalam


sistem kardiovaskuler, renal dan endokrin. Perubahan ini akan
berbeda dengan respons patologi yang timbul pada HDK. Pada
kehamilan trimester kedua akan terjadi perubahan tekanan darah,
yaitu penurunan tekanan sistolik rata-rata 5 mmHg dan tekanan
darah diastolik 10

• mmHg, yang selanjutnya meningkat kembali dan mencapai
tekanan darah normal pada usia kehamilan trimester ketiga.
Manifestasi Klinik

• Hipertensi kronik
• Preeklamsia superimposed
• Hipertensi gestasional
Penatalaksanaan Medis

• Deteksi Prenatal Dini


• Penatalaksanaan Di Rumah Sakit
• Terapi Obat Antihipertens
Pre eklamsia

• Sindrom khas-kehamilan yang ditandai dengan hipertensi, edema,


proteinuria yang timbul pada masa kehamilan. Penyakit ini biasa
timbul pada triwulan ke-3 kehamilan, tetapi dapat terjadi
sebelumnya, misalnya pada mola hidatidosa.

Pre-Eklampsia diolongkan menjadi ringan dan berat
Penyakit ini digolongkan berat bila satu atau lebih
tanda/gejala di bawah ini ditemukan:
• Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolic 110
mmHg atau lebih
• Proteinuria 5g atau lebih dalam 24 jam, 3 atau 4 + pada
pemeriksaan kualitatif
• Oliguria, air kencing 400 ml atau kurang dalam 24 jam
• Keluhan serebral, gangguan penglihatan atau nyeri pada
epigastrium
• Edema paru atau sianosis
Faktor Penyebab

• Faktor Trofoblast
• Faktor Imunologik
• Faktor Hormonal
• Faktor Genetik
• Faktor Gizi
Pathofisiologi

• Perubahan pokok yang didapatkan pada pre-eklampsia adalah spasmus


pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air

• Pada pre eklampsia permeabilitas pembuluh darah terhadap protein meningkat.


• Perubahan pada plasenta dan uterus
• Perubahan pada ginjal
• Perubahan pada retina
• Perubahan pada paru
• Perubahan pada otak
• Metabolisme air dan elekterolit
Penatalaksanaan Medis

• Prinsip Penatalaksanaan Pre-Eklampsia


• Melindungi ibu dari efek peningkatan tekanan darah
• Mencegah progresifitas penyakit menjadi eklampsia

• Mengatasi atau menurunkan risiko janin (solusio plasenta, pertumbuhan
janin terhambat, hipoksia sampai kematian janin)
• Melahirkan janin dengan cara yang paling aman dan cepat sesegera
mungkin setelah matur, atau imatur jika diketahui bahwa risiko janin
atau ibu akan lebih berat jika persalinan ditunda lebih lama.
Pendarahan antepartum

• Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi


pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga
menutupi sebagian atau seluruh dari ostium uteri internum
(pembukaan jalan lahir).
Klasifikasi Plasenta Previa

• Plasenta previa totalis


• Plasenta previa lateralis/persialis
• Plasenta previa marginalis
• Plasenta letak rendah
Etiologi Plasenta Previa

• vaskularisasi desidua yang tidak memadai, mungkin sebagai akibat


dari proses radang atau atrofi.Disamping masih banyak penyebab
plasenta previa yang belum diketahui atau belum jelas,
bermacam-macam teori dan faktor-faktor dikemukakan sebagai
etiologinya.
• Endometrium yang inferior
• Chorion leave yang persisten
• Korpus luteum yang bereaksi lambat
Faktor-faktor Etiologi

• Umur dan Paritas


• Hipoplasia endometrium; bila kawin dan hamil pada usia muda
• Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang
• Korpus luteum bereaksi lambat
• Kehamilan janin kembar
• Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium
• Gaya hidup yang buruk
Pathofisiologi


• Perdarahan anterpatum yang disebabkan oleh plasenta previa
umumnya terjadi pada trimester ketiga kehamilan . Karena pada
saat itu segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan
berkaitan dengan makin tuanya kehamilan .
• Kemungkinan perdarahan anterpatum akibat plasenta previa dapat
sejak kehamilan berusia 20 minggu. Pada usia kehamilan ini
segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai menipis.
• Makin tua usia kehamilan segmen bawah uterus makin melebar
dan serviks membuka.
Penatalaksanaan

• Pencegahan Plasenta Previa


• Multiparitas, merupakan salah satu factor penyebab bisa terjadinya
plasenta previa
• Usia ibu tidak boleh lebih dari 35 tahun karena merupakan salah satu
factor penyebab bisa terjadinya plasenta previa.
• Mengetahui Riwayat plasenta previa pada kehamilan sebelumnya.
• Mengetahui Riwayat pembedahan rahim, termasuk seksio sesaria (risiko
meningkat seiring peningkatan jumlah seksio sesaria).
• USG dapat mengetahui hamil tunggal atau ganda (ukuran plasenta lebih
besar pada kehamilan ganda)
• Tidak merokok
Solusio Plasenta

• Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau keseluruhan


plasenta dari implantasinya yang normal pada lapisan desidua
endometrium sebelum waktunya yakni sebelum anak lahir.

Klasifikasi Solusio Plasenta

• Menurut derajat pelepasan plasenta:


• Solusio plasenta totalis, plasenta terlepas seluruhnya.
• Solusio plasenta partialis, plasenta terlepas sebagian.
• Ruptura sinus marginalis, sebagian kecil pinggir plasenta yang
terlepas.
Klasifikasi solusio plasenta

• Menurut bentuk perdarahan:


• Solusio plasenta dengan perdarahan keluar
• Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi, yang
membentuk hematoma retroplacenter
• Solusio plasenta yang perdarahannya masuk ke dalam kantong
amnion.
Klasifikasi solusio plasenta

• menurut tingkat gejala klinisnya, yaitu:


• Ringan : perdarahan kurang 100-200 cc, uterus tidak tegang, belum ada
tanda renjatan, janin hidup, pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian
permukaan, kadar fibrinogen plasma lebih 150 mg%.
• Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre
renjatan, gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta ¼- 2/3
bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%.

• Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan,
janin mati, pelepasan plasenta dapat terjadi lebih 2/3 bagian atau
keseluruhan.
Tanda/Gejala Solusio Plasenta

• Perdarahan disertai rasa sakit


• Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin
• Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat
• Abdomen menjadi tengang
• Perdarahan berwarna kehitaman
• Sakit perut terus menerus
Pathofisiologi

• Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua


basalis yang kemudian terbelah dan meningkatkan lapisan tipis yang
melekat pada miometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang
menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta
yang berdekatan dengan bagian tersebut.
• Sesungguhnya solusio plasentra merupakan hasil akhir dari suatu proses
yang bermula dari suatu keadan yang mampu memisahkan vili- vili
korialis plasenta dari tempat implantasinya pada desidua basalis
sehingga terjadi perdarahan. Oleh karena itu patosiologinya bergantung
pada etilogi. Pada trauma abdomen etiologinya jelas karena robeknya
pembuluh darah desidua.
Penatalaksanaan Medis

• Batasi asupan kafein


• Berhenti merokok
• Harus mendapatkan perawatan kehamilan ( ANC ) secara rutin
• Jauhkan diri dari alkohol
Plasenta Sirkumvalata

• Plasenta sirkumvalata adalah plasenta yang pada permukaan


fetalis dekat pinggir terdapat cincin putih. Cincin ini menandakan
pinggir plasenta, sedangkan jaringan di sebelah luarnya terdiri
dari villi yang tumbuh ke samping di bawah desidua. Sebagai
akibatnya pinggir plasenta mudah terlepas dari dinding uterus dan
perdarahan ini menyebabkan perdarahan antepartum.

Tanda/ Gejala Plasenta Sirkumvalata

• Pada setiap perdarahan antepartum pertama-tama harus selalu


dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada kelainan plasenta,
karena perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya
bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan kelainan serviks
tidak seberapa berbahaya. Pecahnya sinus marginalis merupakan
perdarahan yang sebagian besar baru diketahui setelah persalinan
pada waktu persalinan, perdarahan terjadi tanpa sakit dan
menjelang pembukaan lengkap. Karena perdarahan terjadi pada
saat pembukaan mendekati lengkap, maka bahaya untuk ibu
maupun janinnya tidak terlalu besar.

Patofisiologi Plasenta Sirkumvalata

• Diduga bahwa chorion frondosum terlalu kecil dan untuk


mencukupi kebutuhan, villi menyerbu ke dalam desidua di luar
permukaan frondosuin, plasenta jenis ini tidak jarang terjadi.
Insidensinya lebih kurang 2-18%. Bila cincin putih ini letaknya
dekat sekali ke pinggir plasenta, disebut plasenta marginata.
Kedua-duanya disebut sebagai plasenta ekstrakorial. Pada plasenta
marginata mungkin terjadi adeksi dari selaput sehingga plasenta
lahir telanjang.
Komplikasi Plasenta Sirkumvalata
• Beberapa ahli mengatakan bahwa plasenta sirkumvalata sering
menyebabkan perdarahan,abortus, dan solutio plasenta.
Penatalaksanaan Plasenta Sirkumvalata

Penanganan
1. Jika pada kehamilan terjadi perdarahan intermitten dan belum terjadi
abortus ibu disarankan untuk beristirahat total untuk mencegah terjadinya
abortus.
2. Jika sudah terjadi abortus lakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan
yang berwenang dalam hal ini dokter obsgin untuk mencegah perdarahan
yang dapat mengancam jiwa ibu.
3. Jika mengakibatkan solutio plasenta lakukan penanganan seperti pasien
solutio plasenta, jika terjadi perdarahan hebat(nyata atau tersembunyi)
lakukan persalinan segera.
Posmatur
Intra Uterine Growth Retardation
• Menurut Gordon, JO (2005) pertumbuhan janin terhambat-PJT
(Intrauterine Growth Retardation) diartikan sebagai suatu kondisi
dimana janin berukuran lebih kecil dari standar ukuran biometri
normal pada usia kehamilan. Kadang pula istilah PJT sering
diartikan sebagai kecil untuk masa kehamilan-KMK (small for
gestational age). Umumnya janin dengan PJT memiliki taksiran
berat dibawah persentil ke-10. Artinya janin memiliki berat kurang
dari 90 % dari keseluruhan janin dalam usia kehamilan yang sama.
Janin dengan PJT pada umumnya akan lahir prematur (<37
minggu) atau dapat pula lahir cukup bulan (aterm, >37 minggu).

KLASIFIKASI IUGR

• PJT tipe I atau dikenal juga sebagai tipe simetris. Terjadi pada
kehamilan 0-20 minggu,terjadi gangguan potensi tubuh janin ntuk
memperbanyak sel (hiperplasia), umumnya disebabkan oleh kelainan
kromosom atau infeksi janin.prognosisnya buruk.
• PJT tipe II atau dikenal juga sebagai tipe asimetris.terjadi pada
kehamilan 24-40 minggu, yaitu gangguan potensi tubuh janin untuk
memperbesar sel (hipertropi), misalnya pada hipertensi dalam kehamilan
disertai insufisiensi plasenta.
• PJT tipe III adalah kelainan diantara dua tipe diatas. Terjadi pada
kehamilan 20-28 minggu,yaitu gangguan potensi tubuh kombinasi antara
gangguan hiperplasia dan hipertropi sel. Misalnya dapat terjadi pada
malnutrisi ibu,kecanduan obat,atau keracunan.
ETOLOGI

Faktor Ibu
• Penyakit hipertensi (kelainan vaskular ibu).
• Kelainan uterus.
• Kehamilan kembar
• Ketinggian tempat tinggal
• Keadaan gizi
• Perokok

Faktor Anak
• Kelainan congenital
• Kelainan genetik
• Infeksi janin, misalnya penyakit TORCH (toksoplasma, rubela,
sitomegalovirus, dan herpes).

Faktor Plasenta
PATOFISIOLOGI

• Kondisi kekurangan nutrisi pada awal kehamilan


• Pada kondisi awal kehamilan pertumbuhan embrio dan trofoblas dipengaruhi oleh makanan.
Studi pada binatang menunjukkan bahwa kondisi kekurangan nutrisi sebelum implantasi bisa
menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan nutrisi pada awal kehamilan dapat
mengakibatkan janin berat lahir rendah yang simetris. Hal sebaiknya terjadi kondisi
percepatan pertumbuhan pada kondisi hiperglikemia pada kehamilan lanjut.
• Kondisi kekurangan nutrisi pada pertengahan kehamilan
• Defisiensi makanan mempengaruhi pertumbuhan janin dan plasenta, tapi bisa juga terjadi
peningkatan pertumbuhan plasenta sebagai kompensasi. Didapati ukuran plasenta yang luas.
• Kondisi kekurangan nutrisi pada akhir kehamilan
• Terjadi pertumbuhan janin yang lambat yang mempengaruhi interaksi antara janin dengan
plasenta. Efek kekurangan makan tergantung pada lamanya kekurangan. Pada kondisi akut
terjadi perlambatan pertumbuhan dan kembali meningkat jika nutrisi yang diberikan
membaik. Pada kondisi kronis mungkin telah terjadi proses perlambatan pertumbuhan yang
irreversibel.
TANDA DAN GEJALA

• Uterus dan janin tidak berhasil tumbuh dengan kecepatan normal


selama jangka waktu 4 minggu.
• Tinggi fundus uteri sedikitnya 2 cm lebih rendah dari pada yang di
perkirakan menurut umur/ lama kehamilan .
• Berat badan ibu semakin menurun.
• Gerakan janin semakin berkurang.
• Volume cairan ketuban menurun.
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

• IUFD (Intra Uterine Fetal Death) adalah keadaan tidak adanya


tanda-tanda kehidupan janin dalam kandungan baik pada
kehamilan yang besar dari 20 minggu atau kurang dari 20 minggu
• IUFD adalah kematian hasil konsepsi sebelum dikeluarkan dengan
sempurna dari rahim ibunya tanpa memandang tuanya kehamilan
(Sarwono, 2005)
Etiologi IUFD

• Perdarahan antepartum seperti plasenta previa dan solusio


plasenta
• pre eklamsi dan eklamsi
• penyakit kelainan darah
• penyakit infeksi menular
• penyakit endokrin sperti DM dan hipertiroid
• malnutrisi
Faktor predisposisi
factor ibu (High Risk Mothers

• Status social ekonomi yang rendah


• tingkat pendidikan ibu yang rendah
• umur ibu yang melebihi 30 tahun atau kurang dari 20 tahun
• paritas pertama atau paritas kelima atau lebih
• tinggi dan BB ibu tidak proporsional
• kehamilan di luar perkawinan
• kehamilan tanpa pengawasan antenatal
• ganggguan gizi dan anemia dalam kehamilan
• ibu dengan riwayat kehamilan / persalinan sebelumnya tidak baik
seperti bayi lahir mati
Factor Bayi (High Risk Infants)
• bayi dengan infeksi antepartum dan kelainan congenita
• bayi dalam keluarga yang mempunyai problema social
• factor yang berhubungan dengan kehamilan
• abrupsio plasenta
• plasenta previa
• pre eklamsi / eklamsi
• polihidramnion
• inkompatibilitas golongan darah
• kehamilan lama
• kehamilan ganda
• infeksi
• diabetes
• genitourinaria
Tanda dan Gejala

• DJJ tidak terdengar


• Uterus tidak membesar, fundus uteri turun
• Pergerakananak tidak teraba lagi oleh pemeriksa
• Palpasi anak menjadi tidak jelas
• Reaksi biologis menjadi negatif setelah anak mati kurang lebih 10
hari
Klasifikasi

• Golongan I: kematian sebelum massa kehamilan mencapai 20


minggu penuh
• Golongan II: kematian sesudah ibu hamil 20-28 minggu
• Golongan III: kematian sesudah masa kehamilan >28 minggu (late
fetal death)
• Golongan IV: kematian yang tidak dapat digolongkan pada ketiga
golongan di atas
Pemeriksaan Diagnostik

• Anamnesis
• Inspeksi
• Palpasi
• Auskultasi
• Reaksi kehamilan
• Rontgen foto abdomen
• USG
Penatalaksanaan

• Observasi dalam 2-3 minggu untuk mencari kepastian diagnosa


• Biasanya selama menunggu, 70-90 % akan terjadi persalinan
spontan
• Bila belum partus, indikasi untuk induksi persalinan
• Induksi dan pemberian estrogen untuk mengurangi efek
progesterone atau dengan oksitosin drip atau dengan amniotomi
Kehamilan disertai penyakit

• Diabetes mellitus
• Jantung
• Sistem Pernafasan