Anda di halaman 1dari 32

HAK, KEWAJIBAN PASIEN DAN

KELUARGA DAN SECOND


OPINION
Hak adalah tuntutan seseorang terhadap
sesuatu yang merupakan kebutuhan
pribadinya, sesuai dengan keadilan, moralitas
dan legalitas
Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan
dan tidak boleh bila tidak dilaksanakan
Keluarga adalah suami atau istri, ayah atau ibu
kandung, anak-anak kandung, saudara-saudara
kandung atau pengampunya
Hak dan Kewajiban Pasien dan Keluarga
Hak Pasien dalam PMK No. 69 tahun 2014 pasal
24 (ayat 2) menyebutkan bahwa setiap pasien
mempunyai hak sebagai berikut:
Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu
sesuai dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional;
1. Memperoleh layanan yang manusiawi,
adil, jujur, dan tanpa diskriminasi
2. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu
sesuai dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional;
3. Memperoleh pelayanan yang efektif dan efisien
sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan
materi;
4.Memilih Dokter dan Dokter Gigi serta kelas
perawatan sesuai dengan keinginannya dan
peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
5. Meminta konsultasi tentang penyakit yang
dideritanya kepada Dokter dan Dokter Gigi lain
yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di
dalam maupun di luar Rumah Sakit;
6. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit
yang diderita termasuk data-data medisnya;
7. Mendapatkan informasi yang meliputi diagnosis
dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan
medis, alternative tindakan, risiko dan komplikasi
yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap
tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya
pengobatan;
8. Memberikan persetujuan atau menolak atas
tindakan yang akan dilakukan oleh Tenaga
Kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya
• 9. Didampingi keluarganya dalam keadaan
kritis;
• 10. Menjalankan ibadah sesuai agama atau
kepercayaan yang dianutnya selama hal
tersebut tidak mengganggu pasien lainnya;
• 11.Memperoleh keamanan dan keselamatan
dirinya selama dalam perawatan di Rumah
Sakit;
• 12. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas
perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya;
• 13. Menolak pelayanan bimbingan rohani
yang tidak sesuai dengan agama dan
kepercayaan yang dianut;
• 14. Mendapatkan perlindungan atas rahasia
kedokteran termasuk kerahasiaan rekam
medik
15. Mendapatkan akses terhadap isi rekam medis;
16. Memberikan persetujuan atau menolak untuk menjadi
bagian dalam suatu penelitian kesehatan;
17. Menyampaikan keluhan atau pengaduan atas pelayanan
yang diterima;
18. Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai
standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
19. Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila
Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak
sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana.

.
Kewajiban Rumah Sakit Dalam Menghormati Hak Pasien
Dan Keluarga
• Memberikan hak istimewa dalam menentukan informasi
apa saja yang berhubungan dengan pelayanan yang boleh
disampaikan kepada keluarga atau pihak lain.
• Pasien diinformasikan tentang kerahasiaan informasi
dalam rekam medik pasien
• Pembukaan atas kerahasiaan informasi mengenai pasien
dalam rekam medik diperbolehkan dalam UU No 29 tahun
2004, yaitu sebagaiberikut:
- Diminta oleh aparat penegak hukum dalam rangka
penegakan hukum misalnya, visum et repertum.
- Atas permintaan pasien sendiri.
- Untuk kepentingan kesehatan pasien itu sendiri
• Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku,misalnya; undang – undang wabah, undang – undang
karantina,dsb.
• Pasien diminta persetujuannya untuk membuka informasi yang
tidak tercakup dalam undang-undang dan peraturan.
• Rumah sakit menghormati kerahasiaan informasi kesehatan
pasien dengan membatasi akses ke ruang penyimpanan rekam
medik, tidak meletakan rekam medis pasien ditempat umum, dan
sebagainya.
• Rumah sakit merespon terhadap permintaan pasien dan
keluarganyauntuk pelayanan rohani atau sejenisnya berkenaan
dengan agama dankepercayaan pasien.Respon tersebut antara lain
dengan menyediakan rohaniawan serta buku doa.
• Menyediakan partisi / sekat pemisah untuk menghormati privasi
pasiendi ruang perawatan
• Menyediakan locker / lemari untuk menyimpan harta benda
pasien
• Memasang CCTV pada area yang perlu pengawasan ketat
seperti di ICU, ICCU,NICU, Burn Unit, ruang bayi, serta
area rumah sakit yang jauh dari keramaian.
• Memasang finger print pada area yang mempunyai akses
terbatas, seperti ruang bayi, ruang rekam medis, tempat
penyimpanan obat-obatan berbahaya di gudang farmasi,
dan sebagainya.
• Melindungi pasien dari kekerasan fisik dengan memantau
ketat pengunjung yang masuk ruang perawatan serta
mewajibkan pengunjung memakai ID Card.
• Menyediakan tenaga security untuk memantau area di
lingkungan rumah sakit.
• Menyediakan gelang berwarna ungu dalam menghormati
hak pasien dan keluarga terhadap pilihan keputusan DNR.
• Menyediakan kamar mandi khusus untuk manula dan
orang cacat.
• Menyediakan tenaga penterjemah, baik bagi pasien
yang tidak bisa memahami bahasa indonesia maupun
bagi pasien tuna rungu.
• Membentuk Tim Manajemen nyeri untuk mengatasi
nyeri pada pasien.
• Membentuk Tim Code Blue untuk memberikan
pelayanan resusitasi bagi pasien yang membutuhkan.
• Memberikan Informasi bila terjadi penundaan
pelayanan.
• Menyediakan formulir permintaan rohaniawan.
• Menyediakan formulir permintaan menyimpan harta
benda.
• Menyediakan formulir pelepasan informasi.
• Menyediakan formulir permintaan privasi.
Kewajiban Pasien
Kewajiban pasien tertuang dalam persetujuan
umum atau disebut juga general consent adalah
persetujuan yang bersifat umum yang diberikan
pasien pada saat masuk ruang rawat inap atau
didaftar pertama kali sebagai pasien rawat jalan.
Kewajiban pasien diatur diataranya dalam PMK No.
69 tahun 2014 tentang Kewajiban Rumah Sakit dan
Kewajiban Pasien pasal 28, yang meliputi:
1.Mematuhi peraturan yang berlaku di Rumah
Sakit;
2.Menggunakan fasilitas rumah sakit secara
bertanggungjawab;
3.Menghormati hak-hak pasien lain, pengunjung dan
hak Tenaga Kesehatan serta petugas lainnya yang
bekerja di rumah sakit ;
4.Memberikan informasi yang jujur, lengkap dan
akurat sesuai kemampuan dan pengetahuannya
tentang masalah kesehatannya;
5.Memberikan informasi mengenai kemampuan
finansial dan jaminan kesehatan yang dimilikinya;
6.Mematuhi rencana terapi yang direkomendasikan
olehTenaga Kesehatan di rumah sakit dan disetujui
oleh Pasien yang bersangkutan setelah mendapatkan
penjelasan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan;
7.Menerima segala konsekuensi atas keputusan
pribadinya untuk menolak rencana terapi
yang direkomendasikan oleh Tenaga
Kesehatan dan/atau tidak mematuhi
petunjuk yang diberikan oleh Tenaga
Kesehatan dalam rangka penyembuhan
penyakit atau masalah kesehatannya; dan
8.Memberikan imbalan jasa atas pelayanan
yang diterima
• Second Opinion
Second opinion termasuk salah satu hak dari
pasien.
APA ITU SECOND OPINION ? ??
• DEFINISI
• Opini Medis adalah pendapat, pikiran atau
pendirian dari seorang dokter atau ahli medis
terhadap suatu diagnosis, terapi dan
rekomendasi medis lain terhadap penyakit
seseorang.
• Second Opinion ( Meminta pendapat lain)
adalah pendapat medis yang diberikan oleh
dokter lain terhadap suatu diagnosis atau
terapi maupun rekomendasi lain terhadap
penyakit yang diderita pasien. Mencari
pendapat lain bisa dikatakan sebagai upaya
penemuan sudut pandang lain dari dokter
kedua setelah pasien mengunjungi atau
berkonsultasi dengan dokter pertama.

Yudi Haryadi 17
RUANG LINGKUP
• Perbedaan diagnosis dan penatalaksanaan
penyakit oleh dokter sering terjadi di belahan
dunia manapun. Di Negara yang paling maju
dalam bidang kedokteran pun, para dokter masih
saja sering terjadi perbedaan dalam diagnosis
maupun proses terapi, sehingga menimbulkan
keraguan pada pasien dan keluarganya. Begitu
juga di Indonesia, perbedaan pendapat para
dokter dalam mengobati penderita adalah hal
yang biasa terjadi.

Yudi Haryadi 18
Pentingnya Second Opinion untuk pasien adalah :
• Kesalahan diagnosis dan penatalaksanaan pengobatan
dokter sering terjadi dibelahan dunia manapun,
termasuk di Indonesia.
• Perbedaan pendapat para dokter dalam mengobati
penderita adalah hal yang biasa terjadi, maka dalam
hal ini mungkin tidak menjadi masalah serius bila tidak
menimbulkan konsekuensi yang berbahaya dan
merugikan bagi penderita.
• Second Opinion dianjurkan bila menyangkut ancaman
nyawa, kerugian biaya atau dampak financial yang
besar.

Yudi Haryadi 19
Permasalahan kesehatan yang memerlukan Second
Opinion :
1.Keputusan dokter tentang tindakan operasi,
apalagi yang akan membuat perubahan anatomis
permanen pada tubuh pasien dan tindakan
operasi lainnya.
2.Keputusan dokter tentang pemberian obat jangka
panjang lebih dari 2 minggu, misalnya pemberian
obat TBC jangka panjang, pemberian antibiotika
jangka panjang dan pemberian obat-obat jangka
panjang lainnya.

Yudi Haryadi 20
3.Keputusan dokter dalam pemberian obat yang
sangat mahal : baik obat minum, antibiotika, susu
mahal atau pemberian imunisasi yang sangat
mahal.
4.Kebiasaan dokter memberikan terlalu sering
antibiotika berlebihan pada kasus yang tidak
seharusnya diberikan : seperti infeksi saluran
nafas, diare, muntah, demam virus, dan
sebagainya. Biasanya dokter memberikan
diagnosis infeksi virus tetapi selalu diberikan
antibiotika.

Yudi Haryadi 21
5.Keputusan dokter dalam pemeriksaan
laboratorium dengan biaya yang sangat besar.
6.Keputusan dokter tentang suatu penyakit yang
berulang diderita misalnya : penyakit tifus
berulang
7.Keputusan diagnosis dokter yang meragukan :
biasanya dokter tersebut menggunakan istilah
“gejala” seperti gejala tifus, gejala ADHD, gejala
demam berdarah, gejala usus buntu. Atau
diagnosis autis ringan, ADHD ringan dan
gangguan prilaku lainnya.

Yudi Haryadi 22
8.Ketika pasien didiagnosis penyakit serius
seperti kanker, maka pasien pun biasanya
diizinkan meminta pendapat lain.
9.Keputusan pemeriksaan dan pengobatan yang
tidak direkomendasikan oleh institusi
kesehatan nasionalmaupun internasional ;
seperti pengobatan dan terapi bioresonansi,
terapi antibiotika yang berlebihan dan tidak
sesuai dengan indikasi.

Yudi Haryadi 23
Untuk mendapatkan Second Opinion, RS perlu
memberikan beberapa pertimbangan kepada
pasien atau keluarga sebagai berikut :
• Second Opinion baiknya didapatkan dari dokter
yang sesuai kompetensinya atau keahliannya.
• Rekomendasi atau pengalaman keberhasilan
pengobatan teman atau keluarga terhadap dokter
tertentu dengan kasus yang sama sangat penting
untuk dijadikan referensi.
Yudi Haryadi 24
• Carilah informasi sebanyak-banyaknya di internet
tentang permasalahan kesehatan tersebut. Jangan
mencari informasi sepotong-potong, karena seringkali
akurasinya tidak dipertanggung jawabkan.
• Bila keadaan emergency atau kondisi tertentu maka
keputusan second opinion juga harus dilakukan dalam
waktu singkat.
• Mencari second opinion diutamakan kepada dokter
yang dapat menjelaskan dengan mudah, jelas, lengkap
dan dapat diterima dengan logika. Dokter yang
beretika tidak akan pernah menyalahkan keputusan
dokter sebelumnya

Yudi Haryadi 25
• Bila melakukan second opinion sebaiknya tidak
menceritakan pendapat dokter sebelumnya
atau mempertentangkan pendapat dokter
sebelumnya, agar dokter tersebut
menanyakan pengobatan yang sebelumnya
pernah diberikan atau pemeriksaan yang telah
dilakukan.

Yudi Haryadi 26
• Bila pendapat lain dokter tersebut berbeda,
maka biasanya penderita memutuskan salah
satu keputusan berdasarkan argument yang
yang dapat diterima secara logika.
• Keputusan second opinion terhadap terapi
alternativ sebaiknya tidak dilakukan karena
pasti terdapat perbedaan pendapat dengan
pemahaman tentang kasus yang berbeda dan
latar belakang keilmuan yang berbeda.

Yudi Haryadi 27
• Kebenaran ilmiah dibidang kedokteran tidak
harus berdasarkan senioritas dokter atau gelar
yang disandang. Tetapi berdasarkan kepakaran
dan landasan pertimbangan ilmiah berbasis
bukti penelitian di bidang kedokteran
(Evidance Base Medicine).

Yudi Haryadi 28
TATA LAKSANA
Untuk mendapatkan second opinion, pasien dan
keluarganya menghubungi perawat atau langsung
kepada dokter yang merawatnya kemudian
mengemukakan keinginannya untuk mendapatkan
pendapat lain. Dokter yang merawat berkewajiban
menerangkan kepada pasien dan keluarganya hal yang
perlu dipertimbangkan dalam mendapatkan second
opinion. Apabila keputusan mengambil pendapat lain
telah disepakati, maka formulir permintaan pendapat
lain diisi oleh pasien atau walinya dan diketahui oleh
dokter (DPJP) serta saksi.

Yudi Haryadi 29
Yudi Haryadi 30
Yudi Haryadi 31
Terima kasih